Sudah satu jam aku terduduk di
sini. Di atas kursi, di depan layar komputer. Kosong. Kertas putih ini masih putih
bersih. Belum ada satu kata pun di sana. Aku bingung. Tak tahu menulis apa.
Sudah banyak kata-kata berkumpul
di kepala. Seperti muntah yang tertahan di kerongkongan, mereka hendak keluar
tetapi tidak bisa. Perut ini mulas, tanda sudah waktunya. Mulut sudah terbuka,
tetapi belum juga bisa. Mereka, segala racun hati, belum sanggup keluar dari
sarangnya.
Banyak hal terjadi belakangan
ini. Tentang badanku yang biru-biru. Lebam. Di paha, kaki dan tangan. Rasanya
nyeri. Lebih sakit dari luka yang berdarah. Setiap tidur aku mendengar,
luka-luka itu berteriak, memanggil-manggil. Mereka minta diobati, dikembalikan
warnanya menjadi coklat. Seperti kulit semula. Tetapi mereka tetap biru. Sebiru
langit gelap ketika hujan turun.
***
Aku berjalan melewati
tatapan-tatapan kagum itu. Mereka terpana melihat gaun merah jambu yang melekat
ini. Warnanya manis, kemerah-merahan, menandakan sang pemilik sedang jatuh
cinta dan bahagia. Senyumku mengembang. Semu.
Bisikan mereka masih terdengar
jelas. Gaung suara mereka menggema memenuhi penjuru ruang. Aku terus berjalan
dengan sekuat tenaga. Sampai ketika, sakit ini kembali mengaduh. Gaduh. Aku
merintih. Sakit yang tak tertahankan. Pedih. Perih. Aku terjatuh di sudut
ruang. Lalu melihat ke kanan dan kiri , memastikan hanya aku dan diriku di
sini. Sendiri. Mereka tak boleh tahu, tentang luka-luka ini. Tidak, mereka
tidak boleh tahu.
***
Aku tak tahu bagaimana cara
menghitung air mata. Kalau ada alat pengumpul air mata, mungkin sudah tak
terhitung jumlahnya air mata-air mata yang turun di bumi. Mereka menjadi teman
para manusia, melewati lorong gelap sunyi, berlika-liku, kelam, dalam hidup. Kadang
mereka juga menemani di kala langit terang benderang dan matahari bersinar
terik. Dan kadang, semakin sering kau mengeluarkan air mata, semakin kau tidak
akan bisa menangis. Oh ya, aku lupa, menangis, itu namanya, ketika kau
mengeluarkan air matamu. Mungkin kau belum terbiasa, nanti kalau kau sudah sering
menangis, kau akan menganggapnya hal yang biasa saja. Ah, menangis itu biasa. Dan
ketika kau sudah mencapai tahap ini, mungkin juga kau tidak akan bisa menangis
lagi. Kau sedih, tetapi air mata itu tidak keluar. Kau mencoba untuk
mengeluarkannya, tetapi tidak ada. Air mata itu tidak ada. Matamu tetap kering.
Kau sudah tidak bisa menangis lagi karena cadangan air matamu sudah habis.
***
Aku berjalan terpincang-pincang
menuju halte bus. Sakit, sangat sakit. Aku ingin menangis tetapi tak bisa. Aku harus
pulang karena luka ini akan terus menganga. Aku akan mengobati dan menutupinya.
Tak tahu berapa lama luka ini akan sembuh. Mungkin, sehari, sebulan, atau setahun.
Tak pasti. Besok aku akan mengenakan gaun kuning ceria. Lalu menjadi perempuan paling
riang sedunia. Cukup Tuhan dan aku yang tahu tentang luka-luka ini. Semoga
luka ini cepat sembuh. Semoga.
Hugs,
Chandini
Hugs,
Chandini
No comments:
Post a Comment