To be continued...
22 Januari 2011
Ya, ada Bang Radit di sini. Aku sudah cukup takut. Awalnya biasa saja, ia menawarkan kue kepadaku. Dan kami bertiga, aku, Bu Yusuf dan Bang Radit pun mengobrol-ngobrol. Ia mulai memuji-mujiku di depan Bu Yusuf. Aku pun berpikir bagaimana cara agar aku bisa keluar dari sini. Kak Risa tidak bisa dihubungi, maksudnya aku yang tidak bisa menghubungi kak Risa karena aku tidak tahu nomornya. Lalu, Aris pun menghilang. Ah, tidak, bagaimana kalau aku dikurung berdua dengan Bang Radit di sini? Tidak lama Kak Risa pun datang dan ia bilang kalau ia ingin pergi berjalan-jalan dengan temannya. Aku memutuskan untuk tidak ikut karena aku tidak tahu tempat seperti apa yang akan mereka kunjungi. Dan, mulai dari situlah aku salah membuat keputusan. Aku pun diajak makan siang. Ada ikan gurame bakar dan menu Indonesia lainnya, siapa yang menolak? Sudahlah aku makan siang di sini saja. Kami pun makan berdua di dapur. Kalau kekasihku tahu, bisa mati aku digantungnya. Namun, mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan. Bang Radit pun mulai bertanya tentang diriku. Ia baru tahu kalau aku masuk dalam organisasi Radio PPI Dunia. Tidak disangka-sangka ia tahu mengenai sejarah Radio PPI Dunia. "Radio PPI Dunia itu dibentuk waktu SI.. 2009 ya?," ujarnya sambil sibuk mengunyah gurame. "Iya..waktu itu belum ada banyak PPI.." Aku bingung..mulai berpikir, Bang Radit ini angkatan tahun berapa? Mengapa ia sepertinya tahu sekali seluk beluk PPI Dunia? Namun, sembari itu aku hanya tersenyum-senyum mendengar ucapannya. Sampai ketika, bang Radit bilang, "Iya..kita seperti kakak adik saja. Kamu jangan lupa shalat, jaga diri, kamu kan sendirian di Sfax.." Aku memperhatikan matanya. selagi ia berbicara Otakku memutar kembali adegan setengah jam yang lalu, "Enam bulan itu lama lhoo. Banyak yang bisa terjadi dalam enam bulan," Bang Radit mengucapkan hal seperti itu ketika ia tahu aku punya kekasih. Iya, aku akan menetap di Tunisia selama kurang lebih enam bulan. Dan kata-kata yang ia ucapkan sekarang berbeda sekali dengan ucapan ia setengah jam yang lalu. Aku makin bingung.
Hari sudah malam. Iya, tahu tidak, aku ditahan oleh Bang Radit sampai malam hari. Sampai-sampai Bu Yusuf bilang, "Ya ampun ka..kamu ditahan sampai malam ya..padahal tadinya mau dzuhur aja." Aku teringat niatku yang hanya ingin menumpang shalat dzuhur di rumah Bu Yusuf. Sebenarnya, aku disuruh tinggal agar Bang Radit juga bisa mengantarku pulang nantinya. Keadaan di luar masih tidak menentu dan bahaya kalau perempuan pulang malam-malam sendirian. Setelah cukup lama bersiap-siap, Bang Radit pun mengantarku pulang. Malam itu dingin . Angin berhembus kencang. Aku menggosok-gosokkan tanganku. Kami pun hanya berdua di jalanan. Perjalanan itu berlangsung senyap. Sepertinya Bang Radit malu-malu padaku. Tidak lama, kami sampai di wisma. Bang Radit tidak mau masuk ke dalam. Ia hanya berdiri di luar. Dan ia hanya bilang, "Salam ya..buat Risa..kangen!" Aku pun tersenyum. "Daag.." dan ia pun melambaikan tangan. Aku hanya tersipu-sipu malu sambil menutup pintu. Ah, kekasihku tidak boleh tahu soal hal ini. Aku segera mencari Laras untuk curhat.
""Ya..kalo gitu kan seperti abang sendiri kan neeeng. Lo juga nggak diapa-apain kan neeng?" tanya Laras lewat skype. "Iya sih, gue nggak diapa-apain tetapi tetep aja kan gue berdua-duaan sama dia. Kalo Febrian tahu gimana?"jawabku panik. Iya, aku merasa sangat bersalah dengan Febrian karena ia sama sekali tidak memperbolehkanku dekat dengan laki-laki manapun. Apalagi sekarang posisi kami berjauhan dan maksud abang ini mendekatiku pun belum jelas. Febrian tidak boleh tahu. Aku pun hanya bilang padanya kalau aku tadi pergi ke kantor seharian.
Well, aku ingin menceritakanmu kisah malam tadi. Semalam aku berbincang-bincang dengan mbak-mbak TKW. Ya, itu semua karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah menyantap makan malam. . Awalnya, di meja makan hanya ada Pak Jum yang memang sedang berbincang dengan TKW.....
Sampai besok!
to be continued..
♥
Chandini
No comments:
Post a Comment