11 Januari 2011
Aduh,
pagi ini telat lagi tapi aku sudah niat kalau harus jalan kaki dulu semampuku
lalu dilanjutkan naik taxi. Setidaknya masih sempat sampai kantor sebelum pukul
setengah sembilan, pikirku. Kaki ini terus melangkah lurus dan berhenti
kebingungan di perempatan jalan. Kupanggil Pak Taxi dan Beliau menyapa dengan
senyumnya. Wah Beliau termasuk salah satu supir taxi paling menyenangkan yang
kujumpai. Walaupun tidak mengerti apa yang dia ucapkan dalam bahasa Perancis
tapi aku merasakan keramahan yang ia ciptakan. Hemm..kerja hari ini seperti
kerja hari lainnya. Membosankan. Bosku, Yassine sangat sibuk dan aku pun
berusaha untuk tidak menganggunya. Oh ya, kemarin Wajih bilang kalau sandwichku
akan diantar mulai hari ini untuk makan siang. Jadilah aku berdiam diri di
kantor ternyata sampai pukul tiga sore sandwich itu belum juga muncul. Dengan
langkah tergesa-gesa akibat desakan lambung di perut, aku menuju restoran dekat
city center yang biasa kudatangi untuk makan siang. Sang pelayan yang sudah
hapal dengan wajahku tersenyum dan aku pun berkata kepadanya “Un Escalope.’’
Sembari menunggu masakan matang, kami mengobrol mengenai pekerjaan dan tempat
tinggalku. Escalope ini yang pertama kumakan sejak aku sampai di sini tiga
minggu yang lalu. Bentuknya seperti sandwich biasa dan penuh dengan daging. Aku
pun menikmati setiap gigitan dari escalope dengan siaran televisi pertandingan
sepak bola antara Jepang dan Saudi Arabia. Jepang menang dan aku pun pulang.
Udara sore itu sangatlah nyaman dan aku kembali menelusuri jalanan Medina
sampai La terrace masih diwarnai dengan tatapan tanya mereka akan kebangsaanku.
Sudah
dua pesan menyatakan bahwa aku harus berhati-hati karena demonstrasi
mulai memanas. Banyak polisi berkeliaran dan sekolah diliburkan.
Koran yang kubaca hari ini menyatakan hal yang sama. Beberapa menit kemudian,
Yassine telepon dan menyatakan kalau besok aku tidak perlu bekerja. Senyumku
pun mengambang membayangkan libur esok. Malam ini aku tidur dengan Isabella di
ruangan besar, Lucunya ini pertama kali kami tidur bersama sejak kami resmi
menjadi teman sekamar beberapa minggu lalu. Ya, Isa memang tidak tahan dingin
di kamar kami jadilah ia tidur dengan hangat di sini. Bercengkrama dengan Isa
membuatku teringat akan diriku yang dulu, yang sempat hilang sejak kedatanganku
kemari dan membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Ah, sudahlah. Lilin pun
ditiup dan kami tertidur lelap.
12 Januari 2011
Isa
membangunkanku pagi ini dengan kabar mengejutkan bahwa Train dan Looage mogok
total. Simply, no transportation today. Seluruh public company dan toko tutup
menjadi alasan mengapa aku diliburkan. Satu pesan masuk dan Marcella berpesan
untuk tidak pergi ke city center karena sangat berbahaya. Ada apakah gerangan?
Aku masih tidak berharap jawaban datang dari demonstrasi yang sudah semakin
parah di luar dugaan. Kutengok jalanan di luar penuh dengan sabun pertanda
tumpukan sampah telah dibersihkan. Isa tetap dengan niatnya pergi travelling ke
daerah terpencil sana dengan dua teman Londonnya. Memang dia gadis yang
tangguh. Kami sempat bercanda bahwa akan turun ke jalanan dan berteriak “Go
Revolution!” hahaha
Hari
pun berjalan seperti biasa. Pauline dan Marcella kembali dari pekerjaan mereka
dan bercerita mengenai hari ini. Oow, para tentara sudah turun ke jalan dan
siap menembak siapapun yang bertingkah. Masih dengan lelucon, Pauline berkata
bahwa tentara akan menembak mereka yang nampak dengan mudah dan berbeda
terutama dari penampilan luar. Pauline dengan rambut blonde dan aku gadis Asia
dengan perawakan yang sungguh berbeda dari masyrakat sini bisa jadi sasaran
empuk. Handphone berdering dan berpesan hal yang sama bahwa kami tidak boleh
keluar rumah dan kuncilah pintu rapat-rapat. Perasaanku mulai tidak enak dan
kualihkan dengan mencuci baju yang mulai menumpuk. Seketika itu kudengar
teriakan orang dari bawah sana dan mereka berlarian dengan membawa meja dan
kursi lalu meletakannya di ujung sana. Oh my, what the hell is going on? Ingin
aku pergi ke bawah sana melihat apa yang sebenernya terjadi tetapi kuurungkan.
Kuyakin meja dan kursi itu dicuri dari restoran sekitar sini dan sebentar lagi
akan dibakar. Ternyata ada pesan masuk dari Faizin, radio memberitakan bahwa 30.000 orang di Sfax, kotaku, sedang berdemo saat
ini dan menghancurkan fasilitas umum. Damn, it’s true. Segera kuberitahu
Marcella dan Paulina, panik melanda dan kami menelpon seorang teman tetapi
‘’hanya semua baik-baik saja’’ yang keluar dari mulutnya. Oke kami memang tidak
perlu tahu apaa-apa selama kami tetap aman di dalam sini. ‘’Ah sudah biasa,
Indonesia pernah mengalami hal lebih buruk dari ini di tahun 1998 saat masa
kejatuhan Pak Soeharto dulu. Sepatutnya aku terbiasa dengan hal ini’’, ujarku
menenangkan diri.
Malam
itu kami bercengkrama dengan riang mengenai hari ini dan rencana esok sambil
menyantap Risoto (masakan khas Italia). Mereka dengan white wine dan aku dengan
Juice kesayangan. Demonstrasi
besar-besaran seperti ini merupakan yang pertama kalinya di Tunisia. Pemicunya
adalah pengangguran dan Presiden Ben Ali sudah memerintah negara ini selama 23
tahun jadilah rakyat Tunisia berontak saat ini. Itulah secuil diskusi kami yang
sesekali diiringi dengan tawa. Jujur kami memang tidak ingin mendramatisir
keadaan. Mungkin, kami satu-satunya yang menikmati situasi ini dimana yang lain
telah diliputi kecemasan. Selain itu, kami berusaha mencari tahu keberadaan
Isa. Ternyata Isa tengah berada di gurun dan ia lebih aman dibanding kami yang
ada di tengah kota. Masih sempatnya aku berpikir lebih baik aku ikut Isa
jalan-jalan tadi.hehe
Hemm..di
luar sangat sepi, kenapa? Handphoneku berdering dan Bapak Duta Besar ingin
berbicara denganku. Ternyata jam malam telah diberlakukan, mulai dari pukul 8
malam hingga 7 Pagi masyarakat tidak boleh keluar rumah.
Beberapa menit kemudian pesan dari Kak risa masuk dan menyatakan aku akan
dijemput oleh Pak Giri, staff KBRI esok pagi untuk mencegah terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Situasi semakin serius. Kuberitahu Marcella dan Pauline
bahwa aku akan ke Tunis esok pagi dijemput oleh kedutaanku. Mereka menganggap
kedutaanku berlebihan dan aku kehilangan cara untuk meyakinkan mereka. Aku
masih ingin di sini dan bukan karena ketidaknyamanan maka aku pergi. Aku sudah
menjelaskan bahwa ini hanya tahap preventif dan tidak ada maksud meninggalkan
mereka yang sudah kuanggap saudara sendiri. Pak Giri terus meyakinkanku bahwa
ini merupakan prosedur yang harus ditempuh, mengamankanku dengan orang
Indonesia di Wisma Duta KBRI. “Ulka, kamu tahu makanan di Carrefour sudah habis
hanya dalam waktu tiga hari ini. Sekarang mungkin kamu enggak bisa beli pulsa
tapi nanti air minum yang enggak bisa kamu beli. Menteri dalam negeri sudah
diganti dan sore ini Pak Dubes akan meeting dengan Pak Menlu Tunisia. Kita ga
tau hasil rapatnya apa? Sekarang memikirkan teman adalah nomor 17,” tutup Pak
Giri.
Telah
kutetapkan aku berangkat esok namun aku masih terdiam di kasur memikirkan apa
yang harus kukatakan pada mereka. Meninggalkan mereka di tengah situasi genting
seperti ini sangat tidaklah adil. Sungguh, ini bukan inginku. Tiba-tiba
Marcella dan Pauline datang ke kamarku, menyatakan bahwa aku harus memberi
kabar sesampaiku di Tunis. Akhirnya mereka mengerti. They are my truly
sisters. Malam itu aku tidur bersama Marcella dan Pauline. Perasaan lega
meliputi hati tetapi….suara apa itu? Keras dan Berkali-kali. Resah. Aku
pun terus terjaga hingga fajar menyingsing.
13 Januari 2011
Aku
bersiap diri karena pagi ini aku akan meninggalkan Sfax entah untuk berapa
lama. Bapak menelponku dan aku merasakan paniknya terdengar dari ujung sana.
Beliau menyatakan untuk membawa semua baju dan barangku karena tidak dapat
dipastikan kapan situasi kembali normal. Bingung. Karena aku hanya menyiapkan
sedikit baju dan berharap dua hari lagi dapat kembali. Namun nampaknya benar
kata Bapak, keadaan tidak dapat diprediksi jadilah aku berkemas ulang. Sempat
kutengok keadaan di luar terlihat normal. Orang-orang kembali bekerja dan tidak
terlihat keramaian massa. Pukul 09:30, Pak giri telah sampai dan menyuruhku
turun. Beliau membawa pesananku, pesanan housemates ku lebih tepatnya, susu,
air dan roti. Tidak banyak tetapi sangatlah cukup untuk bekal makanan seminggu
ke depan. Antisipasi bahan makanan memang sangatlah perlu di saat semua toko
berhenti berjualan. Aku pun pergi dengan mengatakan, “See you!” kepada Marcella
dan Pauline.
Di
tengah perjalanan, dapat kulihat bahwa rumahku sangatlah dekat dengan tempat
kejadian, sekitar 700 meter. DI tengah bundaran itu, kuingat aku pernah nyasar
di sana, merupakan pusat demonstrasi kemarin. ATM telah dibobol dan kaca-kaca
dipecahkan. Beling dimana-mana dan semuanya hancur berantakan. Bagaimanapun
hari ini, sudah ada toko mulai beroperasi kembali. Sfax seperti normal walau
masih sepi dibanding biasanya. Aku menikmati pemandangan sekitarku dimana kami
akan menuju Sousse, kota wisata di Tunisia dan melewati El jem salah satu objek
favorit wisata juga. Sekeliling padang pasir berhamparan seakan bisu mengenai
keramaian massa yang tengah berkecamuk.
“Berita terbaru dari Twitter, empat belas orang tertembak mati,”
kata Kak Risa, di sebelahku. Glek, aku menelan ludah. Entah berapa jiwa lagi
yang tewas dalam peristiwa ini. Radio terus dinyalakan dan ternyata Monoprix
(supermarket terkenal di seluruh Tunisia) di Bizerte telah dibakar. Selain itu, persatuan buruh
menyatakan besok akan demonstrasi selama dua jam tetapi tidak diberitahu pukul
berapa pastinya. Situasi di dalam mobil menjadi ikutan tegang.
Sesampai
di Sousse kami menumpang buang air kecil sebentar dan Pak Giri sempat
berbincang dengan satpam daerah tersebut. Beliau menyatakan bahwa situasi ini
telah dimanfaatkan oleh sejumlah kriminal yang memang melakukan tindakan
penjarahan, pencurian dan perampokan. SItuasi tidak terkendali dan massa sudah
ditunggangi oleh orang-orang jahat. Itu sangatlah mungkin menjadi alasan
mengapa penjarahan besar-besaran mulai terjadi diakibatkan ada dalang di
belakang semua ini. Kami pun sampai di Wisma Duta. Mba Tuti, Pak Jumali, Pak
Rusli, Bu Yuni dan Pak Adi sudah menyambutku. Kehangatan mereka menghilangkan
sedikit cemas. Lalu datanglah Mba Tissia, ia adalah salah satu pekerja Spa di
daerah Sidi Bou Said. Sudah terdengar kabar bahwa daerahnya akan menjadi
sasaran berikutnya jadilah ia diamankan di sini. Aku bertambah panik karena Mba
tissia membawa semua barangnya sementara yang kubawa adalah koper kecilku,
dokumen dan alat eletronik. “Ya Allah selamatkan barangku yang lain di rumah.
Amin,” kataku dalam hati. Hari ini Tunisia mulai dalam siaga 1
dimana jam malam diberlakukan mulai pukul 8 malam hingga 05.30 Pagi. Sejumlah
pengrusakan dan pembakaran di daerah Nabeul terjadi seperti Carrefour, sejumlah
bank, kantor pos, dll. Di antaranya delapan orang tewas dan luka-luka.
Malam
itu aku terbayang restoran yang selalu kukunjungi saat makan siang. Apa kabar
escalopeku? Aku harap aku masih bisa mengunjunginya dengan keadaan yang sama
baiknya sebelum peristiwa ini. Semoga masih ada jatah sandiwchku di sana.
See You Next Part
Chandini
No comments:
Post a Comment