28 Desember 2010
Aku
bangun dengan tergesa-gesa. Ini sudah yang keberapa kalinya aku melewatkan
solat subuh. Fajar sudah menyingsing di ufuk timur. Ah, lagi-lagi. Walaupun
begitu aku tetap menunaikan shalat karena memang aku belum terbangun sedari
tadi. Tidak apa bukan? Berharap Allah mengampuni kesalahan-kesalahanku. Lalu
aku pergi mandi dan benar saja..dingin sekali. Kulit tipis ini tidak sanggup
menahan dinginnya air. Segera, aku masuk bathub dan menyalakan pemanas. Rasanya
sungguh hangat di dalam sini. Oh ya, aku belum menceritakan soal apartemenku
ya? Apartemen ini terbilang cukup besar dan mewah. Ada satu ruangan besar yang
bisa dipakai untuk berbincang, rapat, tidur juga party. Dapur lengkap dengan
peralatan memasak, balkon cantik dimana kita bisa menikmati pemandangan luar
dan dua kamar tidur yang cukup luas namun tidak terdapat perabotan di dalamnya.
Itulah kenapa aku meletakkan bajuku di atas kasur kecil. Dan soal kamar mandi,
terdapat satu bathub besar, satu toilet duduk, dan
wastafel. Walaupun ruangan kamar mandi agak kecil tetapi cukup untuk melakukan
aktivitas mandi. Dulu sewaktu di asrama, aku hanya menghabiskan waktu sepuluh
menit untuk mandi. Aku bisa sangat cepat menyelesesaikan kegiatan yang satu ini.
Namun, sejak beberapa hari lalu, aku bisa berdiam diri selama tiga puluh menit.
Wow, ini kemajuan pesat untuk perempuan tomboy sepertiku. Apa saja yang
kulakukan? Aku hanyut dalam hangatnya air panas. Ini seperti surga ketika musim
dingin. Lalu aku bersiap diri, sarapan yoghurt dan berangkat kerja.
Pagi
ini, seperti biasa aku duduk di meja yang sejak kemarin kutempati. Meja di sekitarku masih kosong. Mejaku ini terletak di ujung, dekat jendela.
Sambil menatap layar komputer, aku berpikir apa yang harus kulakukan. Aku pun
meng-update status buku muka, tentang kejadian semalam. Lalu teman-temanku
berkumpul ramai mengerumuni status. Aku tertawa-tawa membaca komen dari
teman-temanku. Walaupun begitu, aku tetap berusaha fokus dengan apa yang
kukerjakan sampai makan siang nanti. Aku harus menyesuaikan diriku dengan
pekerjaan walaupun ini baru hari kedua. Tugasku adalah mencari gambar dari
list objek yang kemarin diberitahu Yassine. Dan itu tidak sedikit jumlahnya.
Aku harus memperdalam pengetahuanku tentang perusahaan ini. Di line Skype, aku
asyik berbincang dengan Rachman dan Alex. Kubilang pada Alex bahwa suhu di sini
dingin sekali, aku gemetar. Bahkan aku harus memakai sarung tangan di dalam
ruangan. Itulah kenapa kadang aku sering salah mengetik kata-kata. Dan Alex balas
memberiku link dari keterangan suhu kota tempat ia bermukim di Kanagawa, Jepang. Suhu
di sana lebih rendah dan sudah mulai bersalju, ternyata. Aku balas
memberitahu bahwa kalau saja ia merasakan gemetarnya di sini pasti ia juga
kedinginan. Tidak berapa lama, Alex undur diri karena ingin melihat
salju, katanya. Setelah puas mencari objek, aku menyenangkan diriku dengan
berfoto-foto di webcam. Iseng, untuk
senang-senang saja. Lama kelamaan, aku memperhatikan kalau wajahku semakin
mirip orang Cina. Sweater biru tebal sampai ke leher, rambut berkuncir satu,
berkacamata dan bergaya "peace" makin membuatku mirip dengan orang
dari dataran sana. Bibirku tetap kering karena tidak dilapisi pelembab apapun.
Aku benar-benar harus membeli lip balm setelah ini. Makan siang pun tiba dan Yassin sepertinya sibuk tidak
punya waktu untuk makan bareng denganku. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah
karena aku ingin makan siang di sana. Aku pun meninggalkan kantor dan mecoba
mengingat-ingat jalan pulang nanti.
Oh
ya, aku lupa menceritakan kejadian semalam, aku minum Vodka. Ya, Vodka.
Sebenarnya tidak sengaja. Begini ceritanya, semalam setelah aku kembali ke
rumah dengan cerita unik itu, dua housemate-ku mengajak pergi keluar. Itu semua
karena masalah lift. Ceritanya begini, lift di apartemen kami rusak karena hal
yang tidak kutahu pasti. Malam itu sepulang kami dari berbelanja bahan makanan
untuk natal, Marcella dan Paulina dimintai tolong untuk membantu teknisi
memperbaikinya. Mereka sama-sama berusaha memperbaiki lift tersebut. Namun
entah apa yang terjadi, lift itu ternyata makin rusak dan malangnya, dari
rekaman video terlihat mereka lah yang seolah makin membuat lift bertambah
rusak. Mereka juga diharuskan membayar denda cukup mahal. Aku tidak tahu
jumlahnya berapa tetapi yang pasti itu berhasil membuat pusing kepala Paulina juga Marcella. Itulah kenapa mereka mengajakku keluar.
Yassine
membawa kami ke satu restoran. Aku tidak tahu ini restoran jenis apa. Namun menurutku,
restoran ini sangat mewah. Bangkunya berukir dengan warna cokelat, mejanya
beralaskan taplak putih dan segala sesuatu diletakkan rapi pada tempatnya.
Seperti restoran berkelas karena semua serba teratur. Aku memesan satu sup ikan
yang merupakan menu paling murah di buku menu. Aku memperhatikan orang-orang di
ujung sana yang tengah tertawa ketika kami masuk. Marcella memesan
makanan dengan menu udang dan Paulina memesan Jus. Makanan Marcella tampak
lezat di dalam menu. Dan ternyata rasanya pun memang demikian. Aku ketagihan
memakannya. Yassine menyapaku, "Hey,
where are you from?" Kubilang aku berasal dari Indonesia dan ia
bercerita kalau ia pernah pergi ke Cina, salah satu negara Asia. Ketika aku
tengah asyik dengan sup ku, Marcella menawariku Vodka. "Do you want?",katanya. "Emm..," aku ragu. "Try," kata Marcella. Jadilah
aku mencobanya. Baru saja mencoba, aku langsung menolak. Aku mengecap lidah pelan-pelan
karena rasanya sangat pahit. "This is Vodka Normal," kata Marcella.
Aku menelan ludah. Aku mencoba membayangkan sekali lagi rasanya..seperti..ah..susah
untuk diungkapkan. Aku melanjutkan makan supku. Sup ini berwarna hijau dan memakannya tidak membuatku kenyang. Ada beberapa roti di dalamnya.
Malam semakin larut dan kami pun beranjak pulang. Orang-orang tadi masih berada
di sana ketika kami pergi. Yassine, partner jalan kami kali ini adalah anak dari
bos Paulina. Itulah kenapa ia mengerti seluk beluk kota ini. Aku masih berpikir
soal Vodka, apakah minuman beralkohol seperti itu hanya disediakan di restoran
mahal seperti tadi? Malam itu kami pulang dalam diam dan aku tidak tahu kenapa
ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
29 Desember 2010
Hari
ini aku nonton bola seorang diri di Baroque. Sepulang kerja, aku melepas
penatku di sana. Dengan kualitas kecepatan wi-fi yang tidak seberapa, aku berusaha
menangkap siaran pertandingan AFF Cup 2010 Indonesia-Malaysia melalui siaran TV online. Entahlah, aku harap ini
berhasil menyalurkan semangatku kepada para pemain Indonesia di stadion nun
jauh di sana. Jauh memang, tetapi kuharap sampai. Sebenarnya, aku tidak ingin
menonton karena aku mempunyai prediksi bahwa Indonesia kalah. But, sudahlah, keinginan semua
orang Indonesia adalah bahwa tim Indonesia harus menang. Aku sibuk meneriakkan
"Gool..!" sambil chatting di Skype. Dan hasil berkata baik,
Indonesia menang 2-1 atas Malaysia. Namun, hal itu tidak cukup untuk membawa
Indonesia menjadi juara dalam ajang bergengsi ini. Aku tersenyum pasrah. Karena
aku ingin sekali Indonesia menang melawan Malaysia, musuh bebuyutan selama ini.
Bukan karena aku membenci Malaysia tetapi karena aku ingin Indonesia menunjukkan
kemampuan terbaiknya. Namun harus kuakui, Malaysia memang mempunyai
kualitas pemain yang jauh lebih bagus. Sudahlah, lebih baik kita membahas
mengenai hal lain.
Mengenai
hariku, aku tersasar hari ini. Aku yakin sekali bahwa mungkin aku mempunyai
masalah dengan sudut pandang. Atau kemampuan spasialku tidak sebagus
orang-orang. Tetapi setidaknya, aku tidak tersasar seperti kemarin dimana aku
tersasar sampai tiga kali. Aku menebak-nebak dimana nanti aku akan keluar,
apakah jalan ini menuju ke sini, dan bagaimana nanti aku kembali. Lucu memang.
Soal sandwich, aku memakannya di
tempat yang sama. Kedai kecil dan sederhana. Di sebelahnya adalah kedai besar
berwarna hijau yang sepi pengunjung. Lokasinya dekat dengan rumahku. Aku suka
makan di sana. Mungkin aku tidak akan berbicara banyak hari ini. Yang pasti
itulah tentang hariku. Semoga kamu memiliki hari yang lebih baik. See you.
30 Desember 2010
Hari ini Wissem
mengantarku pulang. Kubilang bahwa ada orang yang mengawasiku sejak tadi.
Ketika aku keluar dari lift, dia sudah menungguku di sana, tepatnya di ujung
koridor. Ia juga muncul beberapa hari yang lalu. Aku tidak dapat melihat
wajahnya jelas karena gelap. Yang jelas aku takut kalau nanti terjadi sesuatu
hal yang buruk. Wissem lumayan bersikeras untuk membawaku ke rumah. Sepertinya,
ia juga mempunyai ketakutan yang sama denganku. Mobil Wissem biasa saja.
Ada beberapa tas di dalamnya. Ia bilang, ia biasa pergi ke Tunis dengan mobil
ini. Kami berhenti di La Terrace, di depan Baroque. Di situ aku bertanya kepada
Wissem tentang apa yang mengganjal di pikiranku. Aku merasa bersalah karena
minum Vodka dua hari yang lalu juga Wine seminggu lalu. Aku tidak tahu kalau apapun yang kita lakukan setelah
minum alkohol, shalat kita tidak akan diterima selama empat puluh hari. Laras
yang memberitahuku semalam melalui pesan singkat. Aku kaget membacanya. Aku
benar-benar tidak tahu apa yang harus berbuat apa. Dan Wissem menjawab, soal
ibadah siapa pun tidak bisa memastikan karena hanya Allah SWT yang mengetahui
ibadah kita diterima atau tidak. Dan Wissem berkata itu tidak apa karena aku
tidak tahu. Ini bukan tidak apa, aku harus mencari tahu soal hal ini. Aku
bertanya mengenai negara Tunisia. Apakah alkohol dihalalkan di negara Islam
seperti ini? Kenapa banyak sekali orang yang minum alkohol? Wissem bilang,
negara Tunisia mempunyai dua kubu yang berbeda dalam pemerintahan. Sebagian benar-benar
menjunjung tinggi Islam dan sebagian lagi tidak menjalankan islam sepenuhnya.
Wissem bilang lagi kalau pemimpin negara mereka memilih menjadi
Negara Islam hanya karena agar terhindar dari masalah. Sebenarnya mereka tidak
benar-benar patuh kepada islam. Mungkin itulah kenapa masjid di dekat kantor
kami hanya dibuka pada jam shalat saja. Untuk jam lain, masjid itu ditutup. Aneh
memang. Hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di Kantor Wissem. Karena
besok aku akan pindah ke kantorku yang sebenarnya. Yassine bilang, mereka sudah
meminta ruangan kepada rekan kerja mereka khusus untukku. Aku harus berterimakasih
kepada Wissem karena sudah membantuku selama ini.
Malamnya, Wajih datang. Ia mengajak kami pergi makan malam.
Wajih menanyakan tempat mana yang belum kami kunjungi. Dan ia membawa kami ke Roma
Cafe. It's a nice cafe.
Dengan interior bergaya jaman dahulu, telah berhasil memikat para tamu untuk
datang dan menikmati suasana di dalamnya. Aku memilih duduk di samping Wajih.
Kedua housemate-ku, Paulina
duduk di sampingku sementara Marcella duduk di samping Wajih. Aku tidak tahu
harus membicarakan apa malam ini. Kami memesan orange juice dan teh. Harganya lumayan mahal,
sekitar tiga puluh enam ribu rupiah dan Wajih membayar semua. Di pembicaraan
kali ini, kami membicarakan mengenai rencana malam tahun baru. Aku sudah
berencana mengunjungi teman-teman di Tunis. Sebenarnya aku juga belum pernah
berjumpa dengan mereka. Aku berencana mengunjungi orang-orang Indonesia karena
aku tidak mau menghabiskan malamku dengan teman-teman yang sudah pasti akan party dan mabuk. Aku masih ingat, ketika
itu aku agak panik menelpon Firman, kenalan orang Indonesia yang kudapat dari
temanku di Maroko. Aku bertanya apakah ada acara kumpul-kumpul di KBRI untuk
malam tahun baru nanti. Firman bilang memang akan ada acara ramah tamah. Aku langsung
menyanggupi untuk datang. Firman memberikan nomor kontak staf KBRI yang bisa
kuhubungi. Jadilah besok aku akan ke Tunis untuk bertemu dengan mereka.
Sementara dua housemate-ku ini,
Marcella dan Paulina, akan menghabiskan waktu di Sousse, salah satu kota wisata di
Tunisia. Hari itu berlangsung cepat. Wajih banyak mengobrol dengan Marcella.
Aku menghabiskan waktu dengan berfoto-foto di sekitar cafe. Roma Cafe sangatlah
bagus, interiornya benar-benar dipilih sesuai tema. Nuansanya bisa membuat
para pengunjung seperti berada di bawah tanah. Temboknya terbuat dari
batu-batu, sofa yang formal, lengkap dengan hiasan lampu dan jendelanya yang
menambah feel seperti di ruangan bawah tanah. Selain itu ada beberapa bangku yang
didesain seperti jaman batu, menggunakan rotan dan sofa sekedarnya. Atapnya
juga menggunakan kayu dan disertai dengan lampu yang cantik. Benar-benar
seperti di underground. Aku menikmati
sekitarku. Sembari Marcella bergurau bersama Wajih tentang bahasa Spanyol dan
Inggris dan Pola menikmati asap cerutu.
Setelah dari Roma Cafe, kami pergi ke tempat lain. Wajih
mengajak kami untuk makan "Lab-Labi." Salah satu masakan tradisional Tunisia
yang sudah jarang ditemui di restoran.. Aku mengambil tempat di samping Wajih.
Makanan ini cukup aneh. Oh ya, kami makan di pinggir jalan. Ada kedai yang
menyediakan "Lab-labi".
Kami disediakan satu mangkuk berwarna cokelat, warnanya sangat pekat. Wajih
bilang nanti kami harus mengambil campuran bumbu lainnya. Roti juga disediakan
di atas meja. Roti itu harus disobek dan dituangkan bumbu yang akan
diambil nanti. Ketika aku mengambil bumbu, sang pemilik kedai tengah memasak
telur setengah matang. Aromanya sungguh lezat. Aku memilih untuk mengambil telur
dan menggunakan semua campuran untuk dimasukkan ke dalam mangkokku. Campuran
ini berwarna putih dengan kecap, sambal dan kacang di atasnya. Setelah
diaduk, warnanya menjadi putih bercampur cokelat lengkap dengan bumbu-bumbu tadi.
Campuran itu terdiri dari sumsum sapi dengan kacang rebus, susu, telur
dan sambal juga campuran lain seperti bawang merah dan tuna. Ternyata
makanan ini cukup pedas, tidak seperti dugaanku. Aku harus terus menyobek roti
untuk melawan rasa pedas. Bahkan aku sampai menangis karena kepedasan. Aku
memang tidak begitu kuat makan pedas. Marcella dan Paulina memberiku banyak roti
agar aku bisa menghabiskan makananku. Setelah kenyang, kami pergi
ke stasiun kereta. Aku besok akan ke Tunis dan Wajih menyarankanku untuk
mengecek tiket kereta. Waktu sudah larut dan loket pembelian akan ditutup pukul
10 malam. Stasiun kereta api terletak di Medina. Tempat yang cukup rawan
di malam hari. Wajih bilang ada baiknya kami mempunyai housemate laki-laki yang bisa menemani kami
pergi kemana saja. Memang, menurut rencana, kami akan mempunyai housemate
laki-laki, namanya Rodrigo. Ia berasal dari Brazil dan akan sampai diperkirakan
bulan depan atau Februari. Kami pun tidak sabar menunggu kedatangannya.
Stasiun kereta ini bercat putih dan bertuliskan "Gare de Sfax." Aku langsung masuk ke dalam dan
mengecek jadwal kereta. Ternyata tidak ada waktu yang cocok denganku. Kalau
begitu aku naik looage saja. Aku melihat-lihat sekeliling,
ada beberapa orang yang baru sampai dari perjalanan dan ada juga yang tengah
menunggu. Wajih, Marcella dan Paulina berada di luar, aku pergi menyusul
mereka. Sesampainya, Wajih memberikanku satu gantungan kunci dengan gambar mata
di atasnya. Ia bilang simpan ini untuk perlindungan. Walaupun begitu, aku
memasukannya ke dalam tas sebagai kenang-kenangan. Kami pergi ke rumah dalam
olok-olokkan tentang mobil Wajih. Marcella bilang ini bukan mobil Wajih yang
sebenarnya, mobil Wajih lebih bagus lagi. Gurauan itu sampai ke rumah kami yang
kosong. Lampu ruangan besar dinyalakan dan saatnya untuk bercengkrama. Kami
memasang gaya masing-masing. Aku duduk di kasur seberang. Wajih banyak
bercerita tentang dirinya. Ia bercerita tentang orang tuanya, pekerjaan dan
hal-hal lain. Ia bilang bahwa Ibunya sudah bersikap seperti seorang kekasih akhir-akhir
ini. Beliau mengirimkan pesan singkat tentang betapa ia mencintai Wajih dalam
bahasa Perancis seperti seorang kekasih mengirimkan pesan untuk kekasihnya.
Ternyata Wajih memang pekerja yang baik. Ia
telah mengoptimalkan waktu dan tenaga untuk pekerjaan. Bahkan di satu
kondisi ia menceritakan bagaimana menjadi
negotiator yang baik. Suatu waktu pernah seorang klien meminta dibawakan
perempuan panggilan. Wajih menolak dengan halus karena menurutnya itu bukan
cara yang ia lakukan. Ia bisa melakukan apa saja selain itu. Lalu bagaimana sang bos
mengharapkan Wajih untuk terus maju ke posisi yang lebih tinggi. Wajih juga
bilang kalau dulu ada trainee yang sangat sigap melaksanakan tugas. Ia berhasil
membuat satu aplikasi untuk perusahaan. Dan bahkan, mereka memberikan uang
tambahan sebelum ia pulang ke negaranya. Wajih juga sempat menjalin hubungan dengan
salah satu trainee dulu. Namanya, Christina. Namun, hubungan mereka berakhir
dan Wajih belum menemukan pengganti dari perempuan tersebut. Aku melirik
Marcella yang sedari tadi senyum-senyum. Lalu Wajih bilang, ia ingin pergi ke
Mekah. Ia ingin menjadi muslim yang baik. Pembicaraan ini berlangsung lama dengan
banyak canda di dalamnya. Aku sudah mengantuk. Jadilah aku tidur lebih awal.
Besok Wajih bilang dia akan mengantarku sampai kantor. Iya aku pindah ke
kantor baru. Sudah kubilang kan? Entah apa yang terjadi esok tetapi yang pasti
aku ingin tidur nyenyak sekarang. Ditemani sayup-sayup suara Marcella dan Pola,
aku pergi ke alam mimpi.
31 Desember 2010
Alarm berbunyi menunjukkan pukul 6 pagi. Aku segera menuju
kamar dan mengambil handuk. Udara hari ini dingin sekali. Aku tidak mau
berlama-lama di kamar mandi karena aku ingin bersiap cepat. Hari ini aku akan
pergi dengan Wajih. Gaun pink cantik kesayangan sudah kukenakan. Aku selalu
merasa percaya diri memakai baju ini. Paulina bilang, aku cantik. Dan ia
menanyakan suatu hal, "Are you
nervous?" Aku menjawab, "Yes, I'm a little bit nervous." Karena ini seperti
pertama kali bekerja walaupun bukan yang pertama kali. Aku harus pindah
kantor karena memang kantorku yang sebelumnya bukanlah kantorku. Aku
ditempatkan di sana karena jaraknya yang lebih dekat dengan rumahku.
Wajih pun datang dan kami pergi meluncur ke kantor.
Kantorku yang baru cukup menyenangkan. Aku mendapat ruangan
di sudut dengan kulkas bekas dan beberapa peralatan kantor. Ada meja dan almari
lengkap dengan file-file yang tersusun rapi. Menurutku, ruangan ini sudah lama
tidak dipakai. Tertulis di depan pintu "Bureau de ordre" lengkap dengan simbol dilarang merokok. Aku
senang, karena seluruh si ruangan ini adalah milikku dan aku bisa melakukan apa
saja. Kuperhatikan ada kertas bertuliskan negara-negara yang menjadi tujuan
ekspor yang diselaputi kaca di atas meja. Aku tidak banyak melakukan kerja hari
ini. Oh ya, Wajih menegurku sewaktu aku membunyikan musik, ia bilang aku tidak
boleh menyalakan musik di sini. Ia juga bilang kalau aku tidak boleh membuka
Facebook. Atau kalaupun aku membuka Facebook, dia akan tahu. Aku menggunakan
kabel LAN untuk berseluncur di internet. Setelah Wajih pergi, aku mencari
gambar-gambar untuk katalog. Kalau bosan, aku memandang ke jendela dimana
terdapat pemandangan atap-atap perusahaan di sekitar perusahaanku. Oh ya, ada kejadian lucu ketika aku ingin menunaikan shalat. Aku ingin shalat Dzuhur dan tidak tahu harus shalat dimana. Aku pergi ke bawah dan melihat surau yang ternyata hanya untuk laki-laki saja. Aku pun bertanya kepada Mochles, staf keuangan di kantorku, apa aku bisa shalat di ruangan? Aku menjelaskan kalau aku membawa perlatan mukena tetapi tidak dengan sajadah. Ia terlihat agak panik lalu menjawab, "Yes..yes." Ia memang tidak pandai Bahasa Inggris. Tidak lama, Mochles datang dan memberikanku satu sajadah juga sandal jepit. Cleaning service pun ikut bersamanya. Mungkin sandal ini adalah kepunyaan cleaning service tersebut. Aku mengucapkan terima kasih kepada Mochles. Lalu segera pergi wudlu dan menunaikan shalat.
Karena hari ini hari Jumat, aku hanya bekerja setengah
hari. Wajih akan mengantarku menuju Looage
Station untuk pergi ke Tunis. Hari itu cukup terik dan kulitku sangat
kering. Kulitku juga bersisik dikarenakan musim dingin yang sangat kejam. Aku
bertanya pada Wajih kenapa kulitnya baik-baik saja. Dengan muka yang agak
serius dia mengambil kacamata hitam dan berkata,"Cuz i live here." Aku tidak mengerti kenapa Wajih
seperti itu. Apa mungkin karena panas atau dia malas mengantarku? Entahlah. Aku
pun berjumpa dengan stasiun. Segera aku masuk ke dalam dan membeli tiket
looage. Aku mencari van mana yang akan kunaiki. Tiba-tiba Wajih muncul dan
tersenyum sambil berpesan "Tell me
when you reach Tunis." Aku mengangguk. Sebenarnya, aku sangat senang.
Kamu tahu kenapa? Sebab aku akan berjumpa orang-orang Indonesia. Setelah
seminggu di Tunisia, aku berharap akan menemui teman-teman dari satu negara yang
sama. Perjalanan ini juga akan menjadi perjalanan pertama seorang diri ke
Tunis.
Aku berada di looage dengan satu orang Bapak, Ibu dengan
bayinya, satu orang lelaki dan satu orang perempuan di depan. Looage ini tidak
ramai penumpang. Aku sudah memegang nomor telepon Pak Mahfudz untuk
berjaga-jaga menanyakan dimana nanti aku harus turun. Perjalanan
berlangsung damai. Berbagai pemandangan terlewati, bukit-bukit, pohon-pohon,
semuanya berwarna hijau. Ada juga barisan pohon lurus berwarna cokelat, pohon-pohon
itu tidak memiliki daun dan gersang. Sepertinya Tunisia memiliki pepohonan yang
hijau juga kering. Aku melirik jam, waktu menunjukkan pukul tiga. Perjalanan
menuju Tunis ditempuh dalam waktu empat jam. Jadi aku akan sampai di sana pukul
enam sore. Aku pun tak tahu harus turun dimana. Aku meraih handphone dan
mengetik pesan singkat untuk Pak Mahfudz. Pak Mahfudz bilang, missed call ketika sampai di pintu tol
Tunis. Aku tidak tahu pintu tol tunis dimana, jadilah aku bertanya pada orang
sebelahku, seorang Bapak yang sedari tadi diam. Aku sama sekali tidak bisa
berbahasa arab jadi aku langsung bertanya tempat yang dimaksud Pak Mahfudz di
sms. Ia menggeleng. Wah, gawat jangan sampai aku tersasar lagi. Sayangnya
pulsaku habis, aku tidak bisa membalas sms Pak Mahfudz. Tidak ada pilihan, Pak
Mahfudz harus menelponku. Tidak berapa lama kemudian, Pak Mahfudz menelpon dan
kuserahkan teleponku padanya. Mereka saling berbicara dan akhirnya lelaki
ini mengerti dimana aku harus turun. "Pas
encore," katanya. Setahuku "pas"
dalam bahasa Perancis artinya tidak dan "encore"
adalah lagi. Berarti kalau digabungkan adalah tidak lagi yang artinya belum
sampai. Baiklah, aku akan menunggu sembari menikmati pemandangan unik di
sekitar.
Ternyata bayi di belakang ini adalah bayi Si Bapak ini.
Bayinya menangis sedari tadi dan sang istri memberikannya kepada beliau. Bapak
ini menggendong si bayi dan aku asyik memperhatikan mata bayi yang menari-nari
lincah. Sepertinya aku akan turun sebentar lagi. Van sudah memasuki
wilayah perkotaan, banyak manusia dan ramai kendaraan. Aku berjaga-jaga kalau
nanti harus turun. Tiba-tiba, Bapak ini mengatakan, "Ici." Aku tidak mengerti maksudnya tetapi ia berkata
seolah aku harus turun di sini. Aku melihat bahwa tempat ini seperti statisun
sesuai yang Pak Mahduz bilang di telepon. Aku segera turun dan mengucapkan
salam perpisahan kepada Bapak baik hati di dalam van. Aku berlari mencari
Pak Mahfudz. Kubilang aku memakai baju hitam dan celana jeans biru. Pak Mahfudz juga bilang beliau
memakai jaket dan baju formal. Aku mencari ke dalam kalau-kalau ada orang yang
mirip dengan ciri-cirinya. Tiba-tiba muncul sesosok lelaki yang kupikir memang
Pak Mahfudz. Matanya teduh, suaranya lembut, menghampiriku, "Ulka ya?"
"Pak Mahfud?", aku balas menanyakan hal yang sama. Akhirnya kami
berjumpa dan setelah pertemuan yang singkat Beliau membawaku ke mobil. Ia
bilang, kita akan pergi ke KBRI terlebih dahulu. Karena masih banyak yang hadir
di kantor. Pesta pun tengah dalam persiapan. Aku menurut saja. Bahkan aku tidak
enak karena telah merepotkan Pak Mahfudz. Di perjalanan menuju KBRI, aku
menyatakan hal tersebut bahwa aku tidak enak kepada Beliau. Beliau malah
menjawab dengan santai bahwa Beliau juga mempunyai anak seumuran denganku. Oh
ya? Tentunya aku sangat senang berkenalan dengannya.
Kami sampai di KBRI dan aku mengikuti Pak Mahfudz menuju ke
satu ruangan. Ada beberapa meja dan kursi, mungkin ini ruangan Pak Mahfudz,
pikirku. Aku harus melakukan prosedur melaporkan diri terlebih dahulu, begitu
kata Pak Mahfudz. Beliau mengambil pasporku dan mengecop bahwa aku sudah
melaporkan diri ke KBRI. Tiba-tiba datang seorang perempuan, Beliau
memperhatikanku dan Pak Mahfudz menjelaskan bahwa aku orang baru di sini.
Pertanyaan pertama Beliau tidak akan pernah kulupakan, "Bisa nyanyi
enggak?" Aku menelan ludah. Aku biasa menyanyi di kamar mandi dan sangat
ahli di bidang itu. Namun bernyanyi di depan orang banyak, aku takut akan
kelangsungan hidup dari si pendengar. Aku dengan ramah menggeleng. Itu tadi adalah Ibu Sri dan Beliau akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat, sayang sekali. Lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Lelaki itu bertanya sesuatu
pada Pak Mahfudz dan berkata, "Adek.." Aku menoleh dan dia terperangah lalu menjawab, "Eh,
kirain adek." Aku tersenyum polos. Aku keluar untuk melihat isi
KBRI. Di depan ruangan Pak Mahfudz adalah ruang tamu besar lengkap dengan replika Burung Garuda. Lalu aku pergi ke bawah, aku melihat beberapa orang tengah main
pimpong. Mereka bersemangat sekali. Aku pun kembali ke atas dan
melihat-lihat bagian lain. Tidak terasa waktu semakin dekat dengan pesta
malam tahun baru. Pak Mahfudz mengantarku menuju Wisma Duta. Di lobby kami
berjumpa dengan beberapa karyawan dan Pak Mahfudz berkata bahwa aku bisa tidur dengan Risha, salah satu karyawan yangsedang ada di lobby. “Nanti tidur saja sama Risha,” kata Pak Mahfudz. Sementara Risha, yang dimaksud, hanya tersenyum dan berkata, "Boleh." Aku dan Pak Mahfudz pergi melesat menuju mobil.
Sesampai di Wisma, aku memutuskan untuk shalat terlebih
dahulu. Pesta sebentar lagi akan dimulai, aku melihat sudah banyak orang datang. Setelah solat, aku keluar dan mencari meja mana yang bisa
kududuki. Pak Mahfudz menunjuk meja anaknya. Ia memberitahu kepada anaknya
bahwa aku orang baru yang perlu bimbingan. Aku berkenalan dengan Fathia, panggil saja Thia, katanya. Ia balik bertanya, "Ulka yang kerja di Radio PPI Dunia itu
ya?" "Eh? Iya..," kataku agak kaget. Aku berikir
darimana ia tahu pekerjaanku. Memang sebelum ini aku meng-add Facebook satu
orang perempuan Indonesia di Tunisia. Mungkin inilah orangnya. Satu lagi, namanya Fitri, entah kenapa perasaanku tidak enak ketika
berkenalan dengannya. Orangnya sombong, itu impression-ku
pertama kali. Lalu kami duduk dan bercengkrama menikmati penampilan. Tidak
berapa lama, datang seorang lelaki, aku tidak tahu siapa dia. Ia memakai baju
kotak-kotak biru, berbadan tinggi besar dan bercelana jeans. Dia menyapa dengan
ramah Fitri dan Fathia. Aku juga berkenalan dengannya, namanya Aris. Setelah
berapa lama, Fitri bertanya satu hal, "Kak Aris, berapa umurnya?"
Aris menjawab, "Dua puluh satu," jawabnya. "Kakak ini dua
puluh," kata Fitri lagi. Aris tersenyum. Mungkin mereka mengira aku satu angkatan dengan Aris. Lalu mereka mengobrol dalam bahasa
Perancis. Fitri terlihat diam saja mungkin karena ia orangnya pendiam. Namun aku bingung kenapa mereka berbincang dalam bahasa Perancis? Mereka
menunjuk-nunjuk aku. Lalu Fathia berkata
sesuatu tentang "representation", setahuku dalam bahasa Inggris
artinya adalah mewakili. Mungkin ia menjelaskan mengapa aku bekerja di Radio
PPI Dunia. Bisa dibilang aku adalah perwakilan pelajar Indonesia di Malaysia itulah kenapa aku
bisa bekerja di sana. Perutku mengaduh lapar, pertanda aku harus mengambil
makanaan. Menu malam ini lezat-lezat sekali: bakso, kentang goreng, dan menu lezat lainnya.
Sembari makan, kami berbincang, Aris bilang kalau dia juga salah satu anggota
lembaga pertukaran yang membawaku ke sini di kampusnya. Setelah itu, datang satu
lelaki dan perempuan datang ke meja kami. Saat pertama kali melihatnya,
aku langsung menyukainya. Ya, lelaki itu. Pakaiannya sangat casual, jaket
dengan t-shirt dan jeans, headphone, memakai kacamata. Ia manis, sungguh manis. Namun, aku enggan bertanya siapa namanya. Fathia bilang mereka sedang
mempersiapkan diri untuk menari dengan lagu Korea di panggung nanti. Aku senyum saja, Lelaki
itu mungkin seumur denganku, kupikir. Akhirnya sampailah giliran mereka tampil,
aku memperhatikannya, lekat-lekat. Ia menari lengkap dengan topi
“Michael Jackson.” Ah, keren sekali. Tidak lupa, ada juga namanya Dita. Dia
juga salah satu anak yang membawakan tarian. Tarian mereka lucu sekali,
tarian yang lincah dan dinamis. Satu disitu yang kulihat ada perempuan kecil
yang sangat bersemangat. Ia berada di barisan paling depan. Aku tidak tahu siapa dia. Acara dilanjutkan
dengan drama dari pelajar PPI (Persatuan pelajar Indonesia) Tunisia. Lalu ada nyanyian
juga dari perempuan kecil tadi. Ternyata namanya adalah Amira. Aku menikmati hidangan
yang lezat ini. Aris dan Fathia masih berbincang dalam bahasa Perancis. Ini
cukup aneh buatku, aku menjadi merasa seperti alien di antara teman-teman satu
negara.. Sesudah itu ditutup dengan penampilan band dari Aris dan teman-teman.
Ternyata Aris bermain drum, keren juga.
Tidak terasa, penghujung akhir tahun 2010 sudah tiba.
Beberapa menit lagi tahun 2010 akan usai. Para tamu sudah membawa terompet,
topeng kacamata dan serbuk-serbuk putih untuk dilemparkan nantinya. Ketika aku berada di barisan depan, aku
berkenalan dengan Faizin, Ketua PPI Tunisia. Ia pun tahu aku
adalah kru Radio PPI Dunia. Dan ketika sudah tepat pukul 00:00 kami semua
meniup terompet dan berteriak, "Bonne Anneee!!" yang artinya
"Happy new yearr!". Aku sangat senang malam tahun baru ini. Aku
berfoto-foto dan ketika aku asik mengenakan topeng kacamata, Aris menawarkan
diri untuk memfotoku. Ah, baiklah. Aku senang sekali bisa berkumpul dengan teman-teman
satu negara dan menghabiskan malam tahun baru bersama mereka. Acara pun selesai sudah. Selanjutnya diisi dengan mengobrol dan makan. Aku mencari Fathia untuk berbincang, ternyata dia ada di
luar sedang bermain dengan teman-teman lain. Aku penasaran dengan lelaki yang mempesonaku tadi. "Amo namanya," katanya. "Dia kuliah
juga?" aku bertanya dengan polos. Tiba-tiba Fathia bilang sesuatu yang sangat
mengejutkanku, "Masih SMA." "Oh..", aku lemas. Sayang sekali, kataku di
dalam hati. Kenapa umur kita harus terpaut jauh? Ia sama sekali tidak terlihat seperti anak SMA. Ia terlihat lebih dewasa dari umurnya. Aku bertanya pada Fathia bagaimana nanti kalau kita berjalan-jalan suatu hari. Fathia bilang mereka tida bisa bebas berjalan-jalan karena mereka terbiasa pergi dengan taksi atau pergi dengan orang tua. Dita, karena masih kecil, orang tuanya tidak membolehkan dia pergi sendiri. Fathia juga tidak tahu jalan menuju tempat-tempat dengan kendaraan umum jadilah ia selalu kemana-mana dengan taksi. Aku berpikir bagaimana nanti kalau aku pergi dengan mereka. Lalu Fathia
mengajak kami untuk foto-foto di halaman depan Wisma. Oh ya, Wisma Duta adalah
tempat tinggal Pak Duta Besar Tunisia. Di halaman depan tumahnya terdapat kolam renang, di sanalah kami berfoto, berloncat ria. Lalu kami kembali ke dalam,
acara foto-foto belum selesai. Kami masih menggila bersama, aku, Fathia, Fitri
dan kawan-kawan lain.
Sementara itu, ada dua perempuan Tunisia yang sedari tadi memperhatikan kami. Ternyata dia adalah teman dari teman kami, salah seorang namanya adalah Emna. Mereka melihat kepadaku dan mengajak untuk berfoto bersama. Aku pergi ke sofa dan meminta tolong salah satu staf untuk memfoto kami. Senangnya, diajak berfoto oleh orang Tunisia. Selain itu, aku juga berfoto dengan Bapak dan Ibu Duta Besar. Aku mengambil kesempatan ini karena tidak tahu kapan lagi aku bisa berfoto bersama dengan mereka. Ada juga beberapa Mbak-mbak TKW yang datang dan mereka pun meminta foto bareng dengan Bapak dan Ibu . Aku mengambil lagi makanan, di antaranya kentang, entah kenapa aku masih lapar. Ada Mamanya Aris juga, aku dikenalkan olehnya. Aris bilang kalau aku juga ikut program pertukaran lembaga dimana Aris ikut terdaftar di sana. Lalu Mama Aris menyatakan kalau Aris juga seharusnya ikut program yang sama. Mama Aris baik dan ramah. Lalu ada Ibu lain yang juga menyalamiku bahkan ia juga ikut berfoto bersama kami. Kami pun berfoto dengan anak-anak PPI Tunisia yang kesemuanya adalah lelaki. Aku memperhatikan Amo dari jauh, gayanya sungguh keren. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan tetapi aku sangat suka gayanya. Selain itu dapat dilihat kalau Amo adalah orang yang pendiam. Kalem, iya itu maksudku. Jujur aku tidak begitu suka cowok yang banyak omong. Karena menurutku lelaki pendiam itu adalah cool. Dengan Amo, aku merasa seperti jatuh cinta yang sudah lama tidak kurasakan selama tiga tahun. Aku sudah menjalin hubungan dengan pacarku lumayan lama. Namun, apakah kamu pernah bertemu seseorang yang membuatmu jatuh cinta seperti pertama kali? Inilah saatnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tetapi aku ingin mencari tahu tentang dirinya lebih jauh.
Ia sedang berada di meja minuman. Dan aku menuju ke sana, aku bertanya apa yang ada di dalam kotak itu, "Ini apa ya?" Karena memang benar aku tidak tahu. Lalu ia menjawab, "Jus. Mau?" Katanya lagi. Aku mengambil salah satu kotak tersebut lalu mengambil kesempatan untuk mengobrol bersama. Basa-basi aku menanyakan nomornya, ia pun memberitahu. Aku ingin memulai hubungan sebagai teman. Mungkin aku menginginkan lebih tetapi aku hanya ingin lebih dekat dengannya. Nomornya berbeda dari yang lain, dimulai dari angka lima. Ia bilang ini adalah provider Orange bukan Tunisiana seperti yang biasa dipakai. Ia memberikan handphone lalu aku mencatat nama dan nomorku di handphonennya. Handphone Amo adalah handphone dengan merk sejuta umat yang dipakai orang Indonesia namun ini versi terbaru. Akhirnya, aku mendapat kontaknya. Aku mengambil topi yang ia kenakan dan memakaikannya padaku. Aku suka topi ini. Malam sudah semakin larut, saatnya untuk pulang. Amo sudah dipanggil keluar untuk pulang dengan orang tuanya. Lalu ia berjalan dan lupa akan topi “Michael Jacksonnya” itu. Aku pun menggodanya dan bertanya, “Eh, ini topinya. Nggak usah dibalikin apa?” Ia pun tersenyum manis lalu berbalik badan dan mengucapkan "Bye." Ahh, rasanya seperti dikelilingi bunga-bunga bermekaran. Aku tersipu-sipu malu. Jangan-jangan mukaku merah semoga saja ia tidak melihatnya.
Malam itu aku membayangkan Amo dalam tidurku. Namun sesaat, wajah kekasihku muncul. Ah sudahlah. Aku hanya ingin berteman dulu dengannya. Oh ya, aku tidur dengan Kak Risha, orang yang kutemui tadi di KBRI. Well, this is the first day in 2011. So, please welcome! Hope we have a wonderful year ahead! Selamat tidur *)
Sementara itu, ada dua perempuan Tunisia yang sedari tadi memperhatikan kami. Ternyata dia adalah teman dari teman kami, salah seorang namanya adalah Emna. Mereka melihat kepadaku dan mengajak untuk berfoto bersama. Aku pergi ke sofa dan meminta tolong salah satu staf untuk memfoto kami. Senangnya, diajak berfoto oleh orang Tunisia. Selain itu, aku juga berfoto dengan Bapak dan Ibu Duta Besar. Aku mengambil kesempatan ini karena tidak tahu kapan lagi aku bisa berfoto bersama dengan mereka. Ada juga beberapa Mbak-mbak TKW yang datang dan mereka pun meminta foto bareng dengan Bapak dan Ibu . Aku mengambil lagi makanan, di antaranya kentang, entah kenapa aku masih lapar. Ada Mamanya Aris juga, aku dikenalkan olehnya. Aris bilang kalau aku juga ikut program pertukaran lembaga dimana Aris ikut terdaftar di sana. Lalu Mama Aris menyatakan kalau Aris juga seharusnya ikut program yang sama. Mama Aris baik dan ramah. Lalu ada Ibu lain yang juga menyalamiku bahkan ia juga ikut berfoto bersama kami. Kami pun berfoto dengan anak-anak PPI Tunisia yang kesemuanya adalah lelaki. Aku memperhatikan Amo dari jauh, gayanya sungguh keren. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan tetapi aku sangat suka gayanya. Selain itu dapat dilihat kalau Amo adalah orang yang pendiam. Kalem, iya itu maksudku. Jujur aku tidak begitu suka cowok yang banyak omong. Karena menurutku lelaki pendiam itu adalah cool. Dengan Amo, aku merasa seperti jatuh cinta yang sudah lama tidak kurasakan selama tiga tahun. Aku sudah menjalin hubungan dengan pacarku lumayan lama. Namun, apakah kamu pernah bertemu seseorang yang membuatmu jatuh cinta seperti pertama kali? Inilah saatnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tetapi aku ingin mencari tahu tentang dirinya lebih jauh.
Ia sedang berada di meja minuman. Dan aku menuju ke sana, aku bertanya apa yang ada di dalam kotak itu, "Ini apa ya?" Karena memang benar aku tidak tahu. Lalu ia menjawab, "Jus. Mau?" Katanya lagi. Aku mengambil salah satu kotak tersebut lalu mengambil kesempatan untuk mengobrol bersama. Basa-basi aku menanyakan nomornya, ia pun memberitahu. Aku ingin memulai hubungan sebagai teman. Mungkin aku menginginkan lebih tetapi aku hanya ingin lebih dekat dengannya. Nomornya berbeda dari yang lain, dimulai dari angka lima. Ia bilang ini adalah provider Orange bukan Tunisiana seperti yang biasa dipakai. Ia memberikan handphone lalu aku mencatat nama dan nomorku di handphonennya. Handphone Amo adalah handphone dengan merk sejuta umat yang dipakai orang Indonesia namun ini versi terbaru. Akhirnya, aku mendapat kontaknya. Aku mengambil topi yang ia kenakan dan memakaikannya padaku. Aku suka topi ini. Malam sudah semakin larut, saatnya untuk pulang. Amo sudah dipanggil keluar untuk pulang dengan orang tuanya. Lalu ia berjalan dan lupa akan topi “Michael Jacksonnya” itu. Aku pun menggodanya dan bertanya, “Eh, ini topinya. Nggak usah dibalikin apa?” Ia pun tersenyum manis lalu berbalik badan dan mengucapkan "Bye." Ahh, rasanya seperti dikelilingi bunga-bunga bermekaran. Aku tersipu-sipu malu. Jangan-jangan mukaku merah semoga saja ia tidak melihatnya.
Malam itu aku membayangkan Amo dalam tidurku. Namun sesaat, wajah kekasihku muncul. Ah sudahlah. Aku hanya ingin berteman dulu dengannya. Oh ya, aku tidur dengan Kak Risha, orang yang kutemui tadi di KBRI. Well, this is the first day in 2011. So, please welcome! Hope we have a wonderful year ahead! Selamat tidur *)
Happy New Year 2011!
Thanks for reading~
See You Again Soon,
Chandini
No comments:
Post a Comment