12 May 2013

#12. Catatan Harian Tunisia Part 9.1



11 Januari 2011

Aduh, pagi ini telat lagi tapi aku sudah niat kalau harus jalan kaki dulu semampuku lalu dilanjutkan naik taxi. Setidaknya masih sempat sampai kantor sebelum pukul setengah sembilan, pikirku. Kaki ini terus melangkah lurus dan berhenti kebingungan di perempatan jalan. Kupanggil Pak Taxi dan Beliau menyapa dengan senyumnya. Wah Beliau termasuk salah satu supir taxi paling menyenangkan yang kujumpai. Walaupun tidak mengerti apa yang dia ucapkan dalam bahasa Perancis tapi aku merasakan keramahan yang ia ciptakan. Hemm..kerja hari ini seperti kerja hari lainnya. Membosankan. Bosku, Yassine sangat sibuk dan aku pun berusaha untuk tidak menganggunya. Oh ya, kemarin Wajih bilang kalau sandwichku akan diantar mulai hari ini untuk makan siang. Jadilah aku berdiam diri di kantor ternyata sampai pukul tiga sore sandwich itu belum juga muncul. Dengan langkah tergesa-gesa akibat desakan lambung di perut, aku menuju restoran dekat city center yang biasa kudatangi untuk makan siang. Sang pelayan yang sudah hapal dengan wajahku tersenyum dan aku pun berkata kepadanya “Un Escalope.’’ Sembari menunggu masakan matang, kami mengobrol mengenai pekerjaan dan tempat tinggalku. Escalope ini yang pertama kumakan sejak aku sampai di sini tiga minggu yang lalu. Bentuknya seperti sandwich biasa dan penuh dengan daging. Aku pun menikmati setiap gigitan dari escalope dengan siaran televisi pertandingan sepak bola antara Jepang dan Saudi Arabia. Jepang menang dan aku pun pulang.  Udara sore itu sangatlah nyaman dan aku kembali menelusuri jalanan Medina sampai La terrace masih diwarnai dengan tatapan tanya mereka akan kebangsaanku.

Sudah dua pesan menyatakan bahwa aku harus berhati-hati karena demonstrasi mulai memanas. Banyak polisi berkeliaran dan sekolah diliburkan. Koran yang kubaca hari ini menyatakan hal yang sama. Beberapa menit kemudian, Yassine telepon dan menyatakan kalau besok aku tidak perlu bekerja. Senyumku pun mengambang membayangkan libur esok. Malam ini aku tidur dengan Isabella di ruangan besar, Lucunya ini pertama kali kami tidur bersama sejak kami resmi menjadi teman sekamar beberapa minggu lalu. Ya, Isa memang tidak tahan dingin di kamar kami jadilah ia tidur dengan hangat di sini. Bercengkrama dengan Isa membuatku teringat akan diriku yang dulu, yang sempat hilang sejak kedatanganku kemari dan membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Ah, sudahlah. Lilin pun ditiup dan kami tertidur lelap.


12 Januari 2011

Isa membangunkanku pagi ini dengan kabar mengejutkan bahwa Train dan Looage mogok total. Simply, no transportation today. Seluruh public company dan toko tutup menjadi alasan mengapa aku diliburkan. Satu pesan masuk dan Marcella berpesan untuk tidak pergi ke city center karena sangat berbahaya. Ada apakah gerangan? Aku masih tidak berharap jawaban datang dari demonstrasi yang sudah semakin parah di luar dugaan. Kutengok jalanan di luar penuh dengan sabun pertanda tumpukan sampah telah dibersihkan. Isa tetap dengan niatnya pergi travelling ke daerah terpencil sana dengan dua teman Londonnya. Memang dia gadis yang tangguh. Kami sempat bercanda bahwa akan turun ke jalanan dan berteriak “Go Revolution!” hahaha

Hari pun berjalan seperti biasa. Pauline dan Marcella kembali dari pekerjaan mereka dan bercerita mengenai hari ini. Oow, para tentara sudah turun ke jalan dan siap menembak siapapun yang bertingkah. Masih dengan lelucon, Pauline berkata bahwa tentara akan menembak mereka yang nampak dengan mudah dan berbeda terutama dari penampilan luar. Pauline dengan rambut blonde dan aku gadis Asia dengan perawakan yang sungguh berbeda dari masyrakat sini bisa jadi sasaran empuk. Handphone berdering dan berpesan hal yang sama bahwa kami tidak boleh keluar rumah dan kuncilah pintu rapat-rapat. Perasaanku mulai tidak enak dan kualihkan dengan mencuci baju yang mulai menumpuk. Seketika itu kudengar teriakan orang dari bawah sana dan mereka berlarian dengan membawa meja dan kursi lalu meletakannya di ujung sana. Oh my, what the hell is going on? Ingin aku pergi ke bawah sana melihat apa yang sebenernya terjadi tetapi kuurungkan. Kuyakin meja dan kursi itu dicuri dari restoran sekitar sini dan sebentar lagi akan dibakar. Ternyata ada pesan masuk dari Faizin, radio memberitakan bahwa 30.000 orang di Sfax, kotaku, sedang berdemo saat ini dan menghancurkan fasilitas umum. Damn, it’s true. Segera kuberitahu Marcella dan Paulina, panik melanda dan kami menelpon seorang teman tetapi ‘’hanya semua baik-baik saja’’ yang keluar dari mulutnya. Oke kami memang tidak perlu tahu apaa-apa selama kami tetap aman di dalam sini. ‘’Ah sudah biasa, Indonesia pernah mengalami hal lebih buruk dari ini di tahun 1998 saat masa kejatuhan Pak Soeharto dulu. Sepatutnya aku terbiasa dengan hal ini’’, ujarku menenangkan diri.

Malam itu kami bercengkrama dengan riang mengenai hari ini dan rencana esok sambil menyantap Risoto (masakan khas Italia). Mereka dengan white wine dan aku dengan Juice kesayangan. Demonstrasi besar-besaran seperti ini merupakan yang pertama kalinya di Tunisia. Pemicunya adalah pengangguran dan Presiden Ben Ali sudah memerintah negara ini selama 23 tahun jadilah rakyat Tunisia berontak saat ini. Itulah secuil diskusi kami yang sesekali diiringi dengan tawa. Jujur kami memang tidak ingin mendramatisir keadaan. Mungkin, kami satu-satunya yang menikmati situasi ini dimana yang lain telah diliputi kecemasan. Selain itu, kami berusaha mencari tahu keberadaan Isa. Ternyata Isa tengah berada di gurun dan ia lebih aman dibanding kami yang ada di tengah kota. Masih sempatnya aku berpikir lebih baik aku ikut Isa jalan-jalan tadi.hehe

Hemm..di luar sangat sepi, kenapa? Handphoneku berdering dan Bapak Duta Besar ingin berbicara denganku. Ternyata jam malam telah diberlakukan, mulai dari pukul 8 malam hingga 7 Pagi masyarakat tidak boleh keluar rumah. Beberapa menit kemudian pesan dari Kak risa masuk dan menyatakan aku akan dijemput oleh Pak Giri, staff KBRI esok pagi untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Situasi semakin serius. Kuberitahu Marcella dan Pauline bahwa aku akan ke Tunis esok pagi dijemput oleh kedutaanku. Mereka menganggap kedutaanku berlebihan dan aku kehilangan cara untuk meyakinkan mereka. Aku masih ingin di sini dan bukan karena ketidaknyamanan maka aku pergi. Aku sudah menjelaskan bahwa ini hanya tahap preventif dan tidak ada maksud meninggalkan mereka yang sudah kuanggap saudara sendiri. Pak Giri terus meyakinkanku bahwa ini merupakan prosedur yang harus ditempuh, mengamankanku dengan orang Indonesia di Wisma Duta KBRI. “Ulka, kamu tahu makanan di Carrefour sudah habis hanya dalam waktu tiga hari ini. Sekarang mungkin kamu enggak bisa beli pulsa tapi nanti air minum yang enggak bisa kamu beli. Menteri dalam negeri sudah diganti dan sore ini Pak Dubes akan meeting dengan Pak Menlu Tunisia. Kita ga tau hasil rapatnya apa? Sekarang memikirkan teman adalah nomor 17,” tutup Pak Giri.

Telah kutetapkan aku berangkat esok namun aku masih terdiam di kasur memikirkan apa yang harus kukatakan pada mereka. Meninggalkan mereka di tengah situasi genting seperti ini sangat tidaklah adil. Sungguh, ini bukan inginku. Tiba-tiba Marcella dan Pauline datang ke kamarku, menyatakan bahwa aku harus memberi kabar sesampaiku di Tunis.  Akhirnya mereka mengerti. They are my truly sisters. Malam itu aku tidur bersama Marcella dan Pauline.  Perasaan lega meliputi hati  tetapi….suara apa itu? Keras dan Berkali-kali. Resah. Aku pun terus terjaga hingga fajar menyingsing.


 13 Januari 2011

Aku bersiap diri karena pagi ini aku akan meninggalkan Sfax entah untuk berapa lama. Bapak menelponku dan aku merasakan paniknya terdengar dari ujung sana. Beliau menyatakan untuk membawa semua baju dan barangku karena tidak dapat dipastikan kapan situasi kembali normal. Bingung. Karena aku hanya menyiapkan sedikit baju dan berharap dua hari lagi dapat kembali. Namun nampaknya benar kata Bapak, keadaan tidak dapat diprediksi jadilah aku berkemas ulang. Sempat kutengok keadaan di luar terlihat normal. Orang-orang kembali bekerja dan tidak terlihat keramaian massa. Pukul 09:30, Pak giri telah sampai dan menyuruhku turun. Beliau membawa pesananku, pesanan housemates ku lebih tepatnya, susu, air dan roti. Tidak banyak tetapi sangatlah cukup untuk bekal makanan seminggu ke depan. Antisipasi bahan makanan memang sangatlah perlu di saat semua toko berhenti berjualan. Aku pun pergi dengan mengatakan, “See you!” kepada Marcella dan Pauline.

Di tengah perjalanan, dapat kulihat bahwa rumahku sangatlah dekat dengan tempat kejadian, sekitar 700 meter. DI tengah bundaran itu, kuingat aku pernah nyasar di sana, merupakan pusat demonstrasi kemarin. ATM telah dibobol dan kaca-kaca dipecahkan. Beling dimana-mana dan semuanya hancur berantakan. Bagaimanapun hari ini, sudah ada toko mulai beroperasi kembali. Sfax seperti normal walau masih sepi dibanding biasanya. Aku menikmati pemandangan sekitarku dimana kami akan menuju Sousse, kota wisata di Tunisia dan melewati El jem salah satu objek favorit wisata juga. Sekeliling padang pasir berhamparan seakan bisu mengenai keramaian massa yang tengah berkecamuk. “Berita terbaru dari Twitter, empat belas orang tertembak mati,” kata Kak Risa, di sebelahku. Glek, aku menelan ludah. Entah berapa jiwa lagi yang tewas dalam peristiwa ini. Radio terus dinyalakan dan ternyata Monoprix (supermarket terkenal di seluruh Tunisia) di Bizerte telah dibakar. Selain itu, persatuan buruh menyatakan besok akan demonstrasi selama dua jam tetapi tidak diberitahu pukul berapa pastinya. Situasi di dalam mobil menjadi ikutan tegang.

Sesampai di Sousse kami menumpang buang air kecil sebentar dan Pak Giri sempat berbincang dengan satpam daerah tersebut. Beliau menyatakan bahwa situasi ini telah dimanfaatkan oleh sejumlah kriminal yang memang melakukan tindakan penjarahan, pencurian dan perampokan. SItuasi tidak terkendali dan massa sudah ditunggangi oleh orang-orang jahat. Itu sangatlah mungkin menjadi alasan mengapa penjarahan besar-besaran mulai terjadi diakibatkan ada dalang di belakang semua ini. Kami pun sampai di Wisma Duta. Mba Tuti, Pak Jumali, Pak Rusli, Bu Yuni dan Pak Adi sudah menyambutku. Kehangatan mereka menghilangkan sedikit cemas. Lalu datanglah Mba Tissia, ia adalah salah satu pekerja Spa di daerah Sidi Bou Said. Sudah terdengar kabar bahwa daerahnya akan menjadi sasaran berikutnya jadilah ia diamankan di sini. Aku bertambah panik karena Mba tissia membawa semua barangnya sementara yang kubawa adalah koper kecilku, dokumen dan alat eletronik. “Ya Allah selamatkan barangku yang lain di rumah. Amin,”  kataku dalam hati. Hari ini Tunisia mulai dalam siaga 1 dimana jam malam diberlakukan mulai pukul 8 malam hingga 05.30 Pagi. Sejumlah pengrusakan dan pembakaran di daerah Nabeul terjadi seperti Carrefour, sejumlah bank, kantor pos, dll. Di antaranya delapan orang tewas dan luka-luka.

Malam itu aku terbayang restoran yang selalu kukunjungi saat makan siang. Apa kabar escalopeku? Aku harap aku masih bisa mengunjunginya dengan keadaan yang sama baiknya sebelum peristiwa ini. Semoga masih ada jatah sandiwchku di sana.


See You Next Part
Chandini



No comments: