22 September 2013
Aku
menatap tanggal di kalenderku. Kosong. Hari ini tepat enam belas bulan kamu
pergi dari hidupku. Dan aku, entah kenapa, masih belum bisa melupakanmu.
19 September 2013
Aku
pergi ke Selangor hari ini. Stasiun Kuala Lumpur Sentral ramai sekali. Desing
kereta, hentakan sepatu, teriakan penumpang, semua bertalu menjadi satu. Aku
memang sudah lama tidak mendengar keramaian seperti ini. Karena sudah terlalu
lama berada di Kedah, mungkin. Aku
menuruni tangga eskalator menuju platform
enam dengan santai. Aneh, aku merasa sangat familiar dengan tempat ini. Sign biru bertuliskan “Platform 6”, ruang
tunggu abu-abu, lantai-lantai keramik, rasanya aku pernah datang ke sini
sebelumnya. Oh ya, aku memang pernah ke tempat ini sewaktu pergi mengunjungi
Batu Caves dengan Arga. Waktu itu, adalah
masa-masa kepulanganku dari Austria dan kami memutuskan untuk pergi
berjalan-jalan ke Batu Caves, salah satu tempat wisata di Malaysia. Aku tidak dapat menghentikannya lagi. Adegan
demi adegan mulai berputar. Aku dengan gaun ungu polkadot putih kesayanganku
dan ia dengan t-shirt dan jeans hitam
tengah berdiri menungu kereta. Kami
sedang gusar dan sedikit canggung karena ia terlambat datang hari itu.
Terlebih, kereta yang ditunggu cukup lama menghampiri kami. Aku berusaha
menghentikan adegan-adegan tersebut. Aku tertatih, menekan tombol stop untuk
adegan di hadapanku sekarang. Tetapi, film
tidak berhenti. Seketika, kereta pun datang. Sesaat adegan tersebut hilang
berganti dengan pemandangan nyata di depanku. Aku pun masuk ke dalam kereta. Aku
memperhatikan LCD du hadapanku, titik-titik stasiun yang dilalui kereta
diperlihatkan dengan jelas. Mataku menelusuri satu persatu titik-titik tersebut
dan berhenti pada titik terakhir, Sungai Gadut.
“Itu Ndin, tempat Arga..di Sungai Gadut..di
ujung..jauh banget,”
“Oh, ya..”
Hari
itu, kami bertengkar. Arga terlambat datang dua jam dari waktu yang kami
tetapkan untuk bertemu. Aku sangat kesal
padanya. Arga yang dulu selalu datang on time justru berubah ketika aku telah
menjadi seseorang yang lebih tepat waktu dibanding diriku yang dulu sejak
kepulanganku dari Austria. Dan kami, hanya diam tanpa suara di ruang tunggu
kereta.
Ya,
sekarang aku tahu kalau Sungai Gadut memang terletak di ujung jalur stasiun
kereta. Maafkan aku Arga.
17 September 2013
Aku
mengerti tentang satu hal, yaitu, jodoh. Akhirnya, setelah dua hari berada di
rumah kak Nuri, tadi baru saja, kami bisa melakukan kegiatan curahan hati
bersama.
“Aku baru sadar aja kak, kalo Arga
pergi ninggalin aku dua bulan setelah aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya
ke dia. Nggak nyangka aja.”
“Sekarang, jodoh menurut kakak
adalah when the other party does not ever give up on you.”
Kamu
dengar itu,? Jodoh adalah ketika orang tersebut tidak pernah menyerah untuk
mendapatkan hati kita.
“Huaaaa….kakaaakkkk! Wise banget
sih…!”
“Itu menurut pendapat kakak..”
Mungkin
bukan salah Arga memilih bersama perempuan lain.
Mungkin,
karena kami memang tidak berjodoh.
14 September 2013
Aku
mengalami kejadian itu lagi. Memori itu kembali terputar.
“Arga, rumahnya lucu! Fotoin aku ya,”
“Ga, ini dimana sih, kok banyak
tempat makan?”
Kota
baru. 2011. Masih jelas dalam ingatanku tentang semua adegan itu. Aku melihatnya selagi berlari menerobos hujan
malam tadi. Deretan rumah makan, pagar-pagar kayu, jalanan. Semua masih sama.
Kenangan itu kembali merasuk. Aku seharusnya memang tidak boleh berada di sana
lagi setelah waktuku dengan Arga.
“Aduh, aku lapar. Lihat-lihat
makanan dulu yuk?”
“Makanannya nggak enak..”
“ Kita nyasar, nih. Kemana, ya, jalan ke arah KLCC?”
Kala
memori itu tidak dapat dihentikan lagi, aku hanya membiarkan diriku
menikmatinya, setiap kata, tawa dan canda bersamanya. Dulu.
“Maafin aku ya, Ga. Gara-gara aku
kita jadi nyasar begini.”
“Hahaha.. nggak apa-apa.
Lumayan..olahraga..”
Anehnya,
aku tidak merasakan kesakitan itu. Aku hanya membiarkan film kenangan itu
bermain di hadapanku. Mungkin sedikit mengiris-iris rongga hatiku. Mungkin aku
belum merasakan lagi sakit perih akan ingatan tersebut. Mungkin juga aku sudah
mati rasa dan kebal. Mungkin.
Aku
terbawa kembali ke dalam kenyataan ketika Faza memastikan mengenai tempat
tujuanku. “Kakak ke terminal Putra,
kan?” Faza adalah orang yang baru saja kutemui hari ini. Aku melakukan kopi
darat dengan teman-teman radio malam tadi. Sungguh menyenangkan bertemu dengan
mereka. Setidaknya, hal itu dapat sedikit menghapuskan kesedihanku yang
teringat kembali akan Arga.
6 Agustus 2013
Tania
berkata hal krusial tentang hubunganku dan Arga. Ia bilang kalau aku harus
melupakan Arga saja. Apa benar aku harus melupakannya?
“Gimana lo sama Arga?”
Aku
sebenarnya tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Masih segar dalam ingatanku ketika aku mengirimkan surat, lukisan
portrait dirinya dan CD berisikan rekaman suaraku menyanyikan lagu favorit kami
berdua. Aku sempat galau dan gelisah ketika ia kembali menghubungiku setelah
aku melayangkan paket tersebut ke rumahnya. Aku ragu apakah aku harus
menerimanya kembali.
Dan
tidak lama setelah itu, setelah ulang tahun kami, ternyata ia sudah menjalin
cinta dengan perempuan lain. Ada rasa
sedih, tercabik-cabik, di dalam hatiku ketika
mendengar hal tersebut. Dan, mungkin perasaan itu jualah yang tercermin ketika
aku men jawab pertanyaan dari Tania.
“Arga udah jadian lagi sama cewek
dua bulan setelah gue menyatakan bahwa gue masih sayang sama dia.”
Setidaknya,
hari ini aku mendapat kepastian bahwa aku memang harus melupakan Arga. Hari ini
menyenangkan. Masa-masa itu kembali terulang. Ketika aku dikelilingi teman-teman
berhargaku, Tania, Liza Widya dan Nisa.
Andai
saja aku bisa bersama mereka setiap hari. Aku pasti tidak akan memikirkan Arga,
25 July 2013
Aku
memilih mengambil biskuit “happy Choco” dari rak. Arga suka sekali membeli
biskuit ini dulu. Aneh, aku sama sekali tidak pernah mencoba biskuit ini ketika
bersama dengannya. Aku terlalu termakan egoku yang tidak ingin menambah jumlah
kesamaan di antara kami berdua.
Dan
ternyata rasa biskuit cokelat ini, memang enak. Aku hanya perlu dua kali mencicipinya
untuk benar-benar menyukainya.
11 July 2013
Baru
saja, aku mencium bau tanah sehabis
hujan. Bau yang kental dengan aroma segar. Aku tidak menyangka baunya sesegar ini. Arga selalu bilang kalau ia suka bau tanah sehabis hujan. Aku tidak pernah tahu apa
keistimewaan bau tersebut. Dan aku
memang tidak pernah menyukainya sebelum ini. Namun sekarang, aku mengerti
kenapa Arga begitu suka akan bau tersebut.
22 September 2013
Dan
aku pun menulis surat untukmu.
Dear Arga,
Hari ini, detik ini, aku masih
belum bisa melupakanmu. Padahal kita sudah enam belas bulan berpisah, ya. Aku
tidak tahu kenapa aku belum bisa melupakanmu. Mungkin karena aku belum bisa
meaafkan diriku sendiri yang dengan sembrononya mengakhiri hubungan kita.
Mungkin karena aku masih menyayangimu. Aku tidak bisa lupa bagaimana dulu aku
selalu berada di sampingmu. Dan kamu berada di sampingku. Aku sudah
menganggapmu seperti seorang kakak, sahabat dan kekasih. Sampai ketika hari itu
datang, hari dimana kita berpisah. Aku menangis meronta-ronta menghadapi
kesalahanku sendiri yang memutuskan dirimu. Lagi-lagi, aku harus menyatakan
bahwa aku belum bisa memaafkan diriku sendiri, atas kesalahan terbesar dalam
hidupku. Aku yang telah megusir orang yang paling berharga dalam kehidupanku,
dengan tanganku sendiri.
Lalu, tanpa kehadiranmu, aku
berusaha berjalan tegar. Terseok-seok, tepatnya. Dengan kehadiran teman-teman
yang tidak mengacuhkanku, mungkin karena aku juga tak mengacuhkan mereka dulu
ketika aku bersama denganmu. Tidak apa, itu pantas buatku. Dan, kamu tahu, aku
selalu saja diingatkan akan cerita dan tawa kita dimanapun aku berada, di sudut
kampus, pusat perbelanjaan hingga taman bermain. Aku tidak dapat melupakannya.
Itu semua sangat menyiksaku. Membuatmu, seolah hadir dalam hidupku kembali.
Kamu, yang sudah bersama dengan perempuan lain, seolah datang dalam
kehidupanku. Kamu mungkin tidak merasakannya. Namun, aku, yang berada di tempat
kenangan kita, merasakan itu dengan teramat dalam. Seolah film memori itu
kembali berputar. Aku dapat mendengar suaramu yang merayuku. Aku dapat melihat
tawa-tawa ceria kita. Aku dapat melihat keindahan itu semua. Namun, semua itu
palsu. Dan, sekuat apapun aku berusaha menghentikan dan menghilangan putaran
memori itu, aku tetap tidak bisa. Aku hanya dapat membiarkan diriku ikut berputar,
masuk ke dalamnya lalu tersenyum menyaksikan cerita-cerita indah tersebut.
Arga, aku tidak akan memintamu
kembali. Tidak. Namun, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Maaf yang
sebesar-besarnya atas segala kesalahan, pelakuan dan kebohonganku padamu. Maaf
yang mungkin sudah berkali-kali terucap dari dalam mulutku. Kuharap, ini adalah
permintaan maafku yang terakhir. Kuharap setelah ini aku dapat berdiri di atas
kakiku sendiri dan memaafkan diriku. Diriku, yang dengan segala kesalahan dan
ketidaksempurnaan,diriku yang sudah membuatmu pergi dari kehidupanku. Ya,
kuharap, aku bisa berjalan lebih tenang setelah ini.
Terima kasih atas segala memori
indahku bersamamu. Kamu telah membuatku mengalami masa-masa indah yang mungkin
tidak dialami gadis lain. Sekali lagi, terima kasih.
Sincerely,
Andini
No comments:
Post a Comment