#NowPlaying Black Kids-I'm Not Gonna Teach Your Boyfriend How To Dance
8 Januari 2011
Hey, pagi ini aku disambut dengan tag foto di buku muka oleh temanku. Namanya Iia, ia mentag foto sekumpulan layar televisi dengan orang-orang di dalamnya. Aku pun bertanya kenapa aku ditag tepat di wajah perempuan cemberut. hehe Lalu aku melanjutkan pekerjaan untuk hari ini. Pekerjaanku membosankan. Aku lelah mencari gambar-gambar yang diperlukan untuk katalog. Kau tahu tidak? Perusahannku ini adalah perusahaan industri yang bergerak di bidang konstruksi. Aku harus mengumpulkan gambar-gambar seperti gambar pipa, genteng keramik, sandwich panel, grating, dan alat konstruksi lainnya. Masalahnya, aku sama sekali tidak pernah membayangkan bekerja di tempat seperti ini sebelumnya.
By the way, aku punya tempat curhat baru. Tumblr, namanya. Aku sengaja buat blog baru ini agar tidak dilihat orang lain. Habis...kau tahu kan alasanku. Sudahlah yang penting aku sekarang punya teman curhat. Ya, aku curhat tentang seberapa tidak berharganya aku. Mereka yang lebih memperhatikan housemate-housemateku yang cantik juga seksi. Sementara aku yang biasa saja, diacuhkan. Aku benar-benar merasa sendirian. Aku jadi ingat masa-masa SMA dimana aku juga tidak mempunyai teman. Teman yang benar-benar teman, ya. Aku takut kejadian itu kembali terulang. Dimana aku dikhianati oleh sahabatku sendiri. Sudah, sudah.. sudah pukul 1. Aku rasa saatnya aku untuk pulang.
9 Januari 2011
Yeay, akhirnya aku pergi ke Monastir! Setelah dua minggu lalu aku pergi ke Pulau Kerkenna, kali ini aku mengunjungi Monastir. Monastir terletak di timur kota Sfax. Kami pergi ke sana menaiki looage. Kamu tahu kan, yang aku naiki untuk pergi ke Tunisia. Semua transportasi dari satu kota ke kota yang lain menggunakan van ini. Iya, bentuknya seperti van. Bisa juga sih, naik kereta tetapi kami lebih memilih angkutan yang satu ini.
Perjalanan dimulai pukul sembilan pagi. Kami sudah bersiap-siap dari pukul tujuh. Isa tidak ikut bersama kami karena dia akan menyusul bersama Wissem. Iya, Wissem dan Isa menghabiskan waktu bersama semalam. Sampailah kami di Monastir, tepatnya Medina, tempat pertama kami. Aku dan Paulina pun berfoto dulu di depan pintu gerbang Medina. Lalu kami berjalan masuk ke dalam, kami menemukan pintu khas Tunisia yang berwarna biru. Paulina langsung berfoto di depannya karena ia suka sekali pintu tersebut. Tidak lama perut kami mulai mengaduh, kami pun mencari restoran untuk makan siang. Ada satu restoran yang terletak di sudut Medina. Sebenarnya tidak terlalu kelihatan tetapi karena sepertinya hanya ini satu-satunya restoran yang sudah buka, kami pun melihatnya. Baru saja masuk ke dalam, sudah disuguhkan makanan yang disajikan di atas meja kaca. Dan seperti biasa, makanan-makanan itu berupa makaroni, kentang, salad, daging ayam dan daging kambing. Kamu mau tahu apa yang aku ambil? Aku terpaksa mengambil makaroni, sup, salad dan daging kambing. Ya, di sini tidak ada nasi, restoran di Tunisia memang jarang sekali ada yang menyediakan nasi sebagai menunya. Aku pun dengan lemas membayar semua menu itu seharga enam dinar.
Restoran ini cukup antik. Ada gitar kecil, guci, baju dari kulit bison digantung di tembok. Aku suka memfotonya. Sembari makan, kami membicarakan mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi sesudah ini. Tidak lama makan siang pun selesai dan kami siap berjalan-jalan. Ada masjid tidak jauh dari restoran tadi. Masjid ini cukup besar dan memang sudah waktunya aku untuk menunaikan shalat dzuhur. Aku pun mengajak Paulina dan Marcella untuk masuk ke dalam. Namun, mereka bilang kalau mereka tidak membawa penutup kepala. Ya, memang diwajibkan untuk memakai kerudung untuk memasuki mesjid, kan. Tiba-tiba, seorang pria keluar dan Paulina pun bertanya apakah turis seperti ia dan Marcella boleh masuk. Lalu pria ini menjawab, "Yes, sure, you can go inside to learn about Islam." Paulina dan Marcella pun tersenyum. Lalu mereka bilang aku saja yang masuk ke dalam. Ini sungguh aneh, entah kenapa, mereka mengartikan statement pria tadi sebagai ajakan untuk masuk islam. Aku pun melangkah menuju masjid dengan memakai scarf kepunyaan Paulina.
Mesjid ini cukup luas. Tidak jauh dari pintu masuk, kau akan melihat ada tempat wudlu besar yang berbentuk kolam. Kau bisa ambil wudlu di sana. Tepat di depannya adalah ruang solat untuk para pria. Aku pun bertanya dimana ruang solat untuk perempuan kepada satu-satunya Bapak yang sedang mengambil wudlu. Ia bilang jalan lurus terus saja dan pintu di tengah itu adalah ruangan khusus wanita. Aku segera cepat menuju ke sana. Tidak membuang waktu lama, aku pun ambil wudlu dan menunaikan shalat. Sungguh damai shalat di sini. Lampu-lampunya besar dan panjang. Aku pun memfoto seisi ruangan setelah shalat. Di tempat aku ini adalah satu ruangan yang kira-kira luasnya adalah ukuran tiga sajadah besar. Ada semacam alat berwarna putih, yang mungkin adalah pendingin ruangan di belakangku, lalu ada lemari besar dan kursi-kursi ditumpuk. Ini cukup aneh. Aku tidak pernah menemukan pemandangan seperti ini di mesjid di Indonesia. Pintu menuju keluar juga besar dan berat, seperti pintu jaman dahulu. Tidak ada seorang pun di mesjid ini kecuali aku. Aku pun segera memfoto hal-hal penting seperti lampu dan pernak-pernik lain di dalam masjid. Lalu datanglah seseorang masuk ke ruangan aku pun cepat-cepat keluar.
Di luar lebih unik lagi. Ternyata ada satu pintu yang lagi-lagi berwarna biru tengah terbuka di depanku, tepatnya di timur masjid ini. Ya, mesjid ini bisa diakses dari segala arah. Aku juga terpesona dengan motif di dinding menuju pintu keluar. Dinding itu berwarna cokelat dengan jejeran jendela bergaya arab. Aku sulit menjelaskannya. Namun, satu hal, itu keren sekali. Aku pun melangkah keluar dan menemukan Marcella juga Paulina di kedai souvenir. Kedai ini terletak tepat di depan mesjid membuat siapapun dapat dengan mudah mendatanginya. Di sana banyak barang souvenir seperti piring-piring, boneka unta, guci, magnet kulkas, lukisan dan masih banyak lagi. Aku suka lukisan-lukisan di sini. Artistik sekali. Baiklah, kami pun meneruskan perjalanan. Ada taman yang dikelilingi pohon palem di depan mesjid. Marcella dan Paulina pun berfoto di sana. Tidak sengaja aku melihat seorang perempuan kecilarab yang lucu sekali, aku pun mengajak ia berfoto. Hihi Aku memang selalu suka anak kecil.
Kami terus berjalan dan tidak disangka-sangka kami menemukan labib. Ya, labib! Labib adalah tokoh dari film animasi yang dibuat Marcella. Bentuknya seperti kancil, dia memiliki telinga yang lebar tetapi bertubuh manusia. Warna bajunya adalah biru dan Marcella langsung segera berfoto dengannya. Aku dan Paulina pun ikutan. Marcella sepertinya sangat senang karena dia bertemu dengan tokoh yang telah membuatnya begadang bermalam-malam membuat kartun animasi. Haha Lalu, kami pun terus menyusuri jalanan dan menemukan pantai. Bau laut itu menusuk hidungku. Namun, kami memilih untuk masuk ke salah satu bangunan yang ada di seberang pantai. Bangunan ini sepeti kastil dan terlihat tua. Di salah satu bangunan adalah museum mengenai baju-baju tradisional Tunisia. Kami masuk ke dalamnya. Aku melihat baju-baju yang lucu sekali. Bahkan ada salah satu baju yang bahannya asli dari emas! Setelah puas berfoto-foto, kami pun menyudahi tur kami di museum ini.
Kami memutuskan menuju daerah pantai karena Wissem bilang dia akan segera sampai. Setelah cukup lama menunggu, mereka pun datang. Ada Isabella juga, yang memakai jaket berwarna putih dan celana krem. Selain itu ada Tarekh dan Nizar ikut bersama mereka. Kami menyambut mereka dengan semangat. Lalu bertanya apakah mereka sudah makan siang. Dan Wissem pun menjawab, "No, i haven't got my lunch. I got drunk last night and haven't taken anything." Matanya berkunang-kunang, aku dapat melihat kalau ini adalah mabuk yang cukup hebat untuknya. Namun, ia memang pemabuk dan selalu bangga akan hal itu. Isabella tidak berkata apa-apa, ia hanya sibuk memandangi laut yang ada di sisi kirinya. Sementara Tarekh sibuk berbincang dengan Paulina dan Marcella. Sementara Nizar diam saja, sama seperti aku. Makanan Wissem pun datang dan ia mengeluarkan uang untuk membayarnya. Aku tidak sengaja mengeluarkan uang ringgitku hanya untuk mengecek berapa uang yang kupunya. Lalu Wissem memperhatikan dan menariknya, ia dapat membaca apa yang tertera di kertas itu. "Bank..ne..ga..ra..ma..lay..sia," ia pun tersenyum. Aku kontan melihat tulisan itu. Patutlah, itu tulisan arab, pantas ia bisa membacanya. Sisa pembicaraan pun didominasi oleh Tarekh dan Wissem. Seperti biasa aku diam saja. Bahkan Tarekh sampai bilang padaku, "The silent girl.." hahaha. Aku hanya tersenyum di dalam hati. Ia tidak tahu seberapa cerewetnya aku kalau dengan teman-temanku. Setelah puas berbincang-bincang, kami pun berfoto-foto di tepi pantai. Pantainya lumayan indah tetapi tidak seindah di Bali. Kami pun menyudahi perjalanan hari ini. Di perjalanan pulang aku memikirkan mengenai kata-kata Tarekh bahwa mungkin benar kata dia, aku sudah berubah menjadi gadis pendiam.
Aku tidak tahu jawabannya.
Sampai besok!
Chandini
No comments:
Post a Comment