(Penulis:
Ulka Chandini Pendit)
Ini
adalah perusahaan ke-35 dimana aku diinterview sebagai graphic designer. Hasilnya, belum pasti. Seperti perusahaan-perusahaan
lainnya, “Nanti dua minggu lagi kami beritahu apakah Anda diterima atau
tidak. Terimakasih.” Aku berlalu pergi dari ruangan interview dengan rasa hampa. Mungkin sudah ratusan lamaran yang
kukirim selama enam bulan menganggur setelah resmi lulus dari salah satu universitas
di Malaysia. Ada yang memanggil untuk interview,
ada juga yang mengacuhkan lamaranku. Aku, lulusan luar negeri, ternyata tidak
jauh berbeda dengan lulusan dalam negeri dalam hal mencari pekerjaan. Seperti
seorang penembak yang harus menembak sasaran berkali-kali. Kadang tembakan
tepat mengenai sasaran tetapi kadang juga meleset. Sungguh sulit mencari
pekerjaan, terombang-ambing dalam ketidakpastian. Aku memanggil tukang ojek
yang tengah diam mencari penumpang. “Bang, Setiabudi ya!,” aku pulang dengan
tangan kosong.
***
Jl. Anggrek 5 No.22,
Setiabudi, Jakarta Selatan. Aku membuka pintu kamar dengan gontai. Kamar itu kosong. Hanya dinding-dinding bisu yang kadang berbicara di waktu tertentu. Aku
menghempaskan tubuh ke atas kasur. Hari ini sama seperti kemarin, lagi-lagi aku
“digantungi” oleh perusahaan. Kepalaku memandang lurus ke langit-langit.
Berusaha berpikir jernih di tengah keadaan sulit. Aku meraih dompet dari dalam
tas, mengecek jumlah uang yang tersisa. Masih ada uang untuk ongkos kalau dipanggil
interview besok. Aku membalik dompet,
mencari-cari sesuatu. Dompet ini penuh, ada tiket nonton bioskop, struk pembelian
dan lainnya. Ini dia, bunga edelweiss pemberian Ayah, oleh-oleh terakhir kali
Beliau naik gunung. Juga foto ini, foto Ibu yang sedang menggendongku, kala aku
berumur enam bulan. Kalau handphone
mempunyai charger untuk mengisi
baterai agar bisa kembali digunakan, aku cukup memiliki dua hal ini, yang
menjadi penggerak diri untuk selalu bangkit dan maju.
Aku menuju meja kerja.
Lalu termenung menatap kertas-kertas lamaran yang bertumpuk di atasnya. Tak
tahu apa yang harus kulakukan dengan itu semua. Ingin rasanya kulempar semua
surat lamaran ini dari luar jendela, karena hingga kini aku belum berjodoh
dengan satu perusahaan pun. Aku mengambil satu kertas putih dari tumpukan.
Kosong. Aku ingin menggambar, lama sudah aku tidak melakukannya. Tanganku mulai
menorehkan coretan-coretan dan berhenti beberapa detik kemudian. Otakku buntu.
Tak tahu apa yang harus dituangkan di atasnya. Tanpa sadar, jari jemariku
bergerak dengan sendirinya, menuntun ucapan hati yang terdengar samar-samar.
Aku terhanyut. Mengalir. Dalam ilusi dan imajinasi.
***
02.30 AM
Para malaikat berbondong-bondong
turun ke bumi. Mereka tersembunyi dalam jubah-jubah putih yang sarat cahaya
ketika dibentangkan. Kadang mereka tersenyum, memperhatikan manusia yang
tertidur pulas di ranjang beralaskan bulu angsa. Dan berubah menjadi iba ketika
melihat mereka yang bersujud, menangis, memohon dalam tahajud pada Allah SWT. Bahkan
masih ada juga yang belum memenjamkan
mata, terjaga, di depan sekotak benda elektronik tempat mereka bekerja. Para
malaikat hanya menggeleng-gelengkan kepala memandangnya.
Di antara para manusia
itu, ada seorang lelaki yang tertidur di atas meja, kepalanya jatuh tepat di
atas kertas putih bertuliskan tulisan tangan yang rapi dan indah. Malaikat
memperhatikan lelaki tersebut, bulu matanya yang lentik, rambutnya yang lebat,
keindahan Allah SWT dalam menciptakan paras tampan manusia. Seingat malaikat,
lelaki ini selalu dalam keadaan shalat tahajud ketika dikunjungi. Entah kenapa,
hari ini dia tidak melakukannya. Kertas putih itu seperti berteriak, malaikat
pun mengambil dan membacanya. Sesaat malaikat terhenyak dan terdiam memandang
setiap baris kata dalam surat tersebut. Tanpa pikir panjang, malaikat pun pergi
dan membawa surat itu bersama ke surga.
***
Setahun
Kemudian…
“Awan, kamu ditunggu Bos di ruangannya,” kata
Mery, teman satu tim. Aku yang sedang mengerjakan design banner perusahaan mendadak kaget. Ada apa gerangan? Tidak
pernah sebelumnya Bos memanggilku ke ruangan. Aku mengingat pekerjaan demi
pekerjaan yang kulakukan. Semuanya beres dan berhasil. Aku semakin
bertanya-tanya makna pertemuan dengan Bos kali ini.
Senyum
simpul tersinggung di bibir seketika aku keluar dari ruangan Bos. Aku segera
pergi ke mushalla untuk menunaikan shalat Dzuhur. Hanya ucapan “Alhamdulillah”
yang ingin aku sampaikan kepada Allah SWT karena telah menganugerahiku kenaikan
pangkat. Bos senang dengan hasil pekerjaanku. Beliau bilang, “Kamu punya talenta
yang bagus. Selain itu kamu disiplin dan konsisten dalam setiap project. Mulai sekarang kamu resmi naik
jabatan sebagai Art Director,”
kata-kata itu terngiang di telingaku.
Masih
terekam jelas dalam ingatan, ketika aku pertama kali menerima telepon dari perusahaan
ini. Aku menamakannya telepon kegembiraan karena telah menjawab penantianku
mendapatkan pekerjaan impian. Memang, Allah SWT selalu mengabulkan doa-doa
hamba-NYA. Aku pun menelepon Ibu dan mendengar suara lembutnya di ujung sana,
membuatku makin terharu.
***
Ini
sudah gelas yang ke-9, tetapi Andre belum juga berhenti menenggak Whisky. Ia meracau, mengeluh dalam kalut.
Tentang pekerjaan, percintaan, kehidupan. Aku meneguk dengan tenang orang juice, minuman favoritku yang
selalu kupesan setiap berkunjung. Asap rokok mengebul di sekitar. Musik techno masih berputar kencang walau ini
sudah lewat dua menit pukul dua pagi. Para lelaki dan wanita belum juga lelah
menari di lantai dansa. Mereka tertawa, menikmati alunan musik, tenggelam di
dalamnya. Seperti lupa bahwa ini adalah dunia.
“Gimana
kabar lo sama Lea?”
“Baik-baik
saja.”
“Enak
ya, jadi lo. Hidup lo sempurna. Pacar ada, gaji gede, keluarga peduli. Semuanya
lengkap.”
“Nggak
juga, Ndre. Udah jam 2 nih, balik yuk.”
Andre
masih terduduk lemas di sofa. Raganya tidak sanggup untuk bangun. Matanya
merah, mulutnya bau alkohol. Aku tak tega melihat teman baikku dalam keadaan
seperti ini. Tiba-tiba handphoneku
berbunyi, ada satu pesan masuk. Dari Ibu, yang menanyakan bagaimana kabarku. Sudah
seminggu ini aku tidak menelpon Beliau. Deadline pekerjaan yang ketat membuatku
kalang kabut mengatur waktu. Kata terakhir dari Ibu membuatku tersentak. Satu
hal yang sudah lama jarang kulakukan. Lagi-lagi karena pekerjaan yang menyita
perhatian membuatku lupa akan satu hal penting itu.
Aku
segera menggotong Andre keluar dari tempat ini. Dan pulang menerobos gelapnya
malam dengan satu perasaan resah dalam jiwa.
***
“Hey,
kamu, ternyata di sini.”
“Iya
lebih enak, bisa jelas ngelihatin kamu.“
“Oh
ya? Mana teropongnya?”
“Nih,
di sini.”
Lea
tertawa kecil ketika aku menunjuk hatiku untuk meneropongnya dari jauh. Bola
matanya yang besar berbinar-binar. Hidungnya mancung, pipinya merah
merona. Lea seperti bidadari yang turun ke bumi. Cantik, sungguh cantik. Aku
jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Sejak saat itu, aku tak pernah
berhenti memikirkannya. Tepatnya hari ini, adalah anniversary kami yang ke-3 bulan. Kami ibarat bunga yang sedang
mekar dan bersemi. Saling memadu kasih dan cinta.
***
Sebulan Kemudian...
Aku
terpana melihat keadaan Ibu. Beliau tergolek lemah di kasur dengan
selang-selang yang menjalar di tubuhnya. Matanya terpejam, belum sadarkan diri.
Aku terpaku di sisi Ibu, menggenggam tangannya, menciumnya dengan lembut. Semoga
Ibu dapat merasakannya, di tengah deru sakit yang merasuk dalam tubuh, aku
yakin Ibu tahu kalau aku di sini, menjaga Beliau.
Ingatanku
terbang ke beberapa hari lalu. Siang itu Bulan menelponku. Suaranya serak,
seperti habis menangis.
“Bang, Ibu masuk rumah sakit. Serangan
jantung mendadak.”
Kata-kata
Bulan seperti bom berdesing mendarat di telinga. Aku terdiam. Tak sanggup
mengucapkan sepatah kata pun. Aku yang kala itu sedang bekerja, menatap kosong
layar computer. Tanganku kaku, beku. Aku
teringat pesan ibu waktu itu. Tak disangka kalau pesan itu adalah pertanda bahwa
sesuatu akan terjadi. Aku menyesal. Sungguh. Kalau saja aku menelpon Ibu ketika
itu. Kalau saja aku ingat…Kalau saja…
“Bang, solat berjamaah yuk. Kita doain Ibu
bareng.”
“Ah,
eh, iya. Sebentar ya, Lan.”
“Bulan
tunggu di mushalla ya.”
Kata-kata
Bulan membuyarkan lamunan. Juga mengingatkan aku akan satu hal yang sudah
terlupakan selama beberapa bulan terakhir. Hal yang dulu rutin aku lakukan
dalam keadaan apa pun itu. Kini, menghilang, entah dimana. Aku telah lupa. Aku
rindu. Aku ingin kembali pada-NYA.
***
Shalat
berjamaah tadi sungguh damai. Aku kembali ingat bagaimana indahnya berbicara
dengan Sang Pencipta. Terakhir aku melakukan ini mungkin sekitar tiga bulan
yang lalu. Bersama teman-teman, kebetulan ada perayaan Isra Mi’raj yang digelar
di kantor. Bagaimana dengan shalat lainnya? Apa kau benar-benar ingin tahu,
Kawan? Aku tak sanggup mengatakannya. Karena baru kusadari kalau aku bukan Awan
yang dulu. Yang selalu mencurahkan doa-doa setelah shalat, yang rajin bertemu
dengan Allah SWT di kala para manusia sedang di alam mimpi, dan berpuasa ketika
yang lain tengah berpesta pora. Aku, benar-benar berubah. Ada apa denganku? Apa
kenikmatan duniawi telah menghilangkan hasrat spiritual ini? Memang, aku telah
salah arah. Memang, sepertinya, lembaran-lembaran kertas tipis bertuliskan
angka itu telah membuatku lupa, akan makna hidup yang sebenarnya.
***
Aku
memutuskan untuk pergi ke rumah kosku dulu di Jakarta. Entah, seperti ada yang
membawaku ke sini. Ke tempat dimana aku berada dalam sisi terberat hidupku. Ketika
aku hanyalah orang biasa, yang tidak punya apa-apa. Aku menyentuh meja belajar yang
berdebu, usang. Dulu di meja inilah, aku menulis berlembar-lembar surat lamaran
pekerjaan yang akhirnya mengantarkanku ke pekerjaanku sekarang. Aku mengambil
sapu dan mulai membersihkan kamar.
Kusapu
bagian bawah meja, pasti banyak debu di bawah sini, pikirku. Namun, ada sesuatu
tersangkut di ujung sana, tidak bisa keluar dan ditarik oleh sapu. Apa itu? Aku
menggeser meja, melihat bagian belakangnya. Tampak secarik kertas putih
kekuning-kuningan. Seperti kertas lama yang tertinggal oleh pemiliknya. Tulisan
tangan di atasnya berbaris rapi. Aku seperti kenal dengan Sang pemilik tulisan.
Assalammualaikum
Warrahmatullahi Wabarakatuh
Yth. Allah SWT
Di
Atas Sana
Dear
Allah Swt.,
Apa
kabar? Semoga Allah selalu baik-baik saja di sana. Terimakasih karena Allah
telah mengijinkan Hamba untuk hidup sekali lagi di hari ini. Mohon maaf jika
Allah kaget dengan surat dari Hamba. Perkenalkan, Hamba adalah seorang lelaki
yang sedang gelisah tentang hidup. Hamba ingin berbicara dari hati ke hati dengan
Allah SWT.
Hamba
adalah lulusan universitas dengan predikat nilai memuaskan. Hamba tidak pernah
melanggar peraturan dan menjadi teladan bagi teman-teman lain. Selain itu,
Hamba juga tergolong aktif dalam organisasi. Tetapi sudah enam bulan, Hamba
belum juga mendapatkan pekerjaan. Apa yang perusahaan-perusahaan itu mau, ya
Allah? Kenapa Hamba yang masuk kategori layak bekerja tetapi sampai sekarang
juga belum ada yang terpikat? Apa salah Hamba? Hamba sudah berusaha datang
tepat waktu ketika interview dan menjawab pertanyaan semaksimal dan semampu
Hamba. Namun, hingga kini, Hamba masih terduduk di sini, menunggu sesuatu yang
tidak pasti kapan datangnya.
Hamba
rindu Ibu, ya Allah. Ibu Hamba adalah perempuan tercantik dan terbaik yang ada
di dunia. Ibu tidak pernah mengeluh ketika harus melakukan sesuatu untuk
anaknya. Ibu adalah pahlawan Hamba ketika Ayah telah Engkau panggil ke surga.
Tak pernah Hamba jumpai Ibu menangis, Beliau begitu kuat dan mungkin hanya
Engkau yang mendengar rintihan lemahnya. Hamba hanya ingin membahagiakan Ibu,
membawanya ke rumah-Mu, melihatnya tersenyum dan tertawa. Ibu, segalanya untuk
Hamba. Orang bilang, “Surga ada di telapak kaki Ibu”, berarti tiket menuju
surga akan Hamba peroleh jika Ibu bahagia. Benar begitu, ya Allah? Oh ya, Ayah
sudah benar di surga kan? Ingin rasanya Hamba menyusul Ayah saja, menikmati
indahnya hidup di sana tanpa menderita di dunia.
Dan
tentang cinta. Pertemukan Hamba dengan orang yang mampu membuat diri ini merasa
lengkap, Ya Allah. Hamba perlu seseorang yang mengerti dan menerima Hamba apa
apa adanya. Seorang teman yang nantinya setia selalu di sisi Hamba dalam
mengarungi perjalanan hidup yang berlika-liku dan penuh luka.
Oh
ya, Hamba sudah berusaha semampunya menjalankan perintah-perintah Engkau. Hamba
selalu solat lima waktu dan juga puasa senin kamis. Setiap pagi dan subuh pun
Hamba tidak lupa menyanyikan ayat-ayat Al-Qur’an yang membuat damai di hati.
Dan Hamba selalu berdoa dalam shalat Duha untuk dibukakan pintu rezeki dalam
mencari pekerjaan. Di kala para manusia tertidur lelap, Hamba bangun untuk
menyembahMu dalam shalat tahajud. Ya Allah, apakah semua yang Hamba lakukan belum
berarti di mata-MU? Apakah masih kurang yang selama ini Hamba persembahkan
untuk-MU? Kenapa sampai sekarang juga doa-doa Hamba belum juga terjawab?Maaf ya
Allah, Hamba hanya ingin menumpahkan perasaan hamba yang sejujurnya kepada-MU.
Sebenarnya
masih banyak yang ingin hamba ungkapkan pada Engkau. Semoga kita bisa berjumpa
lain kali. Hamba ingin berbincang dengan-MU dan mendapatkan jawaban dari
misteri-misteri hidup. Terimakasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca
isi hati Hamba di kala kesibukan Engkau mengawasi kami semua, para manusia di
dunia. Sekian.
Wassalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Hamba-MU
terkasih,
Muhammad
Awan Perkasa
Aku memandang tulisan
tersebut dengan nanar, merasa ditampar. Surat ini menyimpan daftar keinginanku
dulu yang aku curahkan kepada Allah SWT.
Aku tersadar, bahwa Allah telah mengabulkan semua keinginan itu. Aku
mendapatkan pekerjaan, bisa membahagiakan ibu dan juga bertemu dengan pujaan
hati, Lea. Semuanya sudah aku dapatkan. Tetapi, justru di saat aku memperoleh
semua itu, aku berpaling dari-NYA. Aku lupa akan berkah yang Ia berikan
untukku, kedudukan, materi dan kesenangan. Kini aku dapat menjawab pertanyaan
Andre yang kala itu berpikir bahawa hidupku ini sempurna. Sebenarnya aku
tenggelam di dalam dunia palsu, yang tampak indah di luar dan di dalamnya tidaklah
lebih dari kesesatan semata. Aku pun pergi mengambil air wudhu untuk melakukan
solat tobat.
“Ya, Allah.Maafkan Hamba-MU yang khilaf ini.
Hamba telah lupa akan Engkau, ya Allah. Hamba lalai dalam segala kesenangan
yang kau beri. Maafkan Hamba ya Allah.Terimakasih atas semua yang telah engkau
berikan. Hamba benar-benar minta maaf ya Allah.”
Air mata mengucur di
sela-sela doa yang aku panjatkan ke hadirat Allah SWT. Aku benar-benar merasa
bersalah .Aku hanya ingin ampunan dari-NYA. Aku ingin menjadi diriku seperti
dulu, yang selalu ingat untuk memuja-NYA, beribadah kepada-NYA.
Di tengah rentetan
ucapan maafku kepada Allah SWT, aku mendapat kabar mengenai Ibu. Dan seketika
itu juga, aku terduduk lemas mendengarnya. Bahkan aku tak sanggup menyatakannya
di sini. Berat, sangat berat. Aku harap aku bisa memutar waktu kembali. Aku
harap aku bisa lebih mengontrol diri menghadapi ketamakan duniawi. Aku harap,
aku bukan Awan yang sekarang. Air mataku mengalir bercucuran. Deras.
“Maafkan segala dosa-dosa hamba-MU ini ya
Allah. Maafkan dosa Ibu dan Ayah. Jaga mereka dengan baik di surga. Hamba mohon
ya Allah. Ampuni dosa-dosa Hamba yang hina ini.”
***
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa
kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri,tetapi setelah Kami
hilangkan bahaya itu daripadanya, dia kembali melalui jalannya yang sesat,
seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk menghilangkan bahaya yang
telah menimpanya”
(QS.
Yunus:12)
May Allah SWT bless US,
Chandini