My feeling is always true. It's just me who never follows it.
25 January 2013
Dunia Rainbow
A birthday present for Farisa Novia..
Ini adalah sebuah kisah indah dari seorang Rainbow..
Dahulu kala, hiduplah seorang kurcaci bernama Rainbow. Rainbow adalah kurcaci yang baik hati dan ceria. Ia selalu menyapa kurcaci-kurcaci lain yang dijumpainya setiap pagi.
Di hutan belantara, Rainbow tinggal bersama keenam orang kawannya. Rainbow sangat sayang dengan mereka. Mereka hidup bahagia dan damai.
Keenam kawannya itu adalah Cloudy, Starla, Moony, Sunnea, Thanda dan Rinai. Tak jarang ada konflik di dalam hubungan mereka. Cloudy yang suka memerintah Rainbow, Starla yang juga suka menekan dirinya, dan perlakuan kawan-kawannya yang lain.
Rainbow menghornati kawan-kawannya. Ia selalu berusaha menuruti perkataan mereka.
Sampai pada suatu hari.. Rainbow bertemu dengan kurcaci dari negeri seberang. Mereka bertatap-tatapan. Getar-getir cinta mewarnai udara. Mereka pun saling berhubungan satu sama lain.
Rainbow sangat mencintai kurcaci ini. Ia selalu memasakkannya makanan sebelum pergi berangkat bekerja di hutan. Mereka biasa bertemu di jam makan siang. Rainbow dan Rian menikmati masa berdua.
Sementara itu, kawan-kawannya geram dengan kelakuan Rainbow.
Cloudy benci dengan kelakuan Rainbow yang sering tidak mengacuhkan kamar. Ia marah dan ingin menghukum Rainbow. Starla geram dengan pekerjaan sekolah Rainbow yang jarang ia kerjakan. Rainbow tidak pernah cocok dengan mereka berdua.
Rainbow seringkali dimarahi Cloudy karena tidak merapikan kamar sebelum berpergian. "Tolong ya, bersihkan, Rainbow!" Rainbow sangat sedih namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Starla merongrong Rainbow dengan pekerjaan sekolah yang tidak pernah ia kerjakan. "Rainbow..kerjakan pe-er mu ini!" "Iya, La..", katanya lagi. Walaupun begitu, Rainbow tidak pernah menolak bila disuruh.
Kekasih Rainbow selalu menghiburnya. "Mereka sangat menyanyangimu..oleh sebab itulah mereka berlaku begitu padamu.." Rainbow sangat mencintai Rian. Namun, perjalanan cinta mereka tidaklah mulus. Rian seringkali tidak begitu peduli pada Rainbow. Padahal Rainbow sangat ingin dipedulikan.
Rainbow terkadang menangis seorang diri di tepi danau dengan hanya bertemankan gemericik air di danau yang sunyi.
Rainbow pulang ke rumah dan mendapati Sunnea dan Thanda ada di sana. Rainbow menceritakan semua kisahnya pada mereka. Mereka mendengarkan dengan seksama. Ia juga senang bercerita dengan Rinai yang sering tidak ada di rumah karena tempat bekerja Rinai yang cukup jauh. Setelah bercerita, Rainbow, Thanda, Sunnea dan Rinai pun saling berpelukan.
Sebenarnya Cloudy sangat menyanyangi Rainbow. Ia ingin mendidik Rainbow dengan lebih tegas. Jauh di dalam lubuk hati ia menganggap Rainbow seperti adiknya sendiri. Sementara Starla sangat ingin Rainbow maju dalam pelajaran sekolahnya. Ia ingin Rainbow tampil di kelas.
Rainbow jauh lebih sering bermain dengan Sunnea dan Thanda. Mereka sangat mengerti Rainbow walaupun terkadang Rainbow tersakiti oleh kata-kata Thanda. Rainbow pun menyanyangi mereka seperti dirinya sendiri.
Sampai pada akhirnya..Starla meminta maaf atas perlakuannya selama ini. Begitu juga dengan Cloudy.
Rian pun berjanji untuk mencintainya selamanya.
Rainbow mencintai hidupnya. Ia bersenda gurau dengan kawan-kawannya. Ia menatap matahari yang begitu cerah.
"Kamu tahu kenapa kami begitu mencintaimu?"
"Karena kamu seperti Rainbow.."
Ya, Rainbow telah menjelma menjadi "rainbow" bagi orang-orang di sekitarnya.
Selamat ulang tahun rainbow-ku, rainbow-mu dan rainbow kami semua..
semoga sehat selalu
x)
Love,
Chandini
20 January 2013
Tidak Ada Kata Selain Bersyukur
Gue nggak nyangka. Gue baru aja kecelakaan. Motor itu meniban gue. Gue nggak tahu kalo dilihat dari posisi jatuh mungkin gue udah layaknya pingsan atau meninggal. Tetapi gue berusaha keras untuk merangsek maju. Gue lepas helm dan keluar dari tibanan motor itu. Gue memanggil-manggil orang untuk minta tolong. Seorang lewat tetapi ia tidak mengindahkannya. Orang kedua berhasil mendengar lolongan gue. Gue diangkat dari tempat tinggi dimana gue jatuh. Dan gue dibawa ke klinik. Rasanya seluruh badan gue patah. Gue sama sekali nggak bisa gerak. But, gue memaksakan diri untuk jalan. Gue dicuci luka oleh seorang dokter jaga. Di sana gue nggak bisa mikir apa-apa lagi.
Feeling gue bilang kalo gue lewat jalan pintas saja tetapi logika gue tidak mengindahkan hal itu. Gue memilih untuk ikut jalur yang sudah ditentukan. Dan terjadilah kecelakaan itu. Gue yang baru aja ketemu dan ngobrol sama temen gue beberapa menit yang lalu tiba-tiba udah terkapar tak berdaya. Gue yang sebelumnya bisa berjalan dengan sehat, sekarang harus berjalan terseok-seok. Gue yang sebelumnya bisa melakukan apa saja tanpa rasa sakit, sekarang harus menahan setiap ngilu ketika bergerak.
But, gue masih bersyukur. Gue masih dikasih kesempatan untuk melihat. Gue masih bisa makan walaupun pipi gue susah digerakkan. Gue masih bisa tersenyum walaupun bibir gue nggak sesehat dulu. Gue masih bisa berdoa sama Allah SWT walaupun sambil tidur ataupun duduk.
Manusia, bersyukurlah. Karena kita sama sekali nggak tahu apa yang terjadi di depan kita.
Feeling gue bilang kalo gue lewat jalan pintas saja tetapi logika gue tidak mengindahkan hal itu. Gue memilih untuk ikut jalur yang sudah ditentukan. Dan terjadilah kecelakaan itu. Gue yang baru aja ketemu dan ngobrol sama temen gue beberapa menit yang lalu tiba-tiba udah terkapar tak berdaya. Gue yang sebelumnya bisa berjalan dengan sehat, sekarang harus berjalan terseok-seok. Gue yang sebelumnya bisa melakukan apa saja tanpa rasa sakit, sekarang harus menahan setiap ngilu ketika bergerak.
But, gue masih bersyukur. Gue masih dikasih kesempatan untuk melihat. Gue masih bisa makan walaupun pipi gue susah digerakkan. Gue masih bisa tersenyum walaupun bibir gue nggak sesehat dulu. Gue masih bisa berdoa sama Allah SWT walaupun sambil tidur ataupun duduk.
Manusia, bersyukurlah. Karena kita sama sekali nggak tahu apa yang terjadi di depan kita.
16 January 2013
Quote of The Day
"Don't take life too
hard. If you're easy with your life then life would be easy on you. If you take
life too serious then life would be so serious."
- Dian Sastrowardoyo
12 January 2013
Have You Appreciated Your TIME?
Sebuah email dari Bapak yang dikirim oleh temannya.
_____________________________________________
From: Agus Suntarya
Sent: Friday, May 16, 2008 4:50 PM
Subject: WAKTU = KEHIDUPAN
From: Agus Suntarya
Sent: Friday, May 16, 2008 4:50 PM
Subject: WAKTU = KEHIDUPAN
WAKTU = KEHIDUPAN
Time = Life.
Therefore, waste your time and waste of your life, or master your time and master
your life.” (Alan Lakein)
Membaca tulisan di
atas, aku teringat banyak hal. Gambar-gambar berkelebat. Ada
gambar salah seorang peserta pelatihan yang berujar : “Tenang aja Mas.
Kita lihat nanti. Biasa jagoan kalah duluan. Masih ada permainan dan lomba
berikutnya”, begitu komentar yang sering ia ungkap pada pertemuan malam,
saat kami mengkaji kegiatan di siang harinya. Berulang kali, hampir tiap malam
ia sampaikan itu, hingga akhirnya kegiatan selesai dan ia tak pernah merasakan
kemenangan yang ia impikan. Merasa masih ada waktunamun tidak merubah diri,
maka hasil yang didapatpun akan tetap sama !
Aku juga teringat diskusi panjang dengan seorang kawan. Kami membahas masa depan dan nasib orang-orang yang sudah berumur. Mengapa banyak orang tua sepuh ini yang sering terlihat menangis. ”Ya karena mereka gak punya kerjaan lain, alias tidak bisa beraktivitas lain. Akibatnya waktunya habis untuk merenung dan memikirkan masa lalu. Setiap teringat masa lalu, mereka menyesal dan akhirnya menangis. Mereka menangis karena momen itu sudah lewat. There’s nothing they can do anymore. Gak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang. Sudah lewat”, begitu kami sepakat.
Aku juga teringat diskusi panjang dengan seorang kawan. Kami membahas masa depan dan nasib orang-orang yang sudah berumur. Mengapa banyak orang tua sepuh ini yang sering terlihat menangis. ”Ya karena mereka gak punya kerjaan lain, alias tidak bisa beraktivitas lain. Akibatnya waktunya habis untuk merenung dan memikirkan masa lalu. Setiap teringat masa lalu, mereka menyesal dan akhirnya menangis. Mereka menangis karena momen itu sudah lewat. There’s nothing they can do anymore. Gak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang. Sudah lewat”, begitu kami sepakat.
Wajah-wajah
sejumlah manager tiba-tiba hadir lekat di depan mataku. Wajah
dengan tatapan kosong saat aku bertanya perubahan apa yang sudah mereka lakukan
buat hidup mereka. “Apa bedanya Bapak dan Ibu hari ini dengan lima tahun lalu,
dengan sepuluh tahun lalu ?”. Aku berharap wajah kosong itu adalah ekspresi
usaha keras mereka untuk menelusur ulang ke belakang dan menemukan gambar masa
lalu. Aku beri mereka waktu untuk berpikir. Namun rupanya bukan itu yang
terjadi. Sebagian mereka memang bingung, tak tahu apa bedanya mereka hari
itu dengan bertahun lalu. Yang pasti, waktu lalu sudah berlalu. Kini usia menua
dan tak banyak yang sudah diperbuat dan dicapai.
Lalu aku menghela
nafas. Ku lihat diriku. Ku bertanya pada yang terdalam. Haaaaah, banyak
pekerjaan rumah yang menunggu dituntaskan. Kosong merayap. Namun syukur masih
ku ucap. Mendapat reminder, pengingat macam ini membuatku sungguh bersyukur. Paling sedikit
aku disadarkan untuk berhenti sejenak. Melihat lebih seksama. Mengkaji lebih
dalam dan bertanya ulang apakah aku sudah memanfaatkan waktu dengan benar.
Waktu adalah kehidupan
kita sendiri. Memanfaatkan waktu berarti memanfaatkan kesempatan hidup yang
dipercayakan oleh Sang Maha. “ Memberi makna di waktu yang tersedia adalah cara
untuk menjalani hidup yang bermakna”, begitu ujar seorang kawan yang lain.
Ku baca lagi,
berulang, dengan sepenuh hati banyak tanya tentang waktu. Benar, ini adalah
waktu kehidupan kita. Persoalannya adalah seberapa sering aku berhenti dan
merenungi banyak momen yang bisa jadi lewat begitu saja ? Lalu sejauh mana aku
sungguh menghargai waktu yang ada ? Apakah aku menghargainya bak hadiah
bermakna ? Atau sekedar membiarkannya berulang setiap hari, tak ada beda dengan
hari lalu, tidak diperhatikan, tidak mengapresiasinya, bahkan tidak
memanfaatkannya ?
Benar, aku setuju
bahwa banyak dari kita yang jarang sekali menyediakan diri untuk berhenti
sejenak, lalu bertanya pada apakah kita sudah melakukan hal yang benar
sepanjang hari. Tanpa refleksi sederhana seperti ini, maka sungguh kita
tak pernah tahu apakah waktu yang ada memang memberi manfaat bagi kita.
Benar, aku juga sepakat bahwa tanpa
kesadaran akan waktu, tanpa waktu untuk refleksi, akan membawa kita pada
kehidupan yang tidak kita sadari. Alhasil, keseharian kita banyak diatur
oleh orang lain, oleh kebiasaan-kebiasaan (buruk) kita, oleh respon-respon
impulsif kita, bahkan oleh keyakinan-keyakinan kita yang negatif. Bayangkan,
hidup macam apa yang akan kita hasilkan ?
Jadi jelas buat kita,
pasti ada jalan untuk hidup yang penuh kesadaran, untuk hidup yang penuh
penghargaan atas waktu. Berhenti dan sadar, menghayati kembali pikiran-pikiran,
perasaan dan tindakan kita, adalah kuncinya. Sungguh mengerikan ketika kita
justru terkejut karena apa yang terjadi ternyata bukanlah yang kita inginkan.
Dengan berhenti dan mencoba refleksi maka kita tersadar akan adanya pilihan lain yang menuntun
ktia pada pikiran, perasaan dan tindakan yang lebih produktif dan membantu kita
meraih impian kita.
Dari sini, keyakinanku
makin dikuatkan, bahwa time management berarti juga life management. Jadi
mengelola waktu sama dan setara dengan mengelola hidup itu sendiri. Prioritas yang kita susun dalam
keseharian, yang menegaskan kegiatan apa yang akan didahulukan dan mana yang
belakangan, pasti mengindikasikan sesuatu yang kita anggap penting. Sesuatu
yang kita anggap penting tak akan jauh dari seputar apa yang kita inginkan, apa
yang ingin kita capai, apa yang hendak kita raih dan banyak impian yang kita
kejar.
Tanpa dream, tanpa
cita-cita, tanpa rencana pencapaian, maka tak akan ada penetapan prioritas, tak
ada time management. Akibatnya, waktu habis begitu saja. Dan kita hanya bisa
menangis kala tersadar sampai pada titik dimana kita tak bisa melakukan apa-apa
lagi.
Makin jelas bahwa
awalnya adalah dream, cita-cita bahkan ambisi. Itu yang akan menggerakkan kita.
Itu yang akan menuntun kita membuat rencana, mengelola waktu, mengatur waktu.
Jadi, Anda pasti sudah
tahu apa yang pertama akan Anda lakukan di jatah waktu yang kita tak tahu
sampai kapan.
Manage Your Time,
Chandini
11 January 2013
The Day When You Think About Someone And You Meet Her On The Next Day
I was going to Changlun. The bus stopped and all the passengers got off. I was crossing the street when i see someone that i know. She is Rubina. I called her, "Rubina..!"
Rubina: Hey.. How are you?
Me: I'm fine..
Rubina: You know, yesterday i was thinking about you. Last time i saw you at Kachi..
Me: Really?
Rubina: Yeah.. So, how is your research?
...............................................................
It is not accidentally.
Rubina: Hey.. How are you?
Me: I'm fine..
Rubina: You know, yesterday i was thinking about you. Last time i saw you at Kachi..
Me: Really?
Rubina: Yeah.. So, how is your research?
...............................................................
It is not accidentally.
A Nice Stranger That You Could Possibly Meet in P9A
Kisah Lain dari P9A
Hari itu langit mendung. Bis P9A..seperti biasa..penuh. Orang memenuhi sisi depan dan belakang. Aku mengincar tempat berdiri yang aman. Kalau kau baca kisahku sebelumnya, kau pasti tahu dimana aku memilih untuk berdiri. Ya..di belakang supir. Ada sesosok perempuan yang memanggil-manggil untuk menempati tempat itu. Memang tempat itu kosong dibanding tempat lainnya. Aku segera beranjak ke sana. Lalu tersenyum kepadanya.. dengan ditutupi oleh masker..dan mengucapkan terima kasih yang kuharap ia bisa mendengarnya.
Beberapa menit kemudian..
Langit sore itu indah sekali.. Berwarna oranye kemudaan.. ditambah warna merah.. yang membuatnya semakin mempesona. Awan-awan besar seperti cakrawala..menghias sisi-sisi langit.
Aku melihatnya dari jendela kaca yang berada di sebelah kananku.
Tiba-tiba..
Mbak di sebelahku: Awannya bagus ya..
Aku tersentak..
Kemudian membalas dengan senyum..
Aku: Iya.. langitnya juga..
Dan kami bersama-sama memperhatikan suguhan langit yang indah. Yang membuat siapa saja terkagum-kagum olehnya. Ditemani dengan gedung-gedung pencakar di sekitar..menambah cantiknya lukisan Tuhan.
Hari sudah malam..
Bis memasuki tol Jatibening. Banyak orang turun di tol ini. Lalu..
Mbak di sebelahku: Duduk Mbak..
Aku melihat dia yang sudah duduk di belakang. Ia sepertinya menyisakan tempat untukku di sebelahnya.
Aku hendak berjalan..namun..ternyata.. sudah ada Ibu-ibu yang menempatinya..
Aku kaget..
Ibu-ibu: Nggak enak duduk di sana.. di atas mesin.. panas..
Mbak di sebelahku: Kasihan yang berdiri, Mbak..
Aku: Nggak apa-apa, Mbak..
Ibu-ibu: Duduk di sana aja Mbak.. (ia menunjuk tempat duduk di atas mesin yang kosong)
Aku melihat ke arah mereka dan segera menuju tempat berdiri yang dilengkapi dengan pegangan.
Aku berdiri di sana untuk beberapa waktu yang lama.
02 January 2013
Catatan Kecil
25 Desember 2012
Aku berjumpa dengan Iia. Aku kesal dan kecewa dengannya. Tetapi sudahlah..toh dia juga tidak mengindahkanku.
26 Desember 2012
Hari ini aku foto untuk SIM. Tidak ada yang berbeda. Hanyalah.. senyum di fotoku dulu lebih lebar dari yang sekarang.
27 Desember 2012
Aku berjalan-jalan di TMII. Sungguh..menghabiskan waktu dengan keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Aku juga mengerti peran seorang Ayah..bahwa Ayah akan selalu berkorban untuk anak-anak dan keluarganya.
28 Desember 2012
Aku berjalan-jalan di mall untuk membeli beberapa keperluan. Namun..itu semua untuk bekalku nanti di Malaysia. Aku menikmati ini..ketika kau melihat barang-barang bagus dan mengandaikannya menjadi milikmu.
29 Desember 2012
Aku di rumah saja. Tidak pergi kemana pun. Hanya menghabiskan waktu bersenda gurau dengan Dayi, menikmati guyonan Bapak, menonton acara di televisi dan mendengar indahnya seruan Ibu. Aku cinta ini..ketika seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.
30 Desember 2012
Kami pergi ke Sukabumi. Sudah lama aku tidak mengunjungi Umi..nenekku. Umi sedang sakit. Parah. Aku tidak tega melihatnya. Kupikir..lebih baik aku mati dengan sehat dan bahagia daripada dengan tubuh penuh tulang seperti Umi. Aku ingin sekali membuat catatan perjalanan selama tahun 2012 tetapi entah kenapa.. rasa malas menyerangku..
31 Desember 2012
Tahun baru. Kami hanya melewatkannya di Sukabumi. Tidak ada yang spesial.. hanyalah..makan bersama lalu tidur. Aku telah membuat sedikit catatan perjalanan hidupku..yang nantinya akan kubagi bersama kalian.
1 Januari 2013
Aku mencium matahari pertama di tahun 2013. Sungguh hangat dan menyegarkan.. seperti angin segar yang menghembuskan nafas baru x))
Selamat tahun baru 2013!
Chandini
Arisan! 2 : Appreciate Your Life
"Kita seringkali menerima semuanya dengan cuma-cuma. Kita jadi lupa menikmati waktu.. Kita lupa melihat matahari terbenam.. menikmati setiap detil dalam hidup."
"Menurut saya itu berkah. Saya juga kanker. Rahim. Dokter kasih saya waktu tiga tahun. Manusia sehat nggak ada yang tahu sampai kapan hidup.. Justru itu berkah kita tahu sampai kapan kita hidup di dunia."
"Sometimes..dalam doa..kita nggak perlu meminta.. kita hanya perlu menghargai.. appreciate what we have in our life.."
"Memang badan gue sakit..tapi batin gue nggak pernah sesehat ini. Sekarang yang perlu gue lakukan adalah mendengar dan merasakan..mendengar energi yang Maha Kuasa..mendengar debur ombak..mendengar bisikan gunung..walaupun ia jauh.. merasakan aura penyembuhan Tom.."
Arisan! 2 (2011)
Director & Script writer:
Nia Dinata
Nia Dinata
Casts:
Cut Mini, Tora Sudiro, Surya Saputra, Aida Nurmala, Rachel Maryam Saidina
Cut Mini, Tora Sudiro, Surya Saputra, Aida Nurmala, Rachel Maryam Saidina
Cheers ♥
Chandini
Subscribe to:
Comments (Atom)






