Adakalanya kita sadar bahwa semuanya sudah terlambat. Bahwa ternyata dia telah melakukan segalanya untuk kita. Namun, seperti peribahasa "Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang lautan terlihat", justru yang sering nampak adalah kekurangan dari orang tersebut. Lalu kita berusaha mengumpulkan segala alasan yang memenuhi kepala tentang dia dan segala hal yang tidak ia punya. Dan, saat itu tiba, ketika, kita memutuskan untuk mengkahiri semuanya. Satu hal yang ada adalah keinginan untuk berpisah dan pergi sendiri. Satu bulan..dua bulan..kita sadar bahwa itu hanyalah sekedar keinginan bukan kebutuhan. Perlu diketahui, keinginan dan kebutuhan adalah dua hal yang berbeda. Ketika kau ingin membeli suatu barang, kau harus yakin betul bahwa kau benar membutuhkan barang tersebut. Bukan hanya menginginkan atau terpesona oleh keindahannya. Ini untuk memastikan uang yang kau habiskan tidak terbuang sia-sia. Sama halnya dengan cinta, kau harus benar mengerti dan yakin apa kau ingin bersamanya atau butuh bersamanya? Jika kau betul-betul ingin dan butuh, perjuangkan hal tersebut.
Namun, sekali lagi, semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Kata sudah salah dimengerti. Ia yang kau kira akan selalu ada untukmu, telah pergi. Walau kau telah menyimpan segala harta untuknya. Walau kau menutup pintu hati, hanya untuk dirinya. Ia tak akan kembali. Mungkin ini adalah kesalahpahaman atau memang sudah jalannya? Cerita itu telah berakhir. Dan harus ada cerita baru untuk menggantikannya. Seberapa kalipun kau berusaha menyadari bahwa cerita indah ini memang sudah berakhir..kau tidak bisa. Entah, mungkin belum..kau belum bisa menerima dan sadar sepenuhnya akan kenyataan. Iya kau telah sadar, lalu kembali buram, sadar kembali, buram dan (nanti) akan sepenuhnya sadar. Aku yakin itu. Nikmati saja perjalanan ini. Dan, sekali lagi, bisikkan pada dirimu, "Memang sudah saatnya untuk berakhir."
Hidupmu akan terus berjalan, Nak..
With Love,
Chandini
No comments:
Post a Comment