07 March 2012

Sailing for Life

#NowPlaying: Kings of Convenience-Riot on An Empty Street Album

Hello, i’m back to tell you the story #AboutStrangersOnTheStreet x) I love to tell the stories about strangers. Why? Cuz some strangers are the messenger to give you lesson of life. Haha probably it sounds too much. But trust me, some of them are really do. If you take a look of your surroundings carefully, you will notice.
A story about “Tukang Ojek” – (People who works as motorcycle driver to drop people) is coming to you shortly. It was happened when i was in Indonesia so sorry if the conversations are in Indonesian. Here we go!

#Place: HAI Magazine Office,Kompas Gramedia Building, Kebun Jeruk, Jakarta
#Time: 2.30 PM
Uwie (Co-worker): “Ulka, lo free kan? Siang ini jam 3 ada rekonstruksi soal Pembunuhan Raafi, anak Pangudi Luhur yang ditusuk, di Shy Rooftop, Kemang. Lo liputan yah, yang lain pada sibuk jadi gabisa liputan. Lo tau Shy Roof Top dimana?
Gw: Enggak. (Muka bingung)
Uwie: Kemang tau kan? Bisa nyetir ga?
Gw: Tau sih cuma gatau jalan. Enggak. Gw bisa bawa motor.
Uwie: Hemm..yaudah lo naik ojek aja. Minta duitnya sama Niken atau pake duit lo dulu.

Karena waktunya mepet banget, gw lari terburu-buru menuju lift. DI lift gw ketemu bos HAI alias Mas Dani, Beliau senyum dan tanya gw mau kemana. Gw jawab mau liputan di Shy Roof Top. “Oh, Shy..Iya..iya..Hati-hati.” x)

Di depan, gw langsung menawar Tukang Ojek buat ke Kemang dengan harga 25 ribu rupiah. Awalnya Tukang Ojek nggak mau, jadilah gw bilang tiga puluh lima ribu. Dan, ojek pun melesat menuju jalanan Kebun Jeruk dengan Kemang sebagai destinasi. Ternyata jarak yang terbentang antara dua tempat ini sangat jauh. Gw pegel gak karuan di motor ditambah hujan dan macet parah. Huff

Tukang Ojek: “Neng, Kemangnya dimana?”
Gw: “Daerah cafe-cafe gitu bang.”
Tukang Ojek: “Ini mah udah di Kemang Neng.
Gw: “Yaudah cari yang banyak cafe-cafe.”

(15 Menit kemudian)
Di tengah jalan, ada pohon tumbang yang menimpa mobil dikarenakan hujan deras dengan angin kencang. Polisi dan masyrakat berkumpul mengerumuni tempat tersebut. Wah, udah hujan, basah, becek, pohon tumbang, Cinta Laura banget deh..untung ada ojek! Hahaha

Pohon tumbang yang menimpa sebuah mobil di bilangan Kemang, Jakarta Selatan

Tukang Ojek: “Neng, itu tadi jalan masuk daerah cafe tapi ditutup gara-gara pohon tumbang.
Gw: “Oh, gitu bang. Yaudah muter jalan lain aja.
Tukang Ojek: “Iya, ini lagi muter neng.”
Gw: “Oh....”

(10 Menit Kemudian)
 Tukang Ojek: “Neng, dimana? Ini udah cafe-cafe.
Gw: “Wah iya. Bentar bang tanya orang aja deh.”

Setelah tanya-tanya dengan orang mereka kurang tahu dengan nama Shy Cafe Kemang. Jadilah gw sms Bang Idho dan Uwie buat nanya alamat lengkap. Akhirnya tempat itu ditemukan juga. Gw pun langsung turun dari ojek karena takut telat liputan. Sebelumnya gw nanya sama tukang ojek sekitar dan mereka ternyata juga tahu kalau itu memang tempat pembunuhan dan salah satu tukang ojek bilang dia ragu kalo gw boleh masuk liputan. Loh, emang ada liputan jadi harusnya jurnalis boleh masuk donk, gw berkata dalam hati.

#Place: Shy Cafe Kemang
Gw memasuki pelataran parkir Shy Cafe. Cafe ini lumayan besar dan mewah. Dindingnya berwarna putih dan roof top yang menjadi tempat pembunuhan ditutup. Ya, nggak ada tanda-tanda keramaian di sini. Hanya ada beberapa orang di lantai satu yang sedang menikmati sajian makanan sambil berdiskusi. Gw bingung, ada apakah gerangan? Dibatalkankah rekonstruksi tersebut? Tiba-tiba Pak Satpam menghampiri gw.

Pak Satpam: “Maaf, ada apa ya mba?”
Gw: “Saya Ulka dari Majalah HAI. Saya dateng ke sini karena dapat informasi kalau ada rekonstruksi soal pembunuhan Raafi, anak Pangudi Luhur.”
Pak Satpam: Wah, nggak ada apa-apa mba di sini. Kalo pun ada saya pasti dikabarin.”
Gw: “Oh, gitu Pak? Tapi saya dapat informasi kalau tempat rekonstruksi di sini.”
Pak Satpam: “Sebentar, saya konfirmasi dulu ya.”
(Pak Satpam berbicara dengan seseorang di walkie talkie. Dan dari pembicaraan mereka, gw menangkap kalau memang rekonstruksi dibatalkan.)
Pak Satpam: “Maaf, mbak, rekonstuksi dibatalkan. Katanya silakan tanya lebih lanjut sama Polres.”
Gw: “Oh, Polres, dimana ya?”
Pak Satpam: “Kalo Polres ya berarti Polres Kuningan Mbak. Deket kok dari sini, setengah jam.”
Gw: “Oke, makasih Pak.”

Tukang ojek lagi sibuk menyeruput es kelapa ketika gw datang. Gw menggeleng tandanya misi kali ini gagal. Tukang ojek segera menghabiskan es kelapa dan beranjak bangun.
Tukang ojek: “Gimana neng?”
Gw: “Dibatalkan katanya bang.”
Tukang ojek: “Oh, jadi kemana sekarang?”
Gw: “Gini deh nasib jadi wartawan. Tiba-tiba aja dicancel. Bentar bang saya tanya temen dulu.”
Tukang ojek: “Yah..namanya resiko pekerjaan, neng.”
Gw: ".........." (terdiam)

Sebenarnya gw nggak yakin kalau rekonstruksi ini dipindahkan ke Polres. Tapi Uwie bilang kalo jarak Polres deket, gw ke Polres aja. So, gw pun menuju Polres untuk meminta keterangan lebih lanjut.
Gw: “Bang, ke polres ya!” (sambil pakai helm)
Tukang Ojek: “Ya neng!”

Dua puluh menit kemudian, sampailah kita di Polisi Resort Kuningan, Jakarta Selatan. Entah kenapa gw sempat parno atau paranoid dengan Kantor Polisi. Dulu gw juga sempetke Mabes Polri untuk meliput Kasus Ariel Peterpan dengan video pornonya. Wartawan media dan televisi berkumpul juga selebriti teman-teman dari Ariel ikut mengunjungi penyanyi kondang itu. Di benak gw kantor Polisi adalah penuh bayangan narapidana, hukuman, dan lain-lain. Entahlah, pastinya itu perasaan gw aja. Gw sempet takut masuk ke dalam kantor Polres Kuningan. Karena di sana juga sepi dan nggak ada tanda-tanda rekonstruksi kasus pembunuhan.

Gw: “Bang, sepi banget.”
Tukang ojek: “Yaudah neng, masuk aja ke dalam.”
Gw: “Takut bang...”
Tukang ojek: “Yah, si eneng..udah berlayar takut ombak..”
Gw: (terdiam mendengar kata-kata si Tukang ojek)

Gw melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung. Setelah bertanya dengan para petugas, memang rekonstruksi dipending sampai pemberitahuan berikutnya. Polres Kuningan hari itu cukup sepi dan bayangan kantor polisi yang ada di benak gw emang nggak terbukti. Semoga next time kalo disuruh ke Polres lagi gw bisa berpikir lebih positif hehe Gw keluar dari kantor polisi dan menghampiri Si tukang ojek.

Gw: “Bang, ditunda acaranya.”
Tukang ojek:”Oh, gitu neng. Jadi kemana nih?”
Gw: “Kalo balik ke Kebun Jeruk jauh ya?”
Tukang Ojek: “Tempat tadi yang kantor Gramedia? Jauh neng..”
Gw: “Kalo mau ke Bekasi dari sini?”
Tukang Ojek: “Naik bis dari Terminal Blok M.”
Gw: “Yaudah, ke Terminal Blok M aja. Yah, bang, payung saya hilang. Tadi kayanya jatoh di jalan.”
 Tukang Ojek: “Tuh kan tadi saya tawarin neng taroh di depan, si eneng nggak mau.”
Gw: “Yaudahlah bang. Sekarang berangkat.”

Gw berpisah dengan Tukang ojek di seberang Terminal Blok M. Uang sekitar Empat Puluh Ribu Rupiah gw serahkan sebagai tanda terima kasih kepada Si abang. Walaupun gw gagal liputan tetapi hari itu gw mendapatkan pelajaran bermakna dari seorang Tukang Ojek. Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala gw seiring perjalanan pulang di Bis AC 05 Bekasi-Blok M. “Yah udah berlayar..takut ombak..” Mengingatkan gw kalau gw harus berani menghadapi tantangan apa pun di luar sana. Yang mungkin nggak mudah, berlika liku dan complicated. Gw harus menyelesaikan apa yang sudah gw mulai dan nggak boleh takut sama ombak di lautan yang bernama kehidupan.

Totally, if you are dare enough to sail the sea, you must be brave to face the big tides and waves along the journey. A nice lesson from a random motocycle driver – on the street. Simply, you can get any life lesson from people you meet everyday, common people with usual job, or even people you don’t expect. I was reminded with this situation while i'm stuck with my PhD research topic now. And remembering this quote, is helping me a lot. To keep positive thinking, since i had sailed along the journey to get this opportunity and i have to finish and get Doctor title. I know i can do it, i know WE can. We can make our dreams come true. Cuz We’re all the captain of our ships to cross the sea of life x)

"A sea of Life needs a good captain, you are the captain of your life. Be Brave and keep sailing until the finish line"

Bonne Voyage,
Chandini

No comments: