21 Desember 2010
Pesawat mendarat mulus di Tunis International Airport,
Carthage, pukul 12:30 siang. Total lama perjalanan adalah empat belas setengah
jam. Sepertinya kakiku akan patah sebentar lagi. Aku berjalan menyusuri
koridor, mataku menerawang ke sekeliling. Semuanya begitu asing. Airport ini
berbeda, tidak banyak orang lalu lalang. Sepi. Cat berwarna putih menghiasi
sebagian besar airport. Tubuhku gemetar, menggigil. Para petugas
berpakaian hitam, berbadan besar dan tegap. Mereka jauh lebih tinggi dan kekar
dibanding aku yang kecil dan tak berdaya. Sama seperti aku, airport ini pun
mungil, lebih kecil dibandingkan airport-airport besar yang kusinggahi
sebelumnya.
Aku terduduk di troli, di sampingku koper hilir mudik,
hanya ada tiga tempat pengambilan koper di sini. Sudah sekitar lima belas
menit, belum juga kedua koperku muncul, memanggil sang empunya setelah
mengapung berjam-jam di
udara. Jantungku berdebar-debar, resah, gelisah. Bagaimana kalau mereka
tersangkut di Turki? Apa mungkin petugas salah memindahkan bagasi penumpang?
Teringat sewaktu sampai di Kuala Lumpur, insiden salah memindahkan koper
itu terjadi di maskapai penerbangan yang kami naiki, koper teman-temanku
terbawa ke Bandung. Untungnya, aku termasuk salah seorang dengan koper yang
selamat, tak kurang suatu apapun. Jangan sampai ini terjadi padaku sekarang.
Aku komat-kamit berdoa di dalam hati.
Kuperhatikan manusia di sekitar, lagi-lagi orang Eropa,
yang pasti wajah Asia tidak ada di sini. Ah, lelaki di depan itu, nampaknya
seperti orang Indonesia. Wajahnya hitam kecoklatan, tingginya pun sedang,
tasnya berwarna merah, tersemat lambang Garuda kecil di sana, apa dia orang
Indonesia? Tak kusadari kedua koperku beriringan keluar, dengan sigap kunaikkan
mereka ke atas troli. Kupandang lelaki tadi , kalau-kalau dia menengok ke
arahku, kalau-kalau dia berasal dari tempat yang sama denganku. Sudahlah, aku
pun beranjak pergi.
Petugas itu mengecek koper, ia melihat tulisan yuridtsi yang berarti transit dalam bahasa
Turki. Visa Tunisia yang kubuat sementara dalam tiga bulan juga turut diperiksa
dengan seksama. Akhirnya bagian imigrasi dapat kulewati dengan lancar bahkan
mereka tidak menanyakan tanggal kepulangan. Dalam beberapa menit, aku sampai di
luar. Banyak wajah bertengger di sana, menunggu mereka yang keluar dari
pintu tersebut. Sayangnya, aku bukan orang yang mereka cari. Tak seorangpun
dari mereka mencoba bertanya apa aku orang yang mereka jemput. Papan nama itu
bertuliskan nama-nama asing, yang pasti bukan namaku. Aku terdiam, kurasa lebih
baik aku duduk di bangku itu.
Sudah satu jam aku bercokol di kursi tunggu. Melihat
setiap pertemuan antara mereka dengan keluarga yang berpisah setelah sekian
lama. Momen-momen haru itu terjadi tepat di depan mata. Tawa, tangis, peluk,
menjadi satu bumbu kerinduan. Tak dapat kubayangkan ketika aku bertemu dengan
keluargaku nanti. Aku melirik handphone, berpikir apa yang harus kulakukan.
Bagaimana caranya aku menghubungi panitia lembaga pertukaran ini? Tidak ada
nomor Tunisia, apa yang bisa kuperbuat? Aku pun pergi ke tempat penukaran uang.
Uang-uang Dollar kutukar dengan mata uang Tunisia.
Bapak petugas money changer ini cukup tua, Beliau melayaniku
dengan cepat. Setelah urusan uang selesai, sekarang bagaimana caranya aku bisa
bertemu dengan orang yang bertugas menjemputku. Namanya Bilel, dalam email dia
berkata akan siap menjemputku berapapun tanggalnya, karena sakit aku sempat
mengundur keberangkatan. Bingung, tak ada satupun orang yang kukenal, bahkan
aku juga tidak punya kontak Kedutaan Besar RI di Tunisia. Sial, malang sekali
nasibku.
Aku mengelilingi airport, ternyata hanya ada satu coffee shop di bawah. Kaunter-kaunter banyak
bertuliskan “Money Changer” selain beberapa travel agent. Ada satu
toko yang memasang logo bergambar huruf O berwarna oranye dan bertuliskan
“Orange”, apa itu? Logo itu juga menghias airport ini dimana-mana tetapi belum
pernah kudengar namanya. Di ujung sana, samar-samar kulihat kaunter bertuliskan “Information”, sepertinya ini
petunjuk baik. Aku menuju kaunter dan mengutarakan maksudku. Kunyatakan saja
terus terang kalau aku minta tolong Mbak cantik ini menghubungi temanku,
maksudnya Khadija, satu-satunya orang yang kutahu nomornya. Dengan bahasa
inggris yang terbata-bata, Mbak tersebut mencoba menjawab pertanyaanku.
Langsung ia meraih handphone dan memijit angka yang kusebutkan dalam bahasa
Prancis. Aku ternyata cukup lancar menyebutkan angka-angka tadi, ah kebetulan
saja. Beberapa menit kemudian, Mbak baik hati ini menggelengkan kepala dan
menutup telepon. Tidak ada jawaban, begitu katanya. Aku makin hopeless,
jangan-jangan malam ini, buruk-buruknya, aku harus bermalam di sini. Berbagai
kemungkinan mulai berkelebat di kepala, aku ngeri membayangkannya.
Aku berjalan ke depan, sembari mengisi pikiran dengan hal
positif. Petugas security itu berdiri di dekat
eskalator, bisa jadi orang ini adalah penolong nomor dua setelah Mbak tadi.
Bisakah kupinjam handphone untuk menelpon Khadija, mungkin kali ini dia akan mengangkat
telepon. Kuucapkan kata-kata kepadanya dan Beliau hanya tersenyum sambil
mengucapkan kata “Excuse-moi”.
Ternyata Beliau tak pandai bahasa inggris, sama sekali. Kata Excuse Moi itu terdengar seperti meminta maaf,
aku mengira-ngira. Memang, aku belajar bahasa Prancis selama enam bulan di
kampus, tapi benar-benar tidak cukup. Baru saja berbicara dengan Satpam tadi,
aku gelagapan. Gawat. Kalau orang-orang ini hanya bisa bahasa Prancis dan Arab,
bagaimana nasibku nanti. Kuputar troli menuju arah balik, orang-orang di coffee shop memandangiku aneh. Nampaknya mereka
tahu kalau aku anak nyasar, tersesat, tidak diinginkan oleh sang penjemput.
Sempat terlintas bagaimana kalau aku duduk di sana, berselancar di dunia maya
sambil menyeruput kopi, seakan tubuhku yang letih menyetujui ide tersebut.
Tetapi mata mereka begitu tajam, lekat. Aku terus berjalan, pura-pura tak acuh.
Ah! Aku bisa menelpon Khadija dari situ! Telepon umum itu
bersinar-sinar di pojokan. Kalau dalam komik, di atas kepalaku muncul
lampu terang berpendar-pendar, mataku membelalak, pertanda muncul ide brilian.
Ini benar-benar suatu cahaya terang yang datang, aku bersemangat. Di dekatnya
adalah kaunter “Information” tadi, sampai tak terlihat karena
saking paniknya. Segera kumasukkan uang logam ke dalam lobang dan memencet
nomor Khadija. “Tut..tut..tut..tut” begitu bunyi telepon. Tak tahu apa yang
salah, kenapa tidak bisa tersambung? Kutengok orang sebelah yang sedang
menelpon, berpikir untuk meminta bantuan. Namun, lelaki itu meletakkan gagang telepon
dan berlalu cepat. Aku berpaling mencari sumber bantuan lain, yang nampak
hanyalah Mbak cantik dan baik hati tadi, segan aku meminta tolong lagi. Oh, Mas
cleaning service itu pasti mengerti, aku memanggilnya, lagi-lagi minta tolong.
Koin yang kumasukkan salah, bukan itu, dia menyuruhku untuk menukar ke kaunter.
Mbak tadi sudah hapal dengan wajahku, dia berkata sesuatu tentang koin yang
kupunya. Aku tak mengerti maksudnya. Wajahnya yang cantik seperti malaikat
berubah menjadi galak. “What?” kataku bingung. “Give me your coin,” sembari mengambil koin-koinku. Lalu
mengembalikan dengan beberapa koin, aku tidak mengerti bagaimana
menghitungnya. Kuserahkan saja semua yang ada di tanganku kepada cleaning
service itu. Setelah memencet nomor dan mendengar bunyi tersambung, aku kecewa.
Benar, Khadija tidak mengangkat telepon. Tamat riwayatku. Cleaning service tadi
sudah pergi dengan ucapan terimakasih, pastinya dia mengerti kata “Thank You”.
Kulihat Mbak cantik, baik hati dan galak itu sedang berbicara di telepon.
Aku melengos pergi.
Termangu-mangu aku melihat kuitansi bertuliskan jumlah
uang yang kutukar. Jumlahnya cukup banyak sekitar hampir empat ratus
dinar. Semoga cukup untuk bekal hidup selama sebulan. Tiba-tiba, seorang lelaki
besar dan tinggi menghampiriku dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku
bernapas lega. “Are you from
Malaysia?”, tanya dia. “Yes,
are you Bilel?”, aku hampir memekik kegirangan. “Yes, you are Ulka? Sorry i’m
late.”, katanya lagi. “Huh,
yeah it’s three o’clock and i was here since one,” aku merengut. Seingatku, sudah
kukirim email lengkap dengan itinerary
flight. Harusnya dia tahu jam berapa stand
by di airport, tidak molor
sampai dua jam begini. Kami melangkah keluar dan Bilel bercerita kalau ia dan
keluarga sedang berlibur di Tunis dan kembali ke Sfax setelah liburan usai.
Hampir lupa, Kalian pasti penasaran akan pertanyaan pertama Bilel tentang
negara asalku, aku mendaftar internship ini dari kampusku yang ada di
Malaysia. Itulah sebabnya mereka tahu aku berasal dari sana. Padahal, aku
adalah asli Indonesia yang kebetulan menimba ilmu di negeri tetangga. Sore itu
cukup cerah dan pohon-pohon kelapa melambai dengan gemulainya tertiup angin.
Tunis Carthage International Airport, aku memandang tulisan itu dari kejauhan,
mencoba mematrinya sampai pulang nanti. Ingin aku berfoto untuk pertama kali
tetapi Bilel agak terburu-buru kelihatannya. Nanti saja, masih ada waktu enam
bulan, oh ya kurang satu hari. Karena hari ini, tepatnya tanggal dua puluh satu
Desember aku menginjakkan kaki pertama kali di bumi Tunisia, Afrika Utara.
***
Bilel membawa koper merahku yang besar dan
berlari dengan cepat. Sampai akhirnya di ujung jalan, ia menyetop taksi, karena
warnanya kuning aku tahu itu taksi, dalam sekejap kami sudah di dalam mobil.
Taksi mengantarkan kami ke suatu tempat, Bilel meminta uangku dan ia membayar
kepada Pak sopir. Tempat apa ini? Ramai sekali. Banyak orang lalu lalang dan
Bilel mengajakku masuk ke dalam. Wah, makin ramai, ada kedai makanan, loket
pembelian karcis dan mobil-mobil di seberang. Huruf-huruf bahasa Arab itu tak
mampu kuterjemahkan dalam bahasa ibu ataupun bahasa inggris. Heran, aku bisa
membaca Al-Qur’an tetapi kenapa tidak bisa membaca maksud huruf-huruf ini? Apa
yang beda, bukannya bahasa arab itu semua sama? “Hey, give me your money,” suara Bilel membuyarkan lamunanku. “How much?” aku sok mengerti uang dinar yang baru
kupegang kurang dari empat jam. Tiket itu berharga empat belas dinar kurang
sepuluh sen, aku tak ambil pusing langsung kumasukkan uang kembalian ke
dompet. Lalu Bilel mengantarku ke mobil, van lebih tepatnya, karena
jumlah penumpang bisa mencapai sekitar sebelas orang. Dari dalam, kulihat Bilel
sedang berbincang dengan Pak sopir, mungkin dia akan masuk ke dalam ketika van
berangkat, pikirku. Tetapi, kenapa ini, Pak sopir bergerak masuk ke mobil dan
Bilel tetap di tempat, melambaikan tangan. “My friend will pick you up
in Sfax. I have told the driver where you must stop. I can’t go with you
because i have to stay here. Be careful,” pesan
Bilel dari jendela kaca kepadaku. Di saat yang bersamaan, raut mukaku berubah.
Kebingungan.
Van ini
menggayut-gayut di tengah jalanan. Muatannya penuh, tak tersisa satu tempat kosong
pun. Kondisi van sendiri cukup terawat, setidaknya dapat dilihat sang majikan
peduli padanya. Aku duduk di paling belakang, dekat jendela, di sebelah dua orang lelaki. Pria di
sampingku sibuk membolak balik koran, kulirik sedikit koran itu dan semua
berabjad arab, apa daya, aku tak lihat lebih jauh. Di balik koran berwarna itu,
kulitnya gelap, hitam, jaketnya pun berwarna hitam, mungkin yang putih hanya
giginya. Sebelahnya, lelaki berkulit lebih coklat duduk terdiam di pojokan. Di
kursi kedua ada seorang Ibu yang juga sibuk menenangkan bayinya. Tangis bayi
pecah, seakan tak mau kalah dengan terpaan angin ganas yang keluar lewat
sela-sela jendela. Dingin. Aku merasa bulu kudukku berdiri, jaket tebalku tak
mampu menahan suhu ini. Kuambil kain untuk menutupi kepala. Di balik kain hitam
tipis ini, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan bukit nan hijau
sepanjang perjalanan menjadi suatu hiburan tersendiri. Ternyata salah selama
ini, kudengar Afrika itu penuh pasir, bebatuan, tak ada bibit-bibit hijau di
sana. Memang tak semua daerah ditumbuhi pepohonan tapi persepsi Afrika yang
muncul di kepalaku tak lagi sama bahwa ia juga dicintai oleh tumbuh-tumbuhan.
Aku masih
asyik memandangi pemandangan baru tersebut. Tanpa sadar, lelaki di sebelah juga
ikut memandangi sedari tadi. Sadar bahwa ada yang memperhatikan, aku
memalingkan wajah. Ia tersenyum kecil, menundukkan kepala lalu bertanya satu
hal yang membuat perutku terkocok.
“Are you from China?
“No."
“Korea?”
“No.”
“Japan?”
"No.”
“So?”
“Indonesia.”
Aku mengatupkan bibir dan menatapnya
dalam. Kalau saja ia tahu bahwa kulit orang Cina tidak berwarna sawo matang
seperti ini. Mataku memang sipit tetapi tidak sesipit mata mereka. Aneh.
Bagaimana bisa dia menyangka aku ini berasal dari sana? Aku tergelak dalam
hati. Lelaki itu mengucapkan kata “Ha..”, seakan dia akhirnya menyadari
sesuatu. Lalu ia berkata dalam bahasa Prancis, menggerak-gerakkan tangannya,
aku mencoba menganalisis. Sepertinya dia berkata kalau aku berasal dari tempat
yang sangat jauh, aku mengangguk-angguk dan berkata “Ya..” Ia juga
bertanya apa aku menuju Sfax dan mengerti kalau aku tidak berbahasa Prancis.
Sayang sekali, andai kami bisa saling mengerti satu sama lain, waktu panjang
ini bisa terbunuh perlahan. Bosan. Malam sudah menghampiri. Aku tak
sabar untuk bertemu dengan teman-teman dan kasur tidur baru. Aku menguap,
mataku berair. Dimana gerangan kota Sfax?
Akhirnya kami
berdua mengobrol. Ternyata lelaki ini mengambil jurusan hukum di salah satu
universitas di Tunis. Ia berkunjung ke Sfax dalam rangka liburan mengunjungi
keluarga. Bahasa inggrisnya cukup bagus walaupun tidak begitu fasih. Setidaknya
ia mencoba untuk berbicara daripada tidak sama sekali. Justru aku yang sekarang
sama sekali tidak tahu menahu dimana posisi keberadaanku. Malam semakin gelap.
Aku bertanya kepadanya, dimana aku harus turun nanti. Lelaki itu setengah
berteriak kepada Pak Supir di depan dan menunjuk-nunjuk diriku. Pak Supir lalu
mengangguk-anggukan kepala sambil melayangkan kertas yang dipegangnya. Apa mungkin
Bilel menulis alamat rumahku di sana? Lalu ia menelpon dan mengucapkan
kata-kata dalam bahasa Arab. Aku bernapas lega ketika ia memberikan jempol
kepadaku, tandanya semua baik-baik saja. Lelaki itu pun tersenyum, nampak
giginya yang putih. Tidak lama kemudian, jendela kacaku diketuk. "That is
your friend," kata lelaki tersebut. Aku beranjak keluar dari van. lalu
melambaikan tangan sebagai ucapan terima kasih kepada supir dan lelaki yang tak
kutahu namanya.
Mereka berdua
mengambil koperku dan membawakannya. "Hey Ulka, i'm Ayoub," katanya
yang membawa koper kecilku. Ayoub berbadan kurus dan tinggi. Sementara satunya
membawakan koper besarku. Aku tidak tega melihat ia yang berbadan kurus dan
kecil tetapi ia bilang tidak apa. Ayoub bertanya bagaimana perjalanan tadi dan
aku menjawab bahwa aku melihat banyak pemandangan hijau. Kami menyeberang, kata
mereka rumahku adalah bangunan berwarna hijau di seberang. Petugas keamanan
tersenyum menyambut kedatangan kami. Tombol lift ditekan menuju lantai lima.
Kami keluar dan menekan bel di pintu pertama sebelah kiri.
"Helloooo...," seorang perempuan blonde membukakan pintu. "Hey
girls! This is Ulka," kata Ayoub. "How are you dear?", ia
menyalamiku dengan ramah. Aku mencoba mengingat siapa nama perempuan ini.
"This is Paulina," Ayoub memperkenalkannya padaku. Oh ya, aku ingat
sekarang, karena kami sudah berteman di Facebook sebelumnya. Aku mengontak
mereka untuk menanyakan keadaan di sini. Memang wajahnya tidak berbeda sama
sekali dari yang ada di foto. Matanya hijau, berambut pendek, Paulina berasal
dari Polandia. Tiba-tiba seseorang muncul dari arah lain, "Hello
dear..," perempuan ini mencium pipi kiri dan kananku. "Hey, how are
you?" aku membalas seolah sudah kenal sebelumnya. Kalau yang tadi Paulina
berarti perempuan ini adalah Marcella. Setahuku hanya ada dua orang yang
tinggal di rumah. Marcella berasal dari Kolombia dan berkulit coklat, juga
berhidung mancung.
Aku memutuskan
untuk menaruh barang-barangku di kamar. Kamar di pojokan menjadi pilihanku
karena kamar mereka sudah terisi dua orang. Tidak apa aku sendiri, lebih
nyaman. "Do you
want to take shower? Or dinner maybe?", Paulina mengenali wajahku yang capek
dan letih. "Yeah,
i think i'm hungry," sambil memegang perutku yang mengaduh.
"Marcella is cooking something in the kitchen," Paulina
menunjuk ke arah dapur. Ternyata Marcella memasak salad dengan tuna. Aku
mencicipi dan rasanya tidak enak. Bawang bombay juga ikut mewarnai masakan
tersebut. Entah, rasanya tidak pas di lidahku. Seperti pahit dicampur...ah aku
tidak dapat mendefinisikannya. "I
want to eat rice. Do you have rice here?", aku bertanya dengan muka memelas. "Okay, i will buy rice for
you," kata lelaki
bertubuh kecil. Tidak lama kemudian, nasi pesananku datang, dalam bentuk satu
plastik beras berwarna coklat. Ini pertama kalinya aku memakan beras coklat, di
Indonesia aku biasa memakan beras putih atau merah. Oke, tidak apa aku akan
memakan apapun yang ada. Belum habis juga tantangan untuk makan malam pertamaku
di Tunisia karena ternyata rumah ini tidak ada rice cooker. Satu-satunya cara adalah memasak nasi
secara manual. Ini akan menjadi proses makan malam terlama dalam hidupku. "Don't worry, i can cook
rice," Marcella
tersenyum. Nampaknya ia tahu kalau aku tidak bisa memasak selain memasak air
juga mie instan. Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya
kuperoleh juga makan malamku. Nasi coklat yang menjadi putih ketika dimasak dan
tentunya, salad tadi. Semoga rasa pahit itu akan berganti dengan manisnya nasi,
aku berharap.
Aku tengah
menikmati makan malam sambil bersandar di atas kasur. Tiba-tiba ketukan sepatu
menghampiri dan suara-suara mereka memenuhi ruangan, "Wajih..You are here!" Aku tidak beranjak melainkan terus
menyuapi mulut sebagai bayaran kepada perut setelah seharian mengembara. Sampai
akhirnya suara itu menyadarkanku, "Hello, Ulka. How are you?" Aku
terdiam. Kaget.
"Hey..hello..i'm
fine."
"How are
you?"
"Yaa,
i'm good."
"How was
the trip?"
"Tiring."
"Haha.
Sure. Enjoy your dinner."
Aku sama sekali
tidak tahu siapa dia. Seperti pernah melihat wajahnya tetapi entah dimana. Aku
mencoba menekan tombol search di memori. Lelaki itu asik berbincang
dengan Marcella di dapur. Dia terlihat sangat akrab dengan teman-teman baruku.
Paulina masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas kasur. Aku memberanikan diri
bertanya kepada Paulina tentang siapa lelaki ini. "Hey, is that
your friend?", aku
setengah berbisik. "Ha?", Paulina bingung. "Who is he?", Aku
menunjuk ke arah di dapur. Seketika Paulina tertawa terbahak-bahak. Aku tidak
mengerti apa yang terjadi.
"Wajih..she
asks to me about you."
"Hahahaaha
She doesn't know?"
"You
should tell her, Wajih."
Dari balik
dinding aku mencoba mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebentar,
namanya Wajih, aku mencoba mencari lagi nama itu dalam ingatan. Wajih
terdengar hanya meringis geli. Marcella dan Paulina memaksanya untuk
memberitahu identitas dirinya. Begitu istimewakah dia? Sampai-sampai mereka
kaget dan ingin sekali aku mengetahui tentang lelaki ini. Tiba-tiba Marcella
datang menghampiriku dan menyatakan sesuatu seperti bom yang berdentum di
telinga, "Ulka, he is your boss." "Whaaaaaat?", aku berteriak dalam hati. Wajahku
tersipu malu menatap Marcella. Oh ya, namanya Wajih Talik, aku ingat nama itu
ada dalam surat keterangan internship.
Ia jugalah orang yang selama ini aku hubungi via email. Oh tidak, mimpi apa aku
semalam, berjumpa dengan bos di malam pertama kedatangan. Sudah berpura-pura
kenal tetapi ketahuan juga kalau aku memang tidak tahu siapa dia. Wajar, aku
memang belum pernah berjumpa dengannya. Namun, ini sama sekali di luar
bayanganku, aku bertemu bos di rumah dengan baju santai. Bukan di kantor
dengan setelan necis dan rapi. Pertanda apakah ini? Semoga pertanda baik. Malam
itu kami menghabiskan waktu bersama, mengobrol dan bersenda gurau. Lalu aku
pergi tidur dalam dinginnya Afrika. Hari yang sungguh melelahkan. Selamat
malam, Tunisia.
***
22 Desember 2010
Hari ini dingin. Memang tidak ada salju di sini tetapi
dinginnya menusuk sampai ke tulang. Aku tidak melakukan apa-apa seharian. Hanya
bersantai ria dengan kamar baru. Mengatur barang-barang, letak tempat tidur,
menata kamar. Senang rasanya mempunya kamar baru yang akan
ditempati selama enam bulan ke depan. Semalam aku menemukan kamar ini cukup
berantakan. Ada sepasang sepatu di bawah tempat tidur dan bertumpuk selimut.
Tahu begini, aku tidak perlu membawa selimut Doraemonku ke sini. Tidak apa, ia
sudah menjadi temanku selama tiga tahun di Malaysia. Karena tidak ada lemari,
aku menaruh semua bajuku di atas tempat tidur yang beralaskan selimut. Sebagian
kuletakkan di atas matras kecil di seberang tempat tidur. Di tengahnya adalah
tempatku menunaikan salat. Oh ya, ada cerita lucu soal kiblat, yang menjadi
patokan arah shalat. Semalam, aku bingung dimana kiblat dan aku bertanya pada
Wajih, bosku. Setahuku is beragama islam dan seketika wajahnya pucat pasi. Ia
juga bingung dimana arah kiblat dan ia pun menelpon seseorang. Mungkin teman,
yang lebih mengerti tentang hal ini. Sesudahnya, Wajih memberitahuku bahwa arah
kiblat adalah miring ke kanan dari seberang tempat tidur. Marcella dan Paulina
tertawa melihat Wajih yang gelagapan dengan pertanyaan tersebut.
Aku mengenakan baju pemberian Ninik, lebih tepat mungkin
disebut sweater. "Pakai ini, di sana pasti dingin," kata Ninik
sebelum aku pergi. Benar, sweater biru tua ini cukup menghangatkanku dari suhu
dingin di dalam rumah. Tiga lapis selimut dan kaus kaki tebal juga ikut menjadi
pasukan penghangat. Lucu juga, kalau dulu aku mengeluh karena terlalu panas,
sekarang justru dingin yang menusuk. Suara angin mengetuk-ngetuk jendela,
saatnya tidur. Selamat malam. x)
PS: Thank you for reading *)
See you again soon,
Chandini
2 comments:
masih ada part part berikutnya kan kaaa...can't hardly wait :)
asal jangan pake bahasa enggris aja part berikutnya
*nyari kamus
hehe gapapa za sekalian latihan inggris xD Yoi..tariikkk teruussss! x))
Post a Comment