18 July 2012

#15. Catatan Harian Tunisia - Part 1


Prolog

Suasana di waiting room Kuala Lumpur International Airport, Malaysia cukup ramai siang itu. Beberapa dari mereka mengenakan kaos merah bertuliskan “Arsenal” dan pernik lain milik “The Gunners” yang baru tampil hari minggu lalu.  “Attention, please. Flight JT-283 to Jakarta, Indonesia, is now boarding. All passengers are waited to gather at gate 16C. Thank you.”  Aku yang sedang mengetik pesan singkat untuknya segera menekan tombol send dan beringsut dari kursi menuju antrian.  Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku tiba di Tunis International Airport, Carthage. Ya, Tunisia, negara kecil di Afrika Utara, tempat aku berdikari selama enam bulan yang penuh dengan warna. Warna warni itu menempati setiap sisi dalam mozaik illahi yang telah Allah takdirkan untukku. Jalan hidupku berubah. Aku bukan diriku yang dulu lagi.
                    ***
“Tunisia? Dimana itu?,” tanya Bapak ketika aku menyebutkan negara tujuan untuk praktek kerja lapangan.  “Afrika Utara, Pak. company-nya cocok sama Ulka, nanti Ulka kerja design catalog gitu,” jawabku berusaha meyakinkan. “Enggak ada negara lain?,” Bapak sepertinya ragu dengan pilihan tersebut. “Ada sih, ditawarin ke Belanda tetapi company di sana mau Ulka ngerjain coding cuma Ulka enggak jago coding. Jepang, cocok tapi masalahnya cuma dua bulan  sedangkan kampus harus praktikum enam bulan,” Aku memberi alasan yang logis. “Nanti dulu deh. Kamu cari yang lain kalo udah ketemu kasitahu Bapak, ‘’ telepon ditutup. Aku semakin resah. Dalam dua bulan ke depan aku akan menjalani praktikum. Begitu universitasku menyebutnya, dimana semua pelajar akan digembleng di perusahaan tertentu untuk mempraktekkan apa yang sudah mereka dapat selama tiga tahun menimba ilmu. Namun, hatiku belum tertambat pada satu pilihan. Mungkin sudah, tetapi ada keraguan di ujung sana. 
 ***
 20 Desember 2011 

 Malam ini aku akan terbang ke Turki sebelum akhirnya tiba di destinasi akhir, Tunisia. Jam menunjukkan sekitar pukul delapan malam. Airport tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang di terminal F. Koper besar, koper kecil, tas pinggang, backpack, jaket converse kesayangan, sudah siap menemani perjalanan panjang ini. Aku mengambil saputangan dari kantong untuk mengelap air yang keluar dari hidung. Ya, aku sedang pilek dan batuk tetapi apa pun yang terjadi harus berangkat menuju Afrika. Mataku memandang ke antrian yang sedikit di depan lalu ke Bapak dan Ibu yang sedang mengobrol di samping troli juga Dayi dan Angga yang berdiri di sekitar. Ah, aku harus meninggalkan mereka lagi untuk kesekian kalinya. Sedih. Seperti tidak pernah pergi saja, pikirku. 
Kudorong troli dan pembicaraan itu pun terhenti. Aku tersenyum, mengisyaratkan ini saatnya untuk peluk dan cium. Ya, aku selalu menantikan saat-saat ini, ketika mereka memberikan hal termanis untuk direkam dalam ingatan sebelum kembali pulang. Aku tidak ingin menjadikan ini momen melankolis tetapi memang seperti itu adanya. "Kak, hati-hati ya," Ibu menatapku. Aku memeluk tubuh kurusnya, erat. Bapak tersenyum dan aku menghamburkan tubuhku ke badan gempalnya. Aku tahu Bapak tidak pernah berkata banyak tetapi dengan pelukan ini kuharap beliau mengerti kalau pelukan juga sama dengan gambar. Ia berbicara lebih banyak dari kata-kata yang diucapkan sebelum pergi. Dayi dan Angga bergantian memeluk dan mencium pipi kiri-kananku. Mereka siap melepas elang ini mengembara dan bertualang ke negeri antah berantah. Dari jauh kulambaikan tangan , tanda perjumpaan enam bulan ke depan. 
Entah kenapa aku merasa canggung walaupun ini bukan pertama kali aku pergi sendiri dengan pesawat. Tetapi inilah pertama kalinya aku akan berada di pesawat selama dua belas jam lamanya, seorang diri.  Perjalananan ini akan membawaku bermil jauhnya dari Benua Asia tempat tinggalku, ke Benua Afrika.  Kutengok sekelilingku, cukup sepi, hanya ada beberapa orang di bangku depan dan belakang. Mungkin akan penuh setiba di Singapura nanti, pikirku. Aku mengambil tempat duduk favorit, di dekat jendela. Seketika terbayang kejadian tadi, ketika petugas Airlines menanyakan tiket kepulangan di counter check-in. Aku memang belum memastikan tanggal kembali ke Indonesia tetapi mereka tetap memaksaku membeli tiket pulang. Seketika aku panik dan berlari memanggil Bapak yang ada di luar. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bapak diharuskan membeli tiket pulang. Setelah melewati masa-masa tegang, akhirnya ada salah satu Mbak petugas yang berbaik hati membantu. Ia memberikan secarik kertas berisikan informasi ticket booking kepulangan untuk sekedar berjaga-jaga jika ditanya petugas imigrasi nanti. Lega rasanya. Kuharap tidak ada lagi hambatan yang kutemui setelah ini. Dan ditemani pemandangan indah di luar sana, aku pun terlelap.
Dua jam kemudian, pesawat mendarat di Singapura. Lama transit di Changi International Airport hanya empat puluh lima menit. Meskipun sudah pernah ke Singapura sebelumnya tetapi jalur yang kulalui adalah jalur darat Johor, Malaysia-Singapura. Jadilah ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Changi International Airport. Bandara ini mengingatkanku pada Kuala Lumpur International Airport karena ruangan yang cukup luas dan bersih. Aku pun bertanya-tanya kapan Bandara Soekarno-Hatta disulap menjadi bandara kelas internasional yang bisa membuat turis-turis berdecak kagum. Karena menurutku jika sampai di satu negara maka bandara adalah salah satu first impression dari negara tersebut. Lagipula, Pak Soekarno dan Hatta pasti akan sedih melihat bandara yang memakai nama Beliau, tidak dirawat dan dijaga sebagaimana mestinya.
Kerlap kerlip lampu malam itu seperti kunang-kunang yang berterbangan. Seakan menari menemani mereka yang pergi jauh. Indah, sungguh. Namun malam itu, tidak seperti malam-malam biasanya dimana aku dapat tidur nyenyak dengan posisi enak. Tanpa sadar setelah melahap makan malam aku pun terbangun dari tidur dan merasakan mulas di perut. Ya, aku pun mengeluarkan semua isi dalam perutku. Belum pernah sebelumnya aku naik pesawat lalu muntah dalam perjalanan. Mungkin karena aku tidak terbiasa dalam perjalanan panjang. Kalau ada mabuk darat berarti yang kualami adalah mabuk udara. Aku membuka TV untuk mengecek berapa lama lagi perjalanan akan berakhir dan menurut perkiraan dalam tiga jam pesawat akan mendarat di Istanbul. Kembali aku tidur dengan harap-harap cemas. 
 ***
21 Desember 2011

05.00 AM waktu Istanbul, Turki. Dingin menyelimuti tubuh. Angin berhembus kencang. Aku melihat ke bawah, shuffle train sudah menunggu. Kalau di  Kuala Lumpur International Airport, penumpang dapat menaiki aerotrain setelah sampai di dalam terminal. Kali ini di Ataturk Airport, Istanbul, sesampai kita keluar dari pesawat di bawah sudah tersedia shuffle train yang siap mengantar kita menuju terminal. Ataturk Airport, Istanbul adalah salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia. Aku segera mencari surau untuk menunaikan shalat subuh. Aku keluar menuju ruangan Transit Intenational Departure. "Burger King" Fast Food dengan burger dagingnya yang tampak lezat menyambut di hadapan. Ternyata harus naik lift menuju surau di lantai atas. Kubuka pintu surau, rasa hangat menerpa tubuh. Tempat wudlu dihiasi dengan keramik berwarna biru, cantik ditimpa sinar lampu yang terang. Aku segera mengambil mukena untuk shalat. Aneh, kain-kain ini berbeda dari yang biasa kupakai, seperti baju sehari-hari, warna warni. Dua orang di dalam surau tengah tidur, melihat mereka aku pun ikut mengantuk. Kuambil charge handphone, aku beristirahat sembari menunggu baterai handphone penuh.  
Aku berjalan keluar surau. Di koridor tergantung jam dinding besar, segera kuputar jam tangan untuk  menyamakan waktu Turki. Menurut informasi yang kubaca, ini hal pertama yang harus dilakukan ketika sampai airport, yaitu merubah jam sesuai waktu setempat untuk menghindari kesalahan waktu dan tertinggal pesawat. Di belakang jam nampak deretan manusia yang sedang tertidur lelap di atas kursi. Mereka pasti juga sedang menunggu waktu transit. Andai aku mempunyai visa Turki, pasti aku sedang berada di luar dan berfoto ria dibanding menjelajah airport yang kulakukan sekarang. Wow, airport ini benar-benar keren! Toko-toko di dalamnya seperti yang ada di dalam mall. Mewah, besar dan harganya pasti mahal. 
Di tengah hiruk pikuk suara gesekan koper, ketukan sepatu, tangisan bayi dan lapar yang mulai terasa, aku mencoba online dari laptop dan gagal. Syaratnya adalah harus mempunyai nomor Turki untuk bisa mengakses internet di sini. Mungkin itu salah satu alasan kenapa stop kontak menjadi barang langka. Sudah kukelilingi area ini tetapi tidak ada satupun stop kontak untuk mencharge laptop. Baiklah, aku akan duduk diam dan memperhatikan manusia di sekitar. Orang lalu lalang di hadapanku membawa koper dan barang. Mereka datang dari arah kiri, dandanan mereka menunjukkan mereka bukan orang Asia. Mungkin Eropa atau Turki, pastinya aku tidak melihat ada teman dari benua yang sama denganku. Persis di depan adalah supermarket yang penuh dengan barang dan pastinya, cemilan. Sempat terpikir untuk membeli tetapi ah tidak usah, aku juga bakal makan di pesawat nanti. Wanita di sebelahku tengah menggendong bayi yang menangis sedari tadi. Sepertinya aku harus pindah, aku tidak sanggup mendengar suara tangis itu.
Aku pun berjalan ke arah kiri dan kutemukan peta bandara yang terlukis di atas lantai. Peta itu begitu jelas menggambarkan detil setiap bagian di bandara. Jadi tidak perlu khawatir bakal tersesat di bandara sebesar ini. Banyak juga kursi yang tersedia untuk duduk atau tidur. Well, at least we have place to sleep for overnight flight. Aku duduk di seberang lelaki Eropa yang berbadan atletis dan berparas lumayan. Aku pun mencek jadwal penerbangan di papan besar dan belum tertulis nomor flightku di layar. Aku bertanya kepada salah satu staff yang lewat dan wanita itu bilang belum waktunya. Masih banyak waktu sebelum pukul 10.00, kupikir. Aku membunuh waktu dengan memfoto beberapa objek seperti telephone box warna merah yang bergaya jaman dahulu. Tidak peduli kalau aku dibilang norak karena ada juga turis yang jelas berfoto di depan telephone box itu. 
Tiba-tiba, aku merasa seperti berada dalam adegan film. Ketika orang hilir mudik di depanku, mereka berlalu bagaikan desing angin, dan aku masih di sini, duduk di atas kursi. Menunggu. Seperti ada kaca yang memisahkan aku dan mereka, dimana semua bergerak tapi aku tak bergeming sedikitpun. “Beep..beep..beep,” Aku meraih handphone dan melihat waktu yang tertera, 09:45. Aku berlari secepat mungkin. Tunisia, here I come.
  ***

See you next part,
Chandini

2 comments:

faiza said...

tunisia saat itu lg bergejolak ya..very nice post ka..
pengen baca part selanjutnya
:)

Ulka Chandini Pendit said...

iyaa za x) siap ikutin terus ya. thanksss! *)