06 November 2013

Catatan Harian Tentangmu


22 September 2013
Aku menatap tanggal di kalenderku. Kosong. Hari ini tepat enam belas bulan kamu pergi dari hidupku. Dan aku, entah kenapa, masih belum bisa melupakanmu.


19 September 2013
Aku pergi ke Selangor hari ini. Stasiun Kuala Lumpur Sentral ramai sekali. Desing kereta, hentakan sepatu, teriakan penumpang, semua bertalu menjadi satu. Aku memang sudah lama tidak mendengar keramaian seperti ini. Karena sudah terlalu lama berada di Kedah, mungkin.  Aku menuruni tangga eskalator menuju platform enam dengan santai. Aneh, aku merasa sangat familiar dengan tempat ini. Sign biru bertuliskan “Platform 6”, ruang tunggu abu-abu, lantai-lantai keramik, rasanya aku pernah datang ke sini sebelumnya. Oh ya, aku memang pernah ke tempat ini sewaktu pergi mengunjungi Batu Caves dengan Arga. Waktu itu, adalah  masa-masa kepulanganku dari Austria dan kami memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke Batu Caves, salah satu tempat wisata di Malaysia. Aku tidak dapat menghentikannya lagi. Adegan demi adegan mulai berputar. Aku dengan gaun ungu polkadot putih kesayanganku dan  ia dengan t-shirt dan jeans hitam tengah berdiri menungu kereta. Kami sedang gusar dan sedikit canggung karena ia terlambat datang hari itu. Terlebih, kereta yang ditunggu cukup lama menghampiri kami. Aku berusaha menghentikan adegan-adegan tersebut. Aku tertatih, menekan tombol stop untuk adegan di hadapanku sekarang.  Tetapi, film tidak berhenti. Seketika, kereta pun datang. Sesaat adegan tersebut hilang berganti dengan pemandangan nyata di depanku. Aku pun masuk ke dalam kereta. Aku memperhatikan LCD du hadapanku, titik-titik stasiun yang dilalui kereta diperlihatkan dengan jelas. Mataku menelusuri satu persatu titik-titik tersebut dan berhenti pada titik terakhir, Sungai Gadut.
 “Itu Ndin, tempat Arga..di Sungai Gadut..di ujung..jauh banget,”
“Oh, ya..”
Hari itu, kami bertengkar. Arga terlambat datang dua jam dari waktu yang kami tetapkan untuk bertemu.  Aku sangat kesal padanya.  Arga yang dulu selalu datang on time justru berubah ketika aku telah menjadi seseorang yang lebih tepat waktu dibanding diriku yang dulu sejak kepulanganku dari Austria. Dan kami, hanya diam tanpa suara di ruang tunggu kereta. 
Ya, sekarang aku tahu kalau Sungai Gadut memang terletak di ujung jalur stasiun kereta. Maafkan aku Arga.


17 September 2013
Aku mengerti tentang satu hal, yaitu, jodoh. Akhirnya, setelah dua hari berada di rumah kak Nuri, tadi baru saja, kami bisa melakukan kegiatan curahan hati bersama.
“Aku baru sadar aja kak, kalo Arga pergi ninggalin aku dua bulan setelah aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya ke dia. Nggak nyangka aja.”
“Sekarang, jodoh menurut kakak adalah when the other party does not ever give up on you.”
Kamu dengar itu,? Jodoh adalah ketika orang tersebut tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati kita.
“Huaaaa….kakaaakkkk! Wise banget sih…!”
“Itu menurut pendapat kakak..”
Mungkin bukan salah Arga memilih bersama perempuan lain.
Mungkin, karena kami memang tidak berjodoh.


14 September 2013
Aku mengalami kejadian itu lagi. Memori itu kembali terputar.
“Arga, rumahnya lucu! Fotoin aku ya,”
“Ga, ini dimana sih, kok banyak tempat makan?”
Kota baru. 2011. Masih jelas dalam ingatanku tentang semua adegan itu. Aku  melihatnya selagi berlari menerobos hujan malam tadi. Deretan rumah makan, pagar-pagar kayu, jalanan. Semua masih sama. Kenangan itu kembali merasuk. Aku seharusnya memang tidak boleh berada di sana lagi setelah waktuku dengan Arga.
“Aduh, aku lapar. Lihat-lihat makanan dulu yuk?”
“Makanannya nggak enak..”
“ Kita nyasar, nih. Kemana,  ya, jalan ke arah KLCC?”
Kala memori itu tidak dapat dihentikan lagi, aku hanya membiarkan diriku menikmatinya, setiap kata, tawa dan canda bersamanya. Dulu.
“Maafin aku ya, Ga. Gara-gara aku kita jadi nyasar begini.”
“Hahaha.. nggak apa-apa. Lumayan..olahraga..”
Anehnya, aku tidak merasakan kesakitan itu. Aku hanya membiarkan film kenangan itu bermain di hadapanku. Mungkin sedikit mengiris-iris rongga hatiku. Mungkin aku belum merasakan lagi sakit perih akan ingatan tersebut. Mungkin juga aku sudah mati rasa dan kebal. Mungkin.
Aku terbawa kembali ke dalam kenyataan ketika Faza memastikan mengenai tempat tujuanku. “Kakak  ke terminal Putra, kan?” Faza adalah orang yang baru saja kutemui hari ini. Aku melakukan kopi darat dengan teman-teman radio malam tadi. Sungguh menyenangkan bertemu dengan mereka. Setidaknya, hal itu dapat sedikit menghapuskan kesedihanku yang teringat kembali akan Arga.  


6 Agustus 2013
Tania berkata hal krusial tentang hubunganku dan Arga. Ia bilang kalau aku harus melupakan Arga saja. Apa benar aku harus melupakannya?
 “Gimana lo sama Arga?”
Aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Masih segar dalam  ingatanku ketika aku mengirimkan surat, lukisan portrait dirinya dan CD berisikan rekaman suaraku menyanyikan lagu favorit kami berdua. Aku sempat galau dan gelisah ketika ia kembali menghubungiku setelah aku melayangkan paket tersebut ke rumahnya. Aku ragu apakah aku harus menerimanya kembali.
Dan tidak lama setelah itu, setelah ulang tahun kami, ternyata ia sudah menjalin cinta dengan perempuan lain.  Ada rasa sedih, tercabik-cabik, di dalam hatiku  ketika mendengar hal tersebut. Dan, mungkin perasaan itu jualah yang tercermin ketika aku  men jawab pertanyaan dari Tania.
“Arga udah jadian lagi sama cewek dua bulan setelah gue menyatakan bahwa gue masih sayang sama dia.”
Setidaknya, hari ini aku mendapat kepastian bahwa aku memang harus melupakan Arga. Hari ini menyenangkan. Masa-masa itu kembali terulang. Ketika aku dikelilingi teman-teman berhargaku, Tania, Liza Widya dan Nisa.
Andai saja aku bisa bersama mereka setiap hari. Aku pasti tidak akan memikirkan Arga,


25 July 2013
Aku memilih mengambil biskuit “happy Choco” dari rak. Arga suka sekali membeli biskuit ini dulu. Aneh, aku sama sekali tidak pernah mencoba biskuit ini ketika bersama dengannya. Aku terlalu termakan egoku yang tidak ingin menambah jumlah kesamaan di antara kami berdua.
Dan ternyata rasa biskuit cokelat ini, memang enak. Aku hanya perlu dua kali mencicipinya untuk benar-benar menyukainya.


11 July 2013
Baru saja, aku  mencium bau tanah sehabis hujan. Bau yang kental dengan aroma segar. Aku tidak menyangka baunya sesegar  ini. Arga selalu bilang kalau ia suka bau  tanah sehabis hujan. Aku tidak pernah tahu apa keistimewaan bau tersebut. Dan aku  memang tidak pernah menyukainya sebelum ini. Namun sekarang, aku mengerti kenapa Arga begitu suka akan bau tersebut.


22 September 2013
Dan aku pun menulis surat untukmu.

Dear Arga,
Hari ini, detik ini, aku masih belum bisa melupakanmu. Padahal kita sudah enam belas bulan berpisah, ya. Aku tidak tahu kenapa aku belum bisa melupakanmu. Mungkin karena aku belum bisa meaafkan diriku sendiri yang dengan sembrononya mengakhiri hubungan kita. Mungkin karena aku masih menyayangimu. Aku tidak bisa lupa bagaimana dulu aku selalu berada di sampingmu. Dan kamu berada di sampingku. Aku sudah menganggapmu seperti seorang kakak, sahabat dan kekasih. Sampai ketika hari itu datang, hari dimana kita berpisah. Aku menangis meronta-ronta menghadapi kesalahanku sendiri yang memutuskan dirimu. Lagi-lagi, aku harus menyatakan bahwa aku belum bisa memaafkan diriku sendiri, atas kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku yang telah megusir orang yang paling berharga dalam kehidupanku, dengan tanganku sendiri.
Lalu, tanpa kehadiranmu, aku berusaha berjalan tegar. Terseok-seok, tepatnya. Dengan kehadiran teman-teman yang tidak mengacuhkanku, mungkin karena aku juga tak mengacuhkan mereka dulu ketika aku bersama denganmu. Tidak apa, itu pantas buatku. Dan, kamu tahu, aku selalu saja diingatkan akan cerita dan tawa kita dimanapun aku berada, di sudut kampus, pusat perbelanjaan hingga taman bermain. Aku tidak dapat melupakannya. Itu semua sangat menyiksaku. Membuatmu, seolah hadir dalam hidupku kembali. Kamu, yang sudah bersama dengan perempuan lain, seolah datang dalam kehidupanku. Kamu mungkin tidak merasakannya. Namun, aku, yang berada di tempat kenangan kita, merasakan itu dengan teramat dalam. Seolah film memori itu kembali berputar. Aku dapat mendengar suaramu yang merayuku. Aku dapat melihat tawa-tawa ceria kita. Aku dapat melihat keindahan itu semua. Namun, semua itu palsu. Dan, sekuat apapun aku berusaha menghentikan dan menghilangan putaran memori itu, aku tetap tidak bisa. Aku hanya dapat membiarkan diriku ikut berputar, masuk ke dalamnya lalu tersenyum menyaksikan cerita-cerita indah tersebut.
Arga, aku tidak akan memintamu kembali. Tidak. Namun, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan, pelakuan dan kebohonganku padamu. Maaf yang mungkin sudah berkali-kali terucap dari dalam mulutku. Kuharap, ini adalah permintaan maafku yang terakhir. Kuharap setelah ini aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri dan memaafkan diriku. Diriku, yang dengan segala kesalahan dan ketidaksempurnaan,diriku yang sudah membuatmu pergi dari kehidupanku. Ya, kuharap, aku bisa berjalan lebih tenang setelah ini.
Terima kasih atas segala memori indahku bersamamu. Kamu telah membuatku mengalami masa-masa indah yang mungkin tidak dialami gadis lain. Sekali lagi, terima kasih.

Sincerely,
Andini







28 June 2013

It is called Appreciation..

Dalam satu festival kebudayaan..

Deddy: DJ Ulka.. DJ Ulka..
Saya: Ya?
Deddy: Ini Deddy..
Saya: Oh..(membandingkan foto Deddy dan rupa aslinya) (bingung)
Deddy: Deddy..
Saya: Oh Iyaa..! Ngapain di sini?
Deddy: Saya wakil dari UKM..
Saya: Ohh..
Deddy: Hebat ya.. saya denger cerita-ceritanya..
Me: (tersenyum) (mencoba mengerti apa yang dimaksud Deddy)

(Kami masih dalam sesi foto dan sedang mengambil jepretan terakhir)

Deddy: Sukses ya jalan-jalannya..
Saya: (tersenyum lebar) Makasih Deddy..


Deddy adalah pendengar Radio PPI Dunia tempat dimana saya menjadi salah satu penyiar untuk program Jalan-jalan..


x')
Chandini




20 June 2013

Don't Try This as a PhD Student

I recommend you for not following this procedure:

(at Wan Tomyam Restaurant)

Me: Hey, Prof. Zhu how are you?
Prof Zhu: Heyy, i'm fine.
Me: Do you still remember me, Ulka, the one who asked you during your presentation in colloquium? and also email you for the slides..
Prof Zhu: Yaa..Ulka.. Oh, did you get my slides?
Me: No. Cuz even though they gave me all slides in colloquium but your slides were not there.
Prof Zhu: Oh, really? Okay, i will email it to you (Give me a piece of paper)
Me: Oh.. does it bother you?
Prof Zhu: No, don't worry.

(I'm writing my email..)
Prof Zhu: So, you don't use UUM email.
Me: Yaa, i rarely use it.
Prof Zhu: (laughing)
Me: Prof, will you be in ICOCI conference?
Prof Zhu: Yeahh..ICOCI.. why?
Me: My paper was accepted and Doctor Syamsul will present it..
Prof Zhu: Oh..why Doctor Syamsul? You should the one who present it.. We also have cut the fees and you will get 50% discount as UUM student.
Me: Oh..okay..i will ask him..
Prof Zhu: And it will be in Sarawak, Kuching..for the first time..
Me: Ya..ya..
Prof Zhu: You should go there..
Me: .. Actually i have my own reason..
Prof Zhu: Aaahh..i see..

(She is about going to go..)
Prof Zhu: Okay..now i have to have my dinner first..
Me: (shake hands) Congratulations, you are a Professor now..
Prof Zhu: Ooh..It's been ages.. it is since January..
Me: Yeah.. i just saw it..
Prof Zhu: (laughing) (Silence for a moment)
Me: See you Prof. Thank you.
Prof Zhu: Yeah, see you!

There should be a script for meeting a Professor. Or the best way is just keep silent. :|



06 June 2013

Catatan Harian Tunisia Part 9.14

31 Januari 2011

Malam ini kami pergi ke rumah Wissem. Ia sudah berjanji semalam akan membawa kami ke rumahnya. Sesampai di rumah, kami disambut dengan sekumpulan keluarga yang tengah menonton televisi. Tawa-tawa anak kecil itu mengingatkanku pada adikku. Aku merindukannya. Adikku, Angga dan Dayi, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Adik perempuan Wissem menghampiri abangnya dan mereka berbicara sesuatu. Wissem segera membawa kami ke kamarnya. Kamar Wissem terletak di dekat ruang tengah. Kamar yang cukup rapih untuk ukuran lelaki. Wissem membicarakan mengenai kamarnya yang dulu sempat ditempati salah satu trainee. Selama berbulan-bulan, trainee yang berasal dari Turki itu menempati kamar Wissem. Aku sebenarnya tidak mengerti apa maksud Wissem menyatakan hal itu kepada kami. Lalu, adik perempuan Wissem mengetuk pintu dan membawa senampan sajian untuk kami. Itu adalah teh.  Teh yang ada di dalam gelas ukuran kecil, berukuran setengah jengkal jari. Kecil. Sekali. Mungkin ini adalah gelas khas Tunisia untuk menjamu tamu. Teh yang disuguhkan adalah teh biasa, thé normal yang biasa aku minum di Baroque Cafe. 

Tidak lama kami pun keluar untuk makan malam. Aku tidak dapat menahan diriku untuk memfoto keceriaan tawa adik-adik Wissem. Ayah Wissem sedang menikmati shisha sambil menemani anak-anaknya menonton. Ibu Wissem berjalan dengan memakai tongkat penyangga. Aku tidak tahu sakit apa yang diderita Beliau namun aku sangat sedih melihatnya. Ibu Wissem segera pergi ke dapur melihat kami yang menuju arah dapur. Ternyata Ibu Wissem belum selesai memasak. Malam itu, Ibu Wissem akan memasak "Rouz Djerbi" makanan yang biasa disajikan orang Tunisia kepada tamu. Sembari itu, kami menonton televisi dan melihat revolusi yang terjadi di Egypt. Kami bertanya-tanya mengenai nasib Isabella. Tiba-tiba Wissem berseloroh, "Isabella is a revolution girl! She went to Tunisia and we had revolution. Now she is in Egypt and that made Egypt had revolution too!" Hahaha. Kami tertawa. Masakan itu pun selesai. Ya, akhirnya aku makan nasi. Aku tidak menyangka kalau yang dimasak oleh Ibu Wissem adalah nasi. "Rouz Djerbi" adalah makanan dengan nasi dan lauk daging di dalamnya seperti ayam, udang juga sayuran. Kami memamakannya dengan lahap.

Setelah kenyang, kami berpamitan dan sebelumnya, aku berfoto dulu dengan keluarga Wissem. Bukan apa-apa, mereka tidak berbicara dengan kami karena mereka tidak pandai berbahasa Inggris. Kami pun tidak bisa berbahasa Perancis, kecuali Paulina. Aku iseng-iseng menanyakan kabar mereka, "Comment  ca va?" Salah satu Ibu menjawab  "Ca va..ca va bien ..merci. Comment tu t'appelle?" Aku sempat bingung tidak tahu harus menjawab apa.   "Oh ya..Je M'appelle Ulka." Tawa pun pecah di ruangan karena aku yang terbata-bata mengucapkan bahasa Perancis. Aku sempat berfoto dengan keluarga Wissem dan setelah itu kami pun pulang. 


1 Februari 2011

Terjadi kerusuhan di depan rumahku. Sore itu, aku sedang online di chat box Radio PPI Dunia dan tiba-tiba aku mendengar suara deru motor yang membahana. Lalu sudah banyak orang berkumpul di bawah, tepat persis di depan rumahku. Orang-orang itu bertengkar, aku tidak tahu apa yang mereka seterukan. Tidak lama, terdengar letusan seperti suara bom meletus. Bom! Meledak! Aku segera mencari-cari Marcella dan Paulina. Mereka bilang tidak apa. Aku kembali diingatkan akan revolusi, momen-momen menegangkan itu. Sepertinya, negeri ini tidak akan pernah lepas dari revolusi. Hidupku tidak akan pernah tenang di Tunisia.



Sampai Jumpa,
Chandini




Catatan Harian Tunisia Part 9.13

29 Januari 2011

Sore ini kami akan pergi ke Gabes. Aku dan Paulina sedang bersiap-siap. Marcella masih berkutat dengan makan siangnya di dapur dan sembari itu Fateh, anggota lembaga pertukaran yang sering main ke rumah, berkata bahwa kalau ada apa-apa hubungi ia saja karena dulu ia sering pergi mengunjungi mantan kekasihnya yang ada di Gabes. Marcella pun pergi ke kamar. Ketika kami semua tengah menyiapkan barang-barang kami, Fateh tertawa melihat tulisan di kaos yang aku kenakan.  "I love Thailand because somebody in Thailand loves me". "Ulka, i can't imagine, you are from Indonesia, studies in Malaysia and you love Thailand!", Fateh tertawa. Aku pun meringis. Setelahnya, kami berlalu pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada Fateh. 

Perjalanan di looage cukup menyenangkan. Aku dan Marcella berfoto-foto. Tidak lama, kami pun sampai di Gabes. Hanya dua jam perjalanan dari Sfax menuju Gabes. Sesampai di sana, tidak ada siapa-siapa, maksudku orang yang bertugas menjemput kami. Marcella bilang Eduardo akan sampai dalam beberapa menit. Sembari menunggu, aku memperhatikan keadaan sekitar. Sesaat setelah turun dari looage tadi, hanya ada taksi, looage dan kendaraan umum lainnya, tidak ada stasiun di sini. Sepertinya Gabes adalah kota yang lebih kecil dari Sfax, pikirku.

Lalu, Eduardo pun datang dengan mobilnya. Kami semua langsung masuk ke dalam mobil sedan tersebut. Sungguh letih. Eduardo langsung menyapa, "How's life?" Aku tertawa mendengarnya. Dengan pekerjaan menumpuk, apa yang harus kujawab? Aku diam saja. Eduardo membawa kami ke satu kedai kecil. Ia ingin beli air minum dahulu, rupanya. Ia berkata, "Un minito" . Marcella tertawa lalu menjelaskan kepada aku dan Paulina bahwa Eduardo bilang "Satu menit." Well, ia berbicara dalam bahasa spanyol. Sepertinya aku harus siap-siap mendengar pembicaraan dalam bahasa Spanyol di mobil ini. Kemudian, kami pun sampai di rumah Eduardo. Aku sangat surprise melihatnya. Eduardo mendapatkan semua yang orang-orang inginkan. Tempat ini bukan rumah melainkan apartemen. Besar. Mewah. Luas. Bahkan ia juga mempunyai balkon yang menghadap langsung ke pantai. This is amazing! Mulutku terkatup memandang indahnya pantai. Sebenarnya tidak indah-indah amat, hanya aku yang rindu pantai. Aku pun sibuk memfoto pemandangan pantai dengan rumah di sekelilingnya.

I think everybody is busy. Aku pergi ke dapur dan melihat Paulina yang sedang memotong-motong daging. Aku ingin membantu Paulina tetapi melihat ia yang tengah khusyuk, aku takut malah jadi menganggunya. Aku memutuskan untuk melihat isi lemari Eduardo. Wah, ada Milo! Milo, susu favoritku itu! Wah, darimana ia mendapatkannya? Setahuku Milo tidak diproduksi di Tunisia. "Ulka, i bought it in Italy," Eduardo melihatku tatapan mataku yang berbinar-binar memandang kaleng susu tersebut.

"Great! Can i open it?" 
"Sure."

Aku berlari mengambil gelas dan menuangkan bubuk susu cokelat tersebut. Ini pasti sangat lezat. Aku membayangkan kalau Milo ini sudah masak, aku akan meminumnya sampai tetes terakhir. Kawan, aku bukan berlebihan. Hal ini wajar karena asal kamu tahu sewaktu aku di rumah dan pindah kuliah pun aku tetap minum Milo setiap hari.  Seperti ada yang hilang kalau tidak meminumnya barang sehari saja. "You know, in my country, i can buy it anytime i want," Kataku sambil meneguk Milo-ku yang sudah masak. "In Indonesia? Oh ya, you know, Ulka, i have a good friend from Indonesia." 

"Really?"
"Yeah. He is a really really good friend."
How did you meet him?
"During my master in Paris. " 
"So, you have to come to Indonesia!"

Aku menyuruh Eduardo untuk datang ke Indonesia karena ia mempunyai Sahabat yang berasal dari Indonesia. Sebelum pesta dimulai, kawan Eduardo datang, namanya Pierre. Ia membawa satu botol alkohol yang berasal dari Perancis. Oh ya, malam itu kami pesta alkohol. Aku tidak minum hanya kalap memfoto cover art dari minuman-minuman tersebut. Ada Havana Club, wine yang aku tidak tahu namanya, beer dari Perancis dan yang sangat tidak disangka-sangka adalah Zubrowka dari Polandia. Vodka ini terkenal karena lidi dari banteng yang terdapat di dalam botolnya. Eduardo langsung memanggil Paulina untuk memperlihatkan vodka ini. Paulina cukup kaget begitu tahu vodka dari negaranya ada di sini. Seperti yang bisa kamu tebak, aku menghabiskan malam itu dengan minuman. Ya, minuman yang aku buat sendiri. Aku tidak mau diejek anak cupu atau chicken karena aku tidak bisa minum. Akhirnya, kamu tahu apa yang aku buat? Aku membuat ramuan sendiri. Aku mencampur coca cola, sprite dan boga menjadi satu. Entah apa kata mereka, yang penting aku mempunyai minumanku sendiri. 

Kami semua sedang berkumpul di luar ketika aku sedang menggunakan kamar mandi untuk beberapa waktu. Aku pun kembali dan melihat kumpulan daging sosis di atas meja. Tanpa pikir panjang, aku segera memakannya. Ketika aku bilang pada mereka ini enak, mereka tertawa. "Why you guys are laughing?" aku bingung. Akhirnya Eduardo menyatakan kalau sosis itu berasal dari daging babi. Kontan, aku tidak jadi tertawa. Mulutku terkatup. Sosis itu tampak enak sekali. Aku harus mewaspadai makanan yang ada di rumah ini. Minuman pun dibuka, saatnya pesta dimulai. Aku spontan langsung mengambil minumanku yang ada di dalam. Aku takut sekali gelasku tertukar dan aku pun menaruhnya di ujung. Malam itu sungguh indah. Kami bernyanyi dan berdansa bersama. Aku berdansa dengan Pierre. Oh ya, kalau kamu mau tahu Pierre berasal dari Amiens, Perancis. Ya, teman Eduardo memang banyak dari negeri Perancis karena perusahaan tempat ia bekerja adalah berpusat di Paris, Perancis. Tadi pun Eduardo sempat bilang bahwa ia mempunyai teman Perancis yang beristri orang Indonesia. Sayang, istri kawannya itu sedang sakit jadi mereka tidak bisa datang ke party

Well, kalau kamu mau bayangkan, Kami duduk di meja yang menghadap ke balkon. Musik yang diputar berasal dari ruang tamu Eduardo yang bersebelahan dengan balkon. Ada jendela sebagai penghubungnya. Ketika Shakira beryanyi, "Waka-waka", kami pun segera naik ke atas keramik kursi dan beryanyi lagu world cup itu. Frase "It's time for Africa" kami nyanyikan kuat-kuat karena kami merasa beruntung berada di sini. Aku berdansa malam itu. Meski aku tidak percaya diri karena aku memang tidak pernah berdansa sebelum ini. Aku pun berdandan ala anak breakdance dengan jacket dan sepatu converse. Aku naikkan hoody-ku dan hal itu menarik perhatian Matthew, salah satu teman Eduardo. Oh ya, ada tiga orang teman Eduardo yang ikut berpesta bersama kami. Pierre, Matthew dan Thibau, ketiga orang tersebut berasal dari Perancis.  Matthewlah yang paling menarik perhatian dari ketiganya. Dari awal ia datang, aku memekik dalam hati, "Lucu sekali!" Ya, cute, karena memang tidak ganteng tetapi menarik. Ia memperhatikanku karena aku memang tidak bisa berdansa dan aku tidak minum. "Where is your glass?" Matthew bertanya. Aku tidak mau menjawab kalau aku tidak boleh minum,"Yeah, i'm done," kataku. Semoga ia mengerti maksudnya kalau aku memang sudah selesai minum, begitu kira-kira. Matthew pun malu untuk bertanya. 

Aku melanjutkan dansaku dengan Pierre. Aku sebenarnya gelagapan berdansa dengannya. Aku tidak tahu maksud Pierre mengapa ia ingin berdansa denganku. Bahkan ia sempat mengangkat tinggi-tinggi badanku. Eduardo juga berdansa dengan Marcella. Ia memegang pinggang Marcella erat-erat. Dansa di Colombia adalah hal biasa, pastinya. Teman-teman Eduardo pun menyoraki Marcella dan Eduardo yang tengah berdansa. Eduardo berkata sesuatu dalam bahasa Perancis kepada teman-temannya sembari berdansa dengan Marcella. Aku tidak tahu apa yang ia katakan.  Sebelum pesta berakhir, Matthew mengobrol dengan kami lebih tepatnya Paulina. Ia bertanya nama Paulina, "What is your name?" Aku bingung. Paulina pun menjawab bahwa nama lengkapnya adalah Paulina Jurkowska. Matthew dengan senyum menjawab, "Okay, it will be a test for tomorrow." Aku semakin tidak mengerti. Aku mencoba mengerti maksudnya dan mengambil kesimpulan karena mereka mabuk pasti mereka akan lupa hal semalam itulah kenapa nama itu dijadikan tes untuk siapa yang masih bisa mengingatnya.

Sesudah itu, aku pun meneguk "ramuan terakhirku" dan duduk di sofa. Aku ingin online dengan Febrian. Once, aku muncul di messenger, aku langsung menceritakan semuanya kepada Febrian. Ia pun memarahiku. Ia bilang aku sudah berubah. Ia bertanya aku minum apa dan berdansa dengan siapa. Aku lelah. Febrian selalu seperti ini. Ia tidak pernah mengerti kondisiku. Ia tetap mengulang-ulang, ia bilang dulu aku tidak pernah minum dan pesta. Aku tidak pernah sebrutal ini. Aku pun menjelaskan kalau aku tidak punya pilihan. Mereka adalah satu-satunya teman yang aku punya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Selama aku tidak minum alkohol, menurutku itu sah-sah saja. Lagipula Allah juga pasti mengerti, kalau aku hanya melakukan hal ini selama aku di Tunisia. Tidak mungkin kan, semua temanku berpesta dan aku hanya seorang diri di kamar. Mereka pasti bingung dan menanyakan apa yang tengah terjadi denganku. 

Semoga Febrian mengerti. Kepalaku pusing. Perutku pun sakit. Apakah karena "ramuan" itu ya?


30 Januari 2011

Aku bangun paling awal. Rumah Eduardo berantakan seperti kapal pecah. Sampah bekas minuman dan makanan tersebar di seluruh ruangan. Di dalam dan di luar rumah. Aku menuju keluar dan melihat pemandangan yang sama persis sebelum aku meninggalkan tempat itu semalam. Tentunya lebih banyak sampah karena pesta sudah selesai. Kalau kau melihat rumah setelah party seperti yang ada di film-film, ya itulah rumah Eduardo sekarang. Aku membereskan sampah -sampah yang ada di dalam dan luar rumah. Di luar cukup dingin, wajar, masih jam delapan pagi. Apalagi rumah Eduardo terletak di tepi pantai. Tidak lama, Marcella dan Eduardo pun bangun. Mereka ikut membantu membereskan sampah-sampah karena melihat tumpukan sampah  yang begitu banyak. "When will the cleaning lady come?" tanya Marcella. "Maybe tomorrow," Eduardo menjawab sekenanya. Lalu, Marcella dan Eduardo pun memasak areepa, makanan khas Colombia. Menu makanan yang biasa disantap di pagi hari. It's a bacon. Aku tidak tahu apa itu bacon sampai Eduardo bilang padaku kalau aku tidak bisa memakannya. Baiklah, aku akan sarapan omelet saja. Entah kenapa, pembicaraan pun beralih ke hubunganku dengan orang-orang Indonesia. Marcella bilang, "Ulka, you are very close to them, right?" kata Marcella sambil mengaduk-aduk adonan areepa. Aku menjawab, "Yaa, they're like my family." Eduardo pun menyambung pembicaraan "Yes, when i was in Paris, Indonesians are close to each other. You have like..every two weeks an Indonesian event." Eduardo berbicara sambil mencolek-colek adonan susu areepa ke dalam mulutnya. Marcella pun memarahi dan mengambil jari telunjuk Eduardo dari panci. Aku lucu melihat mereka. Dan mereka berkata-kata dalam bahasa Spanyol.  

Paulina bangun. Oh tidak, ia masih dalam suasana hang over. Paulina mabuk berat karena party semalam. Aku tidak tahu apa sebabnya tetapi ia masih mabuk sampai detik ini. Marcella memberikannya segelas coke dan itu tidak ampuh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Paulina. Namun, kami tidak bisa membuang-buang waktu. Kami akan segera pergi ke desert lalu pulang ke Sfax. Eduardo pun menyalakan mobilnya dan kami pergi menuju desert. 

Di perjalanan, setiap lima belas menit, Paulina selalu bilang, "I'm afraid we should stop." Ia pun membuang dahaknya. Paulina berkata bahwa mabuk kali ini adalah mabuk terberat yang ia alami sejak malam tahun baru dua tahun yang lalu. She can't get over it. I can see it from her face. Badannya terlihat lemas dan ia selalu merasa mual. Oh ya, sepertinya suasana revolusi masih terasa, Eduardo diminta kartu pengenal di tengah jalan. Ada polisi yang menanyakan hal itu padanya. Eduardo sudah menyiapkan kartu identitas pekerja ia di Alstom Company. Ia pun lolos dari pemeriksaan. Kawan, suasana di sekitarku saat itu, hanyalah desert. Literally, desert. There's no house or even animal. Just desert. Sampailah kami di satu tempat, ada restoran dan tenda-tenda. Seperti tempat bersenang-senang di dekat gurun. Eduardo bilang, ini adalah tempat peminjaman motor cross. Kamu tahu kan, semacam mobil kecil yang bisa dipakai untuk berkeliling di gurun. Ya, mereka menyewakan alat itu. Aku tidak tahu berapa perj-amnya namun aku juga sedang tidak berminat karena suasana masih musim dingin.

Karena lapar, aku meminta Eduardo untuk membelikanku makanan. Sayangnya, restoran di siini sedang tidak menjual makanann, yang mereka jual hanya chips dan minuman. Bolehlah, chips untuk pengganjal. Eduardo membeli empat chips untuk kami. Ia berkata dalam Perancis,"Quatre..." Eduardo pandai berbahasa Perancis. Pantas, ia melanjutkan studi master di salah satu kota teromantis di dunia itu. Kami pun bersenda gurai sambil menikmati chips. Kami tertawa-tawa mencoa menghibur Paulina yang sedang hang over. Lalu Eduardo berkata, "It's like when i was trying my first alcohol at 18 years old. It was sucks ..but i want to have it more." Kami pun tertawa.

Perjalanan pulang ditutup dengan aku yang sangat ingin berfoto dengan unta. Ada unta di tengah jalan. Iya, di tengah gurun. Aku ingin sekali berfoto tetapi aku melihat unta itu sedang mengeluarkan air liur. Aku yang tadi ingin berfoto pun mengurungkan niatku. Eduardo pun menyetop mobil dan menyuruhku untuk berfoto. Aku turun tetapi aku tidak berani mendekat kepada unta tersebut. Akhirnya aku mencoba memberanikan diri dan mengambil posisi di sebelah unta. Klik! Marcella pun mengambil fotoku.

Malamnya, kami sampai di rumah. Ada Wissem dan Nizar di ruang besar. Marcella bilang kalau kami habis saja party di rumah teman kami. Wissem kaget ketika ia tahu kalau aku minum alkohol. Ia pun bertanya, "Ulka, you had party? Was it amazing? Don't forget to wash your hair and body." "Yeah, it was amazing!" Aku tersenyum-senyum dan pergi berlari. Wissem tidak tahu kalau aku minum ramuanku sendiri.

Marcella bilang kalau Eduardo menyukaiku. Ia bilang, "Ulka likes caricatura.." Caricatura adalah bahasa spanyol yang artinya tokoh kartun. Aku juga menyukai Eduardo. Ia adalah lelaki pertama yang membuatku senang di weekend-ku yang juga paling menyenangkan di Tunisia.



Chandini



03 June 2013

Catatan Harian Tunisia Part 9.12.2

28 Januari 2011

Monica, bakal calon rommate-ku mengadd-ku di Buku Muka. Dia berasal dari Canada. Namun, namanya tertulis dalam bahasa Arab. Apakah ia seorang muslim? Itu masih merupakan misteri. 

Seperti kata Chrisye, "Badai pasti berlalu", aku sangat berharap revolusi kemarin bisa mendatangkan banyak pelajaran untuk Tunisia. Aku berharap akan ada cahaya baru datang yang bisa membuat Tunisia menjadi negara yang lebih baik. Bu Giri menanyakan kabarku dan kubilang kalau keadaan di Sfax sudah cukup aman. Hanya di beberapa titik tertentu masih terlihat demonstrasi. Di Tunis pun begitu, Bu Giri bilang bahwa daerah seperti La Kasbah, Habibi Bourgiba dan kota pun masih banyak masyarakat yang melakukan demonstrasi. Bu Giri juga menyatakan pesan padaku bahwa aku harus berjaga-jaga kalau sesuatu terjadi. Lebih baik aku menyiapkan satu tas khusus paspor dan dokumen penting yang bisa segera kubawa pergi dalam keadaan genting. Aku segera mencatat pesan penting Bu Giri tersebut. 

Akhir-akhir ini, aku sedang mengagumi satu musisi yang bisa menciptakan musik-musik instrumental. Ia jago menciptakan cover-cover dari lagu Disney. Namanya Pogo. Asalnya dari Adelaide, Australia. Selain itu, ia juga membuat sendiri video klip  dari lagu-lagu ciptannya dan baru saja tadi aku melihat artwork ciptaannya. Sungguh, multitalented.  

Sayang sekali, keadaan masih gawat. Sudah pasti, aku tidak bisa ke Tunis besok. Padahal aku sangat ingin merayakan ulang tahun Fitri di rumahnya. Alih-alih, Marcella mengusulkan untuk pergi ke rumah temannya di Gabes.

Oh ya, aku memfoto pemandangan kota Sfax sore ini. Sunset adalah pemandangan tiada akhir buatku. Aku segera mengklik tombol capture di handphone-ku.



Sampai jumpa!
Chandini


02 June 2013

Catatan Harian Tunisia Part 9.12.1


#NowPlaying A Match Made in Heaven  

27 Januari 2011

Tidak terasa revolusi sudah berlalu. I mean, it is not over yet. Namun, tinggal di wisma, memakan makanan Indonesia setiap harinya, membaca berita, bergaul dengan TKW, terkatung-katung dalam keadaan yang tidak jelas, seringkali panik, aku merindukannya. Aku merindukannya. Revolusi yang sudah membuat semua mata dunia tertuju pada Tunisia itu sudah (belum) berakhir. Revolusi yang selalu sukses menganggu tidur malamku itu, sudah cukup pulih. 

Tentang pekerjaan, aku masih belum berubah. Aku masih belum bisa menahan diri dari godaan mengakses Buku Muka, provoke-online.com, kompas.com, ketika bekerja. Kadang aku juga membuka email, which is, berhubungan dengan pekerjaanku di Radio PPI Dunia. Kamu tahu kan, aku bekerja di Radio PPI Dunia. Aku adalah kru tim program. Dan pekerjaanku banyak sekali ditambah karena dua partnerku sedang cuti. Terpaksa aku yang mengerjakan semuanya seorang diri. Namun, ada berita baru, satu email menyatakan, RRI (Radio Republik Indonesia) meminta kerjasama dengan radioku. Aku pun mendengarkan podcast Mimo, temanku, tentang tuntutan revolusi di Mesir, negara tempat ia berkuliah. Bagaimana kalau aku membuat podcast untuk Tunisia? Menarik.

Saatnya untuk makan siang. Oh tidak, sebelum makan siang, aku sudah melakukan "rekreasi" tersendiri yaitu foto-foto di kamar mandi. Aku merasa cukup manis hari ini, tidak apa kan menghargai diri sendiri dengan foto-foto? Setelahnya, aku langsung membeli sandwich di restoran yang biasa aku kunjungi. 

They are still alive! Ya, restoran yang biasa kukunjungi sebelum masa revolusi ini masih berfungsi normal seperti biasa. Aku tidak bisa menghabiskan waktu banyak-banyak di sana karena aku harus segera kembali bekerja. Di tengah semangat yang membuncah, aku melihat email  yang baru saja dikirimkan Bapak. Email itu berisi motivational quote yang biasanya Bapak kirimkan padaku, "There's always a way - if you're commited", begitu pesannya. Aku tertohok. Aku belum menyelesaikan proposalku. Juga pekerjaan ini. Aku memang malas. Aku pun segera kembali ke pekerjaanku. Selain itu, Bapak juga bertanya bagaimana pekerjaanku dan makananku. Pertanyaan yang paling lucu adalah tentang hubunganku dengan rekan kerja. Maksudku yang lucu adalah jawabannya karena aku di sini tidak mempunyai rekan kerja. Habis, aku sendiri di ruangan. Hanya ada dua bos dan satu staf keuangan di ruang lain. Simply, i can't talk to anybody.

Hari ini cukup menarik, banyak berita baru. Aku juga lebih bisa menghargai diriku sendiri. 

Kecup!

Sampai besok,
Chandini



Catatan Harian Tunisia Part 9.11 #TunisiaStory


25 Januari 2011

Aku kembali bekerja. Entah, aku tidak rindu-rindu amat dengan perusahaanku. Yassine hanya bertanya pertanyaan basa-basi yaitu kemana aku selama revolusi. Sepertinya ia tidak begitu khawatir padaku. Mungkin karena ia tahu selama revolusi aku berada di rumah Duta Besar Indonesia. Perusahaanku, tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Mulai dari perabotannya hingga tata letak kursi. Mungkin yang berubah hanyalah persepsi dan pandangan orang tentang perusahaan ini. Yassine bilang, semua baik-baik saja. Kantor sudah kembali beroperasi sejak minggu lalu. Hanya memang, kita harus cepat sebelum perusahaan ini bangkrut. Ekonomi di Tunisia sedang jatuh dikarenakan revolusi masih membara. Aku pun mengatup mulut dan segera kembali ke laptopku.  Yassine juga bilang, orang-orang yang berdemonstrasi itu dikarenakan mereka menuntut untuk pembersihan orang-orang di dalam pemerintahan. Mereka tidak mau orang yang mendukung pemerintahan Ben Ali dulu ikut masuk dalam pemerintahan sekarang.

Selebihnya, aku hanya sibuk di Buku Muka. Atau merutuki kenapa di Tunisia tidak ada konser musik seperti Jakarta yang sedang heboh didatangi musisi-musisi internasional papan atas. Atau aku hanya sibuk membolak-balik halaman travel di kompas.com. Sungguh senang, pekerjaan tidak terasa membosankan. 

Seperti biasa, aku pun pulang dengan total lama perjalanan 45 menit  dari kantor menuju rumah.


26 Januari 2011

Kami berjanji untuk bertemu Douha setelah pulang kerja. Aku dan Paulina bertemu di pintu Medina. Kamu masih ingat kan Medina yang aku kunjungi dengan Isa? Ya, tempat yang sama. Douha membawa kami ke satu cafe di roof top. Sungguh indah. Dari atas kita bisa melihat pemandangan seluruh Kota Sfax. Aku memperhatikan bangunan putih di depanku. Bentuknya rapih seperti bangunan kantor pemerintahan dengan banyak jendela dan terlalu biasa saja. Namun, tetap menarik. Di sebelahnya ada pertokoan, aku bisa melihatnya dari banyak orang yang berjualan. Paulina, Marcella dan Douha sedang asik mengobrol di seberang sana. Mereka juga menyantap teh hangat. Sebenarnya cafe ini biasa saja, yang membuatnya  luar biasa adalah unsur tradisional yang ia punya. Bayangkan, cafe ini tidak beratapkan genteng melainkan hanya kumpulan kayu-kayu yang bersatu menutupi besi yang merupakan tiang untuk tempat kami duduk. Jadi kami hanya dilindungi tiang dari besi. Lalu tempat duduknya juga biasa saja, tradisional sekali. Hanya meja dan kursi berwarna biru yang diselingi warna putih. Ditambah di atas meja ada taplak meja berunsur Tunisia dengan garis horizontal merah dan putih. Yang paling unggul dari cafe ini adalah letaknya yang di atas bangunan. Orang-orang ke sini biasanya untuk mengobrol santai. Kami pun mengobrol tentang revolusi Tunisia. Douha sepertinya pintar politik. Ia cukup fasih membicarakan nama-nama yang ada di revolusi Tunisia. Karena angin kencang, kami pun memutuskan untuk pulang. Douha ikut pulang bersama kami. 

Ketika sampai di rumah, keadaan sudah ramai. Banyak panitia lembaga pertukaran di sana. Lalu Douha pergi ke kamarku karena ia malas bertemu dengan salah satu panitia di ruang besar. Tiba-tiba, ia melihat botol wine yang dipakai untuk tempat lilin di atas balkon jendela dan berseru "Ulka, how can you pray here?" "Oh yes, why?" Aku melihat botol wine di tangan Douha  "Of course, because of this!" Douha pun membuang botol itu. Oh ya, aku tidak tahu kalau selama ini botol wine itu bisa membuat solatku menjadi tidak sah. Kukira botol itu sudah beralih fungsi sejadi-jadinya menjadi tempat lilin. 

Hari ini tidak begitu spesial. Biasa saja. 


See ya!

♥ 
Chandini



Overall, #30HariMenulis3...

Akhirnya, #30HariMenulis3 saya selesai. Bagaimana #30HariMenulis3 ini? Well, saya cukup senang bisa terus-menerus menulis selama 25+1 hari. Ditambah satu hari karena seharusnya ini adalah project #31HariMenulis. Tahu kan, bulan Mei mempunyai 31 hari? xD~

Anyway, empat hari yang terkalahkan itu adalah karena saya sibuk dengan satu event: #POSPIM2013. Sementara satu harinya lagi adalah karena saya tidak tahu harus menulis apa. Apapun alasannya, saya bangga bisa menyelesaikan #30HariMenulis3 ini. Hal itu dikarenakan performa saya di #30HariMenulis3 ini JAUH lebih baik dibandingan dengan #30HariMenulis dan #30HariMenulis2. Di dua project menulis tersebut, saya terlalu leha-leha sehingga menyebabkan saya tidak berhasil konsisten menulis selama 30 hari berturut-turut. Lalu bagaimana caranya agar bisa konsisten menulis? Caranya adalah temukan topik yang ingin Anda tulis. Misal, di #30HariMenulis3 ini saya sudah berjanji untuk menulis mengenai cerita-cerita Tunisia saya. Selain itu, Anda juga bisa menulis mengenai hari Anda. Tulislah hal menarik yang Anda alami di hari itu. Cobalah untuk jeli dan melihat hari Anda dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan karena pandai menulis yang bisa membuat saya menyelesaikan #30HariMenulis3 ini melainkan karena  usaha dan kecintaan saya akan dunia tulis menulislah yang membuat saya ingin terus menulis Sebenarnya cinta saja tidak cukup, itu semua harus didukung oleh kedisiplinan dan usaha yang terus menerus. Anyway, buat yang ingin mencoba #30HariMenulis, semoga sukses ya! 


31 May 2013

#31. Catatan Harian Tunisia Part 9.10


24 Januari 2011

Hari ini aku pulang. Tiga hari lalu aku sudah berbicara dengan Bapak, kalau keadaan sudah membaik aku ingin pulang minggu depan. Bapak sepertinya mengerti kondisiku. Beliau pun mengijinkanku untuk pulang. Semalam, aku sudah membereskan barang-barangku. Sungguh sedih untuk berpisah dengan wisma dan orang-orang di dalamnya. Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka akan tinggal selama ini di sini. Kamu tahu kan, ceritaku, aku hanya berpikir bahwa mungkin revolusi ini hanya akan berlangsung selama tiga hari. Alih-alih menjadi lebih dari seminggu bahkan totalnya adalah sebelas hari. Semua orang di sini sudah seperti keluargaku sendiri. Aku pasti akan merindukan mereka. 

Pagi pun tiba. Aku diantar oleh Kang Dadang dan Kak Risa menuju Sfax. Kak Risa pun mengambil posisi duduk di samping Kang Dadang. Aku pun duduk di belakang. Perjalanan selama empat jam berlangsung cukup lama. Aku tertidur. Namun, di dalam tidur itu aku mendengar pembicaraan antara Kak Risa dan Kang Dadang. Kang Dadang bercerita bahwa keluarganya mempunyai usaha pesantren di kampung halaman. Kang Dadang adalah anak pertama yang baik. Ia membiayai semua kuliah adik-adiknya hingga lulus perguruan tinggi. Sementara Kak Risa.. Kak Risa tidak terlalu banyak bercerita. Aku banyak mendengar cerita Kak Risa dari Pak Rusli. Beliau bilang Kak Risa adalah anak yang patut dicontoh. Orang tuanya sudah bercerai tetapi Kak Risa tidak melakukan apa yang biasanya anak broken home lakukan. She doesn't do drugs. She doesn't go out party. Intinya, Kak Risa tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak terpengaruh lingkungan luar. Bahkan ia berhasil tembus tes masuk Departemen Luar Negeri dan sekarang bisa magang di Tunisia. Aku pun teringat semua ceritaku dengan Pak Rusli. Aku menceritakan tentang keadaanku di Sfax, tentang housemate-housemateku dan tentang keadaan di sana yang membuatku merasa tidak begitu nyaman. Aku seringkali harus berhadapan dengan housemate-ku yang suka "minum". Mungkin buat kamu  hal biasa tetapi buatku yang sama sekali tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, luar biasa. Satu waktu, Marcella "memaksaku" untuk memakan Risoto buatannya. Aku sebenarnya bukan tidak ingin memakan tetapi Marcella mencampurkan wine di sana. Hal itulah yang membuatku ragu memakannya. Namun Marcella bilang alkohol dari wine akan menguap seiring dengan masaknya Risoto. Oh ya, Risoto adalah makanan khas Italia dan kami memasaknya di malam pertama curfew. Setelah kutanya pada Pak Rusli, beliau bilang kalau alkohol itu tetap saja akan tercampur. Tidak ada rumusnya kalau alkohol bisa menguap bersamaan dengan masaknya makanan. Tuh kan, benar kataku. 

Tidak terasa, kami akan segera sampai. Samar-samar kulihat pemandangan Kota Sfax di balik kaca jendela. Mataku masih lelah sekali. Kulihat toko-toko itu, orang-orang yang pergi bekerja. Khas Sfax sekali. Tidak lama, kami melihat banyak orang berdemonstrasi. Mereka membawa papan dan spanduk, seperti menuntu sesuatu. Ternyata..demonstrasi belum selesai di Kota Sfax. Aku mulai was-was. Kak Risa langsung bilang, "Sudah..santai saja.." Ia tahu aku yang resah. Aku pun tersenyum. Ketika melewati Medina, Kang Dadang menyatakan bahwa KBRI sering mengadakan pertunjukan di sini. Kala summer tiba, Tia bilang padaku, KBRI sering mengadakan program keliling Tunisia untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Salah satunya pasti di Sfax, seperti yang Kang Dadang bilang tadi. "Bahkan ada yang pernah pertunjukan silat juga loh.." Kata Kang Dadang menambahkan. "Oh ya..dimana Kang?"Aku bertanya detail. "Di situ..di pelataran Medina.." kata Kang Dadang lagi."Oh ya..sebenarnya Medina itu tempat apa sih?" Aku teringat rasa penasaranku akan Medina. "Medina itu adalah pasar..pasar yang menjual banyak barang," Kang Dadang menjelaskan. "Oh..begitu," aku manggut-manggut. 

Kami pun sampai di rumahku. Majida Boulila Avenue, Al Yessamine Building, Block A. Itu adalah alamat rumahku. Oh ya, kamarku di lantai lima. Tak disangka-sangka, kami berjumpa dengan Ayoub, juga Douha di lift. Mereka ternyata sedang menuju rumahku. Entah kenapa, Kak Risa menyatakan bahwa ia ingin membelikanku makanan dan susu. Aku pun pergi ke bawah bersama mereka. Bersama dengan Ayoub dan Douha juga. Di depan toko, Ayoub dan Kang Dadang mengobrol. Kang Dadang fasih berbahasa Arab. Beliau dulu studi di Cairo. Setelah puas mengobrol-ngobrol, Kang Dadang dan Kak Risa  pulang. Aku mengecup pipi kakakku, Kak Risa, yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri selama masa revolusi ini. Lambaian tangan mereka kuharap bisa kutemui lagi dalam beberapa waktu ke depan. 

Sesampai di rumah. Aku hanya bercanda dengan Ayoub dan Douha. Lalu tiba-tiba Paulina dan Marcella datang, mereka bertanya siapa yang mengantarku pulang. Ayoub pun menjawab, "Ulka was dropped by her friend." "Oh, a real "friend"?" Paulina menggodaku. Ia berpikir aku diantar oleh laki-laki yang mungkin adalah kekasih baruku. "No, he's just a driver!" Aku menjawab cukup ketus. "Oops..Ayoub..he's just a driver.." Paulina berkedip menatap Ayoub. "Aha..okay..okay.." Ayoub tertawa.


Besok..aku sudah harus kembali bekerja. Semoga hari-hariku menyenangkan setelah ini. 



Sampai Besok!
Chandini




30 May 2013

#30. Catatan Harian Tunisia Part 9.9

.....to be continued

22 Januari 2011

Awalnya, di meja makan hanya ada Pak Jum yang memang sedang berbincang dengan TKW. Pak Jum memang dekat dengan para TKW. Mereka hanya berbincang biasa sebenarnya. Namun, sepertinya Pak Jum sedang menggoda mbak TKW ini. Pak Jum memang supir kedutaan yang paling gaul. Tidak lama, teman-teman Mbak ini datang. Mereka semua berkumpul dengan kami di meja makan. Entah bagaimana, pembicaraan kami malam itu membahas mengenai revolusi. Lalu keluarlah harapan-harapan para TKW setelah revolusi ini. Beberapa dari mereka ada yang mengaku sudah menabung untuk membuka usaha di kampung halaman. Beberapa ada juga yang bilang bahwa uang mereka akan dipakai untuk membangun rumah dan sisanya akan dipakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ada juga yang tidak tahu harus berbuat apa karena ia memang belum mendapatkan gaji dari majikannya. Menyedihkan. Salah satu Mbak bilang, "Untung lho, suamiku masih kerja di percetakan PERURI, kalo nggak..habislah aku.." Kata Mbak berparas ayu nan cantik ini. Lain lagi cerita Mbak yang lain, ada yang bilang padaku kalau ia tidak ingin lagi bekerja di sini. Maksudnya sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. "Habis Mbak..aku kan nggak bisa bahasa Arab.. jadi kadang nggak ngerti majikan ngomong apa..aku jadinya stres dan menyimpan semuanya sendiri," Aku dapat melihat tetes air mata di pelupuk mata Mbak ini. Mungkin ia sudah terlalu letih menangis. Kalau aku jadi dirinya, aku pun akan menangis berhari-hari bila tahu majikan yang belum mengirimkan gajinya sudah hilang entah kemana. 

Malam itu, kami menonton televisi. Aku dan para TKW yang menonton televisi, sebenarnya. Acara malam itu adalah "Arab's Got Talent", semacam ajang mencari bakat. Ya, dan aku hanya menemui seorang perempuan cilik yang pandai bermain biola sebagai bintang di acara ini. Selebihnya bakat mereka biasa-biasa saja. Aku teringat program "Indonesia Mencari Bakat" yang mempunyai finalis lebih berkualitas daripada finalis di acara ini. Program pun berlanjut, sekarang adalah film action yang dibintangi oleh aktor-aktor dari negeri Cina. Seru juga. Aku memperhatikan Mbak Tissia yang sibuk dengan laptopnya sedari tadi. Ia bilang bahwa ia sedang mencari orang yang bisa menjemputnya besok di bandara. Iya, Mbak Tissia akan pulang ke tanah air dan aku pasti akan merindukannya. Aku teringat kejadian tadi siang dimana Mbak Tissia memotong poni dan mencukur alisku. Aku memang tidak bisa memotong poni. Jadilah Mbak Tissia membantuku. Soal mencukur alis, kata Mbak Tissia, tidak apa, karena ia hanya mencukur alisku sedikit dan itu akan berpengaruh pada bentuk mukaku. Mbak Tissia bekerja di spa center dan ia juga ahli dalam hal kecantikan. Semoga saja bentuk mukaku lebih baik. Aku menikmati malam-malam terakhir dengan Mbak Tissia. 

Ketika sedang asik-asiknya memperhatikan gerakan lincah dari sang aktor, Mbak Sari yang kemarin mempunyai Ipad memanggilku. Kamu masih ingat kan, di training tentang internet ada Mbak Sari, TKW yang mempunyai Ipad. Kali ini, ia memanggilku kembali dan lagi-lagi menanyakan hal yang sama, yaitu password wi-fi. Pak Jum sudah berpesan padaku kalau aku tidak boleh memberitahunya. Takut Mbak ini akan online dan memberitahu hal yang tidak-tidak mengenai situasi di sini. Kubilang saja, aku tidak tahu kenapa alat ini tidak bisa connect dengan wi-fi. Mbak itu hanya tersenyum dan mengangguk pasrah. Dalam hatiku, "Pantas saja ia bisa mendapatkan Ipad, ia bekerja di istana presiden." Iya, Mbak Sari memang bekerja di istana presiden. Itulah kenapa ia bisa mempunyai uang untuk membeli Ipad dan camera digital. Malam semakin larut, beberapa mbak TKW mulai pergi tidur. Namun aku masih duduk di kursi memperhatikan satu TKW yang getol sekali menonton televisi. Apakah dia benar-benar mengerti bahasanya? Film yang sedang ditayangkan adalah dalam Bahasa Arab. Setelah kutanya, ternyata Mbak ini benar-benar mengerti. Ia bilang, ia belajar dari anak majikannya. Kuharap aku bisa berbahasa Arab selancar Mbak ini. 

Oh ya, pagi ini, ada kejadian heboh di wisma. Bapak berkejar-kejaran dengan salah satu TKW. Aku sungguh kaget. Ceritanya begini, aku baru saja terbangun dari tidurku yang indah. Wajar, ini hari Sabtu, saatnya untuk bangun siang. Kak Risa pun baru saja menyelesaikan jogging paginya. Di antara rasa kantuk dan pusing, aku mendengar suara ribut-ribut, "Hey mau kemana kamu!" Aku langsung bertanya kepada Kak Risa, "Ada apa Kak?" "Nggak ngerti.." Kak Risa mengatup mulutnya. Ia juga sepertinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Peristiwa itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya sekitar pukul sepuluh, aku baru keluar dari kamar. Usut punya usut, kudengar dari Mbak Tuti, bahwa Mbak Sari, TKW yang mempunyai Ipad itu, membuat masalah dengan Bapak. Beliau mencoba menjawab pertanyaan dari wartawan Indonesia yang menelponnya sementara semua TKW sudah diberitahu untuk tidak menginformasikan berita apapun mengenai revolusi kecuali kepada sanak keluarga. Sebab yang boleh dan wajib memberitahu adalah juru bicara kedutaan. Aku tidak menyangka Bapak semarah itu karena yang kutahu Bapak adalah sosok yang   bersahaja. Beliau tidak pernah marah kepada siapapun. Mbak Tuti, pembantu rumah tangga yang bekerja dengan Bapak selama dua puluh tahun pun menyatakan kalau ia tidak pernah melihat Bapak semarah itu.

Ya, benar. Aku pun menarik napas. Semoga saja keadaan cepat membaik.


23 Januari 2011

Aku tidak menyangka hari ini akan datang. Karena aku akan mengantar Isa ke bandara. Iya, aku harus bisa mengantar Isa sebelum ia pergi menuju Egypt. Aku pun sudah bersiap-siap sekitar pukul delapan. Di tengah ketergesaanku menuju meja makan, aku bertemu Mbak Tissia. "Loh, Mbak mau pulang juga?" Aku memperhatikan bajunya yang sangat rapih. "Lah iya.." kata Mbak Tissia tersenyum. "Aduh!" Aku menepuk jidatku. Lupa, kalau Mbak Tissia juga pulang hari ini. Baiklah, aku akan mengantar dua orang kesayangan menuju bandara.

Aku pun menunggu Kang Dadang, beliau akan mengantarku menuju bandara. Tiba-tiba Kang Dadang datang dengan membawa satu flash disk masih dalam kemasan. Ia bilang, "Ini dari Bang Radit..katanya suruh isi sama lagu-lagu kamu," Kang Dadang menyerahkan kemasan itu padaku. Wah, bagaimana mentransfernya? Aku kan pulang besok, pikirku. "Suruh aja sih, dia ke Sfax. Dia kan udah gede," Kata Kak Risa seolah tahu jalan pikiranku. "Eh, iya ya.. tapi kan nggak enak kak," Aku bimbang. "Ah, udahlah.." Kak Risa tersenyum simpul. Perjalanan itu pun dimulai, aku menuju bandara ditemani Kang Dadang. Kang Dadang adalah salah satu supir staf kedutaan. Mbak Tissia diantar oleh supir yang lain dan nanti kami akan berjumpa di bandara. Aku mencari-cari Isa sesampai di bandara. Aku segera menuju check-in counter dengan destinasi Cairo. Dan aku tidak melihat Isa di sana. Ah, kapan ia sampai? Ah itu dia! Aku melihat sesosok perempuan dengan satu koper besar dan backpack. Isa terburu-buru sekali. "My flight is within half an hour!" Aku segera membantunya. Di sela-sela check in, isa memberitahukan sesuatu, kalau ia dan Wisem akhirnya melakukan hal itu. Semalam. Mereka party dan akhirnya terjadilah hal tersebut. Isa...sudah kubilang...

Lalu kami pun pergi ke bawah untuk menukar uang Dinar dan Real Isa di money changer. Isa harus membayar  visa on arrival sesampai di Cairo karena itulah ia harus menukar uangnya. Namun, sayang sekali Isa tidak dapat menukar uang Dinar yang ia punya karena ia harus mempunyai kuitansi pembayaran pertama saat ia menukar uang aslinya ke Dinar. Sudahlah, tidak apa. Isa mengecek persediaan uangnya dan ia bilang cukup untuk membayar visa. Kami pun segera pergi ke gate dimana Isa akan bertolak ke Cairo. Aku sungguh sedih. Aku hanya punya satu foto dengan Isa sebelum ia pergi. Itu pun setelah kucek ternyata tidak tersimpan di memori. Isa, aku akan merindukanmu.

Setelah mengantar Isa, aku menghabiskan waktu dengan Mbak Tissia. Ya, sehabis ini Mbak Tissia akan pulang. Habis sudah harta-hartaku. Kami pun sempat foto-foto bersama. Aku, Mbak Tissia dan Kak Risha. Setelah beberapa lama, akhirnya, waktunya Mbak Tissia untuk pergi. Aku sedih. Sangat sedih. Mbak Tissia adalah teman revolusi-ku. Kami berjumpa pertama kali di wisma ketika revolusi dan berpisah pun masih dalam masa revolusi. Aku tersenyum dan mengecup pipi Mbak Tissia sebagai tanda perpisahan. 

Malam itu, kelabu. Aku masih belum bisa melepas kedua sahabatku pergi. Namun, di saat yang bersamaan, aku tersenyum melihat para TKW yang sedang berjoget dan berdansa di ujung sana.

Selamat malam ;)


Chandini



Antara Aku dan Kamu (Imagination Version)

#NowPlaying Coldplay-Hurts Like Heaven

Aku: Hai! Lagi apa?
Kamu: Nggak lagi ngapa-ngapain.
Aku: Oh.. kirain mikirin aku.. (tersenyum)
Kamu: ... (diam)
Aku: Kenapa?
Kamu: Nggak apa..
Aku: Sepertinya susah ya..
Kamu: Susah kenapa..?
Aku: Ya..itu..abis aku PhD..
Kamu: Lalu?
Aku: Kamu masih undergraduate..
Kamu: Terus..
Aku: Aku bisa dibilang cukup alim..nggak alim-alim banget sih..
Kamu: ...Dan aku brutal..
Aku: (tertawa)
Kamu: Aku juga kribo..
Aku: (tertawa terbahak-bahak)
Kamu: (tersenyum)
Aku: Lantas..?
Kamu: Gimana kalo kita jadi teman saja?
Aku: (merengut)
Kamu: (tersenyum datar)
Aku: (mengangguk-angguk).. *Pasrah*
Kamu: (mengangguk-angguk) (menangis tersedu-sedu)




29 May 2013

#29. Catatan Harian Tunisia Part 9.8.2

To be continued...

22 Januari 2011

Ya, ada Bang Radit di sini. Aku sudah cukup takut. Awalnya biasa saja, ia menawarkan kue kepadaku. Dan kami bertiga, aku, Bu Yusuf dan Bang Radit pun mengobrol-ngobrol. Ia mulai memuji-mujiku di depan Bu Yusuf. Aku pun berpikir bagaimana cara agar aku bisa keluar dari sini. Kak Risa tidak bisa dihubungi, maksudnya aku yang tidak bisa menghubungi kak Risa karena aku tidak tahu nomornya. Lalu, Aris pun menghilang. Ah, tidak, bagaimana kalau aku dikurung berdua dengan Bang Radit di sini? Tidak lama Kak Risa pun datang dan ia bilang kalau ia ingin  pergi berjalan-jalan dengan temannya. Aku memutuskan untuk tidak  ikut karena aku tidak tahu tempat seperti apa yang akan mereka kunjungi. Dan, mulai dari situlah aku salah membuat keputusan. Aku pun diajak makan siang. Ada ikan gurame bakar dan menu Indonesia lainnya, siapa yang menolak? Sudahlah aku makan siang di sini saja. Kami pun makan berdua di dapur. Kalau kekasihku tahu, bisa mati aku digantungnya. Namun, mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan. Bang Radit pun mulai bertanya tentang diriku. Ia baru tahu kalau aku masuk dalam organisasi Radio PPI Dunia. Tidak disangka-sangka ia tahu mengenai sejarah Radio PPI Dunia. "Radio PPI Dunia itu dibentuk waktu SI.. 2009 ya?," ujarnya sambil sibuk mengunyah gurame. "Iya..waktu itu belum ada banyak PPI.." Aku bingung..mulai berpikir, Bang Radit ini angkatan tahun berapa? Mengapa ia sepertinya tahu sekali seluk beluk PPI Dunia? Namun, sembari itu aku hanya tersenyum-senyum mendengar ucapannya. Sampai ketika, bang Radit bilang, "Iya..kita seperti kakak adik saja. Kamu jangan lupa shalat, jaga diri, kamu kan sendirian di Sfax.." Aku memperhatikan matanya. selagi ia berbicara Otakku memutar kembali adegan setengah jam yang lalu, "Enam bulan itu lama lhoo. Banyak yang bisa terjadi dalam enam bulan," Bang Radit mengucapkan hal seperti itu ketika ia tahu aku punya kekasih. Iya, aku akan menetap di Tunisia selama kurang lebih enam bulan. Dan kata-kata yang ia ucapkan sekarang berbeda sekali dengan ucapan ia setengah jam yang lalu. Aku makin bingung.

Hari sudah malam. Iya, tahu tidak, aku ditahan oleh Bang Radit sampai malam hari. Sampai-sampai Bu Yusuf bilang, "Ya ampun ka..kamu ditahan sampai malam ya..padahal tadinya mau dzuhur aja." Aku teringat niatku yang hanya ingin menumpang shalat dzuhur di rumah Bu Yusuf. Sebenarnya, aku disuruh tinggal agar Bang Radit juga bisa mengantarku pulang nantinya. Keadaan di luar masih tidak menentu dan bahaya kalau perempuan pulang malam-malam sendirian. Setelah cukup lama bersiap-siap, Bang Radit pun mengantarku pulang. Malam itu dingin . Angin berhembus kencang. Aku menggosok-gosokkan tanganku. Kami pun hanya berdua di jalanan. Perjalanan itu berlangsung senyap. Sepertinya Bang Radit malu-malu padaku. Tidak lama, kami sampai di wisma. Bang Radit tidak mau masuk ke dalam. Ia hanya berdiri di luar. Dan ia hanya bilang, "Salam ya..buat Risa..kangen!" Aku pun tersenyum. "Daag.." dan ia pun melambaikan tangan. Aku hanya tersipu-sipu malu sambil menutup pintu. Ah, kekasihku tidak boleh tahu soal hal ini. Aku segera mencari Laras untuk curhat.

""Ya..kalo gitu kan seperti abang sendiri kan neeeng. Lo juga nggak diapa-apain kan neeng?" tanya Laras lewat skype. "Iya sih, gue nggak diapa-apain tetapi tetep aja kan gue berdua-duaan sama dia. Kalo Febrian tahu gimana?"jawabku panik. Iya, aku merasa sangat bersalah dengan Febrian karena ia sama sekali tidak memperbolehkanku dekat dengan laki-laki manapun. Apalagi sekarang posisi kami berjauhan dan maksud abang ini mendekatiku pun belum jelas. Febrian tidak boleh tahu. Aku pun hanya bilang padanya kalau aku tadi pergi ke kantor seharian.

Well, aku ingin menceritakanmu kisah malam tadi. Semalam aku berbincang-bincang dengan mbak-mbak TKW. Ya, itu semua karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah menyantap makan malam.  . Awalnya, di meja makan hanya ada Pak Jum yang memang sedang berbincang dengan TKW.....

Sampai besok! 

to be continued..

Chandini



28 May 2013

#28. Catatan Harian Tunisia Part 9.8.1

#NowPlaying Bass Project - Hanya Dia

22 Januari 2011

Akhirnya setelah seminggu dikrangkeng aku keluar dari "penjara". Sebenarnya, ini hanya kebetulan, hari ini Kak Risa sedang ada di rumah dan karena aku baru saja habis "berantem" dengan Ibu, aku pun memutuskan untuk mengajak Kak Risa pergi keluar. Actually, it was not a real fight, hanya salah paham antara anak dan orang tua. Aku kurang sabar mengajarkan Ibu dan Ibu pun juga tidak sabar menunggu pertanyaannya dijawab olehku. Namun, tidak apa, aku pun segera mengajak Kak Risa untuk pergi keluar. Di jalan, Kak Risa memberitahuku kalau aku tidak boleh bertindak seperti itu. Tetap saja aku yang harus sabar karena aku yang  mengerti seluk beluk komputer yang menjadi pertanyaan Ibu. Jangan sampai terjadi salah paham hanya karena masalah kecil seperti ini. Perjalanan singkat dari wisma menuju kantor pun berlangsung senyap. 

Akhirnya sampai juga di kantor, kantor KBRI ini pun sepi. Tidak ada orang di sini. Oh tidak, aku sudah janjian dengan Aris. Ya, Aris, ingat kan, temanku yang kutemui waktu malam tahun baru? Jujur aku sengaja janjian dengan Aris untuk menghindar dari Bang Radit. Tahu tidak, aku merasa Bang Radit diam-diam naksir aku. Ketika melihat Aris di perpustakaan kantor, aku segera pergi menyapanya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Aris agar Bang Radit tidak mendekatiku. Sepertinya, seminggu penuh menjaga kompleks perumahan cukup berdampak bagi dirinya, dapat dilihat dari lingkaran hitam di bawah mata Aris yang tak pernah muncul sebelumnya. Namun, semangatnya begitu berapi-api ketika kutanyakan pendapatnya mengenai revolusi Tunisia. "Tunisia hebat! Tunisia yang pertama!", begitu katanya. Memang, Tunisia adalah negara pertama di Afrika Utara yang melakukan revolusi. Kudengar Egypt dan Libya pun juga sedang mulai "panas". Mereka terinspirasi dari rakyat Tunisia yang dapat menjatuhkan pemerintahan diktator yang mendera mereka selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Ya, Tunisia adalah negara pelopor. 

Setelahnya pun, aku pergi ke ruang musik yang ada di ruangan sebelah. Ada Bang Radit di sana, ia sedang memetik gitar. Spontan, aku minta diajari bermain gitar tetapi aku teringat kata-kata Febrian yang mengatakan kalau aku tidak boleh belajar gitar dengan laki-laki. Aku langsung mengalihkan pembicaraan, alih-alih kami berbicara mengenai grup musik favoritku. Kusebut saja, White Shoes and The Couples Company, SORE dan band-band Indie yang sedang populer di jaman sekarang. Oh ya, aku memang suka musik Indie. Entah kenapa aku kurang suka musik mainstream. Sesudahnya, aku pun pergi solat dan karena aku bosan solat di kantor, aku pun memutuskan untuk solat di Rumah Pak Yusuf. Nah, Rumah Pak Yusuf ini berada persis di sebelah kantor. Mungkin Pak Yusuf adalah satu-satunya staff KBRI yang tidak pernah terlambat ke kantor

Rumahnya biasa saja. Di dalamnya, ada dua anak kecil yang menghiasi rumah mereka dengan tangis dan tawa. Namun, cerita di rumah ini yang tidak biasa.. ada Bang Radit di sini! ....


Mau tahu ceritanya? Sampai besok ya!


Chandini



27 May 2013

#26. Catatan Harian Tunisia Part 9.7


#NowPlaying Katy B feat Ms Dynamite - Lights On


21 Januari 2011

Aku mengajarkan para TKW tentang internet hari ini. Karena terlalu banyak TKW yang sedang mengungsi di wisma jadilah Bapak dan Ibu membuat kegiatan untuk mereka. Lebih baik daripada mereka tidak ada kerjaan. Karena kadang kulihat mereka hanya membantu Pak Rusli memasak di dapur atau mengobrol-ngobrol ria. Sekarang semua Ibu-Ibu Dharma Wanita pun sudah berkumpul di ruang tengah. Beberapa dari mereka sudah membawa laptop masing-masing. Namun itu semua tidak sebanding dengan alat yang dimiliki oleh satu TKW, ia mempunyai Ipad.  Iya, Ipad, salah satu keluaran produk Apple yang harganya mahal, canggih dan mutakhir itu. Namun, lucunya ia tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya. Oh ya, Isa sempat mengajak ngobrol di skype ketika aku mengajarkan mereka. Dan ia kaget ketika tahu aku sudah menjadi teacher, ia kira aku mendapat pekerjaan baru. Bengkel itu berlangsung tidak lama, sekitar dua jam. Sisanya berlanjut dengan makan siang dan mengobrol-ngobrol. Aku mengobrol cukup banyak dengan Ibu Gita. Beliau adalah istri dari Pak Giri. Kamu masih ingat, kan staff KBRI yang menjemputku ke Sfax waktu itu? Bu Giri orang yang ramah dan manis. Beliau juga berdarah sunda sama seperti Ibuku. Well, aku juga mengobrol banyak dengan Ibu Soraya. Kebetulan ia sedang mencari sekolah untuk anaknya dan ia bertanya mengenai biaya kuliah di universitasku. Aku cukup senang karena bisa mengobrol dengan banyak orang setelah selama seminggu hanya bertemu dengan orang yang itu-itu saja.

Oh ya, tadi aku tidak sengaja berbicara kepada Ibu kalau aku ingin pergi ke Tunis dan merayakan ulang tahun Fitri di rumahnya tanggal 29 nanti. Respon Ibu sangat di luar dugaan, ibu seperti panik, kata Beliau, "Nanti kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana? Situasi masih belum stabil....bla bla.." Aku terdiam. Kalau begini caranya aku tidak akan bisa ke Tunis minggu depan. Ah, andaikan aku tinggal di Tunis. Aku langsung mengirim inbox ke Fathia mengenai hal ini. Fathia bilang kalau mungkin aku bisa memakai alasan lain kalau ingin ke Tunis. Namun, Fathia juga membenarkan kata-kata Ibu kalau aku harus hati-hati. Terlebih aku pergi ke Tunis seorang diri. Oh ya, aku bakal punya housemate baru, namanya Rodrigo. Ia juga berasal dari Brazil sama seperti Isa. Dan ia akan datang ke Tunisia tanggal 29 ini. Bagaimana kalau hal ini aku jadikan alasan untuk pergi ke Tunis? Sepertinya menarik.

Isa masih bertanya apakah aku bisa mengantarnya ke bandara. Kubilang aku harus diantar oleh driver dan ia pun kembali terkejut kalau aku mempunyai driver sekarang. Ia tidak tahu kalau aku sudah menjadi "anak Duta Besar." Malam semakin larut, aku melirik jam dinding, pukul sembilan kurang sepuluh menit.  Bapak dan Kak Risa belum juga pulang. Mereka pasti tengah bekerja memikirkan nasib kami. Aku pun mulai bosan. Saatnya untuk berjalan-jalan esok ;)


Hari ini keadaan di Tunis sudah mulai kembali normal. Semua aktivitas sekolah akan dimulai kembali minggu depan. 


See You,
Chandini



26 May 2013

#26. Catatan Harian Tunisia Part 9.6.2


....To be continued


20 Januari 2011

Ya, akhirnya mereka pun berbicara dalam bahasa Arab karena para TKW tidak bisa bahasa inggris. Para penjarah itu tetap menanyakan harta benda apa saja yang mereka punya. Dengan hati-hati, mbak-mbak TKW itu pun menunjukkan isi koper mereka. Walaupun hanya tersisa sedikit tetap saja koper itu diambil oleh para penjarah. Naasnya, koper mereka dibakar. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Setelah memporak-porandakan seisi rumah, para penjarah pun pergi. Namun, ini adalah salah satu kebaikan dari masyarakat Tunisia, mereka tidak melakukan tindakan kekerasan apapun terhadap para TKW ini. Mahasiswa yang tadi menggedor pintu mereka pun bertanya kemana mereka akan pergi setelah ini. Dengan lesu, mbak-mbak perempuan bersahaja ini menggeleng. Mereka tidak tahu kemana arah pulang. Dan mahasiswa itu pun mengantarkan mereka keluar menuju pintu pagar.  Mereka sama sekali tidak punya alas kaki karena sendal-sendal mereka telah ikut terbakar. Dan halaman rumah mereka pun telah dilempari beling dan tahi kambing. Sungguh, bau yang menuusuk ketika mereka melewati halaman rumah malam itu. Di jalanan, mereka pun kebingungan. Menangis, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Tidak lama, mereka pun teringat akan rumah tetangga majikan mereka. Bapak itu pun membukakan pintu ketika para TKW meminta masuk. Beliau langsung mengobati kaki dan tangan mereka yang terluka. Sungguh baik, Bapak ini. Ya, karena majikan mereka sudah menitipkan pekerja-pekerjanya kalau kalau terjadi penjarahan dan sedari tadi Bapak ini menunggu saat yang tepat. Memang, para penjarah masih berkeliaran di luar. Esoknya, staf kedutaan pun menjemput para TKW yang bernasib malang ini.  Begitulah, kisah mereka. 

Aku tidak  bisa membayangkan kalau ada di posisi mereka. Mbak ini pun masih menangis saat menceritakannya. Ia masih ingat dengan jelas persistiwa tersebut. Oh ya, nama Mbak ini adalah Yayah. Majikan mereka adalah salah satu anggota keluarga Trabelsi, keluarga dari istri kedua Ben Ali yang merupakan keluarga penguasa saham terbesar di Tunisia. Keluarga Trabelsi memiliki saham di perusahaan ponsel, bank hingga pendidikan. Itulah sebabnya mereka diburu oleh masyarakat Tunisia. 

Aku memperhatikan screen handphone yang bertuliskan rekaman tadi. Aku siap menulis setelah ini. 



Sampai Besok ;)
Chandini



25 May 2013

#25. Catatan Harian Tunisia Part 9.6.1


20 Januari 2011

Akhirnya, aku berhubungan kembali dengan Tia lewat Buku Muka. Kami saling mengirim pesan dan menceritakan keadaan di tempat kami masing-masing. Tia kebetulan sedang berada di KBRI bersama dengan warga lainnya. Oh iya, aku mendapat kabar kalau Isa akan pergi ke Egypt hari minggu nanti. Oh, tidak, aku tidak tahu apakah aku bisa mengantarnya ke bandara. Aku kan dikurung di sini. Sementara itu, Marcella juga menanyakan nomor Kedutaan Besar Colombia padaku. Jangan tanya Paulina, karena aku tahu ia mengetahui kontak mereka hanya ia saja yang tidak mau berhubungan dengan kedutaan besar Polandia. Sayangnya, Marcella sudah menelepon ke Kedutaan Besar Colombia di Egypt tetapi telepon mereka tidak tersambung. Ya, Marcella harus menelpon ke Egypt dikarenakan Negara Colombia tidak mempunyai perwakilan kedutaan besar di sini. Aku pun menjadi harap-harap cemas karena keadaan mereka yang tidak menentu. 

Banyak yang mengomentari fotoku, ya, kemarin aku puas mengupload foto-foto ke Buku Muka. Ya, sekalian mencari bahan untuk katalog karena Yassine sudah mengingatkanku kalau aku bisa bekerja dari rumah. Oh ya, aku tidak menyangka, baru saja aku mengupload foto-foto Isabella kemarin dan kemarin juga ia menyatakan kalau ia akan pergi ke Egypt. Time flies so fast. Aku sangat sedih tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengannya. Sembari browsing, aku menemukan video menarik di youtube.com, video tentang Indonesia. Sudut pandang yang dipakai pembuat film sungguh menarik, ia menyatakan bahwa di Indonesia terlalu banyak komentator daripada aktor. Andai saja aku bisa membuat video seperti ini dengan teman-teman Indonesia di Tunisia. Selain itu, aku hanya mengupdate berita-berita di website favoritku yaitu provoke-online.com. Lumayan untuk menghibur jiwa yang resah. Hari ini aku hanya berbicara hal-hal simpel dengan Ibu. Ibu menunjukkan foto-foto Beliau jalan-jalan ke El Jem, tempat wisata di Tunisia. Lalu foto-foto Beliau ke Monaco juga ditunjukkan padaku. Ah, aku jadi ingin jalan-jalan ke sana. Namun, bagaimana, sekarang saja aku masih terperangkap di sini. 

Perutku sudah lapar, aku pun pergi makan siang. Aku memperhatikan para TKW yang lalu lalang. Aku berpikir untuk menulis berita sejak kemarin. Oleh karena itu, aku harus menginterview mereka. Aku pun memanggil Pak Jum untuk memperkenalkan padaku TKW yang bisa aku interview. Ia pun memanggil satu TKW yang familiar buatku karena aku pernah mengobrol sekali dengannya tetapi ketika ia tahu aku ingin menginterview dirinya, ia malah malu-malu dan mundur. Ia pun memanggil temannya yang bersedia aku interview. Aku hanya memintanya untuk menceritakan bagaimana mereka bisa sampai di sini. Dan Mbak itu pun menceritakan bahwa waktu itu keadaan mencekam sekali. Aku mencoba santai. Aku tidak ingin terbawa dengan situasi dirinya agar ia tetap bisa tenang menceritakan semua yang terjadi. Dan ia pun menceritakan bahwa malam itu ia tidak tahu harus pergi kemana. Awalnya, rumah mereka aman saja. Sampai sesuatu terjadi..

Semua itu dimulai dengan timpukan batu di kaca jendela. Sekali. Dua kali. Para pembantu rumah tangga alias TKW yang sedang menonton televisi pun menjadi bingung. Suara apa itu? Lalu bel pun berbunyi berkali-kali. Sampai akhirnya mereka bisa menggedor rumah. Mereka adalah masyarakat Tunisia yang terdiri dari Ibu-ibu, Bapak-bapak, anak muda, sampai kakek-kakek. Mereka memasuki rumah dan langsung menyalakan keran air dalam putaran maksimal, lalu memborong apa saja yang ada di meja makan, simply, semua yang ada di dalam rumah. Bahkan jeruk yang ada di atas meja pun mereka borong. Dan para TKW ini sedang berada di dalam kamar mereka, menanti dengan gelisah. Mereka sudah menahan pintu dengan lemari besar namun para penjarah berusaha menerobos masuk. Sampai akhirnya di gedoran ketiga, mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Koper mereka kosong, hanya berisi baju-baju yang tadi diambil. Jadi kalau para penjarah menanyakan apa saja yang mereka punya, hanya itu yang bisa mereka tunjukkan. Dan akhirnya pintu pun terbuka, mereka hanya bisa pasrah. Alih-alih, sang penjarah yang ternyata mahasiswa ini berbicara dalam bahasa inggris dan karena para TKW tidak bisa bahasa Inggris mereka pun meminta lelaki ini berbicara dalam bahasa Arab. 


To be continued...

See You,
Chandini


24 May 2013

#24. Catatan Harian Tunisia Part 9.5


#NowPlaying Coldplay- Mylo Xyloto Album


18 Januari 2011

Pagi ini, aku bangun pukul enam pagi karena aku ingin berbicara di skype dengan Febrian. Dari dalam kamar, ku dengar Bapak sedang berbicara di telepon dengan seseorang, entah siapa. Aku segera menuju meja pojok untuk online. Pukul delapan aku kembali ke kamar dan menemukan Kak Risa sedang bersiap-siap kerja. Ia menyalakan televisi yang sedang menyiarkan berita dalam bahasa Perancis. Di tengah kebisingan suara pembawa acara dan derap kaki kak Risa yang tergesa-gesa, aku pun pergi tidur. 

Kenapa aku tidur? Karena aku ingin melupakan semuanya. Aku pun menulis status di Buku Muka"Long distance relationship needs patient, much money and excellent internet connection."    Ini semua karena koneksi internet Febrian, aku pun terserang rindu yang akut. Seharusnya aku bisa meluapkan semua rindu itu tetapi menjadi tertahan karena koneksi internet yang terputus-putus. Hidup, memang. Kamu tahu, sebelumnya aku dan Febrian selalu bersama-sama dan posisi kami yang berjauhan saat ini sangat mendera hati. Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu. Aku pun kembali bangun dengan kegiatan yang tidak jauh berbeda. Aku hanya online, menelusuri Buku Muka dari temanku yang satu ke temanku yang lain. Tidak ada kerjaan. Namun, daripada aku membaca berita lebih baik aku main Buku Muka. Oh iya, aku belum mencari bahan-bahan gambar untuk katalog. Aku pun menepuk jidatku. 

Breaking news! Aku mendengar dari Bu Yuni kalau kami semua akan dibelikan tiket ke Italia. Tadi pagi Pak Dubes ditelpon oleh Bapak Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri, katanya dengar-dengar kalau keadaan belum membaik kami akan diungsikan ke Italia. Aku tidak tahu harus senang ataupun sedih. Aku  menyuapkan udang goreng tepung menu makan siangku ke dalam mulut dengan lemas. Namun, Pak Jum bilang keadaan sudah membaik. Pasar sudah buka, orang-orang sudah mulai berjualan. Itu tandanya, kabar baik bukan?! Tetapi, lagi-lagi, Itali... Aku ingin sekali pergi ke sana.

Mataku masih memperhatikan gerak-gerik para TKW. Mereka memenuhi ruang tengah. Sekarang jumlahnya makin banyak. Kamarku yang dulu tidak cukup lagi menampung mereka jadilah meja makan formal yang biasanya ada dipindahkan ke ujung. Dengan begitu mereka bisa tidur di tempat meja makan. Aku ingin menulis tentang mereka tetapi aku tidak tahu harus mengirim berita kemana. Aku pernah bekerja di Majalah Hai, Kompas Gramedia, namun aku terputus kontak dengan mereka. Aku memeriksa Buku Muka kembali. Beberapa dari temanku menanyakan kabarku. Mereka bilang beritanya heboh, tidak tahu saja kalau di sini sudah heboh dari beberapa hari lalu. Berita yang beredar di Indonesia cukup lambat. Wah, aku mendapat pesan dari Bang Yazid. Dia menulis kata-kata "kangen". Ini maksudnya apa ya? 

Hari ini aku tidak membaca berita lagi karena aku sudah muak dengan berita..


19 Januari 2011

Semalam Bapak bertanya bagaimana mengoperasikan Skype karena Beliau diminta untuk melakukan pembicaraan online melalui skype oleh TV One. Aku langsung menawarkan untuk online skype dari laptopku saja. Lalu Bapak mengiyakan dan berjanji akan mengabarkan kalau pihak TV One sudah menghubungi Bapak. Esoknya, ternyata perjanjian itu dibatalkan. Alih-alih, Bapak menunjukkan rekaman pembicaraan Beliau dengan pihak Radio BBC mengenai revolusi Tunisia (1). Bapak memberitahukannya kepada Ibu sambil menunjuk-nunjuk layar komputer dengan semangat. Bapak kelihatan sangat bangga. 

Soal Ibu, Ibu juga orang yang sangat baik. Namun, sayangnya, Beliau agak sedikit jutek. Dari kemarin, aku online bersebelahan dengan Ibu. Dan Ibu, seringkali bertanya tentang mengoperasikan ini itu. Aku dengan senang hati membantunya. Namun, terkadang aku sibuk jadilah aku tidak sempat membantunya dan Ibu menjadi marah. Sudahlah, namanya juga orang tua, aku harus tetap menghormati Beliau. Tidak enaknya adalah ketika aku tertawa-tawa karena misal, status temanku di Buku Muka dan Ibu bertanya kenapa aku tertawa. Aku agak bingung menjelaskannya karena aku takut Ibu tidak bisa menerima ceritaku dan teman-teman yang masih remaja ini. Oh iya, satu hal yang menarik, Ibu menawarkanku untuk mendesain kartu undangan spesial dalam rangka pernikahan putrinya. Semoga aku ada waktu untuk membuatnya, ya. 


(1) Rekaman pembicaraan Bapak Duta Besar Tunisia dengan Radio BBC dapat diakses di:


See You next part,
Chandini