02 February 2013

Bersyukur, Lagi Lagi



2012 telah memberi saya banyak cobaan. Saya menjadi tidak semangat dalam menjalani hidup. Salah satunya adalah karena PhD. Saya tidak tahu bagaimana bersyukur kala itu. Sebelum saya melontarkan kata-kata, “Pak, harusnya Ulka di Tunisia saja ya,” kata saya yang waktu itu tengah menunggu sesuatu. “Wah, ini sudah di track yang benar. PhD itu investasi..” katanya. Bapak saya adalah seorang yang brilian. Beliau memiliki setiap makna di balik kata-katanya, bahwa yang Beliau maksudkan adalah saya harus terus melanjutkan PhD saya.

Selain itu, pertemuan saya dengan Norman telah mengajak saya pada satu kontemplasi. Saya diajak untuk merenung apa yang sudah saya dapatkan selama ini. Pertemuan dengan Norman hanya sebentar. Kami  membicarakan mengenai pekerjaan dan hidup tetapi efeknya, luar biasa. Saya menjadi menyadari bahwa yang saya dapatkan selama ini adalah satu kelebihan dibanding yang lain. Saya bisa tidur, jalan-jalan, bersenang-senang, seenaknya. Dibanding Norman yang mempunyai jadwal-jadwal tertentu untuk hal itu. Saya bisa pergi berenang, berkuda, main basket, kapanpun saya mau. Saya pun jadi tersenyum miris mengingat ia yang mengatakan, “Tetapi Ul..lo itu punya kebebasan yang mahal.”

Begitu katanya, kata-kata tersebut diucapkan dari orang yang mendapatkan gaji lumayan dan pekerjaan menyenangkan. Norman bukan satu dari sekian banyak teman yang secara tidak sengaja menyadarkan akan hal tersebut. Tetangga saya, Wennda, mempunyai nasib yang serupa. Ia harus bekerja dengan shift tertentu bahkan ia diharuskan untuk masuk bekerja di hari libur dan hari raya besar. Ia tidak mendapat cuti dari kantornya. Saya sangat beruntung untuk hal itu. Saya bisa menentukan libur sesuka hati. Saya juga disadarkan oleh teman saya yang setiap hari naik motor ke tempat kerjanya di bilangan Sudirman. Cukup jauh untuk rumah kami yang ada di Bekasi. Saya tidak tahu apakah sanggup menjadi seperti dirinya.

Setelah itu, saya juga mendengar tetangga saya yang berhenti karena tuntutan pekerjaan dia yang terlalu tinggi. Saya benar-benar tersadar kalau saya beruntung. Saya bisa melakukan apa saja. Tidak ada orang yang memerintah saya, selain supervisor yang akan bertanya mengenai progress saya. Selain jadwal-jadwal pertemuan yang harus saya tepati. Saya benar-benar bersyukur. Sampai detik itu, saya tahu bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuk saya.

Saya sadar bahwa yang saya dapatkan ini bukan cuma-cuma. Saya harus belajar keras untuk mendapatkan gelar PhD. Memang, cara belajarnya tidak seperti Norman, Wennda dan teman saya yang lain. Mungkin lebih keras lagi. Saya harus duduk berjam-jam di library, mencari gap untuk research, mengejar-ngejar orang, dan lainnya. Semua itu akan menjadi suatu kenangan tersendiri jika saya sudah berhasil nanti.

Saya dan teman-teman saya mempunyai cara berjuang yang berbeda. Sekarang, saya seringkali bersyukur akan hidup saya. Semoga proses penyadaran untuk bersyukur ini berarti bagi saya.


Terimakasih 2012,
Chandini



No comments: