23
Desember 2010
Sandwich Yassine. Restoran sandwich
di seberang apartemenku. Restoran ini mungil, hanya ada tiga meja bundar dan
kursi untuk duduk di dalamnya. Sang pelayan adalah seorang lelaki muda yang
memakai celemek dan topi putih. Matanya memperhatikan dua perempuan cantik di
depannya yang tengah memilih menu. Mungkin ia sedang menebak darimana kami
berasal. Marcella dengan lancar menyebutkan menu makan sore itu, “Escalope”.
Apakah itu? Sejenis selop? Oh pastinya bukan, aku bertanya-tanya dalam hati.
Kami pun duduk di salah satu kursi. Restoran ini lucu juga, walaupun
ukurannya kecil terdapat TV besar sebagai pemutar musik di sudut. Pembeli
dapat berjoget ria sambil menunggu makanan datang. Tidak lama, dua piring
dengan roti yang dibungkus kertas abu-abu sampai di depan meja. Aku melongok ke
dalam roti yang berbentuk lonjong, nampak kentang, tuna, buah zaitun dan sayuran.
Aku menggigitnya, keras. Bukan lunak seperti roti yang biasa kumakan. Aku juga
kesulitan memakannya karena cukup besar untuk masuk ke dalam mulut.
Berkali-kali isi sandiwch tumpah ke
piring, walau begitu aku terus melahapnya.
Marcella memesan coke sebagai
minuman. Aku memilih Jus d’orange alias orange juice,
sama seperti kemarin. Oh ya, aku lupa memberitahumu, kemarin aku berjumpa
dengan Wajih dan Yassine. Kalau Wajih kau pasti sudah tahu, bosku yang kujumpai
dua malam lalu. Yassine adalah teman Wajih, bosku juga. Bedanya Yassine
mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan di Tunisia. Sementara
Wajih fokus mencari klien di Libya. Jadi begini, kantorku adalah kantor yang
beroperasi di bidang perdagangan Tunisia-Libya. Yassine bilang, ada dua pria
lagi, satu yang mengurus keuangan dan satu lagi bos besar. Sebenarnya menurut
jadwal kampus, aku sudah harus bekerja mulai 20 Desember kemarin. Namun mereka
mengerti keadaanku, akhirnya disepakati aku bisa mulai bekerja Senin depan.
Karena kukira Wajih akan membawaku ke tempat jauh, jadilah aku mengenakan gaun
pink cantik dan sepatu manis. Ternyata kami hanya mengobrol di café belakang
rumah, tak apa. Kembali ke orange juice,
rasanya cukup pahit di café tersebut. Dan aku ingin mencobanya lagi di sini,
mungkin rasanya berubah menjadi lebih baik.
Restoran ini berjarak lima menit dari rumah, aku mengenakan pakaian semalam, sweater biru dan sepatu kesayangan. Marcella tampak sibuk dengan blackberry. Aku mengambil gambarnya yang tengah tertawa kecil sambil memainkan blackberry dan memegang roti. Wajahnya terlihat santai, berbeda dengan tadi yang agak tegas ketika bertanya apakah aku sudah siap pergi. “If you are late, I will go. I don’t care,”kata Marcella kepadaku yang baru selesai mandi. Aku segera bersiap, takut ia marah. Ternyata Marcella sangat terus terang, apa memang budaya negaranya? Entahlah. Memang harus diakui, aku ini lambat seperti siput. Baiklah, ini menjadi pertanda kalau aku harus menambah kecepatan gerakan. Ibu juga berpesan kalau aku tidak boleh lambat lagi. Ngomong-ngomong, aku belum membeli sandal untuk di rumah. Kaus kaki tebal adalah alas kakiku untuk berjalan-jalan di dalam rumah. Ada tiga macam jenisnya, warna hitam dengan motif polkadot, warna ungu bergambar beruang dan warna merah juga bermotif polkadot. Setiap aku melangkah, getaran dingin merasuk ke dalam tubuh karena lantai rumahku yang berubin. Andai lantai-lantai ini adalah lantai kayu seperti rumah di Jepang, pasti lebih hangat. Sekian untuk hari ini, ya. Besok sepertinya akan ada masak memasak, persiapan untuk satu pesta x) Sampai jumpa *)
Restoran ini berjarak lima menit dari rumah, aku mengenakan pakaian semalam, sweater biru dan sepatu kesayangan. Marcella tampak sibuk dengan blackberry. Aku mengambil gambarnya yang tengah tertawa kecil sambil memainkan blackberry dan memegang roti. Wajahnya terlihat santai, berbeda dengan tadi yang agak tegas ketika bertanya apakah aku sudah siap pergi. “If you are late, I will go. I don’t care,”kata Marcella kepadaku yang baru selesai mandi. Aku segera bersiap, takut ia marah. Ternyata Marcella sangat terus terang, apa memang budaya negaranya? Entahlah. Memang harus diakui, aku ini lambat seperti siput. Baiklah, ini menjadi pertanda kalau aku harus menambah kecepatan gerakan. Ibu juga berpesan kalau aku tidak boleh lambat lagi. Ngomong-ngomong, aku belum membeli sandal untuk di rumah. Kaus kaki tebal adalah alas kakiku untuk berjalan-jalan di dalam rumah. Ada tiga macam jenisnya, warna hitam dengan motif polkadot, warna ungu bergambar beruang dan warna merah juga bermotif polkadot. Setiap aku melangkah, getaran dingin merasuk ke dalam tubuh karena lantai rumahku yang berubin. Andai lantai-lantai ini adalah lantai kayu seperti rumah di Jepang, pasti lebih hangat. Sekian untuk hari ini, ya. Besok sepertinya akan ada masak memasak, persiapan untuk satu pesta x) Sampai jumpa *)
***
24
Desember 2010
Ah, harum sekali. Aroma
masakan memenuhi ruangan. Aku sudah
tidak sabar mencoba menu sajian dua teman baruku. Dari pojok dapur, aku memperhatikan
gerak gerik Paulina yang berdiri di depan kompor. Ia tengah memasak. Meski
tidak tahu apa nama masakannya, aku yakin pasti lezat. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Memang,
salah satu cara mengatasi rasa dingin adalah dengan memasak. Malam ini akan ada
pesta malam natal di rumah. Paulina dan Marcella memasak makanan khas negara
mereka. Bagaimana denganku? Aku membantu mereka menyiapkan pesta. Ya, mereka
mengerti ketika kubilang kalau aku bingung harus memasak apa untuk jamuan
spesial ini. Sebenarnya alasan utama adalah aku tidak pandai memasak. Nanti,
pasti kucari resep masakan Indonesia yang mudah dan meriah di internet. Biar
mereka juga bisa merasakan lezatnya masakanku, maksudnya masakan dari negara
asalku.
Daging segar yang akan
dicincang, sekeranjang sayuran, jagung, garam, bir, handphone, piring-piring,
semua berkumpul di atas meja. Dapur seperti kapal pecah dan aku sama sekali
tidak merasa terganggu. Bahan-bahan ini semua kami beli dua hari yang lalu.
Iya, aku lupa memberitahumu kalau aku sudah mengunjungi salah satu supermarket
terbesar di kota ini. Promogro, namanya. Seperti Carrefour, besar dan penuh
barang. Di pintu masuk kami bertemu dengan Olfa, salah satu anggota lembaga
pertukaran ini. Sepertinya ia bekerja di sini. Ini pertama kali aku berjumpa
dengannya, ia tampak ramah dan baik. Kami menjelajahi supermarket, ternyata
sayuran-sayuran di sini ukurannya tiga kali lipat lebih besar daripada di
kampungku. Cabai besar itu mencolok perhatian, berwarna hijau. Bukan, ini bukan
cabe rawit, aku mencoba mencari nama yang tepat. Paprika, ya, ukurannya sebesar
wortel sedang kalau di Indonesia. Selain itu, kubis di sini pun berwarna ungu,
tertulis “Choux Rouge” di papan nama. Wah aku baru tahu kalau kubis ternyata
mempunyai warna selain putih dan hijau. Aku tersenyum memandangi sayuran
tersebut. Paulina membeli setengah kilogram keju, aku melihat keju yang
bersinar-sinar di tangannya. Keju adalah salah satu makanan kesukaanku. Di sini
ada beragam jenis keju, dari yang kecil, besar, warna putih, kuning, dan
lainnya. Sepertinya aku akan memenuhi perutku dengan keju-keju menarik ini.
Aduh, aku jadi lapar mengingat hal tersebut.
“Paulina, have you finished?
I’m hungry. Do we have something to eat?” mataku mencari makanan di sekitar.
Tiba-tiba segerombolan lelaki datang, mereka adalah panitia lembaga pertukaran.
Mohammed dan Ayoub mengecek sejauh mana persiapan malam natal ini. “Oh, guys,
could you buy me onions? And Ulka also need something.”, Paulina bertanya
kepada mereka yang sedang melihat isi dapur. “Alright, and Ulka?”, kata Ayoub.
“Yes, something to eat, anything.”, kataku meringis. “Okay, we will be right
back,” Mohammed menganggukan kepala. Paulina dan Marcella bergerak cepat
memindahkan bahan-bahan ke atas wajan. “I just realize that our food is the
same, full of onions,” kata Paulina kepada Marcella yang tengah memotong
daging. “Yaa, it is similar. And, Ulka, I will cook rice as the menu,” Marcella
menaikkan alisnya. “What kind of rice?” aku bertanya balik penuh antusias. “You
will see, the one that My mom usually prepare, kind of family food,” Marcella
tersenyum. Akhirnya makananku datang, aku tidak tahu apa namanya. Sepiring
makanan dengan tuna, telur, buah zaitun, bawang. Ah, rasanya aku tidak ingin
memakannya. Tidak ada pilihan lain, terkena serangan maag atau menyantap
makanan aneh ini. Aku memilih nomor dua. Seiring dengan larutnya malam, masakan
spesial pun siap. Ada enam jenis dan aku sudah tidak sabar untuk menghabisinya.
Kami memindahkan meja dapur ke ruangan besar. Ruangan besar ini multi fungsi
bisa dipakai untuk tidur, pesta, bercengkrama, apa saja. Kasur-kasur digeser ke
kiri dan kanan. Aku membantu membawakan piring, sendok, garpu dan gelas. Dengan
gaun pink cantik kesayangan, aku siap bersenang-senang malam ini.
Ini pesta natal pertama
dalam hidupku.Ya, aku merayakan idul fitri dan itulah kenapa aku sangat
bersemangat untuk pesta kali ini. Sebelumnya aku pernah datang ke rumah saudara
yang merayakan natal, kami disuguhi berbagai macam makanan. Lalu mengobrol
sampai tidak terasa lapar kembali menghampiri. Pesta kali ini pasti berbeda,
aku tidak sabar memulainya. Datanglah seorang lelaki berpakaian garis-garis
horizontal biru dan hitam. Paulina menyapanya ramah, lalu bersenda gurau
bersama. Aku tidak tahu siapa dia. Ketika aku menaruh piring-piring di ruang
besar, ia bertanya, “Hey Ulka, how are you?” Aku terkejut. Karena tidak
menyangka ada dia di dalam sini. “Fine, thanks. And you?” Aku membalas dengan
senyum. “I heard you were sick before so you cancel the flight,” katanya lagi.
“Oh yeah, now I am fine.” Jawabku. Ia memperkenalkan diri, namanya Tarekh.
Salah satu anggota executive board di lembaga pertukaran ini. Lelaki ini tampak
supel dan pandai bergaul.
Dengan datangnya Ayoub
dan Mohammed, pesta pun dimulai. Aku duduk di pojokan, di antara Marcella dan
Ayoub. Sebelum menyantap sajian makanan, kami berfoto ria bersama. Lalu dengan
segera aku mengambil Colombian Rice, masakan Marcella. Aku ingin mencoba
bagaimana rasanya masakan ini. Oh ya, total menu yang ada di atas meja ada
tujuh jenis, Bunuelos, Colombian Rice,
roti baquette, jelly dengan pisang dan kue, kroket, Ryba Po Grecku (makanan asli Polandia) dan cracker.
Ini seperti surga dengan makanan-makanan lezat. Satu botol red wine menghiasi
meja, aku memperhatikan minuman alkohol itu. Setiap orang mendapat jatah satu
gelas kecil untuk minum berwarna merah ini. Aku tidak pernah minum alkohol,
sama sekali. Mendadak aku merasa tidak nyaman di ruangan ini, satu persatu
mereka menuangkan minuman merah itu ke gelas. Ayoub memperhatikan aku yang
sedari tadi sok sibuk dengan nasi Kolombia.
“Ulka, you don’t want to drink?”
“No.”
“Why? You never drink
before?”
“Yeah. Never.”
“Try this.”
“Oh, no, thanks.”
“No, it’s okay. After
this, wash all your body from head to toe and you can pray again.”
“Really?”
“Yeah, sure.”
Aku menatap gelas kecil
itu dengan ragu. Isinya seperempat dari gelas, merah merona. Tanpa pikir
panjang, aku meneguk minuman tersebut. Rasanya, pahit. Benar-benar pahit. Aku
meletakkan gelas itu kembali. Ayoub sedang berbicara dengan Fateh yang ada di
seberang. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku berpikir apakah Ayoub dapat
benar dipercaya? Dia bilang aku bisa shalat setelah mencuci seluruh badan,
artinya mandi besar. Apa benar? Jujur, aku tidak begitu tahu teori dalam Islam.
Ya, aku memang menjalani shalat lima waktu dan puasa tetapi mengenai teori, aku
benar-benar dangkal. Pesta semakin memanas dengan kehadiran Wassim dan
kawan-kawan. Aku baru kenal dengan Wassim di sini. Tinggi, kurus, bad boy, itu kesan pertamaku tentangnya. Namun aku suka dengan gayanya yang
cenderung cuek. Mereka mulai meneriakkan suara untuk berdansa. Marcella dan
Tarekh maju sebagai pasangan dansa pertama. Lalu datang Iskandar, salah satu
alumni lembaga ini, yang ternyata juga cukup akrab dengan dua housemate-ku. Giliran Paulina yang
berdansa bersama dengan Iskandar. Musik memenuhi isi ruang, bergetar dan
berjoget bersama dengan kami.
Aku hanya duduk tertawa
menonton mereka di lantai dansa. Perutku juga sudah kenyang, tak sanggup lagi
menampung. Gelas anggurku juga masih terisi penuh. Mereka mengajakku untuk
menari tetapi aku menolak. Malu. Buatku kalau jamuan makan di rumah itu
ya..duduk, mengobrol, bersenda gurau, tertawa terbahak-bahak, foto, itu saja.
Tidak ada kamus untuk berdansa. Memang, setiap negara mempunyai ciri khas yang
berbeda. Banyak orang baru yang kukenal malam ini. Ada satu lelaki yang
memiliki selaput pelangi mata yang unik. Berwarna hijau terang, seperti es,
namanya Firaz. Lalu banyak lelaki lain yang tak kukenal namanya. Ini seperti
pesta terbuka, setiap orang membawa minimal satu kawan untuk hadir. Malam
semakin larut, tertinggal Wassim, Ayoub dan Firaz, juga kami bertiga. Musik
diberhentikan, kabarnya tetangga kami tidak suka akan suara berisik tadi.
Anehnya, ia menuduh kami yang membuang botol anggur ke bawah. Padahal, Ayoub
bilang semua botol anggur masih lengkap. Tidak ada satu pun yang dibuang.
Ada-ada saja, pikirku.
“Ting, tong,” Bel
berdentang. Marcella membukakan pintu dan masuklah tiga orang ke ruangan. “Hey
Guys, sorry we are late,” kata perempuan berambut sedang dan berkulit putih. “It
is okay, you are welcome, “ jawab Marcella. Mereka mengambil tempat duduk di
depanku. Perempuan satunya, berbadan tinggi, berkuncir satu, juga berkulit
putih. Lelaki di sampingnya berkulit cokelat, seperti orang Tunisia. Mereka
adalah Britanny dari US, Angie dari Canada dan kekasih Angie yang tak kutahu
namanya. Britanny memandang ke arahku, sepertinya ia tahu kalau aku adalah
orang baru di sini. Kami mengobrol-ngobrol, ternyata sebelumnya, Britanny juga
tinggal di rumah ini. Karena jarak tempat kerjanya yang jauh, ia pindah ke
rumah bos yang lebih dekat dengan sekolah tempat ia mengajar. Lalu, pertanyaan
itu pun kembali muncul. Seperti tebak-tebak buah manggis, Britanny dan Angie
mencoba menebak darimana aku berasal.
“Hi, i
think i know where you from. Wait.”
“Is she from Vietnam?”
“Nooo.”
“Ha, from Malaysia?”
“Yeah, i’m studying there but i’m from Indonesia.”
“Great!”
“Is she from Vietnam?”
“Nooo.”
“Ha, from Malaysia?”
“Yeah, i’m studying there but i’m from Indonesia.”
“Great!”
Ternyata mereka tidak
jauh beda dengan lelaki di dalam van yang kujumpai di hari pertama. Setelah,
Korea, Jepang, Cina, Vietnam, mungkin esok akan ada yang bertanya apakah aku
dari negara Laos? Aku tertawa dalam hati. Apa kulitku sudah berubah menjadi
lebih putih? Ternyata beberapa hari di Afrika justru membuatku tampak lebih
putih bukanlah hitam. Kata-kata “tampak lebih” ini harus digarisbawahi karena
mungkin kalau di negaraku, aku sama saja, sawo matang. Ah, malam ini cukup
menyenangkan. Oh ya, tadi kami bertemu dengan Nidhal, dan dia mengajak aku juga
Marcella untuk jalan-jalan ke Kerkenna. Satu pulau kecil yang indah, letaknya
tidak jauh dari Sfax. Yes, akhirnya aku akan jalan-jalan! Senangnya! x) Sekarang,
saatnya tidur. Tetapi..kenapa ini? perasaanku tidak enak. Ada hal yang
mengganggu di kepala. Sudahlah. Sampai besok x)
***
To be continued…
Chandini
2 comments:
pait ya itu wine? heran..kenapa ada yang suka minuman pait,,
ulka mabok nggak?hahaha
hahaha secara aku cuma minum seteguk dua teguk gak za.. emang aneh ya.. mereka suka minum katanya buat ngangetin badan kalo winter zzz hehe
Post a Comment