22 July 2012

#17. Catatan Harian Tunisia (Part 3)

23 Desember 2010

Sandwich Yassine. Restoran sandwich di seberang apartemenku. Restoran ini mungil, hanya ada tiga meja bundar dan kursi untuk duduk di dalamnya. Sang pelayan adalah seorang lelaki muda yang memakai celemek dan topi putih. Matanya memperhatikan dua perempuan cantik di depannya yang tengah memilih menu. Mungkin ia sedang menebak darimana kami berasal. Marcella dengan lancar menyebutkan menu makan sore itu, “Escalope”. Apakah itu? Sejenis selop? Oh pastinya bukan, aku bertanya-tanya dalam hati. Kami pun  duduk di salah satu kursi. Restoran ini lucu juga, walaupun ukurannya kecil terdapat  TV besar sebagai pemutar musik di sudut. Pembeli dapat berjoget ria sambil menunggu makanan datang. Tidak lama, dua piring dengan roti yang dibungkus kertas abu-abu sampai di depan meja. Aku melongok ke dalam roti yang berbentuk lonjong, nampak kentang, tuna, buah zaitun dan sayuran. Aku menggigitnya, keras. Bukan lunak seperti roti yang biasa kumakan. Aku juga kesulitan memakannya karena cukup besar untuk masuk ke dalam mulut. Berkali-kali isi sandiwch tumpah ke piring, walau begitu aku terus melahapnya. 

Marcella memesan coke sebagai minuman. Aku memilih Jus d’orange alias orange juice, sama seperti kemarin. Oh ya, aku lupa memberitahumu, kemarin aku berjumpa dengan Wajih dan Yassine. Kalau Wajih kau pasti sudah tahu, bosku yang kujumpai dua malam lalu. Yassine adalah teman Wajih, bosku juga. Bedanya Yassine mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan di Tunisia. Sementara Wajih fokus mencari klien di Libya. Jadi begini, kantorku adalah kantor yang beroperasi di bidang perdagangan Tunisia-Libya. Yassine bilang, ada dua pria lagi, satu yang mengurus keuangan dan satu lagi bos besar. Sebenarnya menurut jadwal kampus, aku sudah harus bekerja mulai 20 Desember kemarin. Namun mereka mengerti keadaanku, akhirnya disepakati aku bisa mulai bekerja Senin depan. Karena kukira Wajih akan membawaku ke tempat jauh, jadilah aku mengenakan gaun pink cantik dan sepatu manis. Ternyata kami hanya mengobrol di café belakang rumah, tak apa. Kembali ke orange juice, rasanya cukup pahit di café tersebut. Dan aku ingin mencobanya lagi di sini, mungkin rasanya berubah menjadi lebih baik. 


Restoran ini berjarak lima menit dari rumah, aku mengenakan pakaian semalam, sweater biru dan sepatu kesayangan. Marcella tampak sibuk dengan blackberry. Aku mengambil gambarnya yang tengah tertawa kecil sambil memainkan blackberry dan memegang roti. Wajahnya terlihat santai,  berbeda dengan tadi yang agak tegas ketika bertanya apakah aku sudah siap pergi.  “If you are late, I will go. I don’t care,”kata Marcella kepadaku yang baru selesai mandi. Aku segera bersiap, takut ia marah. Ternyata Marcella sangat terus terang, apa memang budaya negaranya? Entahlah. Memang harus diakui, aku ini lambat seperti siput. Baiklah, ini menjadi pertanda kalau aku harus menambah kecepatan gerakan. Ibu juga berpesan kalau aku tidak boleh lambat lagi. Ngomong-ngomong, aku belum membeli sandal untuk di rumah. Kaus kaki tebal adalah alas kakiku untuk berjalan-jalan di dalam rumah. Ada tiga macam jenisnya, warna hitam dengan motif polkadot, warna ungu bergambar beruang dan warna merah juga bermotif polkadot.  Setiap aku melangkah, getaran dingin merasuk ke dalam tubuh karena lantai rumahku yang berubin.  Andai lantai-lantai ini adalah lantai kayu seperti rumah di Jepang, pasti lebih hangat. Sekian untuk hari ini, ya. Besok sepertinya akan ada masak memasak, persiapan untuk satu pesta x) Sampai jumpa *)

***



24 Desember 2010

Ah, harum sekali. Aroma masakan memenuhi ruangan.  Aku sudah tidak sabar mencoba menu sajian dua teman baruku. Dari pojok dapur, aku memperhatikan gerak gerik Paulina yang berdiri di depan kompor. Ia tengah memasak. Meski tidak tahu apa nama masakannya, aku yakin pasti lezat.  Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Memang, salah satu cara mengatasi rasa dingin adalah dengan memasak. Malam ini akan ada pesta malam natal di rumah. Paulina dan Marcella memasak makanan khas negara mereka. Bagaimana denganku? Aku membantu mereka menyiapkan pesta. Ya, mereka mengerti ketika kubilang kalau aku bingung harus memasak apa untuk jamuan spesial ini. Sebenarnya alasan utama adalah aku tidak pandai memasak. Nanti, pasti kucari resep masakan Indonesia yang mudah dan meriah di internet. Biar mereka juga bisa merasakan lezatnya masakanku, maksudnya masakan dari negara asalku. 

Daging segar yang akan dicincang, sekeranjang sayuran, jagung, garam, bir, handphone, piring-piring, semua berkumpul di atas meja. Dapur seperti kapal pecah dan aku sama sekali tidak merasa terganggu. Bahan-bahan ini semua kami beli dua hari yang lalu. Iya, aku lupa memberitahumu kalau aku sudah mengunjungi salah satu supermarket terbesar di kota ini. Promogro, namanya. Seperti Carrefour, besar dan penuh barang. Di pintu masuk kami bertemu dengan Olfa, salah satu anggota lembaga pertukaran ini. Sepertinya ia bekerja di sini. Ini pertama kali aku berjumpa dengannya, ia tampak ramah dan baik. Kami menjelajahi supermarket, ternyata sayuran-sayuran di sini ukurannya tiga kali lipat lebih besar daripada di kampungku. Cabai besar itu mencolok perhatian, berwarna hijau. Bukan, ini bukan cabe rawit, aku mencoba mencari nama yang tepat. Paprika, ya, ukurannya sebesar wortel sedang kalau di Indonesia. Selain itu, kubis di sini pun berwarna ungu, tertulis “Choux Rouge” di papan nama. Wah aku baru tahu kalau kubis ternyata mempunyai warna selain putih dan hijau. Aku tersenyum memandangi sayuran tersebut. Paulina membeli setengah kilogram keju, aku melihat keju yang bersinar-sinar di tangannya. Keju adalah salah satu makanan kesukaanku. Di sini ada beragam jenis keju, dari yang kecil, besar, warna putih, kuning, dan lainnya. Sepertinya aku akan memenuhi perutku dengan keju-keju menarik ini. Aduh, aku jadi lapar mengingat hal tersebut.

“Paulina, have you finished? I’m hungry. Do we have something to eat?” mataku mencari makanan di sekitar. Tiba-tiba segerombolan lelaki datang, mereka adalah panitia lembaga pertukaran. Mohammed dan Ayoub mengecek sejauh mana persiapan malam natal ini. “Oh, guys, could you buy me onions? And Ulka also need something.”, Paulina bertanya kepada mereka yang sedang melihat isi dapur. “Alright, and Ulka?”, kata Ayoub. “Yes, something to eat, anything.”, kataku meringis. “Okay, we will be right back,” Mohammed menganggukan kepala. Paulina dan Marcella bergerak cepat memindahkan bahan-bahan ke atas wajan. “I just realize that our food is the same, full of onions,” kata Paulina kepada Marcella yang tengah memotong daging. “Yaa, it is similar. And, Ulka, I will cook rice as the menu,” Marcella menaikkan alisnya. “What kind of rice?” aku bertanya balik penuh antusias. “You will see, the one that My mom usually prepare, kind of family food,” Marcella tersenyum. Akhirnya makananku datang, aku tidak tahu apa namanya. Sepiring makanan dengan tuna, telur, buah zaitun, bawang. Ah, rasanya aku tidak ingin memakannya. Tidak ada pilihan lain, terkena serangan maag atau menyantap makanan aneh ini. Aku memilih nomor dua. Seiring dengan larutnya malam, masakan spesial pun siap. Ada enam jenis dan aku sudah tidak sabar untuk menghabisinya. Kami memindahkan meja dapur ke ruangan besar. Ruangan besar ini multi fungsi bisa dipakai untuk tidur, pesta, bercengkrama, apa saja. Kasur-kasur digeser ke kiri dan kanan. Aku membantu membawakan piring, sendok, garpu dan gelas. Dengan gaun pink cantik kesayangan, aku siap bersenang-senang malam ini.

Ini pesta natal pertama dalam hidupku.Ya, aku merayakan idul fitri dan itulah kenapa aku sangat bersemangat untuk pesta kali ini. Sebelumnya aku pernah datang ke rumah saudara yang merayakan natal, kami disuguhi berbagai macam makanan. Lalu mengobrol sampai tidak terasa lapar kembali menghampiri. Pesta kali ini pasti berbeda, aku tidak sabar memulainya. Datanglah seorang lelaki berpakaian garis-garis horizontal biru dan hitam. Paulina menyapanya ramah, lalu bersenda gurau bersama. Aku tidak tahu siapa dia. Ketika aku menaruh piring-piring di ruang besar, ia bertanya, “Hey Ulka, how are you?” Aku terkejut. Karena tidak menyangka ada dia di dalam sini. “Fine, thanks. And you?” Aku membalas dengan senyum. “I heard you were sick before so you cancel the flight,” katanya lagi. “Oh yeah, now I am fine.” Jawabku. Ia memperkenalkan diri, namanya Tarekh. Salah satu anggota executive board di lembaga pertukaran ini. Lelaki ini tampak supel dan pandai bergaul.

Dengan datangnya Ayoub dan Mohammed, pesta pun dimulai. Aku duduk di pojokan, di antara Marcella dan Ayoub. Sebelum menyantap sajian makanan, kami berfoto ria bersama. Lalu dengan segera aku mengambil Colombian Rice, masakan Marcella. Aku ingin mencoba bagaimana rasanya masakan ini. Oh ya, total menu yang ada di atas meja ada tujuh jenis, Bunuelos, Colombian Rice, roti baquette, jelly dengan pisang dan kue, kroket, Ryba Po Grecku (makanan asli Polandia) dan cracker. Ini seperti surga dengan makanan-makanan lezat. Satu botol red wine menghiasi meja, aku memperhatikan minuman alkohol itu. Setiap orang mendapat jatah satu gelas kecil untuk minum berwarna merah ini. Aku tidak pernah minum alkohol, sama sekali. Mendadak aku merasa tidak nyaman di ruangan ini, satu persatu mereka menuangkan minuman merah itu ke gelas. Ayoub memperhatikan aku yang sedari tadi sok sibuk dengan nasi Kolombia.

“Ulka, you don’t want to drink?”
“No.”
“Why? You never drink before?”
“Yeah. Never.”
“Try this.”
“Oh, no, thanks.”
“No, it’s okay. After this, wash all your body from head to toe and you can pray again.”
“Really?”
“Yeah, sure.”

Aku menatap gelas kecil itu dengan ragu. Isinya seperempat dari gelas, merah merona. Tanpa pikir panjang, aku meneguk minuman tersebut. Rasanya, pahit. Benar-benar pahit. Aku meletakkan gelas itu kembali. Ayoub sedang berbicara dengan Fateh yang ada di seberang. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku berpikir apakah Ayoub dapat benar dipercaya? Dia bilang aku bisa shalat setelah mencuci seluruh badan, artinya mandi besar. Apa benar? Jujur, aku tidak begitu tahu teori dalam Islam. Ya, aku memang menjalani shalat lima waktu dan puasa tetapi mengenai teori, aku benar-benar dangkal. Pesta semakin memanas dengan kehadiran Wassim dan kawan-kawan. Aku baru kenal dengan Wassim di sini. Tinggi, kurus, bad boy, itu kesan pertamaku tentangnya. Namun aku suka dengan gayanya yang cenderung cuek. Mereka mulai meneriakkan suara untuk berdansa. Marcella dan Tarekh maju sebagai pasangan dansa pertama. Lalu datang Iskandar, salah satu alumni lembaga ini, yang ternyata juga cukup akrab dengan dua housemate-ku. Giliran Paulina yang berdansa bersama dengan Iskandar. Musik memenuhi isi ruang, bergetar dan berjoget bersama dengan kami.

Aku hanya duduk tertawa menonton mereka di lantai dansa. Perutku juga sudah kenyang, tak sanggup lagi menampung. Gelas anggurku juga masih terisi penuh. Mereka mengajakku untuk menari tetapi aku menolak. Malu. Buatku kalau jamuan makan di rumah itu ya..duduk, mengobrol, bersenda gurau, tertawa terbahak-bahak, foto, itu saja. Tidak ada kamus untuk berdansa. Memang, setiap negara mempunyai ciri khas yang berbeda. Banyak orang baru yang kukenal malam ini. Ada satu lelaki yang memiliki selaput pelangi mata yang unik. Berwarna hijau terang, seperti es, namanya Firaz. Lalu banyak lelaki lain yang tak kukenal namanya. Ini seperti pesta terbuka, setiap orang membawa minimal satu kawan untuk hadir. Malam semakin larut, tertinggal Wassim, Ayoub dan Firaz, juga kami bertiga. Musik diberhentikan, kabarnya tetangga kami tidak suka akan suara berisik tadi. Anehnya, ia menuduh kami yang membuang botol anggur ke bawah. Padahal, Ayoub bilang semua botol anggur masih lengkap. Tidak ada satu pun yang dibuang. Ada-ada saja, pikirku.

“Ting, tong,” Bel berdentang. Marcella membukakan pintu dan masuklah tiga orang ke ruangan. “Hey Guys, sorry we are late,” kata perempuan berambut sedang dan berkulit putih. “It is okay, you are welcome, “ jawab Marcella. Mereka mengambil tempat duduk di depanku. Perempuan satunya, berbadan tinggi, berkuncir satu, juga berkulit putih. Lelaki di sampingnya berkulit cokelat, seperti orang Tunisia. Mereka adalah Britanny dari US, Angie dari Canada dan kekasih Angie yang tak kutahu namanya. Britanny memandang ke arahku, sepertinya ia tahu kalau aku adalah orang baru di sini. Kami mengobrol-ngobrol, ternyata sebelumnya, Britanny juga tinggal di rumah ini. Karena jarak tempat kerjanya yang jauh, ia pindah ke rumah bos yang lebih dekat dengan sekolah tempat ia mengajar. Lalu, pertanyaan itu pun kembali muncul. Seperti tebak-tebak buah manggis, Britanny dan Angie mencoba menebak darimana aku berasal.

“Hi, i think i know where you from. Wait.”
“Is she from Vietnam?”
“Nooo.”
“Ha, from Malaysia?”
“Yeah, i’m studying there but i’m from Indonesia.”
“Great!”

Ternyata mereka tidak jauh beda dengan lelaki di dalam van yang kujumpai di hari pertama. Setelah, Korea, Jepang, Cina, Vietnam, mungkin esok akan ada yang bertanya apakah aku dari negara Laos? Aku tertawa dalam hati. Apa kulitku sudah berubah menjadi lebih putih? Ternyata beberapa hari di Afrika justru membuatku tampak lebih putih bukanlah hitam. Kata-kata “tampak lebih” ini harus digarisbawahi karena mungkin kalau di negaraku, aku sama saja, sawo matang. Ah, malam ini cukup menyenangkan. Oh ya, tadi kami bertemu dengan Nidhal, dan dia mengajak aku juga Marcella untuk jalan-jalan ke Kerkenna. Satu pulau kecil yang indah, letaknya tidak jauh dari Sfax. Yes, akhirnya aku akan jalan-jalan! Senangnya! x) Sekarang, saatnya tidur. Tetapi..kenapa ini? perasaanku tidak enak. Ada hal yang mengganggu di kepala. Sudahlah. Sampai besok x)


                                                                                   ***


To be continued…
Chandini






2 comments:

faizah said...

pait ya itu wine? heran..kenapa ada yang suka minuman pait,,

ulka mabok nggak?hahaha

Ulka Chandini Pendit said...

hahaha secara aku cuma minum seteguk dua teguk gak za.. emang aneh ya.. mereka suka minum katanya buat ngangetin badan kalo winter zzz hehe