31 Januari 2011
Malam ini kami pergi ke rumah Wissem. Ia sudah berjanji semalam akan membawa kami ke rumahnya. Sesampai di rumah, kami disambut dengan sekumpulan keluarga yang tengah menonton televisi. Tawa-tawa anak kecil itu mengingatkanku pada adikku. Aku merindukannya. Adikku, Angga dan Dayi, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Adik perempuan Wissem menghampiri abangnya dan mereka berbicara sesuatu. Wissem segera membawa kami ke kamarnya. Kamar Wissem terletak di dekat ruang tengah. Kamar yang cukup rapih untuk ukuran lelaki. Wissem membicarakan mengenai kamarnya yang dulu sempat ditempati salah satu trainee. Selama berbulan-bulan, trainee yang berasal dari Turki itu menempati kamar Wissem. Aku sebenarnya tidak mengerti apa maksud Wissem menyatakan hal itu kepada kami. Lalu, adik perempuan Wissem mengetuk pintu dan membawa senampan sajian untuk kami. Itu adalah teh. Teh yang ada di dalam gelas ukuran kecil, berukuran setengah jengkal jari. Kecil. Sekali. Mungkin ini adalah gelas khas Tunisia untuk menjamu tamu. Teh yang disuguhkan adalah teh biasa, thé normal yang biasa aku minum di Baroque Cafe.
Tidak lama kami pun keluar untuk makan malam. Aku tidak dapat menahan diriku untuk memfoto keceriaan tawa adik-adik Wissem. Ayah Wissem sedang menikmati shisha sambil menemani anak-anaknya menonton. Ibu Wissem berjalan dengan memakai tongkat penyangga. Aku tidak tahu sakit apa yang diderita Beliau namun aku sangat sedih melihatnya. Ibu Wissem segera pergi ke dapur melihat kami yang menuju arah dapur. Ternyata Ibu Wissem belum selesai memasak. Malam itu, Ibu Wissem akan memasak "Rouz Djerbi" makanan yang biasa disajikan orang Tunisia kepada tamu. Sembari itu, kami menonton televisi dan melihat revolusi yang terjadi di Egypt. Kami bertanya-tanya mengenai nasib Isabella. Tiba-tiba Wissem berseloroh, "Isabella is a revolution girl! She went to Tunisia and we had revolution. Now she is in Egypt and that made Egypt had revolution too!" Hahaha. Kami tertawa. Masakan itu pun selesai. Ya, akhirnya aku makan nasi. Aku tidak menyangka kalau yang dimasak oleh Ibu Wissem adalah nasi. "Rouz Djerbi" adalah makanan dengan nasi dan lauk daging di dalamnya seperti ayam, udang juga sayuran. Kami memamakannya dengan lahap.
Setelah kenyang, kami berpamitan dan sebelumnya, aku berfoto dulu dengan keluarga Wissem. Bukan apa-apa, mereka tidak berbicara dengan kami karena mereka tidak pandai berbahasa Inggris. Kami pun tidak bisa berbahasa Perancis, kecuali Paulina. Aku iseng-iseng menanyakan kabar mereka, "Comment ca va?" Salah satu Ibu menjawab "Ca va..ca va bien ..merci. Comment tu t'appelle?" Aku sempat bingung tidak tahu harus menjawab apa. "Oh ya..Je M'appelle Ulka." Tawa pun pecah di ruangan karena aku yang terbata-bata mengucapkan bahasa Perancis. Aku sempat berfoto dengan keluarga Wissem dan setelah itu kami pun pulang.
1 Februari 2011
Terjadi kerusuhan di depan rumahku. Sore itu, aku sedang online di chat box Radio PPI Dunia dan tiba-tiba aku mendengar suara deru motor yang membahana. Lalu sudah banyak orang berkumpul di bawah, tepat persis di depan rumahku. Orang-orang itu bertengkar, aku tidak tahu apa yang mereka seterukan. Tidak lama, terdengar letusan seperti suara bom meletus. Bom! Meledak! Aku segera mencari-cari Marcella dan Paulina. Mereka bilang tidak apa. Aku kembali diingatkan akan revolusi, momen-momen menegangkan itu. Sepertinya, negeri ini tidak akan pernah lepas dari revolusi. Hidupku tidak akan pernah tenang di Tunisia.
Sampai Jumpa,
Chandini
Chandini
No comments:
Post a Comment