29 Januari 2011
Sore ini kami akan pergi ke Gabes. Aku dan Paulina sedang bersiap-siap. Marcella masih berkutat dengan makan siangnya di dapur dan sembari itu Fateh, anggota lembaga pertukaran yang sering main ke rumah, berkata bahwa kalau ada apa-apa hubungi ia saja karena dulu ia sering pergi mengunjungi mantan kekasihnya yang ada di Gabes. Marcella pun pergi ke kamar. Ketika kami semua tengah menyiapkan barang-barang kami, Fateh tertawa melihat tulisan di kaos yang aku kenakan. "I love Thailand because somebody in Thailand loves me". "Ulka, i can't imagine, you are from Indonesia, studies in Malaysia and you love Thailand!", Fateh tertawa. Aku pun meringis. Setelahnya, kami berlalu pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada Fateh.
Perjalanan di looage cukup menyenangkan. Aku dan Marcella berfoto-foto. Tidak lama, kami pun sampai di Gabes. Hanya dua jam perjalanan dari Sfax menuju Gabes. Sesampai di sana, tidak ada siapa-siapa, maksudku orang yang bertugas menjemput kami. Marcella bilang Eduardo akan sampai dalam beberapa menit. Sembari menunggu, aku memperhatikan keadaan sekitar. Sesaat setelah turun dari looage tadi, hanya ada taksi, looage dan kendaraan umum lainnya, tidak ada stasiun di sini. Sepertinya Gabes adalah kota yang lebih kecil dari Sfax, pikirku.
Lalu, Eduardo pun datang dengan mobilnya. Kami semua langsung masuk ke dalam mobil sedan tersebut. Sungguh letih. Eduardo langsung menyapa, "How's life?" Aku tertawa mendengarnya. Dengan pekerjaan menumpuk, apa yang harus kujawab? Aku diam saja. Eduardo membawa kami ke satu kedai kecil. Ia ingin beli air minum dahulu, rupanya. Ia berkata, "Un minito" . Marcella tertawa lalu menjelaskan kepada aku dan Paulina bahwa Eduardo bilang "Satu menit." Well, ia berbicara dalam bahasa spanyol. Sepertinya aku harus siap-siap mendengar pembicaraan dalam bahasa Spanyol di mobil ini. Kemudian, kami pun sampai di rumah Eduardo. Aku sangat surprise melihatnya. Eduardo mendapatkan semua yang orang-orang inginkan. Tempat ini bukan rumah melainkan apartemen. Besar. Mewah. Luas. Bahkan ia juga mempunyai balkon yang menghadap langsung ke pantai. This is amazing! Mulutku terkatup memandang indahnya pantai. Sebenarnya tidak indah-indah amat, hanya aku yang rindu pantai. Aku pun sibuk memfoto pemandangan pantai dengan rumah di sekelilingnya.
I think everybody is busy. Aku pergi ke dapur dan melihat Paulina yang sedang memotong-motong daging. Aku ingin membantu Paulina tetapi melihat ia yang tengah khusyuk, aku takut malah jadi menganggunya. Aku memutuskan untuk melihat isi lemari Eduardo. Wah, ada Milo! Milo, susu favoritku itu! Wah, darimana ia mendapatkannya? Setahuku Milo tidak diproduksi di Tunisia. "Ulka, i bought it in Italy," Eduardo melihatku tatapan mataku yang berbinar-binar memandang kaleng susu tersebut.
"Great! Can i open it?"
"Sure."
Aku berlari mengambil gelas dan menuangkan bubuk susu cokelat tersebut. Ini pasti sangat lezat. Aku membayangkan kalau Milo ini sudah masak, aku akan meminumnya sampai tetes terakhir. Kawan, aku bukan berlebihan. Hal ini wajar karena asal kamu tahu sewaktu aku di rumah dan pindah kuliah pun aku tetap minum Milo setiap hari. Seperti ada yang hilang kalau tidak meminumnya barang sehari saja. "You know, in my country, i can buy it anytime i want," Kataku sambil meneguk Milo-ku yang sudah masak. "In Indonesia? Oh ya, you know, Ulka, i have a good friend from Indonesia."
"Really?"
"Yeah. He is a really really good friend."
How did you meet him?
"During my master in Paris. "
"So, you have to come to Indonesia!"
Aku menyuruh Eduardo untuk datang ke Indonesia karena ia mempunyai Sahabat yang berasal dari Indonesia. Sebelum pesta dimulai, kawan Eduardo datang, namanya Pierre. Ia membawa satu botol alkohol yang berasal dari Perancis. Oh ya, malam itu kami pesta alkohol. Aku tidak minum hanya kalap memfoto cover art dari minuman-minuman tersebut. Ada Havana Club, wine yang aku tidak tahu namanya, beer dari Perancis dan yang sangat tidak disangka-sangka adalah Zubrowka dari Polandia. Vodka ini terkenal karena lidi dari banteng yang terdapat di dalam botolnya. Eduardo langsung memanggil Paulina untuk memperlihatkan vodka ini. Paulina cukup kaget begitu tahu vodka dari negaranya ada di sini. Seperti yang bisa kamu tebak, aku menghabiskan malam itu dengan minuman. Ya, minuman yang aku buat sendiri. Aku tidak mau diejek anak cupu atau chicken karena aku tidak bisa minum. Akhirnya, kamu tahu apa yang aku buat? Aku membuat ramuan sendiri. Aku mencampur coca cola, sprite dan boga menjadi satu. Entah apa kata mereka, yang penting aku mempunyai minumanku sendiri.
I think everybody is busy. Aku pergi ke dapur dan melihat Paulina yang sedang memotong-motong daging. Aku ingin membantu Paulina tetapi melihat ia yang tengah khusyuk, aku takut malah jadi menganggunya. Aku memutuskan untuk melihat isi lemari Eduardo. Wah, ada Milo! Milo, susu favoritku itu! Wah, darimana ia mendapatkannya? Setahuku Milo tidak diproduksi di Tunisia. "Ulka, i bought it in Italy," Eduardo melihatku tatapan mataku yang berbinar-binar memandang kaleng susu tersebut.
"Great! Can i open it?"
"Sure."
Aku berlari mengambil gelas dan menuangkan bubuk susu cokelat tersebut. Ini pasti sangat lezat. Aku membayangkan kalau Milo ini sudah masak, aku akan meminumnya sampai tetes terakhir. Kawan, aku bukan berlebihan. Hal ini wajar karena asal kamu tahu sewaktu aku di rumah dan pindah kuliah pun aku tetap minum Milo setiap hari. Seperti ada yang hilang kalau tidak meminumnya barang sehari saja. "You know, in my country, i can buy it anytime i want," Kataku sambil meneguk Milo-ku yang sudah masak. "In Indonesia? Oh ya, you know, Ulka, i have a good friend from Indonesia."
"Really?"
"Yeah. He is a really really good friend."
How did you meet him?
"During my master in Paris. "
"So, you have to come to Indonesia!"
Aku menyuruh Eduardo untuk datang ke Indonesia karena ia mempunyai Sahabat yang berasal dari Indonesia. Sebelum pesta dimulai, kawan Eduardo datang, namanya Pierre. Ia membawa satu botol alkohol yang berasal dari Perancis. Oh ya, malam itu kami pesta alkohol. Aku tidak minum hanya kalap memfoto cover art dari minuman-minuman tersebut. Ada Havana Club, wine yang aku tidak tahu namanya, beer dari Perancis dan yang sangat tidak disangka-sangka adalah Zubrowka dari Polandia. Vodka ini terkenal karena lidi dari banteng yang terdapat di dalam botolnya. Eduardo langsung memanggil Paulina untuk memperlihatkan vodka ini. Paulina cukup kaget begitu tahu vodka dari negaranya ada di sini. Seperti yang bisa kamu tebak, aku menghabiskan malam itu dengan minuman. Ya, minuman yang aku buat sendiri. Aku tidak mau diejek anak cupu atau chicken karena aku tidak bisa minum. Akhirnya, kamu tahu apa yang aku buat? Aku membuat ramuan sendiri. Aku mencampur coca cola, sprite dan boga menjadi satu. Entah apa kata mereka, yang penting aku mempunyai minumanku sendiri.
Kami semua sedang berkumpul di luar ketika aku sedang menggunakan kamar mandi untuk beberapa waktu. Aku pun kembali dan melihat kumpulan daging sosis di atas meja. Tanpa pikir panjang, aku segera memakannya. Ketika aku bilang pada mereka ini enak, mereka tertawa. "Why you guys are laughing?" aku bingung. Akhirnya Eduardo menyatakan kalau sosis itu berasal dari daging babi. Kontan, aku tidak jadi tertawa. Mulutku terkatup. Sosis itu tampak enak sekali. Aku harus mewaspadai makanan yang ada di rumah ini. Minuman pun dibuka, saatnya pesta dimulai. Aku spontan langsung mengambil minumanku yang ada di dalam. Aku takut sekali gelasku tertukar dan aku pun menaruhnya di ujung. Malam itu sungguh indah. Kami bernyanyi dan berdansa bersama. Aku berdansa dengan Pierre. Oh ya, kalau kamu mau tahu Pierre berasal dari Amiens, Perancis. Ya, teman Eduardo memang banyak dari negeri Perancis karena perusahaan tempat ia bekerja adalah berpusat di Paris, Perancis. Tadi pun Eduardo sempat bilang bahwa ia mempunyai teman Perancis yang beristri orang Indonesia. Sayang, istri kawannya itu sedang sakit jadi mereka tidak bisa datang ke party.
Well, kalau kamu mau bayangkan, Kami duduk di meja yang menghadap ke balkon. Musik yang diputar berasal dari ruang tamu Eduardo yang bersebelahan dengan balkon. Ada jendela sebagai penghubungnya. Ketika Shakira beryanyi, "Waka-waka", kami pun segera naik ke atas keramik kursi dan beryanyi lagu world cup itu. Frase "It's time for Africa" kami nyanyikan kuat-kuat karena kami merasa beruntung berada di sini. Aku berdansa malam itu. Meski aku tidak percaya diri karena aku memang tidak pernah berdansa sebelum ini. Aku pun berdandan ala anak breakdance dengan jacket dan sepatu converse. Aku naikkan hoody-ku dan hal itu menarik perhatian Matthew, salah satu teman Eduardo. Oh ya, ada tiga orang teman Eduardo yang ikut berpesta bersama kami. Pierre, Matthew dan Thibau, ketiga orang tersebut berasal dari Perancis. Matthewlah yang paling menarik perhatian dari ketiganya. Dari awal ia datang, aku memekik dalam hati, "Lucu sekali!" Ya, cute, karena memang tidak ganteng tetapi menarik. Ia memperhatikanku karena aku memang tidak bisa berdansa dan aku tidak minum. "Where is your glass?" Matthew bertanya. Aku tidak mau menjawab kalau aku tidak boleh minum,"Yeah, i'm done," kataku. Semoga ia mengerti maksudnya kalau aku memang sudah selesai minum, begitu kira-kira. Matthew pun malu untuk bertanya.
Aku melanjutkan dansaku dengan Pierre. Aku sebenarnya gelagapan berdansa dengannya. Aku tidak tahu maksud Pierre mengapa ia ingin berdansa denganku. Bahkan ia sempat mengangkat tinggi-tinggi badanku. Eduardo juga berdansa dengan Marcella. Ia memegang pinggang Marcella erat-erat. Dansa di Colombia adalah hal biasa, pastinya. Teman-teman Eduardo pun menyoraki Marcella dan Eduardo yang tengah berdansa. Eduardo berkata sesuatu dalam bahasa Perancis kepada teman-temannya sembari berdansa dengan Marcella. Aku tidak tahu apa yang ia katakan. Sebelum pesta berakhir, Matthew mengobrol dengan kami lebih tepatnya Paulina. Ia bertanya nama Paulina, "What is your name?" Aku bingung. Paulina pun menjawab bahwa nama lengkapnya adalah Paulina Jurkowska. Matthew dengan senyum menjawab, "Okay, it will be a test for tomorrow." Aku semakin tidak mengerti. Aku mencoba mengerti maksudnya dan mengambil kesimpulan karena mereka mabuk pasti mereka akan lupa hal semalam itulah kenapa nama itu dijadikan tes untuk siapa yang masih bisa mengingatnya.
Sesudah itu, aku pun meneguk "ramuan terakhirku" dan duduk di sofa. Aku ingin online dengan Febrian. Once, aku muncul di messenger, aku langsung menceritakan semuanya kepada Febrian. Ia pun memarahiku. Ia bilang aku sudah berubah. Ia bertanya aku minum apa dan berdansa dengan siapa. Aku lelah. Febrian selalu seperti ini. Ia tidak pernah mengerti kondisiku. Ia tetap mengulang-ulang, ia bilang dulu aku tidak pernah minum dan pesta. Aku tidak pernah sebrutal ini. Aku pun menjelaskan kalau aku tidak punya pilihan. Mereka adalah satu-satunya teman yang aku punya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Selama aku tidak minum alkohol, menurutku itu sah-sah saja. Lagipula Allah juga pasti mengerti, kalau aku hanya melakukan hal ini selama aku di Tunisia. Tidak mungkin kan, semua temanku berpesta dan aku hanya seorang diri di kamar. Mereka pasti bingung dan menanyakan apa yang tengah terjadi denganku.
Sesudah itu, aku pun meneguk "ramuan terakhirku" dan duduk di sofa. Aku ingin online dengan Febrian. Once, aku muncul di messenger, aku langsung menceritakan semuanya kepada Febrian. Ia pun memarahiku. Ia bilang aku sudah berubah. Ia bertanya aku minum apa dan berdansa dengan siapa. Aku lelah. Febrian selalu seperti ini. Ia tidak pernah mengerti kondisiku. Ia tetap mengulang-ulang, ia bilang dulu aku tidak pernah minum dan pesta. Aku tidak pernah sebrutal ini. Aku pun menjelaskan kalau aku tidak punya pilihan. Mereka adalah satu-satunya teman yang aku punya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Selama aku tidak minum alkohol, menurutku itu sah-sah saja. Lagipula Allah juga pasti mengerti, kalau aku hanya melakukan hal ini selama aku di Tunisia. Tidak mungkin kan, semua temanku berpesta dan aku hanya seorang diri di kamar. Mereka pasti bingung dan menanyakan apa yang tengah terjadi denganku.
Semoga Febrian mengerti. Kepalaku pusing. Perutku pun sakit. Apakah karena "ramuan" itu ya?
30 Januari 2011
Aku bangun paling awal. Rumah Eduardo berantakan seperti kapal pecah. Sampah bekas minuman dan makanan tersebar di seluruh ruangan. Di dalam dan di luar rumah. Aku menuju keluar dan melihat pemandangan yang sama persis sebelum aku meninggalkan tempat itu semalam. Tentunya lebih banyak sampah karena pesta sudah selesai. Kalau kau melihat rumah setelah party seperti yang ada di film-film, ya itulah rumah Eduardo sekarang. Aku membereskan sampah -sampah yang ada di dalam dan luar rumah. Di luar cukup dingin, wajar, masih jam delapan pagi. Apalagi rumah Eduardo terletak di tepi pantai. Tidak lama, Marcella dan Eduardo pun bangun. Mereka ikut membantu membereskan sampah-sampah karena melihat tumpukan sampah yang begitu banyak. "When will the cleaning lady come?" tanya Marcella. "Maybe tomorrow," Eduardo menjawab sekenanya. Lalu, Marcella dan Eduardo pun memasak areepa, makanan khas Colombia. Menu makanan yang biasa disantap di pagi hari. It's a bacon. Aku tidak tahu apa itu bacon sampai Eduardo bilang padaku kalau aku tidak bisa memakannya. Baiklah, aku akan sarapan omelet saja. Entah kenapa, pembicaraan pun beralih ke hubunganku dengan orang-orang Indonesia. Marcella bilang, "Ulka, you are very close to them, right?" kata Marcella sambil mengaduk-aduk adonan areepa. Aku menjawab, "Yaa, they're like my family." Eduardo pun menyambung pembicaraan "Yes, when i was in Paris, Indonesians are close to each other. You have like..every two weeks an Indonesian event." Eduardo berbicara sambil mencolek-colek adonan susu areepa ke dalam mulutnya. Marcella pun memarahi dan mengambil jari telunjuk Eduardo dari panci. Aku lucu melihat mereka. Dan mereka berkata-kata dalam bahasa Spanyol.
Paulina bangun. Oh tidak, ia masih dalam suasana hang over. Paulina mabuk berat karena party semalam. Aku tidak tahu apa sebabnya tetapi ia masih mabuk sampai detik ini. Marcella memberikannya segelas coke dan itu tidak ampuh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Paulina. Namun, kami tidak bisa membuang-buang waktu. Kami akan segera pergi ke desert lalu pulang ke Sfax. Eduardo pun menyalakan mobilnya dan kami pergi menuju desert.
Di perjalanan, setiap lima belas menit, Paulina selalu bilang, "I'm afraid we should stop." Ia pun membuang dahaknya. Paulina berkata bahwa mabuk kali ini adalah mabuk terberat yang ia alami sejak malam tahun baru dua tahun yang lalu. She can't get over it. I can see it from her face. Badannya terlihat lemas dan ia selalu merasa mual. Oh ya, sepertinya suasana revolusi masih terasa, Eduardo diminta kartu pengenal di tengah jalan. Ada polisi yang menanyakan hal itu padanya. Eduardo sudah menyiapkan kartu identitas pekerja ia di Alstom Company. Ia pun lolos dari pemeriksaan. Kawan, suasana di sekitarku saat itu, hanyalah desert. Literally, desert. There's no house or even animal. Just desert. Sampailah kami di satu tempat, ada restoran dan tenda-tenda. Seperti tempat bersenang-senang di dekat gurun. Eduardo bilang, ini adalah tempat peminjaman motor cross. Kamu tahu kan, semacam mobil kecil yang bisa dipakai untuk berkeliling di gurun. Ya, mereka menyewakan alat itu. Aku tidak tahu berapa perj-amnya namun aku juga sedang tidak berminat karena suasana masih musim dingin.
Karena lapar, aku meminta Eduardo untuk membelikanku makanan. Sayangnya, restoran di siini sedang tidak menjual makanann, yang mereka jual hanya chips dan minuman. Bolehlah, chips untuk pengganjal. Eduardo membeli empat chips untuk kami. Ia berkata dalam Perancis,"Quatre..." Eduardo pandai berbahasa Perancis. Pantas, ia melanjutkan studi master di salah satu kota teromantis di dunia itu. Kami pun bersenda gurai sambil menikmati chips. Kami tertawa-tawa mencoa menghibur Paulina yang sedang hang over. Lalu Eduardo berkata, "It's like when i was trying my first alcohol at 18 years old. It was sucks ..but i want to have it more." Kami pun tertawa.
Perjalanan pulang ditutup dengan aku yang sangat ingin berfoto dengan unta. Ada unta di tengah jalan. Iya, di tengah gurun. Aku ingin sekali berfoto tetapi aku melihat unta itu sedang mengeluarkan air liur. Aku yang tadi ingin berfoto pun mengurungkan niatku. Eduardo pun menyetop mobil dan menyuruhku untuk berfoto. Aku turun tetapi aku tidak berani mendekat kepada unta tersebut. Akhirnya aku mencoba memberanikan diri dan mengambil posisi di sebelah unta. Klik! Marcella pun mengambil fotoku.
Malamnya, kami sampai di rumah. Ada Wissem dan Nizar di ruang besar. Marcella bilang kalau kami habis saja party di rumah teman kami. Wissem kaget ketika ia tahu kalau aku minum alkohol. Ia pun bertanya, "Ulka, you had party? Was it amazing? Don't forget to wash your hair and body." "Yeah, it was amazing!" Aku tersenyum-senyum dan pergi berlari. Wissem tidak tahu kalau aku minum ramuanku sendiri.
Marcella bilang kalau Eduardo menyukaiku. Ia bilang, "Ulka likes caricatura.." Caricatura adalah bahasa spanyol yang artinya tokoh kartun. Aku juga menyukai Eduardo. Ia adalah lelaki pertama yang membuatku senang di weekend-ku yang juga paling menyenangkan di Tunisia.
♥
Chandini
No comments:
Post a Comment