Sebuah email dari Bapak yang dikirim oleh temannya.
_____________________________________________
From: Agus Suntarya
Sent: Friday, May 16, 2008 4:50 PM
Subject: WAKTU = KEHIDUPAN
From: Agus Suntarya
Sent: Friday, May 16, 2008 4:50 PM
Subject: WAKTU = KEHIDUPAN
WAKTU = KEHIDUPAN
Time = Life.
Therefore, waste your time and waste of your life, or master your time and master
your life.” (Alan Lakein)
Membaca tulisan di
atas, aku teringat banyak hal. Gambar-gambar berkelebat. Ada
gambar salah seorang peserta pelatihan yang berujar : “Tenang aja Mas.
Kita lihat nanti. Biasa jagoan kalah duluan. Masih ada permainan dan lomba
berikutnya”, begitu komentar yang sering ia ungkap pada pertemuan malam,
saat kami mengkaji kegiatan di siang harinya. Berulang kali, hampir tiap malam
ia sampaikan itu, hingga akhirnya kegiatan selesai dan ia tak pernah merasakan
kemenangan yang ia impikan. Merasa masih ada waktunamun tidak merubah diri,
maka hasil yang didapatpun akan tetap sama !
Aku juga teringat diskusi panjang dengan seorang kawan. Kami membahas masa depan dan nasib orang-orang yang sudah berumur. Mengapa banyak orang tua sepuh ini yang sering terlihat menangis. ”Ya karena mereka gak punya kerjaan lain, alias tidak bisa beraktivitas lain. Akibatnya waktunya habis untuk merenung dan memikirkan masa lalu. Setiap teringat masa lalu, mereka menyesal dan akhirnya menangis. Mereka menangis karena momen itu sudah lewat. There’s nothing they can do anymore. Gak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang. Sudah lewat”, begitu kami sepakat.
Aku juga teringat diskusi panjang dengan seorang kawan. Kami membahas masa depan dan nasib orang-orang yang sudah berumur. Mengapa banyak orang tua sepuh ini yang sering terlihat menangis. ”Ya karena mereka gak punya kerjaan lain, alias tidak bisa beraktivitas lain. Akibatnya waktunya habis untuk merenung dan memikirkan masa lalu. Setiap teringat masa lalu, mereka menyesal dan akhirnya menangis. Mereka menangis karena momen itu sudah lewat. There’s nothing they can do anymore. Gak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang. Sudah lewat”, begitu kami sepakat.
Wajah-wajah
sejumlah manager tiba-tiba hadir lekat di depan mataku. Wajah
dengan tatapan kosong saat aku bertanya perubahan apa yang sudah mereka lakukan
buat hidup mereka. “Apa bedanya Bapak dan Ibu hari ini dengan lima tahun lalu,
dengan sepuluh tahun lalu ?”. Aku berharap wajah kosong itu adalah ekspresi
usaha keras mereka untuk menelusur ulang ke belakang dan menemukan gambar masa
lalu. Aku beri mereka waktu untuk berpikir. Namun rupanya bukan itu yang
terjadi. Sebagian mereka memang bingung, tak tahu apa bedanya mereka hari
itu dengan bertahun lalu. Yang pasti, waktu lalu sudah berlalu. Kini usia menua
dan tak banyak yang sudah diperbuat dan dicapai.
Lalu aku menghela
nafas. Ku lihat diriku. Ku bertanya pada yang terdalam. Haaaaah, banyak
pekerjaan rumah yang menunggu dituntaskan. Kosong merayap. Namun syukur masih
ku ucap. Mendapat reminder, pengingat macam ini membuatku sungguh bersyukur. Paling sedikit
aku disadarkan untuk berhenti sejenak. Melihat lebih seksama. Mengkaji lebih
dalam dan bertanya ulang apakah aku sudah memanfaatkan waktu dengan benar.
Waktu adalah kehidupan
kita sendiri. Memanfaatkan waktu berarti memanfaatkan kesempatan hidup yang
dipercayakan oleh Sang Maha. “ Memberi makna di waktu yang tersedia adalah cara
untuk menjalani hidup yang bermakna”, begitu ujar seorang kawan yang lain.
Ku baca lagi,
berulang, dengan sepenuh hati banyak tanya tentang waktu. Benar, ini adalah
waktu kehidupan kita. Persoalannya adalah seberapa sering aku berhenti dan
merenungi banyak momen yang bisa jadi lewat begitu saja ? Lalu sejauh mana aku
sungguh menghargai waktu yang ada ? Apakah aku menghargainya bak hadiah
bermakna ? Atau sekedar membiarkannya berulang setiap hari, tak ada beda dengan
hari lalu, tidak diperhatikan, tidak mengapresiasinya, bahkan tidak
memanfaatkannya ?
Benar, aku setuju
bahwa banyak dari kita yang jarang sekali menyediakan diri untuk berhenti
sejenak, lalu bertanya pada apakah kita sudah melakukan hal yang benar
sepanjang hari. Tanpa refleksi sederhana seperti ini, maka sungguh kita
tak pernah tahu apakah waktu yang ada memang memberi manfaat bagi kita.
Benar, aku juga sepakat bahwa tanpa
kesadaran akan waktu, tanpa waktu untuk refleksi, akan membawa kita pada
kehidupan yang tidak kita sadari. Alhasil, keseharian kita banyak diatur
oleh orang lain, oleh kebiasaan-kebiasaan (buruk) kita, oleh respon-respon
impulsif kita, bahkan oleh keyakinan-keyakinan kita yang negatif. Bayangkan,
hidup macam apa yang akan kita hasilkan ?
Jadi jelas buat kita,
pasti ada jalan untuk hidup yang penuh kesadaran, untuk hidup yang penuh
penghargaan atas waktu. Berhenti dan sadar, menghayati kembali pikiran-pikiran,
perasaan dan tindakan kita, adalah kuncinya. Sungguh mengerikan ketika kita
justru terkejut karena apa yang terjadi ternyata bukanlah yang kita inginkan.
Dengan berhenti dan mencoba refleksi maka kita tersadar akan adanya pilihan lain yang menuntun
ktia pada pikiran, perasaan dan tindakan yang lebih produktif dan membantu kita
meraih impian kita.
Dari sini, keyakinanku
makin dikuatkan, bahwa time management berarti juga life management. Jadi
mengelola waktu sama dan setara dengan mengelola hidup itu sendiri. Prioritas yang kita susun dalam
keseharian, yang menegaskan kegiatan apa yang akan didahulukan dan mana yang
belakangan, pasti mengindikasikan sesuatu yang kita anggap penting. Sesuatu
yang kita anggap penting tak akan jauh dari seputar apa yang kita inginkan, apa
yang ingin kita capai, apa yang hendak kita raih dan banyak impian yang kita
kejar.
Tanpa dream, tanpa
cita-cita, tanpa rencana pencapaian, maka tak akan ada penetapan prioritas, tak
ada time management. Akibatnya, waktu habis begitu saja. Dan kita hanya bisa
menangis kala tersadar sampai pada titik dimana kita tak bisa melakukan apa-apa
lagi.
Makin jelas bahwa
awalnya adalah dream, cita-cita bahkan ambisi. Itu yang akan menggerakkan kita.
Itu yang akan menuntun kita membuat rencana, mengelola waktu, mengatur waktu.
Jadi, Anda pasti sudah
tahu apa yang pertama akan Anda lakukan di jatah waktu yang kita tak tahu
sampai kapan.
Manage Your Time,
Chandini
No comments:
Post a Comment