#NowPlaying Florence + The Machines - Dog days are over
2 Januari 2011
2 Januari 2011
Hari ini aku pulang. Ya setelah melewatkan tahun baru di Tunis, aku harus pulang. Aku dengan enggan membereskan barang-barangku yang tidak seberapa. Rasanya aku masih sangat ingin tinggal di wisma. Setelah makan siang dan berpamitan, aku pun pulang. Semua orang bilang, "Ulka, balik lagi ya. Kami tunggu!" Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari pintu wisma.
Perjalanan menuju Sfax berlangsung lancar. Dan aku pun sampai dengan selamat. Malam itu kami langsung merayakan "Belated New Year's Eve Party". Angie mengundang kami. Acaranya unik sekali. Rumah Angie terletak tidak jauh dari rumah kami. Ketika kami sampai teman-teman yang lain sedang menyiapkan pesta. Teman-teman itu adalah murid-murid Angie. Ya, Angie adalah guru bahasa Inggris. Lalu, kami pun saling berkenalan satu sama lain. Tidak hanya itu, kami juga membantu Angie untuk menyiapkan makanan. Aku mengambil piring-piring plastik untuk ditaruh di meja. Menu makanan malam itu sungguh lezat : brick (seperti risol Indonesia), keripik kentang, telur, salad, daging dan sambal ala Tunisia. Semua makanan itu tersedia di atas meja lengkap dengan lilin kecil. Seperti candle light dinner, ya? Romantis sekali. Oh ya, sebelumnya, aku menuju kamar Angie dan aku menemukan foto Angie memakai kerudung. Tidak hanya itu, Angie juga mempunyai Al-Qur'an di kamarnya. Apa Angie beragama islam? Angie adalah trainee yang berasal dari Kanada. Dan aku tidak yakin kalau ia beragama Islam. Namun, malam itu sungguh menyenangkan. Kami berdansa dan bersenda gurau bersama. Bukan, Marcella dan Angie yang berdansa. Aku hanya berbincang dengan salah satu murid Angie, namanya, Layla. She is a Tunisian. Dia ramah dan asyik diajak ngobrol. Selain itu, aku juga berbincang dengan Rui yang berasal dari Kamerun. Iya, asalnya dari Kamerun. Jauh ya? Ia bilang kalau ia pergi ke sini untuk belajar. Karena pendidikan di Tunisia lebih bagus daripada pendidikan di Kamerun.
Semuanya pun pulang, tinggalah kami berempat, aku, Marcella, Paulina dan Angie. Kami bermain truth or dare. Dengan kartu remi kami mengungkap semua rahasia malam ini. Dan yang kalah harus memakan cokelat. Ah, tidak, aku akan bertambah gendut. Dan untungnya aku menang. Oh iya, sebelumnya aku tercengang ketika Marcella menyatakan pekerjaanku yang seorang graphic designer. Entah kenapa, aku masih merasa belum pantas dipanggil seperti itu. Sesampai di rumah, aku menceritakan kejadian hari ini kepada Amo. Dan amo pun bilang, "Asiknya, dinner dengan orang Canada.." Begitu pesan singkatnya melalui handphone. Dan aku pun juga mengabarkan Aris bahwa aku sudah sampai di Sfax. Aris bilang kalau ia sedih karena tidak bisa ikut dengan kami jalan-jalan kemarin. Namun, ia juga senang karena kalau ia ikut mungkin ia akan terkena jebakan jus 7 dinar. Haha. Aku tertawa membaca pesan singkatnya. Ya, malam yang menyenangkan. Baiklah, aku tidur dulu, ya. Selamat malam!
Semuanya pun pulang, tinggalah kami berempat, aku, Marcella, Paulina dan Angie. Kami bermain truth or dare. Dengan kartu remi kami mengungkap semua rahasia malam ini. Dan yang kalah harus memakan cokelat. Ah, tidak, aku akan bertambah gendut. Dan untungnya aku menang. Oh iya, sebelumnya aku tercengang ketika Marcella menyatakan pekerjaanku yang seorang graphic designer. Entah kenapa, aku masih merasa belum pantas dipanggil seperti itu. Sesampai di rumah, aku menceritakan kejadian hari ini kepada Amo. Dan amo pun bilang, "Asiknya, dinner dengan orang Canada.." Begitu pesan singkatnya melalui handphone. Dan aku pun juga mengabarkan Aris bahwa aku sudah sampai di Sfax. Aris bilang kalau ia sedih karena tidak bisa ikut dengan kami jalan-jalan kemarin. Namun, ia juga senang karena kalau ia ikut mungkin ia akan terkena jebakan jus 7 dinar. Haha. Aku tertawa membaca pesan singkatnya. Ya, malam yang menyenangkan. Baiklah, aku tidur dulu, ya. Selamat malam!
3 Januari 2011
Hari ini aku masuk kantor. Dingin sekali. Aku sangat tidak tahan dengan dingin itu. Heater pun dinyalakan dan ia menjadi penyelamatku. Sepanjang hari aku hanya duduk di sampingnya sambil bekerja. Seperti biasa, setiap pulang aku selalu menikmati pemandangan pelabuhan yang indah. Namun, kali ini, matahari itu tak ada lagi. Musim dingin telah menyergapnya, hanya awan kelabu yang tersisa di atas sana. Kapal-kapal itu bersinar dari kejauhan. Aku pun terus melanjutkan langkah.
Malamnya, aku memakan satu persatu cokelat yang diberikan Rui. Namanya, Tuvana. Bungkusnya berwarna pink bercampur dengan warna putih. Rasanya sungguh manis. Cocok sekali dengan hidupku yang tengah berasa pahit. Ah, sudahlah. Aku juga mengeluarkan tiket-tiket looage yang aku dapat kemarin. Setiap tiketnya berharga 14.090 dinar. Andai aku bisa ke Tunis lagi. Sudahlah, jangan berandai-andai. Mata ini sudah tidak tahan menahan rasa kantuk. Aku tidur dulu, kawan. Selamat mimpi indah. ♥
See You Next part,
Chandini
No comments:
Post a Comment