06 August 2012

#21. Catatan Harian Tunisia (Part 4)


25 Desember 2010

Akhirnya aku bisa berseluncur di dunia maya setelah tiga hari di sini. Baroque, café tempat aku tersambung dengan kabel internet. Letaknya di belakang apartemen dan bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menit. Pagi tadi aku mengunjunginya karena bosan di rumah. Café itu sepi ketika aku datang. Waktu menunjukkan pukul 11.00 dan aku memilih untuk duduk di luar. Kupesan Sandwich au Jambon sebagai penambah asupan makanan. Perutku belum puas kalau hanya diberi sarapan orang bule yaitu semangkuk sereal, yoghurt juga susu. Lagipula, gambar sandwich itu tampak lezat  di buku menu. Aku membuka laptop dan langsung menuju Buku Muka. Tidak sabar rasanya mengetik status pertamaku di Tunisia. Kawan-kawanku langsung mengomentari dan bertanya, “Bagaimana di sana?” Apa ada salju?” Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Jawabanku selalu sama, “Tidak ada salju tetapi sangat dingin dan tubuhmu akan serasa ditusuk-tusuk kayu.” Tidak lama, sepiring sandwich datang dengan senyuman hangat. Sang pelayan berkulit cokelat dan bermata teduh. Mungkin ia adalah pelayan yang Marcella bilang sangat ramah dengan foreigner. Aku melanjutkan aktivitas online dengan perasaan senang. Jari jemariku bergerak cepat membalas komen-komen di status. Sembari itu, aku memakan sandwich, roti panjang dengan daging asap juga selada dan tomat di dalamnya. Tiba-tiba handphone berbunyi, tertulis nama “Yassine” di screen. Ia bilang akan menjemputku sebentar lagi. Aku segera menutup laptop dan memanggil pelayan tadi.

Ia datang dengan membawa secarik kertas bertuliskan jumlah yang harus kubayar. Jujur saja. aku belum paham dengan mata uang Dinar. Aku merogoh kocek di kantong dan memperhatikan angka yang tertera, 4500. Andai jumlah ini dalam rupiah, sayangnya bukan, khayalku. “How much?” aku memastikan. “Quatre dinar cinq cent,” jawab pelayan. “Err..” . aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, seperti bahasa alien di telinga. Suatu kepastian kalau aku harus mengulang kembali pelajaran Bahasa Perancis. Aku menyerahkan beberapa keping logam bertuliskan satu dan seratus padanya. Ia menggeleng dan meringis. “Quatre,” jarinya menunjukkan angka empat. Koin yang ada di atas meja jumlahnya lebih dari empat buah, belum cukupkah? Aku menggeser-geser koin tersebut dan sok menghitung berapa jumlahnya. Lalu menyerahkan kembali kepada sang Pelayan. Ia tersenyum kikuk dan menggaruk-garukkan kepala. Lagi-lagi ia menunjukkan angka empat dengan jemari. “I don’t understand, sorry.”, aku mengangkat bahu. Bola matanya yang tadi terlihat riang berubah menjadi bingung. Kami seperti dalam adegan film komedi tentang dua orang asing yang tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Aku tidak bisa bahasa Perancis dan dia tidak mengerti Bahasa Inggris. Lengkap sudah cerita lawak hari ini. Lebih lucu lagi kalau ada Tarzan di antara kami yang bisa membantu dengan bahasa tubuhnya. Waktu seperti berhenti berputar menyaksikan kami, dua orang yang hanya terdiam selain tersenyum dan tertawa. Yassine kembali menelepon dan menyatakan kalau ia sudah sampai. Aku berpikir cepat. Kurogoh kembali isi kantong mungkin masih ada sisa koin tertinggal. Pelayan memperhatikan dan berharap aku mengeluarkan koin yang ia maksud. Seperti pertunjukan sulap saja. Aku mengeluarkan satu buah koin besar bertuliskan angka lima. Pelayan menjentikkan jarinya pertanda kasus ini telah selesai. Ia menyerahkan uang kembalian padaku dan langsung kusimpan di dalam saku. Aku berlalu pergi sambil mengucapkan terima kasih. Aku yakin sebentar lagi pelayan itu pasti akan menceritakan kejadian lucu ini kepada kawan-kawannya.

Yassine dan Wajih mengantarku untuk membeli nomor Tunisia. Ya, biaya membeli sim card ditanggung oleh kantorku. Tentu ini berita baik, sepertinya kantor ini mempunyai cukup modal untuk membiayai keperluan karyawannya. Lalu aku kembali ke Baroque, melanjutkan kegiatan online karena tadi terhenti di tengah jalan. Topi kupluk, sweater biru, celana jeans dan sneakers, aku memasuki pintu café. “Ni hao..ni hao..ni hao,” teriakan-teriakan itu terdengar jelas diiringi dengan suara tawa. Mata mereka menyorot aku yang tengah berjalan. Aku mempercepat langkah dan segera masuk ke dalam. Itu dia, aku melihat Paulina di meja pinggir, ia sudah lebih dulu sampai. Kutarik kursi dan duduk dalam diam. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Teriakan tadi sangat menyebalkan. Aku memandangi mereka dari kaca, segerombolan anak muda yang sedang menghirup shisha. Rasanya ingin sekali aku mendaratkan tinju di wajah-wajah ingusan itu. Kalau saja aku bisa mempraktekkan ilmu taekwondoku di sini. “Ulka, are you okay?”, suara Paulina mengagetkanku. “Ya, I’m fine,” aku tersenyum kecil. Paulina sedang berbincang dengan orang tuanya di skype. Hari ini adalah hari natal dan saatnya untuk berkumpul dengan keluarga. Aku memperhatikan bahasa Polandia yang Paulina ucapkan, kedengarannya rumit. “Hey Ulka, come to see my parents,” katanya menunjuk ke laptop. “Hai..,” aku menyapa orang tua Paulina. Sepasang suami istri yang terlihat sudah berumur tampak di layar. Setelah selesai melepas kangen, Paulina pun pulang terlebih dahulu ke rumah 

Aku menuju skype dan menjumpai dua kawan di sana, Laras dan Rachman. Lalu kupesan Thé Normal untuk menemaniku bercengkrama, minuman dengan harga paling murah di buku menu. Cukup sudah aku berfoya-foya tadi pagi, sekarang saatnya berhemat. Teh dengan ukuran sejengkal jari pun menghampiri meja. Tidak lupa dengan hiasan daun di dalamnya sebagai pemanis. Teh ini rasanya agak pahit karena tanpa gula. Aku mengira-ngira, mungkin maksud kata normal dalam menu itu adalah teh biasa tanpa campuran apapun. Aku mengalikan harga teh dengan konversi mata uang rupiah. Baiklah, untuk sekedar teh yang bisa habis dalam seteguk aku harus membayar tujuh ribu dua ratus rupiah. Laras bilang lain kali aku bisa membawa teh celup Sariwangi sebagai bekal. Itu lebih baik daripada harus menghabiskan uang yang bisa dipakai untuk makan lengkap dengan lauk pauk dan sayur di kantin kampus. Aku terkekeh, benar juga apa yang dibilang Laras. Kami asyik berbincang mengenai banyak hal, salah satunya adalah final pertandingan Indonesia vs Malaysia di Piala AFF besok. Banyak prediksi dan persiapan yang sudah dilakukan untuk menonton pertandingan seru ini.  Seperti Laras yang esok akan menonton langsung di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia. Jangan kaget, kami memang orang Indonesia yang sedang menimba ilmu di Malaysia. Kami tetap cinta Indonesia dan pastinya akan mendukung negara tercinta. Aku ingin sekali menyaksikan big match ini tetapi esok aku akan pergi mengunjungi Kerkenna. Aku pun menceritakan mengenai kejadian menyebalkan tadi. Kesal sekali ketika ada orang yang memanggilmu dengan ucapan rasis seperti itu. Lalu kami ber-webcam ria dan Laras pun tertawa ketika melihat wajahku yang sekarang sudah seperti orang Cina. Berponi, bermata cukup sipit dengan kacamata, rambut tergerai dan mengenakan sweater sampai ke atas leher.  Pantas saja kalau mereka mengira aku memang dari daratan sana. Aku makin gemas mendengarnya.  Aku memperhatikan penampilanku dengan lebih seksama. Apa benar aku seperti Chinese? Memang kalau diperhatikan secara sekilas tetapi tetap saja aku bukan berasal dari negara itu. Dan kalaupun aku memang dari sana, aku tetap tidak suka dipanggil-panggil seperti tadi. Setelah puas bercengkrama dengan kawan-kawan, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. 

Oh ya, tadi pagi aku bertemu dengan Wassim, tepatnya ia yang berkunjung ke rumah. Ia datang bersama dengan Afra, kekasihnya. Aku jadi teringat cerita Wassim semalam ketika ia memberikan coke untuk Paulina yang tengah hangover. Kalau sebenarnya ia mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Romania. Namun karena kondisi keuangan yang cukup sulit ia memutuskan untuk tidak pergi. Tidak adil kalau aku hidup bersenang-senang di sana sementara keluargaku menderita di sini, katanya. Aku jadi teringat keluargaku, Bapak yang sudah menghabiskan uang cukup banyak untuk biayaku pergi ke sini. Keluargaku adalah keluarga sederhana tetapi Bapak selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia rela melakukan apa saja demi kebaikan kami. Ah, aku pun merasa bersalah, lebih baik aku internship di Kuala Lumpur saja, tidak usah jauh-jauh ke Afrika. Namun apa boleh buat, segala sesuatu sudah diputuskan dan aku harus berbuat sebaik mungkin selama di sini. Tidak terasa, besok sudah hari Sabtu dan aku sudah tidak sabar untuk Kerkenna. Sampai jumpa! x)
***

26 Desember 2010

Weekend pertamaku di Tunisia sangat menyenangkan. Aku, Marcella, Nidhal dan Imad pergi bersama-sama ke Kerkenna. Satu pulau di timur Kota Sfax, kampung halaman Nidhal. Kami pergi dengan ferry yang membawa kami selama sekitar satu setengah jam sebelum akhirnya sampai di pulau kecil dan damai ini. Kerkenna penuh dengan barisan pohon kurma, penduduk pulau yang saling mengenal satu sama lain, octopus yang lezat, kastil Romania dan sunset yang menakjubkan. Ya, aku sangat menyukai jenis liburan seperti ini dimana kita dimanjakan oleh keindahan alam yang mempesona. Nidhal membelikan kami roti sebagai ganjalan perut sebelum menyatap octopus. Ketika itu, aku melihat beberapa lelaki datang menghampirinya dan Nidhal dengan hangat memeluk mereka. Bukan itu saja, mereka juga saling mencium pipi kiri dan kanan sebanyak empat kali. Ini adalah kejadian langka yang kulihat seumur hidup. Di Indonesia para lelaki hanya berjabat tangan dan juga berpelukan, sesekali. Setelah itu, kami pergi ke pantai, sudah ada seorang kawan Nidhal menunggu di sana. Pak nahkoda kapal dengan ramah mempersilakan kami naik ke kapalnya yang berukuran sedang. It is a boat but enough for six people. 

Kami mengapung-ngapung di atas kapal cukup lama, sekitar satu jam. Ada satu kawan Nidhal yang ikut bersama kami, ia sibuk berbicara dengan Marcella sedari tadi. Aku tidak henti-hentinya menghirup, me-refresh pikiran dengan bau laut yang menggairahkan, Cukup lama juga tidak berkunjung ke laut padahal ini adalah tempat favoritku. Aku merentangkan tangan di sisi kapal, layaknya Film “Titanic” sambil berteriak kencang. Kami juga saling bersenda gurau dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Aku ingin belajar Bahasa Arab jadi aku khusyuk mendengar pembicaraan antara Imad dan nahkoda.  Imad adalah sepupu Nidhal dan ia bekerja di Oil Libya Company. Imad sedang dalam rangka liburan ke Tunisia. Ternyata nama Pak nahkoda adalah Farhan yang berarti bahagia. “Farhan means happy,” Imad menjelaskan. “Ana farhan means I am happy.” lanjut Imad. “Ana farhan,” aku mengatakannya dengan spontan. “Haha..for girl..Ana farhana.” kata Imad lagi. Mereka tertawa melihatku yang sedang latihan berbahasa Arab. Aku pun tersenyum senang. Setelah lelah berputar-putar, Nidhal mengajak kami untuk menjemput menu santapan utama yang dinanti-nantikan. Kuucapkan salam sampai jumpa kepada langit yang sayangnya, siang itu mendung kelabu.

Restoran ini sederhana walaupun Nidhal bilang mereka menyediakan menu Octopus terlezat di Kerkenna. Selayang pandang, tepat di depan mata adalah laut lepas yang menambah manisnya gurita. Apa kau pernah makan gurita? Tentakel-tentakelnya sangat alot untuk dikunyah dan ditelan. Maaf kalau aku membuatmu jijik tetapi aku bersyukur karena bisa makan apa saja. Namun untuk yang satu ini, kau harus percaya padaku bahwa gurita itu enak dan patut dicoba. Seperti biasa, sambal yaitu Harissa dengan tuna, buah dan minyak zaitun juga ikut menemani menu siang itu. Kalau di Malaysia mungkin namanya adalah sambal belacan yang selalu hadir di setiap makanan. Sementara Indonesia, setiap daerah punya sambal khas masing-masing yang pasti menambah sedapnya rasa masakan. Aku sendiri dulu tidak terlatih untuk makan pedas tetapi selama di Malaysia selalu dijejali sambal oleh kawan-kawan. Jadilah aku berevolusi dari seorang yang anti pedas menjadi suka pedas. Kembali ke gurita, sekitar tiga hari lalu berlangsung Festival Octopus di Kerkenna. Kita bisa menyaksikan octopus dari jarak dekat di laut. Para turis datang untuk memancing atau sekedar memandang hewan menarik yang satu ini.  Sekarang festival sudah berakhir walau masih ada jatah gurita untuk dimasak. Ketika summer, Kerkenna akan penuh sesak dengan para turis yang ingin melihat octopus dan festival musik. Oh ya, satu hal yang tidak kalah menarik adalah penduduk di Kerkenna saling mengenal satu sama lain. Nidhal bilang karena pulau ini kecil setiap orang kenal baik dengan siapapun yang tinggal di sini. Tadi yang mencium dan memeluk Nidhal adalah kawan lama yang lama tak berjumpa. Kalau saja hal seperti ini bisa diterapkan di kota modern seperti Jakarta, pasti kompleks perumahan tak lagi sepi. Semua orang saling bertegur sapa dan kehangatan kembali tercipta.

Perut sudah kenyang dan kami pun pergi menuju Kastil Romania. Marcella mendapat telepon dari Wassim yang bertanya tentang keberadaan kami. Sepertinya ia khawatir dengan kami yang tengah pergi dengan Nidhal. Semalam, Wassim memperingatkan untuk berhati-hati dengan Nidhal karena ia memang mengincar foreigner. Setiap ada  foreigner datang, Nidhal selalu berusaha mengajak mereka pergi jalan-jalan. Aku tidak begitu mengerti maksudnya tetapi selama ia tidak berbuat macam-macam, aku menikmati perjalanan ini. Kastil Romania ini kecil dan biasa saja, menurutku. Ada reruntuhan yang belum terjamah dan puing-puing di sekitar. Satu nilai lebih adalah kastil ini sangat indah ketika sunset. Benar, seperti dalam film tentang putri yang tinggal di atas kastil cantik yang tertimpa cahaya ketika matahari terbenam. Kita juga bisa melihat birunya laut dari atas kastil. Sangat indah. Bentuk kastil adalah trapesium dengan satu pintu masuk di depan. Ada tangga menuju bawah kastil, di sana terdapat beberapa pintu yang terkunci. Seperti yang sudah kubilang tadi, masih banyak puing berserakan di sekitar kastil. Mungkin itu adalah sisa-sisa kastil yang belum dibenahi. Aku mengambil gambar matahari yang tersipu-sipu malu menuruni langit sore itu. Semburat merah, oranye dan kuning seperti lukisan Tuhan yang digoreskan dari kuas surga. Keindahan ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku selalu suka sunset berapa kali pun aku menyaksikannya. Kami lalu pergi ke bawah untuk berfoto dengan latar belakang laut dan kapal. Meskipun kastil ini biasa saja tetapi dengan letaknya yang berada di pinggir laut membuatnya menjadi luar biasa. Hari menjelang gelap dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Nidhal akan mengantarkan kami ke rumah pemusik Kerkenna. Sayang, mobil jemputan kami belum datang. Jalanan sepi, remang-remang cahaya matahari membantu kami menyusuri jalan. Nidhal tidak tahu posisi kami berada sekarang dan harus menuju kemana. Ia lupa, katanya. Kami seperti empat survivors yang selamat dari pulau misterius tidak berpenghuni. Berjalan dengan membusungkan dada, tangan di saku dan sorot mata tajam. Nidhal juga memberitahu kalau malam hari, Kerkenna akan senyap dan tidak ada orang yang keluar. Kami melewati hotel berwarna biru yang menarik untuk dikunjungi. “This is the only hotel in Kerkenna, 5 stars.”, Nidhal menunjuk hotel tersebut. Pantas hotel ini bisa mendapatkan lima buah bintang karena hanya satu-satunya di pulau ini. Walaupun harus kuakui memang penampilan luarnya yang bagus membuat pengunjung ingin menginap di sana. Hari semakin gelap dan tidak ada satu pun mobil yang lewat. Aku mulai was-was. Bagaimana kalau Nidhal merencanakan hal yang tidak-tidak? Apa benar dia lupa kampung halamannya sendiri? Apa yang harus kami lakukan kalau dia berbuat hal jahat?  Kurasa sekalipun kami berteriak tidak akan ada yang mendengar. Aku melihat Marcella, ia tampak baik-baik saja. Ia mengajak kami bersenda gurau dan bercerita. Aku yakin kalau ia sebenarnya juga khawatir tetapi tidak diperlihatkannya. Tidak lama, mobil merah yang tadi menjemput kami dari pelabuhan pun sampai. Sopir mobil ini adalah kawan Nidhal, ia akan membawa kami ke tempat tujuan selanjutnya.

Anez menyambut kami yang tampak lelah dengan wajah ceria. Rumah Anez adalah rumah tradisional Tunisia. Di pintu masuk, ada dapur kecil lalu masuk ke dalam terdapat bangku untuk duduk-duduk dan satu buah televisi. Anez adalah musisi Kerkena yang biasa manggung untuk summer festival di Kerkenna. Ia mengeluarkan satu tas besar yang berisi peralatan manggung, di antaranya adalah, seragam, terompet kecil dan terompet besar. Aku tidak tahu apa namanya, bentuknya seperti terompet dan berwarna cokelat. Cara memainkan adalah dengan meniupnya. Kukira bunyi suara terompet kecil ini sama seperti ukurannya, ternyata besar sekali. Suara nyaringnya bisa terdengar sampai keluar rumah. Anez juga memakaikanku baju yang ia pakai untuk manggung. Ada tiga stel, yang terdiri dari topi runcing seperti topi alibaba, baju putih dengan rompi merah dan rok lipit berwarna putih. Lucu sekali, seperti seragam polisi Skotlandia. Ada juga ikat pinggang berwarna merah untuk mengikat rok. Dengan band tradisionalnya ini, Anez sudah keliling  sampai ke Jepang dan ia biasa dibayar minimum sebesar 900 dinar untuk summer festival di Kerkenna.

Anez sangat ramah, riang dan suka bercanda. Ia mudah akrab dengan orang baru. Aku melihat tangga menuju jendela di atas lalu bertanya ada apakah di sana. Anez bilang itu kamar tidur dan ia mengajakku ke ruangan itu. Aku langsung menggelengkan kepala dan berkata, “La la la.” La artinya tidak, itu kosakata yang kudapat setelah empat hari di sini. Anez tertawa melihatku berbicara dengan Bahasa Arab. Kemudian ia bercerita bahwa ia bertemu dengan dua orang perempuan Polandia tetapi ia tidak suka pada mereka. Malam ini ia bertemu dengan perempuan Indonesia dan suka denganku. Ah, bisa saja. Aku tersenyum malu-malu. Televisi di depanku  sedang memutarkan lagu dengan gambar statis. Gambar ini tidak bergerak hanya judul lagunya saja yang berganti. Aneh sekali, pikirku. Apa memang semua acara televisi di Kerkenna seperti ini? Anez mengeluarkan botol-botol Vodka yang pernah ia minum. Ia selalu menyimpan botol-botol tersebut dan tidak pernah membuangnya. Ada Vodka Normal, Vodka Citrus dan Vodka Raspberry. Aku belum pernah minum Vodka sama sekali. Aku memperhatikan botol-botol itu. Botol Vodka tidak lurus ramping seperti Wine melainkan gemuk dan besar. Aku suka design botol ini, serasi dengan font dan bentuknya. Maklum, aku adalah orang visual yang selalu memperhatikan kemasan. 

Aku pergi keluar rumah, tampak pancuran air tanpa lapisan luar atau pintu kamar mandi. Aku juga tidak menemukan kamar mandi di dalam rumah. Lalu apakah Anez setiap hari mandi di luar? Memang rumah ini dikelilingi tembok besar dan tidak ada lampu jadi kalau malam hari sangatlah gelap. Tiba-tiba datang  dua orang kawan Anez karena tidak ingin menganggu, kami pun pamit pulang. Sebelumnya, Nidhal bercerita kalau keluarga Anez ada di Sfax, kota tempat kami tinggal. Namun Anez lebih suka tinggal sendiri di Pulau Kerkenna. Kulihat Anez sanggup untuk hidup seorang diri karena ia juga sudah bekerja. Seperti yang sudah kubilang tadi, Anez mendapatkan uang sedikitnya 900 dinar sekali manggung. Kalau kau mau tahu berapa jumlahnya dalam rupiah, kalikan satu dinar dengan enam ribu rupiah. Sangatlah cukup untuk hidup seorang diri di pulau terpencil. Anez dan Nidhal adalah kawan baik sewaktu kecil dulu, jarak rumah mereka  berdekatan satu sama lain. Nidhal juga yang menerjemahkan semua pembicaraan kami dengan Anez ke dalam Bahasa Inggris sehingga aku bisa menceritakannya padamu.

Kami pulang dalam dingin yang merontokkan tulang. Aku sempat keluar dari ferry dan rasanya ingin segera berada di dalam rumah yang hangat. Nidhal memberikan kami kesempatan untuk masuk ke ruangan nahkoda kapal dan melihat bagaimana ia bekerja. Ketika turun dari ferry, ada kawan Nidhal yang menjemput jadilah kami diantar pulang sampai rumah. Hari ini aku tidak mengeluarkan uang sekali pun. Semua ongkos dan biaya makan ditanggung Nidhal. Tunisia hospitality is totally incredible. Bisa dibilang tidak beda jauh dengan orang Indonesia yang suka menjamu tamu. Tamu adalah raja dan harus diperlakukan dengan baik. Well, omongan Wassim tidak terbukti kali ini  walaupun aku sempat takut di tengah perjalanan tadi. Besok adalah hari pertama masuk kantor. Setelah weekend yang menyenangkan, aku makin tidak sabar untuk memulai bekerja. Sweet dreams *)

***

27 Desember 2010

Aku tidak bisa membayangkan apa yang baru saja terjadi. Seorang pria tidak dikenal menawarkanku untuk in a relationship. Iya, pacaran. Benar-benar, dunia sudah semakin gila, maksudku, orang-orang di dalamnya. Ceritanya adalah, hari ini aku tersasar ketika pulang dari kantor. Maklum, aku memang sering kali tersasar di tempat baru. Apalagi hari sudah malam dan jalanan nampak berbeda dari siang hari. Ini juga hari pertama aku bekerja. Wow, the first day in office! Ibarat film ini adalah premiere dan tentang itu akan kuceritakan nanti. Kembali tentang pria asing ini, aku bertemu dengannya di pos security. Bagaimana bisa? Begini..aku memang sudah yakin kalau lupa jalan pulang ketika berada di persimpangan. Seingatku adalah jalan lurus terus tetapi aku tidak begitu yakin. Di depanku ada satu gedung bertuliskan Iskandar Optique dengan lambang kacamata dan di sekitarnya adalah pertokoan. Aku mencoba berputar arah kembali ke jalan sebelumnya tetapi hati kecilku bilang kalau bukan ke sana. Aku salah jalan dan memang sudah tersasar.  Baiklah, aku pun menelpon Paulina, housemateku, mungkin dia tahu tempat ini. Ternyata Pola, aku memanggilnya begitu, ia juga tidak tahu Kota Sfax. Ia menyarankan untuk mengambil taksi dan pergi pulang. Aku menghela napas, mencoba berpikir jernih. Tiba-tiba Marcella menelponku dan ia menyatakan hal yang sama bahwa aku bisa naik taksi dengan La Terrace sebagai tujuan. Mataku menerawang mencari taksi dan tidak ada yang lewat. Aku melirik arloji, jam menunjukkan pukul 19:00. Apa para sopir taksi sedang beristirahat? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kalau aku melanjutkan perjalanan ini ada dua kemungkinan, aku makin tersasar atau menemukan jalan pulang. Namun, kota ini masih asing, aku belum kenal dengan sifatnya. Bagaimana kalau aku menemukan orang jahat di jalan? Tadi saja ketika melewati pasar, para pemuda itu berteriak-teriak “Ni Hao..Ni Hao..” Seperti biasa, aku mengacuhkan mereka dengan terus menatap ke depan dan berjalan cepat. Kali ini aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mungkin ada baiknya kalau aku menelpon Yassine, bosku. Dia pasti tahu dimana aku berada sekarang karena ia memang tinggal di kota ini. Sebenarnya aku tidak enak hati untuk bertanya pada Yassine, tadi pagi ia sudah menunjukkanku jalan pulang. Ketika makan siang juga ia mengingatkanku kembali. Memang dasar aku pelupa jadilah semua yang sudah diberitahu pun percuma.

Karena pulsaku tidak cukup, aku pun mengirim pesan pada Yassine. Lalu ia menelpon dan menyuruhku untuk memberikan telepon ke orang di sebelahku. Mungkin Yassine ingin berbicara dengan orang tersebut untuk menunjukkan arah kepadaku. Kutengok sekeliling, tampak satu pasangan di sebelah kanan dan wanita cukup berumur di depan. Aku lebih percaya dengan wanita cukup berumur untuk menyerahkan handphone dan memberitahu jalan. “Hey..this..” kataku sambil menunjukkan handphone. Ya, aku berbicara dengan bahasa tubuh karena aku tidak bisa berbahasa Arab. Wanita itu kebingungan dan berkata , “Ha?” Dengan sabar aku kembali menunjuk-nunjuk handphone dan menganggukan kepala sambil tersenyum lebar, tentunya. Wanita itu masih belum mengerti, alisnya mengernyit tetapi ia mengambil hanpdhone itu dariku. Tidak berapa lama kemudian, aku mendapat jawaban yang makin membuatku resah. Ulka, she doesn't know the way,” kata Yassine cemas. Aku semakin panik dan seketika di depanku muncul seorang polisi. Dari seragam yang ia kenakan dapat dipastikan kalau ia adalah polisi. Aku langsung menyerahkan telepon itu padanya. Mereka berbicara di telepon dan telepon pun ditutup. Pak Polisi bertubuh tambun ini mengajakku untuk masuk ke dalam gedung. Ada satu pos kecil di depan, ia mengambil pena dan kertas. Lalu menggambar peta mengenai jalan dari tempat ini ke rumahku. Ia menjelaskan dalam Bahasa Perancis dengan menggerak-gerakkan pena dan tangannya. Aku menggelengkan kepala, tidak mengerti. Apalah daya, kami berdua hanya tertawa kebingungan. Tiba-tiba Yassine menelpon kembali dan berkata kalau ia akan menjemputku sebentar lagi. Akhirnya, cahaya terang datang. Kalau dari awal seperti ini aku tidak usah repot dan panik.

Aku duduk manis di kursi sembari melihat-lihat pos kecil ini. Ruangan ini mungil, hanya ada kursi, meja dan kertas-kertas. Aku melongok keluar dan melihat banyak bendera di depan gedung. Mungkin ini adalah gedung kedutaan besar, pikirku. Pak Polisi itu berjaga di depan gerbang jadilah aku sendiri di dalam pos.  Beberapa lama kemudian, datang seorang lelaki bertubuh sedang  dan berkulit putih dengan Pak Polisi. Aku tidak tahu siapa dia tetapi ia menyapaku dengan ramah. Lagi-lagi, kau harus terbiasa mendengar cerita tentang aku yang selalu dikira chinese. Hari ini ada varian baru, yaitu Filipina, ia berpikir aku dari sana. “No, I’m from Indonesia,” jawabku dengan senyum. Namanya Khamaise dan sebenarnya aku tidak tertarik mengetahui siapa nama lelaki ini. Aku malah bertanya siapa nama Pak Polisi baik hati yang menolongku, yang ternyata adalah Khamid. Perasaanku bertambah aneh ketika ia menanyakan nomor teleponku. Seorang lelaki yang baru kau kenal selama kurang lebih lima menit meminta nomor teleponmu, apa yang kau lakukan? Karena terpaksa dan tidak ada pilihan, kuberikan nomorku padanya. Ia jelas melihatku memegang handphone dan aku takut dia berbuat macam-macam kalau permintaannya tidak kupenuhi. Setelah itu, Khamid memberikan sebuah kotak berwarna merah kepada Khamaise. Bukan bermaksud ingin tahu tetapi aku hanya ingin mencairkan suasana, aku pun bertanya apa isi kotak tersebut. Khamaise bilang, ini adalah hadiah dari istri Khamid, teman baiknya. Khamid tersenyum dan pergi meninggalkan pos. Suasana agak canggung ketika hanya aku dan Khamaise di dalam ruangan. Tiba-tiba, Khamaise bertanya satu hal yang membuatku sangat bersemangat menceritakan tentang kejadian malam ini.

You, are you married?
Oh, No. You?
No, i'm single. No rings.
I see.
So, i want to make relationship with you. Is it problem or not?
What??
Yeah, I want to make relationship with you. So?
Errrr...Sorry i have boyfriend in Tunis. I'm engaged.
In Tunis? Engaged?
Yeah, we're gonna married next month.
Oh, okay.

Dalam beberapa detik, Khamaise berlalu pergi. Lalu Yassine datang dan menjemputku pulang. Sekarang aku sudah sampai dengan selamat di rumah. Paulina bertanya, apa yang terjadi denganku tadi dan kuceritakan saja padanya mengenai peristiwa unik ini. Ia pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku masih terheran-heran dengan apa yang baru saja kualami. Cocok sekali untuk dijadikan ide cerita tentang pertemuan dua insan manusia di pos jaga atau tips bagaimana menggaet perempuan cantik di tengah jalan. Untung saja aku bisa dengan cepat mengarang cerita bohong tentang statusku kalau tidak pasti dia akan terus melancarkan aksi. Aku tersenyum-senyum membayangkannya.  

Anyway, hari ini adalah hari pertama aku masuk kantor. Bekerja, lebih tepatnya. Yassine menjemputku di rumah dan membawaku ke suatu bangunan. Lalu datang seorang lelaki yang kemudian membawaku masuk ke dalam. Ia mengantarku masuk ke pintu 1402. Apa benar ini kantor? Ruangan bercat putih dengan beberapa kursi dan meja di luar. Sepi. Wissem bilang ini adalah masa tutup buku atau tutup tahun jadi semua pekerja pergi berlibur. Ruangan Wissem ada di dalam dengan kursi besar dan komputer. Sepertinya dia adalah bos di kantor ini. Oh, baru ingat, kalau memang ini bukan kantorku yang asli. Yassine bilang kalau kantorku letaknya jauh dari rumah jadi aku ditempatkan di sini sementara. Aku duduk di meja sudut dengan laptop dan koneksi internet. Aku suka ini, akhirnya bisa sepuasnya browsing. Ulka, kamu di sini untuk bekerja bukan online saja. Aku mengingatkan diri sendiri. Aku membuka laptop dan mencari informasi tentang kantorku. Barang-barang apa saja yang mereka jual, bagaimana bentuknya, dan lain-lain. Aku membutuhkan banyak gambar untuk diletakkan dalam katalog nantinya. Dan jujur, aku masih sangat baru dalam dunia industri perdagangan seperti ini. Sesekali aku melongok Buku Muka, memang paling sulit untuk menghindari hal yang satu ini. Sayang, jari jemariku tidak sanggup menahan suhu dingin di dalam ruangan. Aneh, di luar matahari bersinar terik tetapi kenapa di dalam sini justru sangat dingin. Aku gemetaran. Gigiku bergemelutuk, jari-jari bergetar. Aku mengambil sarung tangan dari tas. Untung aku tidak lupa membawanya dari Indonesia. Kupikir tadinya tidak begitu perlu ternyata sekarang menjadi penyelamat. Aku pun berbincang dengan Laras dan Rachman di Skype. Seru juga bercerita mengenai kondisi kantor baru. Tak terasa sudah saatnya untuk makan siang, perutku berkicau nyaring.

Restoran ini cukup modern. Yassine mengajakku ke restoran karena kubilang aku ingin makan nasi. Ya, jarang sekali ada kedai yang menjadikan nasi sebagai menu kecuali restoran besar. Restoran dipenuhi warna cokelat dari dinding, kursi dan meja. Sungguh istimewa, dihari pertama bekerja, aku mendapatkan kesempatan untuk makan bersama dengan bos. Keramahan Tunisia makin jelas terlihat setelah kemarin aku dibayari semua hal saat berpergian. Aku memesan cous cous, makanan tradisional Tunisia. Tidak apa kalau puasa makan nasi hari ini. Sembari menunggu makanan datang, kami mengobrol. Aku bertanya mengenai karakteristik orang Tunisia kepada Yassine. Kudengar kabar bahwa banyak dari mereka yang tidak shalat dan minum alkohol. Yassine bilang memang benar, ada dua tipe, tidak shalat dan pasti minum juga shalat lalu minum. Tipe yang kedua lucu juga. Aku bertanya kembali bagaimana dengan orang yang suka pesta? “It is okay, actually. Just dance, you don’t need to drink,” kata Yassine lagi. Benar juga, kita bisa tetap menikmati indahnya pesta tanpa harus minum alkohol. 

Akhirnya makanan yang ditunggu datang juga, cous cous dan pesanan Yassine. Cous cous adalah sepiring besar kentang yang sudah dihaluskan dengan paprika, wortel, tomat dan daging ayam. Menurutku, kentang ini dijadikan sebagai pengganti nasi. Aku tidak tahu apa nama makanan yang dipesan Yassine. Sepiring kacang panjang, tuna, buah zaitun, wortel, dan bumbu lainnya menjadi satu. Menu yang pasti adalah Harissa, sambal Tunisia dengan buah zaitun. Kali ini tanpa minyak di atasnya. Ini membuktikan bahwa orang Tunisia juga suka makanan pedas, sama dengan orang Indonesia. Ada roti yang cukup unik, bentuknya bulat. Bukan baguette yang biasa kumakan tetapi namanya adalah tabouna.   Wajar saja kalau badan mereka besar-besar karena roti di sini juga berukuran tidak kalah besar dan memakannya akan kenyang sampai besok. Tenang, lambat laun aku pasti terbiasa dengan makanan Eropa, maksudnya Afrika. Aku harus membiasakan diri karena sulit juga kalau harus membeli beras dan memasak secara manual. Lagipula ini solusi bagus untuk menguruskan badan bukan? *) Alright, sudah malam dan esok saatnya kembali bekerja. Sebentar, ada satu pesan masuk di handphone, bunyinya ,”Good night sweet. Your friend, Khamaise ;)” Oh tidak, aku ingin segera mimpi indah. Selamat malam x)



See You Soon,
Chandini


4 comments:

faizah said...

sesipit apa ya ulka? hehe

eh..seru tuh sensasinya,,diajakin nikah sama orang yang baru 5 menit kenal ka,,hahhaha..untung ulka langsung bilang kalo udah engaged,,kalo gak bisa2 ulka udah jadi istrinya,,entah yang keberapa,,

lamaran kilat broh..kikikik

kelewatan part 3 nih,,baca dulu ahh

Ulka Chandini Pendit said...

haha lumayan zaa tapi masih kliatan melek ga kaya cina asli yg (kadang) cuma segaris hihihi

iyaa..kalo kepepet cepet keluar ide yah..langsung aja bilang mo nikah hahaha

siap za. thanks for reading ya! :*

Unknown said...

kakak,, salam kenal yah dari aku vera

kak masih kerja di tunisia ?
aku ingin bertanya banyak pada kakak yang sudah pernah tinggal di tunisia
boleh tidak aku minta email atau fb atau twitter kakak

Ulka Chandini Pendit said...

Halo vera, aku udah selesai kerja di Tunisia. Kalo mau tanya-tanya boleh ke email aku: ulka.chandinipendit@gmail.com