15 January 2012

A letter to You


Dear You,

Apa kabar? Semoga kamu masih tetap setia di sana, menikmati tetes-tetes hujan yang turun dari balik jendela. Lalu tersenyum senang, mencium bau khasnya yang mewarnai tiap sudut kota. Akupun masih di sini, terduduk di teras rumah dan berimajinasi tentang pertemuan kita nanti. Sambil sesekali mendengar kepak sayap burung perkutut yang sedari tadi mencoba membangunkanku dari indahnya dunia khayal. Dan saat itu, aku mendadak menjadi seorang aktris profesional yang seolah tahu bahwa sang kekasih sedang duduk di sampingnya. Membelai halus rambutnya, mengenggam tangannya kuat, menatap matanya lekat-lekat, menyatakan kalau ia akan selalu di sini, menemaninya. Seketika, angin puting beliung menggulung, membawa bayang-bayang  pergi dari pandangan dan semua tak lagi seperti dulu. Daun-daun berguguran disiram panasnya sang surya, kepak sayap perkutut itu tak terdengar lagi, memberitahuku bahwa ini adalah dunia fana. Hujan pun enggan singgah di tanah-tanah yang kehausan, bunga itu tak lagi berwarna kuning cerah tetapi merah sayu nan layu, tak ada air yang memberinya hawa segar untuk kembali mekar merekah. Sekering itukah kenyataan? Aku tak percaya. Lebih baik aku pergi berdiam diri, mungkin kan kutemui oasis-oasis baru.


Sudah sewindu aku berjalan, sepertinya oasis pun tak sanggup meredam kehausan ini, terlalu liat dan pekat. Apa yang harus kulakukan? Telah kucari, kulayari, kuseberangi sampai ujung samudera sana. Mungkin dia, tak akan pernah ada selain dalam bayangan. Semu memudar. Atau mungkin alam tak mengijinkan kami bercanda dalam satu asa? Ya, aku merindukanmu, seperti anjing yang menggeliat-geliat akan tulang putih di depannya, seperti aku, yang kering kerontang atas rintiknya taburan air dari langit, yang tak pernah lagi turun. Aku tahu kamu begitu damai di sana, tetaplah seperti itu, aku tak akan menganggumu. Setiap detik kuyakinkan pada diri ini, kalau aku tak akan melepaskanmu, karena kamu begitu indah untuk ditinggal. Kamu adalah salah satu utusan Tuhan untuk membuat para wanita yakin, kalau memang ada pria baik hati di planet bernama Bumi. Dan aku dengan bahagianya menjadi salah satu orang yang pernah merasakan getar getir mendebarkan itu.


Kupikir, memang aku wanita kuat yang tak mudah tergores dan terombang-ambing dalam ombak ganas. Sayang, dugaan tak selalu benar, ternyata aku ini lemah, tak sanggup melewati terpaan badai jarak yang begitu kencang. Yang katanya bisa kita lewati bersama, mungkin kamu bisa, tetapi aku tidak cukup kuat. Berulang kali aku coba katakan bahwa situasi tidak seburuk itu, karena bunga akan segera tumbuh berseri dan daun-daun itu pun kembali menghiasi ranumnya pohon apel. Sebulan, dua bulan atau setahun lagi, mungkin. Namun, semuanya telah sirna, terhembus waktu, berlalu. Terimakasih telah menjadi payung untuk setiap hujan-ku. Biarlah kemarau ini kulalui di sini, sepi, sendiri, selama aku mampu.

Anyway, Happy 46th monthversay Bono Coco x)

With Love,
Chandini

NowPlaying: 9 Matahari – Puisi #12

No comments: