13 May 2013

#13. Catatan Harian Tunisia Part 9.2

14 Januari 2011

Hari ini kerjaanku online saja. Di pagi hari aku berbicara di skype dengan Farisa, sahabatku. Ia sedang internship di Kuala Lumpur. Ada Wulan juga mantan rommate-ku dulu. Hubungan aku dan Wulan lebih baik dari sebelumnya. Mereka menanyakan mengenai keadaanku di sini. Lebih tepatnya mereka penasaran bagaimana tinggal di rumah Pak Duta Besar. Kubilang rumahnya besar tetapi membosankan dan ada kolam renang. Soal kolam renang, aku belum sempat ke sana. Setelah cukup lama berbincang, Farisa pun harus melanjutkan pekerjaannya. Aku terpaksa mengakhiri pembicaraan tersebut. 

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain membaca berita dan makan. Iya, makan. Makananku terjamin di sini. Aku bisa makan nasi dan lauk pauk Indonesia setiap hari. Coba saja begini terus. Aku pun melanjutkan online. Mencari-cari berita terbaru hari ini. Tidak lama, Bu Yuni dan Pak Jumali datang. Pak Jumali sedang mewanti-wanti apakah hari ini bisa shalat Jumat di Tunis. Wah, iya, keadaan kan sedang gawat. Dan aku pun mencari informasi mengenai hal tersebut. Aku memperlihatkan video yang kutemui, di situ dinyatakan bahwa beberapa jam yang lalu Tunis sedang dikepung 1000 demonstran. "Kalau begini pasti tidak Jum'atan," kata Bu Yuni. Pak Jum, aku memanggilnya begitu, mengangguk-angguk. Mungkin beliau pikir, keadaan di luar memang sedang tidak aman jadi sulit untuk pergi ke mesjid. Pembicaraan pun berlanjut ke berita-berita revolusi. Tak terasa hari sudah memasuki petang.  Eh iya, aku lupa kalau tadi aku janji ke Pak Rusli kalau aku mau membantunya memasak. Sudah jadi belum ya, makanannya? Ternyata sudah, aku jadi malu. Kulihat tumpukan kotak plastik yang berisi bubur kacang hijau siap diantar ke KBRI. Omong-omong soal Pak Rusli, aku jadi ingat kata-kata Pak Rusli tadi siang. Aku tidak tahu ini benar atau tidak tetapi sudah cukup membuatku tersipu-sipu. Kata Pak Rusli, Amo sempat mencariku. Iya, Amo, kamu ingat kan?  Gebetanku itu. Aah, aku tidak menyangka kalau dia mencariku. Setelahnya, aku dan Mba Tissia memutuskan untuk mengunjungi KBRI. Seperti turis saja, mungkin aku menyebutnya berkunjung karena sudah lama tidak ke sana. Mbak Tuti bilang, "Sudah, ikut saja ke kantor." Mereka menyebutnya kantor, KBRI, maksudku. Kenapa ke KBRI saja harus ditemani? Karena kadaan sedang tidak aman. 

Sesampai di sana, aku sempat bertemu dengan Bang Yazid. Orang yang dulu pernah kutemui di KBRI saat pertama kali aku datang. Ia bilang banyak orang di lantai bawah. Aku pun menuju ke bawah. Benar saja. ada dua orang sedang bermain tenis meja. Lalu aku melihat sekumpulan  laki-laki di bagian belakang. Aku bertanya kepada mereka password untuk wi-fi di sini. Aku hanya ingin online. Setelahnya, aku pun pergi shalat sebentar. Lalu kembali ke bawah. Aku melanjutkan kesibukan chatting lewat Yahoo! Messenger di handphone. Habis, aku bingung mau mengajak ngobrol siapa, tidak ada yang kukenal di sini. Tiba-tiba, Pak Duta Besar datang, katanya akan memberikan pengumuman. Mereka yang tadinya sibuk masing-masing pindah ke kursi yang disediakan di depan, begitu juga dengan aku. Bapak bilang, "Baru saja, Presiden Ben Ali sudah resmi mundur (1). Untuk sementara belum ada yang menggantikan dan itu berarti Tunisia sedang dalam status quo. Keadaan sudah siaga 1. Untuk strategi pengamanan, para lelaki akan diamankan di KBRI sementara kaum perempuan, akan diamankan di rumah saya, Wisma Duta KBRI." Tetes airmataku mengalir, di dalam hati. Iya, aku menangis. Aku tidak dapat menujukkannya di sini. Aku mengabari Rachman yang sedari tadi chatting denganku. Dia perhatian sekali. Aku teringat Abi. Kenapa bukan dia yang melakukan semua ini?  Tidak lama, aku teringat Al-Qur'an pemberian Ibuku di Sfax. Aku langsung  menelpon Ayoub, ketua lembaga pertukaran. Dengan suara yang sangat panik aku bertanya bagaimana nasibku dan nasib barang-barangku. Ayoub bilang semua baik-baik saja. Tidak, aku tidak percaya. Aku bilang tolong jaga barang-barangku. Kalau bisa ada yang mem-pack barang-barangku yang tertinggal. Pembicaraan ditutup dengan kata "Ya" dan desahan dari Ayoub. 

Aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku. Mukaku merengut. Bagaimana tidak, kalau Tunisia dalam status quo berarti tidak ada pemerintahan. Lalu kalau begitu, kerusuhan ini akan terus terjadi. Kalau kerusuhan terus terjadi berarti aku tidak bisa melanjutkan internship. Kalau tidak bisa melanjutkan internship berarti aku tidak bisa lulus tahun ini. Semua itu terbayang seiring perjalanan ke rumah. Aku pun tidak napsu melahap makan malamku. Aku hanya sibuk mencari berita atau mencari teman untuk curhat. Sampai ketka aku melihat status Facebook salah satu teman Tunisiaku, yang menyatakan bahwa Ganouchi telah menjadi presiden baru Tunisia. Ya, Presiden Ben Ali telah digantikan Perdana Menteri Ganouchi dalam beberapa jam saja. Semua ini tentu untuk menghindari kekuasaan militer di kosongnya pemerintahan. Singkatnya, hari ini adalah hari bersejarah untuk Tunisia.

Samar-samar di tengah cahaya kecil itu, aku mendengar ada lima TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia yang sedang terkurung di rumah majikannya. Sampai sekarang, petugas KBRI tidak dapat menolong mereka karena rumah mereka masih dikepung masyarakat. Aku segera mengirim pesan singkat ke Bang Yazid: "Bang,  sedih banget deh tadi aku denger ada 5 TKW yang terkurung di rumah majikannya. Doain semoga mereka selamat dan keadaan cepat pulih ya, Bang."

Aku pun tidur dan berharap semoga esok hari semua lebih baik.


(1) 14 Januari 2011. Presiden Ben Ali resmi mundur sebagai Presiden Tunisia dalam waktu 24 jam setelah pidatonya.



See You Soon x')
Chandini



No comments: