14 May 2013

#14. Catatan Harian Tunisia Part 9.3

15 Januari 2011

Pagi ini aku terbangun dengan message Amo yang tertinggal di Buku Muka. Pesan itu dikirim pukul 3 pagi yang menyatakan bahwa ia tidak bisa tidur karena rumah tetangganya tengah dibakar. Aku langsung membalas messagenya dan ia hanya menjawab sekenanya. Lalu ia tidak melanjutkan pembicaraan itu kembali mungkin ia sudah tertidur lelap.

Aku pun membuka laptop dan memulai aktivitas online. Tiba-tiba di line skype temanku mengajak berbicara. Tepatnya sepupu jauhku, err..ya, Narti. Orang yang cukup lama tida berbicara denganku akhirnya ia menyapa. Narti bertanya bagaimana keadaan di sini karena mendengar revolusi tengah berlangsung. Kubilang, keadaan sedang gawat dan aku tidak tahu sampai kapan ini akan terus terjadi. Narti dan sahabat laki-lakinya, ikut panik. Ya, Narti sedang liburan di Bangkok bersama sahabat laki-lakinya. Kujelaskan saja semuanya, airport yang ditutup, supermarket yang dibakar, persis seperti kerusuhan Indonesia tahun '98 dahulu. Narti pun menanyakan nomor telepon rumahku karena kubilang aku sedang tidak ada pulsa untuk menelpon ke rumah. Ia juga mencoba menghibur dan membantuku. Kurasa hubunganku dengan Narti berubah menjadi lebih baik. Selesai berbicara dengan Narti, seperti biasa aku membaca berita. Aku menuju halaman bbc.com dan mengklik bagian Africa. Berita mengenai Tunisia terpampang di headline. Berita yang sedang santer adalah mengenai keberadaan Ben Ali. Ya, keberadaan mantan Presiden Tunisia itu sedang tidak jelas. Berita menyatakan bahwa Perdana Menteri Perancis menolak Beliau untuk mengungsi sementara di Perancis. Kalau begini, keadaan di Tunisia pun semakin tidak jelas. Sementara itu mengenai Ganouchi, presiden baru Tunisia, ia pun belum tahu apa yang harus dilakukan karena masyarakat Tunisia masih menganggap ia sebagai "tangan kanan" Ben Ali. Maksudnya Ganouchi belum tentu bisa dipercaya. Salah satu juniorku di kampus menanyakan kabarku di Tunisia melalui dinding Buku Muka. Aku menjawab sejujurnya bahwa keadaan di Tunisia sedang mencekam. Ah, sudahlah, kurasa aku harus berhenti membaca berita. Aku pun pergi makan siang.

Di dalam sini, jauh lebih hangat. Ya, dapur adalah salah satu tempat favoritku. Selain karena ada makanan juga karena ada dua orang yang selalu bisa aku ajak mengobrol di sini, yaitu Pak Rusli dan Mbak Tuti. Mereka sedang asyik memasak sesuatu dan aku hanya duduk memperhatikan mereka. Mereka tiba-tiba tertawa entah karena hal apa. Aku pun ikut tergelak. Sungguh senang bersama mereka daripada membaca berita-berita menyebalkan itu. 


to be continued

♥ 
Chandini


No comments: