28 July 2012

All We Need Is Love




There's nothing you can do that can't be done
Nothing you can sing that can't be sung
Nothing you can say, but you can learn how to play the game
It's easy

There's nothing you can make that can't be made
No one you can save that can't be saved
Nothing you can do, but you can learn how to be in time
It's easy

All you need is love
All you need is love
All you need is love, love
Love is all you need

Love, love, love
Love, love, love

There's nothing you can know that can't be known
Nothing you can see that isn't shown
No where you can be, that isn't where you're meant to be
It's easy

All you need is love
All you need is love
All you need is love, love
Love is all you need
(x3)

Love is all you need (x14)

All you need is love, love
Love is all you need





#20. She Is Just Inspiring




She is my idol. Yasmin Ahmad. An inspirational film director from Malaysia. She is the one who created Talenttime (2009), Muallaf (2008), Mukhsin (2007), Gubra (2006) and Sepet (2004). Besides all the  television commercials for Petronas, national oil and gas company. Her works are different, incredible and controversial. She is the one who brings the unity between three races, Malay, Chinese and Indian into film in Malaysia. Moreover, she is also a good script writer and executive creative director. She is awesome. Inspite of her crisis identity, i thank to Allah SWT to send a unique and amazing human like her. Too bad, she is not around anymore. I know you smile over there in heaven, Yasmin. Thank you for the enlightening works.  x')








PS: For more inspiration, http://yasminthefilmmaker.blogspot.com




Sincerely,
Chandini





The Most Annoying Thing

When you almost finished writing for 7 pages long and suddenly your laptop gets hang. DARR! All the writing has gone and you just wanna cry x(((



PS: #CatatanHarianTunisia will be back soon!




Wish my laptop luck,
Chandini

#19. Kuat dan Naga Api (Revised Version)


#100 Best Nominators for International Mini Story Competition 2012 organized by Indonesian Student Association of Yemen


Kuat dan Naga Api



Alkisah, di sebuah kerajaan hiduplah seorang pemuda yang kuat. Karena tidak diketahui nama asli dari pemuda ini jadilah ia biasa dipanggil dengan nama Kuat. Ia selalu dimintakan tolong oleh rakyat untuk mengerjakan pekerjaan yang berat. Menebang pohon besar, mengangkat berkilo-kilo batu bata, membawa satu dam air dan pekerjaan lainnya. Walau ia seorang yang kuat, ia tidak pernah berbuat jahat kepada mereka yang lebih lemah darinya. Senyum selalu tersungging di bibir Kuat  dan tangannya terulur bagi siapa saja yang perlu bantuan.

Suatu ketika terdengar kabar bahwa Patih Narendra, penasihat kerajaan telah meninggal dunia. Patih Narendra adalah patih kesayangan Raja Bharata dan terkenal sangat cakap dalam menjalankan tugas. Rakyat ikut bersedih karena kehilangan sosok patih yang berkarisma dan rendah hati. Sayembara terbuka pun diadakan kepada siapa saja yang berminat menduduki posisi patih. Rakyat berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk ikut dalam sayembara ini. Selain mendapatkan posisi sebagai patih kerajaan, Raja Bharata juga berjanji memberikan hadiah sepuluh keping uang emas kepada pemenang.

***

Kuat pun ikut berpartisipasi dalam sayembara ini. Tantangan tersulit dalam sayembara adalah melawan naga api yang ditawan karena dulu sempat menghancurkan kerajaan. Patih Narendra adalah seorang yang cekatan baik dalam perang dan bernegosiasi. Oleh karena itu, dalam sayembara Raja memberikan dua jenis  tantangan yang berhubungan dengan keterampilan perang juga negosiasi. Ia ingin memilih satu dari sekian banyak penduduknya yang pantas menggantikan posisi patih Narendra. Kuat tidak pandai dalam berkata-kata dan ia tidak pernah melawan singa apalagi naga.  Namun ia ingin mencoba tantangan ini karena ingin melihat sejauh mana kemampuan yang ia miliki.

Sayembara pun dimulai. Rakyat berkumpul untuk menyaksikan sayembara, jumlahnya sangat banyak hingga melewati batas arena pertandingan. Raja Bharata membuka sayembara dengan pidato singkat untuk memberi semangat kepada peserta. Sebelum pertandingan, Raja mengadakan seleksi terlebih dahulu dan terpilih tiga orang peserta untuk mengikuti sayembara. Di antaranya adalah hulubalang, mantan patih kerajaan tetangga dan Kuat. Semua peserta memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjadi patih kecuali Kuat. Sempat terbersit di pikiran bahwa ia akan gagal, tetapi Kuat membuang pikiran itu jauh-jauh.

***

Tantangan pertama dan kedua telah dijalani yaitu menembak dan bernegosiasi. Ketiga peserta dinyatakan lulus untuk kedua tantangan tersebut. Tiba saatnya untuk tantangan terakhir yaitu melawan naga api. Hulubalang dan mantan patih kerajaan tetangga bersiap-siap menghadapi tantangan terberat  ini. Mereka mengambil  panah beracun dan pedang super tajam. Sementara Kuat tidak ada ide bagaimana cara membuat naga ini luluh lantak. Sang naga bersinar-sinar dengan sisiknya yang hijau dan cerah. Ia meliuk-liuk di tengah arena pertandingan yang luas. Kilat keluar dari matanya yang berwarna merah. Sesekali, ia menyemburkan api yang membuat penonton terbelalak ketakutan. Naga api adalah musuh yang sulit ditaklukan dan siapa yang berhasil mengalahkannya pantas menggantikan Patih Narendra.

Hulubalang mendapat giliran pertama untuk melawan naga api. Pertama-tama, ia membawa Sang naga kelelahan dengan berlari mengitari arena. Naga memang cukup lelah tetapi ia tidak cukup letih untuk mengeluarkan api dan mengalahkan hulubalang. Dengan segala alat tempur yang ia punya, hulubalang tetap tidak sanggup membuat naga bertekuk lutut. Ia gagal untuk tantangan ketiga ini. Sementara mantan patih kerajaan tetangga mempunyai nasib yang tidak begitu berbeda. Keterampilan perangnya sebagai mantan patih tidak cukup untuk membuat naga mati di tempat. Kedua peserta telah menunjukkan kemampuan mereka dan hasilnya nihil. Saatnya peserta terakhir yang dinanti-nantikan yaitu, Kuat.  

Kuat berjalan dengan perasaan waswas menuju arena. Ia memegang pedang, matanya menatap tajam kepada naga. Kuat mencoba berkali-kali untuk menebas kepala naga tetapi gagal. Sang naga terus bergerak lincah menerjang serangan dan mengeluarkan jurus andalannya, api.  Kaki dan tangan Kuat bersimbah darah dan keringat akibat serangan dari naga. Kuat tergolek kesakitan di arena pertandingan. Rakyat tidak menyangka mereka tengah menyaksikan Kuat yang terkenal dengan kelebihan tenaganya selama ini, sedang dalam keadaan lemah tak berdaya. Sepertinya, sayembara ini tidak dapat menemukan sosok pengganti Patih Narendra.

Naga tetap berdiri tegak. Angkuh. Bola matanya yang besar berputar-putar melihat lawan duelnya tak lagi sanggup berdiri. Hari menjelang malam, matahari perlahan menyingsing di ufuk barat. Sebelumnya terdengar kabar bahwa naga api ini dapat musnah jika terkena sinar matahari terbenam. Namun belum ada yang berhasil membuktikan kabar tersebut. Kuat melihat matahari bersinar terang di barat daya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba menggiring naga dengan membuat dirinya sebagai umpan. Naga itu berhasil terpancing, ia mengejar-ngejar Kuat kesana kemari. Tepat ketika matahari terbenam, Kuat melayangkan pedangnya ke kepala naga. Seketika tubuh naga terbakar oleh sinar matahari dan pedang itu pun mendarat tepat di kepalanya. Seiring dengan erangan sakit dari naga, tepuk tangan bergemuruh di seluruh penjuru arena. Rakyat berdiri memberikan penghormatan kepada Kuat yang berhasil mengalahkan naga api bukan hanya dengan kekuatan tenaga tetapi juga dengan semangat pantang menyerah.

Kuat dinobatkan sebagai patih kerajaan menggantikan Patih Narendra. Raja Bharata senang karena berhasil menemukan orang yang tepat untuk menjadi penasihat Beliau. Raja Bharata dan Patih Kuat memimpin kerajaan dengan arif dan bijaksana. 





Happy weekend ;)
Chandini


26 July 2012

I Just Wanna Say I Miss You


Me: Hello, how are you?
Him: Hi :D I'm fine. And you?
Me: Hamdulillah. Not so good :D
Him: What's wrong?
Me: I'm sick.
Him: What happen?
Me: I'm sick. I'm sick of missing you. 


Life~

Life is like driving a car. 
Sometimes, you should see to the mirror beside but don't forget to look the directions in front.
Unless, you will crash and miss the good things ahead. x)




#18. Kalau...


Kalau aku bisa mencincangmu menjadi tujuh rupa, akan kulakukan.
Kalau aku bisa melemparmu dari gedung bertingkat lima puluh lima, akan kulakukan.
Kalau aku bisa merontokkan tulang-tulang di dalam tubuhmu, akan kulakukan.
Kalau aku bisa meracunimu dengan mantra penyihir kelas satu, akan kulakukan.
Kalau aku bisa membawamu ke planet terjauh dari bumi, akan kulakukan.
Agar kau pergi, sejauh mungkin.
Aku lelah dengan dirimu yang berdiam dalam pintu memori.
Aku ingin kau keluar.
Sekalipun aku meronta, mengerang kesakitan.
Kau tetap di sana, seolah tersenyum menyaksikanku terbunuh perlahan.
Pergilah..
Dan jangan pernah kembali.



Regards,
Chandini




22 July 2012

#17. Catatan Harian Tunisia (Part 3)

23 Desember 2010

Sandwich Yassine. Restoran sandwich di seberang apartemenku. Restoran ini mungil, hanya ada tiga meja bundar dan kursi untuk duduk di dalamnya. Sang pelayan adalah seorang lelaki muda yang memakai celemek dan topi putih. Matanya memperhatikan dua perempuan cantik di depannya yang tengah memilih menu. Mungkin ia sedang menebak darimana kami berasal. Marcella dengan lancar menyebutkan menu makan sore itu, “Escalope”. Apakah itu? Sejenis selop? Oh pastinya bukan, aku bertanya-tanya dalam hati. Kami pun  duduk di salah satu kursi. Restoran ini lucu juga, walaupun ukurannya kecil terdapat  TV besar sebagai pemutar musik di sudut. Pembeli dapat berjoget ria sambil menunggu makanan datang. Tidak lama, dua piring dengan roti yang dibungkus kertas abu-abu sampai di depan meja. Aku melongok ke dalam roti yang berbentuk lonjong, nampak kentang, tuna, buah zaitun dan sayuran. Aku menggigitnya, keras. Bukan lunak seperti roti yang biasa kumakan. Aku juga kesulitan memakannya karena cukup besar untuk masuk ke dalam mulut. Berkali-kali isi sandiwch tumpah ke piring, walau begitu aku terus melahapnya. 

Marcella memesan coke sebagai minuman. Aku memilih Jus d’orange alias orange juice, sama seperti kemarin. Oh ya, aku lupa memberitahumu, kemarin aku berjumpa dengan Wajih dan Yassine. Kalau Wajih kau pasti sudah tahu, bosku yang kujumpai dua malam lalu. Yassine adalah teman Wajih, bosku juga. Bedanya Yassine mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan di Tunisia. Sementara Wajih fokus mencari klien di Libya. Jadi begini, kantorku adalah kantor yang beroperasi di bidang perdagangan Tunisia-Libya. Yassine bilang, ada dua pria lagi, satu yang mengurus keuangan dan satu lagi bos besar. Sebenarnya menurut jadwal kampus, aku sudah harus bekerja mulai 20 Desember kemarin. Namun mereka mengerti keadaanku, akhirnya disepakati aku bisa mulai bekerja Senin depan. Karena kukira Wajih akan membawaku ke tempat jauh, jadilah aku mengenakan gaun pink cantik dan sepatu manis. Ternyata kami hanya mengobrol di café belakang rumah, tak apa. Kembali ke orange juice, rasanya cukup pahit di café tersebut. Dan aku ingin mencobanya lagi di sini, mungkin rasanya berubah menjadi lebih baik. 


Restoran ini berjarak lima menit dari rumah, aku mengenakan pakaian semalam, sweater biru dan sepatu kesayangan. Marcella tampak sibuk dengan blackberry. Aku mengambil gambarnya yang tengah tertawa kecil sambil memainkan blackberry dan memegang roti. Wajahnya terlihat santai,  berbeda dengan tadi yang agak tegas ketika bertanya apakah aku sudah siap pergi.  “If you are late, I will go. I don’t care,”kata Marcella kepadaku yang baru selesai mandi. Aku segera bersiap, takut ia marah. Ternyata Marcella sangat terus terang, apa memang budaya negaranya? Entahlah. Memang harus diakui, aku ini lambat seperti siput. Baiklah, ini menjadi pertanda kalau aku harus menambah kecepatan gerakan. Ibu juga berpesan kalau aku tidak boleh lambat lagi. Ngomong-ngomong, aku belum membeli sandal untuk di rumah. Kaus kaki tebal adalah alas kakiku untuk berjalan-jalan di dalam rumah. Ada tiga macam jenisnya, warna hitam dengan motif polkadot, warna ungu bergambar beruang dan warna merah juga bermotif polkadot.  Setiap aku melangkah, getaran dingin merasuk ke dalam tubuh karena lantai rumahku yang berubin.  Andai lantai-lantai ini adalah lantai kayu seperti rumah di Jepang, pasti lebih hangat. Sekian untuk hari ini, ya. Besok sepertinya akan ada masak memasak, persiapan untuk satu pesta x) Sampai jumpa *)

***



24 Desember 2010

Ah, harum sekali. Aroma masakan memenuhi ruangan.  Aku sudah tidak sabar mencoba menu sajian dua teman baruku. Dari pojok dapur, aku memperhatikan gerak gerik Paulina yang berdiri di depan kompor. Ia tengah memasak. Meski tidak tahu apa nama masakannya, aku yakin pasti lezat.  Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Memang, salah satu cara mengatasi rasa dingin adalah dengan memasak. Malam ini akan ada pesta malam natal di rumah. Paulina dan Marcella memasak makanan khas negara mereka. Bagaimana denganku? Aku membantu mereka menyiapkan pesta. Ya, mereka mengerti ketika kubilang kalau aku bingung harus memasak apa untuk jamuan spesial ini. Sebenarnya alasan utama adalah aku tidak pandai memasak. Nanti, pasti kucari resep masakan Indonesia yang mudah dan meriah di internet. Biar mereka juga bisa merasakan lezatnya masakanku, maksudnya masakan dari negara asalku. 

Daging segar yang akan dicincang, sekeranjang sayuran, jagung, garam, bir, handphone, piring-piring, semua berkumpul di atas meja. Dapur seperti kapal pecah dan aku sama sekali tidak merasa terganggu. Bahan-bahan ini semua kami beli dua hari yang lalu. Iya, aku lupa memberitahumu kalau aku sudah mengunjungi salah satu supermarket terbesar di kota ini. Promogro, namanya. Seperti Carrefour, besar dan penuh barang. Di pintu masuk kami bertemu dengan Olfa, salah satu anggota lembaga pertukaran ini. Sepertinya ia bekerja di sini. Ini pertama kali aku berjumpa dengannya, ia tampak ramah dan baik. Kami menjelajahi supermarket, ternyata sayuran-sayuran di sini ukurannya tiga kali lipat lebih besar daripada di kampungku. Cabai besar itu mencolok perhatian, berwarna hijau. Bukan, ini bukan cabe rawit, aku mencoba mencari nama yang tepat. Paprika, ya, ukurannya sebesar wortel sedang kalau di Indonesia. Selain itu, kubis di sini pun berwarna ungu, tertulis “Choux Rouge” di papan nama. Wah aku baru tahu kalau kubis ternyata mempunyai warna selain putih dan hijau. Aku tersenyum memandangi sayuran tersebut. Paulina membeli setengah kilogram keju, aku melihat keju yang bersinar-sinar di tangannya. Keju adalah salah satu makanan kesukaanku. Di sini ada beragam jenis keju, dari yang kecil, besar, warna putih, kuning, dan lainnya. Sepertinya aku akan memenuhi perutku dengan keju-keju menarik ini. Aduh, aku jadi lapar mengingat hal tersebut.

“Paulina, have you finished? I’m hungry. Do we have something to eat?” mataku mencari makanan di sekitar. Tiba-tiba segerombolan lelaki datang, mereka adalah panitia lembaga pertukaran. Mohammed dan Ayoub mengecek sejauh mana persiapan malam natal ini. “Oh, guys, could you buy me onions? And Ulka also need something.”, Paulina bertanya kepada mereka yang sedang melihat isi dapur. “Alright, and Ulka?”, kata Ayoub. “Yes, something to eat, anything.”, kataku meringis. “Okay, we will be right back,” Mohammed menganggukan kepala. Paulina dan Marcella bergerak cepat memindahkan bahan-bahan ke atas wajan. “I just realize that our food is the same, full of onions,” kata Paulina kepada Marcella yang tengah memotong daging. “Yaa, it is similar. And, Ulka, I will cook rice as the menu,” Marcella menaikkan alisnya. “What kind of rice?” aku bertanya balik penuh antusias. “You will see, the one that My mom usually prepare, kind of family food,” Marcella tersenyum. Akhirnya makananku datang, aku tidak tahu apa namanya. Sepiring makanan dengan tuna, telur, buah zaitun, bawang. Ah, rasanya aku tidak ingin memakannya. Tidak ada pilihan lain, terkena serangan maag atau menyantap makanan aneh ini. Aku memilih nomor dua. Seiring dengan larutnya malam, masakan spesial pun siap. Ada enam jenis dan aku sudah tidak sabar untuk menghabisinya. Kami memindahkan meja dapur ke ruangan besar. Ruangan besar ini multi fungsi bisa dipakai untuk tidur, pesta, bercengkrama, apa saja. Kasur-kasur digeser ke kiri dan kanan. Aku membantu membawakan piring, sendok, garpu dan gelas. Dengan gaun pink cantik kesayangan, aku siap bersenang-senang malam ini.

Ini pesta natal pertama dalam hidupku.Ya, aku merayakan idul fitri dan itulah kenapa aku sangat bersemangat untuk pesta kali ini. Sebelumnya aku pernah datang ke rumah saudara yang merayakan natal, kami disuguhi berbagai macam makanan. Lalu mengobrol sampai tidak terasa lapar kembali menghampiri. Pesta kali ini pasti berbeda, aku tidak sabar memulainya. Datanglah seorang lelaki berpakaian garis-garis horizontal biru dan hitam. Paulina menyapanya ramah, lalu bersenda gurau bersama. Aku tidak tahu siapa dia. Ketika aku menaruh piring-piring di ruang besar, ia bertanya, “Hey Ulka, how are you?” Aku terkejut. Karena tidak menyangka ada dia di dalam sini. “Fine, thanks. And you?” Aku membalas dengan senyum. “I heard you were sick before so you cancel the flight,” katanya lagi. “Oh yeah, now I am fine.” Jawabku. Ia memperkenalkan diri, namanya Tarekh. Salah satu anggota executive board di lembaga pertukaran ini. Lelaki ini tampak supel dan pandai bergaul.

Dengan datangnya Ayoub dan Mohammed, pesta pun dimulai. Aku duduk di pojokan, di antara Marcella dan Ayoub. Sebelum menyantap sajian makanan, kami berfoto ria bersama. Lalu dengan segera aku mengambil Colombian Rice, masakan Marcella. Aku ingin mencoba bagaimana rasanya masakan ini. Oh ya, total menu yang ada di atas meja ada tujuh jenis, Bunuelos, Colombian Rice, roti baquette, jelly dengan pisang dan kue, kroket, Ryba Po Grecku (makanan asli Polandia) dan cracker. Ini seperti surga dengan makanan-makanan lezat. Satu botol red wine menghiasi meja, aku memperhatikan minuman alkohol itu. Setiap orang mendapat jatah satu gelas kecil untuk minum berwarna merah ini. Aku tidak pernah minum alkohol, sama sekali. Mendadak aku merasa tidak nyaman di ruangan ini, satu persatu mereka menuangkan minuman merah itu ke gelas. Ayoub memperhatikan aku yang sedari tadi sok sibuk dengan nasi Kolombia.

“Ulka, you don’t want to drink?”
“No.”
“Why? You never drink before?”
“Yeah. Never.”
“Try this.”
“Oh, no, thanks.”
“No, it’s okay. After this, wash all your body from head to toe and you can pray again.”
“Really?”
“Yeah, sure.”

Aku menatap gelas kecil itu dengan ragu. Isinya seperempat dari gelas, merah merona. Tanpa pikir panjang, aku meneguk minuman tersebut. Rasanya, pahit. Benar-benar pahit. Aku meletakkan gelas itu kembali. Ayoub sedang berbicara dengan Fateh yang ada di seberang. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku berpikir apakah Ayoub dapat benar dipercaya? Dia bilang aku bisa shalat setelah mencuci seluruh badan, artinya mandi besar. Apa benar? Jujur, aku tidak begitu tahu teori dalam Islam. Ya, aku memang menjalani shalat lima waktu dan puasa tetapi mengenai teori, aku benar-benar dangkal. Pesta semakin memanas dengan kehadiran Wassim dan kawan-kawan. Aku baru kenal dengan Wassim di sini. Tinggi, kurus, bad boy, itu kesan pertamaku tentangnya. Namun aku suka dengan gayanya yang cenderung cuek. Mereka mulai meneriakkan suara untuk berdansa. Marcella dan Tarekh maju sebagai pasangan dansa pertama. Lalu datang Iskandar, salah satu alumni lembaga ini, yang ternyata juga cukup akrab dengan dua housemate-ku. Giliran Paulina yang berdansa bersama dengan Iskandar. Musik memenuhi isi ruang, bergetar dan berjoget bersama dengan kami.

Aku hanya duduk tertawa menonton mereka di lantai dansa. Perutku juga sudah kenyang, tak sanggup lagi menampung. Gelas anggurku juga masih terisi penuh. Mereka mengajakku untuk menari tetapi aku menolak. Malu. Buatku kalau jamuan makan di rumah itu ya..duduk, mengobrol, bersenda gurau, tertawa terbahak-bahak, foto, itu saja. Tidak ada kamus untuk berdansa. Memang, setiap negara mempunyai ciri khas yang berbeda. Banyak orang baru yang kukenal malam ini. Ada satu lelaki yang memiliki selaput pelangi mata yang unik. Berwarna hijau terang, seperti es, namanya Firaz. Lalu banyak lelaki lain yang tak kukenal namanya. Ini seperti pesta terbuka, setiap orang membawa minimal satu kawan untuk hadir. Malam semakin larut, tertinggal Wassim, Ayoub dan Firaz, juga kami bertiga. Musik diberhentikan, kabarnya tetangga kami tidak suka akan suara berisik tadi. Anehnya, ia menuduh kami yang membuang botol anggur ke bawah. Padahal, Ayoub bilang semua botol anggur masih lengkap. Tidak ada satu pun yang dibuang. Ada-ada saja, pikirku.

“Ting, tong,” Bel berdentang. Marcella membukakan pintu dan masuklah tiga orang ke ruangan. “Hey Guys, sorry we are late,” kata perempuan berambut sedang dan berkulit putih. “It is okay, you are welcome, “ jawab Marcella. Mereka mengambil tempat duduk di depanku. Perempuan satunya, berbadan tinggi, berkuncir satu, juga berkulit putih. Lelaki di sampingnya berkulit cokelat, seperti orang Tunisia. Mereka adalah Britanny dari US, Angie dari Canada dan kekasih Angie yang tak kutahu namanya. Britanny memandang ke arahku, sepertinya ia tahu kalau aku adalah orang baru di sini. Kami mengobrol-ngobrol, ternyata sebelumnya, Britanny juga tinggal di rumah ini. Karena jarak tempat kerjanya yang jauh, ia pindah ke rumah bos yang lebih dekat dengan sekolah tempat ia mengajar. Lalu, pertanyaan itu pun kembali muncul. Seperti tebak-tebak buah manggis, Britanny dan Angie mencoba menebak darimana aku berasal.

“Hi, i think i know where you from. Wait.”
“Is she from Vietnam?”
“Nooo.”
“Ha, from Malaysia?”
“Yeah, i’m studying there but i’m from Indonesia.”
“Great!”

Ternyata mereka tidak jauh beda dengan lelaki di dalam van yang kujumpai di hari pertama. Setelah, Korea, Jepang, Cina, Vietnam, mungkin esok akan ada yang bertanya apakah aku dari negara Laos? Aku tertawa dalam hati. Apa kulitku sudah berubah menjadi lebih putih? Ternyata beberapa hari di Afrika justru membuatku tampak lebih putih bukanlah hitam. Kata-kata “tampak lebih” ini harus digarisbawahi karena mungkin kalau di negaraku, aku sama saja, sawo matang. Ah, malam ini cukup menyenangkan. Oh ya, tadi kami bertemu dengan Nidhal, dan dia mengajak aku juga Marcella untuk jalan-jalan ke Kerkenna. Satu pulau kecil yang indah, letaknya tidak jauh dari Sfax. Yes, akhirnya aku akan jalan-jalan! Senangnya! x) Sekarang, saatnya tidur. Tetapi..kenapa ini? perasaanku tidak enak. Ada hal yang mengganggu di kepala. Sudahlah. Sampai besok x)


                                                                                   ***


To be continued…
Chandini






20 July 2012

Senja

Dan ketika..saat paling damai adalah menikmati senja.
Ditemani lagu yang mendayu-dayu.
Semilir angin yang membuat hati berdesir.
Matahari pun ikut malu-malu.
Mari pulang, kembali ke peraduan.


Senja


Salam,
Chandini 

#16. Catatan Harian Tunisia - Part 2

21 Desember 2010

Pesawat mendarat mulus di Tunis International Airport, Carthage, pukul 12:30 siang. Total lama perjalanan adalah empat belas setengah jam. Sepertinya kakiku akan patah sebentar lagi. Aku berjalan menyusuri koridor, mataku menerawang ke sekeliling. Semuanya begitu asing. Airport ini berbeda, tidak banyak orang lalu lalang. Sepi. Cat berwarna putih menghiasi sebagian besar airport. Tubuhku gemetar, menggigil.  Para petugas berpakaian hitam, berbadan besar dan tegap. Mereka jauh lebih tinggi dan kekar dibanding aku yang kecil dan tak berdaya. Sama seperti aku, airport ini pun mungil, lebih kecil dibandingkan airport-airport besar yang kusinggahi sebelumnya.

Aku terduduk di troli, di sampingku koper hilir mudik, hanya ada tiga tempat pengambilan koper di sini.  Sudah sekitar lima belas menit, belum juga kedua koperku  muncul, memanggil sang empunya setelah  mengapung berjam-jam di udara. Jantungku berdebar-debar, resah, gelisah. Bagaimana kalau mereka tersangkut di Turki? Apa mungkin petugas salah memindahkan bagasi penumpang? Teringat sewaktu  sampai di Kuala Lumpur, insiden salah memindahkan koper itu terjadi di maskapai penerbangan yang kami naiki, koper teman-temanku terbawa ke Bandung. Untungnya, aku termasuk salah seorang dengan koper yang selamat, tak kurang suatu apapun. Jangan sampai ini terjadi padaku sekarang. Aku komat-kamit berdoa di dalam hati.
Kuperhatikan manusia di sekitar, lagi-lagi orang Eropa, yang pasti wajah Asia tidak ada di sini. Ah, lelaki di depan itu, nampaknya seperti orang Indonesia. Wajahnya hitam kecoklatan, tingginya pun sedang, tasnya berwarna merah, tersemat lambang Garuda kecil di sana, apa dia orang Indonesia? Tak kusadari kedua koperku beriringan keluar, dengan sigap kunaikkan mereka ke atas troli. Kupandang lelaki tadi , kalau-kalau dia menengok ke arahku, kalau-kalau dia berasal dari tempat yang sama denganku. Sudahlah, aku pun beranjak pergi.

Petugas itu mengecek koper, ia melihat tulisan yuridtsi yang berarti transit dalam bahasa Turki. Visa Tunisia yang kubuat sementara dalam tiga bulan juga turut diperiksa dengan seksama. Akhirnya bagian imigrasi dapat kulewati dengan lancar bahkan mereka tidak menanyakan tanggal kepulangan. Dalam beberapa menit, aku sampai di luar. Banyak wajah bertengger di sana,  menunggu mereka yang keluar dari pintu tersebut. Sayangnya, aku bukan orang yang mereka cari. Tak seorangpun dari mereka mencoba bertanya apa aku orang yang mereka jemput. Papan nama itu bertuliskan nama-nama asing, yang pasti bukan namaku. Aku terdiam, kurasa lebih baik aku duduk di bangku itu.

Sudah satu jam aku bercokol di kursi tunggu. Melihat setiap pertemuan antara mereka dengan keluarga yang berpisah setelah sekian lama. Momen-momen haru itu terjadi tepat di depan mata. Tawa, tangis, peluk, menjadi satu bumbu kerinduan. Tak dapat kubayangkan ketika aku bertemu dengan keluargaku nanti. Aku melirik handphone, berpikir apa yang harus kulakukan. Bagaimana caranya aku menghubungi panitia lembaga pertukaran ini? Tidak ada nomor Tunisia, apa yang bisa kuperbuat? Aku pun pergi ke tempat penukaran uang. Uang-uang Dollar kutukar dengan mata uang Tunisia. Bapak petugas money changer ini cukup tua, Beliau melayaniku dengan cepat. Setelah urusan uang selesai, sekarang bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan orang yang bertugas menjemputku. Namanya Bilel, dalam email dia berkata akan siap menjemputku berapapun tanggalnya, karena sakit aku sempat mengundur keberangkatan. Bingung, tak ada satupun orang yang kukenal, bahkan aku juga tidak punya kontak Kedutaan Besar RI di Tunisia. Sial, malang sekali nasibku.

Aku mengelilingi airport, ternyata hanya ada satu coffee shop di bawah. Kaunter-kaunter banyak bertuliskan “Money Changer” selain beberapa travel agent. Ada satu toko yang memasang logo bergambar huruf O berwarna oranye dan bertuliskan “Orange”, apa itu? Logo itu juga menghias airport ini dimana-mana tetapi belum pernah kudengar namanya. Di ujung sana, samar-samar kulihat kaunter bertuliskan “Information”, sepertinya ini petunjuk baik. Aku menuju kaunter dan mengutarakan maksudku. Kunyatakan saja terus terang kalau aku minta tolong Mbak cantik ini menghubungi temanku, maksudnya Khadija, satu-satunya orang yang kutahu nomornya. Dengan bahasa inggris yang terbata-bata, Mbak tersebut mencoba menjawab pertanyaanku. Langsung ia meraih handphone dan memijit angka yang kusebutkan dalam bahasa Prancis. Aku ternyata cukup lancar menyebutkan angka-angka tadi, ah kebetulan saja. Beberapa menit kemudian, Mbak baik hati ini menggelengkan kepala dan menutup telepon. Tidak ada jawaban, begitu katanya. Aku makin hopeless, jangan-jangan malam ini, buruk-buruknya, aku harus bermalam di sini. Berbagai kemungkinan  mulai berkelebat di kepala, aku ngeri membayangkannya.  

Aku berjalan ke depan, sembari mengisi pikiran dengan hal positif.  Petugas security itu berdiri di dekat eskalator, bisa jadi orang ini adalah penolong nomor dua setelah Mbak tadi. Bisakah kupinjam handphone untuk menelpon Khadija, mungkin kali ini dia akan mengangkat telepon. Kuucapkan kata-kata kepadanya dan Beliau hanya tersenyum sambil mengucapkan kata “Excuse-moi”. Ternyata Beliau tak pandai bahasa inggris, sama sekali. Kata Excuse Moi itu terdengar seperti meminta maaf, aku mengira-ngira. Memang, aku belajar bahasa Prancis selama enam bulan di kampus, tapi benar-benar tidak cukup. Baru saja berbicara dengan Satpam tadi, aku gelagapan. Gawat. Kalau orang-orang ini hanya bisa bahasa Prancis dan Arab, bagaimana nasibku nanti. Kuputar troli menuju arah balik, orang-orang di coffee shop memandangiku aneh. Nampaknya mereka tahu kalau aku anak nyasar, tersesat, tidak diinginkan oleh sang penjemput. Sempat terlintas bagaimana kalau aku duduk di sana, berselancar di dunia maya sambil menyeruput kopi, seakan tubuhku yang letih menyetujui ide tersebut. Tetapi mata mereka begitu tajam, lekat. Aku terus berjalan, pura-pura tak acuh. 

Ah! Aku bisa menelpon Khadija dari situ! Telepon umum itu bersinar-sinar  di pojokan. Kalau dalam komik, di atas kepalaku muncul lampu terang berpendar-pendar, mataku membelalak, pertanda muncul ide brilian. Ini benar-benar suatu cahaya terang yang datang, aku bersemangat. Di dekatnya adalah kaunter “Information” tadi, sampai tak terlihat karena saking paniknya. Segera kumasukkan uang logam ke dalam lobang dan memencet nomor Khadija. “Tut..tut..tut..tut” begitu bunyi telepon. Tak tahu apa yang salah, kenapa tidak bisa tersambung? Kutengok orang sebelah yang sedang menelpon, berpikir untuk meminta bantuan. Namun, lelaki itu meletakkan gagang telepon dan berlalu cepat. Aku berpaling mencari sumber bantuan lain, yang nampak hanyalah Mbak cantik dan baik hati tadi, segan aku meminta tolong lagi. Oh, Mas cleaning service itu pasti mengerti, aku memanggilnya, lagi-lagi minta tolong. Koin yang kumasukkan salah, bukan itu, dia menyuruhku untuk menukar ke kaunter. Mbak tadi sudah hapal dengan wajahku, dia berkata sesuatu tentang koin yang kupunya. Aku tak mengerti maksudnya. Wajahnya yang cantik seperti malaikat berubah menjadi galak.   “What?” kataku bingung. “Give me your coin,” sembari mengambil koin-koinku. Lalu mengembalikan dengan beberapa koin, aku tidak mengerti bagaimana menghitungnya.  Kuserahkan saja semua yang ada di tanganku kepada cleaning service itu. Setelah memencet nomor dan mendengar bunyi tersambung, aku kecewa. Benar, Khadija tidak mengangkat telepon. Tamat riwayatku. Cleaning service tadi sudah pergi dengan ucapan terimakasih, pastinya dia mengerti kata “Thank You”. Kulihat Mbak cantik, baik hati dan galak itu  sedang berbicara di telepon.  Aku melengos pergi.

Termangu-mangu aku melihat kuitansi bertuliskan jumlah uang yang kutukar. Jumlahnya  cukup banyak sekitar hampir empat ratus dinar. Semoga cukup untuk bekal hidup selama sebulan. Tiba-tiba, seorang lelaki besar dan tinggi menghampiriku dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku bernapas lega. “Are you from Malaysia?”, tanya dia. “Yes, are you Bilel?”, aku hampir memekik kegirangan. “Yes, you are Ulka? Sorry i’m late.”, katanya lagi. “Huh, yeah it’s three o’clock and i was here since one,” aku merengut.  Seingatku, sudah kukirim email lengkap dengan itinerary flight. Harusnya dia tahu jam berapa stand by di airport, tidak molor sampai dua jam begini. Kami melangkah keluar dan Bilel bercerita kalau ia dan keluarga sedang berlibur di Tunis dan kembali ke Sfax setelah liburan usai. Hampir lupa, Kalian pasti penasaran akan pertanyaan pertama Bilel tentang negara asalku, aku mendaftar internship ini dari kampusku yang ada di Malaysia. Itulah sebabnya mereka tahu aku berasal dari sana. Padahal, aku adalah asli Indonesia yang kebetulan menimba ilmu di negeri tetangga. Sore itu cukup cerah dan pohon-pohon kelapa melambai dengan gemulainya tertiup angin. Tunis Carthage International Airport, aku memandang tulisan itu dari kejauhan, mencoba mematrinya sampai pulang nanti. Ingin aku berfoto untuk pertama kali tetapi Bilel agak terburu-buru kelihatannya. Nanti saja, masih ada waktu enam bulan, oh ya kurang satu hari. Karena hari ini, tepatnya tanggal dua puluh satu Desember aku menginjakkan kaki pertama kali di bumi Tunisia, Afrika Utara.
***

Bilel membawa koper merahku yang besar dan berlari dengan cepat. Sampai akhirnya di ujung jalan, ia menyetop taksi, karena warnanya kuning aku tahu itu taksi, dalam sekejap kami sudah di dalam mobil. Taksi mengantarkan kami ke suatu tempat, Bilel meminta uangku dan ia membayar kepada Pak sopir. Tempat apa ini? Ramai sekali. Banyak orang lalu lalang dan Bilel mengajakku masuk ke dalam. Wah, makin ramai, ada kedai makanan, loket pembelian karcis dan mobil-mobil di seberang. Huruf-huruf bahasa Arab itu tak mampu kuterjemahkan dalam bahasa ibu ataupun bahasa inggris. Heran, aku bisa membaca Al-Qur’an tetapi kenapa tidak bisa membaca maksud huruf-huruf ini? Apa yang beda, bukannya bahasa arab itu semua sama? “Hey, give me your money,” suara Bilel membuyarkan lamunanku. “How much?” aku sok mengerti uang dinar yang baru kupegang kurang dari empat jam. Tiket itu berharga empat belas dinar kurang sepuluh sen, aku tak ambil pusing langsung kumasukkan uang kembalian ke dompet.  Lalu Bilel mengantarku ke mobil, van lebih tepatnya, karena jumlah penumpang bisa mencapai sekitar sebelas orang. Dari dalam, kulihat Bilel sedang berbincang dengan Pak sopir, mungkin dia akan masuk ke dalam ketika van berangkat, pikirku. Tetapi, kenapa ini, Pak sopir bergerak masuk ke mobil dan Bilel tetap di tempat, melambaikan tangan.  “My friend will pick you up in Sfax. I have told the driver where you must stop. I can’t go with you because i have to stay here. Be careful,” pesan Bilel dari jendela kaca kepadaku. Di saat yang bersamaan, raut mukaku berubah. Kebingungan.
 Van ini menggayut-gayut di tengah jalanan. Muatannya penuh, tak tersisa satu tempat kosong pun. Kondisi van sendiri cukup terawat, setidaknya dapat dilihat sang majikan peduli padanya. Aku duduk di paling belakang, dekat jendela, di sebelah dua orang lelaki. Pria di sampingku sibuk membolak balik koran, kulirik sedikit koran itu dan semua berabjad arab, apa daya, aku tak lihat lebih jauh. Di balik koran berwarna itu, kulitnya gelap, hitam, jaketnya pun berwarna hitam, mungkin yang putih hanya giginya. Sebelahnya, lelaki berkulit lebih coklat duduk terdiam di pojokan. Di kursi kedua ada seorang Ibu yang juga sibuk menenangkan bayinya. Tangis bayi pecah, seakan tak mau kalah dengan terpaan angin ganas yang keluar lewat sela-sela jendela. Dingin. Aku merasa bulu kudukku berdiri, jaket tebalku tak mampu menahan suhu ini. Kuambil kain untuk menutupi kepala. Di balik kain hitam tipis ini, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan bukit nan hijau sepanjang perjalanan menjadi suatu hiburan tersendiri. Ternyata salah selama ini, kudengar Afrika itu penuh pasir, bebatuan, tak ada bibit-bibit hijau di sana. Memang tak semua daerah ditumbuhi pepohonan tapi persepsi Afrika yang muncul di kepalaku tak lagi sama bahwa ia juga dicintai oleh tumbuh-tumbuhan.
Aku masih asyik memandangi pemandangan baru tersebut. Tanpa sadar, lelaki di sebelah juga ikut memandangi sedari tadi. Sadar bahwa ada yang memperhatikan, aku memalingkan wajah. Ia tersenyum kecil, menundukkan kepala lalu bertanya satu hal yang membuat perutku terkocok. 

“Are you from China?

“No." 

“Korea?” 

“No.” 

“Japan?”

"No.” 

“So?”

“Indonesia.” 


Aku mengatupkan bibir dan menatapnya dalam. Kalau saja ia tahu bahwa kulit orang Cina tidak berwarna sawo matang seperti ini. Mataku memang sipit tetapi tidak sesipit mata mereka. Aneh. Bagaimana bisa dia menyangka aku ini berasal dari sana? Aku tergelak dalam hati. Lelaki itu mengucapkan kata “Ha..”, seakan dia akhirnya menyadari sesuatu. Lalu ia berkata dalam bahasa Prancis, menggerak-gerakkan tangannya, aku mencoba menganalisis. Sepertinya dia berkata kalau aku berasal dari tempat yang sangat jauh, aku mengangguk-angguk dan berkata “Ya..”  Ia juga bertanya apa aku menuju Sfax dan mengerti kalau aku tidak berbahasa Prancis. Sayang sekali, andai kami bisa saling mengerti satu sama lain, waktu panjang ini bisa terbunuh perlahan. Bosan.  Malam sudah menghampiri. Aku tak sabar untuk bertemu dengan teman-teman dan kasur tidur baru. Aku menguap, mataku berair. Dimana gerangan kota Sfax? 


Akhirnya kami berdua mengobrol. Ternyata lelaki ini mengambil jurusan hukum di salah satu universitas di Tunis. Ia berkunjung ke Sfax dalam rangka liburan mengunjungi keluarga. Bahasa inggrisnya cukup bagus walaupun tidak begitu fasih. Setidaknya ia mencoba untuk berbicara daripada tidak sama sekali. Justru aku yang sekarang sama sekali tidak tahu menahu dimana posisi keberadaanku. Malam semakin gelap. Aku bertanya kepadanya, dimana aku harus turun nanti. Lelaki itu setengah berteriak kepada Pak Supir di depan dan menunjuk-nunjuk diriku. Pak Supir lalu mengangguk-anggukan kepala sambil melayangkan kertas yang dipegangnya. Apa mungkin Bilel menulis alamat rumahku di sana? Lalu ia menelpon dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab. Aku bernapas lega ketika ia memberikan jempol kepadaku, tandanya semua baik-baik saja. Lelaki itu pun tersenyum, nampak giginya yang putih. Tidak lama kemudian, jendela kacaku diketuk. "That is your friend," kata lelaki tersebut. Aku beranjak keluar dari van. lalu melambaikan tangan sebagai ucapan terima kasih kepada supir dan lelaki yang tak kutahu namanya.
Mereka berdua mengambil koperku dan membawakannya. "Hey Ulka, i'm Ayoub," katanya yang membawa koper kecilku. Ayoub berbadan kurus dan tinggi. Sementara satunya membawakan koper besarku. Aku tidak tega melihat ia yang berbadan kurus dan kecil tetapi ia bilang tidak apa. Ayoub bertanya bagaimana perjalanan tadi dan aku menjawab bahwa aku melihat banyak pemandangan hijau. Kami menyeberang, kata mereka rumahku adalah bangunan berwarna hijau di seberang. Petugas keamanan tersenyum menyambut kedatangan kami. Tombol lift ditekan menuju lantai lima. Kami keluar dan menekan bel di pintu pertama sebelah kiri. "Helloooo...," seorang perempuan blonde membukakan pintu. "Hey girls! This is Ulka," kata Ayoub. "How are you dear?", ia menyalamiku dengan ramah. Aku mencoba mengingat siapa nama perempuan ini. "This is Paulina," Ayoub memperkenalkannya padaku. Oh ya, aku ingat sekarang, karena kami sudah berteman di Facebook sebelumnya. Aku mengontak mereka untuk menanyakan keadaan di sini. Memang wajahnya tidak berbeda sama sekali dari yang ada di foto. Matanya hijau, berambut pendek, Paulina berasal dari Polandia. Tiba-tiba seseorang muncul dari arah lain, "Hello dear..," perempuan ini mencium pipi kiri dan kananku. "Hey, how are you?" aku membalas seolah sudah kenal sebelumnya. Kalau yang tadi Paulina berarti perempuan ini adalah Marcella. Setahuku hanya ada dua orang yang tinggal di rumah. Marcella berasal dari Kolombia dan berkulit coklat, juga berhidung mancung.
Aku memutuskan untuk menaruh barang-barangku di kamar. Kamar di pojokan menjadi pilihanku karena kamar mereka sudah terisi dua orang. Tidak apa aku sendiri, lebih nyaman. "Do you want to take shower? Or dinner maybe?", Paulina mengenali wajahku yang capek dan letih. "Yeah, i think i'm hungry," sambil memegang perutku yang mengaduh. "Marcella is cooking something in the kitchen,"  Paulina menunjuk ke arah dapur. Ternyata Marcella memasak salad dengan tuna. Aku mencicipi dan rasanya tidak enak. Bawang bombay juga ikut mewarnai masakan tersebut. Entah, rasanya tidak pas di lidahku. Seperti pahit dicampur...ah aku tidak dapat mendefinisikannya. "I want to eat rice. Do you have rice here?", aku bertanya dengan muka memelas. "Okay, i will buy rice for you," kata lelaki bertubuh kecil. Tidak lama kemudian, nasi pesananku datang, dalam bentuk satu plastik beras berwarna coklat. Ini pertama kalinya aku memakan beras coklat, di Indonesia aku biasa memakan beras putih atau merah. Oke, tidak apa aku akan memakan apapun yang ada. Belum habis juga tantangan untuk makan malam pertamaku di Tunisia karena ternyata rumah ini tidak ada rice cooker. Satu-satunya cara adalah memasak nasi secara manual. Ini akan menjadi proses makan malam terlama dalam hidupku. "Don't worry, i can cook rice," Marcella tersenyum. Nampaknya ia tahu kalau aku tidak bisa memasak selain memasak air juga mie instan. Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya kuperoleh juga makan malamku. Nasi coklat yang menjadi putih ketika dimasak dan tentunya, salad tadi. Semoga rasa pahit itu akan berganti dengan manisnya nasi, aku berharap. 
Aku tengah menikmati makan malam sambil bersandar di atas kasur. Tiba-tiba ketukan sepatu menghampiri dan suara-suara mereka memenuhi ruangan, "Wajih..You are here!" Aku tidak beranjak melainkan terus menyuapi mulut sebagai bayaran kepada perut setelah seharian mengembara. Sampai akhirnya suara itu menyadarkanku, "Hello, Ulka. How are you?" Aku terdiam. Kaget. 
"Hey..hello..i'm fine." 
"How are you?"  
"Yaa, i'm good."
"How was the trip?"
"Tiring."
"Haha. Sure. Enjoy your dinner."

Aku sama sekali tidak tahu siapa dia. Seperti pernah melihat wajahnya tetapi entah dimana. Aku mencoba menekan tombol search di memori. Lelaki itu asik berbincang dengan Marcella di dapur. Dia terlihat sangat akrab dengan teman-teman baruku. Paulina masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas kasur. Aku memberanikan diri bertanya kepada Paulina tentang siapa lelaki ini. "Hey, is that your friend?", aku setengah berbisik. "Ha?", Paulina bingung. "Who is he?", Aku menunjuk ke arah di dapur. Seketika Paulina tertawa terbahak-bahak. Aku tidak mengerti apa yang terjadi.
"Wajih..she asks to me about you."
"Hahahaaha She doesn't know?"
"You should tell her, Wajih."

Dari balik dinding aku mencoba mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebentar, namanya Wajih, aku mencoba mencari lagi nama itu dalam ingatan.  Wajih terdengar hanya meringis geli. Marcella dan Paulina memaksanya untuk memberitahu identitas dirinya. Begitu istimewakah dia? Sampai-sampai mereka kaget dan ingin sekali aku mengetahui tentang lelaki ini. Tiba-tiba Marcella datang menghampiriku dan menyatakan sesuatu seperti bom yang berdentum di telinga, "Ulka, he is your boss." "Whaaaaaat?", aku berteriak dalam hati. Wajahku tersipu malu menatap Marcella. Oh ya, namanya Wajih Talik, aku ingat nama itu ada dalam surat  keterangan internship. Ia jugalah orang yang selama ini aku hubungi via email. Oh tidak, mimpi apa aku semalam, berjumpa dengan bos di malam pertama kedatangan. Sudah berpura-pura kenal tetapi ketahuan juga kalau aku memang tidak tahu siapa dia. Wajar, aku memang belum pernah berjumpa dengannya. Namun, ini sama sekali di luar bayanganku,  aku bertemu bos di rumah dengan baju santai. Bukan di kantor dengan setelan necis dan rapi. Pertanda apakah ini? Semoga pertanda baik. Malam itu kami menghabiskan waktu bersama, mengobrol dan bersenda gurau. Lalu aku pergi tidur dalam dinginnya Afrika. Hari yang sungguh melelahkan. Selamat malam, Tunisia. 
***

22 Desember 2010

Hari ini dingin. Memang tidak ada salju di sini tetapi dinginnya menusuk sampai ke tulang. Aku tidak melakukan apa-apa seharian. Hanya bersantai ria dengan kamar baru. Mengatur barang-barang, letak tempat tidur,    menata kamar. Senang rasanya mempunya kamar baru yang akan ditempati selama enam bulan ke depan. Semalam aku menemukan kamar ini cukup berantakan. Ada sepasang sepatu di bawah tempat tidur dan bertumpuk selimut. Tahu begini, aku tidak perlu membawa selimut Doraemonku ke sini. Tidak apa, ia sudah menjadi temanku selama tiga tahun di Malaysia. Karena tidak ada lemari, aku menaruh semua bajuku di atas tempat tidur yang beralaskan selimut. Sebagian kuletakkan di atas matras kecil di seberang tempat tidur. Di tengahnya adalah tempatku menunaikan salat. Oh ya, ada cerita lucu soal kiblat, yang menjadi patokan arah shalat. Semalam, aku bingung dimana kiblat dan aku bertanya pada Wajih, bosku. Setahuku is beragama islam dan seketika wajahnya pucat pasi. Ia juga bingung dimana arah kiblat dan ia pun menelpon seseorang. Mungkin teman, yang lebih mengerti tentang hal ini. Sesudahnya, Wajih memberitahuku bahwa arah kiblat adalah miring ke kanan dari seberang tempat tidur. Marcella dan Paulina tertawa melihat Wajih yang gelagapan dengan pertanyaan tersebut. 
Aku mengenakan baju pemberian Ninik, lebih tepat mungkin disebut sweater. "Pakai ini, di sana pasti dingin," kata Ninik sebelum aku pergi. Benar, sweater biru tua ini cukup menghangatkanku dari suhu dingin di dalam rumah. Tiga lapis selimut dan kaus kaki tebal juga ikut menjadi pasukan penghangat. Lucu juga, kalau dulu aku mengeluh karena terlalu panas, sekarang justru dingin yang menusuk. Suara angin mengetuk-ngetuk jendela, saatnya tidur. Selamat malam. x)


PS: Thank you for reading *)

See you again soon,
Chandini


19 July 2012

Blue Afternoon


Afternoon Blues©


When things better left unsaid, i will just wait and wait.
For the right time to come.
Then, i will go and let it fly.
Fly to the moon and leave us in the blue afternoon.


x),
Chandini



18 July 2012

#15. Catatan Harian Tunisia - Part 1


Prolog

Suasana di waiting room Kuala Lumpur International Airport, Malaysia cukup ramai siang itu. Beberapa dari mereka mengenakan kaos merah bertuliskan “Arsenal” dan pernik lain milik “The Gunners” yang baru tampil hari minggu lalu.  “Attention, please. Flight JT-283 to Jakarta, Indonesia, is now boarding. All passengers are waited to gather at gate 16C. Thank you.”  Aku yang sedang mengetik pesan singkat untuknya segera menekan tombol send dan beringsut dari kursi menuju antrian.  Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku tiba di Tunis International Airport, Carthage. Ya, Tunisia, negara kecil di Afrika Utara, tempat aku berdikari selama enam bulan yang penuh dengan warna. Warna warni itu menempati setiap sisi dalam mozaik illahi yang telah Allah takdirkan untukku. Jalan hidupku berubah. Aku bukan diriku yang dulu lagi.
                    ***
“Tunisia? Dimana itu?,” tanya Bapak ketika aku menyebutkan negara tujuan untuk praktek kerja lapangan.  “Afrika Utara, Pak. company-nya cocok sama Ulka, nanti Ulka kerja design catalog gitu,” jawabku berusaha meyakinkan. “Enggak ada negara lain?,” Bapak sepertinya ragu dengan pilihan tersebut. “Ada sih, ditawarin ke Belanda tetapi company di sana mau Ulka ngerjain coding cuma Ulka enggak jago coding. Jepang, cocok tapi masalahnya cuma dua bulan  sedangkan kampus harus praktikum enam bulan,” Aku memberi alasan yang logis. “Nanti dulu deh. Kamu cari yang lain kalo udah ketemu kasitahu Bapak, ‘’ telepon ditutup. Aku semakin resah. Dalam dua bulan ke depan aku akan menjalani praktikum. Begitu universitasku menyebutnya, dimana semua pelajar akan digembleng di perusahaan tertentu untuk mempraktekkan apa yang sudah mereka dapat selama tiga tahun menimba ilmu. Namun, hatiku belum tertambat pada satu pilihan. Mungkin sudah, tetapi ada keraguan di ujung sana. 
 ***
 20 Desember 2011 

 Malam ini aku akan terbang ke Turki sebelum akhirnya tiba di destinasi akhir, Tunisia. Jam menunjukkan sekitar pukul delapan malam. Airport tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang di terminal F. Koper besar, koper kecil, tas pinggang, backpack, jaket converse kesayangan, sudah siap menemani perjalanan panjang ini. Aku mengambil saputangan dari kantong untuk mengelap air yang keluar dari hidung. Ya, aku sedang pilek dan batuk tetapi apa pun yang terjadi harus berangkat menuju Afrika. Mataku memandang ke antrian yang sedikit di depan lalu ke Bapak dan Ibu yang sedang mengobrol di samping troli juga Dayi dan Angga yang berdiri di sekitar. Ah, aku harus meninggalkan mereka lagi untuk kesekian kalinya. Sedih. Seperti tidak pernah pergi saja, pikirku. 
Kudorong troli dan pembicaraan itu pun terhenti. Aku tersenyum, mengisyaratkan ini saatnya untuk peluk dan cium. Ya, aku selalu menantikan saat-saat ini, ketika mereka memberikan hal termanis untuk direkam dalam ingatan sebelum kembali pulang. Aku tidak ingin menjadikan ini momen melankolis tetapi memang seperti itu adanya. "Kak, hati-hati ya," Ibu menatapku. Aku memeluk tubuh kurusnya, erat. Bapak tersenyum dan aku menghamburkan tubuhku ke badan gempalnya. Aku tahu Bapak tidak pernah berkata banyak tetapi dengan pelukan ini kuharap beliau mengerti kalau pelukan juga sama dengan gambar. Ia berbicara lebih banyak dari kata-kata yang diucapkan sebelum pergi. Dayi dan Angga bergantian memeluk dan mencium pipi kiri-kananku. Mereka siap melepas elang ini mengembara dan bertualang ke negeri antah berantah. Dari jauh kulambaikan tangan , tanda perjumpaan enam bulan ke depan. 
Entah kenapa aku merasa canggung walaupun ini bukan pertama kali aku pergi sendiri dengan pesawat. Tetapi inilah pertama kalinya aku akan berada di pesawat selama dua belas jam lamanya, seorang diri.  Perjalananan ini akan membawaku bermil jauhnya dari Benua Asia tempat tinggalku, ke Benua Afrika.  Kutengok sekelilingku, cukup sepi, hanya ada beberapa orang di bangku depan dan belakang. Mungkin akan penuh setiba di Singapura nanti, pikirku. Aku mengambil tempat duduk favorit, di dekat jendela. Seketika terbayang kejadian tadi, ketika petugas Airlines menanyakan tiket kepulangan di counter check-in. Aku memang belum memastikan tanggal kembali ke Indonesia tetapi mereka tetap memaksaku membeli tiket pulang. Seketika aku panik dan berlari memanggil Bapak yang ada di luar. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bapak diharuskan membeli tiket pulang. Setelah melewati masa-masa tegang, akhirnya ada salah satu Mbak petugas yang berbaik hati membantu. Ia memberikan secarik kertas berisikan informasi ticket booking kepulangan untuk sekedar berjaga-jaga jika ditanya petugas imigrasi nanti. Lega rasanya. Kuharap tidak ada lagi hambatan yang kutemui setelah ini. Dan ditemani pemandangan indah di luar sana, aku pun terlelap.
Dua jam kemudian, pesawat mendarat di Singapura. Lama transit di Changi International Airport hanya empat puluh lima menit. Meskipun sudah pernah ke Singapura sebelumnya tetapi jalur yang kulalui adalah jalur darat Johor, Malaysia-Singapura. Jadilah ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Changi International Airport. Bandara ini mengingatkanku pada Kuala Lumpur International Airport karena ruangan yang cukup luas dan bersih. Aku pun bertanya-tanya kapan Bandara Soekarno-Hatta disulap menjadi bandara kelas internasional yang bisa membuat turis-turis berdecak kagum. Karena menurutku jika sampai di satu negara maka bandara adalah salah satu first impression dari negara tersebut. Lagipula, Pak Soekarno dan Hatta pasti akan sedih melihat bandara yang memakai nama Beliau, tidak dirawat dan dijaga sebagaimana mestinya.
Kerlap kerlip lampu malam itu seperti kunang-kunang yang berterbangan. Seakan menari menemani mereka yang pergi jauh. Indah, sungguh. Namun malam itu, tidak seperti malam-malam biasanya dimana aku dapat tidur nyenyak dengan posisi enak. Tanpa sadar setelah melahap makan malam aku pun terbangun dari tidur dan merasakan mulas di perut. Ya, aku pun mengeluarkan semua isi dalam perutku. Belum pernah sebelumnya aku naik pesawat lalu muntah dalam perjalanan. Mungkin karena aku tidak terbiasa dalam perjalanan panjang. Kalau ada mabuk darat berarti yang kualami adalah mabuk udara. Aku membuka TV untuk mengecek berapa lama lagi perjalanan akan berakhir dan menurut perkiraan dalam tiga jam pesawat akan mendarat di Istanbul. Kembali aku tidur dengan harap-harap cemas. 
 ***
21 Desember 2011

05.00 AM waktu Istanbul, Turki. Dingin menyelimuti tubuh. Angin berhembus kencang. Aku melihat ke bawah, shuffle train sudah menunggu. Kalau di  Kuala Lumpur International Airport, penumpang dapat menaiki aerotrain setelah sampai di dalam terminal. Kali ini di Ataturk Airport, Istanbul, sesampai kita keluar dari pesawat di bawah sudah tersedia shuffle train yang siap mengantar kita menuju terminal. Ataturk Airport, Istanbul adalah salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia. Aku segera mencari surau untuk menunaikan shalat subuh. Aku keluar menuju ruangan Transit Intenational Departure. "Burger King" Fast Food dengan burger dagingnya yang tampak lezat menyambut di hadapan. Ternyata harus naik lift menuju surau di lantai atas. Kubuka pintu surau, rasa hangat menerpa tubuh. Tempat wudlu dihiasi dengan keramik berwarna biru, cantik ditimpa sinar lampu yang terang. Aku segera mengambil mukena untuk shalat. Aneh, kain-kain ini berbeda dari yang biasa kupakai, seperti baju sehari-hari, warna warni. Dua orang di dalam surau tengah tidur, melihat mereka aku pun ikut mengantuk. Kuambil charge handphone, aku beristirahat sembari menunggu baterai handphone penuh.  
Aku berjalan keluar surau. Di koridor tergantung jam dinding besar, segera kuputar jam tangan untuk  menyamakan waktu Turki. Menurut informasi yang kubaca, ini hal pertama yang harus dilakukan ketika sampai airport, yaitu merubah jam sesuai waktu setempat untuk menghindari kesalahan waktu dan tertinggal pesawat. Di belakang jam nampak deretan manusia yang sedang tertidur lelap di atas kursi. Mereka pasti juga sedang menunggu waktu transit. Andai aku mempunyai visa Turki, pasti aku sedang berada di luar dan berfoto ria dibanding menjelajah airport yang kulakukan sekarang. Wow, airport ini benar-benar keren! Toko-toko di dalamnya seperti yang ada di dalam mall. Mewah, besar dan harganya pasti mahal. 
Di tengah hiruk pikuk suara gesekan koper, ketukan sepatu, tangisan bayi dan lapar yang mulai terasa, aku mencoba online dari laptop dan gagal. Syaratnya adalah harus mempunyai nomor Turki untuk bisa mengakses internet di sini. Mungkin itu salah satu alasan kenapa stop kontak menjadi barang langka. Sudah kukelilingi area ini tetapi tidak ada satupun stop kontak untuk mencharge laptop. Baiklah, aku akan duduk diam dan memperhatikan manusia di sekitar. Orang lalu lalang di hadapanku membawa koper dan barang. Mereka datang dari arah kiri, dandanan mereka menunjukkan mereka bukan orang Asia. Mungkin Eropa atau Turki, pastinya aku tidak melihat ada teman dari benua yang sama denganku. Persis di depan adalah supermarket yang penuh dengan barang dan pastinya, cemilan. Sempat terpikir untuk membeli tetapi ah tidak usah, aku juga bakal makan di pesawat nanti. Wanita di sebelahku tengah menggendong bayi yang menangis sedari tadi. Sepertinya aku harus pindah, aku tidak sanggup mendengar suara tangis itu.
Aku pun berjalan ke arah kiri dan kutemukan peta bandara yang terlukis di atas lantai. Peta itu begitu jelas menggambarkan detil setiap bagian di bandara. Jadi tidak perlu khawatir bakal tersesat di bandara sebesar ini. Banyak juga kursi yang tersedia untuk duduk atau tidur. Well, at least we have place to sleep for overnight flight. Aku duduk di seberang lelaki Eropa yang berbadan atletis dan berparas lumayan. Aku pun mencek jadwal penerbangan di papan besar dan belum tertulis nomor flightku di layar. Aku bertanya kepada salah satu staff yang lewat dan wanita itu bilang belum waktunya. Masih banyak waktu sebelum pukul 10.00, kupikir. Aku membunuh waktu dengan memfoto beberapa objek seperti telephone box warna merah yang bergaya jaman dahulu. Tidak peduli kalau aku dibilang norak karena ada juga turis yang jelas berfoto di depan telephone box itu. 
Tiba-tiba, aku merasa seperti berada dalam adegan film. Ketika orang hilir mudik di depanku, mereka berlalu bagaikan desing angin, dan aku masih di sini, duduk di atas kursi. Menunggu. Seperti ada kaca yang memisahkan aku dan mereka, dimana semua bergerak tapi aku tak bergeming sedikitpun. “Beep..beep..beep,” Aku meraih handphone dan melihat waktu yang tertera, 09:45. Aku berlari secepat mungkin. Tunisia, here I come.
  ***

See you next part,
Chandini