Kisah Lain dari P9A
Hari itu langit mendung. Bis P9A..seperti biasa..penuh. Orang memenuhi sisi depan dan belakang. Aku mengincar tempat berdiri yang aman. Kalau kau baca kisahku sebelumnya, kau pasti tahu dimana aku memilih untuk berdiri. Ya..di belakang supir. Ada sesosok perempuan yang memanggil-manggil untuk menempati tempat itu. Memang tempat itu kosong dibanding tempat lainnya. Aku segera beranjak ke sana. Lalu tersenyum kepadanya.. dengan ditutupi oleh masker..dan mengucapkan terima kasih yang kuharap ia bisa mendengarnya.
Beberapa menit kemudian..
Langit sore itu indah sekali.. Berwarna oranye kemudaan.. ditambah warna merah.. yang membuatnya semakin mempesona. Awan-awan besar seperti cakrawala..menghias sisi-sisi langit.
Aku melihatnya dari jendela kaca yang berada di sebelah kananku.
Tiba-tiba..
Mbak di sebelahku: Awannya bagus ya..
Aku tersentak..
Kemudian membalas dengan senyum..
Aku: Iya.. langitnya juga..
Dan kami bersama-sama memperhatikan suguhan langit yang indah. Yang membuat siapa saja terkagum-kagum olehnya. Ditemani dengan gedung-gedung pencakar di sekitar..menambah cantiknya lukisan Tuhan.
Hari sudah malam..
Bis memasuki tol Jatibening. Banyak orang turun di tol ini. Lalu..
Mbak di sebelahku: Duduk Mbak..
Aku melihat dia yang sudah duduk di belakang. Ia sepertinya menyisakan tempat untukku di sebelahnya.
Aku hendak berjalan..namun..ternyata.. sudah ada Ibu-ibu yang menempatinya..
Aku kaget..
Ibu-ibu: Nggak enak duduk di sana.. di atas mesin.. panas..
Mbak di sebelahku: Kasihan yang berdiri, Mbak..
Aku: Nggak apa-apa, Mbak..
Ibu-ibu: Duduk di sana aja Mbak.. (ia menunjuk tempat duduk di atas mesin yang kosong)
Aku melihat ke arah mereka dan segera menuju tempat berdiri yang dilengkapi dengan pegangan.
Aku berdiri di sana untuk beberapa waktu yang lama.
No comments:
Post a Comment