Namanya Ikhlas,
Sosok asing yang tak kukenal sebelumnya.
Jilbabnya panjang dan hitam. Tertutup rapat hingga ke dahi, membuat matanya yang indah itu tersembunyi.
Namanya Ikhlas,
Al-Qur'an itu tak akan lepas dari genggamanmu.
Kepala itu menengadah, ke haribaan sang pencipta.
Mulut kecilmu mengucap lantunan doa nan syahdu.
Namanya Ikhlas,
Ia akan beranjak setiap shalat dua rakaat.
Mencari tempat kosong untuk diisi dengan sujud dan ruku'.
Namanya Ikhlas,
Aku baru saja mengenalnya.
Memperhatikan tawa dan senyumnya yang misterius juga mempesona.
Namanya Ikhlas,
Yang ternyata sangat menyukai manisnya bubur lambuk.
Penganan wajib berbuka puasa di masjid raya.
Namanya Ikhlas,
Ia tak akan pernah lepas dari ibadah.
Ia mengisi setiap jengkal ruang dengan dzikir dan doa.
Namanya Ikhlas,
Asalnya dari Palestina, negeri nun jauh di sana.
Yang penuh konflik dan potret ketidakadilan.
Namanya Ikhlas,
Akankah kau Sang penghuni surga?
Terima kasih, Ikhlas.
Sinar kesetiaanmu terpancar, sungguh terang, mengingatkan kami untuk selalu ikhlas bersujud di hadapan-NYA.
No comments:
Post a Comment