12 January 2013

Have You Appreciated Your TIME?


Sebuah email dari Bapak yang dikirim oleh temannya.


_____________________________________________
From: Agus Suntarya
Sent: Friday, May 16, 2008 4:50 PM
Subject: WAKTU = KEHIDUPAN


WAKTU = KEHIDUPAN
Time = Life. Therefore, waste your time and waste of your life, or master your time and master your life.” (Alan Lakein)
Membaca tulisan di atas, aku teringat  banyak hal. Gambar-gambar berkelebat. Ada   gambar salah seorang  peserta pelatihan yang berujar : “Tenang aja Mas. Kita lihat nanti. Biasa jagoan kalah duluan. Masih ada permainan dan lomba berikutnya”, begitu  komentar yang sering ia ungkap pada pertemuan malam, saat kami mengkaji kegiatan di siang harinya. Berulang kali, hampir tiap malam ia sampaikan itu, hingga akhirnya kegiatan selesai dan ia tak pernah merasakan kemenangan yang ia impikan. Merasa masih ada waktunamun tidak merubah diri, maka hasil yang didapatpun  akan tetap sama !
Aku juga teringat diskusi panjang dengan seorang kawan. Kami membahas masa depan dan nasib orang-orang  yang sudah berumur. Mengapa banyak orang tua sepuh ini yang sering terlihat menangis. ”Ya karena mereka gak punya kerjaan lain, alias tidak bisa beraktivitas lain. Akibatnya waktunya habis untuk merenung dan memikirkan masa lalu. Setiap teringat masa lalu, mereka menyesal dan akhirnya menangis. Mereka menangis karena momen itu sudah lewat. There’s nothing they can do anymore. Gak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang. Sudah lewat”, begitu kami sepakat.
Wajah-wajah sejumlah  manager tiba-tiba  hadir lekat di depan mataku. Wajah dengan tatapan kosong saat aku bertanya perubahan apa yang sudah mereka lakukan buat hidup mereka. “Apa bedanya Bapak dan Ibu hari ini dengan lima tahun lalu, dengan sepuluh tahun lalu ?”. Aku berharap wajah kosong itu adalah ekspresi usaha keras mereka untuk menelusur ulang ke belakang dan menemukan gambar masa lalu. Aku beri mereka waktu untuk berpikir. Namun rupanya bukan itu yang terjadi. Sebagian mereka memang bingung,  tak tahu apa bedanya mereka hari itu dengan bertahun lalu. Yang pasti, waktu lalu sudah berlalu. Kini usia menua dan tak banyak yang sudah diperbuat dan dicapai.
Lalu aku menghela nafas. Ku lihat diriku. Ku bertanya pada yang terdalam. Haaaaah, banyak pekerjaan rumah yang menunggu dituntaskan. Kosong merayap. Namun syukur masih ku ucap. Mendapat reminder, pengingat macam ini membuatku sungguh bersyukur. Paling sedikit aku disadarkan untuk berhenti sejenak. Melihat lebih seksama. Mengkaji lebih dalam dan bertanya ulang apakah aku sudah memanfaatkan waktu dengan benar.
Waktu adalah kehidupan kita sendiri. Memanfaatkan waktu berarti memanfaatkan kesempatan hidup yang dipercayakan oleh Sang Maha. “ Memberi makna di waktu yang tersedia adalah cara untuk menjalani hidup yang bermakna”, begitu ujar seorang kawan yang lain.
Ku baca lagi, berulang, dengan sepenuh hati banyak tanya tentang waktu. Benar, ini adalah waktu kehidupan kita. Persoalannya adalah seberapa sering aku berhenti dan merenungi banyak momen yang bisa jadi lewat begitu saja ? Lalu sejauh mana aku sungguh menghargai waktu yang ada ? Apakah aku menghargainya bak hadiah bermakna ? Atau sekedar membiarkannya berulang setiap hari, tak ada beda dengan hari lalu, tidak diperhatikan, tidak mengapresiasinya, bahkan tidak memanfaatkannya ?
Benar, aku setuju bahwa banyak dari kita yang jarang sekali menyediakan diri untuk berhenti sejenak, lalu bertanya pada apakah kita sudah melakukan hal yang benar sepanjang  hari. Tanpa refleksi sederhana seperti ini, maka sungguh kita tak pernah tahu apakah waktu yang ada memang memberi manfaat bagi kita.
Benar, aku juga sepakat bahwa tanpa kesadaran akan waktu, tanpa waktu untuk refleksi, akan membawa kita pada kehidupan yang tidak kita sadari. Alhasil,  keseharian kita banyak diatur oleh orang lain, oleh kebiasaan-kebiasaan (buruk) kita, oleh respon-respon impulsif kita, bahkan oleh keyakinan-keyakinan kita yang negatif. Bayangkan, hidup macam apa yang akan kita hasilkan ?
Jadi jelas buat kita, pasti ada jalan untuk hidup yang penuh kesadaran, untuk hidup yang penuh penghargaan atas waktu. Berhenti dan sadar, menghayati kembali pikiran-pikiran, perasaan dan tindakan kita, adalah kuncinya. Sungguh mengerikan ketika kita justru terkejut karena apa yang terjadi ternyata bukanlah yang kita inginkan. Dengan berhenti dan mencoba refleksi maka kita tersadar akan adanya pilihan lain yang menuntun ktia pada pikiran, perasaan dan tindakan yang lebih produktif dan membantu kita meraih impian kita.
Dari sini, keyakinanku makin dikuatkan, bahwa time management berarti juga life management. Jadi mengelola waktu sama dan setara dengan mengelola hidup itu sendiri. Prioritas yang kita susun dalam keseharian, yang menegaskan kegiatan apa yang akan didahulukan dan mana yang belakangan, pasti mengindikasikan sesuatu yang kita anggap penting. Sesuatu yang kita anggap penting tak akan jauh dari seputar apa yang kita inginkan, apa yang ingin kita capai, apa yang hendak kita raih dan banyak impian yang kita kejar.
Tanpa dream, tanpa cita-cita, tanpa rencana pencapaian, maka tak akan ada penetapan prioritas, tak ada time management. Akibatnya, waktu habis begitu saja. Dan kita hanya bisa menangis kala tersadar sampai pada titik dimana kita tak bisa melakukan apa-apa lagi.
Makin jelas bahwa awalnya adalah dream, cita-cita bahkan ambisi. Itu yang akan menggerakkan kita. Itu yang akan menuntun kita membuat rencana, mengelola waktu, mengatur waktu.
Jadi, Anda pasti sudah tahu apa yang pertama akan Anda lakukan di jatah waktu yang kita tak tahu sampai kapan.



Manage Your Time,
Chandini





No comments: