25 Desember 2010
Akhirnya
aku bisa berseluncur di dunia maya setelah tiga hari di sini. Baroque, café tempat aku tersambung
dengan kabel internet. Letaknya di belakang apartemen dan bisa ditempuh dalam
waktu sepuluh menit. Pagi tadi aku mengunjunginya karena bosan di rumah. Café
itu sepi ketika aku datang. Waktu menunjukkan pukul 11.00 dan aku memilih untuk
duduk di luar. Kupesan Sandwich au Jambon
sebagai penambah asupan makanan. Perutku belum puas kalau hanya diberi sarapan
orang bule yaitu semangkuk sereal, yoghurt juga susu. Lagipula, gambar sandwich itu tampak lezat di buku menu. Aku membuka laptop dan langsung
menuju Buku Muka. Tidak sabar rasanya mengetik status pertamaku di Tunisia.
Kawan-kawanku langsung mengomentari dan bertanya, “Bagaimana di sana?” Apa ada
salju?” Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Jawabanku selalu sama,
“Tidak ada salju tetapi sangat dingin dan tubuhmu akan serasa ditusuk-tusuk
kayu.” Tidak lama, sepiring sandwich datang
dengan senyuman hangat. Sang pelayan berkulit cokelat dan bermata teduh.
Mungkin ia adalah pelayan yang Marcella bilang sangat ramah dengan foreigner. Aku melanjutkan aktivitas online dengan perasaan senang. Jari jemariku bergerak
cepat membalas komen-komen di status. Sembari itu, aku memakan sandwich, roti panjang dengan daging asap juga selada dan tomat di dalamnya. Tiba-tiba handphone berbunyi, tertulis
nama “Yassine” di screen. Ia bilang
akan menjemputku sebentar lagi. Aku segera menutup laptop dan memanggil pelayan
tadi.
Ia
datang dengan membawa secarik kertas bertuliskan jumlah yang harus kubayar.
Jujur saja. aku belum paham dengan mata uang Dinar. Aku merogoh kocek di
kantong dan memperhatikan angka yang tertera, 4500. Andai jumlah ini dalam
rupiah, sayangnya bukan, khayalku. “How
much?” aku memastikan. “Quatre dinar
cinq cent,” jawab pelayan. “Err..”
. aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, seperti bahasa alien di telinga.
Suatu kepastian kalau aku harus mengulang kembali pelajaran Bahasa Perancis.
Aku menyerahkan beberapa keping logam bertuliskan satu dan seratus padanya. Ia
menggeleng dan meringis. “Quatre,”
jarinya menunjukkan angka empat. Koin yang ada di atas meja jumlahnya lebih
dari empat buah, belum cukupkah? Aku menggeser-geser koin tersebut dan sok
menghitung berapa jumlahnya. Lalu menyerahkan kembali kepada sang Pelayan. Ia
tersenyum kikuk dan menggaruk-garukkan kepala. Lagi-lagi ia menunjukkan angka
empat dengan jemari. “I don’t understand,
sorry.”, aku mengangkat bahu. Bola matanya yang tadi terlihat riang berubah
menjadi bingung. Kami seperti dalam adegan film komedi tentang dua orang asing yang
tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Aku tidak bisa bahasa Perancis dan dia
tidak mengerti Bahasa Inggris. Lengkap sudah cerita lawak hari ini. Lebih lucu
lagi kalau ada Tarzan di antara kami yang bisa membantu dengan bahasa tubuhnya.
Waktu seperti berhenti berputar menyaksikan kami, dua orang yang hanya terdiam
selain tersenyum dan tertawa. Yassine kembali menelepon dan menyatakan kalau ia
sudah sampai. Aku berpikir cepat. Kurogoh kembali isi kantong mungkin masih ada
sisa koin tertinggal. Pelayan memperhatikan dan berharap aku mengeluarkan koin
yang ia maksud. Seperti pertunjukan sulap saja. Aku mengeluarkan satu buah koin
besar bertuliskan angka lima. Pelayan menjentikkan jarinya pertanda kasus ini
telah selesai. Ia menyerahkan uang kembalian padaku dan langsung kusimpan di
dalam saku. Aku berlalu pergi sambil mengucapkan terima kasih. Aku yakin sebentar
lagi pelayan itu pasti akan menceritakan kejadian lucu ini kepada
kawan-kawannya.
Yassine
dan Wajih mengantarku untuk membeli nomor Tunisia. Ya, biaya membeli sim card ditanggung oleh kantorku. Tentu
ini berita baik, sepertinya kantor ini mempunyai cukup modal untuk membiayai
keperluan karyawannya. Lalu aku kembali ke Baroque, melanjutkan kegiatan online karena tadi terhenti di tengah
jalan. Topi kupluk, sweater biru, celana jeans dan sneakers, aku memasuki pintu café. “Ni hao..ni hao..ni hao,” teriakan-teriakan itu terdengar jelas diiringi
dengan suara tawa. Mata mereka menyorot aku yang tengah berjalan. Aku mempercepat
langkah dan segera masuk ke dalam. Itu dia, aku melihat Paulina di meja
pinggir, ia sudah lebih dulu sampai. Kutarik kursi dan duduk dalam diam. Aku
menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Teriakan tadi sangat
menyebalkan. Aku memandangi mereka dari kaca, segerombolan anak muda yang
sedang menghirup shisha. Rasanya
ingin sekali aku mendaratkan tinju di wajah-wajah ingusan itu. Kalau saja aku
bisa mempraktekkan ilmu taekwondoku di sini. “Ulka, are you okay?”, suara Paulina mengagetkanku. “Ya, I’m fine,” aku tersenyum kecil.
Paulina sedang berbincang dengan orang tuanya di skype. Hari ini adalah hari natal dan saatnya untuk berkumpul
dengan keluarga. Aku memperhatikan bahasa Polandia yang Paulina ucapkan,
kedengarannya rumit. “Hey Ulka, come to
see my parents,” katanya menunjuk ke laptop. “Hai..,” aku menyapa orang tua Paulina. Sepasang suami istri yang
terlihat sudah berumur tampak di layar. Setelah selesai melepas kangen, Paulina pun pulang terlebih dahulu ke rumah .
Aku menuju skype
dan menjumpai dua kawan di sana, Laras dan Rachman. Lalu kupesan Thé Normal untuk menemaniku
bercengkrama, minuman dengan harga paling murah di buku menu. Cukup sudah aku
berfoya-foya tadi pagi, sekarang saatnya berhemat. Teh dengan ukuran sejengkal
jari pun menghampiri meja. Tidak lupa dengan hiasan daun di dalamnya sebagai
pemanis. Teh ini rasanya agak pahit karena tanpa gula. Aku mengira-ngira, mungkin maksud kata normal dalam menu
itu adalah teh biasa tanpa campuran apapun. Aku mengalikan harga teh dengan
konversi mata uang rupiah. Baiklah, untuk sekedar teh yang bisa habis dalam
seteguk aku harus membayar tujuh ribu dua ratus rupiah. Laras bilang lain kali
aku bisa membawa teh celup Sariwangi sebagai bekal. Itu lebih baik daripada
harus menghabiskan uang yang bisa dipakai untuk makan lengkap dengan lauk pauk
dan sayur di kantin kampus. Aku terkekeh, benar juga apa yang dibilang Laras. Kami
asyik berbincang mengenai banyak hal, salah satunya adalah final pertandingan
Indonesia vs Malaysia di Piala AFF besok. Banyak prediksi dan persiapan yang
sudah dilakukan untuk menonton pertandingan seru ini. Seperti Laras yang esok akan menonton langsung
di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia. Jangan kaget, kami memang orang
Indonesia yang sedang menimba ilmu di Malaysia. Kami tetap cinta Indonesia dan
pastinya akan mendukung negara tercinta. Aku ingin sekali menyaksikan big match ini tetapi esok aku akan pergi
mengunjungi Kerkenna. Aku pun menceritakan mengenai kejadian menyebalkan
tadi. Kesal sekali ketika ada orang yang memanggilmu dengan ucapan rasis
seperti itu. Lalu kami ber-webcam ria
dan Laras pun tertawa ketika melihat wajahku yang sekarang sudah seperti orang
Cina. Berponi, bermata cukup sipit dengan kacamata, rambut tergerai dan mengenakan sweater
sampai ke atas leher. Pantas saja kalau mereka
mengira aku memang dari daratan sana. Aku makin gemas mendengarnya. Aku memperhatikan penampilanku dengan lebih
seksama. Apa benar aku seperti Chinese?
Memang kalau diperhatikan secara sekilas tetapi tetap saja aku bukan berasal
dari negara itu. Dan kalaupun aku memang dari sana, aku tetap tidak suka
dipanggil-panggil seperti tadi. Setelah puas bercengkrama dengan kawan-kawan, aku memutuskan untuk kembali ke rumah.
Oh ya, tadi pagi aku bertemu dengan Wassim, tepatnya ia yang berkunjung ke rumah. Ia datang
bersama dengan Afra, kekasihnya. Aku jadi teringat cerita Wassim semalam ketika
ia memberikan coke untuk Paulina yang
tengah hangover. Kalau sebenarnya ia
mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Romania. Namun karena kondisi keuangan
yang cukup sulit ia memutuskan untuk tidak pergi. Tidak adil kalau aku hidup
bersenang-senang di sana sementara keluargaku menderita di sini, katanya. Aku
jadi teringat keluargaku, Bapak yang sudah menghabiskan uang cukup banyak untuk
biayaku pergi ke sini. Keluargaku adalah keluarga sederhana tetapi Bapak selalu
ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia rela melakukan apa saja demi kebaikan
kami. Ah, aku pun merasa bersalah, lebih baik aku internship di Kuala Lumpur saja, tidak usah jauh-jauh ke Afrika.
Namun apa boleh buat, segala sesuatu sudah diputuskan dan aku harus berbuat
sebaik mungkin selama di sini. Tidak terasa, besok sudah hari Sabtu dan aku sudah tidak sabar untuk Kerkenna. Sampai
jumpa! x)
***
26 Desember 2010
Weekend
pertamaku di Tunisia sangat menyenangkan. Aku, Marcella, Nidhal dan Imad pergi
bersama-sama ke Kerkenna. Satu pulau di timur Kota Sfax, kampung halaman Nidhal.
Kami pergi dengan ferry yang membawa
kami selama sekitar satu setengah jam sebelum akhirnya sampai di pulau kecil
dan damai ini. Kerkenna penuh dengan barisan pohon kurma, penduduk pulau yang
saling mengenal satu sama lain, octopus yang
lezat, kastil Romania dan sunset yang menakjubkan. Ya, aku sangat menyukai jenis
liburan seperti ini dimana kita dimanjakan oleh keindahan alam yang mempesona.
Nidhal membelikan kami roti sebagai ganjalan perut sebelum menyatap octopus. Ketika itu, aku melihat
beberapa lelaki datang menghampirinya dan Nidhal dengan hangat memeluk
mereka. Bukan itu saja, mereka juga saling mencium pipi kiri dan kanan sebanyak
empat kali. Ini adalah kejadian langka yang kulihat seumur hidup. Di Indonesia
para lelaki hanya berjabat tangan dan juga berpelukan, sesekali. Setelah itu,
kami pergi ke pantai, sudah ada seorang kawan Nidhal menunggu di sana. Pak
nahkoda kapal dengan ramah mempersilakan kami naik ke kapalnya yang berukuran
sedang. It is a boat but enough for six
people.
Kami mengapung-ngapung di atas kapal cukup lama, sekitar satu jam. Ada satu kawan Nidhal yang ikut bersama kami, ia sibuk berbicara dengan Marcella sedari tadi. Aku tidak henti-hentinya menghirup, me-refresh pikiran dengan bau laut yang menggairahkan, Cukup lama juga tidak berkunjung ke laut padahal ini adalah tempat favoritku. Aku merentangkan tangan di sisi kapal, layaknya Film “Titanic” sambil berteriak kencang. Kami juga saling bersenda gurau dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Aku ingin belajar Bahasa Arab jadi aku khusyuk mendengar pembicaraan antara Imad dan nahkoda. Imad adalah sepupu Nidhal dan ia bekerja di Oil Libya Company. Imad sedang dalam rangka liburan ke Tunisia. Ternyata nama Pak nahkoda adalah Farhan yang berarti bahagia. “Farhan means happy,” Imad menjelaskan. “Ana farhan means I am happy.” lanjut Imad. “Ana farhan,” aku mengatakannya dengan spontan. “Haha..for girl..Ana farhana.” kata Imad lagi. Mereka tertawa melihatku yang sedang latihan berbahasa Arab. Aku pun tersenyum senang. Setelah lelah berputar-putar, Nidhal mengajak kami untuk menjemput menu santapan utama yang dinanti-nantikan. Kuucapkan salam sampai jumpa kepada langit yang sayangnya, siang itu mendung kelabu.
Kami mengapung-ngapung di atas kapal cukup lama, sekitar satu jam. Ada satu kawan Nidhal yang ikut bersama kami, ia sibuk berbicara dengan Marcella sedari tadi. Aku tidak henti-hentinya menghirup, me-refresh pikiran dengan bau laut yang menggairahkan, Cukup lama juga tidak berkunjung ke laut padahal ini adalah tempat favoritku. Aku merentangkan tangan di sisi kapal, layaknya Film “Titanic” sambil berteriak kencang. Kami juga saling bersenda gurau dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Aku ingin belajar Bahasa Arab jadi aku khusyuk mendengar pembicaraan antara Imad dan nahkoda. Imad adalah sepupu Nidhal dan ia bekerja di Oil Libya Company. Imad sedang dalam rangka liburan ke Tunisia. Ternyata nama Pak nahkoda adalah Farhan yang berarti bahagia. “Farhan means happy,” Imad menjelaskan. “Ana farhan means I am happy.” lanjut Imad. “Ana farhan,” aku mengatakannya dengan spontan. “Haha..for girl..Ana farhana.” kata Imad lagi. Mereka tertawa melihatku yang sedang latihan berbahasa Arab. Aku pun tersenyum senang. Setelah lelah berputar-putar, Nidhal mengajak kami untuk menjemput menu santapan utama yang dinanti-nantikan. Kuucapkan salam sampai jumpa kepada langit yang sayangnya, siang itu mendung kelabu.
Restoran
ini sederhana walaupun Nidhal bilang mereka menyediakan menu Octopus terlezat di Kerkenna. Selayang
pandang, tepat di depan mata adalah laut lepas yang menambah manisnya gurita.
Apa kau pernah makan gurita? Tentakel-tentakelnya sangat alot untuk dikunyah
dan ditelan. Maaf kalau aku membuatmu jijik tetapi aku bersyukur karena bisa
makan apa saja. Namun untuk yang satu ini, kau harus percaya padaku bahwa
gurita itu enak dan patut dicoba. Seperti biasa, sambal yaitu Harissa dengan tuna,
buah dan minyak zaitun juga ikut menemani menu siang itu. Kalau di Malaysia
mungkin namanya adalah sambal belacan yang selalu hadir di setiap makanan.
Sementara Indonesia, setiap daerah punya sambal khas masing-masing yang pasti
menambah sedapnya rasa masakan. Aku sendiri dulu tidak terlatih untuk makan
pedas tetapi selama di Malaysia selalu dijejali sambal oleh kawan-kawan.
Jadilah aku berevolusi dari seorang yang anti pedas menjadi suka pedas. Kembali
ke gurita, sekitar tiga hari lalu berlangsung Festival Octopus di Kerkenna. Kita bisa menyaksikan octopus dari jarak dekat di laut. Para
turis datang untuk memancing atau sekedar memandang hewan menarik yang satu
ini. Sekarang festival sudah berakhir
walau masih ada jatah gurita untuk dimasak. Ketika summer, Kerkenna akan penuh sesak dengan para turis yang ingin melihat
octopus dan festival musik. Oh ya, satu
hal yang tidak kalah menarik adalah penduduk di Kerkenna saling mengenal satu
sama lain. Nidhal bilang karena pulau ini kecil setiap orang kenal baik dengan
siapapun yang tinggal di sini. Tadi yang mencium dan memeluk Nidhal adalah
kawan lama yang lama tak berjumpa. Kalau saja hal seperti ini bisa diterapkan
di kota modern seperti Jakarta, pasti kompleks perumahan tak lagi sepi. Semua
orang saling bertegur sapa dan kehangatan kembali tercipta.
Perut
sudah kenyang dan kami pun pergi menuju Kastil Romania. Marcella mendapat
telepon dari Wassim yang bertanya tentang keberadaan kami. Sepertinya ia
khawatir dengan kami yang tengah pergi dengan Nidhal. Semalam, Wassim memperingatkan
untuk berhati-hati dengan Nidhal karena ia memang mengincar foreigner. Setiap ada foreigner
datang, Nidhal selalu berusaha mengajak mereka pergi jalan-jalan. Aku tidak
begitu mengerti maksudnya tetapi selama ia tidak berbuat macam-macam, aku
menikmati perjalanan ini. Kastil Romania ini kecil dan biasa saja, menurutku.
Ada reruntuhan yang belum terjamah dan puing-puing di sekitar. Satu nilai lebih
adalah kastil ini sangat indah ketika sunset.
Benar, seperti dalam film tentang putri yang tinggal di atas kastil cantik yang
tertimpa cahaya ketika matahari terbenam. Kita juga bisa melihat birunya laut
dari atas kastil. Sangat indah. Bentuk kastil adalah trapesium dengan satu
pintu masuk di depan. Ada tangga menuju bawah kastil, di sana terdapat beberapa
pintu yang terkunci. Seperti yang sudah kubilang tadi, masih banyak puing
berserakan di sekitar kastil. Mungkin itu adalah sisa-sisa kastil yang belum
dibenahi. Aku mengambil gambar matahari yang tersipu-sipu malu menuruni langit
sore itu. Semburat merah, oranye dan kuning seperti lukisan Tuhan yang
digoreskan dari kuas surga. Keindahan ini tak bisa diungkapkan dengan
kata-kata. Aku selalu suka sunset
berapa kali pun aku menyaksikannya. Kami lalu pergi ke bawah untuk berfoto
dengan latar belakang laut dan kapal. Meskipun kastil ini biasa saja tetapi
dengan letaknya yang berada di pinggir laut membuatnya menjadi luar biasa. Hari
menjelang gelap dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Nidhal
akan mengantarkan kami ke rumah pemusik Kerkenna. Sayang, mobil jemputan kami
belum datang. Jalanan sepi, remang-remang cahaya matahari membantu kami
menyusuri jalan. Nidhal tidak tahu posisi kami berada sekarang dan harus menuju
kemana. Ia lupa, katanya. Kami seperti empat survivors yang selamat dari pulau misterius tidak berpenghuni.
Berjalan dengan membusungkan dada, tangan di saku dan sorot mata tajam. Nidhal
juga memberitahu kalau malam hari, Kerkenna akan senyap dan tidak ada orang
yang keluar. Kami melewati hotel berwarna biru yang menarik untuk dikunjungi. “This is the only hotel in Kerkenna, 5
stars.”, Nidhal menunjuk hotel tersebut. Pantas hotel ini bisa mendapatkan
lima buah bintang karena hanya satu-satunya di pulau ini. Walaupun harus kuakui
memang penampilan luarnya yang bagus membuat pengunjung ingin menginap di sana.
Hari semakin gelap dan tidak ada satu pun mobil yang lewat. Aku mulai was-was.
Bagaimana kalau Nidhal merencanakan hal yang tidak-tidak? Apa benar dia
lupa kampung halamannya sendiri? Apa yang harus kami lakukan kalau dia berbuat
hal jahat? Kurasa sekalipun kami
berteriak tidak akan ada yang mendengar. Aku melihat Marcella, ia tampak
baik-baik saja. Ia mengajak kami bersenda gurau dan bercerita. Aku yakin kalau
ia sebenarnya juga khawatir tetapi tidak diperlihatkannya. Tidak lama, mobil
merah yang tadi menjemput kami dari pelabuhan pun sampai. Sopir mobil ini adalah
kawan Nidhal, ia akan membawa kami ke tempat tujuan selanjutnya.
Anez
menyambut kami yang tampak lelah dengan wajah ceria. Rumah Anez adalah rumah
tradisional Tunisia. Di pintu masuk, ada dapur kecil lalu masuk ke dalam
terdapat bangku untuk duduk-duduk dan satu buah televisi. Anez adalah musisi
Kerkena yang biasa manggung untuk summer festival
di Kerkenna. Ia mengeluarkan satu tas besar yang berisi peralatan manggung, di
antaranya adalah, seragam, terompet kecil dan terompet besar. Aku tidak tahu
apa namanya, bentuknya seperti terompet dan berwarna cokelat. Cara memainkan
adalah dengan meniupnya. Kukira bunyi suara terompet kecil ini sama seperti
ukurannya, ternyata besar sekali. Suara nyaringnya bisa terdengar sampai keluar
rumah. Anez juga memakaikanku baju yang ia pakai untuk manggung. Ada tiga stel,
yang terdiri dari topi runcing seperti topi alibaba, baju putih dengan rompi
merah dan rok lipit berwarna putih. Lucu sekali, seperti seragam polisi
Skotlandia. Ada juga ikat pinggang berwarna merah untuk mengikat rok. Dengan
band tradisionalnya ini, Anez sudah keliling
sampai ke Jepang dan ia biasa dibayar minimum sebesar 900 dinar untuk summer festival di Kerkenna.
Anez
sangat ramah, riang dan suka bercanda. Ia mudah akrab dengan orang baru. Aku
melihat tangga menuju jendela di atas lalu bertanya ada apakah di sana. Anez
bilang itu kamar tidur dan ia mengajakku ke ruangan itu. Aku langsung
menggelengkan kepala dan berkata, “La la la.” La artinya tidak, itu kosakata yang
kudapat setelah empat hari di sini. Anez tertawa melihatku berbicara dengan
Bahasa Arab. Kemudian ia bercerita bahwa ia bertemu dengan dua orang perempuan
Polandia tetapi ia tidak suka pada mereka. Malam ini ia bertemu dengan
perempuan Indonesia dan suka denganku. Ah, bisa saja. Aku tersenyum malu-malu.
Televisi di depanku sedang memutarkan
lagu dengan gambar statis. Gambar ini tidak bergerak hanya judul lagunya saja
yang berganti. Aneh sekali, pikirku. Apa memang semua acara televisi di
Kerkenna seperti ini? Anez mengeluarkan botol-botol Vodka yang pernah ia minum.
Ia selalu menyimpan botol-botol tersebut dan tidak pernah membuangnya. Ada Vodka Normal, Vodka Citrus dan Vodka Raspberry.
Aku belum pernah minum Vodka sama sekali. Aku memperhatikan botol-botol itu.
Botol Vodka tidak lurus ramping seperti Wine
melainkan gemuk dan besar. Aku suka design
botol ini, serasi dengan font dan bentuknya. Maklum, aku adalah orang visual
yang selalu memperhatikan kemasan.
Aku pergi keluar rumah, tampak pancuran air tanpa lapisan luar atau pintu kamar mandi. Aku juga tidak menemukan kamar mandi di dalam rumah. Lalu apakah Anez setiap hari mandi di luar? Memang rumah ini dikelilingi tembok besar dan tidak ada lampu jadi kalau malam hari sangatlah gelap. Tiba-tiba datang dua orang kawan Anez karena tidak ingin menganggu, kami pun pamit pulang. Sebelumnya, Nidhal bercerita kalau keluarga Anez ada di Sfax, kota tempat kami tinggal. Namun Anez lebih suka tinggal sendiri di Pulau Kerkenna. Kulihat Anez sanggup untuk hidup seorang diri karena ia juga sudah bekerja. Seperti yang sudah kubilang tadi, Anez mendapatkan uang sedikitnya 900 dinar sekali manggung. Kalau kau mau tahu berapa jumlahnya dalam rupiah, kalikan satu dinar dengan enam ribu rupiah. Sangatlah cukup untuk hidup seorang diri di pulau terpencil. Anez dan Nidhal adalah kawan baik sewaktu kecil dulu, jarak rumah mereka berdekatan satu sama lain. Nidhal juga yang menerjemahkan semua pembicaraan kami dengan Anez ke dalam Bahasa Inggris sehingga aku bisa menceritakannya padamu.
Aku pergi keluar rumah, tampak pancuran air tanpa lapisan luar atau pintu kamar mandi. Aku juga tidak menemukan kamar mandi di dalam rumah. Lalu apakah Anez setiap hari mandi di luar? Memang rumah ini dikelilingi tembok besar dan tidak ada lampu jadi kalau malam hari sangatlah gelap. Tiba-tiba datang dua orang kawan Anez karena tidak ingin menganggu, kami pun pamit pulang. Sebelumnya, Nidhal bercerita kalau keluarga Anez ada di Sfax, kota tempat kami tinggal. Namun Anez lebih suka tinggal sendiri di Pulau Kerkenna. Kulihat Anez sanggup untuk hidup seorang diri karena ia juga sudah bekerja. Seperti yang sudah kubilang tadi, Anez mendapatkan uang sedikitnya 900 dinar sekali manggung. Kalau kau mau tahu berapa jumlahnya dalam rupiah, kalikan satu dinar dengan enam ribu rupiah. Sangatlah cukup untuk hidup seorang diri di pulau terpencil. Anez dan Nidhal adalah kawan baik sewaktu kecil dulu, jarak rumah mereka berdekatan satu sama lain. Nidhal juga yang menerjemahkan semua pembicaraan kami dengan Anez ke dalam Bahasa Inggris sehingga aku bisa menceritakannya padamu.
Kami
pulang dalam dingin yang merontokkan tulang. Aku sempat keluar dari ferry dan rasanya ingin segera berada di
dalam rumah yang hangat. Nidhal memberikan kami kesempatan untuk masuk ke
ruangan nahkoda kapal dan melihat bagaimana ia bekerja. Ketika turun dari ferry, ada kawan Nidhal yang menjemput
jadilah kami diantar pulang sampai rumah. Hari ini aku tidak mengeluarkan uang
sekali pun. Semua ongkos dan biaya makan ditanggung Nidhal. Tunisia hospitality is totally incredible.
Bisa dibilang tidak beda jauh dengan orang Indonesia yang suka menjamu tamu.
Tamu adalah raja dan harus diperlakukan dengan baik. Well, omongan Wassim tidak terbukti kali ini walaupun aku sempat takut di tengah perjalanan
tadi. Besok adalah hari pertama masuk kantor. Setelah weekend yang menyenangkan, aku makin tidak sabar untuk memulai
bekerja. Sweet dreams *)
***
27 Desember 2010
Aku
tidak bisa membayangkan apa yang baru saja terjadi. Seorang pria tidak dikenal
menawarkanku untuk in a relationship.
Iya, pacaran. Benar-benar, dunia sudah semakin gila, maksudku, orang-orang di
dalamnya. Ceritanya adalah, hari ini aku tersasar ketika pulang dari kantor.
Maklum, aku memang sering kali tersasar di tempat baru. Apalagi hari sudah
malam dan jalanan nampak berbeda dari siang hari. Ini juga hari pertama aku
bekerja. Wow, the first day in office!
Ibarat film ini adalah premiere dan
tentang itu akan kuceritakan nanti. Kembali tentang pria asing ini, aku bertemu
dengannya di pos security. Bagaimana
bisa? Begini..aku memang sudah yakin kalau lupa jalan pulang ketika berada di
persimpangan. Seingatku adalah jalan lurus terus tetapi aku tidak begitu yakin.
Di depanku ada satu gedung bertuliskan Iskandar Optique dengan lambang kacamata
dan di sekitarnya adalah pertokoan. Aku mencoba berputar arah kembali ke jalan
sebelumnya tetapi hati kecilku bilang kalau bukan ke sana. Aku salah jalan dan
memang sudah tersasar. Baiklah, aku pun
menelpon Paulina, housemateku, mungkin dia tahu tempat ini. Ternyata Pola, aku
memanggilnya begitu, ia juga tidak tahu Kota Sfax. Ia menyarankan untuk
mengambil taksi dan pergi pulang. Aku menghela napas, mencoba berpikir jernih.
Tiba-tiba Marcella menelponku dan ia menyatakan hal yang sama bahwa aku bisa
naik taksi dengan La Terrace sebagai
tujuan. Mataku menerawang mencari taksi dan tidak ada yang lewat. Aku melirik
arloji, jam menunjukkan pukul 19:00. Apa para sopir taksi sedang beristirahat? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kalau aku melanjutkan perjalanan ini
ada dua kemungkinan, aku makin tersasar atau menemukan jalan pulang. Namun,
kota ini masih asing, aku belum kenal dengan sifatnya. Bagaimana kalau aku
menemukan orang jahat di jalan? Tadi saja ketika melewati pasar, para pemuda
itu berteriak-teriak “Ni Hao..Ni Hao..”
Seperti biasa, aku mengacuhkan mereka dengan terus menatap ke depan dan
berjalan cepat. Kali ini aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mungkin ada
baiknya kalau aku menelpon Yassine, bosku. Dia pasti tahu dimana aku berada
sekarang karena ia memang tinggal di kota ini. Sebenarnya aku tidak enak hati
untuk bertanya pada Yassine, tadi pagi ia sudah menunjukkanku jalan pulang.
Ketika makan siang juga ia mengingatkanku kembali. Memang dasar aku pelupa
jadilah semua yang sudah diberitahu pun percuma.
Karena
pulsaku tidak cukup, aku pun mengirim pesan pada Yassine. Lalu ia menelpon dan
menyuruhku untuk memberikan telepon ke orang di sebelahku. Mungkin Yassine
ingin berbicara dengan orang tersebut untuk menunjukkan arah kepadaku. Kutengok
sekeliling, tampak satu pasangan di sebelah kanan dan wanita cukup berumur di
depan. Aku lebih percaya dengan wanita cukup berumur untuk menyerahkan
handphone dan memberitahu jalan. “Hey..this..”
kataku sambil menunjukkan handphone. Ya, aku berbicara dengan bahasa tubuh
karena aku tidak bisa berbahasa Arab. Wanita itu kebingungan dan berkata , “Ha?” Dengan sabar aku kembali
menunjuk-nunjuk handphone dan menganggukan kepala sambil tersenyum lebar,
tentunya. Wanita itu masih belum mengerti, alisnya mengernyit tetapi ia
mengambil hanpdhone itu dariku. Tidak berapa lama kemudian, aku mendapat
jawaban yang makin membuatku resah. “Ulka, she doesn't know the way,” kata Yassine cemas. Aku semakin panik
dan seketika di depanku muncul seorang polisi. Dari seragam yang ia kenakan
dapat dipastikan kalau ia adalah polisi. Aku langsung menyerahkan telepon itu
padanya. Mereka berbicara di telepon dan telepon pun ditutup. Pak Polisi
bertubuh tambun ini mengajakku untuk masuk ke dalam gedung. Ada satu pos kecil
di depan, ia mengambil pena dan kertas. Lalu menggambar peta mengenai jalan
dari tempat ini ke rumahku. Ia menjelaskan dalam Bahasa Perancis dengan
menggerak-gerakkan pena dan tangannya. Aku menggelengkan kepala, tidak
mengerti. Apalah daya, kami berdua hanya tertawa kebingungan. Tiba-tiba Yassine
menelpon kembali dan berkata kalau ia akan menjemputku sebentar lagi. Akhirnya,
cahaya terang datang. Kalau dari awal seperti ini aku tidak usah repot dan
panik.
Aku duduk manis di kursi sembari melihat-lihat
pos kecil ini. Ruangan ini mungil, hanya ada kursi, meja dan kertas-kertas. Aku
melongok keluar dan melihat banyak bendera di depan gedung. Mungkin ini adalah
gedung kedutaan besar, pikirku. Pak Polisi itu berjaga di depan gerbang jadilah
aku sendiri di dalam pos. Beberapa lama
kemudian, datang seorang lelaki bertubuh sedang dan berkulit putih dengan Pak Polisi. Aku
tidak tahu siapa dia tetapi ia menyapaku dengan ramah. Lagi-lagi, kau harus
terbiasa mendengar cerita tentang aku yang selalu dikira chinese. Hari ini ada varian baru, yaitu Filipina, ia berpikir aku
dari sana. “No, I’m from Indonesia,”
jawabku dengan senyum. Namanya Khamaise dan sebenarnya aku tidak tertarik
mengetahui siapa nama lelaki ini. Aku malah bertanya siapa nama Pak Polisi baik
hati yang menolongku, yang ternyata adalah Khamid. Perasaanku bertambah aneh
ketika ia menanyakan nomor teleponku. Seorang lelaki yang baru kau kenal selama
kurang lebih lima menit meminta nomor teleponmu, apa yang kau lakukan? Karena
terpaksa dan tidak ada pilihan, kuberikan nomorku padanya. Ia jelas melihatku
memegang handphone dan aku takut dia berbuat macam-macam kalau permintaannya tidak
kupenuhi. Setelah itu, Khamid memberikan sebuah kotak berwarna merah kepada
Khamaise. Bukan bermaksud ingin tahu tetapi aku hanya ingin mencairkan suasana,
aku pun bertanya apa isi kotak tersebut. Khamaise bilang, ini adalah hadiah
dari istri Khamid, teman baiknya. Khamid tersenyum dan pergi meninggalkan pos.
Suasana agak canggung ketika hanya aku dan Khamaise di dalam ruangan.
Tiba-tiba, Khamaise bertanya satu hal yang membuatku sangat bersemangat
menceritakan tentang kejadian malam ini.
You, are you married?
Oh, No. You?
No, i'm single. No
rings.
I see.
So, i want to make
relationship with you. Is it problem or not?
What??
Yeah, I want to make
relationship with you. So?
Errrr...Sorry i have
boyfriend in Tunis. I'm engaged.
In Tunis? Engaged?
Yeah, we're gonna
married next month.
Oh, okay.
Dalam beberapa detik,
Khamaise berlalu pergi. Lalu Yassine datang dan menjemputku pulang. Sekarang
aku sudah sampai dengan selamat di rumah. Paulina bertanya, apa yang terjadi
denganku tadi dan kuceritakan saja padanya mengenai peristiwa unik ini. Ia pun
tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku masih terheran-heran dengan apa yang
baru saja kualami. Cocok sekali untuk dijadikan ide cerita tentang pertemuan
dua insan manusia di pos jaga atau tips bagaimana menggaet perempuan cantik di
tengah jalan. Untung saja aku bisa dengan cepat mengarang cerita bohong tentang statusku kalau tidak pasti dia akan terus melancarkan aksi. Aku tersenyum-senyum membayangkannya.
Anyway, hari ini adalah hari pertama aku masuk kantor. Bekerja, lebih
tepatnya. Yassine menjemputku di rumah dan membawaku ke suatu bangunan. Lalu
datang seorang lelaki yang kemudian membawaku masuk ke dalam. Ia mengantarku
masuk ke pintu 1402. Apa benar ini kantor? Ruangan bercat putih dengan beberapa
kursi dan meja di luar. Sepi. Wissem bilang ini adalah masa tutup buku atau
tutup tahun jadi semua pekerja pergi berlibur. Ruangan Wissem ada di dalam
dengan kursi besar dan komputer. Sepertinya dia adalah bos di kantor ini. Oh,
baru ingat, kalau memang ini bukan kantorku yang asli. Yassine bilang kalau
kantorku letaknya jauh dari rumah jadi aku ditempatkan di sini sementara. Aku
duduk di meja sudut dengan laptop dan koneksi internet. Aku suka ini, akhirnya
bisa sepuasnya browsing. Ulka, kamu
di sini untuk bekerja bukan online saja. Aku mengingatkan diri sendiri. Aku
membuka laptop dan mencari informasi tentang kantorku. Barang-barang apa saja
yang mereka jual, bagaimana bentuknya, dan lain-lain. Aku membutuhkan banyak
gambar untuk diletakkan dalam katalog nantinya. Dan jujur, aku masih sangat
baru dalam dunia industri perdagangan seperti ini. Sesekali aku melongok Buku Muka,
memang paling sulit untuk menghindari hal yang satu ini. Sayang, jari jemariku
tidak sanggup menahan suhu dingin di dalam ruangan. Aneh, di luar matahari
bersinar terik tetapi kenapa di dalam sini justru sangat dingin. Aku gemetaran.
Gigiku bergemelutuk, jari-jari bergetar. Aku mengambil sarung tangan dari tas. Untung
aku tidak lupa membawanya dari Indonesia. Kupikir tadinya tidak begitu perlu ternyata
sekarang menjadi penyelamat. Aku pun berbincang dengan Laras dan Rachman di
Skype. Seru juga bercerita mengenai kondisi kantor baru. Tak terasa sudah
saatnya untuk makan siang, perutku berkicau nyaring.
Restoran ini cukup
modern. Yassine mengajakku ke restoran karena kubilang aku ingin makan nasi.
Ya, jarang sekali ada kedai yang menjadikan nasi sebagai menu kecuali restoran
besar. Restoran dipenuhi warna cokelat dari dinding, kursi dan meja. Sungguh
istimewa, dihari pertama bekerja, aku mendapatkan kesempatan untuk makan
bersama dengan bos. Keramahan Tunisia makin jelas terlihat setelah kemarin aku
dibayari semua hal saat berpergian. Aku memesan cous cous, makanan tradisional Tunisia. Tidak apa kalau puasa makan
nasi hari ini. Sembari menunggu makanan datang, kami mengobrol. Aku bertanya
mengenai karakteristik orang Tunisia kepada Yassine. Kudengar kabar bahwa
banyak dari mereka yang tidak shalat dan minum alkohol. Yassine bilang memang
benar, ada dua tipe, tidak shalat dan pasti minum juga shalat lalu minum. Tipe
yang kedua lucu juga. Aku bertanya kembali bagaimana dengan orang yang suka
pesta? “It is okay, actually. Just dance,
you don’t need to drink,” kata Yassine lagi. Benar juga, kita bisa tetap
menikmati indahnya pesta tanpa harus minum alkohol.
Akhirnya makanan yang
ditunggu datang juga, cous cous dan
pesanan Yassine. Cous cous adalah
sepiring besar kentang yang sudah dihaluskan dengan paprika, wortel, tomat dan
daging ayam. Menurutku, kentang ini dijadikan sebagai pengganti nasi. Aku tidak
tahu apa nama makanan yang dipesan Yassine. Sepiring kacang panjang, tuna, buah
zaitun, wortel, dan bumbu lainnya menjadi satu. Menu yang pasti adalah Harissa,
sambal Tunisia dengan buah zaitun. Kali ini tanpa minyak di atasnya. Ini
membuktikan bahwa orang Tunisia juga suka makanan pedas, sama dengan
orang Indonesia. Ada roti yang cukup unik, bentuknya bulat. Bukan baguette yang biasa kumakan tetapi
namanya adalah tabouna. Wajar saja kalau badan mereka besar-besar karena
roti di sini juga berukuran tidak kalah besar dan memakannya akan kenyang
sampai besok. Tenang, lambat laun aku pasti terbiasa dengan makanan Eropa,
maksudnya Afrika. Aku harus membiasakan diri karena sulit juga kalau harus
membeli beras dan memasak secara manual. Lagipula ini solusi bagus untuk
menguruskan badan bukan? *) Alright,
sudah malam dan esok saatnya kembali bekerja. Sebentar, ada satu pesan masuk di
handphone, bunyinya ,”Good night sweet.
Your friend, Khamaise ;)” Oh tidak, aku ingin segera mimpi indah. Selamat
malam x)
See You Soon,
Chandini
4 comments:
sesipit apa ya ulka? hehe
eh..seru tuh sensasinya,,diajakin nikah sama orang yang baru 5 menit kenal ka,,hahhaha..untung ulka langsung bilang kalo udah engaged,,kalo gak bisa2 ulka udah jadi istrinya,,entah yang keberapa,,
lamaran kilat broh..kikikik
kelewatan part 3 nih,,baca dulu ahh
haha lumayan zaa tapi masih kliatan melek ga kaya cina asli yg (kadang) cuma segaris hihihi
iyaa..kalo kepepet cepet keluar ide yah..langsung aja bilang mo nikah hahaha
siap za. thanks for reading ya! :*
kakak,, salam kenal yah dari aku vera
kak masih kerja di tunisia ?
aku ingin bertanya banyak pada kakak yang sudah pernah tinggal di tunisia
boleh tidak aku minta email atau fb atau twitter kakak
Halo vera, aku udah selesai kerja di Tunisia. Kalo mau tanya-tanya boleh ke email aku: ulka.chandinipendit@gmail.com
Post a Comment