#NowPlaying: Adhitia Sofyan – Forget Your Plans Album
Pesan terakhir di Yahoo Messanger itu sangat kaku. Dingin. Bahkan membuatku lupa makna kata sayang. Iya, “sayang” yang katanya merajut benang-benang hubungan ini selama hampir empat tahun lamanya.
“Apa nih? Datar. Udah lama nggak online cuma segitu doank?! Huh?! Gw tahu lo sibuk tapi nggak gitu juga caranya!”
Aku bahkan tak tahu lagi apa rasa dari semua ini. Kecut, pahit, asam, bercampur dengan asin. Aku tak lagi mencium hawa merona dari setangkai mawar pink yang bertengger di vas itu. Tidak ada lagi rasa berdebar-debar dan bergairah itu. Mati rasa? Mungkin. Ada apa gerangan?
“Apa dia nggak ngerasa kangen? Udah lama banget kita nggak ngobrol, seminggu. Tapi cuma segitu aja kata-katanya. Gw masih mo ngobrol tapi udah pergi duluan. Gw bener-bener nggak tahan gini terus. Sama aja kayak gw nggak punya cowok. Jarak udah ngancurin semuanya. Shit!”
Jarak. Benarkah ia begitu kejam? Memisahkan dua insan manusia yang tengah mewarnai benih cinta mereka. Membuat mereka berkelana di dunia masing-masing tanpa mengindahkan pasangan nun jauh di sana. “Sayang” itu kini tak lagi dapat diraih lewat petikan chatting, tatap video atau sekedar bertegur sapa di lintas maya. Sudah tidak cukupkah semua itu?
“Jakarta lebih deket dari Tunisia, kenapa sekarang kacau? Dulu, walaupun nggak ada kabar gw masih bisa sabar. Gw masih bisa percaya kalo gw bakal ketemu dia lagi. Kalo kita bakal lebih baik lagi. Tapi sekarang kenapa jadi gini? Apa gw salah sama dia? Kenapa dia nggak pernah sadar sih sama hubungan kayak gini? Sampe kapan gini terus?!”
Mungkin benar, kata sayang sudah tidak bermakna lagi. Ibarat penyakit, ia sudah kebal mengerogoti tubuh manusia. Memang, sekedar sayang tidak cukup untuk hubungan stagnan jarak jauh. Tidak hanya itu, ia juga sudah tidak tahu apa itu rindu. Karena rindu yang berlebihan justru akan membuatnya letih dan sakit. Mungkin tak pernah terpikirkan hal ini olehnya. Cukup, jika sang perempuan kelihatan baik-baik saja. Padahal, perlu diketahui bahwa ledakan sakit dari hati tak mudah terlihat dan lebih spektakuler dampaknya.
“Kenapa selalu gw yang ngerasain ini? kenapa dia nggak? Apa dia nggak pernah mikir kalo hubungan ini tuh udah mati suri. Kenapa selalu gw yang bertanya? Sebenarnya apa yang ada di pikiran dia? Apa dia enjoy dengan hubungan kayak gini? Asal lo tau, Hampa!”
Satu kata paling tepat yang menggambarkan suasana hati. Tak ada apapun. Apalagi kata-kata asing bernama “sayang” dan “cinta”. Kosong. Hanya itu yang mengisi relung hati yang dulu sempat diisi oleh sosok manusia. Seolah itu semua hanyalah status imajinasi belaka tanpa kenyataan duniawi.
“Iya, gw juga salah. Gw sibuk, gw nggak punya pulsa dan nggak bisa online. Gw juga nggak mau nanya hal ini terus ke lo. Tapi kalo gw nggak tanya, apa lo sadar? Gw juga pengen nggak ngerasain ini, tapi namanya manusia pasti punya perasaan. Justru gw bingung, kalo kita udah asik sama dunia sendiri dan lupa akan hubungan ini, terus buat apa? Ngapain kita terus jalanin kalo kita sendiri juga nggak peduli satu sama lain?”
Tak bisa kulupa akan wangi parfumnya di setiap perjumpaan. Juga tawa lepas dan hangatnya genggaman tangan itu. Di bawah redupnya sinar rembulan malam..kita bersama terbang ke alam indah bernama cinta. Aku takkan lupa momen-momen itu. Namun, aku tak tahu ada dimana mereka sekarang. Pergi.. Menghilang.. Entah kemana..
“I don’t know what this is anymore. If we don’t care about each other. So, what’s the point?”
No comments:
Post a Comment