20 July 2012

#16. Catatan Harian Tunisia - Part 2

21 Desember 2010

Pesawat mendarat mulus di Tunis International Airport, Carthage, pukul 12:30 siang. Total lama perjalanan adalah empat belas setengah jam. Sepertinya kakiku akan patah sebentar lagi. Aku berjalan menyusuri koridor, mataku menerawang ke sekeliling. Semuanya begitu asing. Airport ini berbeda, tidak banyak orang lalu lalang. Sepi. Cat berwarna putih menghiasi sebagian besar airport. Tubuhku gemetar, menggigil.  Para petugas berpakaian hitam, berbadan besar dan tegap. Mereka jauh lebih tinggi dan kekar dibanding aku yang kecil dan tak berdaya. Sama seperti aku, airport ini pun mungil, lebih kecil dibandingkan airport-airport besar yang kusinggahi sebelumnya.

Aku terduduk di troli, di sampingku koper hilir mudik, hanya ada tiga tempat pengambilan koper di sini.  Sudah sekitar lima belas menit, belum juga kedua koperku  muncul, memanggil sang empunya setelah  mengapung berjam-jam di udara. Jantungku berdebar-debar, resah, gelisah. Bagaimana kalau mereka tersangkut di Turki? Apa mungkin petugas salah memindahkan bagasi penumpang? Teringat sewaktu  sampai di Kuala Lumpur, insiden salah memindahkan koper itu terjadi di maskapai penerbangan yang kami naiki, koper teman-temanku terbawa ke Bandung. Untungnya, aku termasuk salah seorang dengan koper yang selamat, tak kurang suatu apapun. Jangan sampai ini terjadi padaku sekarang. Aku komat-kamit berdoa di dalam hati.
Kuperhatikan manusia di sekitar, lagi-lagi orang Eropa, yang pasti wajah Asia tidak ada di sini. Ah, lelaki di depan itu, nampaknya seperti orang Indonesia. Wajahnya hitam kecoklatan, tingginya pun sedang, tasnya berwarna merah, tersemat lambang Garuda kecil di sana, apa dia orang Indonesia? Tak kusadari kedua koperku beriringan keluar, dengan sigap kunaikkan mereka ke atas troli. Kupandang lelaki tadi , kalau-kalau dia menengok ke arahku, kalau-kalau dia berasal dari tempat yang sama denganku. Sudahlah, aku pun beranjak pergi.

Petugas itu mengecek koper, ia melihat tulisan yuridtsi yang berarti transit dalam bahasa Turki. Visa Tunisia yang kubuat sementara dalam tiga bulan juga turut diperiksa dengan seksama. Akhirnya bagian imigrasi dapat kulewati dengan lancar bahkan mereka tidak menanyakan tanggal kepulangan. Dalam beberapa menit, aku sampai di luar. Banyak wajah bertengger di sana,  menunggu mereka yang keluar dari pintu tersebut. Sayangnya, aku bukan orang yang mereka cari. Tak seorangpun dari mereka mencoba bertanya apa aku orang yang mereka jemput. Papan nama itu bertuliskan nama-nama asing, yang pasti bukan namaku. Aku terdiam, kurasa lebih baik aku duduk di bangku itu.

Sudah satu jam aku bercokol di kursi tunggu. Melihat setiap pertemuan antara mereka dengan keluarga yang berpisah setelah sekian lama. Momen-momen haru itu terjadi tepat di depan mata. Tawa, tangis, peluk, menjadi satu bumbu kerinduan. Tak dapat kubayangkan ketika aku bertemu dengan keluargaku nanti. Aku melirik handphone, berpikir apa yang harus kulakukan. Bagaimana caranya aku menghubungi panitia lembaga pertukaran ini? Tidak ada nomor Tunisia, apa yang bisa kuperbuat? Aku pun pergi ke tempat penukaran uang. Uang-uang Dollar kutukar dengan mata uang Tunisia. Bapak petugas money changer ini cukup tua, Beliau melayaniku dengan cepat. Setelah urusan uang selesai, sekarang bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan orang yang bertugas menjemputku. Namanya Bilel, dalam email dia berkata akan siap menjemputku berapapun tanggalnya, karena sakit aku sempat mengundur keberangkatan. Bingung, tak ada satupun orang yang kukenal, bahkan aku juga tidak punya kontak Kedutaan Besar RI di Tunisia. Sial, malang sekali nasibku.

Aku mengelilingi airport, ternyata hanya ada satu coffee shop di bawah. Kaunter-kaunter banyak bertuliskan “Money Changer” selain beberapa travel agent. Ada satu toko yang memasang logo bergambar huruf O berwarna oranye dan bertuliskan “Orange”, apa itu? Logo itu juga menghias airport ini dimana-mana tetapi belum pernah kudengar namanya. Di ujung sana, samar-samar kulihat kaunter bertuliskan “Information”, sepertinya ini petunjuk baik. Aku menuju kaunter dan mengutarakan maksudku. Kunyatakan saja terus terang kalau aku minta tolong Mbak cantik ini menghubungi temanku, maksudnya Khadija, satu-satunya orang yang kutahu nomornya. Dengan bahasa inggris yang terbata-bata, Mbak tersebut mencoba menjawab pertanyaanku. Langsung ia meraih handphone dan memijit angka yang kusebutkan dalam bahasa Prancis. Aku ternyata cukup lancar menyebutkan angka-angka tadi, ah kebetulan saja. Beberapa menit kemudian, Mbak baik hati ini menggelengkan kepala dan menutup telepon. Tidak ada jawaban, begitu katanya. Aku makin hopeless, jangan-jangan malam ini, buruk-buruknya, aku harus bermalam di sini. Berbagai kemungkinan  mulai berkelebat di kepala, aku ngeri membayangkannya.  

Aku berjalan ke depan, sembari mengisi pikiran dengan hal positif.  Petugas security itu berdiri di dekat eskalator, bisa jadi orang ini adalah penolong nomor dua setelah Mbak tadi. Bisakah kupinjam handphone untuk menelpon Khadija, mungkin kali ini dia akan mengangkat telepon. Kuucapkan kata-kata kepadanya dan Beliau hanya tersenyum sambil mengucapkan kata “Excuse-moi”. Ternyata Beliau tak pandai bahasa inggris, sama sekali. Kata Excuse Moi itu terdengar seperti meminta maaf, aku mengira-ngira. Memang, aku belajar bahasa Prancis selama enam bulan di kampus, tapi benar-benar tidak cukup. Baru saja berbicara dengan Satpam tadi, aku gelagapan. Gawat. Kalau orang-orang ini hanya bisa bahasa Prancis dan Arab, bagaimana nasibku nanti. Kuputar troli menuju arah balik, orang-orang di coffee shop memandangiku aneh. Nampaknya mereka tahu kalau aku anak nyasar, tersesat, tidak diinginkan oleh sang penjemput. Sempat terlintas bagaimana kalau aku duduk di sana, berselancar di dunia maya sambil menyeruput kopi, seakan tubuhku yang letih menyetujui ide tersebut. Tetapi mata mereka begitu tajam, lekat. Aku terus berjalan, pura-pura tak acuh. 

Ah! Aku bisa menelpon Khadija dari situ! Telepon umum itu bersinar-sinar  di pojokan. Kalau dalam komik, di atas kepalaku muncul lampu terang berpendar-pendar, mataku membelalak, pertanda muncul ide brilian. Ini benar-benar suatu cahaya terang yang datang, aku bersemangat. Di dekatnya adalah kaunter “Information” tadi, sampai tak terlihat karena saking paniknya. Segera kumasukkan uang logam ke dalam lobang dan memencet nomor Khadija. “Tut..tut..tut..tut” begitu bunyi telepon. Tak tahu apa yang salah, kenapa tidak bisa tersambung? Kutengok orang sebelah yang sedang menelpon, berpikir untuk meminta bantuan. Namun, lelaki itu meletakkan gagang telepon dan berlalu cepat. Aku berpaling mencari sumber bantuan lain, yang nampak hanyalah Mbak cantik dan baik hati tadi, segan aku meminta tolong lagi. Oh, Mas cleaning service itu pasti mengerti, aku memanggilnya, lagi-lagi minta tolong. Koin yang kumasukkan salah, bukan itu, dia menyuruhku untuk menukar ke kaunter. Mbak tadi sudah hapal dengan wajahku, dia berkata sesuatu tentang koin yang kupunya. Aku tak mengerti maksudnya. Wajahnya yang cantik seperti malaikat berubah menjadi galak.   “What?” kataku bingung. “Give me your coin,” sembari mengambil koin-koinku. Lalu mengembalikan dengan beberapa koin, aku tidak mengerti bagaimana menghitungnya.  Kuserahkan saja semua yang ada di tanganku kepada cleaning service itu. Setelah memencet nomor dan mendengar bunyi tersambung, aku kecewa. Benar, Khadija tidak mengangkat telepon. Tamat riwayatku. Cleaning service tadi sudah pergi dengan ucapan terimakasih, pastinya dia mengerti kata “Thank You”. Kulihat Mbak cantik, baik hati dan galak itu  sedang berbicara di telepon.  Aku melengos pergi.

Termangu-mangu aku melihat kuitansi bertuliskan jumlah uang yang kutukar. Jumlahnya  cukup banyak sekitar hampir empat ratus dinar. Semoga cukup untuk bekal hidup selama sebulan. Tiba-tiba, seorang lelaki besar dan tinggi menghampiriku dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku bernapas lega. “Are you from Malaysia?”, tanya dia. “Yes, are you Bilel?”, aku hampir memekik kegirangan. “Yes, you are Ulka? Sorry i’m late.”, katanya lagi. “Huh, yeah it’s three o’clock and i was here since one,” aku merengut.  Seingatku, sudah kukirim email lengkap dengan itinerary flight. Harusnya dia tahu jam berapa stand by di airport, tidak molor sampai dua jam begini. Kami melangkah keluar dan Bilel bercerita kalau ia dan keluarga sedang berlibur di Tunis dan kembali ke Sfax setelah liburan usai. Hampir lupa, Kalian pasti penasaran akan pertanyaan pertama Bilel tentang negara asalku, aku mendaftar internship ini dari kampusku yang ada di Malaysia. Itulah sebabnya mereka tahu aku berasal dari sana. Padahal, aku adalah asli Indonesia yang kebetulan menimba ilmu di negeri tetangga. Sore itu cukup cerah dan pohon-pohon kelapa melambai dengan gemulainya tertiup angin. Tunis Carthage International Airport, aku memandang tulisan itu dari kejauhan, mencoba mematrinya sampai pulang nanti. Ingin aku berfoto untuk pertama kali tetapi Bilel agak terburu-buru kelihatannya. Nanti saja, masih ada waktu enam bulan, oh ya kurang satu hari. Karena hari ini, tepatnya tanggal dua puluh satu Desember aku menginjakkan kaki pertama kali di bumi Tunisia, Afrika Utara.
***

Bilel membawa koper merahku yang besar dan berlari dengan cepat. Sampai akhirnya di ujung jalan, ia menyetop taksi, karena warnanya kuning aku tahu itu taksi, dalam sekejap kami sudah di dalam mobil. Taksi mengantarkan kami ke suatu tempat, Bilel meminta uangku dan ia membayar kepada Pak sopir. Tempat apa ini? Ramai sekali. Banyak orang lalu lalang dan Bilel mengajakku masuk ke dalam. Wah, makin ramai, ada kedai makanan, loket pembelian karcis dan mobil-mobil di seberang. Huruf-huruf bahasa Arab itu tak mampu kuterjemahkan dalam bahasa ibu ataupun bahasa inggris. Heran, aku bisa membaca Al-Qur’an tetapi kenapa tidak bisa membaca maksud huruf-huruf ini? Apa yang beda, bukannya bahasa arab itu semua sama? “Hey, give me your money,” suara Bilel membuyarkan lamunanku. “How much?” aku sok mengerti uang dinar yang baru kupegang kurang dari empat jam. Tiket itu berharga empat belas dinar kurang sepuluh sen, aku tak ambil pusing langsung kumasukkan uang kembalian ke dompet.  Lalu Bilel mengantarku ke mobil, van lebih tepatnya, karena jumlah penumpang bisa mencapai sekitar sebelas orang. Dari dalam, kulihat Bilel sedang berbincang dengan Pak sopir, mungkin dia akan masuk ke dalam ketika van berangkat, pikirku. Tetapi, kenapa ini, Pak sopir bergerak masuk ke mobil dan Bilel tetap di tempat, melambaikan tangan.  “My friend will pick you up in Sfax. I have told the driver where you must stop. I can’t go with you because i have to stay here. Be careful,” pesan Bilel dari jendela kaca kepadaku. Di saat yang bersamaan, raut mukaku berubah. Kebingungan.
 Van ini menggayut-gayut di tengah jalanan. Muatannya penuh, tak tersisa satu tempat kosong pun. Kondisi van sendiri cukup terawat, setidaknya dapat dilihat sang majikan peduli padanya. Aku duduk di paling belakang, dekat jendela, di sebelah dua orang lelaki. Pria di sampingku sibuk membolak balik koran, kulirik sedikit koran itu dan semua berabjad arab, apa daya, aku tak lihat lebih jauh. Di balik koran berwarna itu, kulitnya gelap, hitam, jaketnya pun berwarna hitam, mungkin yang putih hanya giginya. Sebelahnya, lelaki berkulit lebih coklat duduk terdiam di pojokan. Di kursi kedua ada seorang Ibu yang juga sibuk menenangkan bayinya. Tangis bayi pecah, seakan tak mau kalah dengan terpaan angin ganas yang keluar lewat sela-sela jendela. Dingin. Aku merasa bulu kudukku berdiri, jaket tebalku tak mampu menahan suhu ini. Kuambil kain untuk menutupi kepala. Di balik kain hitam tipis ini, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan bukit nan hijau sepanjang perjalanan menjadi suatu hiburan tersendiri. Ternyata salah selama ini, kudengar Afrika itu penuh pasir, bebatuan, tak ada bibit-bibit hijau di sana. Memang tak semua daerah ditumbuhi pepohonan tapi persepsi Afrika yang muncul di kepalaku tak lagi sama bahwa ia juga dicintai oleh tumbuh-tumbuhan.
Aku masih asyik memandangi pemandangan baru tersebut. Tanpa sadar, lelaki di sebelah juga ikut memandangi sedari tadi. Sadar bahwa ada yang memperhatikan, aku memalingkan wajah. Ia tersenyum kecil, menundukkan kepala lalu bertanya satu hal yang membuat perutku terkocok. 

“Are you from China?

“No." 

“Korea?” 

“No.” 

“Japan?”

"No.” 

“So?”

“Indonesia.” 


Aku mengatupkan bibir dan menatapnya dalam. Kalau saja ia tahu bahwa kulit orang Cina tidak berwarna sawo matang seperti ini. Mataku memang sipit tetapi tidak sesipit mata mereka. Aneh. Bagaimana bisa dia menyangka aku ini berasal dari sana? Aku tergelak dalam hati. Lelaki itu mengucapkan kata “Ha..”, seakan dia akhirnya menyadari sesuatu. Lalu ia berkata dalam bahasa Prancis, menggerak-gerakkan tangannya, aku mencoba menganalisis. Sepertinya dia berkata kalau aku berasal dari tempat yang sangat jauh, aku mengangguk-angguk dan berkata “Ya..”  Ia juga bertanya apa aku menuju Sfax dan mengerti kalau aku tidak berbahasa Prancis. Sayang sekali, andai kami bisa saling mengerti satu sama lain, waktu panjang ini bisa terbunuh perlahan. Bosan.  Malam sudah menghampiri. Aku tak sabar untuk bertemu dengan teman-teman dan kasur tidur baru. Aku menguap, mataku berair. Dimana gerangan kota Sfax? 


Akhirnya kami berdua mengobrol. Ternyata lelaki ini mengambil jurusan hukum di salah satu universitas di Tunis. Ia berkunjung ke Sfax dalam rangka liburan mengunjungi keluarga. Bahasa inggrisnya cukup bagus walaupun tidak begitu fasih. Setidaknya ia mencoba untuk berbicara daripada tidak sama sekali. Justru aku yang sekarang sama sekali tidak tahu menahu dimana posisi keberadaanku. Malam semakin gelap. Aku bertanya kepadanya, dimana aku harus turun nanti. Lelaki itu setengah berteriak kepada Pak Supir di depan dan menunjuk-nunjuk diriku. Pak Supir lalu mengangguk-anggukan kepala sambil melayangkan kertas yang dipegangnya. Apa mungkin Bilel menulis alamat rumahku di sana? Lalu ia menelpon dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab. Aku bernapas lega ketika ia memberikan jempol kepadaku, tandanya semua baik-baik saja. Lelaki itu pun tersenyum, nampak giginya yang putih. Tidak lama kemudian, jendela kacaku diketuk. "That is your friend," kata lelaki tersebut. Aku beranjak keluar dari van. lalu melambaikan tangan sebagai ucapan terima kasih kepada supir dan lelaki yang tak kutahu namanya.
Mereka berdua mengambil koperku dan membawakannya. "Hey Ulka, i'm Ayoub," katanya yang membawa koper kecilku. Ayoub berbadan kurus dan tinggi. Sementara satunya membawakan koper besarku. Aku tidak tega melihat ia yang berbadan kurus dan kecil tetapi ia bilang tidak apa. Ayoub bertanya bagaimana perjalanan tadi dan aku menjawab bahwa aku melihat banyak pemandangan hijau. Kami menyeberang, kata mereka rumahku adalah bangunan berwarna hijau di seberang. Petugas keamanan tersenyum menyambut kedatangan kami. Tombol lift ditekan menuju lantai lima. Kami keluar dan menekan bel di pintu pertama sebelah kiri. "Helloooo...," seorang perempuan blonde membukakan pintu. "Hey girls! This is Ulka," kata Ayoub. "How are you dear?", ia menyalamiku dengan ramah. Aku mencoba mengingat siapa nama perempuan ini. "This is Paulina," Ayoub memperkenalkannya padaku. Oh ya, aku ingat sekarang, karena kami sudah berteman di Facebook sebelumnya. Aku mengontak mereka untuk menanyakan keadaan di sini. Memang wajahnya tidak berbeda sama sekali dari yang ada di foto. Matanya hijau, berambut pendek, Paulina berasal dari Polandia. Tiba-tiba seseorang muncul dari arah lain, "Hello dear..," perempuan ini mencium pipi kiri dan kananku. "Hey, how are you?" aku membalas seolah sudah kenal sebelumnya. Kalau yang tadi Paulina berarti perempuan ini adalah Marcella. Setahuku hanya ada dua orang yang tinggal di rumah. Marcella berasal dari Kolombia dan berkulit coklat, juga berhidung mancung.
Aku memutuskan untuk menaruh barang-barangku di kamar. Kamar di pojokan menjadi pilihanku karena kamar mereka sudah terisi dua orang. Tidak apa aku sendiri, lebih nyaman. "Do you want to take shower? Or dinner maybe?", Paulina mengenali wajahku yang capek dan letih. "Yeah, i think i'm hungry," sambil memegang perutku yang mengaduh. "Marcella is cooking something in the kitchen,"  Paulina menunjuk ke arah dapur. Ternyata Marcella memasak salad dengan tuna. Aku mencicipi dan rasanya tidak enak. Bawang bombay juga ikut mewarnai masakan tersebut. Entah, rasanya tidak pas di lidahku. Seperti pahit dicampur...ah aku tidak dapat mendefinisikannya. "I want to eat rice. Do you have rice here?", aku bertanya dengan muka memelas. "Okay, i will buy rice for you," kata lelaki bertubuh kecil. Tidak lama kemudian, nasi pesananku datang, dalam bentuk satu plastik beras berwarna coklat. Ini pertama kalinya aku memakan beras coklat, di Indonesia aku biasa memakan beras putih atau merah. Oke, tidak apa aku akan memakan apapun yang ada. Belum habis juga tantangan untuk makan malam pertamaku di Tunisia karena ternyata rumah ini tidak ada rice cooker. Satu-satunya cara adalah memasak nasi secara manual. Ini akan menjadi proses makan malam terlama dalam hidupku. "Don't worry, i can cook rice," Marcella tersenyum. Nampaknya ia tahu kalau aku tidak bisa memasak selain memasak air juga mie instan. Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya kuperoleh juga makan malamku. Nasi coklat yang menjadi putih ketika dimasak dan tentunya, salad tadi. Semoga rasa pahit itu akan berganti dengan manisnya nasi, aku berharap. 
Aku tengah menikmati makan malam sambil bersandar di atas kasur. Tiba-tiba ketukan sepatu menghampiri dan suara-suara mereka memenuhi ruangan, "Wajih..You are here!" Aku tidak beranjak melainkan terus menyuapi mulut sebagai bayaran kepada perut setelah seharian mengembara. Sampai akhirnya suara itu menyadarkanku, "Hello, Ulka. How are you?" Aku terdiam. Kaget. 
"Hey..hello..i'm fine." 
"How are you?"  
"Yaa, i'm good."
"How was the trip?"
"Tiring."
"Haha. Sure. Enjoy your dinner."

Aku sama sekali tidak tahu siapa dia. Seperti pernah melihat wajahnya tetapi entah dimana. Aku mencoba menekan tombol search di memori. Lelaki itu asik berbincang dengan Marcella di dapur. Dia terlihat sangat akrab dengan teman-teman baruku. Paulina masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas kasur. Aku memberanikan diri bertanya kepada Paulina tentang siapa lelaki ini. "Hey, is that your friend?", aku setengah berbisik. "Ha?", Paulina bingung. "Who is he?", Aku menunjuk ke arah di dapur. Seketika Paulina tertawa terbahak-bahak. Aku tidak mengerti apa yang terjadi.
"Wajih..she asks to me about you."
"Hahahaaha She doesn't know?"
"You should tell her, Wajih."

Dari balik dinding aku mencoba mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebentar, namanya Wajih, aku mencoba mencari lagi nama itu dalam ingatan.  Wajih terdengar hanya meringis geli. Marcella dan Paulina memaksanya untuk memberitahu identitas dirinya. Begitu istimewakah dia? Sampai-sampai mereka kaget dan ingin sekali aku mengetahui tentang lelaki ini. Tiba-tiba Marcella datang menghampiriku dan menyatakan sesuatu seperti bom yang berdentum di telinga, "Ulka, he is your boss." "Whaaaaaat?", aku berteriak dalam hati. Wajahku tersipu malu menatap Marcella. Oh ya, namanya Wajih Talik, aku ingat nama itu ada dalam surat  keterangan internship. Ia jugalah orang yang selama ini aku hubungi via email. Oh tidak, mimpi apa aku semalam, berjumpa dengan bos di malam pertama kedatangan. Sudah berpura-pura kenal tetapi ketahuan juga kalau aku memang tidak tahu siapa dia. Wajar, aku memang belum pernah berjumpa dengannya. Namun, ini sama sekali di luar bayanganku,  aku bertemu bos di rumah dengan baju santai. Bukan di kantor dengan setelan necis dan rapi. Pertanda apakah ini? Semoga pertanda baik. Malam itu kami menghabiskan waktu bersama, mengobrol dan bersenda gurau. Lalu aku pergi tidur dalam dinginnya Afrika. Hari yang sungguh melelahkan. Selamat malam, Tunisia. 
***

22 Desember 2010

Hari ini dingin. Memang tidak ada salju di sini tetapi dinginnya menusuk sampai ke tulang. Aku tidak melakukan apa-apa seharian. Hanya bersantai ria dengan kamar baru. Mengatur barang-barang, letak tempat tidur,    menata kamar. Senang rasanya mempunya kamar baru yang akan ditempati selama enam bulan ke depan. Semalam aku menemukan kamar ini cukup berantakan. Ada sepasang sepatu di bawah tempat tidur dan bertumpuk selimut. Tahu begini, aku tidak perlu membawa selimut Doraemonku ke sini. Tidak apa, ia sudah menjadi temanku selama tiga tahun di Malaysia. Karena tidak ada lemari, aku menaruh semua bajuku di atas tempat tidur yang beralaskan selimut. Sebagian kuletakkan di atas matras kecil di seberang tempat tidur. Di tengahnya adalah tempatku menunaikan salat. Oh ya, ada cerita lucu soal kiblat, yang menjadi patokan arah shalat. Semalam, aku bingung dimana kiblat dan aku bertanya pada Wajih, bosku. Setahuku is beragama islam dan seketika wajahnya pucat pasi. Ia juga bingung dimana arah kiblat dan ia pun menelpon seseorang. Mungkin teman, yang lebih mengerti tentang hal ini. Sesudahnya, Wajih memberitahuku bahwa arah kiblat adalah miring ke kanan dari seberang tempat tidur. Marcella dan Paulina tertawa melihat Wajih yang gelagapan dengan pertanyaan tersebut. 
Aku mengenakan baju pemberian Ninik, lebih tepat mungkin disebut sweater. "Pakai ini, di sana pasti dingin," kata Ninik sebelum aku pergi. Benar, sweater biru tua ini cukup menghangatkanku dari suhu dingin di dalam rumah. Tiga lapis selimut dan kaus kaki tebal juga ikut menjadi pasukan penghangat. Lucu juga, kalau dulu aku mengeluh karena terlalu panas, sekarang justru dingin yang menusuk. Suara angin mengetuk-ngetuk jendela, saatnya tidur. Selamat malam. x)


PS: Thank you for reading *)

See you again soon,
Chandini


2 comments:

faiza said...

masih ada part part berikutnya kan kaaa...can't hardly wait :)
asal jangan pake bahasa enggris aja part berikutnya
*nyari kamus

Ulka Chandini Pendit said...

hehe gapapa za sekalian latihan inggris xD Yoi..tariikkk teruussss! x))