Tunisia. Negara kecil di Afrika Utara yang sudah membuat hidupku berubah. Banyak hal telah terjadi. Aku akan menceritakannya sesaat lagi...
Marcella dan Paulina adalah dua orang pertama yang menerimaku di rumah. Mereka dengan ramah memeluk dan menciumku. Hari demi hari berlalu, aku seringkali membantu mereka menyiapkan masakan. Tidak jarang aku ikut berbelanja menemani mereka yang sudah siap dengan daftar barang yang harus dibeli. Malam hari, kami bercengkrama, mengenai hari yang telah berlalu. Aku juga biasa bertemu dengan teman-teman kami yang lain. Aku berusaha menyesuaikan diriku dengan mereka. Aku merasa mereka cukup berbeda denganku. Aku terus mengusahakannya. Sebelum aku menyadari bahwa diriku berubah. Aku tak seceria dulu lagi. Lama kelamaan, aku merasa terasing. Kurasa pria-pria Arab ini lebih menilai seseorang dari segi fisik. Aku yang biasa-biasa saja memang tidak menonjol. Aku menjadi lebih sering menyendiri di kamar. Sementara mereka asyik berpesta dengan wine dan racauan tawa. Aku melakukan apa saja di kamar yang bisa membuatku lebih damai. Tidak lama, Isabella datang. Ia berasal dari Brazil. Aku suka dengan gayanya yang cenderung cuek. Ia adalah roommate pertamaku. Kami berbagi tentang banyak hal. Aku suka mendengarkan cerita-ceritanya, tentang ia yang rindu mariyuana, ia dan mantan kekasihnya, juga ia dan pesta-pesta mewahnya. Aku belajar tentang keceriaan dan kegembiraan darinya. Suatu hari kami pergi ke museum dan saling bergantian membawakan tas di sepanjang perjalanan. Satu kenangan manis yang tak bisa terlupakan bersama dengan teman sekamarmu.
Hari itu aku libur. Aku baru
saja membuka kelopak mata dari tidur yang indah ketika Paulina berseru, “Semua
toko tutup! Orang-orang menggeliat di luar!” Apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
Akhirnya, tersiar kabar bahwa telah terjadi revolusi. Ya, Tunisia, negara kecil
ini sedang mengalami revolusi. Aku tidak punya pilihan, aku segera diamankan di
Wisma Duta Besar Republik Indonesia bersama warga Indonesia lain. Sementara
Paulina dan Marcella memilih untuk tetap tinggal di rumah. Setiap malam aku
mendengar suara bising helikopter berputar-putar, suaranya seperti tepat di
atas kepalaku. Lalu berita orang-orang di televisi yang telah meninggal,
luka-luka atau tertembak mati. Aku tidak mau mendengar semua itu. Aku pun
berdoa semoga ini cepat berakhir. Karena aku ingin bisa memakan escalope
lezatku yang kupesan setiap siang. Juga kembali bebas berjalan sesuka hati
tanpa rasa takut. Dan aku selalu tergetar ketika mendengar suara desingan bom
ataupun peluru. Aku tidak ingin lebih, aku hanya ingin hidup normal.
Perang pun berakhir sudah. Aku
pulang ke Sfax dan melanjutkan pekerjaan. Semua baik-baik saja. Sebelum aku
mendengar dari mulut bosku sendiri bahwa aku diberhentikan. Ya, kawan-kawan,
aku diberhentikan. Revolusi itu tidak saja merusak tata kota dan membangkitkan
para mafia jahanam tetapi juga menghancurkan perusahaanku. Aku, diberhentikan.
Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Oh ya, Monica telah sampai dari
Meksiko. Ia adalah roommate keduaku. Aku tidak menyangka kalau kami
cocok satu sama lain. Dirinya adalah seorang muslim yang sebelumnya beragama
katolik. Kami saling menceritakan keluh kesah masing-masing. Setelah semua ini,
aku terkatung-katung mencari pekerjaan. Aku pun pergi ke Tunis demi pekerjaan
baru. Sudah lama aku ingin pindah, sejak Sfax yang tidak begitu menyenangkan.
Fahid adalah orang pertama yang
membantu membawakan barang-barangku sesampai aku di Tunis. Rumah itu asing,
seperti rumah tua yang penuh dengan pernak-pernik. Lantainya terbuat dari semen
keras dengan ornamen hiasan warna-warni. Teman sekamarku adalah seorang Chinese-American,
begitu aku menyebutnya. Namanya Connie. Ia mempunyai tinggi tidak jauh beda
denganku dan berkulit kuning kecoklatan. Akhirnya, kedatanganku ke Tunis membuahkan
hasil. Aku mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan baru dengan teman-teman baru. Aku
sangat senang tinggal di Tunis. Kurasa hidupku lebih baik di sini. Dengan
Daniel yang terkadang menjahiliku, Connie yang bersikap tegas dan kata-katanya
yang sering melukai perasaanku dan Lii Na yang lembut. Aku suka mereka. “Hey,
Ulka, sedang apa kamu di weekend ini?” suara Daniel terdengar serak di
telepon. Kala itu, aku sedang sibuk dengan pekerjaan, jadilah aku tidak bisa
menghabiskan waktu dengan teman-teman bermain di taman.
Tunis tidak hanya memberikan
kenangan manis tetapi juga pahit. Aku kerap kali pulang malam karena tuntutan
pekerjaan. Aku juga sering terlambat mendapatkan gajiku. Itulah alasannya
kenapa aku jarang bisa membayar uang sewa apartemen tepat waktu. Dan yang lebih
disayangkan lagi, aku tidak selalu punya uang untuk liburan akhir pekan. Namun,
itu semua tidak sebanding dengan hangatnya persahabatan kami. Kurasa mereka
adalah sahabat-sahabat terbaikku. Banyak hal yang kami luangkan bersama.
Sekedar kamu tahu, kami memiliki jadwal untuk setiap kegiatan, seperti kegiatan
bersih-bersih, menonton film juga memasak. Jangan tertawa ya, karena buat kami
hal ini penting. Jadwal diperlukan untuk mengatur kapan seseorang bertugas dan
memastikan orang tersebut bertanggungjawab akan tugasnya. Aku sendiri suka
jadwal menonton film. Karena dari film-film yang ditonton aku mendapat
inspirasi sekaligus menginspirasi teman-temanku. Soal memasak, jangan tanya,
aku bisa memasak telur balado dan sayur lodeh. Sudah cukup, buatku. Walaupun
begitu, kami selalu berdoa agar keadaan kota kami kembali normal. Kota kami
belumlah stabil sejak meletusnya revolusi besar-besaran bulan Januari lalu.
Memang sudah cukup baik, tetapi kami harus tetap siap siaga kalau saja serangan
terjadi.
Siang itu, aku sedang menikmati
makan dengan Daniel. “Carolina pasti iri jika ia tahu kita makan di sini. Sandwich
ini adalah makanan kesukaannya,” kata Daniel sambil mengunyah daun-daun sawi di
mulutnya. Suara dentang-denting sodet memenuhi isi ruangan. Televisi pun sedang
diperdengarkan keras. Orang-orang tengah memesan makanan di meja kasir.
Tiba-tiba, tidak ada angin ataupun hujan badai, sang pemilik cepat-cepat
menutup restoran. Ada apa gerangan? Orang-orang di luar sana berlari kesana
kemari. Aku mendapat firasat bahwa sesuatu buruk terjadi. “Revolusi!”* suara
sayup-sayup terdengar melewati sela pintu restoran. Aku segera membereskan
remah-remah roti di celanaku dan mengajak Daniel pergi. “Apa yang harus kita
lakukan?”, kata Daniel panik. Kami pun
meninggalkan sepiring sandwich cantik yang masih menggoda untuk
dihabiskan.
Asap sudah mengepul di udara.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Orang-orang ramai berkeliaran membawa
balok-balok kayu dan seperti bersiasat menyusun strategi. Mereka juga tidak
henti-hentinya meneriakkan kata-kata yang sama dalam bahasa Arab. Di kejauhan,
kulihat, langit sudah makin menghitam karena asap yang semakin tebal. Suara
tembakan terdengar dimana-mana. Aku segera mempercepat langkah. Seiring dengan
itu, sirene polisi makin nyaring terdengar menuju tempat aku berada. Buatku,
ini mimpi buruk. Kami segera bergegas lari mengamankan diri.
*7 May 2011, Tunis kembali dalam kerusuhan. Orang-orang menginginkan revolusi baru.
11 comments:
waaw, mbak chandini, pengalamannya kereeen. udah gak di malaysia lagi ternyata ya
Ini kisah nyata atau fiksi? Keren nih. Kenapa gak coba dibuat novel aja? Tunisia, baru banyak denger setelah baca ini. :))
T_T
nice stori mbak bro :')
sampek bingung gmana nangepinnya. revolusi emng ptg buat negara yg selalu keteteran, kyk negara kita kalik -,-"
btw, folbek blog gue yak? thanks :))
@Sabila Makasih ya. Ini waktu aku di Tunisia..
@Ima Ini kisah nyata ima.. Iya nih mau buat. Hehe baca sebelumnya ya *)
@Sabda T_______T
@Shakti Makasih ya shakti. Hemm ga juga sih..hehe Tergantung negaranya juga.. Siap Shakti *)
Temen-temen baca part 1-5 nya ya di sini: http://whodoyouthinkulkachandinipenditis.blogspot.com/search/label/TunisiaStory
Cups!
kini bagaimana keadaan tunisia ka? masihkah marcella, paulina etc masih disana? kamu nggak kepikiran pulang aja ke tamah air saat itu?*menegangkan sekali
Za..sekarang keadaannya sudah sangat membaik. Tunis kembali menjadi salah satu kota teraman di dunia. Waktu itu aku udah kepikiran cuma Pak Dubes ga ngebolehin beliau bilang diamankan dulu sama warga Indo lain. Begitu za.. x))
Hai Ulka Chandini Pendit...
salam kenal yaa
:)
aku Sandra
tertarik en pengen tau banyak soal Tunisia niih,
ini imelku little_stupidbear@yahoo.com
boleh minta contact number or imelnya gaa ? :)
Hai Sandra, akhirnya ada juga yang perhatian sama Tunisia..hihi
Mo konsultasi apa nih?
Silakan Sandraa boleh email aku di ulka.chandinipendit@gmail.com x)
slam knal Mbak, q punya pcr orang Tunis,, bgmna karakter few Tunis Mbak?.
Hello tatag, saya kurang tahu karakter perempuan Tunis, tetapi orang Tunis kebanyakan gaya hidupnya bebas, suka party dan minum. Pandangan mereka lebih ke negara barat, seperti Perancis.
Post a Comment