.....to be continued
22 Januari 2011
Awalnya, di meja makan hanya ada Pak Jum yang memang sedang berbincang dengan TKW. Pak Jum memang dekat dengan para TKW. Mereka hanya berbincang biasa sebenarnya. Namun, sepertinya Pak Jum sedang menggoda mbak TKW ini. Pak Jum memang supir kedutaan yang paling gaul. Tidak lama, teman-teman Mbak ini datang. Mereka semua berkumpul dengan kami di meja makan. Entah bagaimana, pembicaraan kami malam itu membahas mengenai revolusi. Lalu keluarlah harapan-harapan para TKW setelah revolusi ini. Beberapa dari mereka ada yang mengaku sudah menabung untuk membuka usaha di kampung halaman. Beberapa ada juga yang bilang bahwa uang mereka akan dipakai untuk membangun rumah dan sisanya akan dipakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ada juga yang tidak tahu harus berbuat apa karena ia memang belum mendapatkan gaji dari majikannya. Menyedihkan. Salah satu Mbak bilang, "Untung lho, suamiku masih kerja di percetakan PERURI, kalo nggak..habislah aku.." Kata Mbak berparas ayu nan cantik ini. Lain lagi cerita Mbak yang lain, ada yang bilang padaku kalau ia tidak ingin lagi bekerja di sini. Maksudnya sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. "Habis Mbak..aku kan nggak bisa bahasa Arab.. jadi kadang nggak ngerti majikan ngomong apa..aku jadinya stres dan menyimpan semuanya sendiri," Aku dapat melihat tetes air mata di pelupuk mata Mbak ini. Mungkin ia sudah terlalu letih menangis. Kalau aku jadi dirinya, aku pun akan menangis berhari-hari bila tahu majikan yang belum mengirimkan gajinya sudah hilang entah kemana.
Malam itu, kami menonton televisi. Aku dan para TKW yang menonton televisi, sebenarnya. Acara malam itu adalah "Arab's Got Talent", semacam ajang mencari bakat. Ya, dan aku hanya menemui seorang perempuan cilik yang pandai bermain biola sebagai bintang di acara ini. Selebihnya bakat mereka biasa-biasa saja. Aku teringat program "Indonesia Mencari Bakat" yang mempunyai finalis lebih berkualitas daripada finalis di acara ini. Program pun berlanjut, sekarang adalah film action yang dibintangi oleh aktor-aktor dari negeri Cina. Seru juga. Aku memperhatikan Mbak Tissia yang sibuk dengan laptopnya sedari tadi. Ia bilang bahwa ia sedang mencari orang yang bisa menjemputnya besok di bandara. Iya, Mbak Tissia akan pulang ke tanah air dan aku pasti akan merindukannya. Aku teringat kejadian tadi siang dimana Mbak Tissia memotong poni dan mencukur alisku. Aku memang tidak bisa memotong poni. Jadilah Mbak Tissia membantuku. Soal mencukur alis, kata Mbak Tissia, tidak apa, karena ia hanya mencukur alisku sedikit dan itu akan berpengaruh pada bentuk mukaku. Mbak Tissia bekerja di spa center dan ia juga ahli dalam hal kecantikan. Semoga saja bentuk mukaku lebih baik. Aku menikmati malam-malam terakhir dengan Mbak Tissia.
Ketika sedang asik-asiknya memperhatikan gerakan lincah dari sang aktor, Mbak Sari yang kemarin mempunyai Ipad memanggilku. Kamu masih ingat kan, di training tentang internet ada Mbak Sari, TKW yang mempunyai Ipad. Kali ini, ia memanggilku kembali dan lagi-lagi menanyakan hal yang sama, yaitu password wi-fi. Pak Jum sudah berpesan padaku kalau aku tidak boleh memberitahunya. Takut Mbak ini akan online dan memberitahu hal yang tidak-tidak mengenai situasi di sini. Kubilang saja, aku tidak tahu kenapa alat ini tidak bisa connect dengan wi-fi. Mbak itu hanya tersenyum dan mengangguk pasrah. Dalam hatiku, "Pantas saja ia bisa mendapatkan Ipad, ia bekerja di istana presiden." Iya, Mbak Sari memang bekerja di istana presiden. Itulah kenapa ia bisa mempunyai uang untuk membeli Ipad dan camera digital. Malam semakin larut, beberapa mbak TKW mulai pergi tidur. Namun aku masih duduk di kursi memperhatikan satu TKW yang getol sekali menonton televisi. Apakah dia benar-benar mengerti bahasanya? Film yang sedang ditayangkan adalah dalam Bahasa Arab. Setelah kutanya, ternyata Mbak ini benar-benar mengerti. Ia bilang, ia belajar dari anak majikannya. Kuharap aku bisa berbahasa Arab selancar Mbak ini.
Oh ya, pagi ini, ada kejadian heboh di wisma. Bapak berkejar-kejaran dengan salah satu TKW. Aku sungguh kaget. Ceritanya begini, aku baru saja terbangun dari tidurku yang indah. Wajar, ini hari Sabtu, saatnya untuk bangun siang. Kak Risa pun baru saja menyelesaikan jogging paginya. Di antara rasa kantuk dan pusing, aku mendengar suara ribut-ribut, "Hey mau kemana kamu!" Aku langsung bertanya kepada Kak Risa, "Ada apa Kak?" "Nggak ngerti.." Kak Risa mengatup mulutnya. Ia juga sepertinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Peristiwa itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya sekitar pukul sepuluh, aku baru keluar dari kamar. Usut punya usut, kudengar dari Mbak Tuti, bahwa Mbak Sari, TKW yang mempunyai Ipad itu, membuat masalah dengan Bapak. Beliau mencoba menjawab pertanyaan dari wartawan Indonesia yang menelponnya sementara semua TKW sudah diberitahu untuk tidak menginformasikan berita apapun mengenai revolusi kecuali kepada sanak keluarga. Sebab yang boleh dan wajib memberitahu adalah juru bicara kedutaan. Aku tidak menyangka Bapak semarah itu karena yang kutahu Bapak adalah sosok yang bersahaja. Beliau tidak pernah marah kepada siapapun. Mbak Tuti, pembantu rumah tangga yang bekerja dengan Bapak selama dua puluh tahun pun menyatakan kalau ia tidak pernah melihat Bapak semarah itu.
Ya, benar. Aku pun menarik napas. Semoga saja keadaan cepat membaik.
23 Januari 2011
Aku tidak menyangka hari ini akan datang. Karena aku akan mengantar Isa ke bandara. Iya, aku harus bisa mengantar Isa sebelum ia pergi menuju Egypt. Aku pun sudah bersiap-siap sekitar pukul delapan. Di tengah ketergesaanku menuju meja makan, aku bertemu Mbak Tissia. "Loh, Mbak mau pulang juga?" Aku memperhatikan bajunya yang sangat rapih. "Lah iya.." kata Mbak Tissia tersenyum. "Aduh!" Aku menepuk jidatku. Lupa, kalau Mbak Tissia juga pulang hari ini. Baiklah, aku akan mengantar dua orang kesayangan menuju bandara.
Aku pun menunggu Kang Dadang, beliau akan mengantarku menuju bandara. Tiba-tiba Kang Dadang datang dengan membawa satu flash disk masih dalam kemasan. Ia bilang, "Ini dari Bang Radit..katanya suruh isi sama lagu-lagu kamu," Kang Dadang menyerahkan kemasan itu padaku. Wah, bagaimana mentransfernya? Aku kan pulang besok, pikirku. "Suruh aja sih, dia ke Sfax. Dia kan udah gede," Kata Kak Risa seolah tahu jalan pikiranku. "Eh, iya ya.. tapi kan nggak enak kak," Aku bimbang. "Ah, udahlah.." Kak Risa tersenyum simpul. Perjalanan itu pun dimulai, aku menuju bandara ditemani Kang Dadang. Kang Dadang adalah salah satu supir staf kedutaan. Mbak Tissia diantar oleh supir yang lain dan nanti kami akan berjumpa di bandara. Aku mencari-cari Isa sesampai di bandara. Aku segera menuju check-in counter dengan destinasi Cairo. Dan aku tidak melihat Isa di sana. Ah, kapan ia sampai? Ah itu dia! Aku melihat sesosok perempuan dengan satu koper besar dan backpack. Isa terburu-buru sekali. "My flight is within half an hour!" Aku segera membantunya. Di sela-sela check in, isa memberitahukan sesuatu, kalau ia dan Wisem akhirnya melakukan hal itu. Semalam. Mereka party dan akhirnya terjadilah hal tersebut. Isa...sudah kubilang...
Lalu kami pun pergi ke bawah untuk menukar uang Dinar dan Real Isa di money changer. Isa harus membayar visa on arrival sesampai di Cairo karena itulah ia harus menukar uangnya. Namun, sayang sekali Isa tidak dapat menukar uang Dinar yang ia punya karena ia harus mempunyai kuitansi pembayaran pertama saat ia menukar uang aslinya ke Dinar. Sudahlah, tidak apa. Isa mengecek persediaan uangnya dan ia bilang cukup untuk membayar visa. Kami pun segera pergi ke gate dimana Isa akan bertolak ke Cairo. Aku sungguh sedih. Aku hanya punya satu foto dengan Isa sebelum ia pergi. Itu pun setelah kucek ternyata tidak tersimpan di memori. Isa, aku akan merindukanmu.
Setelah mengantar Isa, aku menghabiskan waktu dengan Mbak Tissia. Ya, sehabis ini Mbak Tissia akan pulang. Habis sudah harta-hartaku. Kami pun sempat foto-foto bersama. Aku, Mbak Tissia dan Kak Risha. Setelah beberapa lama, akhirnya, waktunya Mbak Tissia untuk pergi. Aku sedih. Sangat sedih. Mbak Tissia adalah teman revolusi-ku. Kami berjumpa pertama kali di wisma ketika revolusi dan berpisah pun masih dalam masa revolusi. Aku tersenyum dan mengecup pipi Mbak Tissia sebagai tanda perpisahan.
Malam itu, kelabu. Aku masih belum bisa melepas kedua sahabatku pergi. Namun, di saat yang bersamaan, aku tersenyum melihat para TKW yang sedang berjoget dan berdansa di ujung sana.
Selamat malam ;)
♥
Chandini
No comments:
Post a Comment