31 May 2013

#31. Catatan Harian Tunisia Part 9.10


24 Januari 2011

Hari ini aku pulang. Tiga hari lalu aku sudah berbicara dengan Bapak, kalau keadaan sudah membaik aku ingin pulang minggu depan. Bapak sepertinya mengerti kondisiku. Beliau pun mengijinkanku untuk pulang. Semalam, aku sudah membereskan barang-barangku. Sungguh sedih untuk berpisah dengan wisma dan orang-orang di dalamnya. Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka akan tinggal selama ini di sini. Kamu tahu kan, ceritaku, aku hanya berpikir bahwa mungkin revolusi ini hanya akan berlangsung selama tiga hari. Alih-alih menjadi lebih dari seminggu bahkan totalnya adalah sebelas hari. Semua orang di sini sudah seperti keluargaku sendiri. Aku pasti akan merindukan mereka. 

Pagi pun tiba. Aku diantar oleh Kang Dadang dan Kak Risa menuju Sfax. Kak Risa pun mengambil posisi duduk di samping Kang Dadang. Aku pun duduk di belakang. Perjalanan selama empat jam berlangsung cukup lama. Aku tertidur. Namun, di dalam tidur itu aku mendengar pembicaraan antara Kak Risa dan Kang Dadang. Kang Dadang bercerita bahwa keluarganya mempunyai usaha pesantren di kampung halaman. Kang Dadang adalah anak pertama yang baik. Ia membiayai semua kuliah adik-adiknya hingga lulus perguruan tinggi. Sementara Kak Risa.. Kak Risa tidak terlalu banyak bercerita. Aku banyak mendengar cerita Kak Risa dari Pak Rusli. Beliau bilang Kak Risa adalah anak yang patut dicontoh. Orang tuanya sudah bercerai tetapi Kak Risa tidak melakukan apa yang biasanya anak broken home lakukan. She doesn't do drugs. She doesn't go out party. Intinya, Kak Risa tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak terpengaruh lingkungan luar. Bahkan ia berhasil tembus tes masuk Departemen Luar Negeri dan sekarang bisa magang di Tunisia. Aku pun teringat semua ceritaku dengan Pak Rusli. Aku menceritakan tentang keadaanku di Sfax, tentang housemate-housemateku dan tentang keadaan di sana yang membuatku merasa tidak begitu nyaman. Aku seringkali harus berhadapan dengan housemate-ku yang suka "minum". Mungkin buat kamu  hal biasa tetapi buatku yang sama sekali tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, luar biasa. Satu waktu, Marcella "memaksaku" untuk memakan Risoto buatannya. Aku sebenarnya bukan tidak ingin memakan tetapi Marcella mencampurkan wine di sana. Hal itulah yang membuatku ragu memakannya. Namun Marcella bilang alkohol dari wine akan menguap seiring dengan masaknya Risoto. Oh ya, Risoto adalah makanan khas Italia dan kami memasaknya di malam pertama curfew. Setelah kutanya pada Pak Rusli, beliau bilang kalau alkohol itu tetap saja akan tercampur. Tidak ada rumusnya kalau alkohol bisa menguap bersamaan dengan masaknya makanan. Tuh kan, benar kataku. 

Tidak terasa, kami akan segera sampai. Samar-samar kulihat pemandangan Kota Sfax di balik kaca jendela. Mataku masih lelah sekali. Kulihat toko-toko itu, orang-orang yang pergi bekerja. Khas Sfax sekali. Tidak lama, kami melihat banyak orang berdemonstrasi. Mereka membawa papan dan spanduk, seperti menuntu sesuatu. Ternyata..demonstrasi belum selesai di Kota Sfax. Aku mulai was-was. Kak Risa langsung bilang, "Sudah..santai saja.." Ia tahu aku yang resah. Aku pun tersenyum. Ketika melewati Medina, Kang Dadang menyatakan bahwa KBRI sering mengadakan pertunjukan di sini. Kala summer tiba, Tia bilang padaku, KBRI sering mengadakan program keliling Tunisia untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Salah satunya pasti di Sfax, seperti yang Kang Dadang bilang tadi. "Bahkan ada yang pernah pertunjukan silat juga loh.." Kata Kang Dadang menambahkan. "Oh ya..dimana Kang?"Aku bertanya detail. "Di situ..di pelataran Medina.." kata Kang Dadang lagi."Oh ya..sebenarnya Medina itu tempat apa sih?" Aku teringat rasa penasaranku akan Medina. "Medina itu adalah pasar..pasar yang menjual banyak barang," Kang Dadang menjelaskan. "Oh..begitu," aku manggut-manggut. 

Kami pun sampai di rumahku. Majida Boulila Avenue, Al Yessamine Building, Block A. Itu adalah alamat rumahku. Oh ya, kamarku di lantai lima. Tak disangka-sangka, kami berjumpa dengan Ayoub, juga Douha di lift. Mereka ternyata sedang menuju rumahku. Entah kenapa, Kak Risa menyatakan bahwa ia ingin membelikanku makanan dan susu. Aku pun pergi ke bawah bersama mereka. Bersama dengan Ayoub dan Douha juga. Di depan toko, Ayoub dan Kang Dadang mengobrol. Kang Dadang fasih berbahasa Arab. Beliau dulu studi di Cairo. Setelah puas mengobrol-ngobrol, Kang Dadang dan Kak Risa  pulang. Aku mengecup pipi kakakku, Kak Risa, yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri selama masa revolusi ini. Lambaian tangan mereka kuharap bisa kutemui lagi dalam beberapa waktu ke depan. 

Sesampai di rumah. Aku hanya bercanda dengan Ayoub dan Douha. Lalu tiba-tiba Paulina dan Marcella datang, mereka bertanya siapa yang mengantarku pulang. Ayoub pun menjawab, "Ulka was dropped by her friend." "Oh, a real "friend"?" Paulina menggodaku. Ia berpikir aku diantar oleh laki-laki yang mungkin adalah kekasih baruku. "No, he's just a driver!" Aku menjawab cukup ketus. "Oops..Ayoub..he's just a driver.." Paulina berkedip menatap Ayoub. "Aha..okay..okay.." Ayoub tertawa.


Besok..aku sudah harus kembali bekerja. Semoga hari-hariku menyenangkan setelah ini. 



Sampai Besok!
Chandini




30 May 2013

#30. Catatan Harian Tunisia Part 9.9

.....to be continued

22 Januari 2011

Awalnya, di meja makan hanya ada Pak Jum yang memang sedang berbincang dengan TKW. Pak Jum memang dekat dengan para TKW. Mereka hanya berbincang biasa sebenarnya. Namun, sepertinya Pak Jum sedang menggoda mbak TKW ini. Pak Jum memang supir kedutaan yang paling gaul. Tidak lama, teman-teman Mbak ini datang. Mereka semua berkumpul dengan kami di meja makan. Entah bagaimana, pembicaraan kami malam itu membahas mengenai revolusi. Lalu keluarlah harapan-harapan para TKW setelah revolusi ini. Beberapa dari mereka ada yang mengaku sudah menabung untuk membuka usaha di kampung halaman. Beberapa ada juga yang bilang bahwa uang mereka akan dipakai untuk membangun rumah dan sisanya akan dipakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ada juga yang tidak tahu harus berbuat apa karena ia memang belum mendapatkan gaji dari majikannya. Menyedihkan. Salah satu Mbak bilang, "Untung lho, suamiku masih kerja di percetakan PERURI, kalo nggak..habislah aku.." Kata Mbak berparas ayu nan cantik ini. Lain lagi cerita Mbak yang lain, ada yang bilang padaku kalau ia tidak ingin lagi bekerja di sini. Maksudnya sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. "Habis Mbak..aku kan nggak bisa bahasa Arab.. jadi kadang nggak ngerti majikan ngomong apa..aku jadinya stres dan menyimpan semuanya sendiri," Aku dapat melihat tetes air mata di pelupuk mata Mbak ini. Mungkin ia sudah terlalu letih menangis. Kalau aku jadi dirinya, aku pun akan menangis berhari-hari bila tahu majikan yang belum mengirimkan gajinya sudah hilang entah kemana. 

Malam itu, kami menonton televisi. Aku dan para TKW yang menonton televisi, sebenarnya. Acara malam itu adalah "Arab's Got Talent", semacam ajang mencari bakat. Ya, dan aku hanya menemui seorang perempuan cilik yang pandai bermain biola sebagai bintang di acara ini. Selebihnya bakat mereka biasa-biasa saja. Aku teringat program "Indonesia Mencari Bakat" yang mempunyai finalis lebih berkualitas daripada finalis di acara ini. Program pun berlanjut, sekarang adalah film action yang dibintangi oleh aktor-aktor dari negeri Cina. Seru juga. Aku memperhatikan Mbak Tissia yang sibuk dengan laptopnya sedari tadi. Ia bilang bahwa ia sedang mencari orang yang bisa menjemputnya besok di bandara. Iya, Mbak Tissia akan pulang ke tanah air dan aku pasti akan merindukannya. Aku teringat kejadian tadi siang dimana Mbak Tissia memotong poni dan mencukur alisku. Aku memang tidak bisa memotong poni. Jadilah Mbak Tissia membantuku. Soal mencukur alis, kata Mbak Tissia, tidak apa, karena ia hanya mencukur alisku sedikit dan itu akan berpengaruh pada bentuk mukaku. Mbak Tissia bekerja di spa center dan ia juga ahli dalam hal kecantikan. Semoga saja bentuk mukaku lebih baik. Aku menikmati malam-malam terakhir dengan Mbak Tissia. 

Ketika sedang asik-asiknya memperhatikan gerakan lincah dari sang aktor, Mbak Sari yang kemarin mempunyai Ipad memanggilku. Kamu masih ingat kan, di training tentang internet ada Mbak Sari, TKW yang mempunyai Ipad. Kali ini, ia memanggilku kembali dan lagi-lagi menanyakan hal yang sama, yaitu password wi-fi. Pak Jum sudah berpesan padaku kalau aku tidak boleh memberitahunya. Takut Mbak ini akan online dan memberitahu hal yang tidak-tidak mengenai situasi di sini. Kubilang saja, aku tidak tahu kenapa alat ini tidak bisa connect dengan wi-fi. Mbak itu hanya tersenyum dan mengangguk pasrah. Dalam hatiku, "Pantas saja ia bisa mendapatkan Ipad, ia bekerja di istana presiden." Iya, Mbak Sari memang bekerja di istana presiden. Itulah kenapa ia bisa mempunyai uang untuk membeli Ipad dan camera digital. Malam semakin larut, beberapa mbak TKW mulai pergi tidur. Namun aku masih duduk di kursi memperhatikan satu TKW yang getol sekali menonton televisi. Apakah dia benar-benar mengerti bahasanya? Film yang sedang ditayangkan adalah dalam Bahasa Arab. Setelah kutanya, ternyata Mbak ini benar-benar mengerti. Ia bilang, ia belajar dari anak majikannya. Kuharap aku bisa berbahasa Arab selancar Mbak ini. 

Oh ya, pagi ini, ada kejadian heboh di wisma. Bapak berkejar-kejaran dengan salah satu TKW. Aku sungguh kaget. Ceritanya begini, aku baru saja terbangun dari tidurku yang indah. Wajar, ini hari Sabtu, saatnya untuk bangun siang. Kak Risa pun baru saja menyelesaikan jogging paginya. Di antara rasa kantuk dan pusing, aku mendengar suara ribut-ribut, "Hey mau kemana kamu!" Aku langsung bertanya kepada Kak Risa, "Ada apa Kak?" "Nggak ngerti.." Kak Risa mengatup mulutnya. Ia juga sepertinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Peristiwa itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya sekitar pukul sepuluh, aku baru keluar dari kamar. Usut punya usut, kudengar dari Mbak Tuti, bahwa Mbak Sari, TKW yang mempunyai Ipad itu, membuat masalah dengan Bapak. Beliau mencoba menjawab pertanyaan dari wartawan Indonesia yang menelponnya sementara semua TKW sudah diberitahu untuk tidak menginformasikan berita apapun mengenai revolusi kecuali kepada sanak keluarga. Sebab yang boleh dan wajib memberitahu adalah juru bicara kedutaan. Aku tidak menyangka Bapak semarah itu karena yang kutahu Bapak adalah sosok yang   bersahaja. Beliau tidak pernah marah kepada siapapun. Mbak Tuti, pembantu rumah tangga yang bekerja dengan Bapak selama dua puluh tahun pun menyatakan kalau ia tidak pernah melihat Bapak semarah itu.

Ya, benar. Aku pun menarik napas. Semoga saja keadaan cepat membaik.


23 Januari 2011

Aku tidak menyangka hari ini akan datang. Karena aku akan mengantar Isa ke bandara. Iya, aku harus bisa mengantar Isa sebelum ia pergi menuju Egypt. Aku pun sudah bersiap-siap sekitar pukul delapan. Di tengah ketergesaanku menuju meja makan, aku bertemu Mbak Tissia. "Loh, Mbak mau pulang juga?" Aku memperhatikan bajunya yang sangat rapih. "Lah iya.." kata Mbak Tissia tersenyum. "Aduh!" Aku menepuk jidatku. Lupa, kalau Mbak Tissia juga pulang hari ini. Baiklah, aku akan mengantar dua orang kesayangan menuju bandara.

Aku pun menunggu Kang Dadang, beliau akan mengantarku menuju bandara. Tiba-tiba Kang Dadang datang dengan membawa satu flash disk masih dalam kemasan. Ia bilang, "Ini dari Bang Radit..katanya suruh isi sama lagu-lagu kamu," Kang Dadang menyerahkan kemasan itu padaku. Wah, bagaimana mentransfernya? Aku kan pulang besok, pikirku. "Suruh aja sih, dia ke Sfax. Dia kan udah gede," Kata Kak Risa seolah tahu jalan pikiranku. "Eh, iya ya.. tapi kan nggak enak kak," Aku bimbang. "Ah, udahlah.." Kak Risa tersenyum simpul. Perjalanan itu pun dimulai, aku menuju bandara ditemani Kang Dadang. Kang Dadang adalah salah satu supir staf kedutaan. Mbak Tissia diantar oleh supir yang lain dan nanti kami akan berjumpa di bandara. Aku mencari-cari Isa sesampai di bandara. Aku segera menuju check-in counter dengan destinasi Cairo. Dan aku tidak melihat Isa di sana. Ah, kapan ia sampai? Ah itu dia! Aku melihat sesosok perempuan dengan satu koper besar dan backpack. Isa terburu-buru sekali. "My flight is within half an hour!" Aku segera membantunya. Di sela-sela check in, isa memberitahukan sesuatu, kalau ia dan Wisem akhirnya melakukan hal itu. Semalam. Mereka party dan akhirnya terjadilah hal tersebut. Isa...sudah kubilang...

Lalu kami pun pergi ke bawah untuk menukar uang Dinar dan Real Isa di money changer. Isa harus membayar  visa on arrival sesampai di Cairo karena itulah ia harus menukar uangnya. Namun, sayang sekali Isa tidak dapat menukar uang Dinar yang ia punya karena ia harus mempunyai kuitansi pembayaran pertama saat ia menukar uang aslinya ke Dinar. Sudahlah, tidak apa. Isa mengecek persediaan uangnya dan ia bilang cukup untuk membayar visa. Kami pun segera pergi ke gate dimana Isa akan bertolak ke Cairo. Aku sungguh sedih. Aku hanya punya satu foto dengan Isa sebelum ia pergi. Itu pun setelah kucek ternyata tidak tersimpan di memori. Isa, aku akan merindukanmu.

Setelah mengantar Isa, aku menghabiskan waktu dengan Mbak Tissia. Ya, sehabis ini Mbak Tissia akan pulang. Habis sudah harta-hartaku. Kami pun sempat foto-foto bersama. Aku, Mbak Tissia dan Kak Risha. Setelah beberapa lama, akhirnya, waktunya Mbak Tissia untuk pergi. Aku sedih. Sangat sedih. Mbak Tissia adalah teman revolusi-ku. Kami berjumpa pertama kali di wisma ketika revolusi dan berpisah pun masih dalam masa revolusi. Aku tersenyum dan mengecup pipi Mbak Tissia sebagai tanda perpisahan. 

Malam itu, kelabu. Aku masih belum bisa melepas kedua sahabatku pergi. Namun, di saat yang bersamaan, aku tersenyum melihat para TKW yang sedang berjoget dan berdansa di ujung sana.

Selamat malam ;)


Chandini



Antara Aku dan Kamu (Imagination Version)

#NowPlaying Coldplay-Hurts Like Heaven

Aku: Hai! Lagi apa?
Kamu: Nggak lagi ngapa-ngapain.
Aku: Oh.. kirain mikirin aku.. (tersenyum)
Kamu: ... (diam)
Aku: Kenapa?
Kamu: Nggak apa..
Aku: Sepertinya susah ya..
Kamu: Susah kenapa..?
Aku: Ya..itu..abis aku PhD..
Kamu: Lalu?
Aku: Kamu masih undergraduate..
Kamu: Terus..
Aku: Aku bisa dibilang cukup alim..nggak alim-alim banget sih..
Kamu: ...Dan aku brutal..
Aku: (tertawa)
Kamu: Aku juga kribo..
Aku: (tertawa terbahak-bahak)
Kamu: (tersenyum)
Aku: Lantas..?
Kamu: Gimana kalo kita jadi teman saja?
Aku: (merengut)
Kamu: (tersenyum datar)
Aku: (mengangguk-angguk).. *Pasrah*
Kamu: (mengangguk-angguk) (menangis tersedu-sedu)




29 May 2013

#29. Catatan Harian Tunisia Part 9.8.2

To be continued...

22 Januari 2011

Ya, ada Bang Radit di sini. Aku sudah cukup takut. Awalnya biasa saja, ia menawarkan kue kepadaku. Dan kami bertiga, aku, Bu Yusuf dan Bang Radit pun mengobrol-ngobrol. Ia mulai memuji-mujiku di depan Bu Yusuf. Aku pun berpikir bagaimana cara agar aku bisa keluar dari sini. Kak Risa tidak bisa dihubungi, maksudnya aku yang tidak bisa menghubungi kak Risa karena aku tidak tahu nomornya. Lalu, Aris pun menghilang. Ah, tidak, bagaimana kalau aku dikurung berdua dengan Bang Radit di sini? Tidak lama Kak Risa pun datang dan ia bilang kalau ia ingin  pergi berjalan-jalan dengan temannya. Aku memutuskan untuk tidak  ikut karena aku tidak tahu tempat seperti apa yang akan mereka kunjungi. Dan, mulai dari situlah aku salah membuat keputusan. Aku pun diajak makan siang. Ada ikan gurame bakar dan menu Indonesia lainnya, siapa yang menolak? Sudahlah aku makan siang di sini saja. Kami pun makan berdua di dapur. Kalau kekasihku tahu, bisa mati aku digantungnya. Namun, mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan. Bang Radit pun mulai bertanya tentang diriku. Ia baru tahu kalau aku masuk dalam organisasi Radio PPI Dunia. Tidak disangka-sangka ia tahu mengenai sejarah Radio PPI Dunia. "Radio PPI Dunia itu dibentuk waktu SI.. 2009 ya?," ujarnya sambil sibuk mengunyah gurame. "Iya..waktu itu belum ada banyak PPI.." Aku bingung..mulai berpikir, Bang Radit ini angkatan tahun berapa? Mengapa ia sepertinya tahu sekali seluk beluk PPI Dunia? Namun, sembari itu aku hanya tersenyum-senyum mendengar ucapannya. Sampai ketika, bang Radit bilang, "Iya..kita seperti kakak adik saja. Kamu jangan lupa shalat, jaga diri, kamu kan sendirian di Sfax.." Aku memperhatikan matanya. selagi ia berbicara Otakku memutar kembali adegan setengah jam yang lalu, "Enam bulan itu lama lhoo. Banyak yang bisa terjadi dalam enam bulan," Bang Radit mengucapkan hal seperti itu ketika ia tahu aku punya kekasih. Iya, aku akan menetap di Tunisia selama kurang lebih enam bulan. Dan kata-kata yang ia ucapkan sekarang berbeda sekali dengan ucapan ia setengah jam yang lalu. Aku makin bingung.

Hari sudah malam. Iya, tahu tidak, aku ditahan oleh Bang Radit sampai malam hari. Sampai-sampai Bu Yusuf bilang, "Ya ampun ka..kamu ditahan sampai malam ya..padahal tadinya mau dzuhur aja." Aku teringat niatku yang hanya ingin menumpang shalat dzuhur di rumah Bu Yusuf. Sebenarnya, aku disuruh tinggal agar Bang Radit juga bisa mengantarku pulang nantinya. Keadaan di luar masih tidak menentu dan bahaya kalau perempuan pulang malam-malam sendirian. Setelah cukup lama bersiap-siap, Bang Radit pun mengantarku pulang. Malam itu dingin . Angin berhembus kencang. Aku menggosok-gosokkan tanganku. Kami pun hanya berdua di jalanan. Perjalanan itu berlangsung senyap. Sepertinya Bang Radit malu-malu padaku. Tidak lama, kami sampai di wisma. Bang Radit tidak mau masuk ke dalam. Ia hanya berdiri di luar. Dan ia hanya bilang, "Salam ya..buat Risa..kangen!" Aku pun tersenyum. "Daag.." dan ia pun melambaikan tangan. Aku hanya tersipu-sipu malu sambil menutup pintu. Ah, kekasihku tidak boleh tahu soal hal ini. Aku segera mencari Laras untuk curhat.

""Ya..kalo gitu kan seperti abang sendiri kan neeeng. Lo juga nggak diapa-apain kan neeng?" tanya Laras lewat skype. "Iya sih, gue nggak diapa-apain tetapi tetep aja kan gue berdua-duaan sama dia. Kalo Febrian tahu gimana?"jawabku panik. Iya, aku merasa sangat bersalah dengan Febrian karena ia sama sekali tidak memperbolehkanku dekat dengan laki-laki manapun. Apalagi sekarang posisi kami berjauhan dan maksud abang ini mendekatiku pun belum jelas. Febrian tidak boleh tahu. Aku pun hanya bilang padanya kalau aku tadi pergi ke kantor seharian.

Well, aku ingin menceritakanmu kisah malam tadi. Semalam aku berbincang-bincang dengan mbak-mbak TKW. Ya, itu semua karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah menyantap makan malam.  . Awalnya, di meja makan hanya ada Pak Jum yang memang sedang berbincang dengan TKW.....

Sampai besok! 

to be continued..

Chandini



28 May 2013

#28. Catatan Harian Tunisia Part 9.8.1

#NowPlaying Bass Project - Hanya Dia

22 Januari 2011

Akhirnya setelah seminggu dikrangkeng aku keluar dari "penjara". Sebenarnya, ini hanya kebetulan, hari ini Kak Risa sedang ada di rumah dan karena aku baru saja habis "berantem" dengan Ibu, aku pun memutuskan untuk mengajak Kak Risa pergi keluar. Actually, it was not a real fight, hanya salah paham antara anak dan orang tua. Aku kurang sabar mengajarkan Ibu dan Ibu pun juga tidak sabar menunggu pertanyaannya dijawab olehku. Namun, tidak apa, aku pun segera mengajak Kak Risa untuk pergi keluar. Di jalan, Kak Risa memberitahuku kalau aku tidak boleh bertindak seperti itu. Tetap saja aku yang harus sabar karena aku yang  mengerti seluk beluk komputer yang menjadi pertanyaan Ibu. Jangan sampai terjadi salah paham hanya karena masalah kecil seperti ini. Perjalanan singkat dari wisma menuju kantor pun berlangsung senyap. 

Akhirnya sampai juga di kantor, kantor KBRI ini pun sepi. Tidak ada orang di sini. Oh tidak, aku sudah janjian dengan Aris. Ya, Aris, ingat kan, temanku yang kutemui waktu malam tahun baru? Jujur aku sengaja janjian dengan Aris untuk menghindar dari Bang Radit. Tahu tidak, aku merasa Bang Radit diam-diam naksir aku. Ketika melihat Aris di perpustakaan kantor, aku segera pergi menyapanya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Aris agar Bang Radit tidak mendekatiku. Sepertinya, seminggu penuh menjaga kompleks perumahan cukup berdampak bagi dirinya, dapat dilihat dari lingkaran hitam di bawah mata Aris yang tak pernah muncul sebelumnya. Namun, semangatnya begitu berapi-api ketika kutanyakan pendapatnya mengenai revolusi Tunisia. "Tunisia hebat! Tunisia yang pertama!", begitu katanya. Memang, Tunisia adalah negara pertama di Afrika Utara yang melakukan revolusi. Kudengar Egypt dan Libya pun juga sedang mulai "panas". Mereka terinspirasi dari rakyat Tunisia yang dapat menjatuhkan pemerintahan diktator yang mendera mereka selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Ya, Tunisia adalah negara pelopor. 

Setelahnya pun, aku pergi ke ruang musik yang ada di ruangan sebelah. Ada Bang Radit di sana, ia sedang memetik gitar. Spontan, aku minta diajari bermain gitar tetapi aku teringat kata-kata Febrian yang mengatakan kalau aku tidak boleh belajar gitar dengan laki-laki. Aku langsung mengalihkan pembicaraan, alih-alih kami berbicara mengenai grup musik favoritku. Kusebut saja, White Shoes and The Couples Company, SORE dan band-band Indie yang sedang populer di jaman sekarang. Oh ya, aku memang suka musik Indie. Entah kenapa aku kurang suka musik mainstream. Sesudahnya, aku pun pergi solat dan karena aku bosan solat di kantor, aku pun memutuskan untuk solat di Rumah Pak Yusuf. Nah, Rumah Pak Yusuf ini berada persis di sebelah kantor. Mungkin Pak Yusuf adalah satu-satunya staff KBRI yang tidak pernah terlambat ke kantor

Rumahnya biasa saja. Di dalamnya, ada dua anak kecil yang menghiasi rumah mereka dengan tangis dan tawa. Namun, cerita di rumah ini yang tidak biasa.. ada Bang Radit di sini! ....


Mau tahu ceritanya? Sampai besok ya!


Chandini



27 May 2013

#26. Catatan Harian Tunisia Part 9.7


#NowPlaying Katy B feat Ms Dynamite - Lights On


21 Januari 2011

Aku mengajarkan para TKW tentang internet hari ini. Karena terlalu banyak TKW yang sedang mengungsi di wisma jadilah Bapak dan Ibu membuat kegiatan untuk mereka. Lebih baik daripada mereka tidak ada kerjaan. Karena kadang kulihat mereka hanya membantu Pak Rusli memasak di dapur atau mengobrol-ngobrol ria. Sekarang semua Ibu-Ibu Dharma Wanita pun sudah berkumpul di ruang tengah. Beberapa dari mereka sudah membawa laptop masing-masing. Namun itu semua tidak sebanding dengan alat yang dimiliki oleh satu TKW, ia mempunyai Ipad.  Iya, Ipad, salah satu keluaran produk Apple yang harganya mahal, canggih dan mutakhir itu. Namun, lucunya ia tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya. Oh ya, Isa sempat mengajak ngobrol di skype ketika aku mengajarkan mereka. Dan ia kaget ketika tahu aku sudah menjadi teacher, ia kira aku mendapat pekerjaan baru. Bengkel itu berlangsung tidak lama, sekitar dua jam. Sisanya berlanjut dengan makan siang dan mengobrol-ngobrol. Aku mengobrol cukup banyak dengan Ibu Gita. Beliau adalah istri dari Pak Giri. Kamu masih ingat, kan staff KBRI yang menjemputku ke Sfax waktu itu? Bu Giri orang yang ramah dan manis. Beliau juga berdarah sunda sama seperti Ibuku. Well, aku juga mengobrol banyak dengan Ibu Soraya. Kebetulan ia sedang mencari sekolah untuk anaknya dan ia bertanya mengenai biaya kuliah di universitasku. Aku cukup senang karena bisa mengobrol dengan banyak orang setelah selama seminggu hanya bertemu dengan orang yang itu-itu saja.

Oh ya, tadi aku tidak sengaja berbicara kepada Ibu kalau aku ingin pergi ke Tunis dan merayakan ulang tahun Fitri di rumahnya tanggal 29 nanti. Respon Ibu sangat di luar dugaan, ibu seperti panik, kata Beliau, "Nanti kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana? Situasi masih belum stabil....bla bla.." Aku terdiam. Kalau begini caranya aku tidak akan bisa ke Tunis minggu depan. Ah, andaikan aku tinggal di Tunis. Aku langsung mengirim inbox ke Fathia mengenai hal ini. Fathia bilang kalau mungkin aku bisa memakai alasan lain kalau ingin ke Tunis. Namun, Fathia juga membenarkan kata-kata Ibu kalau aku harus hati-hati. Terlebih aku pergi ke Tunis seorang diri. Oh ya, aku bakal punya housemate baru, namanya Rodrigo. Ia juga berasal dari Brazil sama seperti Isa. Dan ia akan datang ke Tunisia tanggal 29 ini. Bagaimana kalau hal ini aku jadikan alasan untuk pergi ke Tunis? Sepertinya menarik.

Isa masih bertanya apakah aku bisa mengantarnya ke bandara. Kubilang aku harus diantar oleh driver dan ia pun kembali terkejut kalau aku mempunyai driver sekarang. Ia tidak tahu kalau aku sudah menjadi "anak Duta Besar." Malam semakin larut, aku melirik jam dinding, pukul sembilan kurang sepuluh menit.  Bapak dan Kak Risa belum juga pulang. Mereka pasti tengah bekerja memikirkan nasib kami. Aku pun mulai bosan. Saatnya untuk berjalan-jalan esok ;)


Hari ini keadaan di Tunis sudah mulai kembali normal. Semua aktivitas sekolah akan dimulai kembali minggu depan. 


See You,
Chandini



26 May 2013

#26. Catatan Harian Tunisia Part 9.6.2


....To be continued


20 Januari 2011

Ya, akhirnya mereka pun berbicara dalam bahasa Arab karena para TKW tidak bisa bahasa inggris. Para penjarah itu tetap menanyakan harta benda apa saja yang mereka punya. Dengan hati-hati, mbak-mbak TKW itu pun menunjukkan isi koper mereka. Walaupun hanya tersisa sedikit tetap saja koper itu diambil oleh para penjarah. Naasnya, koper mereka dibakar. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Setelah memporak-porandakan seisi rumah, para penjarah pun pergi. Namun, ini adalah salah satu kebaikan dari masyarakat Tunisia, mereka tidak melakukan tindakan kekerasan apapun terhadap para TKW ini. Mahasiswa yang tadi menggedor pintu mereka pun bertanya kemana mereka akan pergi setelah ini. Dengan lesu, mbak-mbak perempuan bersahaja ini menggeleng. Mereka tidak tahu kemana arah pulang. Dan mahasiswa itu pun mengantarkan mereka keluar menuju pintu pagar.  Mereka sama sekali tidak punya alas kaki karena sendal-sendal mereka telah ikut terbakar. Dan halaman rumah mereka pun telah dilempari beling dan tahi kambing. Sungguh, bau yang menuusuk ketika mereka melewati halaman rumah malam itu. Di jalanan, mereka pun kebingungan. Menangis, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Tidak lama, mereka pun teringat akan rumah tetangga majikan mereka. Bapak itu pun membukakan pintu ketika para TKW meminta masuk. Beliau langsung mengobati kaki dan tangan mereka yang terluka. Sungguh baik, Bapak ini. Ya, karena majikan mereka sudah menitipkan pekerja-pekerjanya kalau kalau terjadi penjarahan dan sedari tadi Bapak ini menunggu saat yang tepat. Memang, para penjarah masih berkeliaran di luar. Esoknya, staf kedutaan pun menjemput para TKW yang bernasib malang ini.  Begitulah, kisah mereka. 

Aku tidak  bisa membayangkan kalau ada di posisi mereka. Mbak ini pun masih menangis saat menceritakannya. Ia masih ingat dengan jelas persistiwa tersebut. Oh ya, nama Mbak ini adalah Yayah. Majikan mereka adalah salah satu anggota keluarga Trabelsi, keluarga dari istri kedua Ben Ali yang merupakan keluarga penguasa saham terbesar di Tunisia. Keluarga Trabelsi memiliki saham di perusahaan ponsel, bank hingga pendidikan. Itulah sebabnya mereka diburu oleh masyarakat Tunisia. 

Aku memperhatikan screen handphone yang bertuliskan rekaman tadi. Aku siap menulis setelah ini. 



Sampai Besok ;)
Chandini



25 May 2013

#25. Catatan Harian Tunisia Part 9.6.1


20 Januari 2011

Akhirnya, aku berhubungan kembali dengan Tia lewat Buku Muka. Kami saling mengirim pesan dan menceritakan keadaan di tempat kami masing-masing. Tia kebetulan sedang berada di KBRI bersama dengan warga lainnya. Oh iya, aku mendapat kabar kalau Isa akan pergi ke Egypt hari minggu nanti. Oh, tidak, aku tidak tahu apakah aku bisa mengantarnya ke bandara. Aku kan dikurung di sini. Sementara itu, Marcella juga menanyakan nomor Kedutaan Besar Colombia padaku. Jangan tanya Paulina, karena aku tahu ia mengetahui kontak mereka hanya ia saja yang tidak mau berhubungan dengan kedutaan besar Polandia. Sayangnya, Marcella sudah menelepon ke Kedutaan Besar Colombia di Egypt tetapi telepon mereka tidak tersambung. Ya, Marcella harus menelpon ke Egypt dikarenakan Negara Colombia tidak mempunyai perwakilan kedutaan besar di sini. Aku pun menjadi harap-harap cemas karena keadaan mereka yang tidak menentu. 

Banyak yang mengomentari fotoku, ya, kemarin aku puas mengupload foto-foto ke Buku Muka. Ya, sekalian mencari bahan untuk katalog karena Yassine sudah mengingatkanku kalau aku bisa bekerja dari rumah. Oh ya, aku tidak menyangka, baru saja aku mengupload foto-foto Isabella kemarin dan kemarin juga ia menyatakan kalau ia akan pergi ke Egypt. Time flies so fast. Aku sangat sedih tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengannya. Sembari browsing, aku menemukan video menarik di youtube.com, video tentang Indonesia. Sudut pandang yang dipakai pembuat film sungguh menarik, ia menyatakan bahwa di Indonesia terlalu banyak komentator daripada aktor. Andai saja aku bisa membuat video seperti ini dengan teman-teman Indonesia di Tunisia. Selain itu, aku hanya mengupdate berita-berita di website favoritku yaitu provoke-online.com. Lumayan untuk menghibur jiwa yang resah. Hari ini aku hanya berbicara hal-hal simpel dengan Ibu. Ibu menunjukkan foto-foto Beliau jalan-jalan ke El Jem, tempat wisata di Tunisia. Lalu foto-foto Beliau ke Monaco juga ditunjukkan padaku. Ah, aku jadi ingin jalan-jalan ke sana. Namun, bagaimana, sekarang saja aku masih terperangkap di sini. 

Perutku sudah lapar, aku pun pergi makan siang. Aku memperhatikan para TKW yang lalu lalang. Aku berpikir untuk menulis berita sejak kemarin. Oleh karena itu, aku harus menginterview mereka. Aku pun memanggil Pak Jum untuk memperkenalkan padaku TKW yang bisa aku interview. Ia pun memanggil satu TKW yang familiar buatku karena aku pernah mengobrol sekali dengannya tetapi ketika ia tahu aku ingin menginterview dirinya, ia malah malu-malu dan mundur. Ia pun memanggil temannya yang bersedia aku interview. Aku hanya memintanya untuk menceritakan bagaimana mereka bisa sampai di sini. Dan Mbak itu pun menceritakan bahwa waktu itu keadaan mencekam sekali. Aku mencoba santai. Aku tidak ingin terbawa dengan situasi dirinya agar ia tetap bisa tenang menceritakan semua yang terjadi. Dan ia pun menceritakan bahwa malam itu ia tidak tahu harus pergi kemana. Awalnya, rumah mereka aman saja. Sampai sesuatu terjadi..

Semua itu dimulai dengan timpukan batu di kaca jendela. Sekali. Dua kali. Para pembantu rumah tangga alias TKW yang sedang menonton televisi pun menjadi bingung. Suara apa itu? Lalu bel pun berbunyi berkali-kali. Sampai akhirnya mereka bisa menggedor rumah. Mereka adalah masyarakat Tunisia yang terdiri dari Ibu-ibu, Bapak-bapak, anak muda, sampai kakek-kakek. Mereka memasuki rumah dan langsung menyalakan keran air dalam putaran maksimal, lalu memborong apa saja yang ada di meja makan, simply, semua yang ada di dalam rumah. Bahkan jeruk yang ada di atas meja pun mereka borong. Dan para TKW ini sedang berada di dalam kamar mereka, menanti dengan gelisah. Mereka sudah menahan pintu dengan lemari besar namun para penjarah berusaha menerobos masuk. Sampai akhirnya di gedoran ketiga, mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Koper mereka kosong, hanya berisi baju-baju yang tadi diambil. Jadi kalau para penjarah menanyakan apa saja yang mereka punya, hanya itu yang bisa mereka tunjukkan. Dan akhirnya pintu pun terbuka, mereka hanya bisa pasrah. Alih-alih, sang penjarah yang ternyata mahasiswa ini berbicara dalam bahasa inggris dan karena para TKW tidak bisa bahasa Inggris mereka pun meminta lelaki ini berbicara dalam bahasa Arab. 


To be continued...

See You,
Chandini


24 May 2013

#24. Catatan Harian Tunisia Part 9.5


#NowPlaying Coldplay- Mylo Xyloto Album


18 Januari 2011

Pagi ini, aku bangun pukul enam pagi karena aku ingin berbicara di skype dengan Febrian. Dari dalam kamar, ku dengar Bapak sedang berbicara di telepon dengan seseorang, entah siapa. Aku segera menuju meja pojok untuk online. Pukul delapan aku kembali ke kamar dan menemukan Kak Risa sedang bersiap-siap kerja. Ia menyalakan televisi yang sedang menyiarkan berita dalam bahasa Perancis. Di tengah kebisingan suara pembawa acara dan derap kaki kak Risa yang tergesa-gesa, aku pun pergi tidur. 

Kenapa aku tidur? Karena aku ingin melupakan semuanya. Aku pun menulis status di Buku Muka"Long distance relationship needs patient, much money and excellent internet connection."    Ini semua karena koneksi internet Febrian, aku pun terserang rindu yang akut. Seharusnya aku bisa meluapkan semua rindu itu tetapi menjadi tertahan karena koneksi internet yang terputus-putus. Hidup, memang. Kamu tahu, sebelumnya aku dan Febrian selalu bersama-sama dan posisi kami yang berjauhan saat ini sangat mendera hati. Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu. Aku pun kembali bangun dengan kegiatan yang tidak jauh berbeda. Aku hanya online, menelusuri Buku Muka dari temanku yang satu ke temanku yang lain. Tidak ada kerjaan. Namun, daripada aku membaca berita lebih baik aku main Buku Muka. Oh iya, aku belum mencari bahan-bahan gambar untuk katalog. Aku pun menepuk jidatku. 

Breaking news! Aku mendengar dari Bu Yuni kalau kami semua akan dibelikan tiket ke Italia. Tadi pagi Pak Dubes ditelpon oleh Bapak Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri, katanya dengar-dengar kalau keadaan belum membaik kami akan diungsikan ke Italia. Aku tidak tahu harus senang ataupun sedih. Aku  menyuapkan udang goreng tepung menu makan siangku ke dalam mulut dengan lemas. Namun, Pak Jum bilang keadaan sudah membaik. Pasar sudah buka, orang-orang sudah mulai berjualan. Itu tandanya, kabar baik bukan?! Tetapi, lagi-lagi, Itali... Aku ingin sekali pergi ke sana.

Mataku masih memperhatikan gerak-gerik para TKW. Mereka memenuhi ruang tengah. Sekarang jumlahnya makin banyak. Kamarku yang dulu tidak cukup lagi menampung mereka jadilah meja makan formal yang biasanya ada dipindahkan ke ujung. Dengan begitu mereka bisa tidur di tempat meja makan. Aku ingin menulis tentang mereka tetapi aku tidak tahu harus mengirim berita kemana. Aku pernah bekerja di Majalah Hai, Kompas Gramedia, namun aku terputus kontak dengan mereka. Aku memeriksa Buku Muka kembali. Beberapa dari temanku menanyakan kabarku. Mereka bilang beritanya heboh, tidak tahu saja kalau di sini sudah heboh dari beberapa hari lalu. Berita yang beredar di Indonesia cukup lambat. Wah, aku mendapat pesan dari Bang Yazid. Dia menulis kata-kata "kangen". Ini maksudnya apa ya? 

Hari ini aku tidak membaca berita lagi karena aku sudah muak dengan berita..


19 Januari 2011

Semalam Bapak bertanya bagaimana mengoperasikan Skype karena Beliau diminta untuk melakukan pembicaraan online melalui skype oleh TV One. Aku langsung menawarkan untuk online skype dari laptopku saja. Lalu Bapak mengiyakan dan berjanji akan mengabarkan kalau pihak TV One sudah menghubungi Bapak. Esoknya, ternyata perjanjian itu dibatalkan. Alih-alih, Bapak menunjukkan rekaman pembicaraan Beliau dengan pihak Radio BBC mengenai revolusi Tunisia (1). Bapak memberitahukannya kepada Ibu sambil menunjuk-nunjuk layar komputer dengan semangat. Bapak kelihatan sangat bangga. 

Soal Ibu, Ibu juga orang yang sangat baik. Namun, sayangnya, Beliau agak sedikit jutek. Dari kemarin, aku online bersebelahan dengan Ibu. Dan Ibu, seringkali bertanya tentang mengoperasikan ini itu. Aku dengan senang hati membantunya. Namun, terkadang aku sibuk jadilah aku tidak sempat membantunya dan Ibu menjadi marah. Sudahlah, namanya juga orang tua, aku harus tetap menghormati Beliau. Tidak enaknya adalah ketika aku tertawa-tawa karena misal, status temanku di Buku Muka dan Ibu bertanya kenapa aku tertawa. Aku agak bingung menjelaskannya karena aku takut Ibu tidak bisa menerima ceritaku dan teman-teman yang masih remaja ini. Oh iya, satu hal yang menarik, Ibu menawarkanku untuk mendesain kartu undangan spesial dalam rangka pernikahan putrinya. Semoga aku ada waktu untuk membuatnya, ya. 


(1) Rekaman pembicaraan Bapak Duta Besar Tunisia dengan Radio BBC dapat diakses di:


See You next part,
Chandini



23 May 2013

To: You


Kemarin, tepatnya setahun cinta kita kita berpisah. Di balik gerimis hujan malam ini.. Aku sudah bisa melupakan kamu..



Chandini



#23. Catatan Harian Tunisia Part 9.4 (Finally!)


#NowPlaying Florence + The Machines Songs


Finally, Tunisia Story again!

For the previous story, sorry if you found many mistyping. It was written on the bus...


16 Januari 2011

Berita soal revolusi masih menjamur. Dan aku masih sibuk dengan bbc.com ku yang sudah kubookmark di homepage handphone. Setiap pagi, icon itu yang akan aku klik pertama kali untuk mengawali hari. Semua berita Tunisia kubaca sampai kepala mumet. Lalu seperti biasa, aku akan melaporkannya ke Pak Rusli dan Mbak Tuti di dapur belakang. Jadi sembari mereka memotong bawang, mereka juga akan mendengarkanku mengoceh soal hal yang happening saat ini. Sesekali mereka tertawa mendengar ocehan-ocehanku yang sedikit berlebihan. 

Aku tidak melakukan apa-apa hari ini. Seperti biasa, hanya berselancar di internet. Oh iya, hari ini di Wisma ramai. Tahu kan kenapa? Karena para TKW sudah mulai berdatangan. Iya, lima orang TKW yang kemarin datang saja sudah cukup membuat kamarku sempit. Jadi aku terpaksa pindah ke kamar atas dengan Kak Risa. Bapak sangat baik. Aku bisa melihat dari cara Beliau menyuruhku pindah kamar. Ketika para TKW berkumpul dan berbaris di ruang tengah, ia berbicara padaku yang tengah online di sofa, "Ulka sekamar sama Risa saja," katanya. Aku terdiam. Lalu aku segera beranjak dan memindahkan semua barangku. Kamarku yang baru posisinya dekat dengan kamar Bapak. Bapak adalah seorang Duta Besar. Dan Beliau sama sekali tidak sombong. Luar biasa. 

Setelahnya, aku pun kembali online. Entah berbicara dengan Laras dan Rachman di skype atau mencari Febrian di messenger. Omong-omong soal percintaan, aku lelah sebenarnya untuk long distance relationship tetapi mau bagaimana lagi.  Ini semua adalah kosnekuensi yang harus dijalani. Malamnya, aku mendengar berita baik, kalau Mebezza baru saja dilantik untuk menjadi presiden sementara menggantikan Ganouchi.  Kata orang-orang, umur Ganouchi sudah uzur jadi sudah saatnya Mebezza untuk tampil (1). Tidak berapa lama, aku melihat foto bendera Tunisia dengan tangan yang saling berpegangan di Buku Muka. Aku segera mengganti profile picture-ku dengan foto tersebut dan mentag semua teman-temanku. Pak Jum, Dita dan Fathia mengomentari fotoku. Oh iya, salah satu senior mengucapkan selamat padaku karena sekarang aku sudah bisa bahasa Perancis dan Arab. Ia menuliskannya di dinding Buku Muka. Wah, ia tidak tahu saja. Aku teringat dengan buku Bahasa Perancisku yang tertinggal di Sfax. Ah, tidak. 

Sudah lama aku menunggu Febrian untuk online namun ia tak kunjung muncul. Kemana dia?


(1) Fouad Mebezza dilantik menjadi presiden sementara menggantikan Ganouchi


17 Januari 2011

Pagi ini dimulai dengan mempost video di Buku Muka. Video-video itu berkaitan dengan keadaanku sekarang. Michael Jackson dengan Heal The World, Elle est tres mignone, Blink 182 "I Miss You" dan The Groove "Khayalan". Semua video itu membawaku ke masa lalu kecuali Michael Jackson dan Elle est tres mignone. Ya, aku sangat suka lagu Michael Jackson yang satu itu karena aku ingin semua manusia di sini bisa mengerti pesan kemanusiaan yang tersemat dalam lagu tersebut. Aku ingin Tunisia bisa revoulusi secara damai. Video kedua kutemukan secara random, aku lupa kalau aku menelusuri akun Buku Muka siapa namun aku menemukannya, si anak kecil lucu yang bernyanyi-nyanyi di video itu. Lucu sekali. Well, video yang ketiga, kau tahu kan untuk siapa. Kalau video yang keempat, ini spesial. Lagu ini dinyanyikan oleh aku dan Farisa sewaktu kami diguyur hujan di event musik terkenal. Aku sangat ingat, persisnya, ketika hujan semakin deras namun kami malah makin asik terbawa dalam alunan vokal Rieke dan Rejos. Malam itu di Jakarta. Aku merindukannya. 

Oh iya, baru saja Wissem menelponku. Wissem, salah satu teman di lembaga pertukaranku. Masih ingat kan? Ia menanyakan bagaimana kabarku lalu ia melaporkan bahwa situasi di Sfax sudah mulai kembali normal. Ya, walaupun setiap orang masih berjaga-jaga dan bergantian menjaga kompleks rumahnya. Aku senang sekali menerima telpon itu karena akhirnya ada juga dari mereka  yang  peduli denganku. Hari semakin larut. Namun, aku tidak bisa tidur karena helikopter ini terus mengelilingi rumah. Helikopter itu sedang patroli memantau keadaan. Seperti lebah yang berputar-putar di sekitar bunga. Aku baru saja habis chatting dengan Rachman. Dan, ingin tidur. Namun, suara helikopter itu seperti tepat di atas kepalaku. Bagaimana aku bisa tidur? 



See You in Next Part,
Chandini



You've Made My Day ;)

Dear Fauziawati,

I don't know how you got my email.. 


Hi Ulka, terimakasih atas kisahnya. senang membaca blog kamu.


You've made my day! Thank You!



Chandini




22 May 2013

#22. The Nice Ticket Seller



This story is the continuity from http://whodoyouthinkulkachandinipenditis.blogspot.com/2011/06/1-brown-eyes.html


This is the stranger number two..

There is a nice ticket seller who is always smile to me and say, "Bonjour."

His place is at the back of the ticket sales so not many people go there.

One day, he even knew already the station that i will go, "Jeunesse"...

before i said it..




Chandini




18 May 2013

#18. How's The Judge?


I'm gonna be the judge for Battle of The Band Competition tonight.


Wish me luck :*



#POSPIM2013


See ya!
Chandini



#17. Story of The Day

Live report yang menyenangkan. Dibantu oleh Encik yang juga begitu menyenangkan. 


Terima kasih. 


#POSPIM2013

Chandini

15 May 2013

#15. Catatan Harian Tunisia Part 9.3.1



#NowPlaying Bon Iver Songs

Continued...

15 Janauri 2011

Ya, mereka seakan menikmati revolusi ini. Aku sebenarnya tidak tahu apa makna dibalik revolusi. Aku tahu, ini semua untuk mengubah Tunisia yang telah dijajah oleh “pemerintahan” selama ini. Bagaimana tidak, mereka diperintah oleh Presiden Ben Ali selama 23 tahun. Memang, sih tidak selama Soeharto yang 32 tahun. Tetapi, kamu tahu tidak, Ben Ali telah membuat mereka tidak pernah membicarakan politik sama sekali. Kamu ingat, waktu aku pergi ke Sidi Bou Said dengan Fathia dan Fitri? Di Taksi, Fathia bilang, kalau kita tidak boleh menyebut namanya, ya nama Pak Presiden, seperti tidak boleh menyebut kau-tahu-siapa-dia di cerita  Harry Potter. Ah, bagian ini juga sama dengan pemerintahan Pak Soeharto dulu. Apakah Tunisia dan Indonesia mempunyai nasib yang serupa? Nanti ya, akan kubicarakan.

Wah, suara apa itu? Aku mendengar isakan tangis dari arah pintu. Aku baru saja menghabiskan makan siangku di meja makan yang lokasinya sekitar 100 meter dari pintu depan. Ada lima wanita datang bersamaan. Mereka semua membawa koper dan barang masing-masing. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku melihat Bu Yuni menerima cium tangan dari mereka. Oh, ternyatan mereka adalah lima TKW kemarin yang terkurung di rumah majikannya. Ah, ternyata mereka! Sedih sekali, aku dapat melihat rengut di wajah mereka. Kamu tahu tidak? Mereka hanya membawa barang-barang seadanya karena sisa barang mereka yang lain telah dibakar. Dibakar oleh siapa lagi kalau bukan oleh masyarakat? Aku sangat ingin mendengar ccerita mereka. Pastinya mereka harus istirahat dulu dan membereskan barang-barang. 

Malam pun tiba. Aku baru ingat kalau hari ini adalah  hari anniversary-ku dengan Febrian. Dia mengirimkan pesan singkat padaku. Pesan singkat yang padat, jelas dan cukup romantis. Aku sangat terenyuh. Dengan dia yang begitu perhatian terutama di kondisi seperti ini. Namun, aku memang kadang melakukan hal bodoh. Ak]u dengan sengaja menulis status di Buku Muka mengenai Febrian. Aku harusnya tahu kalau begini aku akan kehilangan kesempatan untuk mendekati Amo. Ah. Sebenarnya tidak apa-apa sih karena aku juga belum sayang dengan Amo, hanya suka saja. Namun, aku sangat ingin berteman dan mengetahui dirinya lebih jauh. Buatku Amo adalah pribadi menarik sekaligus misterius. Oh ya, omong-omong soal Amo, aku tadi langung mengirimkan pesan padanya mendengar berita narapidana yang telah melarikan diri dari penjara. Ya, situasi pembakaran dimana-mana, pengrusakan fasilitas umum, demonstrasi, itu semua mungkin belum cukup, Diitambah lagi dengan narapidana yang mmbebaskan diri Aku tidak dapat membayangkan bagaimana para napi yang berandal dan dapat melakukan apa saja itu akan merasuki rumah kami satu-satu. Sungguh, aku tidak ingin membayangkannya.  Aku pun sempat berbicara dengan Aris, mengajaknya bertemu di kantor. Ia bilang ia tidak bisa karena harus bergantian menjaga kompleks perumahannya (1)

Oh ya, ada hal yang menarik. Semalam, aku, Pak Jum dan Mbak Tissia bermain kartu domino. Kami main dengan sangat gembira. Bahkan masing-masing dari kami melakukan kegiatan sambilan. Pak Jum sambil menelpon, Mbak tissia sambil chatting dan aku sambil menelusuri internet. Tentunya, itu semua sambil bermain kartu domino. Karena Pak Jum yang kalah, kami puas melumurinya dengan tepung. Hahaha. Seru sekali. Aku sedikit melupakan beban di kepala. Andaikan bisa  tertawa seperti ini terus. Sudah dulu, ya. x) 

(1) Malam ini, Tunisia masih dalam curfew. Para pemuda masih berjaga-jaga di depan rumah atau kompleks mereka demi mengindari penjarahan atau pencurian. Banyak dari mereka yang bersenjatakan pemukul kayu, pemukul besi, pisau dan lainnya. 



See You (always) in next part x')
Chandini 




14 May 2013

#14. Catatan Harian Tunisia Part 9.3

15 Januari 2011

Pagi ini aku terbangun dengan message Amo yang tertinggal di Buku Muka. Pesan itu dikirim pukul 3 pagi yang menyatakan bahwa ia tidak bisa tidur karena rumah tetangganya tengah dibakar. Aku langsung membalas messagenya dan ia hanya menjawab sekenanya. Lalu ia tidak melanjutkan pembicaraan itu kembali mungkin ia sudah tertidur lelap.

Aku pun membuka laptop dan memulai aktivitas online. Tiba-tiba di line skype temanku mengajak berbicara. Tepatnya sepupu jauhku, err..ya, Narti. Orang yang cukup lama tida berbicara denganku akhirnya ia menyapa. Narti bertanya bagaimana keadaan di sini karena mendengar revolusi tengah berlangsung. Kubilang, keadaan sedang gawat dan aku tidak tahu sampai kapan ini akan terus terjadi. Narti dan sahabat laki-lakinya, ikut panik. Ya, Narti sedang liburan di Bangkok bersama sahabat laki-lakinya. Kujelaskan saja semuanya, airport yang ditutup, supermarket yang dibakar, persis seperti kerusuhan Indonesia tahun '98 dahulu. Narti pun menanyakan nomor telepon rumahku karena kubilang aku sedang tidak ada pulsa untuk menelpon ke rumah. Ia juga mencoba menghibur dan membantuku. Kurasa hubunganku dengan Narti berubah menjadi lebih baik. Selesai berbicara dengan Narti, seperti biasa aku membaca berita. Aku menuju halaman bbc.com dan mengklik bagian Africa. Berita mengenai Tunisia terpampang di headline. Berita yang sedang santer adalah mengenai keberadaan Ben Ali. Ya, keberadaan mantan Presiden Tunisia itu sedang tidak jelas. Berita menyatakan bahwa Perdana Menteri Perancis menolak Beliau untuk mengungsi sementara di Perancis. Kalau begini, keadaan di Tunisia pun semakin tidak jelas. Sementara itu mengenai Ganouchi, presiden baru Tunisia, ia pun belum tahu apa yang harus dilakukan karena masyarakat Tunisia masih menganggap ia sebagai "tangan kanan" Ben Ali. Maksudnya Ganouchi belum tentu bisa dipercaya. Salah satu juniorku di kampus menanyakan kabarku di Tunisia melalui dinding Buku Muka. Aku menjawab sejujurnya bahwa keadaan di Tunisia sedang mencekam. Ah, sudahlah, kurasa aku harus berhenti membaca berita. Aku pun pergi makan siang.

Di dalam sini, jauh lebih hangat. Ya, dapur adalah salah satu tempat favoritku. Selain karena ada makanan juga karena ada dua orang yang selalu bisa aku ajak mengobrol di sini, yaitu Pak Rusli dan Mbak Tuti. Mereka sedang asyik memasak sesuatu dan aku hanya duduk memperhatikan mereka. Mereka tiba-tiba tertawa entah karena hal apa. Aku pun ikut tergelak. Sungguh senang bersama mereka daripada membaca berita-berita menyebalkan itu. 


to be continued

♥ 
Chandini


13 May 2013

#13. Catatan Harian Tunisia Part 9.2

14 Januari 2011

Hari ini kerjaanku online saja. Di pagi hari aku berbicara di skype dengan Farisa, sahabatku. Ia sedang internship di Kuala Lumpur. Ada Wulan juga mantan rommate-ku dulu. Hubungan aku dan Wulan lebih baik dari sebelumnya. Mereka menanyakan mengenai keadaanku di sini. Lebih tepatnya mereka penasaran bagaimana tinggal di rumah Pak Duta Besar. Kubilang rumahnya besar tetapi membosankan dan ada kolam renang. Soal kolam renang, aku belum sempat ke sana. Setelah cukup lama berbincang, Farisa pun harus melanjutkan pekerjaannya. Aku terpaksa mengakhiri pembicaraan tersebut. 

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain membaca berita dan makan. Iya, makan. Makananku terjamin di sini. Aku bisa makan nasi dan lauk pauk Indonesia setiap hari. Coba saja begini terus. Aku pun melanjutkan online. Mencari-cari berita terbaru hari ini. Tidak lama, Bu Yuni dan Pak Jumali datang. Pak Jumali sedang mewanti-wanti apakah hari ini bisa shalat Jumat di Tunis. Wah, iya, keadaan kan sedang gawat. Dan aku pun mencari informasi mengenai hal tersebut. Aku memperlihatkan video yang kutemui, di situ dinyatakan bahwa beberapa jam yang lalu Tunis sedang dikepung 1000 demonstran. "Kalau begini pasti tidak Jum'atan," kata Bu Yuni. Pak Jum, aku memanggilnya begitu, mengangguk-angguk. Mungkin beliau pikir, keadaan di luar memang sedang tidak aman jadi sulit untuk pergi ke mesjid. Pembicaraan pun berlanjut ke berita-berita revolusi. Tak terasa hari sudah memasuki petang.  Eh iya, aku lupa kalau tadi aku janji ke Pak Rusli kalau aku mau membantunya memasak. Sudah jadi belum ya, makanannya? Ternyata sudah, aku jadi malu. Kulihat tumpukan kotak plastik yang berisi bubur kacang hijau siap diantar ke KBRI. Omong-omong soal Pak Rusli, aku jadi ingat kata-kata Pak Rusli tadi siang. Aku tidak tahu ini benar atau tidak tetapi sudah cukup membuatku tersipu-sipu. Kata Pak Rusli, Amo sempat mencariku. Iya, Amo, kamu ingat kan?  Gebetanku itu. Aah, aku tidak menyangka kalau dia mencariku. Setelahnya, aku dan Mba Tissia memutuskan untuk mengunjungi KBRI. Seperti turis saja, mungkin aku menyebutnya berkunjung karena sudah lama tidak ke sana. Mbak Tuti bilang, "Sudah, ikut saja ke kantor." Mereka menyebutnya kantor, KBRI, maksudku. Kenapa ke KBRI saja harus ditemani? Karena kadaan sedang tidak aman. 

Sesampai di sana, aku sempat bertemu dengan Bang Yazid. Orang yang dulu pernah kutemui di KBRI saat pertama kali aku datang. Ia bilang banyak orang di lantai bawah. Aku pun menuju ke bawah. Benar saja. ada dua orang sedang bermain tenis meja. Lalu aku melihat sekumpulan  laki-laki di bagian belakang. Aku bertanya kepada mereka password untuk wi-fi di sini. Aku hanya ingin online. Setelahnya, aku pun pergi shalat sebentar. Lalu kembali ke bawah. Aku melanjutkan kesibukan chatting lewat Yahoo! Messenger di handphone. Habis, aku bingung mau mengajak ngobrol siapa, tidak ada yang kukenal di sini. Tiba-tiba, Pak Duta Besar datang, katanya akan memberikan pengumuman. Mereka yang tadinya sibuk masing-masing pindah ke kursi yang disediakan di depan, begitu juga dengan aku. Bapak bilang, "Baru saja, Presiden Ben Ali sudah resmi mundur (1). Untuk sementara belum ada yang menggantikan dan itu berarti Tunisia sedang dalam status quo. Keadaan sudah siaga 1. Untuk strategi pengamanan, para lelaki akan diamankan di KBRI sementara kaum perempuan, akan diamankan di rumah saya, Wisma Duta KBRI." Tetes airmataku mengalir, di dalam hati. Iya, aku menangis. Aku tidak dapat menujukkannya di sini. Aku mengabari Rachman yang sedari tadi chatting denganku. Dia perhatian sekali. Aku teringat Abi. Kenapa bukan dia yang melakukan semua ini?  Tidak lama, aku teringat Al-Qur'an pemberian Ibuku di Sfax. Aku langsung  menelpon Ayoub, ketua lembaga pertukaran. Dengan suara yang sangat panik aku bertanya bagaimana nasibku dan nasib barang-barangku. Ayoub bilang semua baik-baik saja. Tidak, aku tidak percaya. Aku bilang tolong jaga barang-barangku. Kalau bisa ada yang mem-pack barang-barangku yang tertinggal. Pembicaraan ditutup dengan kata "Ya" dan desahan dari Ayoub. 

Aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku. Mukaku merengut. Bagaimana tidak, kalau Tunisia dalam status quo berarti tidak ada pemerintahan. Lalu kalau begitu, kerusuhan ini akan terus terjadi. Kalau kerusuhan terus terjadi berarti aku tidak bisa melanjutkan internship. Kalau tidak bisa melanjutkan internship berarti aku tidak bisa lulus tahun ini. Semua itu terbayang seiring perjalanan ke rumah. Aku pun tidak napsu melahap makan malamku. Aku hanya sibuk mencari berita atau mencari teman untuk curhat. Sampai ketka aku melihat status Facebook salah satu teman Tunisiaku, yang menyatakan bahwa Ganouchi telah menjadi presiden baru Tunisia. Ya, Presiden Ben Ali telah digantikan Perdana Menteri Ganouchi dalam beberapa jam saja. Semua ini tentu untuk menghindari kekuasaan militer di kosongnya pemerintahan. Singkatnya, hari ini adalah hari bersejarah untuk Tunisia.

Samar-samar di tengah cahaya kecil itu, aku mendengar ada lima TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia yang sedang terkurung di rumah majikannya. Sampai sekarang, petugas KBRI tidak dapat menolong mereka karena rumah mereka masih dikepung masyarakat. Aku segera mengirim pesan singkat ke Bang Yazid: "Bang,  sedih banget deh tadi aku denger ada 5 TKW yang terkurung di rumah majikannya. Doain semoga mereka selamat dan keadaan cepat pulih ya, Bang."

Aku pun tidur dan berharap semoga esok hari semua lebih baik.


(1) 14 Januari 2011. Presiden Ben Ali resmi mundur sebagai Presiden Tunisia dalam waktu 24 jam setelah pidatonya.



See You Soon x')
Chandini



12 May 2013

#12. Catatan Harian Tunisia Part 9.1



11 Januari 2011

Aduh, pagi ini telat lagi tapi aku sudah niat kalau harus jalan kaki dulu semampuku lalu dilanjutkan naik taxi. Setidaknya masih sempat sampai kantor sebelum pukul setengah sembilan, pikirku. Kaki ini terus melangkah lurus dan berhenti kebingungan di perempatan jalan. Kupanggil Pak Taxi dan Beliau menyapa dengan senyumnya. Wah Beliau termasuk salah satu supir taxi paling menyenangkan yang kujumpai. Walaupun tidak mengerti apa yang dia ucapkan dalam bahasa Perancis tapi aku merasakan keramahan yang ia ciptakan. Hemm..kerja hari ini seperti kerja hari lainnya. Membosankan. Bosku, Yassine sangat sibuk dan aku pun berusaha untuk tidak menganggunya. Oh ya, kemarin Wajih bilang kalau sandwichku akan diantar mulai hari ini untuk makan siang. Jadilah aku berdiam diri di kantor ternyata sampai pukul tiga sore sandwich itu belum juga muncul. Dengan langkah tergesa-gesa akibat desakan lambung di perut, aku menuju restoran dekat city center yang biasa kudatangi untuk makan siang. Sang pelayan yang sudah hapal dengan wajahku tersenyum dan aku pun berkata kepadanya “Un Escalope.’’ Sembari menunggu masakan matang, kami mengobrol mengenai pekerjaan dan tempat tinggalku. Escalope ini yang pertama kumakan sejak aku sampai di sini tiga minggu yang lalu. Bentuknya seperti sandwich biasa dan penuh dengan daging. Aku pun menikmati setiap gigitan dari escalope dengan siaran televisi pertandingan sepak bola antara Jepang dan Saudi Arabia. Jepang menang dan aku pun pulang.  Udara sore itu sangatlah nyaman dan aku kembali menelusuri jalanan Medina sampai La terrace masih diwarnai dengan tatapan tanya mereka akan kebangsaanku.

Sudah dua pesan menyatakan bahwa aku harus berhati-hati karena demonstrasi mulai memanas. Banyak polisi berkeliaran dan sekolah diliburkan. Koran yang kubaca hari ini menyatakan hal yang sama. Beberapa menit kemudian, Yassine telepon dan menyatakan kalau besok aku tidak perlu bekerja. Senyumku pun mengambang membayangkan libur esok. Malam ini aku tidur dengan Isabella di ruangan besar, Lucunya ini pertama kali kami tidur bersama sejak kami resmi menjadi teman sekamar beberapa minggu lalu. Ya, Isa memang tidak tahan dingin di kamar kami jadilah ia tidur dengan hangat di sini. Bercengkrama dengan Isa membuatku teringat akan diriku yang dulu, yang sempat hilang sejak kedatanganku kemari dan membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Ah, sudahlah. Lilin pun ditiup dan kami tertidur lelap.


12 Januari 2011

Isa membangunkanku pagi ini dengan kabar mengejutkan bahwa Train dan Looage mogok total. Simply, no transportation today. Seluruh public company dan toko tutup menjadi alasan mengapa aku diliburkan. Satu pesan masuk dan Marcella berpesan untuk tidak pergi ke city center karena sangat berbahaya. Ada apakah gerangan? Aku masih tidak berharap jawaban datang dari demonstrasi yang sudah semakin parah di luar dugaan. Kutengok jalanan di luar penuh dengan sabun pertanda tumpukan sampah telah dibersihkan. Isa tetap dengan niatnya pergi travelling ke daerah terpencil sana dengan dua teman Londonnya. Memang dia gadis yang tangguh. Kami sempat bercanda bahwa akan turun ke jalanan dan berteriak “Go Revolution!” hahaha

Hari pun berjalan seperti biasa. Pauline dan Marcella kembali dari pekerjaan mereka dan bercerita mengenai hari ini. Oow, para tentara sudah turun ke jalan dan siap menembak siapapun yang bertingkah. Masih dengan lelucon, Pauline berkata bahwa tentara akan menembak mereka yang nampak dengan mudah dan berbeda terutama dari penampilan luar. Pauline dengan rambut blonde dan aku gadis Asia dengan perawakan yang sungguh berbeda dari masyrakat sini bisa jadi sasaran empuk. Handphone berdering dan berpesan hal yang sama bahwa kami tidak boleh keluar rumah dan kuncilah pintu rapat-rapat. Perasaanku mulai tidak enak dan kualihkan dengan mencuci baju yang mulai menumpuk. Seketika itu kudengar teriakan orang dari bawah sana dan mereka berlarian dengan membawa meja dan kursi lalu meletakannya di ujung sana. Oh my, what the hell is going on? Ingin aku pergi ke bawah sana melihat apa yang sebenernya terjadi tetapi kuurungkan. Kuyakin meja dan kursi itu dicuri dari restoran sekitar sini dan sebentar lagi akan dibakar. Ternyata ada pesan masuk dari Faizin, radio memberitakan bahwa 30.000 orang di Sfax, kotaku, sedang berdemo saat ini dan menghancurkan fasilitas umum. Damn, it’s true. Segera kuberitahu Marcella dan Paulina, panik melanda dan kami menelpon seorang teman tetapi ‘’hanya semua baik-baik saja’’ yang keluar dari mulutnya. Oke kami memang tidak perlu tahu apaa-apa selama kami tetap aman di dalam sini. ‘’Ah sudah biasa, Indonesia pernah mengalami hal lebih buruk dari ini di tahun 1998 saat masa kejatuhan Pak Soeharto dulu. Sepatutnya aku terbiasa dengan hal ini’’, ujarku menenangkan diri.

Malam itu kami bercengkrama dengan riang mengenai hari ini dan rencana esok sambil menyantap Risoto (masakan khas Italia). Mereka dengan white wine dan aku dengan Juice kesayangan. Demonstrasi besar-besaran seperti ini merupakan yang pertama kalinya di Tunisia. Pemicunya adalah pengangguran dan Presiden Ben Ali sudah memerintah negara ini selama 23 tahun jadilah rakyat Tunisia berontak saat ini. Itulah secuil diskusi kami yang sesekali diiringi dengan tawa. Jujur kami memang tidak ingin mendramatisir keadaan. Mungkin, kami satu-satunya yang menikmati situasi ini dimana yang lain telah diliputi kecemasan. Selain itu, kami berusaha mencari tahu keberadaan Isa. Ternyata Isa tengah berada di gurun dan ia lebih aman dibanding kami yang ada di tengah kota. Masih sempatnya aku berpikir lebih baik aku ikut Isa jalan-jalan tadi.hehe

Hemm..di luar sangat sepi, kenapa? Handphoneku berdering dan Bapak Duta Besar ingin berbicara denganku. Ternyata jam malam telah diberlakukan, mulai dari pukul 8 malam hingga 7 Pagi masyarakat tidak boleh keluar rumah. Beberapa menit kemudian pesan dari Kak risa masuk dan menyatakan aku akan dijemput oleh Pak Giri, staff KBRI esok pagi untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Situasi semakin serius. Kuberitahu Marcella dan Pauline bahwa aku akan ke Tunis esok pagi dijemput oleh kedutaanku. Mereka menganggap kedutaanku berlebihan dan aku kehilangan cara untuk meyakinkan mereka. Aku masih ingin di sini dan bukan karena ketidaknyamanan maka aku pergi. Aku sudah menjelaskan bahwa ini hanya tahap preventif dan tidak ada maksud meninggalkan mereka yang sudah kuanggap saudara sendiri. Pak Giri terus meyakinkanku bahwa ini merupakan prosedur yang harus ditempuh, mengamankanku dengan orang Indonesia di Wisma Duta KBRI. “Ulka, kamu tahu makanan di Carrefour sudah habis hanya dalam waktu tiga hari ini. Sekarang mungkin kamu enggak bisa beli pulsa tapi nanti air minum yang enggak bisa kamu beli. Menteri dalam negeri sudah diganti dan sore ini Pak Dubes akan meeting dengan Pak Menlu Tunisia. Kita ga tau hasil rapatnya apa? Sekarang memikirkan teman adalah nomor 17,” tutup Pak Giri.

Telah kutetapkan aku berangkat esok namun aku masih terdiam di kasur memikirkan apa yang harus kukatakan pada mereka. Meninggalkan mereka di tengah situasi genting seperti ini sangat tidaklah adil. Sungguh, ini bukan inginku. Tiba-tiba Marcella dan Pauline datang ke kamarku, menyatakan bahwa aku harus memberi kabar sesampaiku di Tunis.  Akhirnya mereka mengerti. They are my truly sisters. Malam itu aku tidur bersama Marcella dan Pauline.  Perasaan lega meliputi hati  tetapi….suara apa itu? Keras dan Berkali-kali. Resah. Aku pun terus terjaga hingga fajar menyingsing.


 13 Januari 2011

Aku bersiap diri karena pagi ini aku akan meninggalkan Sfax entah untuk berapa lama. Bapak menelponku dan aku merasakan paniknya terdengar dari ujung sana. Beliau menyatakan untuk membawa semua baju dan barangku karena tidak dapat dipastikan kapan situasi kembali normal. Bingung. Karena aku hanya menyiapkan sedikit baju dan berharap dua hari lagi dapat kembali. Namun nampaknya benar kata Bapak, keadaan tidak dapat diprediksi jadilah aku berkemas ulang. Sempat kutengok keadaan di luar terlihat normal. Orang-orang kembali bekerja dan tidak terlihat keramaian massa. Pukul 09:30, Pak giri telah sampai dan menyuruhku turun. Beliau membawa pesananku, pesanan housemates ku lebih tepatnya, susu, air dan roti. Tidak banyak tetapi sangatlah cukup untuk bekal makanan seminggu ke depan. Antisipasi bahan makanan memang sangatlah perlu di saat semua toko berhenti berjualan. Aku pun pergi dengan mengatakan, “See you!” kepada Marcella dan Pauline.

Di tengah perjalanan, dapat kulihat bahwa rumahku sangatlah dekat dengan tempat kejadian, sekitar 700 meter. DI tengah bundaran itu, kuingat aku pernah nyasar di sana, merupakan pusat demonstrasi kemarin. ATM telah dibobol dan kaca-kaca dipecahkan. Beling dimana-mana dan semuanya hancur berantakan. Bagaimanapun hari ini, sudah ada toko mulai beroperasi kembali. Sfax seperti normal walau masih sepi dibanding biasanya. Aku menikmati pemandangan sekitarku dimana kami akan menuju Sousse, kota wisata di Tunisia dan melewati El jem salah satu objek favorit wisata juga. Sekeliling padang pasir berhamparan seakan bisu mengenai keramaian massa yang tengah berkecamuk. “Berita terbaru dari Twitter, empat belas orang tertembak mati,” kata Kak Risa, di sebelahku. Glek, aku menelan ludah. Entah berapa jiwa lagi yang tewas dalam peristiwa ini. Radio terus dinyalakan dan ternyata Monoprix (supermarket terkenal di seluruh Tunisia) di Bizerte telah dibakar. Selain itu, persatuan buruh menyatakan besok akan demonstrasi selama dua jam tetapi tidak diberitahu pukul berapa pastinya. Situasi di dalam mobil menjadi ikutan tegang.

Sesampai di Sousse kami menumpang buang air kecil sebentar dan Pak Giri sempat berbincang dengan satpam daerah tersebut. Beliau menyatakan bahwa situasi ini telah dimanfaatkan oleh sejumlah kriminal yang memang melakukan tindakan penjarahan, pencurian dan perampokan. SItuasi tidak terkendali dan massa sudah ditunggangi oleh orang-orang jahat. Itu sangatlah mungkin menjadi alasan mengapa penjarahan besar-besaran mulai terjadi diakibatkan ada dalang di belakang semua ini. Kami pun sampai di Wisma Duta. Mba Tuti, Pak Jumali, Pak Rusli, Bu Yuni dan Pak Adi sudah menyambutku. Kehangatan mereka menghilangkan sedikit cemas. Lalu datanglah Mba Tissia, ia adalah salah satu pekerja Spa di daerah Sidi Bou Said. Sudah terdengar kabar bahwa daerahnya akan menjadi sasaran berikutnya jadilah ia diamankan di sini. Aku bertambah panik karena Mba tissia membawa semua barangnya sementara yang kubawa adalah koper kecilku, dokumen dan alat eletronik. “Ya Allah selamatkan barangku yang lain di rumah. Amin,”  kataku dalam hati. Hari ini Tunisia mulai dalam siaga 1 dimana jam malam diberlakukan mulai pukul 8 malam hingga 05.30 Pagi. Sejumlah pengrusakan dan pembakaran di daerah Nabeul terjadi seperti Carrefour, sejumlah bank, kantor pos, dll. Di antaranya delapan orang tewas dan luka-luka.

Malam itu aku terbayang restoran yang selalu kukunjungi saat makan siang. Apa kabar escalopeku? Aku harap aku masih bisa mengunjunginya dengan keadaan yang sama baiknya sebelum peristiwa ini. Semoga masih ada jatah sandiwchku di sana.


See You Next Part
Chandini



#11. Catatan Harian Tunisia Part 9

10 Januari 2011

Hari ini IP keluar. Iya, indeks prestasi yang sudah dinanti-nanti. Aku dengan cemas membuka halaman portal kampusku. Tidak bisa dibuka. Tidak, ini semua karena aku masih ada hutang. Argh. Akhirnya setelah beberapa lama, aku bisa membukanya dengan terus merefresh halaman tersebut. Halaman itu pun terbuka, tertera IP ku di sana. Ah, sedikit lagi! Sedikit lagi! Aku hampir saja mendapatkan nilai dengan syarat taruhan  yaitu antara 3.90-4.00. Hanya selisih nol koma nol satu dari rentang nilai yang pertama. Itu berarti aku harus berusaha mendapatkan nilai A untuk internship ini agar aku tidak menjadi bulan-bulanan dalam video yang menjadi hadiah taruhan kami. Entah, tiba-tiba, energi itu datang dari mana. Energi untuk melanjutkan proposalku. 

Oh ya, aku berbincang dengan Pipin di Skype, dia bilang:
"Yaa kayak dia gitu..pokoknya survive, ga usah dipikirin x tu orang” yang ga bisa deket..anggap aja lo sementara ..yaa lo nikmatin kesendirian lo itu..xixixixxixixi..tapi tetep ikut ngumpul ajaa." 

Ya, kuharap semuanya baik-baik saja. 


Sampai Jumpa Besok!


Chandini



11 May 2013

#10. Catatan Harian Tunisia Part 8


#NowPlaying Black Kids-I'm Not Gonna Teach Your Boyfriend How To Dance

8 Januari 2011

Hey, pagi ini aku disambut dengan tag foto di buku muka oleh temanku. Namanya Iia, ia mentag foto sekumpulan layar televisi dengan orang-orang di dalamnya. Aku pun bertanya kenapa aku ditag tepat di wajah perempuan cemberut. hehe Lalu aku melanjutkan pekerjaan untuk hari ini. Pekerjaanku membosankan. Aku lelah mencari gambar-gambar yang diperlukan untuk katalog. Kau tahu tidak? Perusahannku ini adalah perusahaan industri yang bergerak di bidang konstruksi. Aku harus mengumpulkan gambar-gambar seperti gambar pipa, genteng keramik, sandwich panel, grating, dan alat konstruksi lainnya. Masalahnya, aku sama sekali tidak pernah membayangkan bekerja di tempat seperti ini sebelumnya. 

By the way, aku punya tempat curhat baru. Tumblr, namanya. Aku sengaja buat blog baru ini agar tidak dilihat orang lain. Habis...kau tahu kan alasanku. Sudahlah yang penting aku sekarang punya teman curhat. Ya, aku curhat tentang seberapa tidak berharganya aku. Mereka yang lebih memperhatikan housemate-housemateku yang cantik juga seksi. Sementara aku yang biasa saja, diacuhkan. Aku benar-benar merasa sendirian. Aku jadi ingat masa-masa SMA dimana aku juga tidak mempunyai teman. Teman yang benar-benar teman, ya. Aku takut kejadian itu kembali terulang. Dimana aku dikhianati oleh sahabatku sendiri. Sudah, sudah.. sudah pukul 1. Aku rasa saatnya aku untuk pulang. 

9 Januari 2011

Yeay, akhirnya aku pergi ke Monastir! Setelah dua minggu lalu aku pergi ke Pulau Kerkenna, kali ini aku mengunjungi Monastir. Monastir terletak di timur kota Sfax. Kami pergi ke sana menaiki looage. Kamu tahu kan, yang aku naiki untuk pergi ke Tunisia. Semua transportasi dari satu kota ke kota yang lain menggunakan van ini. Iya, bentuknya seperti van. Bisa juga sih, naik kereta tetapi kami lebih memilih angkutan yang satu ini. 

Perjalanan dimulai pukul sembilan pagi. Kami sudah bersiap-siap dari pukul tujuh. Isa tidak ikut bersama kami karena dia akan menyusul bersama Wissem. Iya, Wissem dan Isa menghabiskan waktu bersama semalam. Sampailah kami di Monastir, tepatnya Medina, tempat pertama kami. Aku dan Paulina pun berfoto dulu di depan pintu gerbang Medina. Lalu kami berjalan masuk ke dalam, kami menemukan pintu khas Tunisia yang berwarna biru. Paulina langsung berfoto di depannya karena ia suka sekali pintu tersebut. Tidak lama perut kami mulai mengaduh, kami pun mencari restoran untuk makan siang. Ada satu restoran yang terletak di sudut Medina. Sebenarnya tidak terlalu kelihatan tetapi karena sepertinya hanya ini satu-satunya restoran yang sudah buka, kami pun melihatnya. Baru saja masuk ke dalam, sudah disuguhkan makanan yang disajikan di atas meja kaca. Dan seperti biasa, makanan-makanan itu berupa makaroni, kentang, salad, daging ayam dan daging kambing. Kamu mau tahu apa yang aku ambil? Aku terpaksa mengambil makaroni, sup, salad dan daging kambing. Ya, di sini tidak ada nasi, restoran di Tunisia memang jarang sekali ada yang menyediakan nasi sebagai menunya. Aku pun dengan lemas membayar semua menu itu seharga enam dinar. 

Restoran ini cukup antik. Ada gitar kecil, guci, baju dari kulit bison digantung di tembok. Aku suka memfotonya. Sembari makan, kami membicarakan mengenai tempat-tempat yang akan  kami kunjungi sesudah ini. Tidak lama makan siang pun selesai dan kami siap berjalan-jalan. Ada masjid tidak jauh dari restoran tadi. Masjid ini cukup besar dan memang sudah waktunya aku untuk menunaikan shalat dzuhur. Aku pun mengajak Paulina dan Marcella untuk masuk ke dalam. Namun, mereka bilang kalau mereka tidak membawa penutup kepala. Ya, memang diwajibkan untuk memakai kerudung untuk memasuki mesjid, kan. Tiba-tiba, seorang pria keluar dan Paulina pun bertanya apakah turis seperti ia dan Marcella boleh masuk. Lalu pria ini menjawab, "Yes, sure, you can go inside to learn about Islam." Paulina dan Marcella pun tersenyum. Lalu mereka bilang aku saja yang masuk ke dalam. Ini sungguh aneh, entah kenapa, mereka mengartikan statement pria tadi sebagai ajakan untuk masuk islam. Aku pun melangkah menuju masjid dengan memakai scarf kepunyaan Paulina. 

Mesjid ini cukup luas. Tidak jauh dari pintu masuk, kau akan melihat ada tempat wudlu besar yang berbentuk kolam. Kau bisa ambil wudlu di sana. Tepat di depannya adalah ruang solat untuk para pria. Aku pun bertanya dimana ruang solat untuk perempuan kepada satu-satunya Bapak yang sedang mengambil wudlu. Ia bilang jalan lurus terus saja dan pintu di tengah itu adalah ruangan khusus wanita. Aku segera cepat menuju ke sana. Tidak membuang waktu lama, aku pun ambil wudlu dan menunaikan shalat. Sungguh damai shalat di sini. Lampu-lampunya besar dan panjang. Aku pun memfoto seisi ruangan setelah shalat. Di tempat aku ini adalah satu ruangan yang kira-kira luasnya adalah ukuran tiga sajadah besar. Ada semacam alat berwarna putih, yang mungkin adalah pendingin ruangan di belakangku, lalu ada lemari besar dan kursi-kursi ditumpuk. Ini cukup aneh. Aku tidak pernah menemukan pemandangan seperti ini di mesjid di Indonesia. Pintu menuju keluar juga besar dan berat, seperti pintu jaman dahulu. Tidak ada seorang pun di mesjid ini kecuali aku. Aku pun segera memfoto hal-hal penting seperti lampu dan pernak-pernik lain di dalam masjid. Lalu datanglah seseorang masuk ke ruangan aku pun cepat-cepat keluar. 

Di luar lebih unik lagi. Ternyata ada satu pintu yang lagi-lagi berwarna biru tengah terbuka di depanku, tepatnya di timur masjid ini. Ya, mesjid ini bisa diakses dari segala arah. Aku juga terpesona dengan motif di dinding menuju pintu keluar. Dinding itu berwarna cokelat dengan jejeran jendela bergaya arab. Aku sulit menjelaskannya. Namun, satu hal, itu keren sekali. Aku pun melangkah keluar dan menemukan Marcella juga Paulina di kedai souvenir. Kedai ini terletak tepat di depan mesjid membuat siapapun dapat dengan mudah mendatanginya. Di sana banyak barang souvenir seperti piring-piring, boneka unta, guci, magnet kulkas, lukisan dan masih banyak lagi. Aku suka lukisan-lukisan di sini. Artistik sekali. Baiklah, kami pun meneruskan perjalanan. Ada taman yang dikelilingi pohon palem di depan mesjid. Marcella dan Paulina pun berfoto di sana. Tidak sengaja aku melihat seorang perempuan kecilarab yang lucu sekali, aku pun mengajak ia berfoto. Hihi Aku memang selalu suka anak kecil. 

Kami terus berjalan dan tidak disangka-sangka kami menemukan labib. Ya, labib! Labib adalah tokoh dari film animasi yang dibuat Marcella. Bentuknya seperti kancil, dia memiliki telinga yang lebar tetapi bertubuh manusia. Warna bajunya adalah biru dan Marcella langsung segera berfoto dengannya. Aku dan Paulina pun ikutan. Marcella sepertinya sangat senang karena dia bertemu dengan tokoh yang telah membuatnya begadang bermalam-malam membuat kartun animasi. Haha Lalu, kami pun terus menyusuri jalanan dan menemukan pantai. Bau laut itu menusuk hidungku. Namun, kami memilih untuk masuk ke salah satu bangunan yang ada di seberang pantai. Bangunan ini sepeti kastil dan terlihat tua. Di salah satu bangunan adalah museum mengenai baju-baju tradisional Tunisia. Kami masuk ke dalamnya. Aku melihat baju-baju yang lucu sekali. Bahkan ada salah satu baju yang bahannya asli dari emas! Setelah puas berfoto-foto, kami pun menyudahi tur kami di museum ini. 

Kami memutuskan menuju daerah pantai karena Wissem bilang dia akan segera sampai. Setelah cukup lama menunggu, mereka pun datang. Ada Isabella juga, yang memakai jaket berwarna putih dan celana krem. Selain itu ada Tarekh dan Nizar ikut bersama mereka. Kami menyambut mereka dengan semangat. Lalu bertanya apakah mereka sudah makan siang. Dan Wissem pun menjawab, "No, i haven't got my lunch. I got drunk last night and haven't taken anything." Matanya berkunang-kunang, aku dapat melihat kalau ini adalah mabuk yang cukup hebat untuknya. Namun, ia memang pemabuk dan selalu bangga akan hal itu. Isabella tidak berkata apa-apa, ia hanya sibuk memandangi laut yang ada di sisi kirinya. Sementara Tarekh sibuk berbincang dengan Paulina dan Marcella. Sementara Nizar diam saja, sama seperti aku. Makanan Wissem pun datang dan ia mengeluarkan uang untuk membayarnya. Aku tidak sengaja mengeluarkan uang ringgitku hanya untuk mengecek berapa uang yang kupunya. Lalu Wissem memperhatikan dan menariknya, ia dapat membaca apa yang tertera di kertas itu. "Bank..ne..ga..ra..ma..lay..sia," ia pun tersenyum. Aku kontan melihat tulisan itu. Patutlah, itu tulisan arab, pantas ia bisa membacanya. Sisa pembicaraan pun didominasi oleh Tarekh dan Wissem. Seperti biasa aku diam saja. Bahkan Tarekh sampai bilang padaku, "The silent girl.." hahaha. Aku hanya tersenyum di dalam hati. Ia tidak tahu seberapa cerewetnya aku kalau dengan teman-temanku. Setelah puas berbincang-bincang, kami pun berfoto-foto di tepi pantai. Pantainya lumayan indah tetapi tidak seindah di Bali. Kami pun menyudahi perjalanan hari ini. Di perjalanan pulang aku memikirkan mengenai kata-kata Tarekh bahwa mungkin benar kata dia, aku sudah berubah menjadi gadis pendiam. 

Aku tidak tahu jawabannya. 



Sampai besok!
Chandini