Setelah mengalami beberapa kisah sedih di hari Sabtu, minggu itu, gw melewati Sabtu gw dengan cukup fun. Gw bertemu dua orang sobat yang lama nggak berjumpa. Senang, nggak sabar, pengin cepat-cepat melepas kangen, hinggap di kepala seiring keberangakatan. Tempat nostalgia itu adalah Seven Eleven Matraman. Yak! Akhirnya gw bakal mencoba tempat nongkrong a.k.a minimart yang katanya idola anak muda Jakarta itu. Soal Seven Eleven bakal gw ceritain di post berbeda, kali ini seperti biasa, soal hal-hal seru yang bisa dialami dimana saja termasuk di atas Bus Kota. Tepatnya, Bus P9A jurusan Bekasi-Senen.
#Tempat: Tol Bekasi Timur
(Suara mobil dan motor lalu lalang. Dari kejauhan, datang Bus P9A Bekasi-Senen.)
Kenek Bus: Senen..Senen..Yang Senen..
Gw: (bergegas naik ke bus. Mata gw mencari kursi kosong yang ternyata nggak ada. Jok di atas dashboard juga penuh. Jalanan macet : Monolog)
“Sepertinya perjalanan bakal panjang. Gw berdiri di belakang Pak Sopir aja deh.”
Gw dan Pak Sopir dipisahkan kaca seperti orang pacaran lagi berantem. Di belakang gw seorang cowok duduk dan menaruh kardus di samping kakinya bikin gw nggak leluasa bergerak. Semoga bus nggak tambah penuh nanti, doa gw dalam hati. Sayang, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.
(Bus berhenti di kerumunan orang. Mereka langsung menyerbu masuk ke dalam. Tadinya cuma gw sendiri berdiri, sekarang bertambah menjadi banyak sekali. Untungnya, gw berdiri di tempat aman. )
Kenek Bis: “Ayo..Senen..Senen..Salemba..Matraman..”
Gw: (Melihat ke samping:Monolog) “Wah, Ibu-Ibu di samping gw. Buset, itu di depan banyak banget, satu..dua..delapan orang ngumpul! Gila ini sopir, udah penuh masih maksa.”
(Akhirnya bus masuk ke pintu tol. Sementara jumlah penumpang cukup sekian. Semua bagian bis disesaki manusia dari depan ke belakang, yang duduk sampai berdiri. Tetapi, tiba-tiba..)
Ibu-Ibu: Pak..Pak..naik Pak..tunggu..mau ke Cempaka Putih!
Para Penumpang: Udah nggak muat..penuh..udah pir..
Sopir Bus: Ayo Bu..naik..naik. Cepet-cepet..!
(Ibu itu pun naik juga bersama temannya dan satu anak kecil berdiri persis di tangga pintu. Oleng sedikit saja langsung jatuh ke aspal. Gw nggak tega lihat anak kecil itu.)
Para Penumpang: Wah..Pir..udah donk..penuh ini..
Sopir Bus: Itu gimana..masa udah naik mau ditinggal.. (Sambil mengendalikan bis)
Gw: (Menatap banyaknya jumlah penumpang yang bergumul di depan pintu masuk:Monolog) “Parah ni sopir. Kalo gini caranya membahayakan nyawa orang. Ngejar setoran banget sih.”
(Bus sampai di Tol Jatibening. Masih dengan jumlah penumpang yang mengerikan karena banyak banget, gw berharap ada yang turun di sini.)
Ibu-Ibu: “Pak saya mau ke cempaka Putih. Turun dimana?” (memegang keranjang belanja warna hijau)
Bapak-Bapak: “Wah salah naik. Kurang tahu juga saya.” (Memangku anak anak ibu itu)
Temennya Ibu-Ibu: “Loh, bukan, kita mau ke Rawasari Pak.”
Kenek bus: “kalo ke Rawasari bukan naik ini. Udah turun sini aja ntar naik bus 58. Mana ongkosnya?”
Sopir Bus: “Bu, ongkosnya dulu, Bu.”
Ibu-ibu: “Oh, makasih Pak.” (buru-buru turun dari bus biar nggak disuruh bayar ongkos)
Kenek bus: “Ah.” (Mendengus kesal)
(Jumlah penumpang hanya berkurang sedikit. Selebihnya malah bertambah apalagi di daerah pintu masuk. Bis terus berjalan menuju Senen.)
Sopir Bus: “Udah lo mintain semua ongkosnya?”
Kenek Bus: “Iya, ni lagi mintain.”
Sopir Bus: “Yang tadi berdiri di sini udah?”
Kenek Bus: “Udah..”
(Kenek Bus masih dalam kegiatan meminta penumpang membayar ongkos.)
Kenek Bus: “Ayo..mana lagi..yang belom bayar..”
Cowok Baju Putih: “Udah bayar” (tangannya berpegangan di besi atas)
Kenek Bus: Kapan? (Muka kenek bus songong)
Cowok baju putih: “Sekalian sama yang di sana” (menunjuk ke belakang)
Kenek Bus: “Oh, sama Ibu itu?”
Cowok baju putih: “Iya”
(Gw belom dimintai ongkos sama si Kenek. Mungkin karena posisi gw di pojok dan terhalang badan Ibu samping gw, jadi nggak kelihatan. Dari tadi gw panggil si Kenek belom nengok juga. Sekarang gw panggil harus nengok karena gw nggak mau dicap orang nggak mau bayar ongkos.)
Gw: “Bang..bang..” (megang duit sepuluh ribuan)
Kenek bus: (belom nengok)
Ibu samping gw: “Bang..” (bantuin manggil)
Kenek bus: “Eh”
Gw: (menyerahkan uang sepuluhribuan)
Kenek bis: (memberikan uang kembalian)
(Jalanan Sabtu itu macet parah. Gw masih tahan berdiri setelah tiap menit bolak balik ganti gaya. Kaki kanan, kaki kiri, ngadep depan, ngadep samping. Bis masuk ke daerah Prumpung. Di belakang ada bis P9A juga, kembaran bis ini yang pengen menyalip ke depan.)
Sopir Bis: Euh.. (Memutar setir dengan kencang. Mempersilakan bis P9A, temannya, menyalipnya.)
Gw: (Monolog) “Ternyata ni sopir solider juga sesama P9A.”
(Mobil makin banyak yang nyalip. Situasi nggak terkendali.)
Sopir Bis: “Anjing..dasar!” (marah-marah)
Gw menarik napas dalam-dalam. Di depan, ada sebelas orang sedang berdiri bergumul di depan pintu masuk. Belum terhitung dengan barisan rapih di belakang. Di bawah terik matahari dan angin yang mengalir kencang lewat jendela, gw seperti melihat barisan sate yang lagi dipanggang, dikipasi oleh kipas rotan. Sementara Ibu di samping gw, bajunya bagus, dandannya rapih, kerudungnya cantik, tangan kirinya sedari tadi mengelap peluh yang mengalir di kening. Dan tangan kanannya, sibuk berpegang ke besi di belakang gw. Kaca di depan, tangan ibu di punggung dan kardus di kaki, lengkap sudah penderitaan gw. Akhirnya, gw sampai di tempat tujuan. Seven Eleven dan dua teman untuk berbincang di hari ini. Sesuatu sekali, setelah dengan perjalanan panjang dengan segala intrik di atas Bus P9A.
No comments:
Post a Comment