26 September 2012

#27. Tentang Aku dan Kamu.

Aku masih ingat kencan pertama kita. Bertempat di YAB cafe. Kala itu, kau dengan kemeja garis-garismu, berwarna biru tua dan putih. Aku membawakanmu kacang panjang dan kau melihatnya, tersenyum. Aku menganggapnya sebagai ucapan terima kasih sebelum kau bilang, "Aku tidak suka kacang panjang." Dan lagu Peterpan di belakang sana mengalun kencang. Aku lupa tepatnya judul lagu yang menemani detak-detak jantungku berlari bersamamu. Satu hal yang pasti, sebelumnya, lagu itu tak pernah semerdu ini. Lalu kita bercanda dalam asa. Kita tak perlu banyak kata, cukup lepasnya tawa dan sorot matamu yang tajam. Tajam, melesat masuk ke pintu hatiku. Aku tak tahu kapan tepatnya pertama kali aku jatuh cinta padamu. Namun, sepertinya ini sudah yang keseribu kali. Malam itu, aku hanyut bersamamu. Seorang teman mengabadikan kita, banyak teman yang ikut memandangi. "Pasangan baru," kata mereka. Aku tak tahu dimana gambar itu, yang menyimpan kenangan kita. Mungkin terselip, tertumpuk atau telah hilang. Tetapi kupikir, aku tidak membutuhkannya. Karena memori-mu, akan selalu di sini, berdiam di sana. Ia menempati dengan baik salah satu sudut kecil dengan label  "Kenangan-kenangan yang sulit dilupakan."

Sesudahnya, yang kuingat, aku hanya menghabiskan waktu bersamamu. Berjumpa, bercengkrama, apa pun itu, hanya denganmu. Semuanya cocok. Serasi. Kita saling mengerti satu sama lain. Aku merasa kita seperti dua kawan lama yang akhirnya dipertemukan kembali.

Ya, aku tahu, kita telah berakhir. Aku dan kau. Tidak ada lagi kita. Hanya aku. Kau. Bukan satu kesatuan melainkan dua insan yang terpisah. Dan semua ini hanyalah kenangan indah. Aku tidak ingin membunuhnya. Tidak, aku hanya ingin menghapus sedikit bagian di tengah. Ketika aku dan kamu telah bercinta. Aku tidak suka itu. Aku ingin menghapus dan menggantinya. Aku dan kamu adalah sahabat setia. Ya, kita bukanlah pasangan. Kita adalah sahabat baik, yang sangat sangat dekat. Kau tidak perlu memberitahu apa yang sedang kau lakukan, aku mengetahuinya. Kau juga tidak perlu mengatakan apa yang ada di kepalamu, aku sudah mengerti. Oh ya, pesan singkatmu sampai sesaat setelah aku mengirim satu pesan untukmu. Kita seperti anak kembar. Ya, terkadang aku merasa seperti itu. Mungkin aku adalah kembaranmu yang kedua. Apakah kau merasa hal yang sama dengan kembaranmu yang pertama? Kalau tidak, mungkin dengan aku, kembaran lainmu yang  kau temukan setelah bertahun-tahun lamanya. Aku bersembunyi di balik celah pohon apel yang ranum, menunggu saat yang tepat. Dan, ya, saat yang tepat itu sudah lewat. Ketika itu, kita seperti dua lebah yang memadu cinta. Kita menarik sari-sari bunga yang bertema cinta dan meletakannya di dalam mulut. Lalu menghirup dan menghisap debar-debar aromanya. Aku merasakannya denganmu. Indah, sungguh. 

Kini, kita telah tiada. Aku dan kau tak lagi bersama. Kau adalah separuh dari diriku. Kehilanganmu seperti kehilangan salah satu bagian dalam diri, yang sampai sekarang belum kutemukan kepingannya. Aku harus berjalan, mengulang kembali semua perjalanan. Mencari tahu mengenai diriku, hidupku, tanpa kau. Aku kuat. Tenang saja. Namun, tetap saja aku ingin menghapus bagian itu. Kita tidak pernah saling mencintai, kita adalah sahabat yang sangat sangat baik. Sehingga aku tidak perlu kehilanganmu dan lupa akan diriku sendiri. Atau pun menangis ketika kau tak lagi di sana, menemani, menuntun, mendengar cerita-ceritaku. Ya, semua sudah lewat. Dan aku masih belum bisa melupakanmu. Aku akan menerima semua kenyataan ini, pasti. Suatu saat nanti.




Dalam gerimis yang tak kunjung usai...




With Love,
Chandini






No comments: