Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Namun di
tengah dirimu yang menunggu, banyak hal yang bisa kau nikmati. Mobil-mobil yang
berseliweran, matahari yang kian memanas, burung-burung yang tak lagi hinggap.
Mobil-mobil itu ada yang mewah, ada yang biasa saja. Ada yang berwarna hitam,
putih atau warna warni. Mereka semua pergi menuju tujuan masing-masing. Ada
yang menyapamu dengan gurauan dan ada yang tersenyum simpul. Bahkan ada yang menyalamimu dengan
skill bermotor yang ia punya. Bermacam-macam jenisnya. Mata mereka
memandang ke arahmu, wanita yang tengah menunggu di halte bis bernama Harapan. Namun, adakalanya
kau tahu bahwa kau sudah letih menunggu. Bahwa bis mungkin tak akan
datang, dan kau akan terduduk terdiam. Bahwa kau telah menunggu dengan sia-sia.
***
Dan ada sepasang pasangan India di belakangku. Mereka bercinta dan aku terpana. Lalu seorang kakek menyebrang jalan. Tidak, dia tidak menaiki jembatan. Dia melangkahi besi, menduduki lebih tepatnya. Aku baru tahu kalau ada sekolah India di dekat sini. Uncle benar, namanya Kemanting. Ia membacanya Kemunting. Anak-anak itu sungguh bahagia dan ceria. Kulit mereka gelap, tertempa sinar matahari. Namun gigi-gigi itu putih,bersinar terang. Mereka tertawa dan aku memandangnya, ikut tertawa Seorang kakek berlalu dengan sepeda ontelnya. Dia menatapku tersenyum, "Si Gadis Penunggu," katanya.
***
Langit itu biru. Kelapa sawit itu hijau. Mereka berbaris manis di rerumputan. Seperti awan yang berarak rapih di angkasa. Mobil-mobil itu berlalu cepat seperti deru mesin tembak yang melanglang buana. Aku ingin terus menulis..menulis dan menulis tetapi aku tak tahu apa yang harus kutulis. Aku ingin membunuh kebosanan ini. Kesendirian ini. Apa yang harus kulakukan? Dunia, beritahu aku!!
***
No comments:
Post a Comment