#NowPlaying Coldplay- Mylo Xyloto Album
18 Januari 2011
Pagi ini, aku bangun pukul enam pagi karena aku ingin berbicara di skype dengan Febrian. Dari dalam kamar, ku dengar Bapak sedang berbicara di telepon dengan seseorang, entah siapa. Aku segera menuju meja pojok untuk online. Pukul delapan aku kembali ke kamar dan menemukan Kak Risa sedang bersiap-siap kerja. Ia menyalakan televisi yang sedang menyiarkan berita dalam bahasa Perancis. Di tengah kebisingan suara pembawa acara dan derap kaki kak Risa yang tergesa-gesa, aku pun pergi tidur.
Kenapa aku tidur? Karena aku ingin melupakan semuanya. Aku pun menulis status di Buku Muka"Long distance relationship needs patient, much money and excellent internet connection." Ini semua karena koneksi internet Febrian, aku pun terserang rindu yang akut. Seharusnya aku bisa meluapkan semua rindu itu tetapi menjadi tertahan karena koneksi internet yang terputus-putus. Hidup, memang. Kamu tahu, sebelumnya aku dan Febrian selalu bersama-sama dan posisi kami yang berjauhan saat ini sangat mendera hati. Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu. Aku pun kembali bangun dengan kegiatan yang tidak jauh berbeda. Aku hanya online, menelusuri Buku Muka dari temanku yang satu ke temanku yang lain. Tidak ada kerjaan. Namun, daripada aku membaca berita lebih baik aku main Buku Muka. Oh iya, aku belum mencari bahan-bahan gambar untuk katalog. Aku pun menepuk jidatku.
Breaking news! Aku mendengar dari Bu Yuni kalau kami semua akan dibelikan tiket ke Italia. Tadi pagi Pak Dubes ditelpon oleh Bapak Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri, katanya dengar-dengar kalau keadaan belum membaik kami akan diungsikan ke Italia. Aku tidak tahu harus senang ataupun sedih. Aku menyuapkan udang goreng tepung menu makan siangku ke dalam mulut dengan lemas. Namun, Pak Jum bilang keadaan sudah membaik. Pasar sudah buka, orang-orang sudah mulai berjualan. Itu tandanya, kabar baik bukan?! Tetapi, lagi-lagi, Itali... Aku ingin sekali pergi ke sana.
Mataku masih memperhatikan gerak-gerik para TKW. Mereka memenuhi ruang tengah. Sekarang jumlahnya makin banyak. Kamarku yang dulu tidak cukup lagi menampung mereka jadilah meja makan formal yang biasanya ada dipindahkan ke ujung. Dengan begitu mereka bisa tidur di tempat meja makan. Aku ingin menulis tentang mereka tetapi aku tidak tahu harus mengirim berita kemana. Aku pernah bekerja di Majalah Hai, Kompas Gramedia, namun aku terputus kontak dengan mereka. Aku memeriksa Buku Muka kembali. Beberapa dari temanku menanyakan kabarku. Mereka bilang beritanya heboh, tidak tahu saja kalau di sini sudah heboh dari beberapa hari lalu. Berita yang beredar di Indonesia cukup lambat. Wah, aku mendapat pesan dari Bang Yazid. Dia menulis kata-kata "kangen". Ini maksudnya apa ya?
Hari ini aku tidak membaca berita lagi karena aku sudah muak dengan berita..
19 Januari 2011
Semalam Bapak bertanya bagaimana mengoperasikan Skype karena Beliau diminta untuk melakukan pembicaraan online melalui skype oleh TV One. Aku langsung menawarkan untuk online skype dari laptopku saja. Lalu Bapak mengiyakan dan berjanji akan mengabarkan kalau pihak TV One sudah menghubungi Bapak. Esoknya, ternyata perjanjian itu dibatalkan. Alih-alih, Bapak menunjukkan rekaman pembicaraan Beliau dengan pihak Radio BBC mengenai revolusi Tunisia (1). Bapak memberitahukannya kepada Ibu sambil menunjuk-nunjuk layar komputer dengan semangat. Bapak kelihatan sangat bangga.
Soal Ibu, Ibu juga orang yang sangat baik. Namun, sayangnya, Beliau agak sedikit jutek. Dari kemarin, aku online bersebelahan dengan Ibu. Dan Ibu, seringkali bertanya tentang mengoperasikan ini itu. Aku dengan senang hati membantunya. Namun, terkadang aku sibuk jadilah aku tidak sempat membantunya dan Ibu menjadi marah. Sudahlah, namanya juga orang tua, aku harus tetap menghormati Beliau. Tidak enaknya adalah ketika aku tertawa-tawa karena misal, status temanku di Buku Muka dan Ibu bertanya kenapa aku tertawa. Aku agak bingung menjelaskannya karena aku takut Ibu tidak bisa menerima ceritaku dan teman-teman yang masih remaja ini. Oh iya, satu hal yang menarik, Ibu menawarkanku untuk mendesain kartu undangan spesial dalam rangka pernikahan putrinya. Semoga aku ada waktu untuk membuatnya, ya.
(1) Rekaman pembicaraan Bapak Duta Besar Tunisia dengan Radio BBC dapat diakses di:
See You next part,
Chandini
No comments:
Post a Comment