28 June 2013

It is called Appreciation..

Dalam satu festival kebudayaan..

Deddy: DJ Ulka.. DJ Ulka..
Saya: Ya?
Deddy: Ini Deddy..
Saya: Oh..(membandingkan foto Deddy dan rupa aslinya) (bingung)
Deddy: Deddy..
Saya: Oh Iyaa..! Ngapain di sini?
Deddy: Saya wakil dari UKM..
Saya: Ohh..
Deddy: Hebat ya.. saya denger cerita-ceritanya..
Me: (tersenyum) (mencoba mengerti apa yang dimaksud Deddy)

(Kami masih dalam sesi foto dan sedang mengambil jepretan terakhir)

Deddy: Sukses ya jalan-jalannya..
Saya: (tersenyum lebar) Makasih Deddy..


Deddy adalah pendengar Radio PPI Dunia tempat dimana saya menjadi salah satu penyiar untuk program Jalan-jalan..


x')
Chandini




20 June 2013

Don't Try This as a PhD Student

I recommend you for not following this procedure:

(at Wan Tomyam Restaurant)

Me: Hey, Prof. Zhu how are you?
Prof Zhu: Heyy, i'm fine.
Me: Do you still remember me, Ulka, the one who asked you during your presentation in colloquium? and also email you for the slides..
Prof Zhu: Yaa..Ulka.. Oh, did you get my slides?
Me: No. Cuz even though they gave me all slides in colloquium but your slides were not there.
Prof Zhu: Oh, really? Okay, i will email it to you (Give me a piece of paper)
Me: Oh.. does it bother you?
Prof Zhu: No, don't worry.

(I'm writing my email..)
Prof Zhu: So, you don't use UUM email.
Me: Yaa, i rarely use it.
Prof Zhu: (laughing)
Me: Prof, will you be in ICOCI conference?
Prof Zhu: Yeahh..ICOCI.. why?
Me: My paper was accepted and Doctor Syamsul will present it..
Prof Zhu: Oh..why Doctor Syamsul? You should the one who present it.. We also have cut the fees and you will get 50% discount as UUM student.
Me: Oh..okay..i will ask him..
Prof Zhu: And it will be in Sarawak, Kuching..for the first time..
Me: Ya..ya..
Prof Zhu: You should go there..
Me: .. Actually i have my own reason..
Prof Zhu: Aaahh..i see..

(She is about going to go..)
Prof Zhu: Okay..now i have to have my dinner first..
Me: (shake hands) Congratulations, you are a Professor now..
Prof Zhu: Ooh..It's been ages.. it is since January..
Me: Yeah.. i just saw it..
Prof Zhu: (laughing) (Silence for a moment)
Me: See you Prof. Thank you.
Prof Zhu: Yeah, see you!

There should be a script for meeting a Professor. Or the best way is just keep silent. :|



06 June 2013

Catatan Harian Tunisia Part 9.14

31 Januari 2011

Malam ini kami pergi ke rumah Wissem. Ia sudah berjanji semalam akan membawa kami ke rumahnya. Sesampai di rumah, kami disambut dengan sekumpulan keluarga yang tengah menonton televisi. Tawa-tawa anak kecil itu mengingatkanku pada adikku. Aku merindukannya. Adikku, Angga dan Dayi, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Adik perempuan Wissem menghampiri abangnya dan mereka berbicara sesuatu. Wissem segera membawa kami ke kamarnya. Kamar Wissem terletak di dekat ruang tengah. Kamar yang cukup rapih untuk ukuran lelaki. Wissem membicarakan mengenai kamarnya yang dulu sempat ditempati salah satu trainee. Selama berbulan-bulan, trainee yang berasal dari Turki itu menempati kamar Wissem. Aku sebenarnya tidak mengerti apa maksud Wissem menyatakan hal itu kepada kami. Lalu, adik perempuan Wissem mengetuk pintu dan membawa senampan sajian untuk kami. Itu adalah teh.  Teh yang ada di dalam gelas ukuran kecil, berukuran setengah jengkal jari. Kecil. Sekali. Mungkin ini adalah gelas khas Tunisia untuk menjamu tamu. Teh yang disuguhkan adalah teh biasa, thé normal yang biasa aku minum di Baroque Cafe. 

Tidak lama kami pun keluar untuk makan malam. Aku tidak dapat menahan diriku untuk memfoto keceriaan tawa adik-adik Wissem. Ayah Wissem sedang menikmati shisha sambil menemani anak-anaknya menonton. Ibu Wissem berjalan dengan memakai tongkat penyangga. Aku tidak tahu sakit apa yang diderita Beliau namun aku sangat sedih melihatnya. Ibu Wissem segera pergi ke dapur melihat kami yang menuju arah dapur. Ternyata Ibu Wissem belum selesai memasak. Malam itu, Ibu Wissem akan memasak "Rouz Djerbi" makanan yang biasa disajikan orang Tunisia kepada tamu. Sembari itu, kami menonton televisi dan melihat revolusi yang terjadi di Egypt. Kami bertanya-tanya mengenai nasib Isabella. Tiba-tiba Wissem berseloroh, "Isabella is a revolution girl! She went to Tunisia and we had revolution. Now she is in Egypt and that made Egypt had revolution too!" Hahaha. Kami tertawa. Masakan itu pun selesai. Ya, akhirnya aku makan nasi. Aku tidak menyangka kalau yang dimasak oleh Ibu Wissem adalah nasi. "Rouz Djerbi" adalah makanan dengan nasi dan lauk daging di dalamnya seperti ayam, udang juga sayuran. Kami memamakannya dengan lahap.

Setelah kenyang, kami berpamitan dan sebelumnya, aku berfoto dulu dengan keluarga Wissem. Bukan apa-apa, mereka tidak berbicara dengan kami karena mereka tidak pandai berbahasa Inggris. Kami pun tidak bisa berbahasa Perancis, kecuali Paulina. Aku iseng-iseng menanyakan kabar mereka, "Comment  ca va?" Salah satu Ibu menjawab  "Ca va..ca va bien ..merci. Comment tu t'appelle?" Aku sempat bingung tidak tahu harus menjawab apa.   "Oh ya..Je M'appelle Ulka." Tawa pun pecah di ruangan karena aku yang terbata-bata mengucapkan bahasa Perancis. Aku sempat berfoto dengan keluarga Wissem dan setelah itu kami pun pulang. 


1 Februari 2011

Terjadi kerusuhan di depan rumahku. Sore itu, aku sedang online di chat box Radio PPI Dunia dan tiba-tiba aku mendengar suara deru motor yang membahana. Lalu sudah banyak orang berkumpul di bawah, tepat persis di depan rumahku. Orang-orang itu bertengkar, aku tidak tahu apa yang mereka seterukan. Tidak lama, terdengar letusan seperti suara bom meletus. Bom! Meledak! Aku segera mencari-cari Marcella dan Paulina. Mereka bilang tidak apa. Aku kembali diingatkan akan revolusi, momen-momen menegangkan itu. Sepertinya, negeri ini tidak akan pernah lepas dari revolusi. Hidupku tidak akan pernah tenang di Tunisia.



Sampai Jumpa,
Chandini




Catatan Harian Tunisia Part 9.13

29 Januari 2011

Sore ini kami akan pergi ke Gabes. Aku dan Paulina sedang bersiap-siap. Marcella masih berkutat dengan makan siangnya di dapur dan sembari itu Fateh, anggota lembaga pertukaran yang sering main ke rumah, berkata bahwa kalau ada apa-apa hubungi ia saja karena dulu ia sering pergi mengunjungi mantan kekasihnya yang ada di Gabes. Marcella pun pergi ke kamar. Ketika kami semua tengah menyiapkan barang-barang kami, Fateh tertawa melihat tulisan di kaos yang aku kenakan.  "I love Thailand because somebody in Thailand loves me". "Ulka, i can't imagine, you are from Indonesia, studies in Malaysia and you love Thailand!", Fateh tertawa. Aku pun meringis. Setelahnya, kami berlalu pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada Fateh. 

Perjalanan di looage cukup menyenangkan. Aku dan Marcella berfoto-foto. Tidak lama, kami pun sampai di Gabes. Hanya dua jam perjalanan dari Sfax menuju Gabes. Sesampai di sana, tidak ada siapa-siapa, maksudku orang yang bertugas menjemput kami. Marcella bilang Eduardo akan sampai dalam beberapa menit. Sembari menunggu, aku memperhatikan keadaan sekitar. Sesaat setelah turun dari looage tadi, hanya ada taksi, looage dan kendaraan umum lainnya, tidak ada stasiun di sini. Sepertinya Gabes adalah kota yang lebih kecil dari Sfax, pikirku.

Lalu, Eduardo pun datang dengan mobilnya. Kami semua langsung masuk ke dalam mobil sedan tersebut. Sungguh letih. Eduardo langsung menyapa, "How's life?" Aku tertawa mendengarnya. Dengan pekerjaan menumpuk, apa yang harus kujawab? Aku diam saja. Eduardo membawa kami ke satu kedai kecil. Ia ingin beli air minum dahulu, rupanya. Ia berkata, "Un minito" . Marcella tertawa lalu menjelaskan kepada aku dan Paulina bahwa Eduardo bilang "Satu menit." Well, ia berbicara dalam bahasa spanyol. Sepertinya aku harus siap-siap mendengar pembicaraan dalam bahasa Spanyol di mobil ini. Kemudian, kami pun sampai di rumah Eduardo. Aku sangat surprise melihatnya. Eduardo mendapatkan semua yang orang-orang inginkan. Tempat ini bukan rumah melainkan apartemen. Besar. Mewah. Luas. Bahkan ia juga mempunyai balkon yang menghadap langsung ke pantai. This is amazing! Mulutku terkatup memandang indahnya pantai. Sebenarnya tidak indah-indah amat, hanya aku yang rindu pantai. Aku pun sibuk memfoto pemandangan pantai dengan rumah di sekelilingnya.

I think everybody is busy. Aku pergi ke dapur dan melihat Paulina yang sedang memotong-motong daging. Aku ingin membantu Paulina tetapi melihat ia yang tengah khusyuk, aku takut malah jadi menganggunya. Aku memutuskan untuk melihat isi lemari Eduardo. Wah, ada Milo! Milo, susu favoritku itu! Wah, darimana ia mendapatkannya? Setahuku Milo tidak diproduksi di Tunisia. "Ulka, i bought it in Italy," Eduardo melihatku tatapan mataku yang berbinar-binar memandang kaleng susu tersebut.

"Great! Can i open it?" 
"Sure."

Aku berlari mengambil gelas dan menuangkan bubuk susu cokelat tersebut. Ini pasti sangat lezat. Aku membayangkan kalau Milo ini sudah masak, aku akan meminumnya sampai tetes terakhir. Kawan, aku bukan berlebihan. Hal ini wajar karena asal kamu tahu sewaktu aku di rumah dan pindah kuliah pun aku tetap minum Milo setiap hari.  Seperti ada yang hilang kalau tidak meminumnya barang sehari saja. "You know, in my country, i can buy it anytime i want," Kataku sambil meneguk Milo-ku yang sudah masak. "In Indonesia? Oh ya, you know, Ulka, i have a good friend from Indonesia." 

"Really?"
"Yeah. He is a really really good friend."
How did you meet him?
"During my master in Paris. " 
"So, you have to come to Indonesia!"

Aku menyuruh Eduardo untuk datang ke Indonesia karena ia mempunyai Sahabat yang berasal dari Indonesia. Sebelum pesta dimulai, kawan Eduardo datang, namanya Pierre. Ia membawa satu botol alkohol yang berasal dari Perancis. Oh ya, malam itu kami pesta alkohol. Aku tidak minum hanya kalap memfoto cover art dari minuman-minuman tersebut. Ada Havana Club, wine yang aku tidak tahu namanya, beer dari Perancis dan yang sangat tidak disangka-sangka adalah Zubrowka dari Polandia. Vodka ini terkenal karena lidi dari banteng yang terdapat di dalam botolnya. Eduardo langsung memanggil Paulina untuk memperlihatkan vodka ini. Paulina cukup kaget begitu tahu vodka dari negaranya ada di sini. Seperti yang bisa kamu tebak, aku menghabiskan malam itu dengan minuman. Ya, minuman yang aku buat sendiri. Aku tidak mau diejek anak cupu atau chicken karena aku tidak bisa minum. Akhirnya, kamu tahu apa yang aku buat? Aku membuat ramuan sendiri. Aku mencampur coca cola, sprite dan boga menjadi satu. Entah apa kata mereka, yang penting aku mempunyai minumanku sendiri. 

Kami semua sedang berkumpul di luar ketika aku sedang menggunakan kamar mandi untuk beberapa waktu. Aku pun kembali dan melihat kumpulan daging sosis di atas meja. Tanpa pikir panjang, aku segera memakannya. Ketika aku bilang pada mereka ini enak, mereka tertawa. "Why you guys are laughing?" aku bingung. Akhirnya Eduardo menyatakan kalau sosis itu berasal dari daging babi. Kontan, aku tidak jadi tertawa. Mulutku terkatup. Sosis itu tampak enak sekali. Aku harus mewaspadai makanan yang ada di rumah ini. Minuman pun dibuka, saatnya pesta dimulai. Aku spontan langsung mengambil minumanku yang ada di dalam. Aku takut sekali gelasku tertukar dan aku pun menaruhnya di ujung. Malam itu sungguh indah. Kami bernyanyi dan berdansa bersama. Aku berdansa dengan Pierre. Oh ya, kalau kamu mau tahu Pierre berasal dari Amiens, Perancis. Ya, teman Eduardo memang banyak dari negeri Perancis karena perusahaan tempat ia bekerja adalah berpusat di Paris, Perancis. Tadi pun Eduardo sempat bilang bahwa ia mempunyai teman Perancis yang beristri orang Indonesia. Sayang, istri kawannya itu sedang sakit jadi mereka tidak bisa datang ke party

Well, kalau kamu mau bayangkan, Kami duduk di meja yang menghadap ke balkon. Musik yang diputar berasal dari ruang tamu Eduardo yang bersebelahan dengan balkon. Ada jendela sebagai penghubungnya. Ketika Shakira beryanyi, "Waka-waka", kami pun segera naik ke atas keramik kursi dan beryanyi lagu world cup itu. Frase "It's time for Africa" kami nyanyikan kuat-kuat karena kami merasa beruntung berada di sini. Aku berdansa malam itu. Meski aku tidak percaya diri karena aku memang tidak pernah berdansa sebelum ini. Aku pun berdandan ala anak breakdance dengan jacket dan sepatu converse. Aku naikkan hoody-ku dan hal itu menarik perhatian Matthew, salah satu teman Eduardo. Oh ya, ada tiga orang teman Eduardo yang ikut berpesta bersama kami. Pierre, Matthew dan Thibau, ketiga orang tersebut berasal dari Perancis.  Matthewlah yang paling menarik perhatian dari ketiganya. Dari awal ia datang, aku memekik dalam hati, "Lucu sekali!" Ya, cute, karena memang tidak ganteng tetapi menarik. Ia memperhatikanku karena aku memang tidak bisa berdansa dan aku tidak minum. "Where is your glass?" Matthew bertanya. Aku tidak mau menjawab kalau aku tidak boleh minum,"Yeah, i'm done," kataku. Semoga ia mengerti maksudnya kalau aku memang sudah selesai minum, begitu kira-kira. Matthew pun malu untuk bertanya. 

Aku melanjutkan dansaku dengan Pierre. Aku sebenarnya gelagapan berdansa dengannya. Aku tidak tahu maksud Pierre mengapa ia ingin berdansa denganku. Bahkan ia sempat mengangkat tinggi-tinggi badanku. Eduardo juga berdansa dengan Marcella. Ia memegang pinggang Marcella erat-erat. Dansa di Colombia adalah hal biasa, pastinya. Teman-teman Eduardo pun menyoraki Marcella dan Eduardo yang tengah berdansa. Eduardo berkata sesuatu dalam bahasa Perancis kepada teman-temannya sembari berdansa dengan Marcella. Aku tidak tahu apa yang ia katakan.  Sebelum pesta berakhir, Matthew mengobrol dengan kami lebih tepatnya Paulina. Ia bertanya nama Paulina, "What is your name?" Aku bingung. Paulina pun menjawab bahwa nama lengkapnya adalah Paulina Jurkowska. Matthew dengan senyum menjawab, "Okay, it will be a test for tomorrow." Aku semakin tidak mengerti. Aku mencoba mengerti maksudnya dan mengambil kesimpulan karena mereka mabuk pasti mereka akan lupa hal semalam itulah kenapa nama itu dijadikan tes untuk siapa yang masih bisa mengingatnya.

Sesudah itu, aku pun meneguk "ramuan terakhirku" dan duduk di sofa. Aku ingin online dengan Febrian. Once, aku muncul di messenger, aku langsung menceritakan semuanya kepada Febrian. Ia pun memarahiku. Ia bilang aku sudah berubah. Ia bertanya aku minum apa dan berdansa dengan siapa. Aku lelah. Febrian selalu seperti ini. Ia tidak pernah mengerti kondisiku. Ia tetap mengulang-ulang, ia bilang dulu aku tidak pernah minum dan pesta. Aku tidak pernah sebrutal ini. Aku pun menjelaskan kalau aku tidak punya pilihan. Mereka adalah satu-satunya teman yang aku punya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Selama aku tidak minum alkohol, menurutku itu sah-sah saja. Lagipula Allah juga pasti mengerti, kalau aku hanya melakukan hal ini selama aku di Tunisia. Tidak mungkin kan, semua temanku berpesta dan aku hanya seorang diri di kamar. Mereka pasti bingung dan menanyakan apa yang tengah terjadi denganku. 

Semoga Febrian mengerti. Kepalaku pusing. Perutku pun sakit. Apakah karena "ramuan" itu ya?


30 Januari 2011

Aku bangun paling awal. Rumah Eduardo berantakan seperti kapal pecah. Sampah bekas minuman dan makanan tersebar di seluruh ruangan. Di dalam dan di luar rumah. Aku menuju keluar dan melihat pemandangan yang sama persis sebelum aku meninggalkan tempat itu semalam. Tentunya lebih banyak sampah karena pesta sudah selesai. Kalau kau melihat rumah setelah party seperti yang ada di film-film, ya itulah rumah Eduardo sekarang. Aku membereskan sampah -sampah yang ada di dalam dan luar rumah. Di luar cukup dingin, wajar, masih jam delapan pagi. Apalagi rumah Eduardo terletak di tepi pantai. Tidak lama, Marcella dan Eduardo pun bangun. Mereka ikut membantu membereskan sampah-sampah karena melihat tumpukan sampah  yang begitu banyak. "When will the cleaning lady come?" tanya Marcella. "Maybe tomorrow," Eduardo menjawab sekenanya. Lalu, Marcella dan Eduardo pun memasak areepa, makanan khas Colombia. Menu makanan yang biasa disantap di pagi hari. It's a bacon. Aku tidak tahu apa itu bacon sampai Eduardo bilang padaku kalau aku tidak bisa memakannya. Baiklah, aku akan sarapan omelet saja. Entah kenapa, pembicaraan pun beralih ke hubunganku dengan orang-orang Indonesia. Marcella bilang, "Ulka, you are very close to them, right?" kata Marcella sambil mengaduk-aduk adonan areepa. Aku menjawab, "Yaa, they're like my family." Eduardo pun menyambung pembicaraan "Yes, when i was in Paris, Indonesians are close to each other. You have like..every two weeks an Indonesian event." Eduardo berbicara sambil mencolek-colek adonan susu areepa ke dalam mulutnya. Marcella pun memarahi dan mengambil jari telunjuk Eduardo dari panci. Aku lucu melihat mereka. Dan mereka berkata-kata dalam bahasa Spanyol.  

Paulina bangun. Oh tidak, ia masih dalam suasana hang over. Paulina mabuk berat karena party semalam. Aku tidak tahu apa sebabnya tetapi ia masih mabuk sampai detik ini. Marcella memberikannya segelas coke dan itu tidak ampuh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Paulina. Namun, kami tidak bisa membuang-buang waktu. Kami akan segera pergi ke desert lalu pulang ke Sfax. Eduardo pun menyalakan mobilnya dan kami pergi menuju desert. 

Di perjalanan, setiap lima belas menit, Paulina selalu bilang, "I'm afraid we should stop." Ia pun membuang dahaknya. Paulina berkata bahwa mabuk kali ini adalah mabuk terberat yang ia alami sejak malam tahun baru dua tahun yang lalu. She can't get over it. I can see it from her face. Badannya terlihat lemas dan ia selalu merasa mual. Oh ya, sepertinya suasana revolusi masih terasa, Eduardo diminta kartu pengenal di tengah jalan. Ada polisi yang menanyakan hal itu padanya. Eduardo sudah menyiapkan kartu identitas pekerja ia di Alstom Company. Ia pun lolos dari pemeriksaan. Kawan, suasana di sekitarku saat itu, hanyalah desert. Literally, desert. There's no house or even animal. Just desert. Sampailah kami di satu tempat, ada restoran dan tenda-tenda. Seperti tempat bersenang-senang di dekat gurun. Eduardo bilang, ini adalah tempat peminjaman motor cross. Kamu tahu kan, semacam mobil kecil yang bisa dipakai untuk berkeliling di gurun. Ya, mereka menyewakan alat itu. Aku tidak tahu berapa perj-amnya namun aku juga sedang tidak berminat karena suasana masih musim dingin.

Karena lapar, aku meminta Eduardo untuk membelikanku makanan. Sayangnya, restoran di siini sedang tidak menjual makanann, yang mereka jual hanya chips dan minuman. Bolehlah, chips untuk pengganjal. Eduardo membeli empat chips untuk kami. Ia berkata dalam Perancis,"Quatre..." Eduardo pandai berbahasa Perancis. Pantas, ia melanjutkan studi master di salah satu kota teromantis di dunia itu. Kami pun bersenda gurai sambil menikmati chips. Kami tertawa-tawa mencoa menghibur Paulina yang sedang hang over. Lalu Eduardo berkata, "It's like when i was trying my first alcohol at 18 years old. It was sucks ..but i want to have it more." Kami pun tertawa.

Perjalanan pulang ditutup dengan aku yang sangat ingin berfoto dengan unta. Ada unta di tengah jalan. Iya, di tengah gurun. Aku ingin sekali berfoto tetapi aku melihat unta itu sedang mengeluarkan air liur. Aku yang tadi ingin berfoto pun mengurungkan niatku. Eduardo pun menyetop mobil dan menyuruhku untuk berfoto. Aku turun tetapi aku tidak berani mendekat kepada unta tersebut. Akhirnya aku mencoba memberanikan diri dan mengambil posisi di sebelah unta. Klik! Marcella pun mengambil fotoku.

Malamnya, kami sampai di rumah. Ada Wissem dan Nizar di ruang besar. Marcella bilang kalau kami habis saja party di rumah teman kami. Wissem kaget ketika ia tahu kalau aku minum alkohol. Ia pun bertanya, "Ulka, you had party? Was it amazing? Don't forget to wash your hair and body." "Yeah, it was amazing!" Aku tersenyum-senyum dan pergi berlari. Wissem tidak tahu kalau aku minum ramuanku sendiri.

Marcella bilang kalau Eduardo menyukaiku. Ia bilang, "Ulka likes caricatura.." Caricatura adalah bahasa spanyol yang artinya tokoh kartun. Aku juga menyukai Eduardo. Ia adalah lelaki pertama yang membuatku senang di weekend-ku yang juga paling menyenangkan di Tunisia.



Chandini



03 June 2013

Catatan Harian Tunisia Part 9.12.2

28 Januari 2011

Monica, bakal calon rommate-ku mengadd-ku di Buku Muka. Dia berasal dari Canada. Namun, namanya tertulis dalam bahasa Arab. Apakah ia seorang muslim? Itu masih merupakan misteri. 

Seperti kata Chrisye, "Badai pasti berlalu", aku sangat berharap revolusi kemarin bisa mendatangkan banyak pelajaran untuk Tunisia. Aku berharap akan ada cahaya baru datang yang bisa membuat Tunisia menjadi negara yang lebih baik. Bu Giri menanyakan kabarku dan kubilang kalau keadaan di Sfax sudah cukup aman. Hanya di beberapa titik tertentu masih terlihat demonstrasi. Di Tunis pun begitu, Bu Giri bilang bahwa daerah seperti La Kasbah, Habibi Bourgiba dan kota pun masih banyak masyarakat yang melakukan demonstrasi. Bu Giri juga menyatakan pesan padaku bahwa aku harus berjaga-jaga kalau sesuatu terjadi. Lebih baik aku menyiapkan satu tas khusus paspor dan dokumen penting yang bisa segera kubawa pergi dalam keadaan genting. Aku segera mencatat pesan penting Bu Giri tersebut. 

Akhir-akhir ini, aku sedang mengagumi satu musisi yang bisa menciptakan musik-musik instrumental. Ia jago menciptakan cover-cover dari lagu Disney. Namanya Pogo. Asalnya dari Adelaide, Australia. Selain itu, ia juga membuat sendiri video klip  dari lagu-lagu ciptannya dan baru saja tadi aku melihat artwork ciptaannya. Sungguh, multitalented.  

Sayang sekali, keadaan masih gawat. Sudah pasti, aku tidak bisa ke Tunis besok. Padahal aku sangat ingin merayakan ulang tahun Fitri di rumahnya. Alih-alih, Marcella mengusulkan untuk pergi ke rumah temannya di Gabes.

Oh ya, aku memfoto pemandangan kota Sfax sore ini. Sunset adalah pemandangan tiada akhir buatku. Aku segera mengklik tombol capture di handphone-ku.



Sampai jumpa!
Chandini


02 June 2013

Catatan Harian Tunisia Part 9.12.1


#NowPlaying A Match Made in Heaven  

27 Januari 2011

Tidak terasa revolusi sudah berlalu. I mean, it is not over yet. Namun, tinggal di wisma, memakan makanan Indonesia setiap harinya, membaca berita, bergaul dengan TKW, terkatung-katung dalam keadaan yang tidak jelas, seringkali panik, aku merindukannya. Aku merindukannya. Revolusi yang sudah membuat semua mata dunia tertuju pada Tunisia itu sudah (belum) berakhir. Revolusi yang selalu sukses menganggu tidur malamku itu, sudah cukup pulih. 

Tentang pekerjaan, aku masih belum berubah. Aku masih belum bisa menahan diri dari godaan mengakses Buku Muka, provoke-online.com, kompas.com, ketika bekerja. Kadang aku juga membuka email, which is, berhubungan dengan pekerjaanku di Radio PPI Dunia. Kamu tahu kan, aku bekerja di Radio PPI Dunia. Aku adalah kru tim program. Dan pekerjaanku banyak sekali ditambah karena dua partnerku sedang cuti. Terpaksa aku yang mengerjakan semuanya seorang diri. Namun, ada berita baru, satu email menyatakan, RRI (Radio Republik Indonesia) meminta kerjasama dengan radioku. Aku pun mendengarkan podcast Mimo, temanku, tentang tuntutan revolusi di Mesir, negara tempat ia berkuliah. Bagaimana kalau aku membuat podcast untuk Tunisia? Menarik.

Saatnya untuk makan siang. Oh tidak, sebelum makan siang, aku sudah melakukan "rekreasi" tersendiri yaitu foto-foto di kamar mandi. Aku merasa cukup manis hari ini, tidak apa kan menghargai diri sendiri dengan foto-foto? Setelahnya, aku langsung membeli sandwich di restoran yang biasa aku kunjungi. 

They are still alive! Ya, restoran yang biasa kukunjungi sebelum masa revolusi ini masih berfungsi normal seperti biasa. Aku tidak bisa menghabiskan waktu banyak-banyak di sana karena aku harus segera kembali bekerja. Di tengah semangat yang membuncah, aku melihat email  yang baru saja dikirimkan Bapak. Email itu berisi motivational quote yang biasanya Bapak kirimkan padaku, "There's always a way - if you're commited", begitu pesannya. Aku tertohok. Aku belum menyelesaikan proposalku. Juga pekerjaan ini. Aku memang malas. Aku pun segera kembali ke pekerjaanku. Selain itu, Bapak juga bertanya bagaimana pekerjaanku dan makananku. Pertanyaan yang paling lucu adalah tentang hubunganku dengan rekan kerja. Maksudku yang lucu adalah jawabannya karena aku di sini tidak mempunyai rekan kerja. Habis, aku sendiri di ruangan. Hanya ada dua bos dan satu staf keuangan di ruang lain. Simply, i can't talk to anybody.

Hari ini cukup menarik, banyak berita baru. Aku juga lebih bisa menghargai diriku sendiri. 

Kecup!

Sampai besok,
Chandini



Catatan Harian Tunisia Part 9.11 #TunisiaStory


25 Januari 2011

Aku kembali bekerja. Entah, aku tidak rindu-rindu amat dengan perusahaanku. Yassine hanya bertanya pertanyaan basa-basi yaitu kemana aku selama revolusi. Sepertinya ia tidak begitu khawatir padaku. Mungkin karena ia tahu selama revolusi aku berada di rumah Duta Besar Indonesia. Perusahaanku, tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Mulai dari perabotannya hingga tata letak kursi. Mungkin yang berubah hanyalah persepsi dan pandangan orang tentang perusahaan ini. Yassine bilang, semua baik-baik saja. Kantor sudah kembali beroperasi sejak minggu lalu. Hanya memang, kita harus cepat sebelum perusahaan ini bangkrut. Ekonomi di Tunisia sedang jatuh dikarenakan revolusi masih membara. Aku pun mengatup mulut dan segera kembali ke laptopku.  Yassine juga bilang, orang-orang yang berdemonstrasi itu dikarenakan mereka menuntut untuk pembersihan orang-orang di dalam pemerintahan. Mereka tidak mau orang yang mendukung pemerintahan Ben Ali dulu ikut masuk dalam pemerintahan sekarang.

Selebihnya, aku hanya sibuk di Buku Muka. Atau merutuki kenapa di Tunisia tidak ada konser musik seperti Jakarta yang sedang heboh didatangi musisi-musisi internasional papan atas. Atau aku hanya sibuk membolak-balik halaman travel di kompas.com. Sungguh senang, pekerjaan tidak terasa membosankan. 

Seperti biasa, aku pun pulang dengan total lama perjalanan 45 menit  dari kantor menuju rumah.


26 Januari 2011

Kami berjanji untuk bertemu Douha setelah pulang kerja. Aku dan Paulina bertemu di pintu Medina. Kamu masih ingat kan Medina yang aku kunjungi dengan Isa? Ya, tempat yang sama. Douha membawa kami ke satu cafe di roof top. Sungguh indah. Dari atas kita bisa melihat pemandangan seluruh Kota Sfax. Aku memperhatikan bangunan putih di depanku. Bentuknya rapih seperti bangunan kantor pemerintahan dengan banyak jendela dan terlalu biasa saja. Namun, tetap menarik. Di sebelahnya ada pertokoan, aku bisa melihatnya dari banyak orang yang berjualan. Paulina, Marcella dan Douha sedang asik mengobrol di seberang sana. Mereka juga menyantap teh hangat. Sebenarnya cafe ini biasa saja, yang membuatnya  luar biasa adalah unsur tradisional yang ia punya. Bayangkan, cafe ini tidak beratapkan genteng melainkan hanya kumpulan kayu-kayu yang bersatu menutupi besi yang merupakan tiang untuk tempat kami duduk. Jadi kami hanya dilindungi tiang dari besi. Lalu tempat duduknya juga biasa saja, tradisional sekali. Hanya meja dan kursi berwarna biru yang diselingi warna putih. Ditambah di atas meja ada taplak meja berunsur Tunisia dengan garis horizontal merah dan putih. Yang paling unggul dari cafe ini adalah letaknya yang di atas bangunan. Orang-orang ke sini biasanya untuk mengobrol santai. Kami pun mengobrol tentang revolusi Tunisia. Douha sepertinya pintar politik. Ia cukup fasih membicarakan nama-nama yang ada di revolusi Tunisia. Karena angin kencang, kami pun memutuskan untuk pulang. Douha ikut pulang bersama kami. 

Ketika sampai di rumah, keadaan sudah ramai. Banyak panitia lembaga pertukaran di sana. Lalu Douha pergi ke kamarku karena ia malas bertemu dengan salah satu panitia di ruang besar. Tiba-tiba, ia melihat botol wine yang dipakai untuk tempat lilin di atas balkon jendela dan berseru "Ulka, how can you pray here?" "Oh yes, why?" Aku melihat botol wine di tangan Douha  "Of course, because of this!" Douha pun membuang botol itu. Oh ya, aku tidak tahu kalau selama ini botol wine itu bisa membuat solatku menjadi tidak sah. Kukira botol itu sudah beralih fungsi sejadi-jadinya menjadi tempat lilin. 

Hari ini tidak begitu spesial. Biasa saja. 


See ya!

♥ 
Chandini



Overall, #30HariMenulis3...

Akhirnya, #30HariMenulis3 saya selesai. Bagaimana #30HariMenulis3 ini? Well, saya cukup senang bisa terus-menerus menulis selama 25+1 hari. Ditambah satu hari karena seharusnya ini adalah project #31HariMenulis. Tahu kan, bulan Mei mempunyai 31 hari? xD~

Anyway, empat hari yang terkalahkan itu adalah karena saya sibuk dengan satu event: #POSPIM2013. Sementara satu harinya lagi adalah karena saya tidak tahu harus menulis apa. Apapun alasannya, saya bangga bisa menyelesaikan #30HariMenulis3 ini. Hal itu dikarenakan performa saya di #30HariMenulis3 ini JAUH lebih baik dibandingan dengan #30HariMenulis dan #30HariMenulis2. Di dua project menulis tersebut, saya terlalu leha-leha sehingga menyebabkan saya tidak berhasil konsisten menulis selama 30 hari berturut-turut. Lalu bagaimana caranya agar bisa konsisten menulis? Caranya adalah temukan topik yang ingin Anda tulis. Misal, di #30HariMenulis3 ini saya sudah berjanji untuk menulis mengenai cerita-cerita Tunisia saya. Selain itu, Anda juga bisa menulis mengenai hari Anda. Tulislah hal menarik yang Anda alami di hari itu. Cobalah untuk jeli dan melihat hari Anda dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan karena pandai menulis yang bisa membuat saya menyelesaikan #30HariMenulis3 ini melainkan karena  usaha dan kecintaan saya akan dunia tulis menulislah yang membuat saya ingin terus menulis Sebenarnya cinta saja tidak cukup, itu semua harus didukung oleh kedisiplinan dan usaha yang terus menerus. Anyway, buat yang ingin mencoba #30HariMenulis, semoga sukses ya!