09 April 2012

Untukmu, Sang Pengejar Mimpi

Malam ini, seorang teman mengingatkanku akan mimpi.
Mimpi yang dulu sempat terkubur dalam-dalam. Merasuk dalam jiwa. Dan kini bangkit kembali.


"Din..Si Rei ke Stanford loh! Keren banget deh dia! Gila, dia submit skripsinya gitu ke Stanford Summit. Udah kerja di IBM, ke Stanford pula! Beuh..." Tita berkobar-kobar di telepon. Suaranya memekik di telingaku yang baru saja bangun tidur. 

"Din..lo udah bangun belom sih?"
"Udah, lagi betulin selimut."
"Eh, dasar, mandi gih. Kebo emang."
"Mending daripada lo, kambing, jarang mandi."
"Eh...sial...yang penting wangi..iishhh.."

Aku menyambar handuk dan pergi bernyanyi ria dalam kamar mandi. 

***

"Ready Read" cukup ramai siang itu. Sekumpulan remaja berkumpul di sudut bacaan Teenlit . Suara cekikik mereka terdengar di sela-sela gesekan halaman buku. Para mahasiswa memilih berdiskusi di ruang khusus. Sepertinya mereka sedang sibuk berdebat mengenai kenaikan minyak bumi. Aku berdiri di bagian New Entry, memperhatikan setiap buku yang bertengger di sana. Cover-cover itu begitu menarik untuk disimak, diselami lebih jauh. Mataku terpaku pada buku-buku indah tersebut. 

"Lo ngapain Din?" 
"Eh..enggak.. Gimana udah ketemu bukunya?"
"Nggak ada..Bingung deh gw."
"Coba kita cari di tempat lain."
"Iih..tumben lembut."
"Apa sih..Yuk!"
"Baru dibilang..udah galak lagi."

Hari ini Tita dan aku berencana mencari buku untuk bahan penelitian kami. Semester terakhir ini kami diharuskan  menyusun thesis sebagai syarat kelulusan. "Ready Read" adalah toko buku favorit kami  berdua,  tempatnya yang cozy dan tenang membuat siapa pun ketagihan untuk duduk berlama-lama di sana. Berbincang mengenai buku terbaru dan menulis tentang apa saja. Terletak di bilangan yang cukup ramai di selatan Jakarta justru menjadikannya tempat pilihan untuk mereka yang ingin menyendiri. Dan aku selalu suka tempat ini. Buku-buku adalah mainanku sejak kecil. Mereka mengisi masa kanak-kanakku dengan kata dan tawa. Terlebih, aku punya mimpi untuk itu, buku-buku, tulisan, kata-kata. Tentang hidup.

***

"Mimpi itu harus kalian bangun dan wujudkan. Banyak hal remeh dari sekedar mimpi. Coba lihat Wright bersaudara bisa bikin pesawat darimana? Dari mimpi! Karena mereka bermimpi punya alat yang bisa mengantarkan mereka dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Einstein bisa bikin rumus E=MC² gimana caranya? Jangan kalian pikir itu rumus muncul tiba-tiba di kepala dia. Dari mimpi! Apa yang bisa mempermudah hidup manusia di masa depan? Lebih lagi, dia pekerja keras," Pak Anton menggerak-gerakkan tangannya kesana kemari. Beliau tampak sangat bersemangat di mata kuliah pagi ini. 

Aku sedang asyik mencoret-coret kertas gambar ketika tiba-tiba suara tegas itu menyadarkanku. "Jadi apa mimpi kamu, Dini?" Pak Anton berdiri tepat di sebelahku. Melotot tajam sambil melirik ke gambar setengah jadi yang tengah kubuat. Tita di sebelahku meringis geli karena tidak bisa berbuat apa-apa. "Emmm...jadi Ibu rumah tangga pak," aku mengulum bibir. Sontak seisi kelas tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Tawa itu pecah sebagai simbol pemberontakan dari satu jam hening bersama Pak Anton sedari tadi. 

"Haahaha..sumpah ya.. lo Din.."
"Yaudah sih itu kan jawaban refleks."
"Justru karena refleks itu bisa banget menggambarkan cita-cita lo."
"Sori cita-cita gw lebih tinggi dari itu."
"Eh..hahahhaa.. jadi Bu RT?"
"Shit.."
"Hahaha bercanda Din. Gw masih kebawa suasana tadi. Sumpah ngocol abis. Bhuahahaha"

***

Gw mau jadi apa? Apa yang gw suka? 

Aku mengulang kata-kata itu berkali-kali. Namun belum juga kutemukan jawabannya. Entah dimana, mungkin tersembunyi di balik jeruji atau terendam jauh di dasar samudra. Tak tahu kemana harus mencarinya. 

Aku mengeluarkan setumpuk buku lama yang tersimpan di laci bawah. Mereka berdebu, usang. Kubuka satu persatu, perlahan-lahan, kubalik halaman demi halaman. Ada jiwa di  dalam sana, berbicara lewat untaian kata-kata indah nan syahdu. Rasanya seperti mendengar suara alam yang merdu. Sudah lama aku menuliskannya, mungkin terakhir kali sekitar lima tahun lalu. Ketika naluri remaja baru tumbuh dan cinta monyet bersatu. Puisi-puisi konyol yang lucu. Dan ketika aku beranjak dewasa menjadi semakin tidak lucu, melainkan penuh gundah juga gelisah. Problematika remaja, begitu kata mereka. 

Ada lagi, artikel-artikel tentang "The Beatles" terselip di balik buku-buku itu. Aku mengguntingnya dari majalah remaja yang kubeli setiap minggu. Mereka mengisi hari-hariku dengan lagu-lagu rock inspiratif. Memang aku sangat suka musik rock, dulu. Foto-foto "Linkin Park", juga menghiasi beberapa halaman , lengkap dengan lirik lagu mereka juga biodata personilnya. Mereka adalah orang pertama yang membawaku ke dunia musik, memberitahuku kalau bermusik itu menyenangkan. Aku ingin sekali bisa bermain di dalamnya. Sejauh ini jabatanku dalam bidang tersebut hanyalah sebagai penikmat musik. Cukup keren, tetapi  membosankan. Aku ingin memainkan senar-senar magis itu, membuat siapa saja yang mendengarnya, terbuai akan alunan indahnya.

Aku membuka halaman selanjutnya. Ah, foto-foto ini. Eiffel Tower, Taj Mahal, Westminster Abbey, Irlandia, Kamboja, Nepal, semuanya tertempel manis di setiap lembar. Sewaktu kecil, aku sangat suka menempel gambar-gambar keren yang kutemui di koran atau majalah. Menurutku hebat sekali kalau bisa jalan-jalan ke luar negeri. Aku ingin berkunjung ke sana, seluruh dunia, menjajaki Eiffel Tower, melihat kota Paris yang romantis. Menikmati tulusnya arti cinta dari Taj Mahal dan terlebih , merasakan damainya  negeri Irlandia. Indonesia memang indah, sangat indah. Tetapi aku tidak akan tahu sejauh mana keindahannya sebelum aku menginjakkan kaki di tempat-tempat tersebut. Ya, aku akan pergi ke sana. Suatu hari nanti. Pasti.

***

"Din, lihat teater anak seni yuk! Keren banget katanya!"
"Oh, kapan? Boleh.
"Sekarang..lo kira taun depan?"
"Iye..iye..bentar."
"Lo ngapain sih? Sibuk banget gambar."
"Suka-suka."
"Issh..jutek.."

Teater seni itu berpentas di auditorium besar. Hanya tersisa beberapa bangku ketika kami sampai. Para penonton seperti terbius dengan cerita yang tersuguh di atas pentas. Tidak ada satupun yang menoleh ke arah lain kecuali ke depan, memperhatikan dengan seksama. Teater kali ini bercerita tentang seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Dan ia berdialog dengan sang Jati, yaitu dirinya sendiri. Ternyata proses mencari jati diri dalam hidup itu tidaklah singkat, penuh lika liku. Bahkan banyak orang yang sudah berumur namun belum mengerti akan dirinya sendiri. Di akhir cerita, sang pemeran utama terbunuh tragis setelah berusaha menyelamatkan seorang anak kecil yang disandera dalam penculikan. Dia mati mengenaskan, setelah akhirnya menemukan jati dirinya. Rena, sang tokoh utama, sangat mencintai dunia sosial, ia membaktikan hidupnya untuk anak-anak dan orang miskin. Walau dia mati secara tidak wajar tetapi kurasa dia termasuk orang yang beruntung. Karena setia dengan mimpi dan hidup berkorban untuk orang lain. Nantinya yang menjadi alasan, kenapa mereka yang masih hidup akan terus mengingatnya ketika ia telah tiada.

Aku tertegun. Tepukan meriah mengiringi kepergian Rena ke balik panggung. Aktingnya bagus dan menyentuh. Beberapa orang bahkan memberikan standing applause sambil bertepuk tangan kuat. Aku masih terduduk membayangkan adegan demi adegan tadi. Mereka membawaku ke masa lalu, masa dimana aku ada di atas sana. Di bawah gemerlap lampu, ditatap ribuan pasang mata, membawa mereka ke alur cerita. Aku rindu dunia ini. Dunia yang dulu sempat kucintai sepenuh hati, yang membuatku hampir mengerti akan makna sebuah mimpi. Aku masih terbuai dalam lamunan ketika bahuku diguncang, "Din, yuk! Udah kosong nih. Orang-orang udah pada balik."  Tita tersenyum menatapku. Tidak seperti biasanya, dia berkata selembut ini. Apa mungkin teater tadi memberinya suntikan inspirasi?

***

"Lo kenapa deh din? Dari tadi diem terus" 
"Nggak apa-apa."
"Heran gue sama lo. Dari kemaren aneh banget."
"Aneh gimana?"
"Ye..malah nanya. Tau deh gw juga bingung jelasinnya."
"Ah nggak jelas lo."
"Pokoknya lo kayak orang bingung gitu. Suka asik sendiri. Makin jutek."
"Hahaha..perasaan lo aja kali."
"Perasaan ya? Tapi kok lo pucat gitu?"
"He? Pucat?"
"Iya kaya kebo mau dicucuk hidungnya. Hahahahaha"
"Ihh..lo juga..udah bentar lagi mau dikurban..mandi gih..biar wangi.."
"Hehehe..udah wangi kali..Weekk.."

Pertanyaan Tita seperti bom yang berdesing mendarat di telinga. Aku pun tak tahu jawaban dari pertanyaan tersebut. Hal itu menjadi tanda tanya besar di kepala, yang sulit dicari arah jalannya.

***

Andini Saraswati. 20 tahun. Berambut panjang, bermata cokelat terang, berkulit sawo matang. Sahabatku, sejak usia lima tahun. Kami melewati masa kanak-kanak yang menyenangkan, berlari di tengah deras hujan, menyanyi di padang sawah, menyelam ke dasar danau. Mungkin kami adalah salah satu dari mereka yang manjalani masa kanak penuh keceriaan. Kami bisa pergi kemana saja, ke gunung, sawah, danau, pantai. Rumah kami dikelilingi lukisan-lukisan yang Tuhan ciptakan. Dan hingga kini, terpatri dalam darah kami, mengalir dalam jiwa.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia berubah, seperti bukan Dini yang dulu. Yang selalu suka diajak ke pagelaran musik, teater dan lukisan. Ia yang memiliki darah seni yang menjalar di setiap sendi tubuhnya, pikirku waktu itu. Kami selalu bersenda gurau bersama ketika selesai menari di balai desa. Berangan-angan kalau kami akan keliling dunia menarikan tarian tradisional Indonesia. Lalu dieluk-elukkan masyarakat dan menjadi bintang dunia.

Sudahlah, mungkin ia perlu waktu untuk sendiri. Apa mungkin karena pertanyaan Pak Anton tempo hari? Aku kenal sekali dia. Ia yang nampak garang tetapi sebenarnya sangat sensitif. Perasaannya mudah terkoyak oleh kata-kata. Mungkin ia tampak cuek, tetapi ia selalu resah ketika tahu aku belum minum obat. Ia yang bersedia mengantarkan ke dokter mana pun ketika sakit ini kambuh. Ia yang ada di sampingku ketika Rama yang kukira lelaki sejati, ternyata tidaklah lebih dari seorang bajingan. Ia peduli, dalam diamnya. Ia menangis dalam hatinya. Ia tertawa dari matanya yang berbinar-binar. Ia...aku rindu ia yang dulu.

***

"Tita..bangun nak..Mama kangen.."

Tangisan Tante Merry terdengar lemah. Hampa. Mengisi ruangan ini dengan sedu. Semua resah akan keadaan Tita. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tita pingsan sejak semalam dan kondisinya tidak sadarkan diri. Aku terduduk lemas, tak tahu harus berbuat apa. Aku merasa bersalah karena tidak mengingatkannya minum obat, padahal kemarin kami makan siang bersama.

"Lo kenapa teledor banget sih Tit?"
"Namanya lupa..gimana dong."
"Tinggal minum aja susah banget. Demi kebaikan lo juga."
"Kebaikan? Kebaikan buat gw biar mati pelan-pelan?"
"Bukan.."
"Lo nggak tahu rasanya sakit Din! Gimana rasanya tahu kepala lo bakal botak! Gimana pahitnya obat-obat itu!"
"Maksud gw.."
"Udah..gw nggak apa-apa kok. Paling bentar lagi juga sembuh."

Aku teringat ketika mendapatinya pingsan karena tidak minum obat. Dulu, Tita adalah gadis remaja ceria yang sangat aktif di sekolah. Hingga suatu hari, ia pingsan dan tidak masuk sekolah selama dua minggu. Ibu guru bilang dia sakit, sakit kepala katanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya ketika aku tidak sengaja membuka catatan dokter selepas dari rumah sakit. Kanker stadium satu, begitu tulisan dokter berkata. Sejak saat itu Tita berubah menjadi pendiam. Ia hanya di kamar dan menghabiskan waktunya dengan origami dan film drama. Terkadang ia tetap menari, walau tidak boleh berlama-lama karena takut sakitnya kambuh. Ia memang melankolis, tetapi di balik segala tangisnya, ia kuat, dewasa dalam menghadapi kenyataan.  Ia mampu bertahan sampai saat ini walau didera sakit yang makin hebat.

"Dok..tolong Tita. Saya yakin Tita bisa sembuh."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Bu."
"Terimakasih banyak, Dok."

Wajah Tante Merry basah. Matanya merah, suaranya serak, karena semalaman menangis. Semua orang sedang sibuk melantunkan doa untuk Tita ke hadirat Allah SWT. Tita pasti bangun, aku yakin itu. Mataku memperhatikan gerak jarum mesin di sebelah Tita. Selama jarum itu masih berbunyi dan bergerak, selama itulah sahabatku yang manis ini akan tetap bertahan, bernafas, berperang dengan rasa sakit. Aku membuka tas dan mencari buku sketsa gambarku. Aku ingin membuatkan kejutan untuknya saat bangun nanti, gambar kota Paris dengan Menara Eiffel, yang selalu kami idam-idamkan. Tiba-tiba, secarik kertas terjatuh dari buku sketsa sesaat ketika aku membukanya.

Dear Dini,

Hai, mungkin lo sekarang masih tidur. Pastinya lo belom bangun, gw yakin banget. hehe Din, gw merasa ada yang aneh sama lo akhir-akhir ini. Sori ya kalo mungkin kata-kata gw bikin lo sakit hati. Gw nggak tahu ini bener apa nggak tetapi perasaan gw bilang lo berubah sejak kejadian di kelas Pak Anton. Ditambah ejekan gw yang bikin lo makin kesel. Sori..gw nggak maksud sama sekali. 

Lo berubah, Din. Lo bukan Dini yang dulu gw kenal. Lo nggak lagi antusias pas gw ajak ke pagelaran tari bulan lalu, lo juga kelihatan bingung di teater seni kemarin, satu hal, lo nggak lagi nyentuh gitar lo. Walaupun lo belom jago banget main gitar, tapi menurut gw udah lumayan oke pas lo main gitar di acara musik waktu itu. Lo tinggal mengasah aja, terus jadi deh kayak John Lennon, idola lo x)

Din, menurut gw, bermimpi adalah hobi yang paling menyenangkan. Karena nggak ada satupun orang yang bisa melarang mimpi lo. Lo bisa bermimpi apa saja, hal-hal besar. Bermimpi adalah hak asasi manusia yang wujud sedari lahir tanpa  undang-undang, itu hal mutlak. Gw mau kasitahu lo satu hal  yang gw dapat dari sakit ini. Gw belajar untuk cuek, untuk setia, sama mimpi. Gw nggak peduli orang ngomong apa tentang gw. Gw sakit, gw lemah, gw tetap mau jadi seorang penari handal. Gw sanggup buat nari terus-terusan walaupun badan gw sakit-sakit. Gw bakal terus maju. Karena dari situlah gw hidup, merasa hidup. Lo tahu kan kalo orang sakit itu sebenarnya udah setengah mati, mereka cuma bertahan karena obat. Dan gw nggak mau kayak gitu, gw mau terus hidup. Hidup dengan dunia yang gw cintai. Hidup dengan gairah, tanpa rasa takut akan mati sebentar lagi. 

Din, jangan menyerah ya. Mungkin lo sekarang lagi bingung, mau kemana, mau jadi apa. Tapi satu hal, ketika lo udah menemukannya, lo akan seneng terus. Lo lupa sama apapun. Sama seperti lo liat gw yang nggak berhenti latihan nari setiap hari. Dan gimana cara lo tahu kalo itu emang yang lo cari selama ini? Cuma lo sendiri yang bisa. Sebenarnya itu udah lama tertanam di sana, hanya lo perlu sedikit usaha buat menggalinya jauh lebih dalam. Dan ketika lo udah menemukan, lo akan tersenyum terus setiap hari. Karena lo tahu, untuk apa lo hidup di dunia ini.

Thanks Kebo, udah jadi sahabat gw sampai detik ini. 

Miss you,

Sinta Prameswara


Aku terhenyak membaca tulisan tangan tersebut. Tita, sahabatku, mengerti benar yang sedang kuhadapi saat ini. Aku bingung, aku tak tahu apa yang harus kuperbuat dalam hidup. Di umurku yang tak lagi muda, aku masih mencari apa itu passion. Mau kemanakah aku nanti, menjadi apa, belum juga kutemukan. Dan Tita, menyadarkanku, akan makna kesetiaan. Setia dengan mimpi yang ada dalam sanubari, membiarkannya berdiri kokoh di sana, berusaha mewujudkannya dengan segenap kekuatan.

***

"Kriiinggggg! Kriiingggg!"

Alarm menunjukkan pukul 7 pagi. Aku segera pergi mandi dan bergegas menuju rumah sakit. Mobil melesat secepat kilat menuju "Rumah Sakit Harapan Bunda". Aku membuka pintu nomor 183, kamar Tita dirawat.

Kamar itu kosong. Tidak ada Tante Merry, Om Sofyan dan anggota keluarga Tita yang lain. Melainkan hanyalah bau kasur wangi yang baru diganti. Sepreinya pun nampak habis dicuci, bersih, setelah dipakai oleh orang yang tidur di atasnya.

"Dimana Tita? Dimana Om, tante?"
"Jangan bilang.. Sumpah nggak mungkin.. Ini nggak bisa terjadi."

Aku melihat coretan jumlah kematian di whiteboard. Tertulis lima orang perempuan telah meninggal pagi ini. Suster lalu lalang di koridor dan suara tangis menggelegar di penjuru rumah sakit.

"Iya..kasian..anaknya cantik..manis..saya saja sayang banget sama dia."
"Namanya umur, nggak ada yang tahu ya. Masih muda sudah harus pergi."

Itu Suster Yeni, suster kesayangan Tita. Ia biasa datang dan menjaga Tita kalau kami semua sedang berhalangan. Bisikan-bisikan itu menjelaskan semuanya. Surat, tingkah lakunya, pertanda-pertanda itu, menjadi ucapan selamat tinggal. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Seharusnya aku di sana malam tadi, menungguinya, merawatnya. Aku terduduk lemas, pasrah. Air mataku bercucuran. Deras.

***

Rumah Tita tampak ramai. Mobil-mobil mengelilingi sekitar, kursi-kursi tersedia di pekarangan rumah. Aku belum siap untuk melepasnya pergi. Kukumpulkan tenaga untuk masuk ke dalam, melihat sahabat tercintaku untuk terakhir kalinya.

Jalanku menunduk, mataku bengkak karena menangis tadi. Belum pernah aku menangis sekeras ini sebelumnya. Meskipun begitu, aku berusaha terlihat tegar dan kuat.

"Dini...! Akhirnya...dateng juga..."


Suara itu sangat jelas. Suara cempreng khas Tita. Aku tertahan, berusaha mencari datangnya suara tersebut.

"Din..ini gue! Di depan, woy!", Tita mencubitku. Ia mengenakan dress warna merah jambu. Manis, sangat manis. "Lo kemana aja sih? Dari tadi dicariin, ditelponin, nggak bisa," katanya dengan ceria. "Eh, gw nggak mimpi kan? Lo..lo kok di sini?" Aku masih setengah sadar. "Ya emang lo kira gw dimana, hari ini kan Kak Tisha lamaran. Bukannya udah gw kasitahu dari lama ya?" Tita bingung. "Tit..lo baik-baik aja kan? Lo nggak sakit kan?" Aku mulai mengerti. "Lo kenapa sih? Makin aneh." Alis Tita mengernyit.

"Cubit gw lagi Tit, sekenceng mungkin. Lebih dari biasa lo cubit gw."
"He? Tumben lo. Biasa suka kesel kalo gw cubit keras-keras."
"AW! Sialan itu keras banget!"
"Ya lo, aneh sih! hahaha.."
"Tapi gw nggak mimpi kan? Lo sehat kan?"
"Nggak Din, ini nyata. Gw baik-baik aja kok. Sakit sih tapi kata Dokter udah mau sembuh."
"Sori ya Tit. Gw minta maaf kalo udah beda beberapa hari ini. Gw cuma lagi bingung aja."
"Hihihi..bagus deh. Gw tau kok lo emang kadang aneh."
"Hahaha..thanks ya Tit. For everything."
"Lo kenapa jadi mendadak melow gini Din?"

Aku memeluknya. Erat. Kuharap Tita tidak perlu jawaban dari pertanyaannya yang terakhir. Pelukan ini sudah menjawab semuanya. Bahwa aku akan selalu menjaga dan mencintainya sebagai seorang sahabat. Aku akan merawat ia ketika sakit dan mengingatkan untuk minum obat walau Tita selalu punya seribu alasan untuk itu. Aku akan ada di sampingnya, selama aku mampu.

***

Tiga tahun kemudian...

"Tit, gw udah di "Le Bon Gout" nih. Lo cepet ya, udah gw pesenin sandwich"
"Oke Din. Gw on the way. Au revoir!"

Aku membetulkan scarf di leher. Cuaca kota Paris cukup dingin hari ini, -3 derajat celcius. Kalau Tita belum juga datang sepuluh menit lagi, aku akan segera menyantap sandwich ini dan pergi ke kantor yang hangat. Sudah lama kami tidak mengobrol, lebih tepatnya mempunyai quality time berdua. Aku sedang sibuk dengan pagelaran busana dan teater. Juga urusan penelitian tentang bangunan bersejarah dan pastinya dengan novel terbaru. Sementara Tita, ia sibuk dengan pentas tari kebudayaan Indonesia-Perancis yang akan dihelat summer ini. Tita juga mempunyai project besar, memperkenalkan tarian Indonesia ke negara-negara di Eropa.

"Bonjour..!"
"Hey..kemana aja deh? Lama."
"Sori gw tadi telat bangun..mana taksi lama banget."
"Tuh, makan sandwichnya. Udah dingin."
"Hehehe.. Merci!"

Renyahnya tawa mewarnai pembicaraan kami. Semua kami utarakan, tentang pekerjaan, tentang cinta, tentang hidup. Meski kami tinggal di kota yang sama tetapi kesibukan masing-masing telah menjadi alasan kenapa ini adalah pertemuan pertama dari tiga bulan menetap di Paris. Kota yang menjadi impian kami sedari kecil. Seperti mimpi, kalau kami sekarang sedang duduk di salah satu restoran ternama di Paris. Letaknya tidak jauh dari Menara Eiffel, tetapi mungil dan tersembunyi. Khusus bagi mereka yang ingin berbicara dari hati ke hati tanpa keramaian kota metropolitan.

"Tit, lihat deh."
"Iya, Din. Bagus ya."
"Banget."
"Gw nggak nyangka kita bisa sampai sini."
"Iya, kekuatan mimpi."
"Bener Din, kata lo, hobi paling indah itu adalah bermimpi dan mewujudkannya."

Aku masih terpana dengan megahnya Menara Eiffel ketika melihat Tita hendak melempar bola salju ke arahku. Kami berlari dan berkejaran mengitari kompleks Menara Eiffel sambil tertawa lepas. Dibalik dinginnya salju hari itu, ada secercah cahaya menyelusup masuk ke sela hati, memberi ruang bebas bagi siapapun yang berani bermimpi.


Rahasia
Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dalam perjalanan menggapainya
 ("Maryamah Karpov" by Andrea Hirata) 


Have yourself a BIG dream,
Chandini