31 May 2012

Sometimes...

Sometimes you just need to keep going even you really wanna look back

Sometimes if you love someone, you gotta let them go

Sometimes the long duration of relationship is not always end with a happy marriage

Sometimes you just need to fall in deep big hole named Love and get up to wipe your tears

Sometimes the hardest thing is to keep moving on

Sometimes it is just ended, even for you it isn't over

Sometimes you hope that you can stand of it, but you can't, you just can't

Sometimes how hard you try, you need to understand the meaning "we are not meant to be each other"

Sometimes...


Thank you for all the good and bad times. I love you still. But maybe we are not meant each other this time. How about next time? Hope i can see you in that same park where we first met. And i will give you the things that i would like to give you since a long time. If you don't like it, it is fine. I will find someone like you, don't worry. Sorry for all the mistakes i have done. I never meant to do those things to you. I wish you all the best for everything. See you next time x')


"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"


#NowPlaying Adele-Someone Like You



I'll be fine eventually,
Chandini


29 May 2012

Sepucuk Surat untuk Allah SWT





(Penulis: Ulka Chandini Pendit)


Ini adalah perusahaan ke-35 dimana aku diinterview sebagai graphic designer. Hasilnya, belum pasti. Seperti perusahaan-perusahaan lainnya, “Nanti dua minggu lagi kami beritahu apakah Anda diterima atau tidak. Terimakasih.” Aku berlalu pergi dari ruangan interview dengan rasa hampa. Mungkin sudah ratusan lamaran yang kukirim selama enam bulan menganggur setelah resmi lulus dari salah satu universitas di Malaysia. Ada yang memanggil untuk interview, ada juga yang mengacuhkan lamaranku. Aku, lulusan luar negeri, ternyata tidak jauh berbeda dengan lulusan dalam negeri dalam hal mencari pekerjaan. Seperti seorang penembak yang harus menembak sasaran berkali-kali. Kadang tembakan tepat mengenai sasaran tetapi kadang juga meleset. Sungguh sulit mencari pekerjaan, terombang-ambing dalam ketidakpastian. Aku memanggil tukang ojek yang tengah diam mencari penumpang. “Bang, Setiabudi ya!,” aku pulang dengan tangan kosong.

***

Jl. Anggrek 5 No.22, Setiabudi, Jakarta Selatan. Aku membuka pintu kamar dengan gontai. Kamar itu kosong. Hanya dinding-dinding bisu yang kadang berbicara di waktu tertentu. Aku menghempaskan tubuh ke atas kasur. Hari ini sama seperti kemarin, lagi-lagi aku “digantungi” oleh perusahaan. Kepalaku memandang lurus ke langit-langit. Berusaha berpikir jernih di tengah keadaan sulit. Aku meraih dompet dari dalam tas, mengecek jumlah uang yang tersisa. Masih ada uang untuk ongkos kalau dipanggil interview besok. Aku membalik dompet, mencari-cari sesuatu. Dompet ini penuh, ada tiket nonton bioskop, struk pembelian dan lainnya. Ini dia, bunga edelweiss pemberian Ayah, oleh-oleh terakhir kali Beliau naik gunung. Juga foto ini, foto Ibu yang sedang menggendongku, kala aku berumur enam bulan. Kalau handphone mempunyai charger untuk mengisi baterai agar bisa kembali digunakan, aku cukup memiliki dua hal ini, yang menjadi penggerak diri untuk selalu bangkit dan maju.

Aku menuju meja kerja. Lalu termenung menatap kertas-kertas lamaran yang bertumpuk di atasnya. Tak tahu apa yang harus kulakukan dengan itu semua. Ingin rasanya kulempar semua surat lamaran ini dari luar jendela, karena hingga kini aku belum berjodoh dengan satu perusahaan pun. Aku mengambil satu kertas putih dari tumpukan. Kosong. Aku ingin menggambar, lama sudah aku tidak melakukannya. Tanganku mulai menorehkan coretan-coretan dan berhenti beberapa detik kemudian. Otakku buntu. Tak tahu apa yang harus dituangkan di atasnya. Tanpa sadar, jari jemariku bergerak dengan sendirinya, menuntun ucapan hati yang terdengar samar-samar. Aku terhanyut. Mengalir. Dalam ilusi dan imajinasi.  

*** 

02.30 AM

Para malaikat berbondong-bondong turun ke bumi. Mereka tersembunyi dalam jubah-jubah putih yang sarat cahaya ketika dibentangkan. Kadang mereka tersenyum, memperhatikan manusia yang tertidur pulas di ranjang beralaskan bulu angsa. Dan berubah menjadi iba ketika melihat mereka yang bersujud, menangis,  memohon dalam tahajud pada Allah SWT. Bahkan masih ada juga yang belum  memenjamkan mata, terjaga, di depan sekotak benda elektronik tempat mereka bekerja. Para malaikat hanya menggeleng-gelengkan kepala memandangnya.

Di antara para manusia itu, ada seorang lelaki yang tertidur di atas meja, kepalanya jatuh tepat di atas kertas putih bertuliskan tulisan tangan yang rapi dan indah. Malaikat memperhatikan lelaki tersebut, bulu matanya yang lentik, rambutnya yang lebat, keindahan Allah SWT dalam menciptakan paras tampan manusia. Seingat malaikat, lelaki ini selalu dalam keadaan shalat tahajud ketika dikunjungi. Entah kenapa, hari ini dia tidak melakukannya. Kertas putih itu seperti berteriak, malaikat pun mengambil dan membacanya. Sesaat malaikat terhenyak dan terdiam memandang setiap baris kata dalam surat tersebut. Tanpa pikir panjang, malaikat pun pergi dan membawa surat itu bersama ke surga.

***

Setahun Kemudian…

 “Awan, kamu ditunggu Bos di ruangannya,” kata Mery, teman satu tim. Aku yang sedang mengerjakan design banner perusahaan mendadak kaget. Ada apa gerangan? Tidak pernah sebelumnya Bos memanggilku ke ruangan. Aku mengingat pekerjaan demi pekerjaan yang kulakukan. Semuanya beres dan berhasil. Aku semakin bertanya-tanya makna pertemuan dengan Bos kali ini.

Senyum simpul tersinggung di bibir seketika aku keluar dari ruangan Bos. Aku segera pergi ke mushalla untuk menunaikan shalat Dzuhur. Hanya ucapan “Alhamdulillah” yang ingin aku sampaikan kepada Allah SWT karena telah menganugerahiku kenaikan pangkat. Bos senang dengan hasil pekerjaanku. Beliau bilang, “Kamu punya talenta yang bagus. Selain itu kamu disiplin dan konsisten dalam setiap project. Mulai sekarang kamu resmi naik jabatan sebagai Art Director,” kata-kata itu terngiang di telingaku.

Masih terekam jelas dalam ingatan, ketika aku pertama kali menerima telepon dari perusahaan ini. Aku menamakannya telepon kegembiraan karena telah menjawab penantianku mendapatkan pekerjaan impian. Memang, Allah SWT selalu mengabulkan doa-doa hamba-NYA. Aku pun menelepon Ibu dan mendengar suara lembutnya di ujung sana, membuatku makin terharu.

***

Ini sudah gelas yang ke-9, tetapi Andre belum juga berhenti menenggak Whisky. Ia meracau, mengeluh dalam kalut. Tentang pekerjaan, percintaan, kehidupan. Aku meneguk dengan tenang orang juice, minuman favoritku yang selalu kupesan setiap berkunjung. Asap rokok mengebul di sekitar. Musik techno masih berputar kencang walau ini sudah lewat dua menit pukul dua pagi. Para lelaki dan wanita belum juga lelah menari di lantai dansa. Mereka tertawa, menikmati alunan musik, tenggelam di dalamnya. Seperti lupa bahwa ini adalah dunia.

“Gimana kabar lo sama Lea?”
“Baik-baik saja.”
“Enak ya, jadi lo. Hidup lo sempurna. Pacar ada, gaji gede, keluarga peduli. Semuanya lengkap.”
“Nggak juga, Ndre. Udah jam 2 nih, balik yuk.”

Andre masih terduduk lemas di sofa. Raganya tidak sanggup untuk bangun. Matanya merah, mulutnya bau alkohol. Aku tak tega melihat teman baikku dalam keadaan seperti ini. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, ada satu pesan masuk. Dari Ibu, yang menanyakan bagaimana kabarku. Sudah seminggu ini aku tidak menelpon Beliau. Deadline pekerjaan yang ketat membuatku kalang kabut mengatur waktu. Kata terakhir dari Ibu membuatku tersentak. Satu hal yang sudah lama jarang kulakukan. Lagi-lagi karena pekerjaan yang menyita perhatian membuatku lupa akan satu hal penting itu.

Aku segera menggotong Andre keluar dari tempat ini. Dan pulang menerobos gelapnya malam dengan satu perasaan resah dalam jiwa.

***

“Hey, kamu, ternyata di sini.”
“Iya lebih enak, bisa jelas ngelihatin kamu.“
“Oh ya? Mana teropongnya?”
“Nih, di sini.”

Lea tertawa kecil ketika aku menunjuk hatiku untuk meneropongnya dari jauh. Bola matanya yang besar berbinar-binar. Hidungnya mancung, pipinya merah merona. Lea seperti bidadari yang turun ke bumi. Cantik, sungguh cantik. Aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Sejak saat itu, aku tak pernah berhenti memikirkannya. Tepatnya hari ini, adalah anniversary kami yang ke-3 bulan. Kami ibarat bunga yang sedang mekar dan bersemi. Saling memadu kasih dan cinta.

***

Sebulan Kemudian...

Aku terpana melihat keadaan Ibu. Beliau tergolek lemah di kasur dengan selang-selang yang menjalar di tubuhnya. Matanya terpejam, belum sadarkan diri. Aku terpaku di sisi Ibu, menggenggam tangannya, menciumnya dengan lembut. Semoga Ibu dapat merasakannya, di tengah deru sakit yang merasuk dalam tubuh, aku yakin Ibu tahu kalau aku di sini, menjaga Beliau.

Ingatanku terbang ke beberapa hari lalu. Siang itu Bulan menelponku. Suaranya serak, seperti habis menangis.

“Bang, Ibu masuk rumah sakit. Serangan jantung mendadak.”

Kata-kata Bulan seperti bom berdesing mendarat di telinga. Aku terdiam. Tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Aku yang kala itu sedang bekerja, menatap kosong layar computer. Tanganku kaku, beku. Aku teringat pesan ibu waktu itu. Tak disangka kalau pesan itu adalah pertanda bahwa sesuatu akan terjadi. Aku menyesal. Sungguh. Kalau saja aku menelpon Ibu ketika itu. Kalau saja aku ingat…Kalau saja…

 “Bang, solat berjamaah yuk. Kita doain Ibu bareng.”
“Ah, eh, iya. Sebentar ya, Lan.”
“Bulan tunggu di mushalla ya.”

Kata-kata Bulan membuyarkan lamunan. Juga mengingatkan aku akan satu hal yang sudah terlupakan selama beberapa bulan terakhir. Hal yang dulu rutin aku lakukan dalam keadaan apa pun itu. Kini, menghilang, entah dimana. Aku telah lupa. Aku rindu. Aku ingin kembali pada-NYA.

***

Shalat berjamaah tadi sungguh damai. Aku kembali ingat bagaimana indahnya berbicara dengan Sang Pencipta. Terakhir aku melakukan ini mungkin sekitar tiga bulan yang lalu. Bersama teman-teman, kebetulan ada perayaan Isra Mi’raj yang digelar di kantor. Bagaimana dengan shalat lainnya? Apa kau benar-benar ingin tahu, Kawan? Aku tak sanggup mengatakannya. Karena baru kusadari kalau aku bukan Awan yang dulu. Yang selalu mencurahkan doa-doa setelah shalat, yang rajin bertemu dengan Allah SWT di kala para manusia sedang di alam mimpi, dan berpuasa ketika yang lain tengah berpesta pora. Aku, benar-benar berubah. Ada apa denganku? Apa kenikmatan duniawi telah menghilangkan hasrat spiritual ini? Memang, aku telah salah arah. Memang, sepertinya, lembaran-lembaran kertas tipis bertuliskan angka itu telah membuatku lupa, akan makna hidup yang sebenarnya. 

***

Aku memutuskan untuk pergi ke rumah kosku dulu di Jakarta. Entah, seperti ada yang membawaku ke sini. Ke tempat dimana aku berada dalam sisi terberat hidupku. Ketika aku hanyalah orang biasa, yang tidak punya apa-apa. Aku menyentuh meja belajar yang berdebu, usang. Dulu di meja inilah, aku menulis berlembar-lembar surat lamaran pekerjaan yang akhirnya mengantarkanku ke pekerjaanku sekarang. Aku mengambil sapu dan mulai membersihkan kamar.

Kusapu bagian bawah meja, pasti banyak debu di bawah sini, pikirku. Namun, ada sesuatu tersangkut di ujung sana, tidak bisa keluar dan ditarik oleh sapu. Apa itu? Aku menggeser meja, melihat bagian belakangnya. Tampak secarik kertas putih kekuning-kuningan. Seperti kertas lama yang tertinggal oleh pemiliknya. Tulisan tangan di atasnya berbaris rapi. Aku seperti kenal dengan Sang pemilik tulisan.


Assalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Yth. Allah SWT
Di 
Atas Sana

Dear Allah Swt.,

Apa kabar? Semoga Allah selalu baik-baik saja di sana. Terimakasih karena Allah telah mengijinkan Hamba untuk hidup sekali lagi di hari ini. Mohon maaf jika Allah kaget dengan surat dari Hamba. Perkenalkan, Hamba adalah seorang lelaki yang sedang gelisah tentang hidup. Hamba ingin berbicara dari hati ke hati dengan Allah SWT.

Hamba adalah lulusan universitas dengan predikat nilai memuaskan. Hamba tidak pernah melanggar peraturan dan menjadi teladan bagi teman-teman lain. Selain itu, Hamba juga tergolong aktif dalam organisasi. Tetapi sudah enam bulan, Hamba belum juga mendapatkan pekerjaan. Apa yang perusahaan-perusahaan itu mau, ya Allah? Kenapa Hamba yang masuk kategori layak bekerja tetapi sampai sekarang juga belum ada yang terpikat? Apa salah Hamba? Hamba sudah berusaha datang tepat waktu ketika interview dan menjawab pertanyaan semaksimal dan semampu Hamba. Namun, hingga kini, Hamba masih terduduk di sini, menunggu sesuatu yang tidak pasti kapan datangnya.

Hamba rindu Ibu, ya Allah. Ibu Hamba adalah perempuan tercantik dan terbaik yang ada di dunia. Ibu tidak pernah mengeluh ketika harus melakukan sesuatu untuk anaknya. Ibu adalah pahlawan Hamba ketika Ayah telah Engkau panggil ke surga. Tak pernah Hamba jumpai Ibu menangis, Beliau begitu kuat dan mungkin hanya Engkau yang mendengar rintihan lemahnya. Hamba hanya ingin membahagiakan Ibu, membawanya ke rumah-Mu, melihatnya tersenyum dan tertawa. Ibu, segalanya untuk Hamba. Orang bilang, “Surga ada di telapak kaki Ibu”, berarti tiket menuju surga akan Hamba peroleh jika Ibu bahagia. Benar begitu, ya Allah? Oh ya, Ayah sudah benar di surga kan? Ingin rasanya Hamba menyusul Ayah saja, menikmati indahnya hidup di sana tanpa menderita di dunia.

Dan tentang cinta. Pertemukan Hamba dengan orang yang mampu membuat diri ini merasa lengkap, Ya Allah. Hamba perlu seseorang yang mengerti dan menerima Hamba apa apa adanya. Seorang teman yang nantinya setia selalu di sisi Hamba dalam mengarungi perjalanan hidup yang berlika-liku dan penuh luka.

Oh ya, Hamba sudah berusaha semampunya menjalankan perintah-perintah Engkau. Hamba selalu solat lima waktu dan juga puasa senin kamis. Setiap pagi dan subuh pun Hamba tidak lupa menyanyikan ayat-ayat Al-Qur’an yang membuat damai di hati. Dan Hamba selalu berdoa dalam shalat Duha untuk dibukakan pintu rezeki dalam mencari pekerjaan. Di kala para manusia tertidur lelap, Hamba bangun untuk menyembahMu dalam shalat tahajud. Ya Allah, apakah semua yang Hamba lakukan belum berarti di mata-MU? Apakah masih kurang yang selama ini Hamba persembahkan untuk-MU? Kenapa sampai sekarang juga doa-doa Hamba belum juga terjawab?Maaf ya Allah, Hamba hanya ingin menumpahkan perasaan hamba yang sejujurnya kepada-MU.

Sebenarnya masih banyak yang ingin hamba ungkapkan pada Engkau. Semoga kita bisa berjumpa lain kali. Hamba ingin berbincang dengan-MU dan mendapatkan jawaban dari misteri-misteri hidup. Terimakasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca isi hati Hamba di kala kesibukan Engkau mengawasi kami semua, para manusia di dunia. Sekian.

Wassalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh


Hamba-MU terkasih,
Muhammad Awan Perkasa


Aku memandang tulisan tersebut dengan nanar, merasa ditampar. Surat ini menyimpan daftar keinginanku dulu yang  aku curahkan kepada Allah SWT. Aku tersadar, bahwa Allah telah mengabulkan semua keinginan itu. Aku mendapatkan pekerjaan, bisa membahagiakan ibu dan juga bertemu dengan pujaan hati, Lea. Semuanya sudah aku dapatkan. Tetapi, justru di saat aku memperoleh semua itu, aku berpaling dari-NYA. Aku lupa akan berkah yang Ia berikan untukku, kedudukan, materi dan kesenangan. Kini aku dapat menjawab pertanyaan Andre yang kala itu berpikir bahawa hidupku ini sempurna. Sebenarnya aku tenggelam di dalam dunia palsu, yang tampak indah di luar dan di dalamnya tidaklah lebih dari kesesatan semata. Aku pun pergi mengambil air wudhu untuk melakukan solat tobat.

 “Ya, Allah.Maafkan Hamba-MU yang khilaf ini. Hamba telah lupa akan Engkau, ya Allah. Hamba lalai dalam segala kesenangan yang kau beri. Maafkan Hamba ya Allah.Terimakasih atas semua yang telah engkau berikan. Hamba benar-benar minta maaf ya Allah.”

Air mata mengucur di sela-sela doa yang aku panjatkan ke hadirat Allah SWT. Aku benar-benar merasa bersalah .Aku hanya ingin ampunan dari-NYA. Aku ingin menjadi diriku seperti dulu, yang selalu ingat untuk memuja-NYA, beribadah kepada-NYA. 

Di tengah rentetan ucapan maafku kepada Allah SWT, aku mendapat kabar mengenai Ibu. Dan seketika itu juga, aku terduduk lemas mendengarnya. Bahkan aku tak sanggup menyatakannya di sini. Berat, sangat berat. Aku harap aku bisa memutar waktu kembali. Aku harap aku bisa lebih mengontrol diri menghadapi ketamakan duniawi. Aku harap, aku bukan Awan yang sekarang. Air mataku mengalir bercucuran. Deras.

 “Maafkan segala dosa-dosa hamba-MU ini ya Allah. Maafkan dosa Ibu dan Ayah. Jaga mereka dengan baik di surga. Hamba mohon ya Allah. Ampuni dosa-dosa Hamba yang hina ini.”

***

 “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri,tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia kembali melalui jalannya yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya”
(QS. Yunus:12)






May Allah SWT bless US,
Chandini



25 May 2012

Christmas Dinner is Here!

December, 24th, 2010

Finally, the Christmas dinner was here! After the busy preparation and the clueless me to cook Indonesian food for dinner, it was happened, just now. Yeah, Marce and Pola cooked their traditional foods, Colombian and Poland foods. The ones they usually have at Christmas dinner with family. And me, I have no idea, uhm, exactly, I can’t cook. Haha But it’s okay, since I’ve paid by helping them cooking. I can’t wait for the first Christmas dinner in my life, yeah since I celebrate Idul Fitri. x)

 Messy christmas dinner preparation 

The dinner was at 8 PM and we invited all AIESEC guys and trainees to apartment. First person came was the guy whom I never met before. He has thick eye brows, wore the horizontal stripped blue-black sweater, and kindly greeted Pola when he arrived. He seemed so close with Pola, they laughed and joked together at kitchen. “Hey, Ulka, this is Tarekh”, said Pola. “Hello..”, I waved and smiled to him. Next, when I went to put the plates in the big room, he was there and asked me, “Ulka, are you okay now?”.  I was confused, “Yeah, I’m fine.”  And he replied, “Good. Cuz the last time I heard you were sick so you postpone the flight to here.”  “Aha, yeah. I was but now I’m okay”, I got his point. 3 days before my flight to Tunisia, I was sick so I decided to take a rest and postponed the flight. Anyway, Tarekh is one of EB members in AIESEC Thyna. The dinner continued with the coming of Ayoub and Fateh. Their eyes look hungry to see delicious foods on table. They brought along the red wines also. I chose to sit between Ayoub and Marce, at the corner.


Pola, Marce and Me: The Master Chefs xD~
Foods (left to right): Bunuelos, Colombian rice, Bread, Banana Jely Cake, Croquette, "Ryba Po Grecku", Crackers


The foods were soooo delicious! Thanks Marce and Pola! x) My favorite was the Colombian Rice and the Banana Jelly. I just can’t stop to take and put them in mouth, again and again. I ate a lot, wohoo xD~

Me, Pola, Tarekh and Ayoub: We LOVE the food! 

The next people come were Wasim and friends. I just knew Wasim as well, he was tall and kind of rebellious guy. Wasim’s friends sat on the bed across our bed. Many new faces tonight, including one guy, Firaz. His eyes are different, colored in green and bright. Mostly, Tunisians irises are light brown or black. More people came and the party was fired up. Marce danced with Tarekh and Pola with Iskandar. I also don’t know about Iskandar, Marce told me he was alumni of AIESEC.  And me, I just sat nicely and laughed sometimes.

Iskandar and Pola

Tarekh and Marce 

It was late already. Ayoub, Fateh, Firaz and Wassim were still with us. We joked together, I said that “Tarekh, your name in Malaysia would be date, Tarikh.” “Oh, really? Ulka your name is Olga here,” Tarekh replied. Haha No way, Olga is a famous celebrity guy in Indonesia. Suddenly, the bell rang and showed up three people. Two white girls and I think one Tunisian guy. “Hello guys, sorry we’re late,” said the white and long hair. “It’s okay, you guys are welcomed,” Marce smiled. They are trainees, Britanny the long hair from US and Angie from Canada who brought his boyfriend. Before Britanny stayed in this apartment but since it is far from work so she moved to her boss house. What a nice boss! And that question finally striked, “Where are you from?”
Britanny: Hi, i think i know where you from. Wait. (thinking)
Angie: Is she from Vietnam?
Me: Nooo. (big shake head)
Britanny: Ha, from Malaysia?
Me: Yeah, i’m studying there but i’m from Indonesia.
Britanny: Great!


I still remember when a guy in looage on the way to Sfax asked me whether I’m Chinese, Japanese or Korean. And now, Vietnam, maybe tomorrow would be Laos. Cool.
After all, it was a great Christmas party. We had fun and this is like a welcoming party for me. After three days ago I arrived in Tunisia. Anyway, Nidhal, friend of Becky, the girl who stays in the big room came to party and offered Marce to go to Kerkena this weekend. He will accompany her since Kerkena is his hometown. Well, I would love to go there! I heard it is beautiful island. Can’t Wait! Time to sleep. Thanks x)


Merry Christmas,
Chandini



24 May 2012

When The Spring Comes and The Shirt Turns into Skirt


#NowPlaying The Beatles - (Random Songs)

Hello Everyone!

How are you doing? Hope everything is fine. It's May already! Time flies so fast x) For me, May is always full of beautiful and blossom flowers everywhere..that means..Spring! Yeah, Spring is here! So welcome to the theme of the month: When The Spring Comes and The Shirt Turns into Skirt. Yes, it's a long theme. As you can see, i wear a shirt, a cheerful-big-lovely shirt made in Italy which i bought in Tunisia last year. It is a super shirt! You can wear it also as skirt x) I got this spontaneous idea once i travelled to Tabarka, Tunisia. At that time, we were going to be on a boat, explore the island, i have no shorts anymore and out of the blue, i just got idea to make the shirt becomes skirt xD~ Take a look of the magic steps below how it changes. It's Easy and let's have a try! x) Meanwhile, please enjoy the happy spring photos! Thanks and see you real soon! :*








Check the 3 magic steps of Shirt-Skirt here ;)


Try These: Shirt made in Italy - White Tank Top - Vintage Trousers - Bracelet from Vietnam - Vintage Necklace - Ponco - Wedges
Photographer : Pipin Ramadhani
Photo Editor: Ulka Chandini Pendit



"Happiness is a warm gun .. Bang-Bang-Shoot-Shoot"
- The Beatles "Happiness is a warm gun"



Happy Blossom Spring,
Chandini


22 May 2012

Perempuan Bergaun Merah Jambu


Sudah satu jam aku terduduk di sini. Di atas kursi, di depan layar komputer. Kosong. Kertas putih ini masih putih bersih. Belum ada satu kata pun di sana. Aku bingung. Tak tahu menulis apa. 

Sudah banyak kata-kata berkumpul di kepala. Seperti muntah yang tertahan di kerongkongan, mereka hendak keluar tetapi tidak bisa. Perut ini mulas, tanda sudah waktunya. Mulut sudah terbuka, tetapi belum juga bisa. Mereka, segala racun hati, belum sanggup keluar dari sarangnya.

Banyak hal terjadi belakangan ini. Tentang badanku yang biru-biru. Lebam. Di paha, kaki dan tangan. Rasanya nyeri. Lebih sakit dari luka yang berdarah. Setiap tidur aku mendengar, luka-luka itu berteriak, memanggil-manggil. Mereka minta diobati, dikembalikan warnanya menjadi coklat. Seperti kulit semula. Tetapi mereka tetap biru. Sebiru langit gelap ketika hujan turun.

***

Aku berjalan melewati tatapan-tatapan kagum itu. Mereka terpana melihat gaun merah jambu yang melekat ini. Warnanya manis, kemerah-merahan, menandakan sang pemilik sedang jatuh cinta dan bahagia. Senyumku mengembang. Semu. 

Bisikan mereka masih terdengar jelas. Gaung suara mereka menggema memenuhi penjuru ruang. Aku terus berjalan dengan sekuat tenaga. Sampai ketika, sakit ini kembali mengaduh. Gaduh. Aku merintih. Sakit yang tak tertahankan. Pedih. Perih. Aku terjatuh di sudut ruang. Lalu melihat ke kanan dan kiri , memastikan hanya aku dan diriku di sini. Sendiri. Mereka tak boleh tahu, tentang luka-luka ini. Tidak, mereka tidak boleh tahu.

***

Aku tak tahu bagaimana cara menghitung air mata. Kalau ada alat pengumpul air mata, mungkin sudah tak terhitung jumlahnya air mata-air mata yang turun di bumi. Mereka menjadi teman para manusia, melewati lorong gelap sunyi, berlika-liku, kelam, dalam hidup. Kadang mereka juga menemani di kala langit terang benderang dan matahari bersinar terik. Dan kadang, semakin sering kau mengeluarkan air mata, semakin kau tidak akan bisa menangis. Oh ya, aku lupa, menangis, itu namanya, ketika kau mengeluarkan air matamu. Mungkin kau belum terbiasa, nanti kalau kau sudah sering menangis, kau akan menganggapnya hal yang biasa saja. Ah, menangis itu biasa. Dan ketika kau sudah mencapai tahap ini, mungkin juga kau tidak akan bisa menangis lagi. Kau sedih, tetapi air mata itu tidak keluar. Kau mencoba untuk mengeluarkannya, tetapi tidak ada. Air mata itu tidak ada. Matamu tetap kering. Kau sudah tidak bisa menangis lagi karena cadangan air matamu sudah habis.

***

Aku berjalan terpincang-pincang menuju halte bus. Sakit, sangat sakit. Aku ingin menangis tetapi tak bisa. Aku harus pulang karena luka ini akan terus menganga. Aku akan mengobati dan menutupinya. Tak tahu berapa lama luka ini akan sembuh. Mungkin, sehari, sebulan, atau setahun. Tak pasti. Besok aku akan mengenakan gaun kuning ceria. Lalu menjadi perempuan paling riang sedunia. Cukup Tuhan dan aku yang tahu tentang luka-luka ini. Semoga luka ini cepat sembuh. Semoga.



Hugs,
Chandini



11 May 2012

Let's Dance!



It is raining...


Suddenly an old quote popped up on mind...


"Life is not about waiting for the storm to pass. It's about learning how to dance in the rain." 
- Vivian Greene



Let's having some dance on the street then x)






Rain Dancer ;)
Chandini



06 May 2012

Quote of The Day



I hated every minute of training, but I said, "Don't quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion."
- Muhammad Ali





04 May 2012

Losing Memories


Hari ini aku berlari.
Berlari kencang, sekencang mungkin. Di tengah rasa sakit, panas, letih. Aku tetap berlari. Hingga hilang pedih peri. Tetapi kamu, tetap hinggap di kepala, merasuk dalam jiwa.
Aku berontak.

"Keluar!"
"Cepat keluar dari sini!"

Matamu merah, memelas. "Ijinkan aku..sebentar saja", katamu sambil menggenggam erat tanganku. Aku menatapmu tajam. Nanar.

***

Aku masih terus berlari. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, napas yang terputus-putus. Aku hanya ingin terus berlari, berjalan, membuatmu hilang dari ingatan.

"Kita masih bisa sama-sama. Kamu harus tunggu aku. Kita pasti bisa bareng lagi."
"Aku sayang kamu, ingat ya."

Bayanganmu hadir samar-samar. Aku kehilangan arah. Jalanku terseok-seok. Pohon besar di hadapan siap menyambut kedatanganku.

"BAMMM!"

Badanku terhuyung. Lemas.

Aku hilang ingatan.

***

Tak apa. Kuharap benturan ini bisa menghapus namamu dari memori. Anggap saja kita tidak pernah kenal. Jika mengingatmu hanyalah menambah sobekan luka dalam hati maka aku ingin hilang ingatan. Dan bila kita berjumpa nanti, bagai kedua orang asing yang saling tersenyum tanpa rasa dendam dan benci. Seperti kenal, tetapi entah siapa. Seperti ingat, tetapi sudah lupa. Lebih baik begitu bukan?


PS: Apparently, running is not effective way to forget someone



Just want to lose memory,
Chandini


03 May 2012

May The Peace Upon You


Asy Syuaara


Source: Nice shot of Al-Qur'an


"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka putus asa, dan Dia tebarkan rahmat-NYA, dan Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (Asy Syuaara - 28) 

"Maka apa-apa yang diberikan kepada kamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia, dan apa-apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal." 
(Asy Syuaara - 36)

"Dan (juga) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf." (Asy Syuaara - 37)

"Dan (juga) orang-orang yang memperkenankan seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (adalah) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Asy Syuaara - 38)

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mereka terainaya, mereka menuntut bela." (Asy Syuaara - 39)



Read Al-Qur'an after Fajr pray has made me full of peace, relieve and spirit to face a new day.

Al-Qur'an is the best book in the world. Indeed x)



May Allah SWT bless US,
Chandini