06 November 2013

Catatan Harian Tentangmu


22 September 2013
Aku menatap tanggal di kalenderku. Kosong. Hari ini tepat enam belas bulan kamu pergi dari hidupku. Dan aku, entah kenapa, masih belum bisa melupakanmu.


19 September 2013
Aku pergi ke Selangor hari ini. Stasiun Kuala Lumpur Sentral ramai sekali. Desing kereta, hentakan sepatu, teriakan penumpang, semua bertalu menjadi satu. Aku memang sudah lama tidak mendengar keramaian seperti ini. Karena sudah terlalu lama berada di Kedah, mungkin.  Aku menuruni tangga eskalator menuju platform enam dengan santai. Aneh, aku merasa sangat familiar dengan tempat ini. Sign biru bertuliskan “Platform 6”, ruang tunggu abu-abu, lantai-lantai keramik, rasanya aku pernah datang ke sini sebelumnya. Oh ya, aku memang pernah ke tempat ini sewaktu pergi mengunjungi Batu Caves dengan Arga. Waktu itu, adalah  masa-masa kepulanganku dari Austria dan kami memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke Batu Caves, salah satu tempat wisata di Malaysia. Aku tidak dapat menghentikannya lagi. Adegan demi adegan mulai berputar. Aku dengan gaun ungu polkadot putih kesayanganku dan  ia dengan t-shirt dan jeans hitam tengah berdiri menungu kereta. Kami sedang gusar dan sedikit canggung karena ia terlambat datang hari itu. Terlebih, kereta yang ditunggu cukup lama menghampiri kami. Aku berusaha menghentikan adegan-adegan tersebut. Aku tertatih, menekan tombol stop untuk adegan di hadapanku sekarang.  Tetapi, film tidak berhenti. Seketika, kereta pun datang. Sesaat adegan tersebut hilang berganti dengan pemandangan nyata di depanku. Aku pun masuk ke dalam kereta. Aku memperhatikan LCD du hadapanku, titik-titik stasiun yang dilalui kereta diperlihatkan dengan jelas. Mataku menelusuri satu persatu titik-titik tersebut dan berhenti pada titik terakhir, Sungai Gadut.
 “Itu Ndin, tempat Arga..di Sungai Gadut..di ujung..jauh banget,”
“Oh, ya..”
Hari itu, kami bertengkar. Arga terlambat datang dua jam dari waktu yang kami tetapkan untuk bertemu.  Aku sangat kesal padanya.  Arga yang dulu selalu datang on time justru berubah ketika aku telah menjadi seseorang yang lebih tepat waktu dibanding diriku yang dulu sejak kepulanganku dari Austria. Dan kami, hanya diam tanpa suara di ruang tunggu kereta. 
Ya, sekarang aku tahu kalau Sungai Gadut memang terletak di ujung jalur stasiun kereta. Maafkan aku Arga.


17 September 2013
Aku mengerti tentang satu hal, yaitu, jodoh. Akhirnya, setelah dua hari berada di rumah kak Nuri, tadi baru saja, kami bisa melakukan kegiatan curahan hati bersama.
“Aku baru sadar aja kak, kalo Arga pergi ninggalin aku dua bulan setelah aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya ke dia. Nggak nyangka aja.”
“Sekarang, jodoh menurut kakak adalah when the other party does not ever give up on you.”
Kamu dengar itu,? Jodoh adalah ketika orang tersebut tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati kita.
“Huaaaa….kakaaakkkk! Wise banget sih…!”
“Itu menurut pendapat kakak..”
Mungkin bukan salah Arga memilih bersama perempuan lain.
Mungkin, karena kami memang tidak berjodoh.


14 September 2013
Aku mengalami kejadian itu lagi. Memori itu kembali terputar.
“Arga, rumahnya lucu! Fotoin aku ya,”
“Ga, ini dimana sih, kok banyak tempat makan?”
Kota baru. 2011. Masih jelas dalam ingatanku tentang semua adegan itu. Aku  melihatnya selagi berlari menerobos hujan malam tadi. Deretan rumah makan, pagar-pagar kayu, jalanan. Semua masih sama. Kenangan itu kembali merasuk. Aku seharusnya memang tidak boleh berada di sana lagi setelah waktuku dengan Arga.
“Aduh, aku lapar. Lihat-lihat makanan dulu yuk?”
“Makanannya nggak enak..”
“ Kita nyasar, nih. Kemana,  ya, jalan ke arah KLCC?”
Kala memori itu tidak dapat dihentikan lagi, aku hanya membiarkan diriku menikmatinya, setiap kata, tawa dan canda bersamanya. Dulu.
“Maafin aku ya, Ga. Gara-gara aku kita jadi nyasar begini.”
“Hahaha.. nggak apa-apa. Lumayan..olahraga..”
Anehnya, aku tidak merasakan kesakitan itu. Aku hanya membiarkan film kenangan itu bermain di hadapanku. Mungkin sedikit mengiris-iris rongga hatiku. Mungkin aku belum merasakan lagi sakit perih akan ingatan tersebut. Mungkin juga aku sudah mati rasa dan kebal. Mungkin.
Aku terbawa kembali ke dalam kenyataan ketika Faza memastikan mengenai tempat tujuanku. “Kakak  ke terminal Putra, kan?” Faza adalah orang yang baru saja kutemui hari ini. Aku melakukan kopi darat dengan teman-teman radio malam tadi. Sungguh menyenangkan bertemu dengan mereka. Setidaknya, hal itu dapat sedikit menghapuskan kesedihanku yang teringat kembali akan Arga.  


6 Agustus 2013
Tania berkata hal krusial tentang hubunganku dan Arga. Ia bilang kalau aku harus melupakan Arga saja. Apa benar aku harus melupakannya?
 “Gimana lo sama Arga?”
Aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Masih segar dalam  ingatanku ketika aku mengirimkan surat, lukisan portrait dirinya dan CD berisikan rekaman suaraku menyanyikan lagu favorit kami berdua. Aku sempat galau dan gelisah ketika ia kembali menghubungiku setelah aku melayangkan paket tersebut ke rumahnya. Aku ragu apakah aku harus menerimanya kembali.
Dan tidak lama setelah itu, setelah ulang tahun kami, ternyata ia sudah menjalin cinta dengan perempuan lain.  Ada rasa sedih, tercabik-cabik, di dalam hatiku  ketika mendengar hal tersebut. Dan, mungkin perasaan itu jualah yang tercermin ketika aku  men jawab pertanyaan dari Tania.
“Arga udah jadian lagi sama cewek dua bulan setelah gue menyatakan bahwa gue masih sayang sama dia.”
Setidaknya, hari ini aku mendapat kepastian bahwa aku memang harus melupakan Arga. Hari ini menyenangkan. Masa-masa itu kembali terulang. Ketika aku dikelilingi teman-teman berhargaku, Tania, Liza Widya dan Nisa.
Andai saja aku bisa bersama mereka setiap hari. Aku pasti tidak akan memikirkan Arga,


25 July 2013
Aku memilih mengambil biskuit “happy Choco” dari rak. Arga suka sekali membeli biskuit ini dulu. Aneh, aku sama sekali tidak pernah mencoba biskuit ini ketika bersama dengannya. Aku terlalu termakan egoku yang tidak ingin menambah jumlah kesamaan di antara kami berdua.
Dan ternyata rasa biskuit cokelat ini, memang enak. Aku hanya perlu dua kali mencicipinya untuk benar-benar menyukainya.


11 July 2013
Baru saja, aku  mencium bau tanah sehabis hujan. Bau yang kental dengan aroma segar. Aku tidak menyangka baunya sesegar  ini. Arga selalu bilang kalau ia suka bau  tanah sehabis hujan. Aku tidak pernah tahu apa keistimewaan bau tersebut. Dan aku  memang tidak pernah menyukainya sebelum ini. Namun sekarang, aku mengerti kenapa Arga begitu suka akan bau tersebut.


22 September 2013
Dan aku pun menulis surat untukmu.

Dear Arga,
Hari ini, detik ini, aku masih belum bisa melupakanmu. Padahal kita sudah enam belas bulan berpisah, ya. Aku tidak tahu kenapa aku belum bisa melupakanmu. Mungkin karena aku belum bisa meaafkan diriku sendiri yang dengan sembrononya mengakhiri hubungan kita. Mungkin karena aku masih menyayangimu. Aku tidak bisa lupa bagaimana dulu aku selalu berada di sampingmu. Dan kamu berada di sampingku. Aku sudah menganggapmu seperti seorang kakak, sahabat dan kekasih. Sampai ketika hari itu datang, hari dimana kita berpisah. Aku menangis meronta-ronta menghadapi kesalahanku sendiri yang memutuskan dirimu. Lagi-lagi, aku harus menyatakan bahwa aku belum bisa memaafkan diriku sendiri, atas kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku yang telah megusir orang yang paling berharga dalam kehidupanku, dengan tanganku sendiri.
Lalu, tanpa kehadiranmu, aku berusaha berjalan tegar. Terseok-seok, tepatnya. Dengan kehadiran teman-teman yang tidak mengacuhkanku, mungkin karena aku juga tak mengacuhkan mereka dulu ketika aku bersama denganmu. Tidak apa, itu pantas buatku. Dan, kamu tahu, aku selalu saja diingatkan akan cerita dan tawa kita dimanapun aku berada, di sudut kampus, pusat perbelanjaan hingga taman bermain. Aku tidak dapat melupakannya. Itu semua sangat menyiksaku. Membuatmu, seolah hadir dalam hidupku kembali. Kamu, yang sudah bersama dengan perempuan lain, seolah datang dalam kehidupanku. Kamu mungkin tidak merasakannya. Namun, aku, yang berada di tempat kenangan kita, merasakan itu dengan teramat dalam. Seolah film memori itu kembali berputar. Aku dapat mendengar suaramu yang merayuku. Aku dapat melihat tawa-tawa ceria kita. Aku dapat melihat keindahan itu semua. Namun, semua itu palsu. Dan, sekuat apapun aku berusaha menghentikan dan menghilangan putaran memori itu, aku tetap tidak bisa. Aku hanya dapat membiarkan diriku ikut berputar, masuk ke dalamnya lalu tersenyum menyaksikan cerita-cerita indah tersebut.
Arga, aku tidak akan memintamu kembali. Tidak. Namun, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan, pelakuan dan kebohonganku padamu. Maaf yang mungkin sudah berkali-kali terucap dari dalam mulutku. Kuharap, ini adalah permintaan maafku yang terakhir. Kuharap setelah ini aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri dan memaafkan diriku. Diriku, yang dengan segala kesalahan dan ketidaksempurnaan,diriku yang sudah membuatmu pergi dari kehidupanku. Ya, kuharap, aku bisa berjalan lebih tenang setelah ini.
Terima kasih atas segala memori indahku bersamamu. Kamu telah membuatku mengalami masa-masa indah yang mungkin tidak dialami gadis lain. Sekali lagi, terima kasih.

Sincerely,
Andini