24 Januari 2011
Hari ini aku pulang. Tiga hari lalu aku sudah berbicara dengan Bapak, kalau keadaan sudah membaik aku ingin pulang minggu depan. Bapak sepertinya mengerti kondisiku. Beliau pun mengijinkanku untuk pulang. Semalam, aku sudah membereskan barang-barangku. Sungguh sedih untuk berpisah dengan wisma dan orang-orang di dalamnya. Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka akan tinggal selama ini di sini. Kamu tahu kan, ceritaku, aku hanya berpikir bahwa mungkin revolusi ini hanya akan berlangsung selama tiga hari. Alih-alih menjadi lebih dari seminggu bahkan totalnya adalah sebelas hari. Semua orang di sini sudah seperti keluargaku sendiri. Aku pasti akan merindukan mereka.
Pagi pun tiba. Aku diantar oleh Kang Dadang dan Kak Risa menuju Sfax. Kak Risa pun mengambil posisi duduk di samping Kang Dadang. Aku pun duduk di belakang. Perjalanan selama empat jam berlangsung cukup lama. Aku tertidur. Namun, di dalam tidur itu aku mendengar pembicaraan antara Kak Risa dan Kang Dadang. Kang Dadang bercerita bahwa keluarganya mempunyai usaha pesantren di kampung halaman. Kang Dadang adalah anak pertama yang baik. Ia membiayai semua kuliah adik-adiknya hingga lulus perguruan tinggi. Sementara Kak Risa.. Kak Risa tidak terlalu banyak bercerita. Aku banyak mendengar cerita Kak Risa dari Pak Rusli. Beliau bilang Kak Risa adalah anak yang patut dicontoh. Orang tuanya sudah bercerai tetapi Kak Risa tidak melakukan apa yang biasanya anak broken home lakukan. She doesn't do drugs. She doesn't go out party. Intinya, Kak Risa tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak terpengaruh lingkungan luar. Bahkan ia berhasil tembus tes masuk Departemen Luar Negeri dan sekarang bisa magang di Tunisia. Aku pun teringat semua ceritaku dengan Pak Rusli. Aku menceritakan tentang keadaanku di Sfax, tentang housemate-housemateku dan tentang keadaan di sana yang membuatku merasa tidak begitu nyaman. Aku seringkali harus berhadapan dengan housemate-ku yang suka "minum". Mungkin buat kamu hal biasa tetapi buatku yang sama sekali tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, luar biasa. Satu waktu, Marcella "memaksaku" untuk memakan Risoto buatannya. Aku sebenarnya bukan tidak ingin memakan tetapi Marcella mencampurkan wine di sana. Hal itulah yang membuatku ragu memakannya. Namun Marcella bilang alkohol dari wine akan menguap seiring dengan masaknya Risoto. Oh ya, Risoto adalah makanan khas Italia dan kami memasaknya di malam pertama curfew. Setelah kutanya pada Pak Rusli, beliau bilang kalau alkohol itu tetap saja akan tercampur. Tidak ada rumusnya kalau alkohol bisa menguap bersamaan dengan masaknya makanan. Tuh kan, benar kataku.
Tidak terasa, kami akan segera sampai. Samar-samar kulihat pemandangan Kota Sfax di balik kaca jendela. Mataku masih lelah sekali. Kulihat toko-toko itu, orang-orang yang pergi bekerja. Khas Sfax sekali. Tidak lama, kami melihat banyak orang berdemonstrasi. Mereka membawa papan dan spanduk, seperti menuntu sesuatu. Ternyata..demonstrasi belum selesai di Kota Sfax. Aku mulai was-was. Kak Risa langsung bilang, "Sudah..santai saja.." Ia tahu aku yang resah. Aku pun tersenyum. Ketika melewati Medina, Kang Dadang menyatakan bahwa KBRI sering mengadakan pertunjukan di sini. Kala summer tiba, Tia bilang padaku, KBRI sering mengadakan program keliling Tunisia untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Salah satunya pasti di Sfax, seperti yang Kang Dadang bilang tadi. "Bahkan ada yang pernah pertunjukan silat juga loh.." Kata Kang Dadang menambahkan. "Oh ya..dimana Kang?"Aku bertanya detail. "Di situ..di pelataran Medina.." kata Kang Dadang lagi."Oh ya..sebenarnya Medina itu tempat apa sih?" Aku teringat rasa penasaranku akan Medina. "Medina itu adalah pasar..pasar yang menjual banyak barang," Kang Dadang menjelaskan. "Oh..begitu," aku manggut-manggut.
Kami pun sampai di rumahku. Majida Boulila Avenue, Al Yessamine Building, Block A. Itu adalah alamat rumahku. Oh ya, kamarku di lantai lima. Tak disangka-sangka, kami berjumpa dengan Ayoub, juga Douha di lift. Mereka ternyata sedang menuju rumahku. Entah kenapa, Kak Risa menyatakan bahwa ia ingin membelikanku makanan dan susu. Aku pun pergi ke bawah bersama mereka. Bersama dengan Ayoub dan Douha juga. Di depan toko, Ayoub dan Kang Dadang mengobrol. Kang Dadang fasih berbahasa Arab. Beliau dulu studi di Cairo. Setelah puas mengobrol-ngobrol, Kang Dadang dan Kak Risa pulang. Aku mengecup pipi kakakku, Kak Risa, yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri selama masa revolusi ini. Lambaian tangan mereka kuharap bisa kutemui lagi dalam beberapa waktu ke depan.
Sesampai di rumah. Aku hanya bercanda dengan Ayoub dan Douha. Lalu tiba-tiba Paulina dan Marcella datang, mereka bertanya siapa yang mengantarku pulang. Ayoub pun menjawab, "Ulka was dropped by her friend." "Oh, a real "friend"?" Paulina menggodaku. Ia berpikir aku diantar oleh laki-laki yang mungkin adalah kekasih baruku. "No, he's just a driver!" Aku menjawab cukup ketus. "Oops..Ayoub..he's just a driver.." Paulina berkedip menatap Ayoub. "Aha..okay..okay.." Ayoub tertawa.
Besok..aku sudah harus kembali bekerja. Semoga hari-hariku menyenangkan setelah ini.
Sampai Besok!
Chandini



