Prolog
Suasana di waiting room Kuala Lumpur International
Airport, Malaysia cukup ramai siang itu. Beberapa dari mereka mengenakan kaos
merah bertuliskan “Arsenal” dan pernik lain milik “The Gunners” yang baru
tampil hari minggu lalu. “Attention, please.
Flight JT-283 to Jakarta, Indonesia, is now boarding. All passengers are waited
to gather at gate 16C. Thank you.” Aku
yang sedang mengetik pesan singkat untuknya segera menekan tombol send dan beringsut dari kursi menuju
antrian. Waktu
berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku tiba di Tunis International
Airport, Carthage. Ya, Tunisia,
negara kecil di Afrika Utara, tempat aku berdikari selama enam bulan yang penuh
dengan warna. Warna warni itu menempati setiap sisi dalam mozaik illahi yang telah
Allah takdirkan untukku. Jalan hidupku berubah. Aku bukan diriku yang dulu lagi.
***
“Tunisia? Dimana itu?,” tanya Bapak ketika aku
menyebutkan negara tujuan untuk praktek kerja lapangan. “Afrika Utara, Pak. company-nya cocok sama
Ulka, nanti Ulka kerja design catalog gitu,” jawabku berusaha meyakinkan.
“Enggak ada negara lain?,” Bapak sepertinya ragu dengan pilihan tersebut. “Ada
sih, ditawarin ke Belanda tetapi company di sana mau Ulka ngerjain coding cuma
Ulka enggak jago coding. Jepang, cocok tapi masalahnya cuma dua bulan sedangkan kampus harus praktikum enam bulan,”
Aku memberi alasan yang logis. “Nanti dulu deh. Kamu cari yang lain kalo udah
ketemu kasitahu Bapak, ‘’ telepon ditutup. Aku semakin resah. Dalam dua
bulan ke depan aku akan menjalani praktikum. Begitu universitasku menyebutnya, dimana
semua pelajar akan digembleng di perusahaan tertentu untuk mempraktekkan apa
yang sudah mereka dapat selama tiga tahun menimba ilmu. Namun, hatiku belum
tertambat pada satu pilihan. Mungkin sudah, tetapi ada
keraguan di ujung sana.
***
20 Desember 2011
Malam ini aku akan terbang ke Turki sebelum akhirnya tiba di destinasi akhir, Tunisia. Jam menunjukkan sekitar pukul delapan malam. Airport tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang di terminal F. Koper besar, koper kecil, tas pinggang, backpack, jaket converse kesayangan, sudah siap menemani perjalanan panjang ini. Aku mengambil saputangan dari kantong untuk mengelap air yang keluar dari hidung. Ya, aku sedang pilek dan batuk tetapi apa pun yang terjadi harus berangkat menuju Afrika. Mataku memandang ke antrian yang sedikit di depan lalu ke Bapak dan Ibu yang sedang mengobrol di samping troli juga Dayi dan Angga yang berdiri di sekitar. Ah, aku harus meninggalkan mereka lagi untuk kesekian kalinya. Sedih. Seperti tidak pernah pergi saja, pikirku.
Kudorong troli dan pembicaraan itu pun terhenti. Aku tersenyum, mengisyaratkan ini saatnya untuk peluk dan cium. Ya, aku selalu menantikan saat-saat ini, ketika mereka memberikan hal termanis untuk direkam dalam ingatan sebelum kembali pulang. Aku tidak ingin menjadikan ini momen melankolis tetapi memang seperti itu adanya. "Kak, hati-hati ya," Ibu menatapku. Aku memeluk tubuh kurusnya, erat. Bapak tersenyum dan aku menghamburkan tubuhku ke badan gempalnya. Aku tahu Bapak tidak pernah berkata banyak tetapi dengan pelukan ini kuharap beliau mengerti kalau pelukan juga sama dengan gambar. Ia berbicara lebih banyak dari kata-kata yang diucapkan sebelum pergi. Dayi dan Angga bergantian memeluk dan mencium pipi kiri-kananku. Mereka siap melepas elang ini mengembara dan bertualang ke negeri antah berantah. Dari jauh kulambaikan tangan , tanda perjumpaan enam bulan ke depan.
Entah kenapa aku merasa canggung walaupun ini
bukan pertama kali aku pergi sendiri dengan pesawat. Tetapi inilah pertama kalinya
aku akan berada di pesawat selama dua belas jam lamanya, seorang diri. Perjalananan ini akan membawaku bermil
jauhnya dari Benua Asia tempat tinggalku, ke Benua Afrika.
Kutengok sekelilingku, cukup sepi, hanya ada beberapa orang di bangku
depan dan belakang. Mungkin akan
penuh setiba di Singapura nanti, pikirku. Aku mengambil tempat duduk favorit,
di dekat jendela. Seketika terbayang kejadian tadi, ketika petugas Airlines menanyakan tiket kepulangan di counter check-in. Aku memang belum memastikan tanggal kembali ke Indonesia
tetapi mereka tetap memaksaku membeli tiket pulang. Seketika aku panik dan berlari memanggil Bapak yang ada di luar. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bapak diharuskan membeli tiket pulang. Setelah melewati masa-masa
tegang, akhirnya ada salah satu Mbak petugas yang berbaik hati membantu. Ia
memberikan secarik kertas berisikan informasi ticket booking kepulangan untuk
sekedar berjaga-jaga jika ditanya petugas imigrasi nanti. Lega rasanya. Kuharap tidak ada lagi hambatan yang kutemui setelah
ini. Dan ditemani pemandangan indah di luar sana, aku pun
terlelap.
Dua
jam kemudian, pesawat mendarat di Singapura. Lama transit di Changi
International Airport hanya empat puluh lima menit. Meskipun sudah pernah ke
Singapura sebelumnya tetapi jalur yang kulalui adalah jalur darat Johor,
Malaysia-Singapura. Jadilah ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Changi
International Airport. Bandara ini mengingatkanku pada Kuala Lumpur
International Airport karena ruangan yang cukup luas dan bersih. Aku pun bertanya-tanya kapan Bandara Soekarno-Hatta
disulap menjadi bandara kelas internasional yang bisa membuat turis-turis berdecak
kagum. Karena menurutku jika sampai di satu negara maka bandara adalah salah satu
first impression dari negara tersebut. Lagipula,
Pak Soekarno dan Hatta pasti akan sedih melihat bandara yang memakai nama
Beliau, tidak dirawat dan dijaga sebagaimana mestinya.
Kerlap kerlip
lampu malam itu seperti kunang-kunang yang berterbangan. Seakan menari menemani mereka
yang pergi jauh. Indah, sungguh. Namun
malam itu, tidak seperti malam-malam biasanya dimana aku dapat tidur nyenyak
dengan posisi enak. Tanpa sadar setelah melahap makan
malam aku pun terbangun dari tidur dan merasakan mulas di perut. Ya, aku pun
mengeluarkan semua isi dalam perutku. Belum pernah sebelumnya aku naik pesawat lalu muntah dalam
perjalanan. Mungkin karena aku tidak terbiasa dalam perjalanan panjang. Kalau
ada mabuk darat berarti yang kualami adalah mabuk udara. Aku membuka TV untuk
mengecek berapa lama lagi perjalanan akan berakhir dan menurut perkiraan dalam
tiga jam pesawat akan mendarat di Istanbul. Kembali
aku tidur dengan harap-harap cemas.
***
21 Desember 2011
05.00 AM waktu Istanbul, Turki.
Dingin menyelimuti tubuh. Angin berhembus kencang. Aku melihat ke bawah, shuffle train sudah menunggu.
Kalau di Kuala Lumpur International Airport, penumpang dapat menaiki
aerotrain setelah sampai di dalam terminal. Kali ini di Ataturk Airport, Istanbul, sesampai kita
keluar dari pesawat di bawah sudah tersedia shuffle train yang siap mengantar kita
menuju terminal. Ataturk Airport, Istanbul adalah salah
satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia. Aku segera mencari surau untuk
menunaikan shalat subuh. Aku keluar menuju ruangan Transit Intenational
Departure. "Burger King" Fast Food dengan burger dagingnya yang tampak lezat menyambut di hadapan. Ternyata harus naik lift menuju surau di lantai atas. Kubuka pintu surau, rasa hangat menerpa tubuh. Tempat wudlu dihiasi dengan keramik berwarna biru, cantik ditimpa sinar lampu yang terang. Aku segera mengambil mukena untuk shalat. Aneh, kain-kain ini berbeda dari yang biasa kupakai, seperti baju sehari-hari, warna warni. Dua orang di dalam surau tengah tidur, melihat mereka aku pun ikut mengantuk. Kuambil charge handphone, aku beristirahat sembari menunggu baterai handphone penuh.
Aku berjalan keluar surau. Di koridor tergantung jam dinding besar, segera kuputar jam tangan
untuk menyamakan waktu Turki. Menurut
informasi yang kubaca, ini hal pertama yang harus dilakukan ketika sampai
airport, yaitu merubah jam sesuai waktu setempat untuk menghindari kesalahan
waktu dan tertinggal pesawat. Di belakang jam nampak deretan manusia yang
sedang tertidur lelap di atas kursi. Mereka pasti juga sedang menunggu waktu transit. Andai aku mempunyai visa Turki, pasti aku
sedang berada di luar dan berfoto ria dibanding menjelajah airport yang
kulakukan sekarang. Wow, airport ini benar-benar keren! Toko-toko di dalamnya seperti yang ada di dalam mall. Mewah, besar dan harganya
pasti mahal.
Di tengah hiruk pikuk suara gesekan koper, ketukan sepatu, tangisan bayi dan lapar yang mulai terasa, aku mencoba online dari laptop dan gagal. Syaratnya adalah harus mempunyai nomor Turki untuk bisa mengakses internet di sini. Mungkin itu salah satu alasan kenapa stop kontak menjadi barang langka. Sudah kukelilingi area ini tetapi tidak ada satupun stop kontak untuk mencharge laptop. Baiklah, aku akan duduk diam dan memperhatikan manusia di sekitar. Orang lalu lalang di hadapanku membawa koper dan barang. Mereka datang dari arah kiri, dandanan mereka menunjukkan mereka bukan orang Asia. Mungkin Eropa atau Turki, pastinya aku tidak melihat ada teman dari benua yang sama denganku. Persis di depan adalah supermarket yang penuh dengan barang dan pastinya, cemilan. Sempat terpikir untuk membeli tetapi ah tidak usah, aku juga bakal makan di pesawat nanti. Wanita di sebelahku tengah menggendong bayi yang menangis sedari tadi. Sepertinya aku harus pindah, aku tidak sanggup mendengar suara tangis itu.
Di tengah hiruk pikuk suara gesekan koper, ketukan sepatu, tangisan bayi dan lapar yang mulai terasa, aku mencoba online dari laptop dan gagal. Syaratnya adalah harus mempunyai nomor Turki untuk bisa mengakses internet di sini. Mungkin itu salah satu alasan kenapa stop kontak menjadi barang langka. Sudah kukelilingi area ini tetapi tidak ada satupun stop kontak untuk mencharge laptop. Baiklah, aku akan duduk diam dan memperhatikan manusia di sekitar. Orang lalu lalang di hadapanku membawa koper dan barang. Mereka datang dari arah kiri, dandanan mereka menunjukkan mereka bukan orang Asia. Mungkin Eropa atau Turki, pastinya aku tidak melihat ada teman dari benua yang sama denganku. Persis di depan adalah supermarket yang penuh dengan barang dan pastinya, cemilan. Sempat terpikir untuk membeli tetapi ah tidak usah, aku juga bakal makan di pesawat nanti. Wanita di sebelahku tengah menggendong bayi yang menangis sedari tadi. Sepertinya aku harus pindah, aku tidak sanggup mendengar suara tangis itu.
Aku pun berjalan ke arah kiri dan kutemukan peta bandara
yang terlukis di atas lantai. Peta itu begitu jelas menggambarkan detil setiap bagian di bandara. Jadi tidak perlu khawatir bakal tersesat di
bandara sebesar ini. Banyak juga kursi yang tersedia untuk duduk atau tidur. Well, at least we have place to sleep for overnight flight. Aku duduk di seberang lelaki Eropa yang berbadan atletis dan berparas lumayan. Aku pun mencek jadwal
penerbangan di papan besar dan belum tertulis nomor flightku di layar. Aku bertanya kepada
salah satu staff yang lewat dan wanita itu bilang belum waktunya. Masih banyak
waktu sebelum pukul 10.00, kupikir. Aku membunuh waktu dengan memfoto beberapa
objek seperti telephone box warna merah yang bergaya jaman dahulu. Tidak peduli
kalau aku dibilang norak karena ada juga turis yang jelas berfoto di depan
telephone box itu.
Tiba-tiba, aku merasa seperti berada dalam adegan film. Ketika orang hilir mudik di depanku, mereka berlalu bagaikan desing angin, dan
aku masih di sini, duduk di atas kursi. Menunggu. Seperti ada kaca yang
memisahkan aku dan mereka, dimana semua bergerak tapi aku tak bergeming
sedikitpun. “Beep..beep..beep,” Aku meraih handphone dan melihat waktu yang tertera,
09:45. Aku berlari secepat mungkin. Tunisia, here I come.
***
See you next part,
Chandini
2 comments:
tunisia saat itu lg bergejolak ya..very nice post ka..
pengen baca part selanjutnya
:)
iyaa za x) siap ikutin terus ya. thanksss! *)
Post a Comment