HAI! HAI! HAI!
Tiga Kata pertama di post ini adalah nama tempat dimana gw bekerja sekarang. Yap, nggak lain nggak bukan adalah Majalah HAI yang selama satu setengah bulan ini bakal menjadi sandaran gw untuk bertahan hidup di Kota Jakarta Metropolutan.
Gokil, hari ini seru banget! Nggak sabar pengen cerita. Wah, Ulka menang lotre? Sayang, sodara-sodara yang bikin gw menggebu-gebu bukan lotre tapi tentang mereka. Hah?
As usual, teman gw sehari-hari dalam mengarungi jalanan adalah Bus jurusan Bekasi-Merak. Apapun nama bisnya, sangat berarti untuk mengantarkan gw ke kantor tercinta di bilangan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. And, kali ini adalah cerita tentang balada Salak yang cukup unik. Here we go!
#Tempat: Bus Balaraja Bekasi-Merak
#Situasi: gw duduk di pinggir kursi belakang sejajar pintu masuk. Sebelah gw adalah Aki-aki berbaju batik yang lagi tidur.
.........Dua puluh Menit berlalu........
-------Bis lumayan penuh dan mulai memasuki Tol Jatibening. Abang-abang sebelah yang dari tadi nongkrong depan pintu masuk mulai bergerak. Sepertinya Abang ini tukang jualan. ------------------
Abang Jualan: “Bu, permisi ya.” (Sambil membawa satu plastik putih berukuran besar)
-- Gw menengok ke belakang. Ada Ibu berbaju PNS duduk di seberang belakang gw yang posisinya dekat si Abang --
--- Bener, abang ini pedagang. Doi mulai promosi Salak dengan suara keras dan berulang-ulang------
“Yak, Salak-salak yang manis..yang manis..Boleh yang minat..25 biji..sepuluh ribu. Cobain dulu aja boleh..Bapak..Ibu..Neng..Abang..........Udah dibukain tinggal makan aja......Ayo buat oleh-oleh..mararanis..enak..sepuluh ribu..25..”
------Sampailah Abang Salak di kursi gw dan secara nggak gitu suka salak so gw taro aja salak yang udah dibuka setengah dari si Abang di kursi tengah. Gw pikir mungkin si Aki mau makan salak itu. ----
------Ternyata, anak kecil belakang gw juga menolak salak gratis pemberian si Abang. ------------------
Anak kecil: Bang (sambil ngasih salak)
Abang Salak: “Makan aja dek, udah dibuka ini. Nggak usah bayar tinggal makan. Gitu aja susah. Saya ikhlas kok.”
Gw: (Diam dan mendengarkan pembicaraan)
Abang Salak: (Bergerak lagi ke depan sambil bawa salak sekarung)
“Buat oleh-oleh.......mararanis........Salak Pondoh.......Ayo beli-beli.......Neng, mau salak neng? Enak..murah..sepuluh ribu aja..Pak, Salaknya Pak. Manis..enak..buat oleh-oleh.....Ayo Beli..Beli.....”
----Giliran Aki sebelah gw ditawarin----
“Pak Haji salaknya Pak..Murah..”
Aki a.k.a Pak Haji: “Ti mana?”
Abang Salak: “Salak Pondoh”
Aki a.k.a Pak Haji: “Sabaraha?”
Abang Salak: “Sapuluh ribu”
Aki a.k.a Pak Haji: “Oh,Nuhun” (Sambil Menggelengkan kepala)
........Setelah ditolak Aki si Abang tiba-tiba bersandar di kursi gw. Spontan pantatnya kena badan gw..
Gw: (langsung gerak-gerak enggak karuan biar Abang Salak nyadar kalo ada gw di sampingnya)
.......Lima menit – Belom nyadar.........
.......Sepuluh menit – akhirnya nyadar dan beranjak pergi.......
-----Kejadian selanjutnya gw yakin lo tau. Abang Salak kembali mengulang kata-kata dalam dialog sebelumnya. Doi keliling bis dari depan ke belakang, tetap berusaha biar salaknya terjual dan pokoknya harus ada yang beli....itu tujuan utamanya. Ibarat lagu, kata-kata promosi salak yang gw tuliskan di atas adalah chorus atau reff dari lagu yang berjudul “Bujuk Rayu Abang Salak” -------------
.......Tiga ronde pun berlalu...........
------Abang salak putar-putar bis sampai bosan dan belom juga ada yang beli. Abang Salak mulai gusar dan memaksa. Sampai akhirnya, dia lagi-lagi nyandar di samping jok gw which is pantatnya mepet baju dan badan gw dengan porsi lebih dari yang kejadian pertama. Spontan gw langsung------
Gw: Bang..(sambil ngasitahu kalo ada gw di belakangnya dan nyuruh dia pindah tempat)
Abang Salak: (beranjak pergi) “Neng kalo mau duduk enak jangan naik bis donk, naik taksi gih. Di bis mah banyak yang nyenggol, nyender, namanya tempat umum, kalo nggak mau digituin jangan naik bis. Tuh tasnya digeser..udah neng naik taksi aja..ini Bis umum..”
Gw: (Langsung ambil tas gw dan geser ke kursi tengah. Salak yang tadi gw kasih ke Aki)
Aki: “Bang, buat saya aja yah (nunjuk ke salak). Si neng teh emungen.”
Gw: (Muka lurus ke depan sok cuek sama omongan Abang Salak)
...Walaupun masih kesal banget sama omongan Abang salak, gw mencoba santai dengan keadaan....
...Beberapa menit berlalu..... Gw lihat posisi berdiri Abang Salak yang nggak jauh dari kursi gw.......
Abang Salak: (Sandaran di kursi seberang gw, kaki nyantai, tangan sibuk pegang hape dan jarak tangan doi cuma beberapa centimeter dari kepala orang yang duduk di kursi itu. Posisi seperti majikan dan pembantu.)
Gw: (Dalam hati) “Sumpah gondoooookkkkk! Tukang salak aja belagu! Pengen banget gw tonjok mukanya! ARRGH!”
Untungnya cahaya terang datang alias bis sampai juga di daerah Slipi dan Abang Salak pun turun. Sebelum turun, doi tambah nyebelin bin nyolot. Bener-bener nggak punya etika.
Abang Salak ke kenek bis: (suara kencang) “Buka Bego”
Kenek bis: (diam dan buka pintu)
.......HUFFFFFFFTTT......................
------Helaan napas panjang gw lakukan setelah Abang Salak, tokoh antagonis di cerita bis kali ini, pergi. Sebentar lagi bis bakal sampai di Kebon Jeruk dan gw pun tidur beberapa menit. ---------------
Kenek bis: “Kebon Jeruk..Kebon Jeruk..Yang Jeruk..yang jeruk..”
Gw turun dari bis dan melangkah cepat. Nggak sadar tiba-tiba ada suara di sebelah gw.Ternyata Ibu berseragam PNS yang sedari tadi duduk di seberang belakang gw. Doi juga menjadi saksi mata kekejaman Abang Salak di bis tadi.
Ibu yang duduk di seberang gw: “Neng, tukang salak tadi nyebelin banget ya. Ngomongnya kasar.”
Gw: Oh..iya Bu.. (Gw cengegesan tapi nggak keliatan karena ketutup sama masker yang gw pake)
Ibu yang duduk di seberang gw: “Jelas-jelas neng bener..duduk di tempatnya..dia main senderan aja.. nggak lihat posisi dia..”
Gw: Iya Bu.. (Masih cengegesan dan tetep nggak keliatan)
Ibu yang duduk di seberang gw: “Neng, mau pulang?”
Gw: “Oh nggak, saya mo kerja. Kalo Ibu?”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Oh, kerja di sini? Rumah di Bekasi? Saya mau pulang ke rumah. Saya kerja di Bekasi.”
Gw: “Iya bu, rumah di Bekasi.”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Tukang salak tadi emang nggak sopan. Anak kecil yang menolak salak dia itu kan emang mungkin nggak suka sama salak. Mungkin anak kecil itu juga kasihan kalo salaknya nggak dimakan jadi dia balikin salaknya..eh si tukang salak ngomongnya kok begitu..”
Gw: Iya bu...
Ibu yang duduk di seberang gw: “Udah gitu duduknya nggak sopan. Coba lihat gaya dia pas senderan di orang.” (menggebu-gebu cerita)
Gw: “Iya, pantatnya ke badan saya. Saya juga nggak suka Bu.”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Nah..iya..itu....dia coba lah lihat dulu dimana dia mau senderan..nggak sembarangan taruh pantat dia di orang.”
Gw: “Iya....”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Kalo dia masih berbuat ulah itu..udah saya pukul...benar..saya nggak tahan lihat tingkah laku orang kayak gitu..huff..(sambil menggeleng-gelengkan kepala)
......Sampailah kita di persimpangan jalan.....
Ibu yang duduk di seberang gw: “Neng, saya nyebrang ya..Neng kemana?”
Gw: “Oh, Iya bu..saya masih lurus. Makasih Bu”
Ibu yang duduk di seberang gw: “Ya..hati-hati neng...”
Pertemuan dengan Ibu tadi telah mecerahkan hati gw yang sempat memerah karena marah. Nggak bisa dipungkiri banyak orang seperti Abang Salak di jalanan Jakarta. Mereka nggak berpikir cara membuat orang sekeliling merasa nyaman tapi satu hal yang menguasai pikiran mereka adalah gimana caranya dapat uang hari itu. Uang untuk makan anak, istri dan biaya lainnya agar bisa terus hidup. Atau mungkin etika, moral dan budi pekerti telah luruh hilang dalam kemiskinan dan keserakahan sebuah kota bernama Jakarta?
No comments:
Post a Comment