12 April 2012

Ayah dan Kue Cherry


#NowPlaying: Gotye-Somebody That I Used To Know

A story about paradox of caring, on the flight from Jakarta to Kuala Lumpur...


Aku tak pernah begitu paham akan makna sebuah kepedulian. Menurutku, memang sudah kewajiban setiap orang tua untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya. Begitu juga sang Anak, sebaiknya membalas budi kepada orang tuanya. Beginilah cara kami untuk saling peduli satu sama lain. Aku terus melakukan hal ini walau kurasa aku tak lagi mampu. Namun aku terus mendorongnya, memaksa diriku untuk melakukan apa pun yang aku bisa untuk mereka. Ketika aku tak lagi dapat membelikan mereka baju baru untuk hari raya atau memberi tambahan uang saku, kuharap mereka mengerti kalau setiap senyum yang tersungging di bibir ini benar dari lubuk hati. Bahwa setiap potong kue yang kubawakan untuk mereka memang tulus adanya. Walau kutahu, sebenarnya, aku pelu lebih dari sebiji cherry yang merah merona. 

***

"Ayah, mau coba?" 
"Tidak, untuk kamu saja. Ayah sudah cukup makan cherry."
"Makasih Yah. Kuenya enak sekali."
"Ayah senang kamu kenyang."
"Aku jadi kangen kue buatan Ibu."
"Iya nanti kita coba buat sama-sama ya."

Mataku tak lelah memperhatikan geliat semangat dari Naira, anakku yang bungsu. Ia dengan pelan-pelan menelan kue cokelat bertabur keju itu. Kue yang selalu kubawa ketika toko sepi pelanggan dan sisa kue masih bertebaran. Lagipula, jarang-jarang mereka bisa menikmati kue lezat dan mahal ini. Aku cukup puas memperhatikan riangnya wajah dan tawa mereka ketika mencium harumnya kue dari depan pintu. Ketika melihat butir-butir cokelat itu menghiasi bibir ranum mereka yang masih belia. 

Nara, ia bahkan selalu memakan bagian bawahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya menyantap bagian kesukaannya, selai strawberry yang melaburi atas kue. "Save the best for the last," ia berkata. Yaitu meninggalkan yang terbaik di akhir kali, membiarkan dan memakannya untuk suapan yang terakhir. Dan aku, aku tak perlu lebih dari dua biji cherry yang selalu mereka sisihkan untukku. Walau perut ini mengaduh sangat gaduh tetapi aku yakin aku akan baik-baik saja. Ya, kuharap begitu. Baik-baik saja. 

***

Ayahku orang biasa, ia bekerja di toko kue yang terletak di pusat kota. Setiap pagi ia berangkat dengan sepeda motor tua dan tas postman kesayangannya. Matanya teduh, alisnya lebat dan tawanya lepas. Kata-kata terpanjang yang meluncur dari mulutnya hanya berkisar lima belas kata, "Ayah sayang Nara dan Neira. Jangan lupa makan kue ini ya. Ayah sudah makan cherry-nya." Aku tak tahu kenapa Ayah sangat suka cherry, mungkin karena rasanya manis. Mungkin karena tanpa cherry, kue-kue yang terpajang di tokonya tak lagi menarik. Mungkin karena Ayah memang sangat suka dengan cherry, itu saja. Kali ini aku akan membelikan Ayah kue besar sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke- 35. Ayahku masih muda, sayang Ibu telah tiada. Ayah pasti sangat senang dengan kue yang dipenuhi cherry di permukaannya ini. Hari ini akan menjadi hari yang penuh kejutan untuknya. 

"Ayah, selamat ulang tahun!"
"Terimakasih, nak. Wah, kuenya bagus sekali."
"Iya, kami sengaja siapkan kue yang penuh cherry."
"Terimakasih, Nara, Neira."
"Baiklah, Ayah mandi sebentar. Kalian makan dulu kuenya."
"Baik, Ayah."

Anak-anakku sangat baik, mereka sangat tahu yang aku butuhkan. Sebuah perhatian, setelah lama ditinggal sang pasangan. Memang tidak sia-sia apa yang sudah aku korbankan, mereka tahu bagaimana membalas budi, dengan cara sederhana tetapi menyentuh hati. Aku sedikit lelah bekerja hari ini tetapi dengan kejutan di balik pintu tadi, aku sudah merasa lebih baik. Aku segera menyelesaikan mandi untuk bergabung dengan mereka. Berpesta dengan kue cokelat bersama, sebagai sebuah keluarga. 

"Ayah pasti senang kalau kita sisakan cherry-nya."
"Betul, mari kita makan kuenya dan sisakan cherry di piring ini."
"Ya, kita berikan kejutan lagi untuk Ayah."


Mataku mencari dimana kue cokelat besar tadi. Aku terkejut ketika meja makan sudah sepi. Tersisa hanyalah cherry-cherry yang berkumpul di atas piring. Cokelat-cokelat tadi hanya meninggalkan jejak di atasnya tanpa wujud nyata. Nara dan Neira terpaku memandang air mukaku. Kebingungan.

"Ayah, ini kami sisakan cherry kesayangan Ayah."
"Kue yang besar tadi?"
"Kami sudah menghabiskannya karena kami tahu Ayah hanya ingin makan cherry."
"..........................................................................................................................."
"Ayah? Kenapa?"
"Ayah sebenarnya tidak suka cherry. Ayah suka cokelat. Ayah ingin makan kue cokelat yang besar dan lezat."
"Tetapi bukankah ayah tidak pernah mau makan kue? Ayah selalu bilang kalau cherry saja sudah cukup."
"Argh..bukan..bukan itu.. "


Dadaku sesak. Nafasku berat. Aku tak tahu lagi apa yang harus kuucapkan. Bahwa aku sebenarnya sangat ingin dipedulikan, ingin mereka tahu kalau aku juga suka kue besar dan cokelat lezat. Kalau aku selama ini hanya ingin melihat mereka senang. Bahagia.

***

Hari ini cuaca cukup dingin. Hujan belum berhenti sedari pagi.  Sama halnya dengan aku yang belum hentinya bertanya-tanya tentang kejadian semalam. Namun aku selalu berusaha untuk bekerja dengan baik, melayani pelanggan, menjadi karyawan yang menyenangkan.

"Happy Bakery, selamat pagi."
"Ya, Happy Bakery. Saya mau pesan kue ulang tahun rasa chocolate vanilla late, ada?"
"Ada Bu. Berapa buah dan kapan diambil?
"Lima buah. Diambil nanti sore pukul lima."
"Baik. Terimakasih. Selamat pagi."
"Terimakasih."

Ini kejadian langka, toko kue kecilku mendapat pesanan kue ulang tahun sebanyak lima buah. Jumlahnya cukup besar, biasanya pembeli hanya ingin satu atau dua kue. Aku segera menyiapkan kue-kue tersebut. Ini adalah salah satu jenis kue yang kusuka. Coklat dengan vanilla dan bumbu kopi. Rasanya yang manis juga pahit, mengingatkanku kalau mereka akan selalu saling melengkapi. Kau tidak akan pernah merasakan manis jika belum tenggelam dalam pahit bukan? Sama seperti hidup, penuh manis dan pahit. Kadang kau tidak bisa memilih. Kadang kau mendapatkan keduanya. Semua sudah ada waktunya. 

"Selamat sore, saya pesan kue lima buah tadi pagi."
"Oh ya, chocolate vanilla late?
"Betul."
"Ini kuenya. Ada yang ingin ditulis di permukaan kue?"
"Oh ya, selamat ulang tahun suamiku tercinta. I love you."
"Baik, sebentar."
"Ada lilin plastik?"
"Oh ada, angka berapa?"
"35."
"Ada kartu nama toko ini?"
"Oh ya, sebentar. Ada lagi?"
"Tidak ada. Silahkan lanjutkan menulis kata-katanya."
"Baik, kalau ada perlu apa-apa silakan panggil."

Kejadian selanjutnya adalah Ibu bertubuh sedang ini terus memburuku dengan banyak pertanyaan. Adakah kartu ucapan? Bisakah saya memesan kembali dari toko ini? Adakah diskon untuk pembelian tertentu? Semua kujawab dengan senyum dan berkata baik. Akhirnya tulisan untuk kue-kue ini selesai. Aku memanggil Ibu yang tengah asyik memperhatikan daftar harga yang dipajang di lemari kaca. 

"Bu, sudah selesai. Ada lagi?"
"Tidak, terimakasih. Anda adalah orang yang sangat peduli pada pelanggan."
"Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik."
"Anda berhenti melakukan pekerjaan anda ketika saya menanyakan sesuatu tentang toko ini. Anda mendengarkan setiap kata yang saya ucapkan. Anda memperhatikan saya dengan jelas lalu berusaha menjawab pertanyaan saya dengan baik. Walaupun di setiap itu, Anda harus berhenti menuliskan kata-kata di atas kue tersebut."


Aku tersentak. Jawaban itu mengalir cepat, menuju telinga dan hinggap di kepala. Sesaat aku mengerti apa itu kepedulian. Bahwa bukanlah suatu asumsi tetapi perhatian akan apa yang ia ucapkan. Mendengarkan perkataannya benar-benar, memandang matanya, berusaha menjawab dengan kebaikan. Dan, kini, aku mengerti, makna yang sesungguhnya tersimpan di balik kata peduli.

*** 


Terkadang, kita sebagai manusia salah persepsi dalam memaknai kata "peduli". Kepedulian memang sebuah paradoks, dimana kita kadang sulit mengerti. Kita pikir karena kita sudah lama mengenalnya maka kita tahu benar apa yang ia inginkan. Sebaliknya, kita pun berharap ia tahu apa yang kita inginkan dan harapkan darinya. Ternyata, "peduli" lebih dari itu. "Peduli" adalah ketika kita berhenti melakukan apa yang kita kerjakan untuk mendengarkan apa yang ia katakan. "Peduli" adalah ketika kita tidak berasumsi akan apa yang ia inginkan dan bertanya apa yang benar ia mau. 

Kurasa, semakin lama mengenal orang tersebut, kita makin lupa untuk benar memperhatikannya. Kita pikir, ia sudah biasa dengan apa yang kita lakukan terhadapnya, padahal ia butuh lebih dari itu. Itulah sebabnya sering terjadi salah paham antara mereka, orang tua dan anak, persahabatan juga insan yang sedang bercinta.

Kuharap kita bisa lebih memperhatikan orang-orang di sekeliling, memperhatikan senyumnya, mendengarkan kata-kata yang terucap dari mulutnya, menunjukkan bahwa kita memang peduli terhadapnya.



Image: Chandini's Gallery



Thank you for the interesting story, nice journey and beautiful sky...



Let's have a CARE in the world,
Chandini


No comments: