05 January 2012

Suatu Ketika di Hari Selasa... (Part 2)


#NowPlaying: Adele-21 Album

Akhirnya sampailah gw di Perbanas. H2C (Harap-harap Cemas)menggambarkan perasaan hati. Takut. kalo hasil tes gw nggak sesuai harapan dan syarat. Ternyata, pas dibuka hasilnya nggak cukup memenuhi aplikasi beasiswa. Sedikit lagi tapi tetep nggak bisa. Gw emang dodol, gw nggak usaha mati-matian di reading part. Minggu lalu gw emang lagi dilanda badai deadline. Dalam seminggu gw selalu sampai jam 12 malam di rumah dan sama sekali nggak belajar. Jujur, gw emang palimg mumet lihat reading dan gw nggak usaha keras di situ. Kalo aja gw bisa jawab enam nomer lagi dengan benar, gw bisa memenuhi syarat. Rasanya, kayak mo terjun dari jurang. Kenapa gw yang udah kuliah tiga tahun dengan english dan sempat exchange pula dengan full english nggak mencapai target standar. Apa yang salah? Gw yang nggak melatih skill? Gw nggak serius belajar? Gw sibuk kerja? Damn. Gw sama sekali nggak bisa terima hasil itu.

Pikiran gw melayang di Kopaja. Gw merasa kalo diri gw bodoh banget.  Gw pernah gagal kayak gini. Dulu waktu SMP, gw rangking satu di kelas unggulan tapi nilai ulangan matematika gw adalah 1,6. Iya, nilai itu rendah banget bahkan temen gw yang rangking terakhir dapat 4,6. “Huh..mending gw yang rangking satu deh,” kata temen gw. Gw emang nggak jago matematika. Tapi kata-kata dia menusuk dan mencambuk gw. Kali ini, bahasa inggris, favorit gw dari dulu, nggak pernah mengecewakan. Tetapi sekarang gw nggak bisa ngomong apa-apa. Walaupun hasilnya nggak jelek-jelek banget tapi tetap ini jauh dari ekspektasi gw.
Setengah perjalanan udah dilalui. “Komdak..komdak..” Gw bimbang. Balik ke rumah atau melanjutkan perjalanan? Tapi..apapun yang terjadi gw harus memastikan soal beasiswa ini. Walaupun nggak memenuhi syarat, gw harus tetap ke sana.

Gw: “Bang ...” (Menyapa kondektur berjaket “Manchester United”)
Kondektur Kopaja: “Ya..” (Abang nengok)
Gw: (Muka datar padahal baru kali ini lihat Kondektur Kopaja lumayan oke. Jerawatan sih..tapi Doi beralis tebal dan manis. Haha) “Pintu satu ya..”
Kondektur Kopaja: “Ya..” (Mengangukkan kepala)

Ketika gw lagi sibuk cek sms di handphone, Bapak-bapak di depan mengagetkan gw dengan bilang kalau udah sampai di pintu satu. Mereka baik udah mau ngasitahu dan ngingetin. Agak lupa juga, padahal bulan Juli sempat ke sini.

Walaupun sempat nyasar akhirnya gw menemukan gedung yang dicari. Di tengah jalan,  ada Abang topeng monyet lagi atraksi di depan Bank. Gw inget banget kalau atraksi tersebut sama sekali bertidakperi-keMonyet-an. Karena monyet sebenernya nggak bisa berdiri dan tukang itu telah memaksa dia buat berdiri. Itu sama aja dengan bandar dan pengamen cilik.  Sang Abang memaksa monyet untuk mencari uang demi dirinya. Mending kasih pisang ke monyet biar dia bisa langsung makan di situ. Kasihan.

Gw pun masuk ke gedung bertuliskan “Kementrian Pendidikan Nasional” yang notabene satu gedung dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan Gedung D alias Gedung Dikti di sebelah FX Mall yang gw kira sedari tadi. Setelah sempat dicuekin selama beberapa menit, gw ketemu juga dengan Mbak penyedia informasi beasiswa unggulan. Well, as i thought before, nilai Toefl gw kurang untuk memenuhi syarat. Kalo gw mau daftar master degree bisa tapi sayang bukan itu. Emang sih cuma biaya hidup yang dikasih untuk beasiswa luar negeri padahal di panduan tertulis bakal ngasih biaya pendidikan juga. But, lumayan juga kalo biaya hidup ditanggung, at least bisa ngurangin beban Bapak. Sebaliknya, untuk beasiswa dalam negeri, biaya kuliah dan riset yang ditanggung sementara biaya hidup nggak. For your information, buat para  dosen or calon dosen bisa juga mengajukan beasiswa tenaga kependidikan ke Gedung D dan sementara beasiswa Mandiri yang gw mau apply ini ditujukan ke gedung C.  Walaupun nggak bisa apply, gw berusaha meyakinkan diri gw kalau sisi positif datang ke sini adalah gw bisa tahu detail informasi beasiswa unggulan. There’s always a bright side of dark side, right?

Sepanjang perjalanan balik ke rumah gw masih kepikiran soal betapa dodolnya gw. Gw juga mikir apa yang musti gw bilang ke Ibu sampai rumah nanti. Gw merasa sangat useless. Huff. *sigh*

After telling the truth. Then..

I’m lucky to have kind parents. Bapak dan Ibu emang baik banget. Wajar kalo mereka kesel dan bingung. Mereka nggak maksain gw tapi emang kenyataan adalah gw harus cari beasiswa untuk lanjut kuliah. Even, Bapak bilang kalo ngapain gw repot2 apply beasiswa ini mending yang pasti aja which is dari kampus gw. Emang baru berlaku di semester kedua tapi itu udah pasti dan nggak ribet. Hemm. Gw garuk-garuk kepala. *puyeng*

Satu pencerahan datang pas gw nonton talkshow yang lagi naik daun di tahun 2011 lalu. Tau donk, talkshow yang hostnya adalah magician? Tidak lain tidak bukan, Hitam Putih. Kebetulan, guest hari itu adalah, Pepeng. “Ah, kacau, ini mah legend!”, kata gw. Pepeng yang lagi sakit terkapar di tempat tidur dan siap menjawab pertanyaan dari Dedy. Dari jawaban serius sampai bercanda ditanggapi baik sama Pepeng. Nggak Cuma beliau, diinterview juga sang istri dan anak-anak Pepeng. Sampai sesi itu gw masih santai kayak di pantai. Gw suka banget liat gaya Pepeng yang sabar dan tegar walau terbaring sakit. Beliau juga nggak kelihatan sakit, ketawa lepas seolah tiada beban, menikmati hidup. Terakhir, datanglah therapis Pepeng yang membawa pasukan binatang liar. Errr, liar banget boy! Sangat ampuh menyembuhkan penyakit tapi juga berhasil membuat gw teriak jijik. Apalagi pas lihat itu binatang (baca: lintah) ditempeli di alis Pepeng. Karena Pepeng punya penyakit Katarak dan setelah therapi Lintah langsung sembuh. Nggak cuma di mata, katanya lintah2 itu juga berkeliaran di paha Pepeng untuk menyembuhkan bagian tubuh bawah Beliau. Satu kata: WOW! Dengan mata kepala gw, gw lihat, lintah itu menggeliat di alis Pepeng dan Beliau masih bisa ngomong seperti biasa. Luarrrr biasaaaa! Pasti menang ikut Fear Factor! Loh? Bukan, maksud gw, Pepeng hebat banget, masih bisa kuat dan berdiri di saat situasi tubuh dia lagi sakit parah. Seharian di tempat tidur, harus therapy lintah, nggak bisa beraktivitas seperti biasa, pastinya hidup berubah drastis. Ditambah, penyakit yang diderita adalah penyakit langka yang belum ditemukan obatnya. Gw nonton sambil ngelus dada. *Take a deep breath*

Finally, satu pertanyaan kunci yang diajukan Dedy malam itu adalah, “Apa sih yang bisa membuat Anda bertahan sampai saat ini?” Dan Pepeng menjawab, “Simpel aja ya. Menurut gw, kita nggak boleh jadi korban dari hidup kita sendiri. Justru kita harus bangkit berdiri karena kalo kita lemah juga orang nggak bakal kasihanin kita.” ...Jeng-Jeng-Jeng.. (Adegan slow motion di film: Mulut gw membentuk bulatan huruf “O”. Terpana. Cengo.)  Amazing! Yang barusan ngomong adalah Pepeng yang lagi sakit parah dan belum pasti akan sembuh. Pastinya penderitaan Beliau lebih berat dibandingkan dengan mereka di luar sana yang sehat walafiat tapi malah ingin mengakhiri hidupnya karena stres urusan cinta, pekerjaan atau contoh konkritnya adalah gw sendiri yang lagi hopeless. Yap, sekarang gw tahu apa yang harus gw lakukan. Gw nggak boleh lemah dan harus bisa bangkit berdiri. Gw masih punya tubuh yang sehat dan prima, kenapa harus terus menyesali diri? Gw juga masih bisa berdoa semoga Toefl IBT gw hasilnya lebih bagus dan bisa memenuhi syarat beasiswa. Moreover, gw harus bersyukur dengan semua yang telah Allah SWT kasih sampai detik ini.

On the next Tuesday..

Satu lagi kenyataan pahit yang harus gw terima. Point Toefl IBT gw (sungguh sayang dan menyesakkan) hanya kurang dua point dari syarat ketentuan. It really hurts. Padahal ini harapan terakhir gw tapi takdir tetap mengatakan tidak atau mungkin memang belum saatnya. However, Apapun hasilnya, gw harus  terima kenyataan sepahit apapun itu karena gw yakin bahwa gw bukan bukan korban atas keadaan hidup. Terimakasih Pepeng dan Hitam Putih.

“Sepahit apapun itu, jangan menjadi korban atas hidup Anda sendiri. ”

-The end-

No comments: