2012 telah memberi saya banyak cobaan. Saya menjadi tidak
semangat dalam menjalani hidup. Salah satunya adalah karena PhD. Saya tidak
tahu bagaimana bersyukur kala itu. Sebelum saya melontarkan kata-kata, “Pak,
harusnya Ulka di Tunisia saja ya,” kata saya yang waktu itu tengah menunggu
sesuatu. “Wah, ini sudah di track yang benar. PhD itu investasi..” katanya.
Bapak saya adalah seorang yang brilian. Beliau memiliki setiap makna di balik
kata-katanya, bahwa yang Beliau maksudkan adalah saya harus terus melanjutkan
PhD saya.
Selain itu, pertemuan saya dengan Norman telah mengajak saya
pada satu kontemplasi. Saya diajak untuk merenung apa yang sudah saya dapatkan
selama ini. Pertemuan dengan Norman hanya sebentar. Kami membicarakan mengenai pekerjaan dan hidup tetapi
efeknya, luar biasa. Saya menjadi menyadari bahwa yang saya dapatkan selama ini
adalah satu kelebihan dibanding yang lain. Saya bisa tidur, jalan-jalan, bersenang-senang, seenaknya. Dibanding Norman yang mempunyai jadwal-jadwal tertentu untuk hal
itu. Saya bisa pergi berenang, berkuda, main basket, kapanpun saya mau. Saya
pun jadi tersenyum miris mengingat ia yang mengatakan, “Tetapi Ul..lo itu punya
kebebasan yang mahal.”
Begitu katanya, kata-kata tersebut diucapkan dari orang yang
mendapatkan gaji lumayan dan pekerjaan menyenangkan. Norman bukan satu dari
sekian banyak teman yang secara tidak sengaja menyadarkan akan hal tersebut. Tetangga
saya, Wennda, mempunyai nasib yang serupa. Ia harus bekerja dengan shift tertentu bahkan ia diharuskan untuk
masuk bekerja di hari libur dan hari raya besar. Ia tidak mendapat cuti dari
kantornya. Saya sangat beruntung untuk hal itu. Saya bisa menentukan libur sesuka
hati. Saya juga disadarkan oleh teman saya yang setiap hari naik motor ke
tempat kerjanya di bilangan Sudirman. Cukup jauh untuk rumah kami yang ada di
Bekasi. Saya tidak tahu apakah sanggup menjadi seperti dirinya.
Setelah itu, saya juga mendengar tetangga saya yang berhenti
karena tuntutan pekerjaan dia yang terlalu tinggi. Saya benar-benar tersadar
kalau saya beruntung. Saya bisa melakukan apa saja. Tidak ada orang yang
memerintah saya, selain supervisor
yang akan bertanya mengenai progress saya.
Selain jadwal-jadwal pertemuan yang harus saya tepati. Saya benar-benar
bersyukur. Sampai detik itu, saya tahu bahwa Allah telah memberikan yang
terbaik untuk saya.
Saya sadar bahwa yang saya dapatkan ini bukan cuma-cuma. Saya
harus belajar keras untuk mendapatkan gelar PhD. Memang, cara belajarnya tidak
seperti Norman, Wennda dan teman saya yang lain. Mungkin lebih keras lagi. Saya
harus duduk berjam-jam di library, mencari
gap untuk research, mengejar-ngejar orang, dan lainnya. Semua itu akan
menjadi suatu kenangan tersendiri jika saya sudah berhasil nanti.
Saya dan teman-teman saya mempunyai cara berjuang yang
berbeda. Sekarang, saya seringkali bersyukur akan hidup saya. Semoga proses
penyadaran untuk bersyukur ini berarti bagi saya.
Terimakasih 2012,
Chandini
No comments:
Post a Comment