22 May 2012

Perempuan Bergaun Merah Jambu


Sudah satu jam aku terduduk di sini. Di atas kursi, di depan layar komputer. Kosong. Kertas putih ini masih putih bersih. Belum ada satu kata pun di sana. Aku bingung. Tak tahu menulis apa. 

Sudah banyak kata-kata berkumpul di kepala. Seperti muntah yang tertahan di kerongkongan, mereka hendak keluar tetapi tidak bisa. Perut ini mulas, tanda sudah waktunya. Mulut sudah terbuka, tetapi belum juga bisa. Mereka, segala racun hati, belum sanggup keluar dari sarangnya.

Banyak hal terjadi belakangan ini. Tentang badanku yang biru-biru. Lebam. Di paha, kaki dan tangan. Rasanya nyeri. Lebih sakit dari luka yang berdarah. Setiap tidur aku mendengar, luka-luka itu berteriak, memanggil-manggil. Mereka minta diobati, dikembalikan warnanya menjadi coklat. Seperti kulit semula. Tetapi mereka tetap biru. Sebiru langit gelap ketika hujan turun.

***

Aku berjalan melewati tatapan-tatapan kagum itu. Mereka terpana melihat gaun merah jambu yang melekat ini. Warnanya manis, kemerah-merahan, menandakan sang pemilik sedang jatuh cinta dan bahagia. Senyumku mengembang. Semu. 

Bisikan mereka masih terdengar jelas. Gaung suara mereka menggema memenuhi penjuru ruang. Aku terus berjalan dengan sekuat tenaga. Sampai ketika, sakit ini kembali mengaduh. Gaduh. Aku merintih. Sakit yang tak tertahankan. Pedih. Perih. Aku terjatuh di sudut ruang. Lalu melihat ke kanan dan kiri , memastikan hanya aku dan diriku di sini. Sendiri. Mereka tak boleh tahu, tentang luka-luka ini. Tidak, mereka tidak boleh tahu.

***

Aku tak tahu bagaimana cara menghitung air mata. Kalau ada alat pengumpul air mata, mungkin sudah tak terhitung jumlahnya air mata-air mata yang turun di bumi. Mereka menjadi teman para manusia, melewati lorong gelap sunyi, berlika-liku, kelam, dalam hidup. Kadang mereka juga menemani di kala langit terang benderang dan matahari bersinar terik. Dan kadang, semakin sering kau mengeluarkan air mata, semakin kau tidak akan bisa menangis. Oh ya, aku lupa, menangis, itu namanya, ketika kau mengeluarkan air matamu. Mungkin kau belum terbiasa, nanti kalau kau sudah sering menangis, kau akan menganggapnya hal yang biasa saja. Ah, menangis itu biasa. Dan ketika kau sudah mencapai tahap ini, mungkin juga kau tidak akan bisa menangis lagi. Kau sedih, tetapi air mata itu tidak keluar. Kau mencoba untuk mengeluarkannya, tetapi tidak ada. Air mata itu tidak ada. Matamu tetap kering. Kau sudah tidak bisa menangis lagi karena cadangan air matamu sudah habis.

***

Aku berjalan terpincang-pincang menuju halte bus. Sakit, sangat sakit. Aku ingin menangis tetapi tak bisa. Aku harus pulang karena luka ini akan terus menganga. Aku akan mengobati dan menutupinya. Tak tahu berapa lama luka ini akan sembuh. Mungkin, sehari, sebulan, atau setahun. Tak pasti. Besok aku akan mengenakan gaun kuning ceria. Lalu menjadi perempuan paling riang sedunia. Cukup Tuhan dan aku yang tahu tentang luka-luka ini. Semoga luka ini cepat sembuh. Semoga.



Hugs,
Chandini



No comments: