20 Januari 2011
Akhirnya, aku berhubungan kembali dengan Tia lewat Buku Muka. Kami saling mengirim pesan dan menceritakan keadaan di tempat kami masing-masing. Tia kebetulan sedang berada di KBRI bersama dengan warga lainnya. Oh iya, aku mendapat kabar kalau Isa akan pergi ke Egypt hari minggu nanti. Oh, tidak, aku tidak tahu apakah aku bisa mengantarnya ke bandara. Aku kan dikurung di sini. Sementara itu, Marcella juga menanyakan nomor Kedutaan Besar Colombia padaku. Jangan tanya Paulina, karena aku tahu ia mengetahui kontak mereka hanya ia saja yang tidak mau berhubungan dengan kedutaan besar Polandia. Sayangnya, Marcella sudah menelepon ke Kedutaan Besar Colombia di Egypt tetapi telepon mereka tidak tersambung. Ya, Marcella harus menelpon ke Egypt dikarenakan Negara Colombia tidak mempunyai perwakilan kedutaan besar di sini. Aku pun menjadi harap-harap cemas karena keadaan mereka yang tidak menentu.
Banyak yang mengomentari fotoku, ya, kemarin aku puas mengupload foto-foto ke Buku Muka. Ya, sekalian mencari bahan untuk katalog karena Yassine sudah mengingatkanku kalau aku bisa bekerja dari rumah. Oh ya, aku tidak menyangka, baru saja aku mengupload foto-foto Isabella kemarin dan kemarin juga ia menyatakan kalau ia akan pergi ke Egypt. Time flies so fast. Aku sangat sedih tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengannya. Sembari browsing, aku menemukan video menarik di youtube.com, video tentang Indonesia. Sudut pandang yang dipakai pembuat film sungguh menarik, ia menyatakan bahwa di Indonesia terlalu banyak komentator daripada aktor. Andai saja aku bisa membuat video seperti ini dengan teman-teman Indonesia di Tunisia. Selain itu, aku hanya mengupdate berita-berita di website favoritku yaitu provoke-online.com. Lumayan untuk menghibur jiwa yang resah. Hari ini aku hanya berbicara hal-hal simpel dengan Ibu. Ibu menunjukkan foto-foto Beliau jalan-jalan ke El Jem, tempat wisata di Tunisia. Lalu foto-foto Beliau ke Monaco juga ditunjukkan padaku. Ah, aku jadi ingin jalan-jalan ke sana. Namun, bagaimana, sekarang saja aku masih terperangkap di sini.
Perutku sudah lapar, aku pun pergi makan siang. Aku memperhatikan para TKW yang lalu lalang. Aku berpikir untuk menulis berita sejak kemarin. Oleh karena itu, aku harus menginterview mereka. Aku pun memanggil Pak Jum untuk memperkenalkan padaku TKW yang bisa aku interview. Ia pun memanggil satu TKW yang familiar buatku karena aku pernah mengobrol sekali dengannya tetapi ketika ia tahu aku ingin menginterview dirinya, ia malah malu-malu dan mundur. Ia pun memanggil temannya yang bersedia aku interview. Aku hanya memintanya untuk menceritakan bagaimana mereka bisa sampai di sini. Dan Mbak itu pun menceritakan bahwa waktu itu keadaan mencekam sekali. Aku mencoba santai. Aku tidak ingin terbawa dengan situasi dirinya agar ia tetap bisa tenang menceritakan semua yang terjadi. Dan ia pun menceritakan bahwa malam itu ia tidak tahu harus pergi kemana. Awalnya, rumah mereka aman saja. Sampai sesuatu terjadi..
Semua itu dimulai dengan timpukan batu di kaca jendela. Sekali. Dua kali. Para pembantu rumah tangga alias TKW yang sedang menonton televisi pun menjadi bingung. Suara apa itu? Lalu bel pun berbunyi berkali-kali. Sampai akhirnya mereka bisa menggedor rumah. Mereka adalah masyarakat Tunisia yang terdiri dari Ibu-ibu, Bapak-bapak, anak muda, sampai kakek-kakek. Mereka memasuki rumah dan langsung menyalakan keran air dalam putaran maksimal, lalu memborong apa saja yang ada di meja makan, simply, semua yang ada di dalam rumah. Bahkan jeruk yang ada di atas meja pun mereka borong. Dan para TKW ini sedang berada di dalam kamar mereka, menanti dengan gelisah. Mereka sudah menahan pintu dengan lemari besar namun para penjarah berusaha menerobos masuk. Sampai akhirnya di gedoran ketiga, mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Koper mereka kosong, hanya berisi baju-baju yang tadi diambil. Jadi kalau para penjarah menanyakan apa saja yang mereka punya, hanya itu yang bisa mereka tunjukkan. Dan akhirnya pintu pun terbuka, mereka hanya bisa pasrah. Alih-alih, sang penjarah yang ternyata mahasiswa ini berbicara dalam bahasa inggris dan karena para TKW tidak bisa bahasa Inggris mereka pun meminta lelaki ini berbicara dalam bahasa Arab.
To be continued...
See You,
Chandini
No comments:
Post a Comment