02 February 2013

Sekelumit Cerita Kehidupan Tunisia (Revised Version)


Tunisia. Negara kecil di Afrika Utara yang sudah membuat hidupku berubah. Banyak hal telah terjadi. Aku akan menceritakannya sesaat lagi...


Marcella dan Paulina adalah dua orang pertama yang menerimaku di rumah. Mereka dengan ramah memeluk dan menciumku. Hari demi hari berlalu, aku seringkali membantu mereka menyiapkan masakan. Tidak jarang aku ikut berbelanja menemani mereka yang sudah siap dengan daftar barang yang harus dibeli. Malam hari, kami bercengkrama, mengenai hari yang telah berlalu. Aku juga biasa bertemu dengan teman-teman kami yang lain. Aku berusaha menyesuaikan diriku dengan mereka. Aku merasa mereka cukup berbeda denganku. Aku terus mengusahakannya. Sebelum aku menyadari bahwa diriku berubah. Aku tak seceria dulu lagi. Lama kelamaan, aku merasa terasing. Kurasa pria-pria Arab ini lebih menilai seseorang dari segi fisik. Aku yang biasa-biasa saja memang tidak menonjol. Aku menjadi lebih sering menyendiri di kamar. Sementara mereka asyik berpesta dengan wine dan racauan tawa. Aku melakukan apa saja di kamar yang bisa membuatku lebih damai. Tidak lama, Isabella datang. Ia berasal dari Brazil. Aku suka dengan gayanya yang cenderung cuek. Ia adalah roommate pertamaku. Kami berbagi tentang banyak hal. Aku suka mendengarkan cerita-ceritanya, tentang ia yang rindu mariyuana, ia dan mantan kekasihnya, juga ia dan pesta-pesta mewahnya. Aku belajar tentang keceriaan dan kegembiraan darinya. Suatu hari kami pergi ke museum dan saling bergantian membawakan tas di sepanjang perjalanan. Satu kenangan manis yang tak bisa terlupakan bersama dengan teman sekamarmu.

Hari itu aku libur. Aku baru saja membuka kelopak mata dari tidur yang indah ketika Paulina berseru, “Semua toko tutup! Orang-orang menggeliat di luar!” Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Akhirnya, tersiar kabar bahwa telah terjadi revolusi. Ya, Tunisia, negara kecil ini sedang mengalami revolusi. Aku tidak punya pilihan, aku segera diamankan di Wisma Duta Besar Republik Indonesia bersama warga Indonesia lain. Sementara Paulina dan Marcella memilih untuk tetap tinggal di rumah. Setiap malam aku mendengar suara bising helikopter berputar-putar, suaranya seperti tepat di atas kepalaku. Lalu berita orang-orang di televisi yang telah meninggal, luka-luka atau tertembak mati. Aku tidak mau mendengar semua itu. Aku pun berdoa semoga ini cepat berakhir. Karena aku ingin bisa memakan escalope lezatku yang kupesan setiap siang. Juga kembali bebas berjalan sesuka hati tanpa rasa takut. Dan aku selalu tergetar ketika mendengar suara desingan bom ataupun peluru. Aku tidak ingin lebih, aku hanya ingin hidup normal.

Perang pun berakhir sudah. Aku pulang ke Sfax dan melanjutkan pekerjaan. Semua baik-baik saja. Sebelum aku mendengar dari mulut bosku sendiri bahwa aku diberhentikan. Ya, kawan-kawan, aku diberhentikan. Revolusi itu tidak saja merusak tata kota dan membangkitkan para mafia jahanam tetapi juga menghancurkan perusahaanku. Aku, diberhentikan. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Oh ya, Monica telah sampai dari Meksiko. Ia adalah roommate keduaku. Aku tidak menyangka kalau kami cocok satu sama lain. Dirinya adalah seorang muslim yang sebelumnya beragama katolik. Kami saling menceritakan keluh kesah masing-masing. Setelah semua ini, aku terkatung-katung mencari pekerjaan. Aku pun pergi ke Tunis demi pekerjaan baru. Sudah lama aku ingin pindah, sejak Sfax yang tidak begitu menyenangkan.

Fahid adalah orang pertama yang membantu membawakan barang-barangku sesampai aku di Tunis. Rumah itu asing, seperti rumah tua yang penuh dengan pernak-pernik. Lantainya terbuat dari semen keras dengan ornamen hiasan warna-warni. Teman sekamarku adalah seorang Chinese-American, begitu aku menyebutnya. Namanya Connie. Ia mempunyai tinggi tidak jauh beda denganku dan berkulit kuning kecoklatan. Akhirnya, kedatanganku ke Tunis membuahkan hasil. Aku mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan baru dengan teman-teman baru. Aku sangat senang tinggal di Tunis. Kurasa hidupku lebih baik di sini. Dengan Daniel yang terkadang menjahiliku, Connie yang bersikap tegas dan kata-katanya yang sering melukai perasaanku dan Lii Na yang lembut. Aku suka mereka. “Hey, Ulka, sedang apa kamu di weekend ini?” suara Daniel terdengar serak di telepon. Kala itu, aku sedang sibuk dengan pekerjaan, jadilah aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman bermain di taman.

Tunis tidak hanya memberikan kenangan manis tetapi juga pahit. Aku kerap kali pulang malam karena tuntutan pekerjaan. Aku juga sering terlambat mendapatkan gajiku. Itulah alasannya kenapa aku jarang bisa membayar uang sewa apartemen tepat waktu. Dan yang lebih disayangkan lagi, aku tidak selalu punya uang untuk liburan akhir pekan. Namun, itu semua tidak sebanding dengan hangatnya persahabatan kami. Kurasa mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku. Banyak hal yang kami luangkan bersama. Sekedar kamu tahu, kami memiliki jadwal untuk setiap kegiatan, seperti kegiatan bersih-bersih, menonton film juga memasak. Jangan tertawa ya, karena buat kami hal ini penting. Jadwal diperlukan untuk mengatur kapan seseorang bertugas dan memastikan orang tersebut bertanggungjawab akan tugasnya. Aku sendiri suka jadwal menonton film. Karena dari film-film yang ditonton aku mendapat inspirasi sekaligus menginspirasi teman-temanku. Soal memasak, jangan tanya, aku bisa memasak telur balado dan sayur lodeh. Sudah cukup, buatku. Walaupun begitu, kami selalu berdoa agar keadaan kota kami kembali normal. Kota kami belumlah stabil sejak meletusnya revolusi besar-besaran bulan Januari lalu. Memang sudah cukup baik, tetapi kami harus tetap siap siaga kalau saja serangan terjadi.

Siang itu, aku sedang menikmati makan dengan Daniel. “Carolina pasti iri jika ia tahu kita makan di sini. Sandwich ini adalah makanan kesukaannya,” kata Daniel sambil mengunyah daun-daun sawi di mulutnya. Suara dentang-denting sodet memenuhi isi ruangan. Televisi pun sedang diperdengarkan keras. Orang-orang tengah memesan makanan di meja kasir. Tiba-tiba, tidak ada angin ataupun hujan badai, sang pemilik cepat-cepat menutup restoran. Ada apa gerangan? Orang-orang di luar sana berlari kesana kemari. Aku mendapat firasat bahwa sesuatu buruk terjadi. “Revolusi!”* suara sayup-sayup terdengar melewati sela pintu restoran. Aku segera membereskan remah-remah roti di celanaku dan mengajak Daniel pergi. “Apa yang harus kita lakukan?”, kata Daniel panik. Kami pun meninggalkan sepiring sandwich cantik yang masih menggoda untuk dihabiskan.

Asap sudah mengepul di udara. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Orang-orang ramai berkeliaran membawa balok-balok kayu dan seperti bersiasat menyusun strategi. Mereka juga tidak henti-hentinya meneriakkan kata-kata yang sama dalam bahasa Arab. Di kejauhan, kulihat, langit sudah makin menghitam karena asap yang semakin tebal. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Aku segera mempercepat langkah. Seiring dengan itu, sirene polisi makin nyaring terdengar menuju tempat aku berada. Buatku, ini mimpi buruk. Kami segera bergegas lari mengamankan diri.



*7 May 2011, Tunis kembali dalam kerusuhan. Orang-orang menginginkan revolusi baru.


Sampai Jumpa Lagi,
Chandini



11 comments:

Sabila A B said...

waaw, mbak chandini, pengalamannya kereeen. udah gak di malaysia lagi ternyata ya

Ima Nurani said...

Ini kisah nyata atau fiksi? Keren nih. Kenapa gak coba dibuat novel aja? Tunisia, baru banyak denger setelah baca ini. :))

Ən Yeni Mahnı Sözləri 2 said...

T_T

Unknown said...

nice stori mbak bro :')
sampek bingung gmana nangepinnya. revolusi emng ptg buat negara yg selalu keteteran, kyk negara kita kalik -,-"
btw, folbek blog gue yak? thanks :))

Ulka Chandini Pendit said...

@Sabila Makasih ya. Ini waktu aku di Tunisia..

@Ima Ini kisah nyata ima.. Iya nih mau buat. Hehe baca sebelumnya ya *)

@Sabda T_______T

@Shakti Makasih ya shakti. Hemm ga juga sih..hehe Tergantung negaranya juga.. Siap Shakti *)

Temen-temen baca part 1-5 nya ya di sini: http://whodoyouthinkulkachandinipenditis.blogspot.com/search/label/TunisiaStory

Cups!

faiza said...

kini bagaimana keadaan tunisia ka? masihkah marcella, paulina etc masih disana? kamu nggak kepikiran pulang aja ke tamah air saat itu?*menegangkan sekali

Ulka Chandini Pendit said...

Za..sekarang keadaannya sudah sangat membaik. Tunis kembali menjadi salah satu kota teraman di dunia. Waktu itu aku udah kepikiran cuma Pak Dubes ga ngebolehin beliau bilang diamankan dulu sama warga Indo lain. Begitu za.. x))

54ndr4 said...

Hai Ulka Chandini Pendit...
salam kenal yaa
:)

aku Sandra
tertarik en pengen tau banyak soal Tunisia niih,

ini imelku little_stupidbear@yahoo.com

boleh minta contact number or imelnya gaa ? :)

Ulka Chandini Pendit said...

Hai Sandra, akhirnya ada juga yang perhatian sama Tunisia..hihi

Mo konsultasi apa nih?

Silakan Sandraa boleh email aku di ulka.chandinipendit@gmail.com x)

Unknown said...

slam knal Mbak, q punya pcr orang Tunis,, bgmna karakter few Tunis Mbak?.

Ulka Chandini Pendit said...

Hello tatag, saya kurang tahu karakter perempuan Tunis, tetapi orang Tunis kebanyakan gaya hidupnya bebas, suka party dan minum. Pandangan mereka lebih ke negara barat, seperti Perancis.