22 January 2012
Reading and Dreaming
#Now Playing: The Best of Jason Mraz Album
(From Maryamah Karpov by Andrea Hirata)
Hello,
What are you doing for this long weekend? Yeah, tomorrow is gonna be a free Monday for celebrating Chinese New Year or just laying on your bed to say I-Love-Monday! x)
And me, I just finished one book, i mean an amazing book, today. Finally i finished it! Before going back to Malaysia, this is one of goals to be settled. Wohoo! xD~
I bet you guys know this book. After “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi” and “Edensor”, he wrapped it up beautifully with “Maryamah Karpov”. Tetralogy novels by Andrea Hirata will never make us, the readers, disappointed. Every words inside have their own strength and deep meaning. I was drowned into his imagination to picture how life of dreams is what life should be.
This book tells about Ikal a.k.a Andrea, in a journey to find his true love named A Ling. He met this Chinese girl, A Ling, when he was in primary school, told in first book, Laskar Pelangi. He fell in love at the first sight when he saw beautiful nails of A Ling at the Chalk store where his teacher asked him to buy chalk for class. From that time, Ikal can’t stop thinking about A Ling. Unfortunately, they had to be separated in high school and never met again. Ikal, who totally in love with A Ling, can’t just forget about his love childhood story. He travelled around the world, from France, Russia until Africa, only to find the real A Ling. He wants to meet her, whatever the situation is, even if A Ling has turned to be a different person whom he knew long time ago. Even if A Ling has married with another guy or maybe has passed away.
After finished his study at University of Sorbonne,France, Ikal going back to home. An island called Belitong in Indonesia, is a place to be called home for Ikal. The new chapter of life has begun and new dreams for again, finding his true love. This book shows me that dreams can change only human to be a superhuman. Anything is possible, is totally true. Ikal who never made a ship before, finally can make his dream come true. Then with the ship he sailed to Batuan Island thorugh Malacca strait. He also succeeded to did another impossible mission, met the real pirates of Malay called Lanun, a cruel voyage on the sea, until finally met and brought back his A-Ling. Not only about love it is also shows culture of Malay people, science and absolutely, the inspiration for never stop dreaming.
Another book, called, Red Dust, is also worth it to be spent on leisure time. Ma Jian, the author who travelled around China, described all his journey in this book. Thank you for Lii Na, my lovely flatmate in Tunisia, who recommended me this book. As Connie, my roommate said, “Ulka, you just bring that everywhere. Is it really good?”, when she saw me holding it tightly after going back from office. And even i read it during break at work, before i sleep and until now i haven’t finished it. Hehe However, Ma Jian has taken me away to the other side of China that makes me want to do the same for Indonesia. His complete explanation and emotion has enriched this book. I really want to write a book like this one, someday. Simply, “Maryamah Karpov” and “Red Dust” are two books to be read, again and again.
Rahasia
Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dalam perjalanan menggapainya
Secret
I tell you one secret, friend
The sweetest fruit from having courage to dream
Is the amazing things
In the journey for reaching it
Happy reading,
Chandini
15 January 2012
A letter to You
Dear You,
Apa kabar? Semoga kamu masih tetap setia di sana, menikmati tetes-tetes hujan yang turun dari balik jendela. Lalu tersenyum senang, mencium bau khasnya yang mewarnai tiap sudut kota. Akupun masih di sini, terduduk di teras rumah dan berimajinasi tentang pertemuan kita nanti. Sambil sesekali mendengar kepak sayap burung perkutut yang sedari tadi mencoba membangunkanku dari indahnya dunia khayal. Dan saat itu, aku mendadak menjadi seorang aktris profesional yang seolah tahu bahwa sang kekasih sedang duduk di sampingnya. Membelai halus rambutnya, mengenggam tangannya kuat, menatap matanya lekat-lekat, menyatakan kalau ia akan selalu di sini, menemaninya. Seketika, angin puting beliung menggulung, membawa bayang-bayang pergi dari pandangan dan semua tak lagi seperti dulu. Daun-daun berguguran disiram panasnya sang surya, kepak sayap perkutut itu tak terdengar lagi, memberitahuku bahwa ini adalah dunia fana. Hujan pun enggan singgah di tanah-tanah yang kehausan, bunga itu tak lagi berwarna kuning cerah tetapi merah sayu nan layu, tak ada air yang memberinya hawa segar untuk kembali mekar merekah. Sekering itukah kenyataan? Aku tak percaya. Lebih baik aku pergi berdiam diri, mungkin kan kutemui oasis-oasis baru.
Sudah sewindu aku berjalan, sepertinya oasis pun tak sanggup meredam kehausan ini, terlalu liat dan pekat. Apa yang harus kulakukan? Telah kucari, kulayari, kuseberangi sampai ujung samudera sana. Mungkin dia, tak akan pernah ada selain dalam bayangan. Semu memudar. Atau mungkin alam tak mengijinkan kami bercanda dalam satu asa? Ya, aku merindukanmu, seperti anjing yang menggeliat-geliat akan tulang putih di depannya, seperti aku, yang kering kerontang atas rintiknya taburan air dari langit, yang tak pernah lagi turun. Aku tahu kamu begitu damai di sana, tetaplah seperti itu, aku tak akan menganggumu. Setiap detik kuyakinkan pada diri ini, kalau aku tak akan melepaskanmu, karena kamu begitu indah untuk ditinggal. Kamu adalah salah satu utusan Tuhan untuk membuat para wanita yakin, kalau memang ada pria baik hati di planet bernama Bumi. Dan aku dengan bahagianya menjadi salah satu orang yang pernah merasakan getar getir mendebarkan itu.
Kupikir, memang aku wanita kuat yang tak mudah tergores dan terombang-ambing dalam ombak ganas. Sayang, dugaan tak selalu benar, ternyata aku ini lemah, tak sanggup melewati terpaan badai jarak yang begitu kencang. Yang katanya bisa kita lewati bersama, mungkin kamu bisa, tetapi aku tidak cukup kuat. Berulang kali aku coba katakan bahwa situasi tidak seburuk itu, karena bunga akan segera tumbuh berseri dan daun-daun itu pun kembali menghiasi ranumnya pohon apel. Sebulan, dua bulan atau setahun lagi, mungkin. Namun, semuanya telah sirna, terhembus waktu, berlalu. Terimakasih telah menjadi payung untuk setiap hujan-ku. Biarlah kemarau ini kulalui di sini, sepi, sendiri, selama aku mampu.
Sudah sewindu aku berjalan, sepertinya oasis pun tak sanggup meredam kehausan ini, terlalu liat dan pekat. Apa yang harus kulakukan? Telah kucari, kulayari, kuseberangi sampai ujung samudera sana. Mungkin dia, tak akan pernah ada selain dalam bayangan. Semu memudar. Atau mungkin alam tak mengijinkan kami bercanda dalam satu asa? Ya, aku merindukanmu, seperti anjing yang menggeliat-geliat akan tulang putih di depannya, seperti aku, yang kering kerontang atas rintiknya taburan air dari langit, yang tak pernah lagi turun. Aku tahu kamu begitu damai di sana, tetaplah seperti itu, aku tak akan menganggumu. Setiap detik kuyakinkan pada diri ini, kalau aku tak akan melepaskanmu, karena kamu begitu indah untuk ditinggal. Kamu adalah salah satu utusan Tuhan untuk membuat para wanita yakin, kalau memang ada pria baik hati di planet bernama Bumi. Dan aku dengan bahagianya menjadi salah satu orang yang pernah merasakan getar getir mendebarkan itu.
Kupikir, memang aku wanita kuat yang tak mudah tergores dan terombang-ambing dalam ombak ganas. Sayang, dugaan tak selalu benar, ternyata aku ini lemah, tak sanggup melewati terpaan badai jarak yang begitu kencang. Yang katanya bisa kita lewati bersama, mungkin kamu bisa, tetapi aku tidak cukup kuat. Berulang kali aku coba katakan bahwa situasi tidak seburuk itu, karena bunga akan segera tumbuh berseri dan daun-daun itu pun kembali menghiasi ranumnya pohon apel. Sebulan, dua bulan atau setahun lagi, mungkin. Namun, semuanya telah sirna, terhembus waktu, berlalu. Terimakasih telah menjadi payung untuk setiap hujan-ku. Biarlah kemarau ini kulalui di sini, sepi, sendiri, selama aku mampu.
Anyway, Happy 46th monthversay Bono Coco x)
With Love,
Chandini
NowPlaying: 9 Matahari – Puisi #12
Mau Kemana?
Kejadian ini sering banget terjadi. Terutama di atas Bus kota, yang sering gw alami. Dulu gw biasa menjawab pertanyaan itu yang akhirnya berujung dengan berbincang-bincang. Dengan situasi yang sama, duduk bersebelahan di atas bus menuju satu tujuan, hitung-hitung menghabiskan waktu di jalan atau sekedar kenalan. Sama seperti di Tunisia, gw pun sempat melakukan hal yang sama. Tetapi sekarang, gw nggak lagi menjawab pertanyaan itu.
#Bus Damri: Jurusan Airport-Bekasi
Gw duduk di dekat jendela. Kepala gw ditutupi hoody jaket Converse. Gw memandang ke luar jendela. Seminggu di Malaysia membuat gw cukup sulit balik lagi ke Jakarta. Tiba-tiba..
Mas sebelah gw: “Mau kemana Mbak?”
Gw: (diam tetap memandang ke jendela)
Mas sebelah gw: (Ikutan diam)
#Bus Aja : Jurusan Bekasi – Merak
Gw duduk di jok tiga orang. Sebelah gw adalah Ibu-ibu yang lagi bercanda dengan anaknya di samping Beliau. Pengamen di kiri gw semangat mengamen dengan gitar kecilnya. Selesai pengamen itu keluar, beberapa menit kemudian datang lagi pengamen lain.
Ibu sebelah gw: “Banyak amat pengamen. Baru aja selesai datang lagi.” (Sambil nengok ke gw)
Gw: (Senyum-senyum mengiyakan)
Pengamen: (selesai mengamen) “Ya, saya minta tolong kepedulian Bapak Ibu di atas bis ini untuk memberikan sedikit rejeki kepada saya.” (membuka bungkus permen sebagai tempat sumbangan)
Pengamen: “Mbak..” (Meminta sumbangan)
Gw: (Menggeleng)
Pengamen: “Bu..”
Ibu sebelah gw: “Nggak. Banyak amat pengamen baru satu selesai datang yang lain.” (senyum ke gw)
Gw: (senyum-senyum juga)
Ibu sebelah gw: “Mau kemana Mbak?”
Gw: (pura-pura melihat ke jendela)
Ibu Sebelah gw: “Mbak..”
Gw: (Diam)
Ibu sebelah gw: (ikutan diam)
#Bus Arimbi : Jurusan Bekasi-Merak
Gw memilih duduk di Mas-mas yang sendirian di jok tiga orang. Ketika melihat gw, Mas itu memancarkan air muka yang berbeda. Gw bingung, cuek. Dia mempersilakan gw duduk di dalam alias samping jendela. Lalu, ada seorang Mas lagi yang ingin duduk di bangku gw, jadilah si Mas tadi duduk di tengah alias sebelah gw persis. Gw lagi asik memandangi jendela, seperti biasa. Dan..
Mas sebelah gw: “Mau kemana?” (dengan suara yang pelan dan halus tepat di kuping gw)
Gw: (bulu kuduk gw naik. Merinding dengar suara Mas itu. Gw diam.)
Mas sebelah gw: (ikutan diam)
Selebihnya yang terjadi adalah Mas itu menjepit gw di pojok. Gw nggak tahu apa Mas yang paling pinggir memang duduk seenaknya sehingga si Mas yang di tengah ujungnya melampiaskan kesempitan itu ke gw. Bahunya benar-benar menjepit bahu gw. Posisi dia mepet banget sama badan gw. Membuat gw nggak bisa bergerak sama sekali. Tapi gw masih bisa menyisipkan tangan kiri gw biar dia nggak macem-macem. Bahkan dia juga masih bisa tidur dan arah kepalanya selalu menghadap gw. Gw melawannya dengan menggencet bahu si Mas biar dia bangun tidur dan arah kepalanya nggak ke gw. Astagfirullah, kalo aja gw punya kekuatan super, langung gw tonjok muka itu Mas-Mas. Sama sekali nggak berper-kewanitaan. Badannya yang mepet ke gw, kepalanya yang seolah mau tidur di bahu gw. Ini sama aja dengan“pelecehan seksual” secara halus. Alhamdulillah, bus sampai dengan cepat di Kebon jeruk dan gw pun langsung melempar muka jutek ke Mas tadi.
Inti dari tiga kejadian di atas adalah sama. Gw memilih nggak menjawab pertanyaan kunci itu, “Mau Kemana?” Setelah hal-hal kurang menyenangkan yang gw alami di Tunisia dan Turki, gw memilih untuk bungkam dan tutup mulut sebelum pertanyaan merembet ke hal lain. Even untuk Ibu-ibu di kejadian nomor dua yang sebenarnya gw pengen banget menjawab Beliau, tetapi gw memilih untuk tetap diam. Karena gw nggak pernah tahu akan menjalar kemana pertanyaan itu, mungkin yang tadinya cuma nanya mau kemana jadi tinggal dimana, berapa nomor telepon dan lainnya. Apalagi untuk Mas nomor tiga, gw mengkategorikannya sebagai penjahat bus kota. Dan gw selalu ingat kalau sekarang gw tinggal di kota yang berkriminalitas tingggi, yang mirisnya, keramahan penduduk itu seakan terkikis dengan perlakuan tidak senonoh dari orang-orang yang juga adalah sesama penduduk itu sendiri.
Any Resolution?
Hai!
* Do more works. Show your talent!
Since it’s 2012, so have you had resolution for this year? ( i know it’s already mid of January)
I was a resolution girl who wrote down all desires in new year’s eve. But, it’s not important anymore, after i found out only some of them which accomplished. So, this year, i just made two resolutions in order to optimizeall the efforts and focus to make them come true.
* Do more works. Show your talent!
* Love your self more!
Number one, is about things i’m interested into. I love photography, making film, augmented reality, writing, and fashion. Once, i was not confidence with my skills on those fields above. But, i realize that i’m pretty good also, and being a master is all about process right? So what do i have to do now is practice, practice and practice. Cuz practice makes perfect.
Secondly, it’s a crucial thing. I know that last year, i pushed my self too much, cried a lot, thought so often, about, actually, unimportant things. I was stress so much. For your information, there’s difference between think and thinking. You have to choose when you have to think or, on the other hand, thinking. Thinking requires more energy and time. Make sure you do it for something that is important, not only when people gossipping about your new hair style. Be careful, you can lose opportunity cuz do too much of thinking. Just take it, don’t think too hard. And, our brain works a lot from day to night, so if you care about it, please use it wisely. Indeed, i need to love my self more.
I don’t want to write these, though. But this is just like a reminder for my self that i can make the two resolutions for this 2012, a reality. One more, be able to drive is also included in number one. Yes, my driving license will not be useless anymore. Haha
Go get your dream in 2012!
Hugs,
Chandini
Happy Vintage!
Finally, one of my desires this year, photo session at Kota Tua, accomplished! I wore Vintage things, cuz i love vintage also and Kota is the best place for vintage theme. I enjoyed the session so much, laughing, doing silly things with lovely best friends, Tami, Resty, Sabi, Amel and Icha and their boyfriends, Seto and Doni. The day ended up at Bebek Kaleyo Rawamangun for some dinner. Check these out!
Try these!
Flower Pin
Butterfly ring
Vintage Flower Dress
Ribbon Belt
Sandals
Happy Vintage,
Chandini
P9A Bekasi-Senen
Setelah mengalami beberapa kisah sedih di hari Sabtu, minggu itu, gw melewati Sabtu gw dengan cukup fun. Gw bertemu dua orang sobat yang lama nggak berjumpa. Senang, nggak sabar, pengin cepat-cepat melepas kangen, hinggap di kepala seiring keberangakatan. Tempat nostalgia itu adalah Seven Eleven Matraman. Yak! Akhirnya gw bakal mencoba tempat nongkrong a.k.a minimart yang katanya idola anak muda Jakarta itu. Soal Seven Eleven bakal gw ceritain di post berbeda, kali ini seperti biasa, soal hal-hal seru yang bisa dialami dimana saja termasuk di atas Bus Kota. Tepatnya, Bus P9A jurusan Bekasi-Senen.
#Tempat: Tol Bekasi Timur
(Suara mobil dan motor lalu lalang. Dari kejauhan, datang Bus P9A Bekasi-Senen.)
Kenek Bus: Senen..Senen..Yang Senen..
Gw: (bergegas naik ke bus. Mata gw mencari kursi kosong yang ternyata nggak ada. Jok di atas dashboard juga penuh. Jalanan macet : Monolog)
“Sepertinya perjalanan bakal panjang. Gw berdiri di belakang Pak Sopir aja deh.”
Gw dan Pak Sopir dipisahkan kaca seperti orang pacaran lagi berantem. Di belakang gw seorang cowok duduk dan menaruh kardus di samping kakinya bikin gw nggak leluasa bergerak. Semoga bus nggak tambah penuh nanti, doa gw dalam hati. Sayang, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.
(Bus berhenti di kerumunan orang. Mereka langsung menyerbu masuk ke dalam. Tadinya cuma gw sendiri berdiri, sekarang bertambah menjadi banyak sekali. Untungnya, gw berdiri di tempat aman. )
Kenek Bis: “Ayo..Senen..Senen..Salemba..Matraman..”
Gw: (Melihat ke samping:Monolog) “Wah, Ibu-Ibu di samping gw. Buset, itu di depan banyak banget, satu..dua..delapan orang ngumpul! Gila ini sopir, udah penuh masih maksa.”
(Akhirnya bus masuk ke pintu tol. Sementara jumlah penumpang cukup sekian. Semua bagian bis disesaki manusia dari depan ke belakang, yang duduk sampai berdiri. Tetapi, tiba-tiba..)
Ibu-Ibu: Pak..Pak..naik Pak..tunggu..mau ke Cempaka Putih!
Para Penumpang: Udah nggak muat..penuh..udah pir..
Sopir Bus: Ayo Bu..naik..naik. Cepet-cepet..!
(Ibu itu pun naik juga bersama temannya dan satu anak kecil berdiri persis di tangga pintu. Oleng sedikit saja langsung jatuh ke aspal. Gw nggak tega lihat anak kecil itu.)
Para Penumpang: Wah..Pir..udah donk..penuh ini..
Sopir Bus: Itu gimana..masa udah naik mau ditinggal.. (Sambil mengendalikan bis)
Gw: (Menatap banyaknya jumlah penumpang yang bergumul di depan pintu masuk:Monolog) “Parah ni sopir. Kalo gini caranya membahayakan nyawa orang. Ngejar setoran banget sih.”
(Bus sampai di Tol Jatibening. Masih dengan jumlah penumpang yang mengerikan karena banyak banget, gw berharap ada yang turun di sini.)
Ibu-Ibu: “Pak saya mau ke cempaka Putih. Turun dimana?” (memegang keranjang belanja warna hijau)
Bapak-Bapak: “Wah salah naik. Kurang tahu juga saya.” (Memangku anak anak ibu itu)
Temennya Ibu-Ibu: “Loh, bukan, kita mau ke Rawasari Pak.”
Kenek bus: “kalo ke Rawasari bukan naik ini. Udah turun sini aja ntar naik bus 58. Mana ongkosnya?”
Sopir Bus: “Bu, ongkosnya dulu, Bu.”
Ibu-ibu: “Oh, makasih Pak.” (buru-buru turun dari bus biar nggak disuruh bayar ongkos)
Kenek bus: “Ah.” (Mendengus kesal)
(Jumlah penumpang hanya berkurang sedikit. Selebihnya malah bertambah apalagi di daerah pintu masuk. Bis terus berjalan menuju Senen.)
Sopir Bus: “Udah lo mintain semua ongkosnya?”
Kenek Bus: “Iya, ni lagi mintain.”
Sopir Bus: “Yang tadi berdiri di sini udah?”
Kenek Bus: “Udah..”
(Kenek Bus masih dalam kegiatan meminta penumpang membayar ongkos.)
Kenek Bus: “Ayo..mana lagi..yang belom bayar..”
Cowok Baju Putih: “Udah bayar” (tangannya berpegangan di besi atas)
Kenek Bus: Kapan? (Muka kenek bus songong)
Cowok baju putih: “Sekalian sama yang di sana” (menunjuk ke belakang)
Kenek Bus: “Oh, sama Ibu itu?”
Cowok baju putih: “Iya”
(Gw belom dimintai ongkos sama si Kenek. Mungkin karena posisi gw di pojok dan terhalang badan Ibu samping gw, jadi nggak kelihatan. Dari tadi gw panggil si Kenek belom nengok juga. Sekarang gw panggil harus nengok karena gw nggak mau dicap orang nggak mau bayar ongkos.)
Gw: “Bang..bang..” (megang duit sepuluh ribuan)
Kenek bus: (belom nengok)
Ibu samping gw: “Bang..” (bantuin manggil)
Kenek bus: “Eh”
Gw: (menyerahkan uang sepuluhribuan)
Kenek bis: (memberikan uang kembalian)
(Jalanan Sabtu itu macet parah. Gw masih tahan berdiri setelah tiap menit bolak balik ganti gaya. Kaki kanan, kaki kiri, ngadep depan, ngadep samping. Bis masuk ke daerah Prumpung. Di belakang ada bis P9A juga, kembaran bis ini yang pengen menyalip ke depan.)
Sopir Bis: Euh.. (Memutar setir dengan kencang. Mempersilakan bis P9A, temannya, menyalipnya.)
Gw: (Monolog) “Ternyata ni sopir solider juga sesama P9A.”
(Mobil makin banyak yang nyalip. Situasi nggak terkendali.)
Sopir Bis: “Anjing..dasar!” (marah-marah)
Gw menarik napas dalam-dalam. Di depan, ada sebelas orang sedang berdiri bergumul di depan pintu masuk. Belum terhitung dengan barisan rapih di belakang. Di bawah terik matahari dan angin yang mengalir kencang lewat jendela, gw seperti melihat barisan sate yang lagi dipanggang, dikipasi oleh kipas rotan. Sementara Ibu di samping gw, bajunya bagus, dandannya rapih, kerudungnya cantik, tangan kirinya sedari tadi mengelap peluh yang mengalir di kening. Dan tangan kanannya, sibuk berpegang ke besi di belakang gw. Kaca di depan, tangan ibu di punggung dan kardus di kaki, lengkap sudah penderitaan gw. Akhirnya, gw sampai di tempat tujuan. Seven Eleven dan dua teman untuk berbincang di hari ini. Sesuatu sekali, setelah dengan perjalanan panjang dengan segala intrik di atas Bus P9A.
Out of the Blue
Sore itu gw terpaksa ikut acara bokap, seperti kita tahu bahwa acara orang tua dan anak muda sungguh berbeda, Sobat. Acara besar itu adalah Rapat Besar ASPEK (Asosiasi Serikat Pekerja) Indonesia yang diselenggarakan di Gedung Pos Indonesia, Pasar Baru, Jakarta. Dari namanya aja, perlu kesadaran tingkat tinggi buat ikutan, apalagi gw yang nggak tahu apa-apa, mending tidur di rumah. Nggak ada pilihan, gw lebih memilih bengong di ruang rapat, daripada balik sendirian di tengah hujan.
Satu jam kemudian..
Rapat masih kisruh dengan debat kusir soal hidup para pekerja Indonesia. Kalo debat soal musik indie gw pasti semangat, boro-boro mikir tentang nasib para buruh, hidup gw aja belom jelas. Akhirnya break datang juga. Gw harap Bokap berniat pulang sekarang. Dari jauh, gw lihat Bokap lagi dikerubungi teman-temannya. Bokap emang gaul banget, anak muda, orang tua, kaya, miskin, semua jadi teman Bokap. Puas bersalam-salaman, Bokap datang menghampiri gw, Nyokap dan Adek gw, Angga, bersama seorang teman.
Bokap: “Ka, ini temen Bapak, dia dulu Ketua PPI Malaysia.”
Temen Bokap: (tersenyum)
Gw: “Oh, saya dari PPI UUM.”
Temen Bokap: “Oh, UUM. Saya terpilih waktu kongres di UUM tahun 2008. Angkatan berapa?”
Gw: “2008.”
Bokap: “Dia juga S3 loh, Ka. Ini coba kasitahu anak saya dia masih bingung.”
Temen Bokap: “Lanjut aja, ambil kesempatan. Orang yang belajar pasti selalu dihargai.”
Bokap: “Tuh, bener kan. Tadinya dia ragu-ragu.”
Temen Bokap: “Nggak, sekarang gini, kalo kamu mau langsung kerja sekarang, harus mulai dari bawah dulu. Customer Service, banyak temen saya lulusan luar di bank-bank besar kerjanya nelpon-nelpon. Padahal lulusan luar lho.”
Gw: (Monolog) “Gw diceramahin nih.” (Tersenyum khidmat)
Bokap: “Bener. Nah saya jarang-jarang nasihatin begini.” (Sambil ketawa)
Temen Bokap: “Iya nanti kalo kamu udah S3 bisa pilih-pilih, Ah ini saya nggak suka, kalo sekarang nggak bisa, apa yang ada ambil dulu karena nggak banyak pilihan.”
Bokap: “Hmm..”
Nyokap: “Iya..tuh Ka..” (Melirik gw)
Temen Bokap: “Gini, ibaratnya lulusan S1 itu lobangnya kecil-kecil tapi peminat banyak, puluhan ribu dari seluruh Indonesia. Kalo kerja yang spesifik seperti konsultan, peneliti, lobangya besar tapi peminat sedikit, karena perlu orang-orang yang expert di bidangnya. Nggak bisa main-main, makanya lobang ini dihindari.
Gw: (masih tersenyum khidmat)
Temen Bokap: Nanti kalo kamu udah lulus S3 pasti dicari. Kayak saya, waktu interview saya ditanya apa bisa bidang ini, meskipun bukan bidang saya, saya bilang, wah ini saya bisa pelajari. Saya udah biasa penelitian.” (Muka lelaki ini sangat meyakinkan)
Bokap: (Manggut-manggut)
Temen Bokap: : “Sekarang mending sekolah dulu, minimal S2 nanti kamu nggak usah starting dari bawah karena kamu bisa langsung ke posisi manager, atas. Apalagi S3..nanti kamu cari beasiswa dari luar atau pemerintah. Lumayan uangnya, udah bisa kipas-kipas. (ketawa kecil)
Bokap: “Wah bener tuh ka. Iya lho, saya juga ngerasain, saya orang lama, tiba-tiba ada anak baru lulusan master aja jabatan udah sama kayak saya yang pengalaman 25 tahun. Udah gitu saya juga bingung kalo interview dan ditanya soal gaji, mereka jawab sesuai kantor ini aja Pak, mereka nggak menghargai diri sendiri, gitu lho.”
Temen Bokap: “Memang, Pak. Mereka yang penting status dulu. Saya juga interview lulusan master dari sini mau digaji 1.5 Juta. Mana cantik-cantik, kelihatan orang kaya tapi mereka nggak punya pilihan. Yang penting kerja, itu dulu.”
Bokap: “Iya, ya. Sama di tempat saya juga gitu, pasrah aja. Padahal harusnya mereka berani donk.”
Temen Bokap: “Begitulah, Pak. Oh ya, nanti minta beasiswa dari kampus aja. Biasanya ada target setiap kampus misal harus menghasilkan tiga dokter dua master, dikasih uang dari pemerintah. Saya juga dulu nggak ada uang, kerja di hotel, nulis-nulis artikel, eh ada yang tertarik, saya dipanggil katanya ide saya bagus. Terus saya bilang, saya nggak ada uang buat kuliah. Langsung dia kasih form beasiswa, oh, ini isi formnya.”
Gw: “Tapi di kampus saya sedikit..1000 per bulan.”
Temen Bokap: “Oh gitu, mungkin nanti kamu bisa ikut project-project dari luar. Kayak saya bisa jalan-jalan sambil ikut short course ke Italy, Singapur. Itu semua dibiayain.”
Gw: (monolog) “Lumayan juga kalo bisa travelling sekalian.”
.................................................... Perbincangan terus berlanjut ......................................................
Out of the blue, gw menemukan pencerahan di sini. Di rapat yang sama sekali nggak ada kaitan dengan gw, di gedung pos yang udah tua renta dan reot, Allah mengirimkan orang yang menjawab resah dalam hati. Tentang pertanyaan yang selama ini menari-nari di kepala. Satu hal yang gw takuti dan cemaskan juga sukses menganggu tidur akhir-akhir ini. Dan sekarang gw yakin, kalau Allah telah menyiapkan satu jalan terbaik untuk gw, untuk setiap hamba-NYA.
06 January 2012
Wanna Be A Boy(ish)?
These are just random style of Boyish. You don't need to wear special things to look like a boy. Start with Hoody Jacket, Army Cap, Jeans, Cool shirt and Dirty shoes. Well, Hello Boy(ish) Girl! xD~
Try These!
Hoody Jacket - Converse
Army Cap - Made in Vietnam
Cool Shirt - Unbranded
Nekclace - Smile
Jeans - Wrangler
Shoes - Converse
Boyish Hugs,
Chandit
05 January 2012
Untitled Monologue
#NowPlaying: Adhitia Sofyan – Forget Your Plans Album
Pesan terakhir di Yahoo Messanger itu sangat kaku. Dingin. Bahkan membuatku lupa makna kata sayang. Iya, “sayang” yang katanya merajut benang-benang hubungan ini selama hampir empat tahun lamanya.
“Apa nih? Datar. Udah lama nggak online cuma segitu doank?! Huh?! Gw tahu lo sibuk tapi nggak gitu juga caranya!”
Aku bahkan tak tahu lagi apa rasa dari semua ini. Kecut, pahit, asam, bercampur dengan asin. Aku tak lagi mencium hawa merona dari setangkai mawar pink yang bertengger di vas itu. Tidak ada lagi rasa berdebar-debar dan bergairah itu. Mati rasa? Mungkin. Ada apa gerangan?
“Apa dia nggak ngerasa kangen? Udah lama banget kita nggak ngobrol, seminggu. Tapi cuma segitu aja kata-katanya. Gw masih mo ngobrol tapi udah pergi duluan. Gw bener-bener nggak tahan gini terus. Sama aja kayak gw nggak punya cowok. Jarak udah ngancurin semuanya. Shit!”
Jarak. Benarkah ia begitu kejam? Memisahkan dua insan manusia yang tengah mewarnai benih cinta mereka. Membuat mereka berkelana di dunia masing-masing tanpa mengindahkan pasangan nun jauh di sana. “Sayang” itu kini tak lagi dapat diraih lewat petikan chatting, tatap video atau sekedar bertegur sapa di lintas maya. Sudah tidak cukupkah semua itu?
“Jakarta lebih deket dari Tunisia, kenapa sekarang kacau? Dulu, walaupun nggak ada kabar gw masih bisa sabar. Gw masih bisa percaya kalo gw bakal ketemu dia lagi. Kalo kita bakal lebih baik lagi. Tapi sekarang kenapa jadi gini? Apa gw salah sama dia? Kenapa dia nggak pernah sadar sih sama hubungan kayak gini? Sampe kapan gini terus?!”
Mungkin benar, kata sayang sudah tidak bermakna lagi. Ibarat penyakit, ia sudah kebal mengerogoti tubuh manusia. Memang, sekedar sayang tidak cukup untuk hubungan stagnan jarak jauh. Tidak hanya itu, ia juga sudah tidak tahu apa itu rindu. Karena rindu yang berlebihan justru akan membuatnya letih dan sakit. Mungkin tak pernah terpikirkan hal ini olehnya. Cukup, jika sang perempuan kelihatan baik-baik saja. Padahal, perlu diketahui bahwa ledakan sakit dari hati tak mudah terlihat dan lebih spektakuler dampaknya.
“Kenapa selalu gw yang ngerasain ini? kenapa dia nggak? Apa dia nggak pernah mikir kalo hubungan ini tuh udah mati suri. Kenapa selalu gw yang bertanya? Sebenarnya apa yang ada di pikiran dia? Apa dia enjoy dengan hubungan kayak gini? Asal lo tau, Hampa!”
Satu kata paling tepat yang menggambarkan suasana hati. Tak ada apapun. Apalagi kata-kata asing bernama “sayang” dan “cinta”. Kosong. Hanya itu yang mengisi relung hati yang dulu sempat diisi oleh sosok manusia. Seolah itu semua hanyalah status imajinasi belaka tanpa kenyataan duniawi.
“Iya, gw juga salah. Gw sibuk, gw nggak punya pulsa dan nggak bisa online. Gw juga nggak mau nanya hal ini terus ke lo. Tapi kalo gw nggak tanya, apa lo sadar? Gw juga pengen nggak ngerasain ini, tapi namanya manusia pasti punya perasaan. Justru gw bingung, kalo kita udah asik sama dunia sendiri dan lupa akan hubungan ini, terus buat apa? Ngapain kita terus jalanin kalo kita sendiri juga nggak peduli satu sama lain?”
Tak bisa kulupa akan wangi parfumnya di setiap perjumpaan. Juga tawa lepas dan hangatnya genggaman tangan itu. Di bawah redupnya sinar rembulan malam..kita bersama terbang ke alam indah bernama cinta. Aku takkan lupa momen-momen itu. Namun, aku tak tahu ada dimana mereka sekarang. Pergi.. Menghilang.. Entah kemana..
“I don’t know what this is anymore. If we don’t care about each other. So, what’s the point?”
Suatu Ketika di Hari Selasa... (Part 2)
#NowPlaying: Adele-21 Album
Akhirnya sampailah gw di Perbanas. H2C (Harap-harap Cemas)menggambarkan perasaan hati. Takut. kalo hasil tes gw nggak sesuai harapan dan syarat. Ternyata, pas dibuka hasilnya nggak cukup memenuhi aplikasi beasiswa. Sedikit lagi tapi tetep nggak bisa. Gw emang dodol, gw nggak usaha mati-matian di reading part. Minggu lalu gw emang lagi dilanda badai deadline. Dalam seminggu gw selalu sampai jam 12 malam di rumah dan sama sekali nggak belajar. Jujur, gw emang palimg mumet lihat reading dan gw nggak usaha keras di situ. Kalo aja gw bisa jawab enam nomer lagi dengan benar, gw bisa memenuhi syarat. Rasanya, kayak mo terjun dari jurang. Kenapa gw yang udah kuliah tiga tahun dengan english dan sempat exchange pula dengan full english nggak mencapai target standar. Apa yang salah? Gw yang nggak melatih skill? Gw nggak serius belajar? Gw sibuk kerja? Damn. Gw sama sekali nggak bisa terima hasil itu.
Pikiran gw melayang di Kopaja. Gw merasa kalo diri gw bodoh banget. Gw pernah gagal kayak gini. Dulu waktu SMP, gw rangking satu di kelas unggulan tapi nilai ulangan matematika gw adalah 1,6. Iya, nilai itu rendah banget bahkan temen gw yang rangking terakhir dapat 4,6. “Huh..mending gw yang rangking satu deh,” kata temen gw. Gw emang nggak jago matematika. Tapi kata-kata dia menusuk dan mencambuk gw. Kali ini, bahasa inggris, favorit gw dari dulu, nggak pernah mengecewakan. Tetapi sekarang gw nggak bisa ngomong apa-apa. Walaupun hasilnya nggak jelek-jelek banget tapi tetap ini jauh dari ekspektasi gw.
Setengah perjalanan udah dilalui. “Komdak..komdak..” Gw bimbang. Balik ke rumah atau melanjutkan perjalanan? Tapi..apapun yang terjadi gw harus memastikan soal beasiswa ini. Walaupun nggak memenuhi syarat, gw harus tetap ke sana.
Gw: “Bang ...” (Menyapa kondektur berjaket “Manchester United”)
Kondektur Kopaja: “Ya..” (Abang nengok)
Gw: (Muka datar padahal baru kali ini lihat Kondektur Kopaja lumayan oke. Jerawatan sih..tapi Doi beralis tebal dan manis. Haha) “Pintu satu ya..”
Kondektur Kopaja: “Ya..” (Mengangukkan kepala)
Ketika gw lagi sibuk cek sms di handphone, Bapak-bapak di depan mengagetkan gw dengan bilang kalau udah sampai di pintu satu. Mereka baik udah mau ngasitahu dan ngingetin. Agak lupa juga, padahal bulan Juli sempat ke sini.
Walaupun sempat nyasar akhirnya gw menemukan gedung yang dicari. Di tengah jalan, ada Abang topeng monyet lagi atraksi di depan Bank. Gw inget banget kalau atraksi tersebut sama sekali bertidakperi-keMonyet-an. Karena monyet sebenernya nggak bisa berdiri dan tukang itu telah memaksa dia buat berdiri. Itu sama aja dengan bandar dan pengamen cilik. Sang Abang memaksa monyet untuk mencari uang demi dirinya. Mending kasih pisang ke monyet biar dia bisa langsung makan di situ. Kasihan.
Gw pun masuk ke gedung bertuliskan “Kementrian Pendidikan Nasional” yang notabene satu gedung dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan Gedung D alias Gedung Dikti di sebelah FX Mall yang gw kira sedari tadi. Setelah sempat dicuekin selama beberapa menit, gw ketemu juga dengan Mbak penyedia informasi beasiswa unggulan. Well, as i thought before, nilai Toefl gw kurang untuk memenuhi syarat. Kalo gw mau daftar master degree bisa tapi sayang bukan itu. Emang sih cuma biaya hidup yang dikasih untuk beasiswa luar negeri padahal di panduan tertulis bakal ngasih biaya pendidikan juga. But, lumayan juga kalo biaya hidup ditanggung, at least bisa ngurangin beban Bapak. Sebaliknya, untuk beasiswa dalam negeri, biaya kuliah dan riset yang ditanggung sementara biaya hidup nggak. For your information, buat para dosen or calon dosen bisa juga mengajukan beasiswa tenaga kependidikan ke Gedung D dan sementara beasiswa Mandiri yang gw mau apply ini ditujukan ke gedung C. Walaupun nggak bisa apply, gw berusaha meyakinkan diri gw kalau sisi positif datang ke sini adalah gw bisa tahu detail informasi beasiswa unggulan. There’s always a bright side of dark side, right?
Sepanjang perjalanan balik ke rumah gw masih kepikiran soal betapa dodolnya gw. Gw juga mikir apa yang musti gw bilang ke Ibu sampai rumah nanti. Gw merasa sangat useless. Huff. *sigh*
After telling the truth. Then..
I’m lucky to have kind parents. Bapak dan Ibu emang baik banget. Wajar kalo mereka kesel dan bingung. Mereka nggak maksain gw tapi emang kenyataan adalah gw harus cari beasiswa untuk lanjut kuliah. Even, Bapak bilang kalo ngapain gw repot2 apply beasiswa ini mending yang pasti aja which is dari kampus gw. Emang baru berlaku di semester kedua tapi itu udah pasti dan nggak ribet. Hemm. Gw garuk-garuk kepala. *puyeng*
Satu pencerahan datang pas gw nonton talkshow yang lagi naik daun di tahun 2011 lalu. Tau donk, talkshow yang hostnya adalah magician? Tidak lain tidak bukan, Hitam Putih. Kebetulan, guest hari itu adalah, Pepeng. “Ah, kacau, ini mah legend!”, kata gw. Pepeng yang lagi sakit terkapar di tempat tidur dan siap menjawab pertanyaan dari Dedy. Dari jawaban serius sampai bercanda ditanggapi baik sama Pepeng. Nggak Cuma beliau, diinterview juga sang istri dan anak-anak Pepeng. Sampai sesi itu gw masih santai kayak di pantai. Gw suka banget liat gaya Pepeng yang sabar dan tegar walau terbaring sakit. Beliau juga nggak kelihatan sakit, ketawa lepas seolah tiada beban, menikmati hidup. Terakhir, datanglah therapis Pepeng yang membawa pasukan binatang liar. Errr, liar banget boy! Sangat ampuh menyembuhkan penyakit tapi juga berhasil membuat gw teriak jijik. Apalagi pas lihat itu binatang (baca: lintah) ditempeli di alis Pepeng. Karena Pepeng punya penyakit Katarak dan setelah therapi Lintah langsung sembuh. Nggak cuma di mata, katanya lintah2 itu juga berkeliaran di paha Pepeng untuk menyembuhkan bagian tubuh bawah Beliau. Satu kata: WOW! Dengan mata kepala gw, gw lihat, lintah itu menggeliat di alis Pepeng dan Beliau masih bisa ngomong seperti biasa. Luarrrr biasaaaa! Pasti menang ikut Fear Factor! Loh? Bukan, maksud gw, Pepeng hebat banget, masih bisa kuat dan berdiri di saat situasi tubuh dia lagi sakit parah. Seharian di tempat tidur, harus therapy lintah, nggak bisa beraktivitas seperti biasa, pastinya hidup berubah drastis. Ditambah, penyakit yang diderita adalah penyakit langka yang belum ditemukan obatnya. Gw nonton sambil ngelus dada. *Take a deep breath*
Finally, satu pertanyaan kunci yang diajukan Dedy malam itu adalah, “Apa sih yang bisa membuat Anda bertahan sampai saat ini?” Dan Pepeng menjawab, “Simpel aja ya. Menurut gw, kita nggak boleh jadi korban dari hidup kita sendiri. Justru kita harus bangkit berdiri karena kalo kita lemah juga orang nggak bakal kasihanin kita.” ...Jeng-Jeng-Jeng.. (Adegan slow motion di film: Mulut gw membentuk bulatan huruf “O”. Terpana. Cengo.) Amazing! Yang barusan ngomong adalah Pepeng yang lagi sakit parah dan belum pasti akan sembuh. Pastinya penderitaan Beliau lebih berat dibandingkan dengan mereka di luar sana yang sehat walafiat tapi malah ingin mengakhiri hidupnya karena stres urusan cinta, pekerjaan atau contoh konkritnya adalah gw sendiri yang lagi hopeless. Yap, sekarang gw tahu apa yang harus gw lakukan. Gw nggak boleh lemah dan harus bisa bangkit berdiri. Gw masih punya tubuh yang sehat dan prima, kenapa harus terus menyesali diri? Gw juga masih bisa berdoa semoga Toefl IBT gw hasilnya lebih bagus dan bisa memenuhi syarat beasiswa. Moreover, gw harus bersyukur dengan semua yang telah Allah SWT kasih sampai detik ini.
On the next Tuesday..
Satu lagi kenyataan pahit yang harus gw terima. Point Toefl IBT gw (sungguh sayang dan menyesakkan) hanya kurang dua point dari syarat ketentuan. It really hurts. Padahal ini harapan terakhir gw tapi takdir tetap mengatakan tidak atau mungkin memang belum saatnya. However, Apapun hasilnya, gw harus terima kenyataan sepahit apapun itu karena gw yakin bahwa gw bukan bukan korban atas keadaan hidup. Terimakasih Pepeng dan Hitam Putih.
“Sepahit apapun itu, jangan menjadi korban atas hidup Anda sendiri. ”
-The end-
03 January 2012
Suatu Ketika di Hari Selasa... (Part 1)
Hello x)
How was your day? I don’t know what should i say about my day. Well, let’s just start the story..
Hari itu adalah hari Selasa. Hari dimana gw akan tahu berapa hasil TOEFL gw setelah seminggu lamanya menunggu. Gw pun pergi dengan sedikit rasa kesal karena merasa nggak ada yang peduli di rumah. Mungkin hanya perasaan gw yang kelewat sensitif or mereka emang lagi sibuk sama urusan masing-masing. Hujan rintik-rintik mengiringi kepergian gw.
Bukan. Gw belom meninggal. Opening yang agak dramatis emang sengaja gw pilih kali ini. Jodoh gw adalah bertemu dengan Bus 27 jurusan Bekasi-Blok M. Udah lama juga nggak naik bus ini karena biasanya gw prefer bus AC tapi it’s okay yang penting cepat sampai tujuan. Banyak orang duduk di jok depan menandakan bis ini udah penuh. Gw masih mengharap ada sisa kursi. Gw pun melangkah ke belakang..
--Ternyata ada jok 3 yang masih terisi dua orang. Gw memastikan buat duduk di situ--
Gw: Mas, boleh geser nggak?
Mas: Basah Mbak (sambil membuka penutup kertas nasi di jok)
Gw: (monolog) “Oh..Pantes ditutupin kertas..”
--Gw melihat ada satu bangku kosong di belakang. Gw langsung duduk di kursi tersebut. –
Gw: (monolog) “Aduh sempit banget. Udahlah daripada berdiri. Lumayan duduk sedikit juga.”
--Sebelah gw adalah Ibu-ibu yangbertubuh agak besar. Wajar kalo Beliau mengambil porsi duduk gw. Anak kecil yang lucu menggemaskan ada di pangkuan Ibu tersebut.—
Gw: (monolog) “Iih..anaknya lucu banget. Putih..perempuan..pipinya ngegemesin. Iihhh..”
(Gw yang emang suka sama anak kecil nggak tahan buat mencubit pipi anak itu. Si anak juga ikut kegirangan )
Anak kecil: “hehehe.....” (sambil menggerak-gerakkan tangannya)
Ibu sebelah gw: “Hihhihi..” (Ikut tersenyum)
--Tiba-tiba ada segerombolan orang naik ke atas bus. Bus makin penuh dan nggak ada lagi kursi kosong.
Sebelah gw persis adalah seorang Ibu dengan anak lelaki kecil.--
...Sepuluh menit berlalu..
--Bus mulai melesat di jalan tol. Suara angin, teriakan anak, dan dengung mesin bercampur menjadi satu. –
Anak lelaki di sebelah gw: “Mau duduuuukkk...” (merengek ke Ibunya minta duduk)
Ibu anak lelaki: “Sebentar lagi juga sampai. Sabar ya”
Anak lelaki di sebelah gw: “Huaaa...mau dudukkkk...” (matanya memelas dan persis ketika gw menengok ke arahnya)
Ibu anak lelaki: “Sudah ya..mau ke depan? Yuk..” (membawa anaknya ke depan)
Gw terdiam. Gw lihat banget ekspresi wajah anak kecil itu. Tubuhnya kurus. Rambutnya cepak dan matanya besar. Mata yang besar itu merintih ketika dia teriak minta duduk.
Gw: (monolog) “Apa gw kasih aja ya? Tapi gw bakal berdiri..jauh lagi..pegel..huff Sementara dapet ini bangku juga susah tadi..Syukur dapet..hemm..tapi anaknya kasian..Ibunya juga..”
--Gw memperhatikan mereka dari jauh. Mereka berada sekitar dua bangku dari gw. Anak laki-laki itu juga masih teriak minta duduk. Mata gw nggak lepas dari mereka. Gw pengen kasih bangku tapi bingung timing yang tepat. Di depan, juga ada Bapak-bapak tinggi besar menutupi akses gw. Akhirnya.........--
Gw: (bergerak maju) “Permisi, Pak.”
(Ibu itu lagi ngobrol sama anaknya. Gw menepuk pundak Beliau) “Bu, Pakai aja bangku saya”
Ibu anak lelaki: “Oh ya..terimakasih..terimakasih” (sambil menenangkan si anak dan pergi ke jok belakang)
Gw langsung ambil posisi berdiri dan pegangan di tiang atas. Mata gw lurus ke depan. Bukan sok baik, tapi gw pengin bantu orang selama mampu. Ingatan gw terbang ke Tunisia, dulu gw juga pernah melakukan hal yang sama di Metro. Tunisia dan Metro adalah dua hal yang selalu gw kangenin. Ah, sudahlah. Dua anak sekolah di depan gw sibuk ngobrol. Si anak cowo sadar kalo ada rintik air jatuh ke bajunya. Yap, selain bocor di sana-sini, jok bus juga robek, kotor...keadaan yang memprihatinkan. Selama masih bisa jalan dan dipake buat nyari duit, hajar terus. Mungkin itu yang ada di pikiran Pak Kondektur.
“Hahaha..Itu Bu..” Suara renyah itu mengalihkan pikiran gw. Nampak si anak lelaki duduk di pangkuan ibunya, dia sedang asik melihat lalu lintas jalanan dari jendela. Seru. Seolah matanya berbicara ketika melihat desakan motor dan mobil tumpah menyeruak. Gw pun tersenyum dan mengencangkan pegangan kuat-kuat.
To Be Continued...
To Be Continued...
Balada Salak
HAI! HAI! HAI!
Tiga Kata pertama di post ini adalah nama tempat dimana gw bekerja sekarang. Yap, nggak lain nggak bukan adalah Majalah HAI yang selama satu setengah bulan ini bakal menjadi sandaran gw untuk bertahan hidup di Kota Jakarta Metropolutan.
Gokil, hari ini seru banget! Nggak sabar pengen cerita. Wah, Ulka menang lotre? Sayang, sodara-sodara yang bikin gw menggebu-gebu bukan lotre tapi tentang mereka. Hah?
As usual, teman gw sehari-hari dalam mengarungi jalanan adalah Bus jurusan Bekasi-Merak. Apapun nama bisnya, sangat berarti untuk mengantarkan gw ke kantor tercinta di bilangan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. And, kali ini adalah cerita tentang balada Salak yang cukup unik. Here we go!
#Tempat: Bus Balaraja Bekasi-Merak
#Situasi: gw duduk di pinggir kursi belakang sejajar pintu masuk. Sebelah gw adalah Aki-aki berbaju batik yang lagi tidur.
.........Dua puluh Menit berlalu........
-------Bis lumayan penuh dan mulai memasuki Tol Jatibening. Abang-abang sebelah yang dari tadi nongkrong depan pintu masuk mulai bergerak. Sepertinya Abang ini tukang jualan. ------------------
Abang Jualan: “Bu, permisi ya.” (Sambil membawa satu plastik putih berukuran besar)
-- Gw menengok ke belakang. Ada Ibu berbaju PNS duduk di seberang belakang gw yang posisinya dekat si Abang --
--- Bener, abang ini pedagang. Doi mulai promosi Salak dengan suara keras dan berulang-ulang------
“Yak, Salak-salak yang manis..yang manis..Boleh yang minat..25 biji..sepuluh ribu. Cobain dulu aja boleh..Bapak..Ibu..Neng..Abang..........Udah dibukain tinggal makan aja......Ayo buat oleh-oleh..mararanis..enak..sepuluh ribu..25..”
------Sampailah Abang Salak di kursi gw dan secara nggak gitu suka salak so gw taro aja salak yang udah dibuka setengah dari si Abang di kursi tengah. Gw pikir mungkin si Aki mau makan salak itu. ----
------Ternyata, anak kecil belakang gw juga menolak salak gratis pemberian si Abang. ------------------
Anak kecil: Bang (sambil ngasih salak)
Abang Salak: “Makan aja dek, udah dibuka ini. Nggak usah bayar tinggal makan. Gitu aja susah. Saya ikhlas kok.”
Gw: (Diam dan mendengarkan pembicaraan)
Abang Salak: (Bergerak lagi ke depan sambil bawa salak sekarung)
“Buat oleh-oleh.......mararanis........Salak Pondoh.......Ayo beli-beli.......Neng, mau salak neng? Enak..murah..sepuluh ribu aja..Pak, Salaknya Pak. Manis..enak..buat oleh-oleh.....Ayo Beli..Beli.....”
----Giliran Aki sebelah gw ditawarin----
“Pak Haji salaknya Pak..Murah..”
Aki a.k.a Pak Haji: “Ti mana?”
Abang Salak: “Salak Pondoh”
Aki a.k.a Pak Haji: “Sabaraha?”
Abang Salak: “Sapuluh ribu”
Aki a.k.a Pak Haji: “Oh,Nuhun” (Sambil Menggelengkan kepala)
........Setelah ditolak Aki si Abang tiba-tiba bersandar di kursi gw. Spontan pantatnya kena badan gw..
Gw: (langsung gerak-gerak enggak karuan biar Abang Salak nyadar kalo ada gw di sampingnya)
.......Lima menit – Belom nyadar.........
.......Sepuluh menit – akhirnya nyadar dan beranjak pergi.......
-----Kejadian selanjutnya gw yakin lo tau. Abang Salak kembali mengulang kata-kata dalam dialog sebelumnya. Doi keliling bis dari depan ke belakang, tetap berusaha biar salaknya terjual dan pokoknya harus ada yang beli....itu tujuan utamanya. Ibarat lagu, kata-kata promosi salak yang gw tuliskan di atas adalah chorus atau reff dari lagu yang berjudul “Bujuk Rayu Abang Salak” -------------
.......Tiga ronde pun berlalu...........
------Abang salak putar-putar bis sampai bosan dan belom juga ada yang beli. Abang Salak mulai gusar dan memaksa. Sampai akhirnya, dia lagi-lagi nyandar di samping jok gw which is pantatnya mepet baju dan badan gw dengan porsi lebih dari yang kejadian pertama. Spontan gw langsung------
Gw: Bang..(sambil ngasitahu kalo ada gw di belakangnya dan nyuruh dia pindah tempat)
Abang Salak: (beranjak pergi) “Neng kalo mau duduk enak jangan naik bis donk, naik taksi gih. Di bis mah banyak yang nyenggol, nyender, namanya tempat umum, kalo nggak mau digituin jangan naik bis. Tuh tasnya digeser..udah neng naik taksi aja..ini Bis umum..”
Gw: (Langsung ambil tas gw dan geser ke kursi tengah. Salak yang tadi gw kasih ke Aki)
Aki: “Bang, buat saya aja yah (nunjuk ke salak). Si neng teh emungen.”
Gw: (Muka lurus ke depan sok cuek sama omongan Abang Salak)
...Walaupun masih kesal banget sama omongan Abang salak, gw mencoba santai dengan keadaan....
...Beberapa menit berlalu..... Gw lihat posisi berdiri Abang Salak yang nggak jauh dari kursi gw.......
Abang Salak: (Sandaran di kursi seberang gw, kaki nyantai, tangan sibuk pegang hape dan jarak tangan doi cuma beberapa centimeter dari kepala orang yang duduk di kursi itu. Posisi seperti majikan dan pembantu.)
Gw: (Dalam hati) “Sumpah gondoooookkkkk! Tukang salak aja belagu! Pengen banget gw tonjok mukanya! ARRGH!”
Untungnya cahaya terang datang alias bis sampai juga di daerah Slipi dan Abang Salak pun turun. Sebelum turun, doi tambah nyebelin bin nyolot. Bener-bener nggak punya etika.
Abang Salak ke kenek bis: (suara kencang) “Buka Bego”
Kenek bis: (diam dan buka pintu)
.......HUFFFFFFFTTT......................
------Helaan napas panjang gw lakukan setelah Abang Salak, tokoh antagonis di cerita bis kali ini, pergi. Sebentar lagi bis bakal sampai di Kebon Jeruk dan gw pun tidur beberapa menit. ---------------
Kenek bis: “Kebon Jeruk..Kebon Jeruk..Yang Jeruk..yang jeruk..”
Gw turun dari bis dan melangkah cepat. Nggak sadar tiba-tiba ada suara di sebelah gw.Ternyata Ibu berseragam PNS yang sedari tadi duduk di seberang belakang gw. Doi juga menjadi saksi mata kekejaman Abang Salak di bis tadi.
Ibu yang duduk di seberang gw: “Neng, tukang salak tadi nyebelin banget ya. Ngomongnya kasar.”
Gw: Oh..iya Bu.. (Gw cengegesan tapi nggak keliatan karena ketutup sama masker yang gw pake)
Ibu yang duduk di seberang gw: “Jelas-jelas neng bener..duduk di tempatnya..dia main senderan aja.. nggak lihat posisi dia..”
Gw: Iya Bu.. (Masih cengegesan dan tetep nggak keliatan)
Ibu yang duduk di seberang gw: “Neng, mau pulang?”
Gw: “Oh nggak, saya mo kerja. Kalo Ibu?”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Oh, kerja di sini? Rumah di Bekasi? Saya mau pulang ke rumah. Saya kerja di Bekasi.”
Gw: “Iya bu, rumah di Bekasi.”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Tukang salak tadi emang nggak sopan. Anak kecil yang menolak salak dia itu kan emang mungkin nggak suka sama salak. Mungkin anak kecil itu juga kasihan kalo salaknya nggak dimakan jadi dia balikin salaknya..eh si tukang salak ngomongnya kok begitu..”
Gw: Iya bu...
Ibu yang duduk di seberang gw: “Udah gitu duduknya nggak sopan. Coba lihat gaya dia pas senderan di orang.” (menggebu-gebu cerita)
Gw: “Iya, pantatnya ke badan saya. Saya juga nggak suka Bu.”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Nah..iya..itu....dia coba lah lihat dulu dimana dia mau senderan..nggak sembarangan taruh pantat dia di orang.”
Gw: “Iya....”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Kalo dia masih berbuat ulah itu..udah saya pukul...benar..saya nggak tahan lihat tingkah laku orang kayak gitu..huff..(sambil menggeleng-gelengkan kepala)
......Sampailah kita di persimpangan jalan.....
Ibu yang duduk di seberang gw: “Neng, saya nyebrang ya..Neng kemana?”
Gw: “Oh, Iya bu..saya masih lurus. Makasih Bu”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Ya..hati-hati neng...”
Pertemuan dengan Ibu tadi telah mecerahkan hati gw yang sempat memerah karena marah. Nggak bisa dipungkiri banyak orang seperti Abang Salak di jalanan Jakarta. Mereka nggak berpikir cara membuat orang sekeliling merasa nyaman tapi satu hal yang menguasai pikiran mereka adalah gimana caranya dapat uang hari itu. Uang untuk makan anak, istri dan biaya lainnya agar bisa terus hidup. Atau mungkin etika, moral dan budi pekerti telah luruh hilang dalam kemiskinan dan keserakahan sebuah kota bernama Jakarta?
Subscribe to:
Comments (Atom)























