Bali, 1997
Aku bertemu dengannya pertama kali.
“Sabar ya, Tudi memang begitu. Terkadang cepat marah,” katanya kepada Ibu. Aku tak mengerti maksud kata-kata itu. Akupun tak tahu siapa Beliau. Mukanya putih, badannya tinggi, suaranya lantang. Di bus dalam perjalanan, kami berdiri dan aku berada di antara mereka, orang dewasa. Orang dewasa yang sering mengucapkan kata-kata sulit untuk diserap dalam nalarku kala itu.
Bali, 2004
Aku mulai mengenalnya.
“Ulka cantik sekali. Mbah bangga punya cucu kayak Ulka,” senyumnya mengembang. Penuh arti. Semua anggota menyalami dan menciumku penuh kasih sayang. Mereka bangga melihatku sebagai seorang perempuan yang beranjak dewasa. Tamu-tamu memandangku dengan tatapan hangat. Tersipu sambil menikmati jamuan dan asyik berbincang satu sama lain.
Apakah aku sudah dewasa? Aku terduduk mematut diri di depan kaca. Mencubit-cubit pipi, menyentuh gigi pelan, mencari tanda-tanda kedewasaan. Hari ini aku menjalani upacara potong gigi. Dalam tradisi orang Bali, upacara ini melambangkan kedewasaan seseorang dengan memotong sedikit gigi depannya. Menurut adat, ini adalah kewajiban orang tua kepada anak. Me Tut, tanteku yang sudah menikah pun ikut dipotong giginya tadi pagi.
Aku berdiri mencari sumber suara. Isakan tangis itu begitu kuat. Bergetar.
“Ibu?”
“Ka..kamu keramas ya. Berdoa sama Allah SWT.”
Mata Ibu sembab.
Aku terperangkap dalam tanda tanya besar.
Bali, 2007
Aku makin mengenal dirinya.
Akhirnya, aku kembali ke tempat ini. Tempat yang hadir dalam setiap mimpi malamku, menemani kerinduan di sudut sana. Baunya masih sama, bau pasir pantai yang terhempas dan dupa yang terbakar dalam Pura. Rumput yang bergoyang dan terhembus angin daratan. Suara motor, mobil dan gendang bertalu menjadi satu. Desir ombak dan kebebasan mewarnai udara. Bali, aku kembali.
“Mbah, Mbah..ini Ulka..” aku mengetuk pintu tidak sabaran. Ingin segera bertemu dengan Mbah dan saudaraku yang lain. “Eh, dah sampai. Mbah kira masih di jalan,” Mbah keluar dengan baju berwarna abu-abu.
“Mbah, apa kabar?”
Pelukan kami begitu erat. Bersatu dalam waktu.
“Mbah, apa kabar?”
Pelukan kami begitu erat. Bersatu dalam waktu.
***
Foto-foto itu terpajang rapi di ruang tamu. Mengikuti alur umur kami semua. Fotoku yang paling besar, berwarna, memakai baju pink dan luaran batik. Di belakang ada foto waktu aku kecil, hitam putih, berponi dan berkuncir satu. Bahkan ada foto sewaktu aku masih di sepeda roda dua. Aku tidak menyangka Mbah menyimpan semua foto-foto ini. Pantas, foto terbaruku menghilang, mungkin Bapak membawanya kemari. Foto Dayi, Angga, Abi dan Bli Komang juga hadir menghiasi dinding. Semuanya tampak bahagia.
“Eh, kamu di sini. Lihat loh itu Mbah pajang foto kamu. Dari yang kecil sampai gede. Hehehehe”
Tawanya yang khas mencairkan lamunanku.
***
Aku bangun dan mendapati Mbah sudah tidak ada di kasur. Segera aku turun ke bawah untuk mengambil air wudhu. Hari ini tidak boleh telat lagi. Langit masih gelap dan saat yang tepat untuk shalat subuh.
Shalat dimulai dan pintu terkunci. Doa demi doa kulantunkan didalamnya ketika tiba-tiba pintu diketuk. Aku tidak bergeming. Dua kali diketuk. Aku masih dalam shalat yang damai. Tetapi seperti ada mata di belakangku, mengintip dari balik pintu. “Eh, solat dia,” suaranya jelas.
Shalat pun selesai dan kutarik sajadah cepat-cepat. Perasaan takut itu datang lagi. Cemas.
Apakah Beliau tahu?
Bagaimana kalau Beliau marah?
Apa aku salah?
***
Malam itu, kami saling bercerita. Tentang Mbah, tentang keluarga, yang sudah lama tak kudengar kabarnya.
“Mbah, seneng sih Tante kamu sekarang baik. Sering ngirimin Mbah uang. Lumayan lah. Kalo nggak Mbah makan nasi telor tiap hari juga nggak apa-apa. Kasian Pekak kamu, makin hari makin parah. Udah lupa sama cucu. Nggak tahu masih inget sama kamu apa nggak. Nanti kalo jadi orang sukses jangan lupa sama Mbah ya.”
Lampu ditutup. Suara jangkrik bersahut-sahutan. Kami larut dalam indahnya mimpi.
***
Aku tengah asyik bermain dengan Pandu, sepupuku paling kecil. Ia mewarisi mata ayahnya, tajam. Alisnya tebal, geraknya lincah, naluri musiknya sudah timbul. Kubidik fotonya dengan gitar listrik berwarna biru, terlihat sosok gitaris handal di masa depan.
“Uhuk..uhukk..”
“Pekak, minum Pekak..”
“Uhuk..Uhukk..siapa ini?”
“Ini Ulka..cucu Pekak..”
“Eh…belum diminum ya obatnya?”sekonyong-konyong Mbah datang. Wajahnya pucat. “Mbah..Pekak batuk dari tadi,” kataku sambil memberikan Pekak segelas air. Mbah duduk mendampingi Pekak di kasur.
“Ini siapa?”
“Ini Ulka..cucu pertama kita..”
“Ini siapa?”
“Ini Ulka..cucu pertama kita..”
“Ah..Ulka?”
“Iya..anaknya Tudi yang pertama.”
Pekak. Bapak dari Bapakku. Umurnya sekitar enam puluhan tetapi wajahnya terlihat tua, digerogoti sakit yang menjalar. Tubuh kurusnya terbaring di kasur, lemah, menyedihkan. Bapak pernah bilang itu semua karena rokok. Pekak adalah perokok berat di masa muda dulu. Sejak itu, Bapak tidak pernah menyentuh nikotin ganas tersebut. Sedikitpun.
***
Aku terduduk di kursi sambil menyaksikan suguhan sinetron televisi. Entah kenapa, walau sinetron kadang ceritanya berlebihan dan menyebalkan, menurutku itulah cerminan hidup manusia. Sederhana yang kadang dilebih-lebihkan. Drama yang senang, sedih dan indah dengan segala intriknya.
“Ulka, nggak laper?”
“Nggak gitu, Mbah.”
“Mbah nggak masak hari ini. Kamu beli makanan di depan aja ya.”
“Oh, iya Mbah.”
“Di depan itu ada warung makanan. Sodara kita juga.”
“Oh, iya kalo gitu Ulka beli sekarang.”
Langkahku sudah cukup jauh. Sebelum tiba-tiba ada teriakan dari belakang yang sepertinya dari arah rumahku.
“Ulka…jangan lupa bilang nggak pake babi. Jangan yang ada babi-nya.”
Kepala Mbah menyembul dari pintu.
Aku tersenyum.
Lega.
Aku tersenyum.
Lega.
***
“Kamu mau ke Malaysia? Hati-hati ya. Mbah takut kalo nonton TV suka ada berita Indonesia vs Malaysia,“ katanya sambil mengganti channel televisi. “Nggak kok, Mbah. Baik-baik saja. Ntar Ulka telvon Mbah sampai sana,” jawabku sambil tetap fokus ke layar. “Iya, jangan lupa ya. Mbah selalu doain kamu di sana,” tangannya menunjuk ke luar.
Pura kecil di depan rumahku. Pura itu penuh dengan sesajen dan dupa. Warna semennya hitam tetapi kain yang menutupinya putih, bersih. Seperti doa yang tersampaikan di dalamnya, mengalir suci ke hadirat Tuhan yang Maha Agung, menjawab segala kerisauan dan kegelisahan.
***
Juni, 2010
Aku baru menyadari bahwa aku merindukannya.
"Yee..asik jalan-jalan. hehehe," suara adikku, Angga memenuhi isi mobil. Kami menuju Sukabumi, rumah nenek atau yang biasa kupanggil dengan Umi. Libur selama satu bulan ini akan kumanfaatkan dengan menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Ka, telvon Mbah di Bali. Kangen dia sama kamu," Bapak seraya mengeluarkan handphone dari kantong. Telepon tersambung dan kudengar suara lantang yang lembut itu dari kejauhan.
"Mbah, ini Ulka, apa kabar?"
"Eh..Ulka....Baik..Ulka dimana sekarang?"
"Lagi libur Mbah, di Jakarta."
"Oh...udah selesai sekolahnya?"
"Belom Mbah, semester akhir."
"Oh..mainlah ke sini..kangen Mbah.."
"Iya..nanti kata Bapak kalo libur lagi.."
"Oh..ya ya..baik-baik ya di sana.."
"Iya..kangen juga sama Mbah..."
Suara itu berbeda. Ada yang tersembunyi di balik keceriannya. Aku tak tahu apa itu.
***
Malaysia, Nov, 2010
Aku mengingatnya untuk selamanya.
Notes Ethnic Relations itu kubolak-balik sejak tadi. Hampir semuanya sudah kukuasai. Tinggal sedikit lagi dan aku siap untuk ujian besok. Ya, aku berniat untuk meraih nilai tinggi di semester akhir ini. Waktu menjelang malam, perlahan matahari turun dari peraduan.
*Ringtone: The Beatles-I wanna hold your hand*
“Halo, Assalammualaikum Bu..”
“Kaa..lagi ngapain?
“Lagi belajar..”
“Kenapa Bu?”
“Ka..Mbah Bali meninggal..”
“……..................................”
Bahuku terguncang. Tangisku pecah seketika. Ia telah pergi, selamanya. Seseorang yang baru kukenal dalam tiga pertemuan seumur hidupku. Ia begitu baik, begitu ikhlas. Seorang Nenek yang paham sepenuhnya akan makna dari sebuah kata kepercayaan. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi hak asasi setiap manusia tanpa bisa dipaksakan. Seseorang yang telah menerimaku, apa adanya, tanpa menuntut suatu apapun. Sungguh aneh, aku baru saja mengenalnya tetapi sudah merasa begitu dekat.
Andai aku punya cukup waktu untuk mengenalnya lebih jauh. Andai setidaknya aku sadar makna ucapan perpisahan yang tersembunyi waktu itu. Andai... Ah, sudahlah, kurasa aku tidak butuh lebih, cukup sudah rangkaian-rangkaian cerita ini membingkai hubungan kami. Hubungan yang penuh rasa mengerti satu sama lain, yang tidak banyak berbicara tetapi tersimpan rapi dalam hati.
Mbah meninggal karena serangan jantung pada hari Jumat sekitar pukul dua sore. Ia meninggal ketika sedang mengerjakan anyaman untuk upacara. Lima bulan setelahnya, April 2011, Pekak menyusul Mbah ke surga.
Rest in peace, Mbah, Pekak. I do always pray for both of you. x')
Your lovely granddaughter,
Chandini
No comments:
Post a Comment