08 May 2013

#8. Catatan Harian Tunisia Part 7.4


#NowPlaying Maroon 5 - She will beloved (acoustic version)

7 Januari 2011

Tadi aku pergi ke museum dengan Isa. Senang sekali. Ini adalah yang pertama kali aku berjalan-jalan dengannya. Kami pergi ke museum dan Medina. Aku dan Isa bertemu di pelabuhan tidak jauh dari kantorku. Karena ini adalah hari Jumat, aku pulang pukul 1 dan bisa berjalan-jalan setelahnya. Kami mencari makan siang terlebih dahulu untuk Isa. Setelah berjalan cukup jauh, kami menemukan restoran dengan menu makanan berat tertera di baliho. Isa memesan "Grilled ..", aku lupa apa tepatnya tetapi yang jelas makanan ini adalah sepiring ayam goreng dengan sayuran, harisa dan buah zaitun. Slurp, lezat! Aku pun ngiler melihatnya walaupun tadi sudah sempat makan.

Sembari menikmati makanan, kami berbincang tentang banyak hal. Isa sangat merindukan mantan kekasihnya. Ia baru bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu bulan September nanti. Sementara aku, aku bisa bertemu kekasihku bulan July nanti. Isa juga bercerita kalau ia merindukan party, party yang biasa diadakan di Brazil. Isa bilang, di Brazil party juga diselenggarakan dalam week days, tidak hanya weekend. Makanan Isa tidak habis, terpaksa akulah yang menghabiskannya. Oh ya, harga makanan ini adalah 3 dinar. Murah sekali, untuk ayam sebesar 3/4 telapak tangan orang dewasa dan sayur mayur yang banyak. Sebelum pergi, kami pun meminta tolong kepada kasir restoran untuk memfoto kami dengan senyum lebar. 

Akhirnya, perjalanan pun dimulai. Kami menuju Medina, pusat kota. Di dalam Medina ada banyak toko yang menjual bahan kehidupan sehari-hari seperti sayuran,  ikan, rempah-rempah, pakaian sampai sepeda. Kami masuk dari pintu samping dan disambut dengan jejeran gerobak penjual baju bekas. Ah, i love it! Asal kau tahu, aku adalah pencinta bundel di Malaysia dulu. Bundel adalah toko dengan kumpulan baju-baju bekas. Aku menyukainya karena menurutku, baju-baju di sana unik dan berbeda dari baju yang dijual di toko. Aku pun menyusuri gerobak satu-satu, karena tidak ada yang menarik, aku meneruskan perjalanan. Medina penuh dengan lorong-lorong sempit, bendera Tunisia dan tulisan arab di dinding tembok. Aku tidak mengerti tempat apa ini sebenarnya karena ada rumah orang juga. Aku secara spontan memfoto anak kecil Arab yang tengah memasuki rumah dan refleks ia langsung menutupi mukanya. Isa bilang tidak boleh memfoto muka anak kecil di sini. Aku juga tidak mengerti apa alasannya. Kami berkeliling-keliling. Medina ini terdiri dari banyak jalan. Kalau ke jalan yang lain kau akan menemukan toko-toko yang berbeda. Aku pun mengejar Isa karena sepertinya Isa sudah berjalan jauh dariku. Kami sampai di toko baju muslim yang menjual banyak baju muslim yang panjang. Sang penjual meminjamkan kami peci berwarna merah dengan bentuk yang berbeda di atasnya. Isa memilih dengan tulisan الله dan aku memilih yang berlambang ikan. Kami berfoto di dalam toko baju muslim itu. Isa sangat senang. Aku dapat melihat urat-urat senyum itu di wajahnya. Setelahnya, kami pun memasuki areal ikan segar. Di sana ada banyak ikan, mulai dari ikan dengan moncong panjang, ikan dengan sirip, sampai ikan yang kecil. Isa pernah cerita kalau di sini ia bertemu saudara dari Khadija dan mereka berfoto bersama. Kami pun berjalan lurus ke depan dan menemukan pintu keluar. 

Kami pun mencari taxi untuk menuju museum. Isa bilang dia ingin pergi ke museum di Lonely Planet yang katanya ada di Kota Sfax. Setelah mencari-cari taksi, kami pun mendapatkan taksi yang mau mengantar kami ke alamat tersebut. Ternyata sang sopir pun tidak tahu menahu soal alamat museum, jadilah kami bingung. Tetapi sopir tidak menyerah, ia mencari alamat tersbut. Sampailah kami di satu museum. Museum satu-satunya di Kota Sfax. Karena kata Bosku, Sfax hanyalah tempat untuk bekerja dan tidur. Bangunan museum tinggi menjulang dan sesampai di dalam kami membeli tiket seharga 4 dinar ditambah 1 dinar kalau ingin menggunakan kamera digital. Tidak ada siapa-siapa di sana. Kurasa hanya kami turis yang berkunjung. Museum itu adalah museum mozaik Di lantai satu ada banyak lukisan-lukisan mozaik yang terkumpul. Kami bertanya pada salah satu penjaga mengenai lukisan tersebut. Dan dia menjelaskan banyak hal lalu dia bertanya. "How do you find Tunisia?" Aku tidak mengerti maksud pertayaannya, maksudnya adalah kata "find" di sana. Aku hanya menjawab Tunisia menyenangkan. Setelah puas berputar-putar kami pun pulang. Isa masih ingin berfoto di depan museum ini. Setelahnya, kami pun melangkahkan kaki keluar dengan teriakan "Korean, Korean," sejumlah remaja di pintu pagar. Aku tahu mereka mengejekku. Huh.  Perjalanan hari ini melelahkan juga menggairahkan. Dan sebenarnya, aku pun masih ingin terus menulis. Namun, mata sudah mengantuk, apa daya. Sampai besok, kawan. 


See You,
Chandini


No comments: