15 May 2013

#15. Catatan Harian Tunisia Part 9.3.1



#NowPlaying Bon Iver Songs

Continued...

15 Janauri 2011

Ya, mereka seakan menikmati revolusi ini. Aku sebenarnya tidak tahu apa makna dibalik revolusi. Aku tahu, ini semua untuk mengubah Tunisia yang telah dijajah oleh “pemerintahan” selama ini. Bagaimana tidak, mereka diperintah oleh Presiden Ben Ali selama 23 tahun. Memang, sih tidak selama Soeharto yang 32 tahun. Tetapi, kamu tahu tidak, Ben Ali telah membuat mereka tidak pernah membicarakan politik sama sekali. Kamu ingat, waktu aku pergi ke Sidi Bou Said dengan Fathia dan Fitri? Di Taksi, Fathia bilang, kalau kita tidak boleh menyebut namanya, ya nama Pak Presiden, seperti tidak boleh menyebut kau-tahu-siapa-dia di cerita  Harry Potter. Ah, bagian ini juga sama dengan pemerintahan Pak Soeharto dulu. Apakah Tunisia dan Indonesia mempunyai nasib yang serupa? Nanti ya, akan kubicarakan.

Wah, suara apa itu? Aku mendengar isakan tangis dari arah pintu. Aku baru saja menghabiskan makan siangku di meja makan yang lokasinya sekitar 100 meter dari pintu depan. Ada lima wanita datang bersamaan. Mereka semua membawa koper dan barang masing-masing. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku melihat Bu Yuni menerima cium tangan dari mereka. Oh, ternyatan mereka adalah lima TKW kemarin yang terkurung di rumah majikannya. Ah, ternyata mereka! Sedih sekali, aku dapat melihat rengut di wajah mereka. Kamu tahu tidak? Mereka hanya membawa barang-barang seadanya karena sisa barang mereka yang lain telah dibakar. Dibakar oleh siapa lagi kalau bukan oleh masyarakat? Aku sangat ingin mendengar ccerita mereka. Pastinya mereka harus istirahat dulu dan membereskan barang-barang. 

Malam pun tiba. Aku baru ingat kalau hari ini adalah  hari anniversary-ku dengan Febrian. Dia mengirimkan pesan singkat padaku. Pesan singkat yang padat, jelas dan cukup romantis. Aku sangat terenyuh. Dengan dia yang begitu perhatian terutama di kondisi seperti ini. Namun, aku memang kadang melakukan hal bodoh. Ak]u dengan sengaja menulis status di Buku Muka mengenai Febrian. Aku harusnya tahu kalau begini aku akan kehilangan kesempatan untuk mendekati Amo. Ah. Sebenarnya tidak apa-apa sih karena aku juga belum sayang dengan Amo, hanya suka saja. Namun, aku sangat ingin berteman dan mengetahui dirinya lebih jauh. Buatku Amo adalah pribadi menarik sekaligus misterius. Oh ya, omong-omong soal Amo, aku tadi langung mengirimkan pesan padanya mendengar berita narapidana yang telah melarikan diri dari penjara. Ya, situasi pembakaran dimana-mana, pengrusakan fasilitas umum, demonstrasi, itu semua mungkin belum cukup, Diitambah lagi dengan narapidana yang mmbebaskan diri Aku tidak dapat membayangkan bagaimana para napi yang berandal dan dapat melakukan apa saja itu akan merasuki rumah kami satu-satu. Sungguh, aku tidak ingin membayangkannya.  Aku pun sempat berbicara dengan Aris, mengajaknya bertemu di kantor. Ia bilang ia tidak bisa karena harus bergantian menjaga kompleks perumahannya (1)

Oh ya, ada hal yang menarik. Semalam, aku, Pak Jum dan Mbak Tissia bermain kartu domino. Kami main dengan sangat gembira. Bahkan masing-masing dari kami melakukan kegiatan sambilan. Pak Jum sambil menelpon, Mbak tissia sambil chatting dan aku sambil menelusuri internet. Tentunya, itu semua sambil bermain kartu domino. Karena Pak Jum yang kalah, kami puas melumurinya dengan tepung. Hahaha. Seru sekali. Aku sedikit melupakan beban di kepala. Andaikan bisa  tertawa seperti ini terus. Sudah dulu, ya. x) 

(1) Malam ini, Tunisia masih dalam curfew. Para pemuda masih berjaga-jaga di depan rumah atau kompleks mereka demi mengindari penjarahan atau pencurian. Banyak dari mereka yang bersenjatakan pemukul kayu, pemukul besi, pisau dan lainnya. 



See You (always) in next part x')
Chandini 




No comments: