25 Januari 2011
Aku kembali bekerja. Entah, aku tidak rindu-rindu amat dengan perusahaanku. Yassine hanya bertanya pertanyaan basa-basi yaitu kemana aku selama revolusi. Sepertinya ia tidak begitu khawatir padaku. Mungkin karena ia tahu selama revolusi aku berada di rumah Duta Besar Indonesia. Perusahaanku, tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Mulai dari perabotannya hingga tata letak kursi. Mungkin yang berubah hanyalah persepsi dan pandangan orang tentang perusahaan ini. Yassine bilang, semua baik-baik saja. Kantor sudah kembali beroperasi sejak minggu lalu. Hanya memang, kita harus cepat sebelum perusahaan ini bangkrut. Ekonomi di Tunisia sedang jatuh dikarenakan revolusi masih membara. Aku pun mengatup mulut dan segera kembali ke laptopku. Yassine juga bilang, orang-orang yang berdemonstrasi itu dikarenakan mereka menuntut untuk pembersihan orang-orang di dalam pemerintahan. Mereka tidak mau orang yang mendukung pemerintahan Ben Ali dulu ikut masuk dalam pemerintahan sekarang.
Selebihnya, aku hanya sibuk di Buku Muka. Atau merutuki kenapa di Tunisia tidak ada konser musik seperti Jakarta yang sedang heboh didatangi musisi-musisi internasional papan atas. Atau aku hanya sibuk membolak-balik halaman travel di kompas.com. Sungguh senang, pekerjaan tidak terasa membosankan.
Seperti biasa, aku pun pulang dengan total lama perjalanan 45 menit dari kantor menuju rumah.
26 Januari 2011
Kami berjanji untuk bertemu Douha setelah pulang kerja. Aku dan Paulina bertemu di pintu Medina. Kamu masih ingat kan Medina yang aku kunjungi dengan Isa? Ya, tempat yang sama. Douha membawa kami ke satu cafe di roof top. Sungguh indah. Dari atas kita bisa melihat pemandangan seluruh Kota Sfax. Aku memperhatikan bangunan putih di depanku. Bentuknya rapih seperti bangunan kantor pemerintahan dengan banyak jendela dan terlalu biasa saja. Namun, tetap menarik. Di sebelahnya ada pertokoan, aku bisa melihatnya dari banyak orang yang berjualan. Paulina, Marcella dan Douha sedang asik mengobrol di seberang sana. Mereka juga menyantap teh hangat. Sebenarnya cafe ini biasa saja, yang membuatnya luar biasa adalah unsur tradisional yang ia punya. Bayangkan, cafe ini tidak beratapkan genteng melainkan hanya kumpulan kayu-kayu yang bersatu menutupi besi yang merupakan tiang untuk tempat kami duduk. Jadi kami hanya dilindungi tiang dari besi. Lalu tempat duduknya juga biasa saja, tradisional sekali. Hanya meja dan kursi berwarna biru yang diselingi warna putih. Ditambah di atas meja ada taplak meja berunsur Tunisia dengan garis horizontal merah dan putih. Yang paling unggul dari cafe ini adalah letaknya yang di atas bangunan. Orang-orang ke sini biasanya untuk mengobrol santai. Kami pun mengobrol tentang revolusi Tunisia. Douha sepertinya pintar politik. Ia cukup fasih membicarakan nama-nama yang ada di revolusi Tunisia. Karena angin kencang, kami pun memutuskan untuk pulang. Douha ikut pulang bersama kami.
Ketika sampai di rumah, keadaan sudah ramai. Banyak panitia lembaga pertukaran di sana. Lalu Douha pergi ke kamarku karena ia malas bertemu dengan salah satu panitia di ruang besar. Tiba-tiba, ia melihat botol wine yang dipakai untuk tempat lilin di atas balkon jendela dan berseru "Ulka, how can you pray here?" "Oh yes, why?" Aku melihat botol wine di tangan Douha "Of course, because of this!" Douha pun membuang botol itu. Oh ya, aku tidak tahu kalau selama ini botol wine itu bisa membuat solatku menjadi tidak sah. Kukira botol itu sudah beralih fungsi sejadi-jadinya menjadi tempat lilin.
Hari ini tidak begitu spesial. Biasa saja.
See ya!
♥
Chandini
No comments:
Post a Comment